Sunday, November 1, 2009

Posted by adriani zulivan Posted on 9:37:00 AM | No comments

Firasat!

[Written @ 00:00 am]

Ini bukan judul lagunya mantan pasangan penyanyi yang ketemu di Lapo Batak itu. Ini tentang perasaan.

Perasaan itu sesuatu yang dirasa. Kata dasar untuk “perasaan” adalah “rasa”. Dalam bahasa Indonesia, kata “rasa” digunakan untuk memaknai dua kata yang samasekali berbeda maksudnya. Untuk lebih mudahnya, dalam bahasa Inggris, kata “rasa” dibedakan dengan feeling dan taste.

Perasaan yang aku bicarakan disini adalah feeling. Ya firasat itu tadi.

Ceritanya begini. Aku pernah dekat dengan seseorang—sebut dia eAw—sekitar tahun 2004 lalu. Dia bukan cinta pertama, bukan pula yang terakhir. Tapi dia—lewat hubungan kami yang (sebutlah) aneh di masa lalu itu—tetap masih ada jauh di sana, di hatiku. Mungkin itu sebab kenapa di momen-momen kejadian tertentu dengan mudah dia bisa muncul lagi di ingatanku; dengan atau tanpa kusadari.

Misalnya tiga minggu lalu (antara tanggal 5-11 Oktober 2009), aku bermimpi tentangnya. Dua mimpi selama range waktu tersebut. Yeah, pikirku, mungkin ini akibat dia sering menyapa lewat instant messaging (IM) dalam minggu itu, setelah cukup lama kita tak saling sapa (hummm, aku sampai lupa kapan terakhir kali kontak dengannya secara intens—meski sapa-sapa ringan di IM/BBMan tetap ada).

Saat itu obrolan intens kembali. Diawali dengan kiriman ucapan mohon maaf lahir batin darinya. Dan (tentu saja) aku menjawab seperti caraku menjawab ucapan sama dari orang lain: “Ya, sama-sama ya...”. Tapi ternyata jawaban singkatku itu malah menjadi bahan obrolan yang membawa kita mundur lima tahun. Bagaimana dia benar-benar meminta maaf sepenuh hati (man, he meant it!) atas kejadian di masa lalu.

Aku agak heran dengan kata-katanya. Bukankah kita sudah tidak meninggalkan apapun untuk hal itu? Bahwa kita sudah menyelesaikannya dengan tuntas. Bahwa kita sudah berjalan masing-masing. Bahwa kita sudah mengubah track hubungan ini menjadi pertemanan sempurna tanpa embel-embel apapun? Intinya, kita, atau aku—orang yang menurut dia menjadi pesakitan di hubungan kami di masa lalu itu—sudah sangat ikhlas dan nrimo. Dan yang paling penting, I’m living my life.

Yang lebih mengherankan lagi, sebenarnya hal ini sudah pernah kita bahas sekitar dua tahun lalu. Sekali lagi: itu sudah tuntas, tas, tassss! Tapi ketika memperhatikan kalimat-kalimatnya, aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Ini bukan tentang rasa sayang yang kembali tumbuh atau sejenisnya. Aku malah melihatnya sebagai tanda kehilangan. “Tuhan, tidak ada yang akan pergi, kan?” tanyaku saat itu.

Kalau bermain perasaan yang feeling itu, mari menyebut ini sebagai Firasat I.

Beberapa hari kemudian dia menyapa lagi, menanyakan keadaan keluargaku pasca G/30-S (baca: gempa Sumbar tanggal 30 September 2009). Kok dia jadi perhatian seperti itu? Ah, mungkin dia membaca status message-ku di hari sebelumnya. Kubilang ayah baik-baik saja. Sejak ini, hampir tiap hari kami saling sapa. Biasanya dimulai dengan saling mengomentari status message. Tak lagi hanya dia yang memulai, aku pun berinisiatif.

Nah, intensitas saling sapa inilah yang kupikir membangkitkan lagi memoriku tentang dia. Yeah, aku bermimpi tentangnya. Di sana ada aku, dia, dan AbDal (‘the replacement’ of him  ). Tak ada yang istimewa dari mimpi itu. Hanya seakan mengulang pembicaraanku dengan AbDal ketika dia akan berangkat ke tempatnya sekarang (dan kebetulan, di masa-masa itu si eAw mulai menghubungiku lagi untuk menuntaskan ‘unfinished story’ diantara kita di masa lalu).

AbDal: Dueee, yang lagi deket ama mantan...
Aku: Dueee, yang mo pergi ninggalin...


Nah, pembicaraan tsb ter-rewind dalam mimpi itu. Mari menyebut ini sebagai Firasat II.

Sabtu (17/8) pagi, aku terbangun dengan otak yang masih memikirkan mimpi semalam. Ada aku, eAw, dan seseorang lain yang kutahu adalah ‘bini baru’-nya eAw. Lagi-lagi, tak ada yang istimewa dari sini. Jadi, sebut saja ini sebagai Firasat III.

Tepat hari ini, di dua minggu lalu, aku mendapat SMS dari seorang teman (hummm, I didn’t get it from the first mouth) yang mengatakan bahwa ayahnya eAw meninggal dunia sehari setelah aku mendapat Firasat terakhir.

Akhirnya, lewat itu, aku mengerti jawaban atas pertanyaanku tentang permintaan maaf eAw dan mimpi-mimpi itu.

Selamat jalan om, bapak, papanya eAw, semoga mendapat tempat paling mulia di sana.
Untuk eAw yang menulis “Selamat jalan kekasih...” pada status msg-nya di sehari setelah hari duka: Be tough, Mas. Kekasihmu pergi tanpa beban, sebab beban itu (keluarga: mama & kedua adek) kini bertumpu di pundak si sulungnya—kamu!



"Hamparan langit kosong

Selembar kertas beterbangan
berputar-putar pada lingkaran angin
Berlompat-lompat lalu terdiam
dan mengembang pada waktu

Pernahkah kau bayangkan
saat angin tiba-tiba berhenti,
apa yang ada?
Selembar kapas mungkin akan menjadi puing,
kemana perginya?
Dan kita lalu tiada"
[“Tiada”, Aguk Irawan Mn]


NB:
  • Maaf bila tidak berkenan dengan tulisan ini. Tapi mohon, hargai hak saya untuk sharing perasaan. Sebab bagi saya, yang terpenting sekarang adalah menciptakan dan menjalani kehidupan di arena kita masing-masing; dan meyakini bahwa masa kini tidak selamanya diakibatkan oleh masa lalu (nggg, kalian kenapa-kenapa belum tentu karena saya, kan?). *dueh...jadi ribet, dah!*
  • AbDal, kamu enggak marah dengan tulisan ini? *berpura-pura nanya, padahal aku tau kamu bakal fine-fine aja. Terbukti di tulisan-tulisan sebelum ini & komentar kamu pada ceritaku tentang keberatan seseorang atas tulisan-tulisan itu. Trims, cinta!*


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata