Tuesday, January 5, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:53:00 PM | 2 comments

Hidrofobi



Hotel Puri Asri, Magelang
(21/12/09)
Aku duduk di sudut. Para lelaki itu menghampiriku. Aku begitu ketakutan. Namun mencoba berlari adalah membuang energi dengan sia-sia. Mereka mengepung dari segala penjuru: Belakang, depan, samping...

“Kamu akan melakukannya secara sukarela, atau harus kami paksa?”

Tentu aku diam saja, keduanya bukan pilihan. Yang dapat kulakukan hanyalah berteriak. Aku sedang dalam kerumunan orang yang kukenal. Namun sial, tak satupun diantara mereka yang bersedia membantu. Entah mereka takut, entah mereka memang berkomplot dengan para lelaki ini.

“Tolong, aku sedang tidak enak badan,” mohonku. Namun mereka tidak beranjak.
“Aku belum makan, perut dan kepalaku sakit.” Aah, alasan bodoh, pikirku. Mana mungkin mereka pedulikan itu? 
 
Aku ditarik dengan kasar. Yang sempat kurasa, ada cengkeraman kuat di masing-masing pergelangan tangan dan kakiku. Berarti saat itu setidaknya ada empat orang yang membopong tubuhku. Sedang sejumlah lelaki lainnya sibuk melucuti segala barang yang ada di tubuhku:* Telepon genggam, kunci hotel, hingga jepitan yang tertancap di rambutku!

Tuhan, apa yang bisa kulakukan? Ya, aku ingat bahwa akhir-akhir ini aku sering melewatkan waktu bercinta denganmu. Tapi jangan siksa aku seperti sekarang, seperti ini, Tuhan... –batinku.

Semakin meronta aku, semaki bernafsu mereka mencengkeram. Merasa kalah, hanya doa yang bisa kulakukan. Ahh, Tuhan belum menjawab. Lihatlah mereka yang terus saja membawa tubuhku...

Dalam meronta, aku berpikir. Aku harus menemukan satu alasan tepat. Alasan yang bisa membuat mereka mengurungkan niatnya.

“Aku sedang mens!” Ya, alasan itu terdengar jitu! Bravo, Adriani!

Namun sial, lagi-lagi hal itu tidak berhasil! Mereka terus membawaku. Sampai tiba-tiba aku terkulai lemas. Lalu kurasakan cengkeraman tangan-tangan itu mulai terlepas satu per satu, dan melepaskanku di atas rumput di taman itu.
Mataku terpejam. Yang kupikirkan adalah hanya ada dua kemungkinan untuk kehidupanku ke depan, yakni bahwa aku akan menderita trauma berkepanjangan, atau aku akan pingsan di tempat sebab begitu shock.

Lantas, dalam beberapa menit kemudian, setelah para lelaki itu berbisik-bisik, mereka tiba-tiba kembali di posisi awal. Kedua pasang tangan dan kakiku kembali dalam cengkeraman. Tubuhku kembali diangkat, dan... mereka mendudukkanku di pinggir kolam. Lalu entah berapa orang dari mereka mengangkat tanganku, lalu....

Aku megap-megap. Riuh rendah suara membahana dari arah panggung hiburan yang saat ini sedang kedatangan dua biduan Magelang. Yeah, mereka berhasil menceburkanku dalam kolam penuh lumpur hitam itu!

Ya, mereka MENCEBURKANKU! *SIGH*

Padahal, malam itu aku baru saja selesai mandi setelah tiduran selama beberapa jam untuk melepas lelah setelah seharian harus mengikuti perjalanan Jogja-Magelang, lalu berlanjut dengan sesi refleksi dengan seorang Motivator mirip bos Media Grup.

Ah, malam itu aku mengenakan pakaian siap tidur: Sebuah kaos katun putih dengan celana piyama batik yang beberapa hari sebelumnya baru kubeli di Pasar Bringharjo Jogja.

Ketika dipanggil untuk bergabung dengan teman-teman lainnya, aku tidak mengganti pakaian, sebab itu kan acara santai. Hanya panggung hiburan keyboard dengan dua biduan dengan pakaian dan dandan yang yaaa-gitu-deh.
Di tanganku ada hape. Di kantongku ada kartu buat kunci kamar (apa namanya?). Di rambutku ada sebuah jepitan. Ya, cuma itu yang kubawa.

***

Ini adalah acara tahunan. Liburan dengan keluarga. setiap pegawai yang sudah berkeluarga membawa anak/istri/suami mereka. Sehingga panitia merancang berbagai acara yang diperuntukkan bagi keluarga. Ketika sesi acara keluarga seperti itu, apalah yang bisa dilakukan oleh para lajang? 
 
Tiba-tiba ada keriuhan. Salah satu pegawai yang masih lajang diceburkan ke dalam sebuah kolam yang terletak tak jauh dri panggung. Eeh, membalas dendam, dia menarik seorang lajang lainnya untuk mengikuti jejaknya nyebur di kolam. Lalu berlanjut pada semua laki-laki di sana, tidak hanya yang lajang, namun juga yang sudah beranak. Bahkan anak-anak mereka merasa terhibur dengan berteriak-teriak “Papa, papa, papa...” ketika ayah mereka mendapat gilirannya.

Gentlemens, done. Woman? Oh, no. Mana mungkin ada yang berani?
Namun saudara-saudara sekalian, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, aku menjadi satu-satunya perempuan korban penceburan di malam itu.
Bad, bad, bad!


Hidrofobi
Sewaktu akan diceburkan, aku sempat beberapa kali memberi alasan. Yang sakit perut dan pusing lah karena belum makan malam –akibat ketiduran, aku kelewatan sesi parasmanan *Siawl!*. Yang aku sedang pilek lah, karna disitu emang dingin. Yang aku mens lah, takut itu air kolam jadi bersaos. Yang lain-lain lah...

Tapi tidak mempan. Dasar emang lajang enggak punya kerjaan. Makanya, pada cepetan kawin gieh, biar bisa ikutan lomba keluarga! *Ini juga sebagai masukan pada panitia, agar memperhatiakan nasib para lajangers diantara rimbunan keluarga! :)

Hidrofobik (opposite dari hidrofilik). Gampangannya ya takut pada air. Dalam ilmu psikologi, kasus ini dipelajari. Orang yang mengalaminya disebut penderita J
Nah, aku merupakan salah satu penderita penyakit psikis ini. Aku tidak ingat persisnya sejak kapan aku mulai menjadi penderita. Yang pasti, sejak kecil aku takut dengan air.

Eitz, itu bukan berarti bahwa aku lantas tidak mandi. Apalagi tidak minum. Itu samadengan biofobi donk --> bio = hidup --> takut hidup? Hiiiiii...

Nah, rasa takutku akan air itu muncul ketika di malam hari. Misalnya, aku tak berani mendengar suara air mengucur deras ketika dalam keadaan sunyi (seperti suara aliran sungai di hutan) atau dalam keadaan sendiri dan tertutup (misalnya dalam kamar mandi yang tertutup).

Aku juga takut melihat air dalam jumalah yang banyak, misalnya laut, danau, sungai, bahkan selokan. Aku kuliah di kampus yang dilalui Selokan Mataram. Selokan ini merupaka salah satu selokan besar di kota Jogja. Kalau malam, aku tidak berani lewat di dekatnya. Trims kampus dan Pemda Sleman, sudah menutupnya menjadi jalan. Yang daerah Pogung sekalian donk, Pak! :)

Dulu aku kursus bahasa di tempat les-lesan yang berlokasi tepat di seberang Jembatan Merah. Jembatan yang berlokasi di Jalan Affandi (Gejayan) Jogja ini menjadi akses terdekat dari dan menuju tempat les-lesan. Tapi ketika pulang les malam, aku lebih mau memutar sampai jutaan kali lipat (lebay!) jarak dibanding jika aku melewati Jembatan Merah saja. Soalnya, tiap siang aku perhatikan bahwa sungai di bawahnya besar jugak!

Nah, kebetulan Hotel Puri Asri berkonsep alam. Dia membangun pintu-pintu kamarnya sengaja menghadap ke sungai yang juga dimanfaatkan untuk rafting. Bagiku, meski begitu indah di siang hari, malamnya menjadi musibah. Sebab aku harus mau memutar cukup capek (kontur tanahnya berbukit-bukit, jadi harus naik-turun) demi tidak mendengar suara riak air yang semakin jelas dalam keadaan malam yang senyap. Ini juga alasan mengapa aku membiarkan tivi menyala sepanjang malam, agar mengalahkan desir air :)


Dari Fobia hingga Gerakan Separatis
Sewaktu baru menjadi mahasiswa. Rrrr, jaman lucu-lucunya aku gitu, dewh. Aku pernah dikejar-kejar seseorang dengan alasan yang aku tidak tahu. Aku sampai takut kuliah, sebab dia tahu di mana kampusku. Dia juga tahu di mana tempat tongkronganku. Hwiii. Aku sampai berpesan kepada teman-teman untuk tidak menunjukkan keberadaanku atau memberi nomor teleponku jika dia datang dan bertanya. Aku juga sudah mengganti nomor handphone.

Kenapa aku harus takut? Sebab, dari pembicaraanku dengannya, aku menyimpulkan bahwa dia adalah anggota dari salah satu organisasi underbow yang berafiliasi pada gerakan separatis di salah satu provinsi yang ingin merdeka dengan memisahkan diri dari NKRI. Nah, organisasi underbow ini disinyalir banyak media merupakan organisasi yang dihidupi oleh kumpulan orang lokal terpelajar, terutama mahasiswa. 
 
Nah, orang yang mengejarku itu kebetulan adalah seorang mahasiswa. Dalam berbagai obrolan kami, ia seakan-akan sedang berorasi, mengajakku bergabung dengan organisasinya. Tentu saja persuasif, tidak implisit. Yah, semoga itu hanya perasaan Dik Adriani saja.

Kenapa aku? Karena aku selama hampir satu dasawarsa tinggal di provinsi itu. Aku tidak mempunyai hubungan darah sama sekali dengan penduduk setempat. Juga tidak memiliki hubungan batin dengan tanah setempat. Hanya karena aku pernah menjadi warga pendatang di sana?

Intinya, aku takut karena ayahku seorang Pegawai Ngeri Sipil (PNS), yang suka ngeri kalau tiba-tiba di-non job-kan karena alasan terlibat gerakan melawan negara, yang suka ngeri kalau berpikir tentang anak-bini akan makan apa jika tak lagi bekerja sedang gaji selama ini tak pernah bersisa untuk ditabung, yang suka ngeri kalau ketahuan tidak nyoblos Si Kuning di era lalu, dan ngeri-ngeri lainnya.
Nah, saking fobia nya dengan itu orang, ketakutan itu sampai terbawa mimpi. Dalam mimpi itu, fobia yang satu ini bertemu dengan fobia lainnya: ketakutan akan air. Ceritanya begini.

Si mahasiswa organisasi underbow dari gerakan separatis (sebut saja Si MOUGS) itu punya seoran teman yang juga kukenal dan sering terlibat dalam pembicaraan kami ketika ia “berorasi” tentang cita-cita kaum sesamanya itu. Nah, teman Si MOUGS ini di suatu sore menjemputku dari sekolah –entah kenapa saat itu aku mengenakan seragam SMU dengan rok panjang. Duduk menyamping di boncengan sepeda motornya, ia membawaku ke bibir pantai di Selatan Jogja.

Kami duduk di atas pasir yang masih hangat akibat terpanggang matahari siang. Kami duduk mengobrol ngalor-ngidul, sampai tanpa terasa semburat warna-warna baru mulai muncul seiring kepergian mentari (halah!). Aku mulai gelisah, sebab langit akan gelap.

“Antar aku pulang!” kataku.
“Nanti, sebentar lagi.”

Begitu terus jawabnya setiap kuminta untuk mengantarkanku pulang. Sampai warna langit berubah hitam, dan suara ombak pecahmakin membahana ketika air semakin pasang. Di sana, di atas pasir yang kini terasa dingin itu, aku megap-megap. Tak mampu lagi bersuara, namun berusaha mengajaknya pulang.

Ketika tersadar dari mimpi, aku membuka mata dengan keadaan jantung berdenyut cepat dan dada naik turun, menandakan nafasku yang menarik udara dan menghembuskannya dengan cepat a.k.a megap-megap!

See? Betapa hebatnya Si MOUGS sampai-sampai membuatku terbangun dalam kondisi megap-megap!


Megap-megap
Tentang megap-megap ini, sebenarnya memang selalu terjadi ketika aku melihat air di malam hari. Nafas serasa tersendat, tidak tuntas berhembus. Ia tertahan sebelum mencapai lubang hidung. Itu sungguh menyiksa!

Jika tidak melihat air di malam hari pun, aku selalu megap-megap ketika air dari atas mengguyur hidungku. Itu terjadi ketika sedang keramas atau menggunakan shower. Mungkin itu alasan mengapa aku tidak bisa berenang—yang melengkapi penyakit hidrofobiku, yaitu bahwa aku tak bisa lama menahan nafas di dalam air (meski cuma diguyur di depan hidung dari keran).


Apa Sebab?
Jangankan berada langsung di tempat berair-air, melihat foto laut/pantai saja aku takut. Aku selalu menghindari desktop komputer atau kalender bergambar pantai nan indah. Wong kalau tidak melihat saja—setiap melewati jembatan atau selokan besar, aku selalu menutup mata—badanku bisa disko merinding.

Mengenai ketakutanku akan air ini sudah pernah dikonsultasikan pada seorang psikolog. Saat itu, aku ditanya apakah punya riwayat tenggelam atau tidak. Kujawab tidak! Yeah, bagaimana bisa tenggelam kalau sama air saja takut?
Lalu si psikolog membimbingku untuk merunut kejadian-kejadian yang berhubungan dengan air yang pernah membuatku ketakutan di masa lalu. 

Sampailah aku pada cerita ini:
Di suatu siang, sepulang sekolah aku naik angkot bersama sejumlah teman yang rumahnya searah denganku. Saat itu aku duduk di bangku kelas satu SD. Di dalam angkot kami mendengar pembicaraan dua orang laki-laki berseragam SMU. Wajah mereka kaku dan kuyu. Mereka menyebut sebuah nama yang familiar di kupingku.

Geri. Yah, itu seperti nama tetanggaku yang juga SMU, yang semalam bikin heboh orang sekomplek karena dia belum pulang. Kulihat beadge di lengan mereka. Benar, mereka satu sekolah dengan Bang Geri. Lalu kusimak obrolan mereka.

Ya Tuhan, mereka membicarakan tentang beberapa orang teman mereka yang tenggelam di Kali Alas. Kali atau sungai itu terletak di provinsi Aceh Tenggara yang sebagian besar alamnya merupakan lahan konservasi. Banyak sungai-sungai besar masih perawan di sana, di kawasan Taman Nasional gunung Lauser. Sebutlah Kali Alas, Ketambe, Kali Ger-ger, Kali Bulan, dan masih banyak lagi. Itu hanya sebagian yang sering dikunjungi orang untk berwisata.

Sungai-sungai di sana sangat indah, dikelilingi hutan tak terjamah (well, meski belakangan menurut berita sering terjadi banjir akibat ilegal logging). Sewaktu baru pindah ke kota itu, ayahku dan teman-teman kantornya sering ber-adventure menjelajahi sungai dengan arung jeram (rafting). Di masa itu, arung jeram di sana bukan sekadar hal bersenang-senang, namun menjadi “permainan” (ya, saat it belum populer sebagai olahraga) bertaruh nyawa.

Bagaimana tidak, jika kedalaman air bisa mencapai puluhan meter. Belum lagi alur yang begitu berbelok-belok, arus yang deras, hingga keberadaan batu-batu besar. Selain itu, di masa itu tidak ada pihak yang mengelola permainan tersebut, sehingga ketika ayahku bermain-main arung jeram, ia hanya bermodal ban karet dan perahu karet plus kayu pendayung yang entah didapat dari mana. Tak ada helm, tak ada life vest, dst.

Kali Alas merupakan salah satu sungai dengan arus yang besar. Menurut cerita yang kudengar di dalam angkot itu, Bang Geri dan teman-temannya membolos dari sekolah. Mereka bermain-main: berenang dan menyusuri sungai dengan ban karet. Namun tiba-tiba, ketika sore, air pasang, menyeret mereka jauh. Dua orang tewas akibat terbentur bebatuan. Namun aku tak tahu itu siapa, apakah Bang Geri? Beberapa lainnya selamat.

Sesampai di depan komplek, ketika akan memencet bel, aku kuduluanan (?) dengan salah satu abang berseragam SMU abang yang duduk di sampingku. Tuuh kan, mereka mau ke rumah Bang Geri!

Dan benarlah, sesampainya aku di rumah, terdengar teriakan histeris dari rumah Bang Geri. Ibunya pingsan ketika mendengar kabar anak sulungnya itu hanyut.
Ah, keesokan harinya Bang Geri diantar kerumah oleh polisi dan pihak sekolah, dalam keadaan selamat meski baret dan lebam di sana sini. Ternyata menurut ceritanya, ia selamat karena gelayutan pada akar pohon besar (yang memang banyak di pinggiran sungai, aku tak tahu itu pohon apa, tapi akarnya sebesar akar pohon beringin).

***

Nah, psikolog meyakini bahwa cerita itulah yang mempengaruhi ketakutanku akan air. Tapi entah kenapa, harus di malam hari.

Yah, ini pertama kalinya aku berani mengatakan pada dunia (sori bos, hanya dunia yang ngerti bahasa ibuku) bahwa AKU TAKUT AIR. Selama ini aku tidak berani berterus terang pada orang-orang di sekitarku, sebab (ini nih, demenan orang Indonesiyah: kalo orang takut malah makin disengaja!) pasti akan ribet sendiri.

Kalau ke Bali, aku terpaksa tidak ikut sesi menyaksikan-matahari-tenggelam di pantai. Kalau rafting, aku duluan ke garis finish melalui jalan darat. Kalau camping, aku menahan buang air di malam hari karena harus ke sungai. Kalau berenang, aku jadi tukang foto.

Nah nah nah. Entah apa yang terjadi ketika aku diceburkan ke dalam kolam di malam hari itu: aku tidak apa-apa! Sempat lemas luar biasa, sampai mereka meletakkanku di atas rumput. Namun ketika akhirnya benar-benar kelelep: I was just fine! Bahkan cekikikan setelah keluar dari kolam.

Aku pernah melihat suatu tayangan luar mengenai pengobatan fobia. Ceritanya, seorang pasien yang takut kecoa dimasukkan dalam ruangan tertutup yang penuh kecoa. Awalnya kupikir dia akan pingsan. Eh, ternyata tidak, dan fobianya pada kecoa mulai berkurang.

Malam itu, paha kiriku terbentuk pinggir kolam. Cukup keras untuk membuatku menangis (hanya saja masih mampu menahan diri, maluuuuu). Sakit sekali jika harus naik/turun tangga dan nginjak kopling. Bahkan terasa hingga seminggu kemudian.

Yah, bagaimanapun aku tetap berterimakasih, meski pahaku memar, meski kaos putihku sudah tak lagi berwarna putih... :)

 http://whrt.it/IjAGww

AZ
 

*Barang, lho. Pakaian tidak termasuk.
about it
Categories:

2 comments:

  1. Yup, pernah liat tayangan feature di TV soal terapi buat fobia. Namanya kalo ndak salah sebut, close therapy, ya kayak fobia kucing terapinya sengaja dikenalkan ama kucing dan tahap demi tahap didekatkan pada si meong. ato kayak buat fobia kecoa itu :) megap-megap tapi lega kan finnaly...

    ReplyDelete
  2. Iya, semacam itu, kaya di discovery channel.
    Lega, ternyata gak cuman nengok, masuk ke dalam air di malam hari pun ernyata aku berani, yah?
    Tapi belom lewat2 air lagi nih, belom tau kelanjutannya, bertahanlama gak tuh.
    Hehe, tq Mas Inung!

    ReplyDelete

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata