Tuesday, February 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:57:00 PM | No comments

Jurnalis Kampus dan Onani Media




Dulu, ketika jumlah media massa masih bisa diingat, media satu ini menjadi pahlawan kata-kata yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Namun ketika apa yang dicita-citakan berhasil diraih, ke mana perginya para pahlawan itu?

Dialah para jurnalis kampus yang dengan idealismenya berani menyuarakan hati nurani rakyat. Ketika di masa pra reformasi para penguasa gemar melakukan pembredelan media yang dirasa mengusik ”tahta” pemerintahannya, pers mahasiswa (persma) muncul sebagai media alternatif yang cukup sulit untuk dibekukan, apalagi ditunggangi.

Media informasi merupakan salah satu artefak budaya yang paling penting dalam proses dan sejarah kehidupan manusia. Begitu pula bagi proses kehidupan bernegara. Bersama pihak-pihak lain yang berjuang demi perubahan negara untuk reformasi, persma dengan lantang menyuarakan ketimpangan meski bergerak di bawah tanah dengan berbagai ancaman pembekuan.

Namun kini, setelah satu dasawarsa usaha itu berjalan, ketika secara kuantitatif jumlah media sudah cukup sulit untuk diingat, ketika media bebas bersuara tanpa takut pembredelan, ke mana para jurnalis kampus kita?

Media Alternatif
Di awal perkembangannya, pers mahasiswa (persma) lebih ditujukan pada pengembangan aktivitas mahasiswa, yaitu untuk mewadahi hobi tulis-menulis mahasiswa, sehingga persma dijadikan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM). Kiprah UKM kuli disket ini terus maju seiring dengan perkembangan hasil yang diproduksinya. Mulai dari tulisan-tulisan ringan mengenai sastra, hingga tulisan berat mengenai politik kampus. Lambat laun, seiring kondisi sosial-politik negara, media kampus membidik isu-isu dengan cakupan lebih luas: negara-bangsa.

Pers mahasiswa mengalami masa kejayaan ketika pers umum oleh masyarakat dirasakan tak lagi mampu menyuarakan hati nurani mereka secara tulus. Di masa itu media umum seringkali dianggap sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Atau jika tak menjadi perpanjangan tangan, mereka dianggap tak lugas, karena takut mengungkap fakta kebobrokan pemerintah pada publik.

Keberadaan mahasiswa dengan segudang idealismenya membuat media-media mereka menjadi pembeber fakta yang paling ditunggu. Berbagai opini menantang kerap dimuat. Bahkan tak jarang sejumlah akademisi anti-pemerintahan yang pro mahasiswa dan perubahan pun menuangkan pikirannya secara berani di media mahasiswa.

Tak heran jika di masa-masa itu sejumlah aktivis persma masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Pada tahun 1996-1997 sejumlah jurnalis kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) ditangkap oleh intel-intel pemerintah. Fenomena kejar-kejaran antara intel pemerintah dengan mahasiswa jurnalis yang sedang menyebarkan media terbitannya kerap terjadi.

Misalnya saja yang terjadi pada sebagian besar aktivis persma dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur di UGM. Meski distribusi media mereka dilakukan di areal kampus, dengan mudahnya intel dapat mengobok-obok kampus yang notabene bukan daerah kekuasaannya. Mereka tak segan-segan mengejar para aktivis persma ini ke tiap sudut kampus. Untunglah sejumlah rumah dinas yang ditempati ekspatriat yang membuka pusat studi berbagai negara di UGM menjadi tempat persembunyian paling aman karena sepertinya tak berani disentuh oleh intel.

Sayang, ketika kini heroisme seperti itu tak lagi terdengar ketika apa yang mereka perjuangkan sudah berhasil diraih. Jika dulu di tiap penerbitannya para intel membaca tiap tulisan untuk menetapkan target operasi untuk para penulis opini yang memiliki pemikiran yang dianggap membahayakan pemerintahan, kini jangankan orang luar, orang dalam yang kesehariannya di kampus saja belum tentu membaca terbitannya. Jika dulu masyarakat menunggu-nunggu kehadirannya untuk menemukan berita berisi fakta nyata, kini tak ada lagi berita yang membicarakan mengenai nasib rakyat.

Mengapa? Arus media umum dengan informasi yang mengalir deras tanpa hambatan menjadi penyebab. Di antara desakan media umum dengan isu-isu yang sama, persma banting stir mengangkat lokalitas dengan menjadi media komunitas.

Kembali ke Kampus
Keterbukaan arus informasi yang diikuti dengan kemudahan memperoleh izin penerbitan media menyebabkan menjamurnya industri media pasca reformasi negeri ini. Tanpa pengecualian, semua menyuarakan hal serupa, berlomba-lomba menyajikan berita populer yang paling ingin diketahui oleh khalayak ramai. Semua sama, seragam, tanpa pembedaan.

Namun, banyaknya jumlah media tidak dengan sendirinya memberi lebih banyak pilihan dan keragaman informasi. Dalam situasi seperti ini hanya ada dua pilihan bagi pelaku media, yaitu nekad bersaing dengan media umum atau menjalankan fungsi dan peranan baru. Pilihan terakhir pun memunculkan sejumlah gerakan pembaharuan media, yaitu orang-orang yang mencoba menyesuaikan diri dengan konteks kekinian. Bergerak di ranah media komunitas pun diyakini sebagai media alternatif menyelamat.

Di tengah situasi demikian, media komunitas berpeluang menjadi alternatif baru menuju demokratisasi informasi yang dicirikan dengan keragaman isi (diversity of content) dan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership). Langkah itu pula yang dilakukan oleh jurnalis kampus. Demi mengantisipasi kejenuhan publik terhadap media-media umum, persma mengubah isu media mereka menjadi isu lokal, selain tentu saja agar media kampus tak kehilangan pembacanya.

Secara mudah, logikanya menjadi seperti ini: jika media umum dan media kampus memberitakan isu yang sama, tentu saja masyarakat akan lebih memilih media umum yang sudah memiliki nama besar dibanding media kampus. Akibatnya media kampus dipastikan akan kehilangan pembaca. Dengan menjadi media komunitas, media kampus berharap mampu menjaga eksistensinya di tengah belantara media massa.

Kata “komunitas” bisa diartikan sebagai ikatan sekelompok orang yang terbentuk karena kesatuan wilayah/geografis tertentu (geographical community). Bisa juga untuk menyebut mereka yang disatukan oleh rasa identitas yang sama (sense of identity) atau minat/kepentingan/kepedulian terhadap hal yang sama (community of interest) [Effendi Gazali, 2002].

Menurut Akhmad Nasir, seorang pegiat media komunitas di Yogyakarta, secara sederhana media komunitas bisa disebut sebagai media dari, oleh, untuk, dan tentang komunitas. Ia tumbuh dan berkembang dalam suatu komunitas. Ia dikelola oleh orang-orang dari komunitas bersangkutan. Ia hidup untuk melayani komunitasnya. Dan, ia menyajikan informasi tentang komunitasnya.

Menurut UNESCO, media komunitas tidak berorientasi mencari keuntungan (non-profit). Itulah yang membedakan media komunitas dengan media mainstream. Umumnya media massa merupakan bagian dari industri yang memang dibentuk untuk mencari kepentingan kapital. Media massa memang berperan besar dalam memberi informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial, namun tetap memiliki keterbatasan karena berorientasi pada tingginya oplah/rating.

Ironisnya, ketika kembali ke komunitas, kiprah persma di tataran negara menjadi dipertanyakan. Tak ada lagi vokal yang menantang kebijakan pemerintah. Tak terdengar lagi suara-suara yang memihak rakyat kecil. Dampak ke dalam, persma menjadi redup. Tak hanya gaung, tapi juga kehidupannya. Hal ini tentu saja disebabkan karena persma kehilangan pembaca.

Onani Media
Kehilangan pembaca membuat para jurnalis kampus ini mengalami onani. Onani karena para pekerjanya melakukan sendiri seluruh proses media: dari, oleh dan untuk kalangan sendiri. Mereka memunculkan ide dari diri mereka sendiri, melakukan pencarian data sendiri dan menulisnya untuk kemudian dibaca sendiri setelah mengalami proses turun cetak. Benar-benar onani!

Mengapa sampai onani? Karena tak ada lagi masyarakat yang berminat mengapresiasi tulisan mereka. Mengapa? Karena dirasa tak berguna lagi, mungkin. Sebab persma lebih merambah isu-isu lokal ketika menjadi media komunitas. Karena kejadian-kejadian di sebuah kampus tentu saja seringkali tidak mempengaruhi kehidupan orang banyak.

Jika dulu persma menjadi media alternatif yang ditunggu-tunggu penerbitannya karena berani memperjuangkan kaum tertindas tanpa tendensi penguasa dengan isu nasional, kini ketika menjadi media komunitas, isu-isunya hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang terlibat dalam komunitas di mana media itu tumbuh. Maka yang diberitakan media kampus adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan civitas akademika. Mulai dari para pejabat di rektorat, dosen-dosen, mahasiswa, pegawai kampus, para pedagang di seputaran kampus, hingga orang-orang lain yang masuk dalam keseharian hidup kampus.

Ketika persma memberitakan mengenai orang-orang di kampusnya, tentu saja tak menarik bagi orang-orang di luar, apalagi untuk diangkat dalam sebuah perdebatan global di kancah nasional. Sangat kecil kemungkinannya! 

Sebuah universitas menaikkan biaya pendidikannya, sebuah kampus mengusir para pedagang di area kampus, mahasiswa kampus itu mengadakan aksi turun ke jalan menolak kebijakan rektorat. Itu hanya dirasakan oleh orang-orang dalam scope lokal, tentu saja.

Akan berbeda halnya jika seorang pejabat negara yang diduga sedang terlibat kasus korupsi besar ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di dalam kamar sebuah hotel mewah bersama seorang mahasiswi yang diduga seorang ”ayam kampus” yang ”disediakan” untuk pejabat tersebut.

Jika pers kampus di mana si mahasiswi tersebut berkuliah memberitakan hal apapun mengenai kehidupan si mahasiswi—bahkan dengan menganut ide yang dipakai oleh jurnalisme infotainmen yang kerapkali kontroversial sekalipun—kemungkinan besar hal itu akan menjadi berita nasional karena menyangkut kepentingan orang banyak, karena seorang pejabat pemerintahan tentunya menyangkut khalayak ramai.

Transformasi Budaya
Segera setelah reformasi bergulir, UKM persma menjadi idola banyak mahasiswa. Di UGM, tak kurang dari 300 mahasiswa mendaftar dalam seleksi penerimaan anggota di dua persma tingkat universitas di tiap tahunnya. Belum lagi di tingkat fakultas dan jurusan. Sejumlah sekolah pun membawa siswa-siswinya untuk mengadakan studi banding di persma-persma sehingga makin memantapkan UKM satu ini untuk menjadi pilihan para siswa ketika mereka mencicipi bangku kuliah nantinya.

Hingga kini antusiasme mahasiswa untuk bergabung dengan persma tidak bergeser, bahkan semakin bertambah meski gaungnya di kancah negara sudah sangat meredup. Satu alasannya adalah karena persma semakin nge-pop. Kaum muda, dalam hal ini mahasiswa, adalah konsumen terbesar budaya pop (popular culture). Memasukkan isu-isu popular ke dalam terbitannya menjadikan persma tetap mendapat tempat dalam hati tiap mahasiswa sebagai anggota terbesar komunitasnya.

Dalam satu dasawarsa ini wajah mahasiswa Indonesia mengalami perubahan begitu signifikan. Jika sebelumnya mahasiswa ditangkap polisi karena mendiskusikan buku-buku karangan penulis Pramoedya Ananta Toer, kini polisi datang ke diskusi buku untuk menjaga ketertiban akibat “anarkisme” para mahasiswi yang berebut meminta tanda tangan Raditya Dika, seorang blogger yang mendapat perhatian dunia perbukuan akibat mempublikasikan banyolan kesehariannya.

Dulu mahasiswa sibuk mendaftarkan diri untuk bergabung dalam berbagai komunitas pergerakan mahasiswa. Kini mahasiswa asyik menyibukkan diri dengan mendaftar ke berbagai kontes idola, ajang kecantikan, hingga berbagai klub hura-hura. Keseharian mahasiswa kini diwarnai dengan hedonisme yang—paling tidak—dicirikan dengan gaya hidup konsumtif, keinginan tampil dan dikenal orang, serta mempunyai dunia sendiri yang cenderung anti sosial.

Segala ciri tersebut ditunjang dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh perusahaan penghasil produk-produk terkait, terutama industri hiburan. Dunia entertainmen tak sungkan-sungkan menyajikan budaya popular melalui terbitan atau tayangannya. Hal inilah yang serta merta mengubah gaya hidup mahasiswa sebagai konsumen media, termasuk media kampus.

Ketika mengonsumsi sistem ide popular, media kampus mulai dilirik lagi oleh orang luar, namun bukan dipandang sebagai pembawa ide segar untuk memperbaiki kelangsungan hidup bernegara, melainkan sebagai peluang profit. Banyak pengusaha yang bergerak dalam bisnis kebutuhan mahasiswa melihat media kampus sebagai media promosi efektif. Efektif karena selain langsung membidik sasaran, bea promosi akan jauh lebih murah dibanding dengan memasang iklan di media umum.

Tak pelak wajah-wajah media persma dihiasi dengan iklan jasa laundry dan fotokopi, warung makan dan warung internet, hingga klub-klub yang menawarkan hiburan malam yang merupakan produk/jasa bersegmen mahasiswa. Jika di satu sisi pengusaha melihatnya sebagai penghematan bea promosi jualannya, di sisi lain para pegiat persma melihatnya sebagai strategi bertahan.

Untuk dapat terus mengepulkan asap dapurnya, persma dilingkupi tak sedikit persoalan. Paling dominan adalah masalah pembiayaan. Seperti yang kita tahu bahwa meskipun bukan media independen—dalam artian dibawahi oleh kampus—persma tidak dibiayai secara penuh oleh rektorat. Pengalaman banyak persma, bahwa dari seluruh biaya penerbitan dan non penerbitan yang mereka butuhkan, dana sumbangan kampus untuk UKM persma hanya berjumlah tak lebih dari 3% dari total kebutuhan. Artinya, kampus mengharapkan kreatifitas UKM untuk mencari penghidupannya sendiri.

Ada persma yang menjual terbitannya untuk bisa berproduksi kembali, namun tak sedikit pula yang membagikan terbitannya secara gratis. Ketika dijual, maka semakin kecil kemungkinan media tersebut akan dibaca orang, sebab lagi-lagi akan bersaing dengan media umum berstatus sama: dijual. Maka tak heran jika hasil penjualannya seringkali tak mampu menutupi bea produksi.

Ketika dibagikan secara gratis pada pembacanya—sebagai strategi agar terus dibaca masyarakat—media ini terbentur pada pembiayaan yang tentunya makin membebani. Jika tak pandai-pandai menyikapi, media mahasiswa akan otomatis beku tanpa perlu dibredel oleh penguasa. Oleh karena itu, membuka diri terhadap perusahaan menjadi solusi.

Usaha lain adalah dengan membuat berbagai kegiatan non penerbitan seperti seminar, pelatihan, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan jurnalisme. Tujuannya adalah agar bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan besar untuk urusan finansial serta melebarkan sayap pada lembaga-lembaga bonafit demi promosi media secara gratis.

Lewat kegiatan non penerbitan dan pemuatan iklan, persma seakan kehilangan identitas karena menjelma menjadi media komersil. Okelah, memang benar bahwa persma juga butuh uang untuk menghidupkan medianya, namun apakah idealisme persma kemudian harus distir?

Ketika iklan-iklan yang dimuat adalah iklan produk rokok, misalnya. Hal ini tentu saja menginjak-injak idealisme mahasiswa. Ketika di satu masa mereka meneriakkan tentang dampak globalisasi, di sisi lain mereka dihidupi dari itu. Atau ketika demi mengumandangkan namanya di kancah yang lebih luas, persma bersedia menjadi media partner untuk kampanye salah satu partai politik peserta pemilu tanpa peduli jika kedaulatannya diinjak-injak.

Profit Oriented
Uang seringkali menjadi persoalan utama. Begitu pula yang dihadapi oleh sebuah perusahaan media bernama pers mahasiswa. Ketika kampus ”angkat tangan” dan menyerahkan sebagian besar masalah pembiayaan pada para pegiatnya, persma pun dihadapkan pada buah simalakama: antara idealisme dan kebutuhan. Kebutuhan bisa dipenuhi lewat iklan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika perusahaan yang berani membayar lebih adalah perusahaan-perusahaan besar yang seringkali bertabrakan dengan idealisme mereka. Namun tanpa melewati ”seleksi idealisme”, semua diterima karena uang berbicara banyak.

Lebih ironis lagi, ketika pemuatan iklan berhasil memapankan medianya, para pegiat persma melupakan cita-cita murni dari pendirian UKM tersebut: mewadahi talenta tulis-menulis anggotanya. Sangat disayangkan ketika akibat pertambahan jumlah iklan yang masuk mereka tak membarenginya dengan penambahan space sebagai wadah aktualisasi diri para anggotanya.

Ketika masih hidup ”megap-megap”, mereka dapat dipastikan akan membuat media dalam format halaman sedikit sebagai konsekuensi keterbatasan dana. Banyak awak yang harus berlegowo hati ketika mendapati jatah menulis secara bergilir akibat keterbatasan rubrikasi.

Kemudian setelah mendapat kepercayaan dari banyak perusahaan untuk ”ditempeli” iklan, mereka pastinya akan menambah halaman. Namun bukan untuk diisi dengan ide-ide dari kepala para pegiatnya, melainkan untuk melayani iklan-iklan yang seringkali tak sabar mengantri space. Akibatnya, media persma tak lagi menjadi wadah aktualisasi diri, namun aktualisasi iklan.

Lebih jauh lagi, ketika memilih menjadi profit oriented, persma tak lagi memedulikan kualitas sajian. Softnews mengenai apapun dimuat, asal berhubungan dengan mahasiswa. Tak ada proses pemilahan kepentingan sesuai segmentasi pembacanya karena didominasi berita hiburan. Hardnews yang tidak mendalam karena minim data. Foto yang tidak ”berbicara” akibat salah angle, dan sebagainya.

Karena ketika menjadi bagian dari persma, sejak awal awaknya sudah dicekoki dengan asumsi bahwa divisi marketing dan perusahaan atau iklan dan promosi adalah nyawa dari media, maka akibatnya semua awak akan berorientasi pada kepentingan dan upaya mencari uang untuk bea penerbitan.

Begitu bergabung mereka sudah berpikir bagaimana caranya bisa mencari iklan sebanyak-banyaknya untuk menghidupkan media. Substansi terlupakan. Mereka bahkan lupa bahwa yang dilihat dari media adalah isi berita, bukan jumlah iklan. Divisi sumber daya manusia pun seringkali melupakan tugasnya untuk meng-up grade kemampuan awaknya. Berbeda dengan divisi keuangan yang seringkali mengadakan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk menjaga dapur media agar tetap mengepul.

Selain iklan, satu jalan pintas mendapat keuntungan besar adalah dengan menjadi event organizer untuk sejumlah kegiatan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika kegiatan itu sama sekali tak berhubungan dengan dunia jurnalistik: membuat acara nonton bareng pertandingan sepak bola dunia (dengan sponsor utama perusahaan rokok) sekaligus diuntungkan dengan publikasi gratis di stasiun televisi nasional, mengadakan konser musik dan lomba band, dan sebagainya.

Dengan cara-cara itu, para pekerja media tidak menjadi semakin mempertajam tulisan, tidak terasah kemampuan mencari datanya atau tergerak minatnya pada isu-isu kerakyatan. Sebab peningkatan jumlah pendapatan yang masuk ke dalam pundi-pundi organisasi mereka tak berjalan lurus dengan peningkatan kualitas masing-masing individu yang ada di dalamnya. Sangat merugi.

Persma di Mana?
Kini, ketika semua media sudah bebas beridealisme dan menyuarakan segala hal secara terbuka seperti yang dulu hanya bisa dilakukan oleh para jurnalis kampus, maka di mana persma berpijak? Persma dirasakan kehilangan ruang gerak akibat keterbatasan isu yang diangkatnya. Ketika menyuarakan komunitas lokal, mereka lupa dengan isu yang lebih besar. Mereka tak lagi memberitakan sistem pemilihan umum di republik ini, tak lagi meyuarakan kenaikan harga BBM, tak lagi bersedia berkata melawan arus.

Penyikapan media kampus dengan kembali pada isu-isu komunitas ini dikhawatirkan tak mampu mengasah kepekaan sosial mahasiswa dan komunitasnya, yaitu civitas akademika yang menjadi sasaran utama pembacanya, terhadap kepentingan publik yang lebih luas. Untuk itu, persma perlu menentukan batu pijakan yang paling sesuai dengan porsinya sebagai mahasiswa kampus dan sekaligus warga sebuah negara.

Mengembalikan idealisme yang menjunjung tinggi kepentingan orang banyak bisa dilakukan dengan cara memberikan porsi setara untuk berita-berita komunitas dan negara—tentunya dalam kacamata kaum muda. Dengan cara itu, persma diharapkan mampu mengembalikan kedudukannya sebagai media yang layak dipertimbangkan. Karena dengan begitu, persma tentu saja tak beronani lagi!


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata