Tuesday, March 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 AM | No comments

Pere!



Hush! Ini bukan “cakap kotor” yang dilafalkan dengan penambahan huruf “k” di akhir kata. Ini adalah bahasa (entah dari mana asalnya) yang berarti “perempuan”. Sebutlah ia dengan pengucapan pada kedua  huruf “e” yang pepet (seperti “e” pertama untuk kata “bendera”).

Perempuan. Kata banyak orang, pere itu punya banyak keistimewaan. Mungkin lebih banyak dibanding jumlah pere di muka bumi yang konon lebih dari setengah jumlah mahluk manusia.

Perempuan. Saat sekolah dasar dulu aku diajarkan pengucapan kata “wanita” yang menurut guru Bahasa Indonesia mempunyai “strata sosial” yang lebih tinggi dibanding kata “perempuan”. Saat bersekolah di Jawa, seorang guru Sejarah yang sekaligus guru Bimbingan Konseling (BP) memperkuat argumen guru SD tsb:
“Wanita” itu sangat istimewa. Ia berasal dari kata “wani” dan “toto” atau “wani ditoto” yang berarti “mau ditata”. “Ditata” di sini bermakna “diatur, dibina”, dan lain sejenisnya. Pokoknya segala yang baik-baik sebagaimana orang timur membedakan antara kelakuan (perilaku) kaum pere yang dianggap cenderung lebih teratur dibanding lelaki—oops!

Nah, setelah kuliah dan mengenal aksi-aksi para “gender actors”, aku mengamati bahwa kata “perempuan” kemudian lebih dipilih oleh aktivis dan media. Suatu kali aku pernah membaca alasan penyebutan ini, namun aku LUPA!!! *tolongingatkankembali*

Bagiku, kata “perempuan” terdengar lebih enak di telinga. Sebab ia terdengar lebih muda. Kenapa? Entahlah. Mungkin karena kata “wanita” memang digunakan oleh orang-orang jadul dan untuk mengacu pada orang jadul. *hah!?*

Media massa lebih sering menggunakan “wanita paruh baya” dan “perempuan muda”, bukan? “Perempuan paruh baya” dan “wanita muda”??? Nggggg....

“Aktivis perempuan” bagiku, kata “perempuan” di sini lebih terdengar sebagai obyek kalimat (kata?), sehingga bermakna “aktivis yang mengangkat isu-isu mengenai perempuan”. Sedangkan “aktivis wanita” adalah “para pere yang menjadi aktivis”. Tak setuju karena kata-kata itu terdengar sama di telinga kalian? Silahkan. I’m talking about my own ears of feeling.

Selain itu, “wanita” memang benar-benar terdengar khusus diperuntukkan untuk orang jadul bagiku. Darmawanita itu untuk ibu-ibu istri birokrat, kan? Bukan untuk cewe-cewe?
Cewe-cewe. Ah, apa pulak lagi itu?

Selamat memperingati 8 Maret,Hari Perempuan Internasionalbagi pere, perempuan, wanita, cewe.

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata