Tuesday, March 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 11:34:00 AM | 2 comments

Selangkang. Ngoten, Njih!

Ngoten njih, Bu... Pak...

Ini adalah salah satu kalimat paling sering kudengar dalam berbagai kesempatan bertemu dengan warga pedesaan. Ia bermakna “begitu, ya” dalam bahasa Jawa halus. Atau “ngono, lho” dalam bahasa Jawa kasar (ngoko). Kata-kata itu keluar dari mulut teman-temanku yang menjadi fasilitator pendampingan warga desa di pedesaan Jawa.

Banyak iklan rekutmen fasilitator pendampingan yang menyertakan hal-hal seperti “fluent in English and Bahasa” untuk international NGO atau “diutamakan yang mampu berbahasa daerah [Jawa, misalnya]”. Hal ini penting sekali, benar-benar baru kurasakan ketika pertama kali bekerjasama dengan penduduk desa di kawasan pedesaan di Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

Saat itu (2007) aku mendatangi masyarakat setempat secara door to door. Di saat jam kerja (sekitar sebelum jam makan siang), penduduk yang ada di rumah kebanyakan usia-usia tidak produktif seperti orang tua. Anak-anak mereka sedang bekerja—entah di ladang, entah di kantor. Cucu-cucu mereka sedang bersekolah.

Nah, ini kesulitanku. Pertanyaan-pertanyaan yang kutanyakan sesuai catatan adalah pertanyaan berbahasa Indonesia yang—meski sudah disusun sedemikian rupa dengan menghilangkan bahasa ilmiah agar mudah dimengerti—tetap tidak mereka mengerti.

Persoalan utamanya adalah, saat itu, aku yang merasa bahwa bahasa Jawa yang kupahami sudah sangat cukup untuk berinteraksi dengan orang lain, ternyata TIDAK. Sebab kemampuan bahasa Jawa yang kumiliki hanya PANTAS untuk digunakan dengan orang sebaya, tidak pada orang yang lebih tua, yang menggunakan bahasa halus—sehalus wajahku *inmydream*.

Itu sebab aku tak berani berbahasa Jawa, takut dianggap tidak sopan sopian. Terlebih lagi aku bukan orang Jawa --> nanti kalau dianggap tidak menghargai budaya setempat, bagaimana?

Apa yang kulakukan kemudian adalah bertanya dengan perlahan-lahan, berharap mereka mampu membaca gerak bibirku *gagu:mode* agar cerebrum dalam otak mereka mampu memproses dan serta-merta mengartikannya dalam bahasa yang mampu mereka pahami *enggakmungkinbanget*

Dan terjadilah percakapan kocak ibarat perbincangan Barry, Lil’ Obama, saat baru masuk di SDN 1 Menteng: saling-sok-mengerti.

Akhirnya, kuputuskan untuk mencatat saja segala kata yang diucapkan para orang tua tsb. Akan kuartikan nanti bersama teman satu kelompok yang bisa berbahasa Jawa.

Nah, tibalah saat pembahasan. Kubacakan semua yang kutulis dalam wawancara berbalut tema “kehidupan masyarakat lereng Merapi” untuk kebutuhan pemetaan tanggap darurat bencana.

“Selangkang,” sebutku.
“Hah?” respon temanku.
“Ya, se..langkang?” tanyaku, dan sesaat kemudian tertawa ketika menyadari arti arti kata itu dalam bahasa Indonesia.
“SELANGKUNG!” teriak temanku setelah menelusuri konteks ‘terjadinya’ tulisan tersebut.

Selangkung” berarti 25. Bahasa Jawa halus yang kutahu tentang perangkaan hanyalah “selikur” [ini karena komunitas tempat nongkrongku di kampus bernama B-21 (dilafal "Be Selikur").

Kata "salangkung" ini kudapat saat menanyakan usia anggota keluarga yang hidup dalam rumah seorang nenek a.k.a. embah.

Selangkang” berarti...


Gambar dari sini.


Mlekom,
AZ




20160315

about it
Categories:

2 comments:

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata