Sunday, June 5, 2011


Gambar dari sini.
Penjelasan Adriani Zulivan di Forum Facebook Group KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada), Minggu (05/06) pukul 20.30 WIB:

  1. Lumba2 bukan jenis hewan yang masuk dalam hewan langka. Jumlah habitat mereka masih sangat banyak di alam/dunia. Sedangkan hewan yang perlu/butuh (bahkan wajib) konservasi adalah hewan langka. Kiterianya apa? Bisa cek di kesepakatan konsorsium dunia ~> Jika sy menemukan link-nya, akan saya share di sini, segera.
  2. Universitas adalah tempat yang tidak diperkenankan utk mendirikan lahan konservasi hewan jika tidak sesuai dengan habitatnya. UGM tak mampu buat laut, kan? ~> Jika mmg niat konservasi, sila lakukan di lepas pantai. seperti yang dilakukan dg Taman Komodo, Sekolah Orang Hutan, dst.
  3. Dari artikel http://bit.ly/maheMC : “Yang lebih penting, bagaimana PT WSI yang telah membangun wisata pantai bisa mengobati kejenuhan masyarakat melalui rekreasi ke pantai,” ~> Hewan tidak suka dikurung. mereka, *apalagi lumba2 terbukti punya kecerdasan tinggi* punya perasaan, seperti juga manusia. Lumba2 biasa berenang bebas di laut luas. Mereka akan stress jika 'terhimpit'.
  4. PT WSI adalah sebuah perusahaan yg selama ini bergerak di bidang hiburan pasar malam (seperti tong setan, komidi putar, rumah hantu, dst). Di benak mereka sebagai 'produser', ini adalah wahana hiburan. Tidak peduli pada aspek urgensi
  5. Perizinan ini telah dilakukan PT WSI sejak tahun 2010 lalu. Seorang Konsultan Dep Kehutanan (adalah drh dari UGM), sudah meminta Dept Pertanian (sebagai badan yg bertanggungjawab soal perizinan konservasi satwa liar) untuk tidak memberikan izin pembangunan proyek ini.
  6. Seluruh proyek penelitian di UGM seharusnya mendapat perizinan dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat) UGM. Para petinggi LPPM --Prof Danang Parikesit dan Dr drh Wisnu Nurcahyo secara tegas mengatakan bahwa LPPM tidak pernah diajak berkonsultasi mengenai rencana proyek tsb.
  7. Secara tegas pula, keduanya menyatakan bahwa pihak LPPM UGM menolak rencana tersebut sebab tidak sesuai dengan peraturan negara mengenai Pemanfaatan dan Penangkaran Satwaliar.
  8. Mengapa bisa lolos sampai MoU? Hal ini tidak melewati prosedur yang seharusnya masuk terlebih dhulu di LPPM sebagai lembaga penelitian di bawah UGM. ~> Apakah karena takut, jika lewat LPPM, maka proyek tsb tidak akan gol? who knows?
  9. Ini salah satu bunyi Legal Draft ttg Pemanfaatan & Penangkaran Satwa Langka (PP No 8 Tahun 1999): "Lembaga penangkaran: Penangkaran satwa liar di luar habitat aslinya (eks-situ) harus dilakukan oleh lembaga konservasi yg dpt berbentukKebun Binatang, Museum Zoologi, dan Tam,an Satwa Khusus seperti Taman Safari. UNIVERSITAS BUKANLAH LEMBAGA KONSERVASI yang berhak untuk menangkarkan satwa liar meskipun untuk tujuan riset sekalipun."
  10. Mengenai Penangkaran Satwa Akuatik (khususnya lumba2), Dr drh Wisnu N: Pemeliharaan di eks-situ cenderung bermasalah dlm hal penyediaan lingkungan biologi dan lingkungan fisik. persoalan ini sering dijumpai dlm pemeliharaan/penangkaran lumba2 yg sudah ada selama ini. Penangkaran harus sesuai kaidah ilmiah terkait satwaliar akuatik laut yg perlu media air laut utk kehidupannya, analisa lingkungan penangkaran & keberlanjutan penyediaan air laut
  11. ...lanjut, dari Dr drh Wisnu N: Pelaksanaan riset universitas terkait penggunaan satwaliar sebaga hewan percobaan penelitian harus memenuhi prinsip2 kesejahteraan hewan (animal welfare). Agar hewan yg ditangkarkan dpt hidup dan berkembangbiak dengan baik. Melindungi kesehatan lingkungan kampus & masyarakat sekitar kampus dari penyakit yg dpt menular dari satwa ke manusia atau dari manusia ke satwa tsb (zoonosis).
  12. ...lanjut, masih Dr Wisnu: Standar yang dibuat haus meliputi tatacara pengadaan, adaptasi dan penempatan satwa liar, pengelolaan pakan dan obat-obatan, pengelolaan kebersihan atau sanitasi kolam dan lingkungan, pengelolaan kesehatan dan pengendalian penyakit, kolam karantina, pengelolaan reproduksi, pembesaran anak, pengelolaan sistem pencatatan kejadian dan perkembangan lumba2 (recording).
  13.  ...lanjut lagi: Pemanfaatan penangkaran lumba2 di luar habitatnya (eks-situ) meski banyak mendatangkan manfaat bagi peneliti dan masyarakat, namun secara naluri alamiah satwaliar akan lebih bebas, aman dan nyaman di habitat alamnya di lautan bebas. Universitas harus MEMPERHITUNGKAN kajian2 ekologis bila akan menangkarkan lumba2 di luar habitatnya.
  14. Sekian hasil konsultasi sy dengan Dr drh Wisnu. Besok teman2 dari Animal Friend Jogja akan melakukan aksi penolakan pada 10 am di Bunderan.
  15. Dari sisi animal welfare, teman2 Animal Friend Jogja (AFJ) ini punya lebih banyak preferensi. Sila baca di dua tautan yg saya kirimkan di atas.



Sumber berita:
  1. UGM 
  2. Kompas 

Opini JAF, pemerhati kesejahteraan satwa:
  1. Tulisan 1 
  2. Tulisan 2


Adriani Zulivan,
Pernah Kuliah di UGM




about it
Categories: ,

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata