Thursday, July 14, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:20:00 PM | No comments

Himbauan Pencabutan Ijin Sirkus Lumba-lumba di Salatiga

PT. WSI [Wersut Seguni Indonesia saat ini sedang mempertunjukkan Lumba-lumba dalam sirkus keliling Lumba-lumba dengan dalih Pendidikan & Pengenalan Aneka Satwa di kota Salatiga, Jawa Tengah. Siswa sekolah di Salatiga terancam mendapatkan informasi dan pendidikan yang keliru mengenai kehidupan satwa liar. Untuk menutup pertunjukan keliling menggunakan Lumba-lumba di Salatiga dan menghentikan kekejaman ini, kirimkan email di bawah ke: walikota@pemkot-salatiga.go.id, cc: menhut@dephut.go.idsekjen@dephut.go.idboenm@dephut.go.idirjen@dephut.go.id;

Kirimkan juga ke: Dinas Pendidikan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah [Ph: 024-3515301, Fax: 024-3520071]
Anda bisa membuat surat Anda sendiri atau copy/paste surat di bawah ini, dan harap cc ke: stoptravelshow@gmail.com

The travelling dolphin circus is now in the city of Salatiga, Central Java.
The local children there are now being misinformed about treatment of wildlife, and are learning that forcing wild animals into unnatural behavior and suffering is acceptable. We need to take action and request an immediate stop of all permits for this circus from the local government! Please just send one email to: walikota@pemkot-salatiga.go.id, cc: menhut@dephut.go.idsekjen@dephut.go.idboenm@dephut.go.idirjen@dephut.go.idwhich you request a stop to this cruel traveling circus. And please click on this website and leave your message in http://jip.pdkjateng.go.id/index.php/hubungi-kami-topmenu-18


You can either formulate your own words or copy / paste the letter here below in Indonesian, also please CC the emails to stoptravelshow@gmail.com
============================


Kepada Yth:
Walikota Salatiga
Jl. Letjen Sukowati No. 51, Salatiga, 50724, Jawa Tengah

Mengetahui bahwa Pemerintah Kota Salatiga telah memberikan ijin diadakannya Pentas Lumba-lumba pada tanggal 29 Juni - 31 Juli 2011 di Lapangan Poltas/Satlantas, Jl. Diponegoro No.82 Salatiga yang dikelola oleh PT. WSI [Wersut Seguni Indonesia], maka kami menghimbau agar Pemerintah Kota Salatiga mempertimbangkan PENCABUTAN IJIN bagi Pentas Lumba-lumba tersebut maupun pertunjukan lain yang mengeksploitasi satwa dengan dalih Parade Pendidikan dan Pengenalan Aneka Satwa.

Pentas/sirkus keliling Lumba-lumba semacam ini sudah ditiadakan di berbagai belahan dunia karena berbagai tindak kekejaman terhadap satwa yang terjadi di baliknya. Dan PT. WSI (Wersut Seguni Indonesia) justru memiliki sirkus keliling terakhir di dunia yang menggunakan Lumba-lumba hidung botol [Tursiops Truncatus] dan berbagai satwa liar lainnya.

Pertunjukan sirkus sayangnya masih menjadi rekreasi favorit dan sarana pengenalan terhadap satwa bagi masyarakat maupun siswa sekolah di Indonesia. Namun, sirkus adalah sumber yang keliru untuk mengenal kehidupan satwa liar dan belajar mencintai satwa. 
Di sirkus-sirkus, satwa dipaksa melakukan trik-trik yang tidak alami demi menyenangkan pengunjung, yang teknik pelatihannya diberikan dengan mengkondisikan satwa menderita kelaparan. 
Lumba-lumba yang digunakan dalam sirkus keliling selalu berada dalam kondisi yang tertekan, disimpan dalam kolam yang sempit dengan air bercampur bahan kimia yang berakibat buruk bagi kesehatan Lumba-lumba. Ini sangat jauh berbeda dengan samudera lepas yang merupakan habitat alami Lumba-lumba dimana mereka dapat menjelajah puluhan kilometer (dalam gerak lurus) setiap hari dan menggunakan navigasi sonar yang tidak hanya membuat mereka dapat mengetahui jarak, tetapi juga dimensi dan mendeteksi obyek-obyek di sekitarnya baik makhluk hidup maupun benda mati. Pancaran sonar Lumba-lumba melingkupi radius yang luas, saat berada dalam kurungan dinding-dinding kolam, pancaran sonar akan memantul kembali dengan cepat. Dalam keadaan ini, tingkat stress tinggi akan dialami lumba-lumba.

Berbagai penemuan terkini tentang mamalia laut dengan kecerdasan tinggi ini memperlihatkan keahlian dan kesadaran akan diri yang semula diklaim hanya dimiliki oleh manusia. Pertunjukan Lumba-lumba, dan bentuk-bentuk pengurungan lain adalah secara psikologis berbahaya dan memberikan informasi yang keliru tentang gambaran kapasitas intelektual mereka.

Lalu apakah yang bisa dipelajari siswa maupun masyarakat dari satwa liar yang tidak dapat mengekspresikan perilaku alamiahnya dan tidak hidup di habitat alaminya?

Satwa yang digunakan dalam sirkus keliling direlokasi dari kota ke kota menggunakan truk, dikurung dalam tangki plastik & kandang-kandang sempit selama masa pertunjukan berlangsung. Anda bisa bayangkan kondisi kehidupan mereka yang sangat memprihatinkan.

Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dimana didalam lampirannya ditegaskan bahwa Lumba-lumba adalah mamalia laut yang dilindungi oleh Undang-undang. Lumba-lumba yang digunakan dalam pentas/sirkus ini ditangkap dari alam, dan secara hukum sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengembalikan satwa liar yang dilindungi ke habitatnya. Sirkus keliling yang menggunakan lumba-lumba bertanggung jawab atas menurunnya populasi Lumba-lumba di habitatnya.

Oleh karena itu, kami dengan tegas menyatakan bahwa Pentas Lumba-lumba dan aneka satwa liar lain yang sedang berlangsung di kota Salatiga adalah: 
1. Bentuk eksploitasi dan kekejaman terhadap satwa
2. Pendidikan yang keliru bagi siswa sekolah maupun masyarakat untuk belajar mengenai kehidupan satwa liar

Kami, sebagai masyarakat peduli satwa, sekali lagi menghimbau kepada Pemerintah Kota Salatiga untuk mempertimbangkan PENCABUTAN IJIN bagi Pentas Lumba-lumba yang dikelola oleh PT. WSI dan saat ini sedang berlangsung di kota Salatiga. 
Marilah kita tidak mendukung kekejaman terhadap satwa dan mendidik siswa dengan cara yang lebih tepat dan baik untuk mencintai satwa liar dan alam.

Hormat kami,


Warga peduli satwa

-- 
Animal Friends Jogja
animals.friendship.nature
twitter: AnimalFriendsYK
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata