Monday, July 18, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 5:19:00 PM | No comments

Ketika Tradisional Beriringan dengan Modernitas


Jogja...jogja tetap istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya...
Jogja...jogja tetap istimewa.....jogja istimewa untuk Indonesia....



Itu lagu Kill The DJ. Sangat populer pasca pernyataan Pesiden SBY terkait keistimewaan DIY yang disebut sebagai monarki.


Kita jangan bahas itu. Biar orang lain yang punya keistimewaan saja yang membahasnya. Aku mau cerita tentang betapa istimewanya Jogja dari sudut pandangku sebagai pendatang.


Jogja. Bagiku merupakan sebuah kota malu-malu. Malu untuk mendeklarasikan dirinya sebagai apa: kota tradisional, atau modern?


Lihatlah pembangunan kotanya. Banyak bangunan baru yang samasekali tidak menggambarkan sikap tradisional, seperti mal dan pusat perbelanjaan lainnya. Di sisi lain, dia tetap mempertahankan statisme dari peradaban nenek moyang Jawa.


Biar ini kota pendidikan --yang bisa diartikan bahwa penduduknya merupakan masyarakat terdidik-- yang namanya klenik tetap saja jalan.


Di Jogja tak sulit menemukan pedagang yang menjual barang-barang klenik, seperti keris, batu bertuah,dan sebagainya. Paling populer dan jamak ditemukan di berbagai tempat umum adalah pedagang batu betuah. Batu-batu ini dijadikan semacam jimat yang difungsikan sebagai liontin, mata cincin, dan benda-benda sehari-hari lainnya.


Ini beberapa yang sempat kupotret dari sebuah pameran di Jogja, sekitar 2009 lalu:



Beberapa Jenis Batu Bertuah


Cincin yang batunya diberi 'isi', untuk 'pengasihan'.
Aku lupa namanya


Giok Burma. Burma-burma-an :)


*
Sejumlah Kayu Bertuah:




Dewandaru
Galih Kelor
Entah apa nama dan fungsi alat ini.
Ini bagus. Etnik sekali. Besarnya kira-kira sebulatan telur bebek.
Bentuk-bentuk perhiasan kayu lainnya.
Petuah dalam Kayu Bertuah


Mereka berfungsi sebagai pengasihan. Seperti untuk memperlancar jodoh, 'menjaga' badan dari kesialan, dan sebagainya. Agak-agak aneh sih. Agak-agak gimana juga, gitu :)
Tertarik?
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata