Sunday, August 28, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:57:00 PM | No comments

Apa Motif SMS Seperti ini?

Pernah tahu motif SMS seperti di bawah ini? Sy tidak bisa menebak samasekali, kecuali bisa yakin bahwa pengirim bukan org cerdas yg tidak melek media. Lihat caranya menulis... Saya tidak hilangkan satu karakterpun.   
SMS sejenis sudah dua kali saya terima. Apa motifnya yah?   

SMS siang tadi dari nomor: +62 877 3919 0415 20 Aug 2011, 12.37.31 pm:

Sekitar pd tgl 1-31/1-12/1970-2011 ada byk perempuan yg terkadang sampai di setiap harinya naik, diboncengkan, dll utk berkeliling bersama di byk jalan beraspal dan byk jalan tdk beraspal di byk suasana di byk pedukuhan, byk dusun, byk perumahan, byk desa, byk kecamatan, serta byk kabupaten di Kota Yogyakarta di Negara Indonesia, sebenarnya sudah terkadang sampai di setiap harinya tdk makan, terkadang sampai di setiap harinya tdk minum, terkadang sampai di setiap harinya byk dicari utk byk diperkosa hingga byk dipaksa diintimi di vaginanya byk perempuan di atas, dsb. Pengirim:Bpk. M. Suparjono/Parjono/dll.


Wednesday, August 24, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:42:00 PM | 1 comment

Tentang Pendidikan Anakku

Barusan baca linimasa akun Twitter seorang teman:
@budinddharmawan: +1 RT @senirupa: Apa pentingnya sih tinggal di Jakarta? Punya ketergantungan pada macet ya???

Entah kenapa, dua hari lalu aku teringat dengan Balige, sebuah kota kecil di pinggiran Danau Toba. Balige menawarkan pesona kota yang luar biasa indah. Perbukitan, pertanian, perkebunan, dan tentu saja bentang danau yang begitu meggoda mata.

Salah satu hal yang membangkitkan ingatanku pada kota ini adalah perbincangan kami mengenai di mana kami akan menyekolahkan anak-anak kami nanti? Serta-merta, aku menyebutkan Balige, setelah semalaman mempertimbangkannya.

Seorang teman, Dr Yanuar Nugroho, yang tinggal di Manchester Inggris, saat ini sedang merencanakan kepulangannya ke Indonesia. Meski sudah menjadi dosen tetap di Manchester University, beliau benar-benar ingin pulang ke Indonesia.

Ia tidak memilih Jakarta, sebagaimana impian begitu banyak warga Indonesia. Ia menginginkan kota yang tenang. Meski berasal dari Solo, Mas Yan --begitu ia biasa kupanggil-- memilih Jogja sebagai tempat tinggalnya bersama anak-istri yang rencananya akan kembali ke tanah air lima tahun mendatang. Dan ternyata, istri Mas Yan juga asli Jogja :)

Mengapa Jogja? Sebab hanya di Jogja mereka menemukan sekolah yang tidak harus masuk enam hari seminggu. Selama ini di Inggris mereka mendidik kedua putri mereka dengan metode home schooling.
Banyak pertimbangan mengenai hal ini; beban studi siswa yang berat (banyaknya PR dan tugas-tugas sekolah lainnya), keharusan tinggal di sekolah selama 6-8 jam, hingga mininya kesempatan orangtua untuk mendidik sendiri anak-anaknya.

OK, itu alasan Mas Yan dan istri. Alasanku mungkin lebih rumit: Aku menginginkan anak-anak bisa belajar bahasa Inggris tanpa terpaksa --seperti yang terjadi padaku dan ayah mereka--. Aku menginginkan mereka mendapat dasar yang baik dalam urusan agama. Aku juga menginkan agar mereka memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ke-Indonesia-an.

Itu artinya, aku ingin tinggal di daerah yang berbahasa Inggris, sebab bahasa ini sangat bermanfaat. Aku mengalami sendiri bagaimana sulitnya belajar bahasa ketika bahasa itu jarang digunakan dalam keseharian.
Sebagai contoh, aku sedikit-banyak mengerti 6-7 bahasa daerah dari keseharianku ketika masih ikut ayah yang kerja nomaden ke berbagai daerah di Indonesia. Aku tak pernah kursus untuk memahami berbagai bahasa tersebut. Interaksi dengan penduduk setempat --selama minimal dua tahun-- memudahkan upaya tersebut.

Aku ingin anakku mendapat fondasi agama yang baik. Aku sepertinya tidak akan sanggung menanamkan fondasi ini dengan keterbatasan pendidikan agamaku, yang hanya kudapat dalam keseharian keluarga --yang juga tidak agamis (berdasar ukuran pribadiku)-- serta TPA (Taman Pendidikan Quran) semasa kecil.
Aku ingin mereka menjadi pribadi yang tahan godaan dunia, karena sudah dilandasi pendidikan agama tersebut. Menjadikan anak tangguh dengan fondasi agama memang debatable, namun aku merasa itu penting.

Yang terakhir, kuinginkan anak-anakku nanti tahu asal-usul mereka, terkait kebudayaan, suku, daerah, kampung halaman, dan seterusnya. Aku yang hingga saat ini masih bingung jika menyebutkan di mana kampung halamanku ini, tak ingin menggariskan hal sama pada anak-anakku.

Mereka harus sering kuajak ke tempat nenek-moyang kami --meski agak jauh dari mungkin, jika memilih kampung halamanku (juga ayah mereka) sebagai tempat tinggal. Mereka harus bisa berbahasa daerah, jangan sepertiku yang terbata-bata berbahasa ibu dari kebudayaan ayah dan ibuku.
Aku juga inginn mereka mahir memainkan/mempertunjukkan paling tidak satu jenis kesenian tradisional daerah. Entah itu menari, bermain alat musik, dan sebagainya. Memasukkan mereka dalam les-les kesenian tradisional bukan juga pilihan baik ketika mereka samasekali tidak mengenal budaya apa yang akan mereka pelajari nantinya.

Nah, demi mendapatkan semua itu, kira-kira ketiga keinginan itu berbunyi:
  1. Kami akan tinggal di salah satu negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya.
  2. Aku akan memasukkan anak-anakku ke dalam pesantren selama mereka Sekolah Dasar.
  3. Kami akan tinggal di sebuah daerah yang memiliki budaya yang kental.
Sulitnya mengkombinasikan ketiga keinginan itu!
  1. Mungkin mereka lahir ketika ayahnya masih melanjutkan studi di luar negeri, namun setelah itu bukankah ayahnya harus kembali ke tanah air untuk melanjutkan pekerjaannya?
  2. Melepaskan tanggungjawab orangtua ke guru di usia yang terlalu dini bukankah akan menciptakan banyak hal negatif? Seperti anak yang akan 'jauh' dari orangtua, orangtua yang kehilangan kesempatan untuk mendidik anak, atau bahkan kebencian di anak karena mereka sejak kecil sudah dipaksa mandiri dengan kehidupan ala pesantren?
  3. Daerah berbudaya kental --seperti masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar-- hanya ada di kota-kota kecil. Celakanya, mayoritas kota kecil di Indonesia tak memiliki infrastruktur yang baik penunjang pendidikan. Belum lagi sulitnya akses transportasi --jika harus menyekolahkan anak di tempat-tempat ini, berarti ayahnya harus sering bolak-balik dengan tidak mudah akibat tak ada lapangan terbang.
Sulit, yah?

Entah mengapa, Balige masuk dalam benakku. Kota kecil itu, meski tak ada pesawat, banyak menerbangkan anak-anak daerahnya untuk bersekolah di ITB, atau paling tidak UGM dan UI. Kusebut "paling tidak", sebab kedua universitas itu biasanya menjadi pilihan terakhir mereka untuk sekolah di Tanah Jawa setelah ITB. Terdengar sombong, yah? Tapi memang begitu adanya!

Orang Batak dikenal sebagai orang-orang yang cerdas. Selain gigih, mereka juga pekerja keras. Di Tanah Batak ini ada dua Sekolah Unggulan, ini sejenis Taruna Nusantara (Magelang, Jawa Tengah) yang terkenal menjadi pondokan dari siswa cerdas se-Indonesia. Kedua Sekolah Plus itu adalah Soposurung (Balige) dan Matauli (Sibolga, Tapanuli Selatan). Di tingkat SD-SMP ada pula seleksi siswa berprestasi dari seluruh sekolah di penjuru kota yang akan digabung ke dalam sebuah kelas yang disebut "SD Plus" atau "SMP Plus", dan seterusnya.

Mereka yang masuk ke sekolah plus-plus ini akan terjamin masuk ke perguruan tinggi bergengsi. Bergengsi, dalam pengertian di negara tercinta ini, adalah perguruan tinggi milik pemerintah yang untuk memperebutkan sebuah bangkunya harus berjuang melawan hingga belasan ribu anak bangsa.

Warga Balige yang menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa pengantarnya ini akan menyulitkan usahaku untuk mengenalkan Bahasa Inggris pada anak-anak. Namun, percaya atau tidak, banyak teman sekolahku di Balige dulu yang jago bahasa Inggris!
Bukan karena les, sebab mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar kelas tambahan, namun karena mereka pintar-pintar itu tadi! Ya, pelajaran apapun yang dimasukkan ke dalam otak mereka, sepertinya masuk dan tercerna dengan baik, termasuk pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.

Masyarakat Balige, sebagaimana suku Batak lainnya, mayoritas beragama Kristen (Katolik dan Protestan). Namun umat Islam disana mendapat tempat yang baik. Ini akan tetap menjamin kemerdekaan kami untuk beribadah.

Nah, Balige masih sangat erat budayanya. Meski aku dan suami tidak berasal dari Batak Toba, kehebatan anak-anak Batak dalam mencapai cita-citanya dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar diantara kesempitan mereka dalam hal perekonomian cukup menjadi alasan untuk menghapus luar negeri dan pesantren dalam daftar pendidikan anakku kelak!

Jika benar-benar ada kesempatan itu, aku akan mencoba membuat semacam sekolah terbuka bagi anak-anak kurang mampu di Balige. Sekolah gratis itu akan terdiri atas dua kelas: 
  • kelas agama (bagi yang beragama Islam) dengan mengajak ustadz/ah muda yang bersedia digaji kecil
  • kelas Bahasa Inggris, dengan mengajak para Sarjana Sastra Inggris yang juga bersedia mengabdi
Dana didapat darimana? Itu yang harus kupikirkan dari sekarang: Merancang sistem pendanaan yang disumberkan dari sumbangan donatur.

Jika begini, urusan anak selesai! Ayahnya gimana, yah?

Mlekom,
AZ


[20130530.rgd]


Monday, August 15, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:20:00 PM | No comments

Bola vs Sinetron: Demi Cintaku Padamu!

Setting:
Living room

Background story:
Pasutri pensiunan. Suami penggila bola. Istri penggila suami, eh sayang suami meski gak suka bola; jadi pasti kabarin sang suami kalau ada pertandingan bola di televisi.
Sang istri sesekali menonton bola, terdeteksi ikut teriak-teriak saat pertandingan Indonesia versus apapun pasca kemenangan Tim Garuda pada penyisihan Piala Asia.

Istri (pengen nonton sinetron religi): Pa, mo nonton bola?
Suami (tidur di depan tv): Siapa yang main?
Istri: Gak tau aku. Bule.

Pendek kata, akhirnya nonton bola. Sang istri ikutan, meski tidak suka. Kata Search, band rock asal Malaysia: Demi cintaku padamu!

Thursday, August 11, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:00:00 PM | No comments

Situs Kanal Porong


Mungkin tak banyak yang tahu bahwa terdapat sebuah situs bersejarah di kanal Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Kni, situs itu terancam punah akibat bencana semburan lumpur Lapindo. Apa dan bagaimana? Berikut tweet series @paringwaluyo (11/08) tadi:
  1. Th 1000 M, Raja Airlangga membuat kanal Porong utk antisipasi banjir diwilayahnya #lapindo
  2. Kanal Porong itu dikerjakan dalam waktu 99 hari. Proyek besar pd jaman Airlangga #lapindo
  3. Hasil penggalian kanal Porong, tanahnya dibikin tanggul kanan-kiri sungai dg alat yg sederhana #lapindo
  4. Masa Hayam Wuruk, kanal ini jd jalur memasuki kerajaan majapahit, selain sungai mas di surabaya #lapindo
  5. Irigasi kanal porong, n sungai2 kecil sekitarnya jd irigasi persawahan luas di jenggolo, wil majapahit #lapindo
  6. Utk menandai kemakmuran porong n sekitarnya, Hayam Wuruk bangun candi pari, di desa candipari, porong #lapindo
  7. Bahkan, pedagang2 Islam, jg gunakan jalur kanal porong utk masuk kawasan majapahit #lapindo
  8. Dimuara kanal porong, menuju ke surabaya, terdpt makam islam yg sangat tua #lapindo
  9. Setiap jelang ramadhan, makam itu ramai dikunjungi orang. Makam terletak di daerah ketingan. Sbb byk ikan keting #lapindo
  10. Konon makam itu ibu/kerabat walisongo, meninggal saat rombongan akan memasuki jalur kanal porong menuju majapahit #lapindo
  11. Masa pendudukan belanda, kanal porong yg agak berkelok di desa kedungcangkring, oleh belanda jalurnya diluruskan ke timur #lapindo
  12. Bekas kanal porong lama, yg dilurukan oleh belanda, disebut kali mati sampai skrng #lapindo
  13. Pembangunan kembali kanal porong oleh belanda inilah yg jd sungai porong sampai saat ini #lapindo
  14. Namun sjk kasus lapindo muncul, eksotika kanal porong bagi petani n petambak, rusak akibat pembuangan lumpur lapaindo smp skrng #lapindo
  15. Lapindo, korporasi milik grup bakrie jd pencetus sjrah hitam bagi hancurnya peradaban di kanal porong n sekitarnya #lapindo
  16. sudah berjalan 5 th lebih pembuangan lumpur ke kanal porong yg menyejarah, tak tau akan sampai kapan ini terus berlangsung #lapindo
  17. UNEP pernah ajukan assasment agar buat kanal sendiri utk buang lumpur ke laut #lapindo
  18. Namun gagasan itu tak pernah dihiraukan oleh pemerintah, apalagi oleh lapindo #lapindo
  19. Salah satu dasar penolakannya, krn butuh biaya yg sangat mahal yg bakal dikeluarkan oleh #lapindo
  20. Kini, dimuara sungai porong ditempatkan penyedot lumpur yg mengalir melalui kanal porong #lapindo
  21. Lumpur yg mengalir ke muara kanal porong disedot lalu ditimbun ke pulau sarina. Pulau kecil awalnya, tp kini penuh lumpur #lapindo
  22. dana trilyunan rupiah dianggarkan oleh pemerintah tangani proyek mulai dari nanggul sampai tumpuk lumpur ke pulau sarina #lapindo
  23. Budget BPLS utk tangani semua ini terus meningkat: 2007=800M, 2008=900M, 2009=1T, 2010=1,1T, 2011=1,2T #lapindo
  24. Publik hrs protes duit rakyat dipakai utk tangani bencana dg dikelola tetap status quo agar proyek terus jd unfinishing #lapindo

Mlekom,
AZ



Sunday, August 7, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:31:00 AM | No comments

Agar-agar Santan


Masakan Mamaku.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:29:00 AM | No comments

Mi Goreng Seafood

 `


Masakan Mama.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:28:00 AM | No comments

Ayam Panggang Kalio


Masakan Mama. Aku tak tahu resepnya... :| 
Kapan-kapan kutanyakan!

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:23:00 AM | No comments

Taucho Udang Cumi


Masakan Mama. Lihat resepnya di sini.

Mlekom,
AZ

Friday, August 5, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:07:00 AM | No comments

Dadar Gulung Coklat

Resep Mama:
  • Bikin inti (campuran kelapa dan gula merah)
  • Bikin pembalutnya (dari tepung apa yah? aku gak tau, kapan-kapan kutanyakan, oke!)
Mlekom,
AZ 
Posted by adriani zulivan Posted on 11:01:00 AM | No comments

Es Bening


Resep:
  • Bikin air gula (campuran gula putih dan air yang direbus)
  • Masukkan potongan cincau, rumput laut dan pepaya.
  • Tambahkan perasan jeruk segar. Tambah es batu.

Kreasi mamaku.

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata