Wednesday, February 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:55:00 PM | No comments

Ganbare, Ai dan Beautiful Days





Itu adalah judul film Ada Apa dengan Cinta dalam versi Jepang. Aku tidak bisa berbahasa Jepang, judul itu kutemukan di sini


RT @MirLes: Tepat hari ini, 10 thn yg lalu, film AADC beredar di bioskop nasional...hayoooo, siapa yg nonton di hari pertama? :p #10thnAADC


Retweet itu muncul tadi sore di linimasa Twitter-ku, dari seorang teman. Aku tidak follow akun Mira Lesmana, namun seharian tadi seliweran retweets dari sejumlah seleb yang juga tidak ku-follow, dari yang ikut berproduksi dalam film ini, hingga yang tidak:



RT @nicsap Tgl 9&10 feb #AADC akan diputar di Blok M Square nonton di bioskop akan beda dgn DVD atau Youtube, apalagi kl bareng temen2 sambil reuni


RT @pandji Selamat utk #10ThnAADC kpd seluruh tim pendukung AADC. Terima kasih sudah jadi film penanda generasi :) http://lockerz.com/s/181818723


Hari ini 10 tahun lalu aku masih muda belia :) belum genap dua semester menjadi mahasiswa di Jogja. Heboh pemutaran AADC, begitu judul film ini biasa disingkat, membuat bioskop-bioskop di Jogja kebanjiran rezeki.


Bioskop-bioskop? Hummm, enggak lah. Bioskop saja. Hanya satu bioskop yang enayangkan AADC di Jogja. Ada Bioskop Mataram dan Bioskop Indra, duo heritage yang saat itu hanya menayangkan film-film Hollywood lawasan (seperti Ramboo) dan film Indonesia lama berbalut adegan ranjang.


Meski tak sejadul dua bisoskop lainnya, Bioskop Mataram ini masuk dalam jajaran bioskop sangat sederhana. Bangunan gedungnya jauh dari gambaran warga kota besar tentang sebuah gedung bioskop. Apalagi bioskop yang merupakan jaringan raksasa usaha layar lebar yang hadir nyaris di seluruh pusat perbelanjaan itu.


Banyak cerita tentang pengunjung yang berada di jajaraan kursi penonton namun tidak membayar tiket. Uniknya, penonton-penonton yang menyelundup ini tidak duduk di kursi, mereka sibuk menggelitiki kaki para penonton berbayar. Ya, mereka itu kawanan tikus yang entah sudah menjadi penghuni tetap bangunan tak terawat itu, entah pula merupakan pengunjung yang benar-benar ingin melihat Cinta dan Rangga, tokoh sentral di film ini.


Kisah seru lain di Bioskop Mataram adalah atap bocor jika hujan dan bangku yang jeglog (anjlok) dimakan usia. Soal debu jangan ditanya. Nah, itu masih soal perawatan gedung. Kabar sound system, lighting dan sebagainya yang berpengaruh pada kualitas tayangan? Ya sama-sama tahulah! :)


Pasca kehilangan Bioskop 21 di kawasan Demangan akibat terbakar di 1998, Bioskop Mataram menjadi satu-satunya andalan para pecinta sinema di Jogja. Bioskop ini memutar film-film baru, bukan film lawas seperti dua bioskop lainnya. Film yang rutin diputar adalah film keluaran Hollywood, meski tiap film yang hari ini rilis perdana, baru akan bisa dinikmati publik Jogja setahun kemudian, atau lebih lama sekitar 6 bulan dari rilis di Jakarta.


Alasan pemutaran film Hollywood tentu saja akibat kala itu tak ada produksi film Indonesia. Film nasional sempat mati suri. Film Petualangan Sherina yang dirilis dua tahun sebelum AADC menjadi semacam pembuka jalan bagi lahirnya film-film indonesia lainnya, meski AADC ini benar-benar menjadi trigger industri perfilman nasional.


Cintanya Baik
Sebagai cewe berstatus remaja tua - dewasa awal (ini kategori acuan program Keluarga Berencana), saat itu ketidakminatanku untuk menyaksikan AADC selalu menjadi hal aneh bagi teman-teman sebayaku. Film terspektakuler sepanjang hidupanku itu (kecuali film Warkop masuk hitungan), tak lntas menarik minatku. Ada sih keinginan untuk melihat, tapi nanti-nanti sejalah, setelah antrean menyepi. Namun nyatanya, hingga poster yang terpampang lebih dari dua bulan di Bioskop Mataram itu diturunkan, aku belum juga duduk di sana, menikmati kisah cinta remaja bersama para penonton gelap yang akan menari riang di kakiku.


Saat itu, karcis nonton AADC dibanderol Rp 5.000 (atau Rp 7.500 yah?). Nominal ini setara dengan harga setengah kilogram beras kualitas lumayan di pasar Jogja hari ini. Aku tak tahu harga karcis untuk film yang sama di Bioskop 21 kala itu.


Seorang reporter dari media kampus tempatku berkegiatan diminta untuk meliput kehebohan AADC. SKM UGM Bulaksumur sebenarnya merupakan media komunitas yang lebih banyak meliput kegiatan kampus. Namun dengan slogan "Dari manapun, oleh dan untuk mahasiswa UGM", tema ini menjadi relevan, mengingat mahasiswa adalah pangsa besar pemutaran AADC di Jogja.


"Cintanya Baik-baik Saja, Kok!" begitu judul reportasi Ika Krismantari, teman yang meliput. Aku tak terlalu ingat isi dari liputannya. Maaf, namun akan kutambahkan di sini jika menemukan artikelnya. Saat itu SKM Bulaksumur tentu saja belum memiliki media online.


Pertengahan 2002
Aku terlibat di Teater Gardanalla. Dalam sejumlah latihan dasar akting, adegan yang sarat emosi dari film AADC seringkali dijadikan contoh. Aku yakin ini bukan akibat para pemain filmnya memiliki akting yang baik, namun setting dalam film itu mudah berubah: dari sedih menjadi riang, lalu marah, dan seterusnya.


Seorang teman sesama aktor yang lebih dulu bergabung dengan Teater Gardanalla berulangkali menganjurkanku untuk menonton film AADC untuk mempelajari intonasi percakapan. Dia sampai meminjamkan VCD yang tetap kubawa pulang namun tak pernah sempat kutonton itu.


Yang menyenangkan adalah fakta bahwa Wisnu Aji Kristianto, temanku ini, begitu hafal nyaris di tiap adegan penting (penting menurut dia untuk mengolah kepekaan aktingku). Berikut kata-kata yang seringkali dia ucapkan:


  • Kita? Elo aja kali sama kambing!
  • Kamu? | Ya, kamu. | Biasanya juga elo-gue...
  • Kalo bisa ngerjain sendiri, kenapa harus pakai pembantu? | Kalo ada pembantu, kenapa harus ngerjain sendiri?
...dan masih ada kata-kata lain yang kini telah lenyap dari ingatanku :|


Tak hanya dialog, Aji juga hafal seluruh adegan. Seperti adegan Rangga yang menunduk memegang bukunya dan adegan Cinta yang menoleh ke belakang saat meninggalkan Rangga. Yang lebih mencengangkan adalah, semua *humm, oke tidak semua* banyak orang yang mengeluarkan ucapan dan bahasa tubuh yang sama dalam pergaulan sehari-hari.

Jogja yang berkultur aku-kamu mendadak jadi ber-gue-elo, meski dengan logat yang medok. Para remaja putri (ini bahasa ala Mustika Ratu) mulai memanjangkan rambut dan membeli bando lebar. Siswi melepaskan jahitan bawah rok sekolahnya lalu menaikkan beberapa senti hingga setengah paha, membeli kaos kaki putih setinggi betis ala pesepak bola, dan mengecilkan kemeja seragam hingga ngepas di tubuh. Ada pula sejumlah jaket, kaos, dan celana yang diklaim penggemarnya sebagai: Bajunya Cinta.

Selain mengoleksi semua hal yang berhubungan dengan AADC dan para tokoh pemerannya, penerbit buku pun turut memainkan peranan. Buku berjudul "Aku" karya Syumandjaja yang sudah langka itu kemudian dicetak kembali. Ini untuk memenuhi permintaan pasar yang luar biasa. Ya, paling tidak, ada generasi baru yang membaca sastra lokal di tengah dominasi novel Harry Potter yang begitu kukagumi :) Lapak-lapak buku bekas di Kwitang Jakarta pun kabarnya mengalami peningkatan pengunjung.

2009
Film AADC harus diakui begitu dalam memengaruhi gaya hidup kaum muda Indonesia kala itu (dan hingga kini?). Selain mampu menyeragamkan budaya anak muda dari Sabang hingga Merauke (selama mereka dapat menyaksikan AADC, entah melalui bioskop, VCD bajakan, atau pemutaran bersama ala layar tancap) dengan gaya metropop ala Jakartasentris, film ini juga mampu mengubah konstruksi sosial mengenai kehidupan intimasi lewat adegan paling spektakuler: Rangga mencium bibir Cinta di bandara.

Adegan ini ternyata disensor (dengan pemotongan sepersekian detik) oleh Komisi Peyiaran Indonesia ketika ditayangkan di televisi, setahun setelah beredar di bioskop. Meski begitu, Lembaga Sensor Film meloloskan adegan tersebut secaa utuh tanpa potongan. 


Banyak kelompok membicarakan adegan ini. Pro - kontra hadir dalam berbagai diskusi. Muncul sebuah fakta menarik ketika kemudian wacana ciuman di ranah publik dipahami oleh remaja kala itu sebagai sesuatu yang baru dan pantas untuk dilakukan. Ya, pantas, sepantas yang dilakukan oleh Rangga - Cinta.

Aha! beberapa bulan kemudian, Teater Gardanalla menggarap sebuah proyek yang terinspirasi dari adegan tersebut. Lalu muncullah gambar sepasang remaja di Jogja yang sedang berciuman romantis di tengah keramaian kota. Gambar ini beserta opini masyarakat atas kejadian tersebut kemudian dipamerkan dalam sebuah pemeran di Rumah Seni Cemeti Jogja.




Tujuh tahun kemudian akupun membuat sebuah tulisan ilmiah bertema cium-mencium ini. "Persepsi Masyarakat Yogyakarta terhadap Praktik Ciuman Romantis di Ruang Publik" menjadi judul skripsi yang kukerjakan selama setahun. Ada sejumlah hal menarik terkait budaya masyarakat dari temuanku di lapangan mengenai jawaban atas pertanyaan risetku.


Intinya, masyarakat Jogja merasa risih dengan adegan ciuman di tempat umum, mereka takut jika anak-anak remaja mereka meniru, lalu akan menubah tatanan budaya Jawa yang mereka anut. Meski demikian, mereka tak merespon keras ketika melihat kejadian tersebut di depan mata mereka sendiri.


Mengacu pada @pandji, aku setuju bahwa AADC berhasil memosisikan dirinya sebagai penanda zaman, terutama zaman di mana kehidupan remaja Indonesia mendapat sorotan. Simak komentar berikut:


RT @RIRISkya: AADC membuktikan kalo kehidupan anak sma sejatinya memang lebih indah saat belom apa bb, twitter, dan 711.#10ThnAADC


Saat aku menulis ini, hashtag #10ThnAADC yang sepertinya dipopulerkan oleh @MirLes ini tidak menjadi trending topic di Indonesia. Eeh di saat yang sama, malah "Harry Potter Will Be Remembered" yang populer :))

Teman, aku bukan satu-nya remaja 2002 yang belum menonton AADC. Lihat pengakuan yang tak jelas kebenarannya ini:

RT @hazelnadya But then again, a bit confession.. I haven't watch AADC..#NgumpetDiKolongGot #PastiDiketawainSatuNusaSatuBangsa


Oke, aku barusan googling film AADC. Mari menonton!



 Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
 Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
 Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
 Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

 Bosan aku dengan penat,
 dan enyah saja kau, pekat!

 Seperti berjelaga jika aku sendiri
 Pecahkan saja gelasnya biar ramai
 Biar mengaduh sampai gaduh

 Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
 di tembok keraton putih
 Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
 Biar terderah,
 atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata