Monday, February 6, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:27:00 PM | No comments

Peluncuran Buku "How 'Brutu' Are You?"


Oleh Jaya Limas

Yogyakarta - Dalam bahasa Jawa, arti bol brutu merujuk pada kelengkapan organ pencernaan tahap akhir. Istilah tersebut sangat kasar dan biasanya digunakan merujuk pada hewan ayam. Maka biasanya orang yang menguasai bahasa Jawa akan mengernyit sedikit ketika komunitas Bol Brutu memperkenalkan diri.

Sebetulnya Bol Brutu adalah akronim dari Gerombolan Pemburu Batu, sebuah komunitas yang anggotanya memiliki hobi 'blusukan'-- menyasarkan diri ke sana kemari dalam mencari bebatuan. Bebatuan yang dicari maksudnya adalah situs-situs sejarah, tidak terbatas pada candi purba saja.

Minggu malam 29 Januari 2012 yang lalu, Komunitas Bol Brutu menggelar acara peluncuran buku "How Brutu Are You? Bol Brutu dan Situs-Candi Hindu-Buddha"  di Sangkring Art Project Nitiprayan, Yogyakarta. Buku setebal 104 halaman tersebut merupakan pelengkap dari pameran "How Brutu Are You?" yang diselenggarakan di Sangkring Art Project sejak tanggal 14 Januari 2012. Acara berlangsung sederhana namun meriah dengan pembacaan prosa oleh Landung Simatupang dan puisi-puisi Pablo Neruda oleh beberapa anggota Bol Brutu.
Bol Brutu sebagai komunitas dimulai semenjak Oktober 2009 ketika Kris Budiman, Cuk Riomandha, Ery Jabo dan Putu Sutawijaya bersama-sama mengunjungi situs sejarah Kyai Sadrach di Purworejo, Jawa Tengah. Merasa cocok, kelompok yang belum punya nama saat itu kemudian kembali melakukan beberapa perjalanan lainnya, mengunjungi aneka macam situs bersejarah mulai dari makam kuno, masjid dan klenteng tua, hingga gereja dan bangunan kolonial, serta situs prasejarah. Lokasi yang mereka kunjungi pada umumnya adalah situs marginal, yang hampir jarang didengar atau disadari keberadaannya oleh kebanyakan orang.

Kegiatan mengunjungi situs bersejarah ala Bol Brutu sangat unik. Karena perjalanan mereka seringkali 'blusukan', artinya seringkali mereka hanya memiliki informasi terbatas tentang lokasi situs yang mereka tuju dan harus mengandalkan petunjuk dari penduduk setempat. Sempat beberapa kali gerombolan ini gagal menemukan situs yang dituju dan petualangan berakhir dengan piknik menikmati perjalanan itu sendiri.

Umumnya jika mengunjungi situs bersejarah semisal situs ekskavasi candi, maka yang terbayang adalah kegiatan yang serius dan ilmiah. Akan tetapi anggota gerombolan pemburu batu memaknai situs yang mereka kunjungi dengan cara yang berbeda dari seorang arkeolog. Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam mengapresiasi situs yang dikunjunginya. Ada yang memotret tiap detilnya. Ada yang menggambar sketsa. Ada yang membawa alat musik sederhana dan bermain musik sambil menikmati suasana. Ada yang hanya mengelilingi lokasi sambil berbincang-bincang.
Perbincangan yang berkembang selama kegiatan kunjungan ke situs juga tidak selalu serius. Seringkali percakapan menyenggol perihal makanan khas di wilayah setempat lokasi situs berada, yang disusul dengan mengunjungi tempat makanan khas tersebut untuk menutup petualangan blusukan Bol Brutu di hari itu.
Biasanya sesudah satu petualangan 'blusukan', foto-foto hasil petualangan tersebut diunggah ke facebook dan terbuka untuk dikomentari oleh hampir siapa saja. Komentar yang diberikan pun beragam mulai dari bercanda hingga serius membahas detil informasi objek yang difoto. Tak jarang terjadi, ada teman yang tertarik untuk bergabung pada petualangan berikutnya akibat melihat foto-foto di facebook atau akibat 'terseret' diskusi dalam adu komentar foto di media sosial tersebut.

Tidak lama komunitas tersebut semakin berkembang. Para anggotanya saat itu berdiskusi, lagi-lagi melalui media sosial Facebook, untuk memberi nama kelompok mereka yang keanggotaannya begitu cair. Pada bulan Maret 2010 nama Bol Brutu disepakati, dengan sosok relief Gana dari Candi Morangan sebagai logo resmi komunitas ini. Alasan pemilihan nama dan logo tersebut karena dianggap mewakili kecenderungan komunitas ini dalam memberikan penghargaan terhadap hal-hal yang sederhana, yang seringkali dianggap tidak penting dan marginal.

Media sosial dalam jaringan internet memang sangat mempermudah interaksi anggota komunitas Bol Brutu. Hingga tulisan ini dibuat anggota komunitas Bol Brutu sudah mencapai sekitar 300 orang dengan beragam latar belakang profesi mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, arkeolog, dosen, arsitek, penulis hingga sekretaris. Keanggotaan komunitas ini sangat longgar, boleh keluar-masuk sesukanya, ada yang selalu ikut perjalanan 'blusukan' dan ada yang belum pernah ikut perjalanan 'blusukan' sama sekali, dibebaskan boleh posting foto atau komentar sesering mungkin, dan diperbolehkan hanya menjadi anggota pasif yang hanya membaca postingan anggota lain.

Dalam pameran "How Brutu Are You?" komunitas Bol Brutu memamerkan ratusan foto hasil dokumentasi yang dibuat selama petualangan ke situs-situs dan candi-candi Hindu-Buddha. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, sudut pengambilan gambar, nuansa dan objek yang direkam dalam foto-foto Bol Brutu sangat beraneka ragam sesuai dengan minat masing-masing anggota gerombolan.  Yang jelas, dari foto-foto yang dipamerkan tersebut nampak satu kesamaan; cinta. Kecintaan dan penghargaan gerombolan ini terhadap situs-situs yang mereka kunjungi. Semangat kecintaan tersebut terekam jelas pada setiap foto.

Hal ini ditegaskan oleh 13 buah tulisan yang tercantum dalam buku "How Brutu Are You? Bol Brutu dan Situs-Candi Hindu-Buddha" Para penulis dalam buku ini adalah Apriadi Ujiarso, Bramantyo Prijosusilo, Cuk Riomandha, Davinna Anggraini, Hairus Salim, Jean-Pascal Elbaz, Kris Budiman, Landung Simatupang, Mahatmanto, Ninuk Retno Raras, Sinta Ridwan, Titiek Tri Indri, dan Tjahjono Prasodjo. Sebagian dari tulisan tersebut merupakan catatan pengalaman dan keterlibatan, baik personal maupun sebagai Bol Brutu, atas situs dan candi klasik di Indonesia. Sebagian lainnya menawarkan refleksi dan gagasan tentang perjalanan, fotografi dan estetika candi. Semuanya menunjukkan semangat dan kecintaan terhadap situs-situs bersejarah Indonesia.

Yang lebih menarik, Buku yang memuat 30 foto situs dan candi ini dilengkapi pula dengan daftar ratusan situs/candi yang tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Lokasi hanya dicantumkan sampai detil daerah kabupatennya saja, disengaja demikian agar siapapun yang membeli buku ini dan tertarik untuk mengunjungi situs atau candi yang dicantumkan, maka ia diharapkan dapat merasakan proses 'blusukan' juga seperti anggota gerombolan pemburu batu, dan menikmatinya.

Buku perdana Bol Brutu ini diterbitkan oleh Sangkring Art Review, bagian dari Sangkring Art Space. Buku tersebut bisa didapatkan di Sangkring Art Space dengan harga yang sangat terjangkau.

Sangkring Art Space terletak di Nitiprayan no. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Informasi dan kontak dapat diperoleh di http://www.sangkringartspace.net

Informasi dan kegiatan Bol Brutu (Gerombolan Pemburu Batu) dapat diikuti melalui http://www.facebook.com/groups/135387239853364/

*
Pssttt, foto terakhir adalah favoritku :))
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata