Wednesday, February 22, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 6:19:00 PM | No comments

TV Berita ala Koran Kuning


Sumber: http://bincangmedia.wordpress.com/2010/04/30/menelisik-sejarah-koran-kuning-di-indonesia/


Topik berita hari ini: pembunuhan berantai, pembunuhan bos perusahaan, pembunuhan satu keluarga di Bali, anak SD tusuk teman. Wuihhhh, pembunuhan jd headline!


Ada kebijakan mengenai jam tayang film dengan adegan kekerasan untuk televisi, yaitu malam hari., untuk menghindari disaksikan oleh penonton anak. Ini seperti yang terjadi pada iklan rokok, film percintaan dewasa, dan tayangan lain yang masuk kategori dewasa.


Di sisi lain, lewat tayangan berita umum, laporan kriminal sliweran di televisi sepanjang hari. Padahal, murid sekolah dianjurkan menonton televisi di acara berita agar mendapat pengetahuan yang luas. Namun sayang, tayangan dan narasi berita kriminal begitu vulgar menggambarkan adegan/korban kekerasan.


Efek dari tayangan berita ini tak hanya membentuk karakter keras pada penontonnya, namun juga gangguan psikologis bernama trauma. Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka (Cerney, dalam Pickett, 1998). Kata trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian yang dialami korban, seperti shock fisik dan emosi berupa rasa ngeri, takut, atau tidak berdaya.

Trauma tak hanya didapat dari pengalaman. Individu yang tak secara langsung berada di tempat kejadian dimana sebuah kejadian kekerasan berlangsung pun, bisa mengalami trauma. Mereka bukan korban, bukan pula saksi mata. Ini disebut secondary traumatic stress, yaitu suatu konsekuensi tingkah laku dan emosi akibat pengetahuan tentang suatu peristiwa trauma yang dialami oleh orang lain (significant other), tetapi kemudian ikut dialami oleh pihak yang mengamati, memberikan bantuan, atau mendengarkan kisahnya (Sidabutar, 2003).


Berita Kriminal

Satu dasawarsa lalu, tayangan khusus berita kriminal pernah meraup rating tinggi. Hampir seluruh televisi swasta mempunyai program ini, seperti Patroli (Indosiar), Buser (SCTV), dan Sergap (RCTI). Kini program-program tersebut tak diproduksi lagi, meski ada satu-dua tayangan generasi baru bergenre sama. Pemberhentian program ini tak lepas dari teguran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Dinilai tak laik tayang akibat menampilkan adegan kekerasan atau efek kejadian berunsur kekerasan, seperti darah, mayat, dan seterusnya (lihat UU Penyiaran No 32 Tahun 2002 serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran).


Di balik pro-kontra tayangan berita khusus kriminal, ada satu sisi yang perlu diperhatikan. Ketika program tersebut ada, masyarakat sebagai penonton televisi, diberikan kesempatan untuk memilih sendiri jenis tayangan yang ingin dilihat/didengarkannya, termasuk dengan tidak memilih tayangan berita kriminal. Ini seperti pilihan membeli koran kuning atau mainstream.


Selama ini, tayangan sinetron dan film impor yang ditayangkan di televisi kerap mendapat teguran KPI. Salah satunya akibat adegan berunsur kasar, baik secara fisik maupun verbal. Namun sangat disayangkan ketika hal tersebut kini terpapar di berbagai tayangan berita. Berita kriminal bercampur dengan berita politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya yang tidak mengandung unsur kekerasan.


Ketika tayangan berita umum dicampur dengan berita kriminal, penonton tak memiliki kesempatan untuk memilih tayangan yang ingin ditontonnya. Hal ini tak baik, sebab di satu sisi kita butuh menonton berita, di sisi lain, lewat berita kriminalnya yang dikupas secara vulgar, berita dikhawatirkan dapat timbulkan psikosomatis. Psikomatis adalah adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi.


Jika tayangan berita televisi tidak perhatikan dampak psikologis, apa bedanya dengan tayangan sinetron atau film yang banyak mengandung unsur kekerasan itu? Menurut hemat saya, dua tayangan fiksi ini malah lebih aman dikonsumsi anak. Paling tidak, kita dapat memberi penjelasan bahwa adegan kekerasan yang mereka tonton itu bukanlah kehidupan nyata.


Takut dampaknya? Mungkin bisa diteliti dengan menggunakan teori analisis konten. Sebagai obyek, libatkan dua kelompok anak usian 10-15 tahun —usia yang oleh sekolah dianjurkan untuk mengkonsumsi berita—. Kelompok pertama diminta untuk menonton tayangan berita, kelompok lainnya menonton sinetron. Lakukan pengamatan selama interval waktu tertentu.


Jika konten tayangan berita di televisi kita masih seperti hari ini, saya yakin akan menemukan hal tidak mengagetkan, bahwa anak-anak yang diajak menonton sinetron akan bisa berpikir lebih rasional dibanding kelompok lainnya. Ya, hipotesa ini tentu saja bisa salah.


Kasus Kriminal

Kasus Ryan Jombang menjadi headline media massa di tahun 2008 lalu. Kasus ini mendapat perhatian besar dari masyarakat, mengalahkan berita politik. Seluruh berita mengangkat kasus ini secara investigatif dan mendalam. Tak hanya di program berita khusus kriminal, namun juga di program berita umum.


Media membahas mulai dari profil pelaku, korban dan keluarganya, hingga kisah cinta si pelaku. Media bahkan tak segan-segan menayangkan reportase langsung saat proses penggalian korban yang berlangsung di sebuah desa di Jombang selama berhari-hari.Secara kreatif, media-media ini juga membuat diagram/grafis mengenai rentetan peristiwa dan kaitan antara pelaku dan korban, tentu dibumbui berbagai kisah cameo. Desa TKP pun jadi terkenal akibat diluiput secara jor-joran oleh media.


Hal ini juga terjadi jauh sebelumnya. Di tahun 1997  kasus pembunuhan berantai oleh Dukun AS di Deli Serdang, Sumatra Utara muncul ke permukaan. Media arus utama skala nasional dan lokal membahas kejadian ini. Saya yang saat itu duduk di bangku SMP jadi takut ke Rumah Sakit, sebab berfikir bahwa di RS pasti ada kamar jenazah. Saat itu, jasad korban hasil penggalian forensik yang terkait kasus ini disimpan di kamar jenazah RS Pirngadi Medan.


Trauma yang terjadi bisa sedalam itu, sebab lewat televisi, kekerasan masuk ke ranah keluarga yang seharusnya memberi kenyamanan. Ini terjadi ketika stasiun televisi belum sebanyak saat ini. Coba bayangkan, apa yang merasuki pikiran anak anda hari ini! Tayangan gambar berupa tulang belulang hasil penggalian jasad, kantung mayat, dan garis polisi menjadi tontonan biasa di televisi. Apa efeknya?


Banyak orang menjadi paranoid. Ada yang takut pada orang baru, terutama kaum (maaf) penyuka sejenis—akibat sisi ini sering dibahas dalam kasus Ryan. Bahkan ada yang takut membuka situs pencarian internet, sebab kata apapun bisa saja memunculkan berita tersebut, dengan berbagai gambar yang tidak layak, di layar monitor si pencari.


Berita Sehat

Era 80-an, banyak SD mewajibkan muridnya untuk menonton berita, lalu mereview dalam tulisan yang harus disampaikan keesokan harinya di kelas. Sebab hanya ada satu TV, maka berita yang wajib tonton itu adalah Dunia Dalam Berita, program tiap pukul 21.00 di TVRI. Tentu bukan contoh jurnalisme ideal, jika mengingat represi pemerintah terhadap dunia penyiaran publik kala itu. Namun, di konten berita penuh sensor tersebut tak ada konten bersifat psikosomatis yang dapat berpengaruh negatif terhadap penonton.

Di masa kini, mungkin perlu logo DW (dewasa) di tiap tayangan berita televisi. Status BO (bimbingan orangtua) tak akan cukup, sebab bahkan seorang dewasa pun bisa terpapar efek negatif psikologis dari tayangan tersebut. Tak peduli apakah itu stasiun yang menyebut dirinya sebagai Televisi Berita, beserta stasiun lainnya, semua memproduksi berita ala koran kuning.


Perusahaan penyiaran bertanggungjawab dalam proses mencerdaskan bangsa. Menanti kesadaran stasiun televisi tidaklah mudah, perlu dukungan masyarakat untuk mengiringi proses ini,. Tak perlu menghindari televisi, memilah tayangan yang ditonton sambil terus memberi masukan pada stakeholder pertelevisian adalah langkah yang mungkin dipilih.



about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata