Monday, March 19, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:32:00 PM | No comments

Duh Wartawan...

Dua hari lalu (17/03), seorang wartawan menghubungi via pesan Facebook. Hanya satu kalimat panjang:

Dengan senang hati pada Adriani Zulivan memberikan info tentang Inventarisasi Pusaka Nusantara; Sebuah Solusi di Jagad Maya untuk di publikasikan di www.padangmedia.com

Aku:
Halo mas, trims atensinya.
Kira-kira dengan cara apa saya bisa bantu?
AZ


Wartawan:
Komentarnya tentang Inventarisasi Pusaka Nusantara; Sebuah Solusi di Jagad Maya

Aku:
Oh iya.
Begini mas. Saya menemukan berbagai komunitas yang peduli terhadap peninggalan sejarah bangsa. Mereka ini hadir dalam berbagai wujud, mulai dari yang bersifat hobbies hingga aktivisme.

Mereka adalah orang-orang yang mendatangi lokasi di mana suatu warisan pusaka berada. Mereka datang sebagai wisatawan, namun apa yang mereka lakukan setelah mendatangi lokasi tersebut adalah luar biasa.

Di lokasi, mereka melihat, mengamati, memotret. Bahkan seringkali bertanya kepada tour guide atau masyarakat sekitar mengenai pusaka yang mereka lihat. Pulang ke rumah, mereka unggah foto yang mereka ambil, mencari sejumlah catatan di internet mengenai BCB tersebut, lalu merangkai sebuah tulisan.

Masyarakat umum lalu bisa melihat hasil ‘reportase’ tersebut di blog atau album foto di situs jejaring sosial. Tanpa mereka sadari, kegemaran melakukan proses berkunjung, memotret, mencatat lalu mengunggah ini menjadi sebuah bentuk inventarisasi.

Nah,
Saat ini Indonesia masuk 3 besar negara dengan tingkat penggunaan media sosial terbesar di dunia. Facebook dan Twitter diantaranya. Tak sulit menemukan kelompok-kelompok yang membuat grup khusus terkait pusaka (heritage). Kebiasaan mengunggah hasil kunjungan ke dunia maya ini kemudian saya lihat sebagai peluang besar untuk mendokumentasikan heritage yang ada.

Sayangnya, dokumentasi-dokumentasi personal ini tercecer, tak bisa diakses dengan mudah. Untuk itu, saaat ini saya menginisiasi pembangunan sebuah basis data pusaka nasional yang akan menyatukan seluruh ceceran tersebut. Kami menyebutnya Indonesian Heritage Inventory (IHI). Sebagai awalan, IHI membangun sistem pengawasan BCB dengan sistem pelaporan publik.

Dalam sistem ini, masyarakat bisa menjadi produsen berita. Mereka dapat melaporkan kerusakan BCB di sekitarnya agar dapat diketahui oleh publik yang lebih luas. Dengan demikian, diharapkan ketika lebih banyak orang yang tahu, maka akan lebih banyak orang yang ikut peduli. Kepedulian ini diharapkan akan membangkitkan keinginan untuk ikut mengadvokasi.

Begitu, mas. Jadi panjang


...
Dan tak ada lagi balasan darinya...

***

Saat mencari tahu siapa wartawan tersebut, Ndil bilang beliau dari Sawahlunto, Sumatra Barat. Saat mencari tahu media apa, siapa itu, aku menemukan bahwa (sepertinya) media tersebut merupakan produk DPRD setempat.

Aku mendapat pesan pertama beliau (yang entah sudah berteman atau belum denganku di Facebook), saat aku sedang dalam sebuah workshop, tak mungkin menjawab. Akhirnya kubalas malam, dengan sekenanya, sebab pesan pertamanya tak menimbulkan respek (huff, maaf) karena kalimat ambigunya itu, ditambah aku yang sangat mengantuk :|
Sepertinya beliau tahu tentangku dari secuil deskripsi di undangan acara BPPI ini. Sepertinya dugaan ini benar, sebab ia menggunakan beberapa cuil info tentangku di web tersebut. Hummm...

Barusan aku baca link yang beliau share di wall FB-ku (nah, berarti kami sudah berteman). Eeeh, dari wawancara via massage FB itu, yang terbit plek blek seperti yang kutulis. Ini beritanya.

Komenku di link itu:
Trims tulisannya, mas. Semoga bermanfaat


Komennya:
sama2 b' Adriani Zulivan

Duh wartawan...

Mlekom,
AZ 
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata