Wednesday, March 7, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:10:00 PM | No comments

Nasionalisme Christie dan Sutan Bagindo

Aku sedang habiskan malam ini dengan membaca informasi di grup Facebook "Selamatkan Percandian Muarojambi". Jarang buka media satu itu, saat tracking down seluruh postingan, menemukan banyak pengetahuan di sana. Salah satunya tulisan Bapak/Mas Andi Hakim berikut:


Kemarin saya diundang Ibu Ratna Dewi kongkow-konkow di bilangan Kemang bersama teman-teman pencinta antropologi Indonesia. Obrolan kecil bagaimana menyelamatkan situs Candi Melayu Kuna: Muaro Jambi yang terancam industri. Ini situs luasnya tapakan terlihat 2000-ah hektar! jauh lebih luas dari Ankor wat Kamboja.

Konkow itu ringan saja seputar sejarah melayu, meski demikian bobot pembicaraannya mengandung semangat nasionalisme sejarah yang sering diklaim milik negara tetangga.

Ibu Nanie dari UI bilang; "Orang Malaysia itu kasian deh, mereka maksa dengan bukti-bukti sejarah asal-muasal melayu itu Semenanjung. Padahal di sana melayunya era melayu Islam sementara di Indonesia melayunya jauh-jauh lebih tua lagi, melayu pra Islam melayu budhis."

Si Ibu yang pinter ini melanjutkan: "Coba ada orang sana bilang prasasti Lembah Bujang itu bahasanya lebih tua. Padahal secara dia ga bagus struktur dan gramatikanya, jenis hurufnya ulu yang biasa di tulis di sumatera. secara leksikostatistik, prasasti Bujang di Kedah ini pasti jauh dari pusat dialek aslinya."

Tempat kongkow itu adalah sebuah pendopo di tengah kebun yang tersembunyi dari jalan utama, pintu depannya hanya 5 meter cukup bagi satu mobil lewat. Tetapi jauh ke belakang adalah taman-taman terbuka seluas hampir satu hektar dengan ribuan koleksi benda-benda sejarah yang disebar begitu saja. Si pemilik sepertinya tidak perlu takut koleksinya itu satu dua hilang dicuri. Di dalamnya ada patung budha Myamar yang diberkati sampai patung logam petani Jerman, dari alu sampai timbangan era Napoleon, dari batu menhir sampai batu bata buatan BGS Batavia dan jendela-jendela bekasnya bekas jendela rutan wanita Bukitduri.

Saya pikir satu-satunya barang industri modern yang bukan koleksi adalah boneka Snowy dari Tintin, tapi setelah dilihat dari pita-pita di bagian pantatnya, ini koleksi pertama Herge, dan snowy masih bernama Milou bertahun 1932. Kotak korek api di bagian dapur yang awalnya saya pikir sampah ternyata koleksi Raffles Hotel Singapura yang pernah dipakai Noel Coward, nah siapa Nul si penakut itu saya tidak tahu pasti orang penting.

Si Om pemiliknya adalah orang tua sekitar 80 tahunan, yang dia sebut dirinya sendiri sebagai; "person who loves to entertain people but shame of public appearance." Dia memang pandai membuat orang terkagum-kagum. Berapa tuh harga seluruh koleksinya? Ibu dari Museum Nasional berbisik-bisik, dia baru membayar relief kecil dinasti Shang dengan mobil amazed black-grey mercy-nya.

Lepas diskusi, dia ikut duduk di ruang tamu, seperti faham saya memperhatikan topinya; "Ini topi Las Malvinas, saya beli waktu perang 1980 dulu. Saya tidak suka Inggris menyebutnya Falkland. Luar biasa nasionalisme Argentina waktu itu ya."

"Tahu gak, di lelang Christie sering muncul artefak Indonesia. Saya ga ikhlas itu diambilin orang lain. Kadang harganya 10 kali harga artefak normal".

"More than 40 years saya sudah mampirin 37 negara dunia mengumpulkan bukti-bukti Indonesia loh, tapi belum ke Jambi. Ini memalukan yaa? Saya juga pernah lihat artefak Indonesia di Fuera del Fiego itu kota paling selatan di dunia sebelum menyeberang ke kutub selatan. Orang-orang di sana ziarah ke kuburan tua Santo yang katanya misionaris pertama di sana. Waktu saya lihat, saya kaget sekali, lah namanya "ST. Bagindo" ini sih bukan Santo tapi Sutan Baginda, ini pasti kuburan saudagar Minang. Ha ha ha hebat ya orang Indonesia. (ah)

*
Sumber:
FB Note: https://www.facebook.com/andihakim03/posts/10150574649920502
about it
Categories: ,

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata