Monday, October 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 8:30:00 AM |

Sopir Ugal-ugalan, Penumpang Bus Berciuman

Sepadat ini masih terima penumpang!
"Macam orang kantoran aja, sepagi ini udah glayutan di bus," kicauku di media sosial, beberapa menit setelah naik Bus Trans Jogja pagi ini. 

Setelahnya, aku tak lagi bisa memegang ponsel. Aku membutuhkan satu tangan yang tadinya berponsel untuk membantu tangan lainnya. Keduanya perlu menggengam pegangan bus yang tercantol di besi yang melintang di atap bus.

Berdiri di atas bus Trans Jogja bukan hal sepele. Kamu tak akan bisa berdiri dengan satu tangan di pegangan bus dan satu lainnya memegang buku, atau menciptakan dunia sendiri dalam dentuman musik di telinga. Percayalah, pemandangan ini tak terjadi di dalam Bus Trans Jogja!

Tadi, saat menunggu bus ini menghampiri halte SGM, kulihat sejumlah penumpang berdiri mencoba mempertahankan gerak tubuhnya, agar tetap tegak. Ini akibat rem yang sepertinya mendadak. Aku pun segera mengalami hal sama diinjakan gas pertama sang sopir.

Ah, ini kejadian biasa buatku. Hanya saja, hari ini perlu cukup berjuang, sebab aku mengenakan dress setengah paha. Meski mengenakan legging, gerakan bus yang tak terduga ini cukup mampu menciptakan gerakan yang tak ingin dilihat siapapun.

*
Aku naik bus Rute 2A dari halte SGM ke halte Condong Catur. Saat itu pukul 07.30. Tak seperti rute lain, 2A masih padat. Di halte kedua yang kami lewati, bus menurunkan penumpang. Ada tiga bangku kosong. Aku pun mendapat kesempatan duduk.

Saat duduk, ponsel kukeluarkan lagi untuk mengambil foto. Ini adalah pemandangan isi bus dalam keadaan tidak berdesakan, meski seluruh bangku dan pegangan berdiri sudah terisi.

Tak lama, bus kembali mampir ke halte berikutnya. Penumpang mulai berdesakan lagi. Nyaris tak ada celah untuk bergerak, baik bagi yang berdiri maupun yang duduk. "Geser, geser!" seru kondektur kepada penumpang berdiri untuk mengambil posisi terus ke belakang.

Aku terdesak seseorang tepat di depanku. Bus jalan lagi. Di sebelah orang yang mendesakku ada seorang ibu bertubuh
pendek. Ibu ini terombang-ambing gerakan bus. Kuberi bangkuku dan menggantikan posisi berdirinya.

Mohon maaf menggunakan kata "pendek". Ini untuk menunjukkan betapa sulitnya Si Ibu meraih pegangan bus. Dengan tinggi tubuhku yang 165 cm, posisi pegangan itu berada di atas kepalaku. Ibu ini hanya setinggi dadaku, bayangkan.

Di tengah laju bus yang mengombang-ambingkan posisi kami, aku beruntung ketika seorang ibu yang duduk di samping memegangku. 


"Maaf, bu!" kataku ketika gerakanku menekan tubuhnya.
"Enggak apa-apa, biar enggak jatuh," katanya sambil terus menahan pinggulku.

Berbagai kejadian lain akibat sopir ugal-ugalan terus terjadi selama setengah jam perjalananku. Hingga aku dan nyaris seluruh penumpang terkaget, ketika tiba-tiba seorang perempuan muda dengan cepat menghampiri lelaki yang duduk di hadapannya, dan mendaratkan wajahnya ke wajah pria itu. Posisi mereka berpangkuan.

Sebelumnya, perempuan ini berdiri di bagian depan; sedangkan lelaki yang menangkap tubuhnya duduk membelakangi sopir. Mereka bukan sedang melakukan adegan romantis di tengah ruang publik. Bukan pula beradegan sinetron. Mereka melakukannya tanpa sadar, akibat sopir yang menginjak rem mendadak di halte Condong Catur. Bus direm saat mengantri untuk ambil posisi di pintu halte, sebab di depannya bus Trans Jogja lain sedang menurunkan penumpang.

Seluruh penumpang kikuk dengan adegan itu. Namun semacam tau-sama-tau untuk tidak menertawakan,
meski beberapa tampak menahan senyum. Perempuan tadi turun, sedang sang lelaki masih melanjutkan perjalanan.

*
Aku adalah penumpang setia Trans Jogja. Bagiku, ini adalah moda transportasi dalam kota terbaik yang dimiliki kota ini. Sopir Trans Jogja ugal-ugalan bukan hal baru bagiku. Selalu begitu, sudah biasa. Namun kejadian pagi ini adalah kejadian luar biasa sepanjang usia perjalananku bersama Trans Jogja.


Kuceritakan kejadian tadi di Twitter. Intinya, aku menanyakan kemana melaporkan sopir bus Trans Jogja yang mengemudi ugal-ugalan ini. Ini jawaban yang kudapat:



Ini bukan nomor bus yang kunaiki. Gambar dari sini.
RT @joeyakarta cc @adrianizulivan RT @transjogja Punya keluhan/pengaduan? Pengemudi nakal? Layanan buruk? Laporkan saja. 0274-2633664 pic.twitter.com/u27GKSEb
Baiklah, ada yang mau melaporkan? Demi layanan transportasi publik kita yang lebih baik.

Mlekom,
AZ
 

Catatan:
Menurut temanku, website dan akun Twitter @transjogja ini dikelola oleh relawan, bukan media resmi milik Pemda atau operator.

about it
Categories:
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata