Tuesday, February 28, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:46:00 PM | No comments

Emol





Aku tak ingat kapan kali pertamaku menginjak sebuah bangunan besar-mewah-megah bernama mal –mari menyebutnya dengan artikulasi khas lokal: emol. Besar-mewah-megah ini, jika dibandingkan dengan rumahku :)

Papaku pernah cerita tentang aku kecil yang pipis di sebuah emol di Medan, Sumut. Mungkin itu jaman-jaman awal aku menginjak emol, pertengahan tahun 80-an.

Aku yang lahir di Medan dan tumbuh di Aceh ini tidak terlalu sering merasakan emol. Di Kutacane, kota kecil tempat papaku bertugas, tak ada emol. Aku masuk emol hanya jika ke Medan, memang cukup sering ke Medan, minimal satu atau dua bulan sekali.

Bersama keluarga, aku ke Medan untuk mengunjungi Nambo (: kakek, Minang) yang menetap di sana. Hampir tiap ke Medan kami berkunjung ke emol. Biasanya sebelum kembali ke Kutacane, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Semacam belanja bulanan.

Entah mengapa harus belanja ke emol. Mungkin karena di Kutacane tak ada toko yang lengkap, mungkin juga sekalian mengajak kami, anak-anak, untuk jalan-jalan. Yang pasti, di mobil akan penuh dengan mi instan, sabun, coklat, dan seterusnya.

*

Di Kutacane saat itu tak ada emol. Tiap tahun ajaran baru banyak teman sekolahku yang minta dibelikan alat tulis. Mereka titip uang, aku belikan di emol. Selain itu, keluargaku juga ke emol untuk beli buku (ke Pustaka Obor) dan makan ayam keriting pak brewok. Toko buku besar dan KFC juga tak ada di Kutacane.

Seingatku, hingga aku pindah ke Jawa, emol di Medan hanya sedikit: Deli Plaza (ini favorit keluargaku, selain dekat rumah, sepertinya juga merupakan emol pertama), Medan Plaza (jauh dari rumah), Olympia Plaza (sempat terbakar), dan Matari (CMIIW, lupa namanya; ini belakangan jadi emol favorit keluargaku, sebab lebih dekat dibanding Deli Plaza).

Oh iya, sebenarnya dulu aku tidak mengenal sebutan emol, tapi plaza, sebab semua pusat perbelanjaan besar-mewah-megah ini diberi nama “Plaza”. Orang Medan kerap melafalkannya dengan “plaja”.

Pertengahan tahun 1990-an mulai tumbuh berbagai minimarket di kota Medan. Beberapa diantaranya berlokasi di dekat rumah Nambo. Micky, ini yang kuingat.

Sebagai anak yang tinggal di kota kecil, aku suka emol, juga jenis toko swalayan lainnya yang  kala itu terkesan modern. Hahaha, ya demikianlah. Emolbuatku begitu luar biasa. Selain bisa membeli buku dna makan ayam keriting, di sana juga ada tangga jalan (eskalator) dan lift. Banyak orang Kutacane tidak tahu rasanya naik tangga jalan!

Saking hebatnya emol di benakku, kakakku—yang tinggal di Medan bersama kakek-nenek—sering menggodaku sampai membuatku marah dan menangis.

“Nih de, kaka beli di Micky,” kata kakakku suatu hari ketika dia berlibur ke Kutacane.
Melihat raut mukaku yang seperti iri sebab dia bisa kapanpun jajan di minimarket, dia makin menggodaku:
“Waktu papa ke Medan, kami ke Pustaka Obor,” godanya.
Aku diam.
“Trus, makan di Kentaki”
Aku diam.
“Semalam juga belanja di Deli Plaza,” sulutnya.
“Paaaaaaa, kaka ini Pa!” aduku pada Papa.
“Adenya jangan digangguin, kan kasian di sini gak ada Plaza,” sahut papaku

*
Kini, entah sejak kapan, aku menghindari emol. Bukan karena alasan “emol mematikan ekonomi kecil”, namun lebih ke ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan apa? Bukannya emol selalu sangat nyaman? Ah, inipun sulit kujelaskan.

21 Mal Baru Dibangun Tahun Ini. Begitu bunyi berita Kompas tadi. Yaampun, aku merasa makin kasihan dengan anak-anakku nanti, ketika mereka hanya mengenal emol, emol dan emol sebagai tempat bermain. Kata Jokowi, Walikota Solo tentang emol:

Kenapa kita harus mikir sebuah kota harus mall, harus mall, apa itu. Kepala daerah bangga kalau mallnya banyak, tapi saya tidak. Identitas dan karakter kota itu penting sekali. Karena ini membangun brand kota. Untuk branding kita harus memposisikan kota sebagai apa? diferensiasinya apa? Kita harus ngerti. Itu yang sering tak dibangun oleh pemimpin sebuah kota. Akhirnya setiap kota mirip-mirip, hampir sama.*)

Aku setuju. Untung aku tak lagi hidup di zaman ketika emol kuanggap ‘sesuatu banget’!


*) Sumber: Yahoo!

Posted by adriani zulivan Posted on 1:12:00 AM | No comments

Reinkarnasi Kamera Jadul



DSLR Fuji X100 & X10.
Penampilannya seperti reinkarnasi kamera foto jadul! Tahun 80-an akhir Papaku punya kamera mirim ini, aku lupa spesifikasinya. Kameranya masih ada, saat ini dirawat oleh sepupuku yang hobi foto dan senang bereksperimen dengan kamera foto dengan slide film alias analog.

Sumber foto: Alex Satrio

Mlekom,
AZ

[20130521: pic, font, rgds]

Friday, February 24, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:24:00 PM | No comments

Toponim Kota Yogyakarta

Toponim Kota YogyakartaToponim Kota Yogyakarta by Dharma Gupta
My rating: 5 of 5 stars

Bahasanya baik. Penggambarannya runut. Sangat berguna untuk mempelajari sejarah kampung-kampung Jogja.

View all my reviews
Posted by adriani zulivan Posted on 8:49:00 PM | No comments

Sriwijaya, Slamet Muljana

SriwijayaSriwijaya by Slamet Muljana
My rating: 3 of 5 stars

Baca ini karena memang benar-benar tertarik pada kisah Sriwijaya, pasca saya mengenal Kompleks Percandian Muarojambi. Tapi sayang, buku ini terasa seperti benar-benar co-pas laporan riset. Bagi pembaca awam yang memaksakan diri untuk membaca sejarah, seperti saya, buku ini terasa sangat berat.

Namun, terimakasih untuk penulis yang telah mendokumentasikan sejarah sepenting ini.

View all my reviews

Wednesday, February 22, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 6:19:00 PM | No comments

TV Berita ala Koran Kuning


Sumber: http://bincangmedia.wordpress.com/2010/04/30/menelisik-sejarah-koran-kuning-di-indonesia/


Topik berita hari ini: pembunuhan berantai, pembunuhan bos perusahaan, pembunuhan satu keluarga di Bali, anak SD tusuk teman. Wuihhhh, pembunuhan jd headline!


Ada kebijakan mengenai jam tayang film dengan adegan kekerasan untuk televisi, yaitu malam hari., untuk menghindari disaksikan oleh penonton anak. Ini seperti yang terjadi pada iklan rokok, film percintaan dewasa, dan tayangan lain yang masuk kategori dewasa.


Di sisi lain, lewat tayangan berita umum, laporan kriminal sliweran di televisi sepanjang hari. Padahal, murid sekolah dianjurkan menonton televisi di acara berita agar mendapat pengetahuan yang luas. Namun sayang, tayangan dan narasi berita kriminal begitu vulgar menggambarkan adegan/korban kekerasan.


Efek dari tayangan berita ini tak hanya membentuk karakter keras pada penontonnya, namun juga gangguan psikologis bernama trauma. Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka (Cerney, dalam Pickett, 1998). Kata trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian yang dialami korban, seperti shock fisik dan emosi berupa rasa ngeri, takut, atau tidak berdaya.

Trauma tak hanya didapat dari pengalaman. Individu yang tak secara langsung berada di tempat kejadian dimana sebuah kejadian kekerasan berlangsung pun, bisa mengalami trauma. Mereka bukan korban, bukan pula saksi mata. Ini disebut secondary traumatic stress, yaitu suatu konsekuensi tingkah laku dan emosi akibat pengetahuan tentang suatu peristiwa trauma yang dialami oleh orang lain (significant other), tetapi kemudian ikut dialami oleh pihak yang mengamati, memberikan bantuan, atau mendengarkan kisahnya (Sidabutar, 2003).


Berita Kriminal

Satu dasawarsa lalu, tayangan khusus berita kriminal pernah meraup rating tinggi. Hampir seluruh televisi swasta mempunyai program ini, seperti Patroli (Indosiar), Buser (SCTV), dan Sergap (RCTI). Kini program-program tersebut tak diproduksi lagi, meski ada satu-dua tayangan generasi baru bergenre sama. Pemberhentian program ini tak lepas dari teguran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Dinilai tak laik tayang akibat menampilkan adegan kekerasan atau efek kejadian berunsur kekerasan, seperti darah, mayat, dan seterusnya (lihat UU Penyiaran No 32 Tahun 2002 serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran).


Di balik pro-kontra tayangan berita khusus kriminal, ada satu sisi yang perlu diperhatikan. Ketika program tersebut ada, masyarakat sebagai penonton televisi, diberikan kesempatan untuk memilih sendiri jenis tayangan yang ingin dilihat/didengarkannya, termasuk dengan tidak memilih tayangan berita kriminal. Ini seperti pilihan membeli koran kuning atau mainstream.


Selama ini, tayangan sinetron dan film impor yang ditayangkan di televisi kerap mendapat teguran KPI. Salah satunya akibat adegan berunsur kasar, baik secara fisik maupun verbal. Namun sangat disayangkan ketika hal tersebut kini terpapar di berbagai tayangan berita. Berita kriminal bercampur dengan berita politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya yang tidak mengandung unsur kekerasan.


Ketika tayangan berita umum dicampur dengan berita kriminal, penonton tak memiliki kesempatan untuk memilih tayangan yang ingin ditontonnya. Hal ini tak baik, sebab di satu sisi kita butuh menonton berita, di sisi lain, lewat berita kriminalnya yang dikupas secara vulgar, berita dikhawatirkan dapat timbulkan psikosomatis. Psikomatis adalah adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi.


Jika tayangan berita televisi tidak perhatikan dampak psikologis, apa bedanya dengan tayangan sinetron atau film yang banyak mengandung unsur kekerasan itu? Menurut hemat saya, dua tayangan fiksi ini malah lebih aman dikonsumsi anak. Paling tidak, kita dapat memberi penjelasan bahwa adegan kekerasan yang mereka tonton itu bukanlah kehidupan nyata.


Takut dampaknya? Mungkin bisa diteliti dengan menggunakan teori analisis konten. Sebagai obyek, libatkan dua kelompok anak usian 10-15 tahun —usia yang oleh sekolah dianjurkan untuk mengkonsumsi berita—. Kelompok pertama diminta untuk menonton tayangan berita, kelompok lainnya menonton sinetron. Lakukan pengamatan selama interval waktu tertentu.


Jika konten tayangan berita di televisi kita masih seperti hari ini, saya yakin akan menemukan hal tidak mengagetkan, bahwa anak-anak yang diajak menonton sinetron akan bisa berpikir lebih rasional dibanding kelompok lainnya. Ya, hipotesa ini tentu saja bisa salah.


Kasus Kriminal

Kasus Ryan Jombang menjadi headline media massa di tahun 2008 lalu. Kasus ini mendapat perhatian besar dari masyarakat, mengalahkan berita politik. Seluruh berita mengangkat kasus ini secara investigatif dan mendalam. Tak hanya di program berita khusus kriminal, namun juga di program berita umum.


Media membahas mulai dari profil pelaku, korban dan keluarganya, hingga kisah cinta si pelaku. Media bahkan tak segan-segan menayangkan reportase langsung saat proses penggalian korban yang berlangsung di sebuah desa di Jombang selama berhari-hari.Secara kreatif, media-media ini juga membuat diagram/grafis mengenai rentetan peristiwa dan kaitan antara pelaku dan korban, tentu dibumbui berbagai kisah cameo. Desa TKP pun jadi terkenal akibat diluiput secara jor-joran oleh media.


Hal ini juga terjadi jauh sebelumnya. Di tahun 1997  kasus pembunuhan berantai oleh Dukun AS di Deli Serdang, Sumatra Utara muncul ke permukaan. Media arus utama skala nasional dan lokal membahas kejadian ini. Saya yang saat itu duduk di bangku SMP jadi takut ke Rumah Sakit, sebab berfikir bahwa di RS pasti ada kamar jenazah. Saat itu, jasad korban hasil penggalian forensik yang terkait kasus ini disimpan di kamar jenazah RS Pirngadi Medan.


Trauma yang terjadi bisa sedalam itu, sebab lewat televisi, kekerasan masuk ke ranah keluarga yang seharusnya memberi kenyamanan. Ini terjadi ketika stasiun televisi belum sebanyak saat ini. Coba bayangkan, apa yang merasuki pikiran anak anda hari ini! Tayangan gambar berupa tulang belulang hasil penggalian jasad, kantung mayat, dan garis polisi menjadi tontonan biasa di televisi. Apa efeknya?


Banyak orang menjadi paranoid. Ada yang takut pada orang baru, terutama kaum (maaf) penyuka sejenis—akibat sisi ini sering dibahas dalam kasus Ryan. Bahkan ada yang takut membuka situs pencarian internet, sebab kata apapun bisa saja memunculkan berita tersebut, dengan berbagai gambar yang tidak layak, di layar monitor si pencari.


Berita Sehat

Era 80-an, banyak SD mewajibkan muridnya untuk menonton berita, lalu mereview dalam tulisan yang harus disampaikan keesokan harinya di kelas. Sebab hanya ada satu TV, maka berita yang wajib tonton itu adalah Dunia Dalam Berita, program tiap pukul 21.00 di TVRI. Tentu bukan contoh jurnalisme ideal, jika mengingat represi pemerintah terhadap dunia penyiaran publik kala itu. Namun, di konten berita penuh sensor tersebut tak ada konten bersifat psikosomatis yang dapat berpengaruh negatif terhadap penonton.

Di masa kini, mungkin perlu logo DW (dewasa) di tiap tayangan berita televisi. Status BO (bimbingan orangtua) tak akan cukup, sebab bahkan seorang dewasa pun bisa terpapar efek negatif psikologis dari tayangan tersebut. Tak peduli apakah itu stasiun yang menyebut dirinya sebagai Televisi Berita, beserta stasiun lainnya, semua memproduksi berita ala koran kuning.


Perusahaan penyiaran bertanggungjawab dalam proses mencerdaskan bangsa. Menanti kesadaran stasiun televisi tidaklah mudah, perlu dukungan masyarakat untuk mengiringi proses ini,. Tak perlu menghindari televisi, memilah tayangan yang ditonton sambil terus memberi masukan pada stakeholder pertelevisian adalah langkah yang mungkin dipilih.



Tuesday, February 21, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 1:22:00 AM | No comments

Ada Aku di Sana :))


Grombolan Sing "Kedanan" Marang Watuoleh Sartono K
Jayabaya No. 25, Minggu III Februari 2012, Hal. 8
Courtesy of Albertus Sartono

*
Masih dari acara peluncuran buku Bol Brutu. Artikel ini sayangnya dalam Bahasa Jawa halus. Aku gak ngerti :|

Btw, maaf ya Ndil, di foto yang ini kamu gak ada :)

Monday, February 20, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:54:00 PM | No comments

Voucher Salon vs Rambut Pendek


Yaampun, masih pengen ngomong tentang... r a m b u t.

Jadi ya, si Ndil-ku sayang itu pernah bete (?) gegara aku bilang pengen potong pendek rambutku.

"Ya, ayuk kuantar," katanya.
"Boleh nih?" tanyaku.
"Ya boleh. Kenapa?"
"Pengen potong pendek..."
"Hah, sependek apa?"
"Ya pendek lah, biar gampang ngerawatnya. Sayang jadi rusak gini"

Ndil megang rambutku.
"Ngerawatnya itu gimana?"
"Ya ke salon kalo gak mau kerjakan sendiri. Dikrimbat."
"Krimbat itu bayar berapa? Berapa kali?"
"Minimal sebulan sekali. Harganya tergantung salon."
"Yaudah, krimbat ajalah. Aku anter. Aku sisakan duit tiap bulan."

Sampe hari ini belum kejadian. Udahlah, memang gak berjodoh sama salon.
Mungkin perlu cari salon yang mau nyalon sambil aku kerja? Atau... kapan kita buka salon, Ndil?

Posted by adriani zulivan Posted on 8:54:00 PM | No comments

Kapan Terakhir ke Salon?

Pertanyaan itu datang dari mantan bosku, seorang profesor di universitas negeri tertua di negeri ini, pagi tadi saat  kami bertemu lagi setelah sekian lama.

Pertanyaan sejenis pernah dan rawan membuat goncangan rumah tangga :) Ya, aku pernah (beberapa kali) merasa sangat sebal jika Ndil menanyakan hal sama. Nah, kali ini aku tidak merasa sebal. Itu bukan karena ditanya oleh orang lain yang adalah atasanku, namun akibat hasil ngacaku sore ini.

Rambut yang kerapkali menjadi penanda dan pembeda seseorang dengan orang lain memang pernah menjadi bagian penting bagiku. Ya, pernah.

Saat bekerja di sebuah institusi yang memuja formalitas, itulah saat di mana aku sangat memperhatikan rambut dan wajah. Saat itu, aku masih menghamba pada institusi formal di mana sang profesor menjadi atasanku.

Nyalon adalah agenda wajib yang kulakukan secara sadar tanpa malas. Setidaknya sebulan sekali melakukan perawatan rambut (creambath) dan muka (facial). Ditambah scrubbingwaxing dan mani-padicure yang tidak rutin. Ala cewe, lah!

2008 & 2009, berkantor di institusi formal

Kebiasaan itu sebenarnya sudah berlangsung sangat lama, sejak aku mulai mengenal kata "cantik", meski cantik dalam konstruksi media pariwara: rambut hitam panjang, muka putih mulus. Aku mulai creambath dan facial sejak SMP.

Saat itu tidak di salon, melainkan di rumah dengan bahan-bahan tradisional. Ini adalah efek dirasuki buku jadul "Ramuan Madura" milik Mamaku dan larangan Mama untuk menggunakan produk perawatan yang dijual bebas. "Nanti adek cepat ubanan," kata Mama.

Mamaku rajin menghaluskan kemiri yang sudah dibakar, lidah buaya, tomat, seledri, wortel, dan alpukat dengan blender, ditambah santan, kuning telur, teh basi dan madu untuk diborehkan ke rambutku yang sudah lurus, hitam dan lebat.

Proses menunggu ramuan ini meresap ke kulit kepala dan rambut cukup lama, hingga bahan-bahan tersebut mengering. Sekitar 1-2 jam, aku malu mendekat pada orang lain, sebab rambutku bau amis segala rupa, terutama dari kuning telur yang... ah entahlah, susah menggambarkan aromanya.

Mama juga telaten membuatkan ramuan madu yang dihangatkan untuk dioles ke wajah. Juga timun, tomat, dan putih telur. Aku tak pernah jerawatan. Entah akibat ramuan-ramuan itu atau faktor lain.*)

Waktu SMA kebiasaan ini masih berjalan, namun aku diam-diam membeli krim khusus creambath yang banyak diiklankan. Tak hanya termakan media, namun juga omongan seorang tetangga yang bekerja di salon :)

Saat itu, kegiatan nyalon di rumah ini makin menyenangkan karena ada teman melakukan hal sama: Mbak tetangga yang capster salon dan Mbak yang bekerja di rumahku. Mereka berdua menjadi asisten gratis utk perawatan rambut dan wajahku :)

 Kini, bukan anak kantoran

Aku kini berbeda. Sungguh berbeda :) Sejak bekerja di NGO, aku justru merasa malu dan salah tingkah, salah kostum, salah tempat, ketika melakukan kebiasaan lama. Ah, pemikiran ini ternyata sala, jika kamu sayang tubuhmu :|

Sejak tiga tahun belakangan, sangat sulit bagiku kini untuk menjawab pertanyaan judul tulisan ini. Aku memang sudah sangat lama tak melakukannya. Aku ke salon hanya untuk potong rambut, yang kulakukan hanya setahun sekali, atau lebih :|

Rambut hanya kugulung-gulung, lalu menjepitnya dengan jepitan atau ikat. Ini membuat helainya menjadi kasar, dengan ujung yng memerah dan bercabang. Seperti rambut anak-anak pecinta layangan.

Wajah? Jaangan ditanya. Ini lebih memalukan (ya, akhirnya merasakan hal ini)! Kusam, muncul banyak bintik hitam dan komedo, meski tanpa jerawat. Sebenanya aku beberapa kali perhatikan ini saat memerlukan make-up *aku menggunakan make-up sangat jarang, hanya jika ada acara tertentu seperti undangan*, ketika kini aku memerlukan foundation yang lebih tebal dibanding dahulu kala :) Aku jadi khawatir, apakah bintik-bintik hitam itu bisa hilang?

Aku punya bahan dan alat perawatan rambut dan wajah yang lengkap. Hanya saja, tak ada waktu melakukannya. Salon? Semakin tak ada waktu. Sehari-hari aku hanya menggunakan krim creambath tiap usai mencuci rambut dan scrub beras putih (ada di Mirota Batik dan Pasar Bringharjo).

Duuuh, aku menyiksa mereka...


*)
Aku baru jerawatan saat kuliah semester dua. Kata orang karena jatuh cinta :)





Posted by adriani zulivan Posted on 7:50:00 PM | No comments

Rambut Itu Mahkota Wanita, Taukkkk!




Ngomong soal rambut, aku pernah sangat peduli pada salah satu bagian penting ini. Ini cerita waktu SD di Aceh Tenggara, tahun 90-an awal.

Saat itu, aku yang masih Kelas I bermain bersama sejumlah teman. Mungkin 4-5 anak, satu diantaranya adalah anak laki-laki. Permainan cukup populer yang sering membuatku sebal adalah mengambil semacam tumbuhan duri bundar yang mudah lengket di bahan-bahan tertentu, seperti kaos kaki. Yang menyebalkan, anak laki-laki suka meletakkannya secara diam-diam di rambut.

Rambutku kecil tak pernah panjang, biasanya sebahu atau di bawah kuping. Namun, aku memiliki rambut yang lebat. Adalah bencana jika terkena duri-duri hasil keisengan temanku. Pernah satu hari saking sebalnya, aku benar-benar memarahinya, meski tidak membentak:

"Heh, kau tau gak: Rambut itu mahkota wanita!" seruku kalem.

Teman-temanku terpana dengan kalimatku. Si cowo iseng langsung mencabuti uri-uri di rambut-rambut kami teman perempuannya. Jangankan mereka, aku sendiri terpana dengan kata-kataku!

Kalimat itu kudapat dari Majalah Femina jadul entah milik siapa di rumah kakek di Medan. Dalam sebuah iklan shampoo Sunsilk, terpampang kalimat itu.

Yaampun, sedari kecil aku sudah dirasuki iklan... :)





NB:
Gambar-gambar-gambar di atas bukan iklan dengan tagline yang kumaksud. Sayang, tidak menemukannya :(

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 1:30:00 AM | No comments

Iklan Sarap Poligami


Dapat dari mention Mbak Silvia Honsa. Bunyi iklan sarap ini:

kary. swasta putih mapan cr gadis solehah min sms u/ istri ke2. menarik, putih, tinggi rata2, penurut. istri 1 setuju. hub istri 1: 0878 80131880

*
Foto: http://twitpic.com/8mdhvt

Sunday, February 19, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:38:00 PM | No comments

Ponakan-ponakan yang Belum Bersua

Foto: http://www.wildcubkids.com/index.php?main_page=product_info&cPath=7&products_id=5




Kpd org yg menghidupkan silaturrahmi, Allah akan memakmurkan tempat tinggal mereka & membuahkan harta benda mereka


Itu status Ressa barusan. Bikin aku merasa tidak enak hati, sebab belum menengok anaknya. Ku-komen: 


Aku: duh, aku belom bersilaturahmi, nengok ponakan :(
Ressa: Iya tuh ┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌


Padahal, rumah mereka masih satu kecamatan denganku. Usia anak Ressa mungkin sudah setengah tahun. Duuh, parahnya aku...


Setidaknya, ada beberapa ponakan lagi yang tinggal sekota denganku, yang hingga kini belum sempat kutengok:
  • Anaknya Bu Uni
  • Anaknya Gilang
  • Anaknya Bima
  • Anaknya Mbak Merry 
  • Anaknya Mas Ikhwan

Yang sudah:
  • Anaknya Retno (karena bareng-bareng dari kantor)
  • Anaknya Deasi (karena dijemput teman dari luar kota)
Tadi siang mau ke rumah Mbak Merry, tapi batal karena ngantuk banget. Padahal sudah siap sedia kado berbungkus. Begitu juga kado untuk ponakan-ponakan lainnya, sudah siap dengan kartu ucapan, meski belum berbungkus :(

Ya ampun parahnya tantemu ini, ponakan-ponakanku! Masa kalian sudah segede itu, kita belum juga bersua! Eh, tapi si oom kalian juga susah waktunya sih, jadi tante gak ada yang nganter kan :|


Tantemu yang tukang ngeles,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 8:29:00 AM | No comments

Pit di Mana-Mana (Bike Everywhere) Slideshow & Video

Pit di Mana-Mana (Bike Everywhere) Slideshow & Video: TripAdvisor™ TripWow ★ Pit di Mana-Mana (Bike Everywhere) Slideshow ★ to Amsterdam, Borobudur and Hsinchu. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor

Best part is the second in Borobudur Village :)

Saturday, February 18, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:27:00 AM | No comments

Berburu Durian Merapi

Suasana Manisrenggo

Hari ini Ndil ada kegiatan ke Desa Deles dan Desa Talun di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dia mengajakku dengan iming-iming berburu durian.

Jadilah aku dan Ndil bertualang. Kami berburu ke wilayah lereng Merapi. Kabupaten Klaten dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki durian sebagai hasil unggulan. Durian yang banyak dijajakan di jalan-jalan di Jogja pun biasanya didatangkan dari Klaten, selain Purworejo.

Di daerah Manisrenggo terdapat sebuah kebun durian yang dibuka untuk umum. Pengunjung tinggal membayar tiket masuk yang entah berapa rupiah, lalu bebas makan dan memetik durian sepuasnya. Informasi ini kami dapat dari Novi, teman kantor Ndil. Novi mengetahui kebun tersebut dari orangtua salah seorang teman sekolah anaknya *hah, ribet!* yang sudah berkunjung ke sana.

Kami tak mendapat alamat pasti lokasi yang dimaksud. Berbekal pengalaman Ndil bekerja dengan warga Merapi di sejumlah desa di Klaten dan hafalan rute ke lokasi-lokasi tersebut, kami pun berangkat. Diniatkan pukul 8, agar jikapun tak menemukan kebun tersebut, kami akan sempat berburu di Pasar Manisrenggo yang menurut Novi juga banyak duriannya. Rp 10.000 per buah, berjajar di sepanjang pasar. "Jangan kesiangan agar durian bagus tak keburu diborong pedagang," pesan Novi.

Satu dan lain hal memaksa kami untuk memulai perjalanan sejam kemudian. Semalam Ndil sudah menelepon Pak Jumarno, Kepala Desa Talun untuk urusan pekerjaan. Dia juga menyelipkan pertanyaan apakah beliau pernah mendengar tentang kebun durian tersebut. Ternyata beliau tak tahu, malah mengajak untuk mencari di desanya saja.

Dari Jogja, kami menempuh jalan Solo menuju Prambanan. Perempatan pertama di samping timur kompleks percandian Prambanan, kami berbelok ke kiri. Terus mengikuti jalan, sejam kemudian tibalah kami di 'pusat kota' Manisrenggo. Mampir di sebuah warung untuk sarapan. Pemilik warung juga tak pernah mendengar keberadaan kebun durian, malah menyarankan kami mencari ke Pasar Prambanan atau Pasar Kembang.

Di Pasar Prambanan memang terdapat banyak durian, namun harganya pasti lebih mahal dibanding harga jual di lereng Merapi, tempat di mana durian ini dikumpulkan dari kebunnya. Sedangkan Pasar Kembang adalah pasar besar di Kecamatan Kemalang. Pak Jumarno juga sempat menyebutkan pasar ini sebagai pasar kulakan (grosir) durian.

Dari pemilik warung, kami peroleh informasi tentang lokasi Pasar Manisrengo yang ternyata berada sekitar 1 km ke barat dari warung tersebut. Ke barat, berarti kembali ke arah Jogja. Kami pun memutuskan untuk mencari di Pasar Kembang saja, sebab pasar ini memang akan kami lewati dalam perjalanan menuju Deles.

Meneruskan perjalanan ke utara, tibalah kami di Pasar Kembang. Pasar ini terasa begitu ramai. Berbeda dengan kondisi di siang hari usai kegiatan pasar, pagi ini jalan yang terletak di depan pasar itu begitu padat. Jalan utama menuju Kecamatan Kemalang ini menjadi sempit akibat pedagang yang berjualan di badan jalan. Beberapa di antara pedagang ini adalah penjual durian yang kami cari.

Setelah sekali melewati jalan utama tersebut, kami berbalik lagi sebab tak menemukan tempat parkir. Tak mudah memarkir mobil, di pasar ini memang tak ada lahan parkir. Mobil diparkir seadanya di pinggir jalan, sedangkan motor di teras-teras toko. Kami sedikit ke timur, 300 meter menjauhi pintu utama pasar. Lalu berjalan kaki memasuki pasar yang pukul 09.30 itu mulai sepi di bagian dalamnya.

Menyusuri nyaris semua lorong, tak satupun pedaang durian kami temukan. Kami pun bergerak ke depan, menuju jalan utama tempat pedagang durian yang kami lihat tadi. Kami pilih pedagang dengan durian yang paling banyak. Awalnya si bu pedagang menawarkan Rp 25.000 per buah ukuran sedang. Aku menawar Rp 50.000 per lima buah dan ditolak. Cindil sempat berpikir bahwa tawaranku kelewat murah. Ketika mulai melihat-lihat di tempat lain, si ibu memanggil kami dan... parfum mobil pun berubah aroma menjadi durian :)

Kami habiskan dua jam di Deles. Setelah insiden terperosok di tanjakan menuju Talun, kami pun tiba di rumah Pak Jumarno. Di sana beliau ternyata sudah menyiapkan enam buah durian yang begitu dimasukkan ke bagasi langsung mengubah parfum mobil menjadi beraroma makin mantap.

"Wah, pasti matang di pohon tuh," kataku pada Ndil.

Numpang shalat, disuguhi teh dan berbagai cemilan, sejam kemudian pamit pulang. Di jalan Wonosari Jogja, mampir ke bengkel ketok magic. Kami berjalan kaki ke warung mie ayam di dekat bengkel, mengisi perut yang sudah berontak.

Bamper ditinggal, kami lanjutkan perjalanan pulang. O iya, rasa durennya tidak mengecewakan, lho. Meski dengan insiden kecil, petualangan berburu duren hari ini sangat seru :)

5 + 6 = 11 buah! :)

Ah, akhirnya ngeduren juga! Trims buat Ndil yang mau berburu durian meski tak ikut menikmatinya.



Friday, February 17, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:51:00 AM | No comments

Gagal, Berburu Durian Temanggung


Hari ini Ndil ada pekerjaan ke Temanggung. Karena menyetir sendiri, aku menawarkan diri (ahemmm) untuk ikut. Lagipula, di Jawa Tengah masih musim durian, pikirku.

Selama Ndil bekerja, aku sibuk googling mengenai potensi daerah Temanggung. Beberapa yang menarikku: Candi Pringapus, prasasti Gondosuli, dan kopi robusta juga sejumlah makanan tradisional. Namun, semuanya tak mungkin kutemui hari ini, sebab kami tak memiliki waktu panjang. Siang tadi kami makan di warung dekat Bali Desa. Ada menu Rica-rica Entok yang enak namun sangat pedas. Di warung ini, untuk pertama kalinya, Ndil melihat wujud jengkol yang siap makan :)

Durian tak kutemukan di direktori Google. Kutanyakan pada staf Kantor Desa, Temanggung memang tidak memiliki durian, biasanya didatangkan dari Magelang. Beliau menanyakan mengapa baru bertanya saat pamitan, sebab jika tidak, ia akan mencarikan urian ke tempat penjualan di tengah kota. Kandanga, desa yang kami kunjungi ini, terlateak di sudut kota, untuk mencapainya dari Magelang memang tak harus melewati pusat kota.

Pak Taufik, Staf Desa ini, malah tertarik untuk mencari bibit durian di daerah Kaliurang Jogja. Bibit yang dimaksud adalah bibit Durian Menoreh. Beliau ingin menanam di desanya.

Kami pulang dan berencana membeli durian di dekat Jembatan Kranggan. Jembatan ini terletak di ujung Kabupaten Magelang yang berbatasan dengan Temanggung. Di lokasi ini selalu ada pedagang durian di tiap musim tibaa. Lagipula, di seberangnya ada sebuah kebun pembibitan. Tadi saat berangkat kulihat sebuah pohon kelengkeng setinggi sekitar 1 m yang sudah berbuah. Ingin rasanya membawa dan menanamnya di rumah.

Namun sayang, akibat hujan yang tak berhenti sejak siang, kami melewati sesi durian jembatan. Lewat pula kelengkeng yang ranum. Ah tak apa, besok dijanjikan sesi berburu durian di lereng Merapi. Kita tunggu besok, ya! :)

Wednesday, February 15, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:45:00 PM | No comments

Cinta yang Besar





Kemarin aku begitu bahagia, bisa main lagi ke CC, lihat anak-anak, mama dan cucu-cucu :)
Dari CC, aku dan Ndil ke RK. Sebelumnya kita sempatkan belanja buah-buahan dan biskuit untuk bahan puding. Hummm, aku juga ditraktir eskrim sama Ndil :) Ya, sore ini kami bikin agar-agar!
Tadinya aku sempat membeli bubuk agar-agar bening. Akan kujadikan seperti sebuah etalase toko yang bening, tampak barang pajangan toko. Barang pajangan toko di agar-agar ini berupa buah-buahan dan bahan makanan lain yang akan kususun di dalamnya. 
Ini yang berhasil kami dapatkan dari Super Indo sore itu:
  • buah naga
  • melon
  • jeruk
  • rumput laut hijau
  • biskuit coklat selai
Tiba di RK pukul 4 sore, langsung bersiap untuk misi ager-ager. Ndil bersihkan rumah, aku bersihkan barang-barang dapur dan alat masak lain yang sudah lama tidak digunakan. Proses memasak sendiri butuh dua jam. Namun hasilnya tidak mengecewakan, meski ini adalah baru kali keduaku membuat puding, meski aku tak sempat membaca buku resep puding yang sudah kubuka sejak pagi.

Jika orang lain punya coklat dan bunga di Hari Kasih Sayang, kita punya cinta yang besar. Saking besarnya, susah dipotong... Begitu kata Twitter dan Facebook Ndil :)

Ah Ndil, kita tak pernah minat merayakan tanggal 14 Februari. Ini hanya kado untuk kamu yang sudah menemani aku sepanjang hari kemarin dengaan... membolos. Ya, kamu bolos! :)


Malam ini di Twitter dan Facebook Ndil:

Semalam (14/02), mendapat cinta yang besar dari Adriani Zulivan. Saking besarnya, susah dipotong :)) 


Trims, sayang! 
*orang bolos kok didukung :)
Posted by adriani zulivan Posted on 12:01:00 PM |

Gummy Candle Shop

I don't know how is Bahasa Indonesia translate the words "gummy candle". In Indonesia, it is popular with "Yuppie", but it is not its name, but the name of the product given by the factory, like "Pilot" for pen.I've been googling and find it out as "Juppy", here.

Ya, whatever you called it. I don't like this kind of gum since I was a little kid. It is like... hummm, hard to explain, I just don't like it even they are always there in my home. My parent buy them since my siblings love it.

In Singapore, I saw so many shop sells it. At the market, station, restaurant, shopping mall, anywhere. I like to see the design. It is not just ball, tetragon, or triangle like you can find in Indonesia, but any shape. Youy name it. They are displayed in attractive containers, also.Who's not interested in buying, then?

At MRT station
At 7-11 shop

Mlekom,
AZ

Sunday, February 12, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:13:00 PM | No comments

Baron Araruna


Teman sebangsa sebaya,
adakah yang ingat (si)apa itu Baron Araruna?

Baron adalah nama juragan pemilik sebuah kompleks peternakan dan perkebunan yang tinggal di Araruna, Brazil. Tadinya, sebelum membaca informasi ini, aku mengira Araruna itu adalah nama belakang dari Tuan Baron :)

Di arena pemukimannya yang satu kompleks dengan usahanya tersebut, Baron tinggal dengan istri, anak dan budak-budaknya. Anaknya bernama Little Missy. Istrinya Kandida. Sabastian adalah seorang bujang yang mencintai Missy. Edelaide aku lupa siapa; dan Bah, salah satu pembantu kulit hitam di rumah keluarga ini yang bertugas mengurusi keperluan Missy.

Cerita ini merupakan setting penokohan di telenovela berjudul "Little Missy" (trims Mbak @lovelymumble, sudah mengingatkan judulnya). Telenovela ini tayang di TVRI sekitar tahun 1987 (berarti hanya setahun setelah rilis di negara asalnya?), saat aku duduk di Taman Kanak-kanak.

Di suatu siang, begitu masuk rumah, kupanggil adikku:
"Deeeek, sini lah, mau kakak ajarin lagu baru lagi?

"Jangan! Nanti lagu yang enggak-enggak lagi," sahut mamaku.

Iya, di sekolah, oleh teman-temanku sering diajarin lagu-lagu aneh yang tidak sesuai dengan usia kami. Jadi, kutarik adikku ke sudut rumah, agar tidak terdengar oleh mama.

Kuminta adik mengangkat tangannya dan mengarahkan kedua telapaknya ke depan. Sambil menyanyi, kami saling menepukkan tangan satu sama lain, persis seperti yang diajarkan oleh teman-temanku di sekolah. Begini lagunya:

Baronku Araruna
Little Missy, Kandida
Sebastian, Edelaide
Bah
Semuanya satu rumah...
(nyanyikan seperti lagu "Balonku" yah!)


Nah, buat teman yang tidak sebaya, yang berusia jauh di bawahku, sila tengok video ini :)


Posted by adriani zulivan Posted on 12:00:00 PM | No comments

I Will Always Love You


Dua minggu lalu ayahku yang kupanggil Papa berada di Jogja. Tiap menggunakan komputer, Papa menyalakan lagu "I Will Always Love You" milik Whitney Houston. Seperti Papa, aku juga menyukai lagu ini. Meski diputar berulang-ulang (karena koleksi song list beliau sedikit), aku tak pernah bosan. Apalagi, sudah lama tidak mendengar lagu ini.

Terakhir kali aku mendengar lagu ini tahun lalu, saat sebuah televisi menayangkan "The Bodyguard", film yang dibintangi Houston dan menggunakan lagu itu untuk soundtrack-nya. Waktu kecil, begini aku menyanyikan lagu ini:

iii aaa should care
i miss you, i think of you
with now

so i hope, but i want
people say, i'm about you
give me

and i will always love you (uuuoooo)
will (aaaa) always love you...

you, my darling you
(emmm)

people sweet memories
there is all i'm thinking with me
so goodbye please don't
i'm about you, with me (iiiiii)

and i (iaaaay)
wil always love you (uuu oaaaa)
will always love you (uuuuu)

i hope, long it trees you come
and i hop,e you have on you
eiger (eoooo)

and i miss you love, everywhere
what a bombes
i miss you will love
love

:)

Hari ini mendapatkan #IWillAlwaysLoveYou menjadi trending topic di Twitter. Ibu berkulit hitam ini meninggalkan kita. Papaku ikut bersedih. Ini berita kepergiannya.

Hari ini dan beberapa waktu ke depan, lagu ini dan sejumlah lagu populer lain milik Houston akan semakin sering muncul di televisi, membahas kematiannya. I Will Always Love You akan abadi. Aku akan menunggu Papa pulang, menyakikan lagi lagu ini bersama.

We'll always love you, Whitney!


Thursday, February 9, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 4:37:00 PM |

Chuen Chuen and Their Kindness

 `


`














Posted by adriani zulivan Posted on 3:55:00 PM |

Si Chuan Dou Hua, Doa biar Halal?

Si Chuan Dou Hua ini adalah resto Cina. Dia ada di tiap Hoter Parkroyal di seluruh dunia, termasuk Singapur. 

Kata Google, makanannya enak-enak. Aku sangat tertarik dengan cara penyajian tehnya yang keren.

Sumber foto-foto di atas: Cek ini.
Kebetulan di akhir jadwal di Singapur, Pak Bos mau meneraktir aku dan Echa makan di resto manapunyang kami mau. Tapi ya tapi, meski resto ini selalu kami lewati tiap dari atau ke kamar di Lantai VI, kami tak memilih restoran ini.

Echa selalu bilang "Baca bismillah aja kalo kita gak tau halal ato enggak". Tapi enggak berani lah. Akhirnya Echa numpang nampang aja di depannya.



Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 2:27:00 PM |

Spice Brasserie, the Spice of Singapore




My friend and I are lucky when we got Parkroyal on Kitchner Rd as our place to stay for this weekend in Singapore. One of the lucky thing is that we can get great food here for our breakfast, in one of the restaurant of this hotel called "Spice Brasserie".

You can find many flavour of different tribe in Asia, like the taste of food from Malay, India, China. You can also find western taste. Call it Singapore, the place where you can find every ethnics!

Me and Echa

It's hard to find Indian food which has good taste in Jogja. Great that I find it here. Too bad that Echa --my friend, a Javanese-- does not like it. She eats western food everyday. "This taste is more familiar to me than Indian," she said when she tried curry.

Me? I like it so much. There are many Indian in Medan, so some of the local food gets influence of Indian spice. Oftentimes, my mom cook lamb curry with special 'netty bread' from wheat like the pic below.

Pic from here.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 12:18:00 PM |

Ice Cream Corn with Whitebread

Corn flavour with bread. Yummm...
Man! I am happy to live in a city where you can do walking without barrier. I mean, hard to do it in big cities in Indonesia, since the street-vendor make the sidewalk paving as place to display their goods.

Ow man, do you know what will a city like without street-vendor?
For me, it rather means that you have to taking care of your stomach before you go. Since street-vendor is banned in Singapore, you can't feed your stomach anywhere.

But man, you can find ice cream seller in many corner, just like you can find Abang Bakso in Indonesia (yeah, not that many, indeed). But they are not selling on the sidewalk, but on area of something, like shopping mall, market, park.

It is Wall's bicycle cart. They sell many ice cream flavour, like chocolate, vanilla, corn and durian, serve on horn or whitebread. It remainds me about ice cream in Medan, my Mom's favourite: The corn icecream. You can't vine corn ice cream easily in Jogja. It is also not common in Jogja to eat icecream with slice of whitebread, even there are many ice cream cart provide chopped whitebread with pearlsago.

Tulilut, tulilut... Remember the Wall's jingle?

Back to the ice cream here. For SGD 1.20 you can get a portion of ice cream as big as a half slice of whitebread. The taste is good, very different with the Wall's in Indonesia. I like it.

Man, it's like going back to Medan, my hometown...

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:55:00 PM | No comments

Ganbare, Ai dan Beautiful Days





Itu adalah judul film Ada Apa dengan Cinta dalam versi Jepang. Aku tidak bisa berbahasa Jepang, judul itu kutemukan di sini


RT @MirLes: Tepat hari ini, 10 thn yg lalu, film AADC beredar di bioskop nasional...hayoooo, siapa yg nonton di hari pertama? :p #10thnAADC


Retweet itu muncul tadi sore di linimasa Twitter-ku, dari seorang teman. Aku tidak follow akun Mira Lesmana, namun seharian tadi seliweran retweets dari sejumlah seleb yang juga tidak ku-follow, dari yang ikut berproduksi dalam film ini, hingga yang tidak:



RT @nicsap Tgl 9&10 feb #AADC akan diputar di Blok M Square nonton di bioskop akan beda dgn DVD atau Youtube, apalagi kl bareng temen2 sambil reuni


RT @pandji Selamat utk #10ThnAADC kpd seluruh tim pendukung AADC. Terima kasih sudah jadi film penanda generasi :) http://lockerz.com/s/181818723


Hari ini 10 tahun lalu aku masih muda belia :) belum genap dua semester menjadi mahasiswa di Jogja. Heboh pemutaran AADC, begitu judul film ini biasa disingkat, membuat bioskop-bioskop di Jogja kebanjiran rezeki.


Bioskop-bioskop? Hummm, enggak lah. Bioskop saja. Hanya satu bioskop yang enayangkan AADC di Jogja. Ada Bioskop Mataram dan Bioskop Indra, duo heritage yang saat itu hanya menayangkan film-film Hollywood lawasan (seperti Ramboo) dan film Indonesia lama berbalut adegan ranjang.


Meski tak sejadul dua bisoskop lainnya, Bioskop Mataram ini masuk dalam jajaran bioskop sangat sederhana. Bangunan gedungnya jauh dari gambaran warga kota besar tentang sebuah gedung bioskop. Apalagi bioskop yang merupakan jaringan raksasa usaha layar lebar yang hadir nyaris di seluruh pusat perbelanjaan itu.


Banyak cerita tentang pengunjung yang berada di jajaraan kursi penonton namun tidak membayar tiket. Uniknya, penonton-penonton yang menyelundup ini tidak duduk di kursi, mereka sibuk menggelitiki kaki para penonton berbayar. Ya, mereka itu kawanan tikus yang entah sudah menjadi penghuni tetap bangunan tak terawat itu, entah pula merupakan pengunjung yang benar-benar ingin melihat Cinta dan Rangga, tokoh sentral di film ini.


Kisah seru lain di Bioskop Mataram adalah atap bocor jika hujan dan bangku yang jeglog (anjlok) dimakan usia. Soal debu jangan ditanya. Nah, itu masih soal perawatan gedung. Kabar sound system, lighting dan sebagainya yang berpengaruh pada kualitas tayangan? Ya sama-sama tahulah! :)


Pasca kehilangan Bioskop 21 di kawasan Demangan akibat terbakar di 1998, Bioskop Mataram menjadi satu-satunya andalan para pecinta sinema di Jogja. Bioskop ini memutar film-film baru, bukan film lawas seperti dua bioskop lainnya. Film yang rutin diputar adalah film keluaran Hollywood, meski tiap film yang hari ini rilis perdana, baru akan bisa dinikmati publik Jogja setahun kemudian, atau lebih lama sekitar 6 bulan dari rilis di Jakarta.


Alasan pemutaran film Hollywood tentu saja akibat kala itu tak ada produksi film Indonesia. Film nasional sempat mati suri. Film Petualangan Sherina yang dirilis dua tahun sebelum AADC menjadi semacam pembuka jalan bagi lahirnya film-film indonesia lainnya, meski AADC ini benar-benar menjadi trigger industri perfilman nasional.


Cintanya Baik
Sebagai cewe berstatus remaja tua - dewasa awal (ini kategori acuan program Keluarga Berencana), saat itu ketidakminatanku untuk menyaksikan AADC selalu menjadi hal aneh bagi teman-teman sebayaku. Film terspektakuler sepanjang hidupanku itu (kecuali film Warkop masuk hitungan), tak lntas menarik minatku. Ada sih keinginan untuk melihat, tapi nanti-nanti sejalah, setelah antrean menyepi. Namun nyatanya, hingga poster yang terpampang lebih dari dua bulan di Bioskop Mataram itu diturunkan, aku belum juga duduk di sana, menikmati kisah cinta remaja bersama para penonton gelap yang akan menari riang di kakiku.


Saat itu, karcis nonton AADC dibanderol Rp 5.000 (atau Rp 7.500 yah?). Nominal ini setara dengan harga setengah kilogram beras kualitas lumayan di pasar Jogja hari ini. Aku tak tahu harga karcis untuk film yang sama di Bioskop 21 kala itu.


Seorang reporter dari media kampus tempatku berkegiatan diminta untuk meliput kehebohan AADC. SKM UGM Bulaksumur sebenarnya merupakan media komunitas yang lebih banyak meliput kegiatan kampus. Namun dengan slogan "Dari manapun, oleh dan untuk mahasiswa UGM", tema ini menjadi relevan, mengingat mahasiswa adalah pangsa besar pemutaran AADC di Jogja.


"Cintanya Baik-baik Saja, Kok!" begitu judul reportasi Ika Krismantari, teman yang meliput. Aku tak terlalu ingat isi dari liputannya. Maaf, namun akan kutambahkan di sini jika menemukan artikelnya. Saat itu SKM Bulaksumur tentu saja belum memiliki media online.


Pertengahan 2002
Aku terlibat di Teater Gardanalla. Dalam sejumlah latihan dasar akting, adegan yang sarat emosi dari film AADC seringkali dijadikan contoh. Aku yakin ini bukan akibat para pemain filmnya memiliki akting yang baik, namun setting dalam film itu mudah berubah: dari sedih menjadi riang, lalu marah, dan seterusnya.


Seorang teman sesama aktor yang lebih dulu bergabung dengan Teater Gardanalla berulangkali menganjurkanku untuk menonton film AADC untuk mempelajari intonasi percakapan. Dia sampai meminjamkan VCD yang tetap kubawa pulang namun tak pernah sempat kutonton itu.


Yang menyenangkan adalah fakta bahwa Wisnu Aji Kristianto, temanku ini, begitu hafal nyaris di tiap adegan penting (penting menurut dia untuk mengolah kepekaan aktingku). Berikut kata-kata yang seringkali dia ucapkan:


  • Kita? Elo aja kali sama kambing!
  • Kamu? | Ya, kamu. | Biasanya juga elo-gue...
  • Kalo bisa ngerjain sendiri, kenapa harus pakai pembantu? | Kalo ada pembantu, kenapa harus ngerjain sendiri?
...dan masih ada kata-kata lain yang kini telah lenyap dari ingatanku :|


Tak hanya dialog, Aji juga hafal seluruh adegan. Seperti adegan Rangga yang menunduk memegang bukunya dan adegan Cinta yang menoleh ke belakang saat meninggalkan Rangga. Yang lebih mencengangkan adalah, semua *humm, oke tidak semua* banyak orang yang mengeluarkan ucapan dan bahasa tubuh yang sama dalam pergaulan sehari-hari.

Jogja yang berkultur aku-kamu mendadak jadi ber-gue-elo, meski dengan logat yang medok. Para remaja putri (ini bahasa ala Mustika Ratu) mulai memanjangkan rambut dan membeli bando lebar. Siswi melepaskan jahitan bawah rok sekolahnya lalu menaikkan beberapa senti hingga setengah paha, membeli kaos kaki putih setinggi betis ala pesepak bola, dan mengecilkan kemeja seragam hingga ngepas di tubuh. Ada pula sejumlah jaket, kaos, dan celana yang diklaim penggemarnya sebagai: Bajunya Cinta.

Selain mengoleksi semua hal yang berhubungan dengan AADC dan para tokoh pemerannya, penerbit buku pun turut memainkan peranan. Buku berjudul "Aku" karya Syumandjaja yang sudah langka itu kemudian dicetak kembali. Ini untuk memenuhi permintaan pasar yang luar biasa. Ya, paling tidak, ada generasi baru yang membaca sastra lokal di tengah dominasi novel Harry Potter yang begitu kukagumi :) Lapak-lapak buku bekas di Kwitang Jakarta pun kabarnya mengalami peningkatan pengunjung.

2009
Film AADC harus diakui begitu dalam memengaruhi gaya hidup kaum muda Indonesia kala itu (dan hingga kini?). Selain mampu menyeragamkan budaya anak muda dari Sabang hingga Merauke (selama mereka dapat menyaksikan AADC, entah melalui bioskop, VCD bajakan, atau pemutaran bersama ala layar tancap) dengan gaya metropop ala Jakartasentris, film ini juga mampu mengubah konstruksi sosial mengenai kehidupan intimasi lewat adegan paling spektakuler: Rangga mencium bibir Cinta di bandara.

Adegan ini ternyata disensor (dengan pemotongan sepersekian detik) oleh Komisi Peyiaran Indonesia ketika ditayangkan di televisi, setahun setelah beredar di bioskop. Meski begitu, Lembaga Sensor Film meloloskan adegan tersebut secaa utuh tanpa potongan. 


Banyak kelompok membicarakan adegan ini. Pro - kontra hadir dalam berbagai diskusi. Muncul sebuah fakta menarik ketika kemudian wacana ciuman di ranah publik dipahami oleh remaja kala itu sebagai sesuatu yang baru dan pantas untuk dilakukan. Ya, pantas, sepantas yang dilakukan oleh Rangga - Cinta.

Aha! beberapa bulan kemudian, Teater Gardanalla menggarap sebuah proyek yang terinspirasi dari adegan tersebut. Lalu muncullah gambar sepasang remaja di Jogja yang sedang berciuman romantis di tengah keramaian kota. Gambar ini beserta opini masyarakat atas kejadian tersebut kemudian dipamerkan dalam sebuah pemeran di Rumah Seni Cemeti Jogja.




Tujuh tahun kemudian akupun membuat sebuah tulisan ilmiah bertema cium-mencium ini. "Persepsi Masyarakat Yogyakarta terhadap Praktik Ciuman Romantis di Ruang Publik" menjadi judul skripsi yang kukerjakan selama setahun. Ada sejumlah hal menarik terkait budaya masyarakat dari temuanku di lapangan mengenai jawaban atas pertanyaan risetku.


Intinya, masyarakat Jogja merasa risih dengan adegan ciuman di tempat umum, mereka takut jika anak-anak remaja mereka meniru, lalu akan menubah tatanan budaya Jawa yang mereka anut. Meski demikian, mereka tak merespon keras ketika melihat kejadian tersebut di depan mata mereka sendiri.


Mengacu pada @pandji, aku setuju bahwa AADC berhasil memosisikan dirinya sebagai penanda zaman, terutama zaman di mana kehidupan remaja Indonesia mendapat sorotan. Simak komentar berikut:


RT @RIRISkya: AADC membuktikan kalo kehidupan anak sma sejatinya memang lebih indah saat belom apa bb, twitter, dan 711.#10ThnAADC


Saat aku menulis ini, hashtag #10ThnAADC yang sepertinya dipopulerkan oleh @MirLes ini tidak menjadi trending topic di Indonesia. Eeh di saat yang sama, malah "Harry Potter Will Be Remembered" yang populer :))

Teman, aku bukan satu-nya remaja 2002 yang belum menonton AADC. Lihat pengakuan yang tak jelas kebenarannya ini:

RT @hazelnadya But then again, a bit confession.. I haven't watch AADC..#NgumpetDiKolongGot #PastiDiketawainSatuNusaSatuBangsa


Oke, aku barusan googling film AADC. Mari menonton!



 Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
 Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
 Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
 Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

 Bosan aku dengan penat,
 dan enyah saja kau, pekat!

 Seperti berjelaga jika aku sendiri
 Pecahkan saja gelasnya biar ramai
 Biar mengaduh sampai gaduh

 Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
 di tembok keraton putih
 Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
 Biar terderah,
 atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata