Monday, May 28, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:19:00 AM | No comments

All the Bad News

Pic from here.
Ken White, an Australian volunteer who had worked in my office, send an email. He told me about his happiness with Annick, his wife, who live comfortably in Langkawi, Malaysia, in a private yacht which they named "Jalan-jalan".

He started his email with "How was the 24th of May 2012 for you?" Don't know what makes my hands typing a reply like this, on the phone while lying in my bed-rest time. First 'outpouring of the heart' to others, about Ndil ...

#

Bapak Ken sayang,

So glad to hear you and Annick have wonderful day. Hopefully also for May 25, 26, 27, 28 and the rest of the days, on your boat journey :)

My 24th May is not really good. I had pain on my headache & my body felt cold. Last night i went to hospital and found that i get typhoid fever now.

Too bad, since i only have 2 nights to take rest--even the doctor's letter gives me a week to stay in bed--cause tomorrow is my first time in my new office. It will not good to ask for permission on my very first day.

Since the last three months, I had nice journeys while traveling to many places. I have a new 'bussiness' now: interested in whatever called heritage, expecially temple.

I spent most time to see, take picture and write about the place i visited. The last time was Muarojambi, the temple in Sumatra.

I asked my ex boss (not the one in CRI, but a Proffesor in Universitas Gadjah Mada), to give me a freelance job. He needed me to write his report, he paid me with ticket to Muarojambi :)

I am so happy. Muarojambi Temple is one of infamous heritage. But you know what? This is where Tibetian's Buddhist began!

I went with my boyfriend, he paid his own tickets. We have same interest in heritage, so we build a database system called "Indonesian Heritage Inventory", you can access it here: indonesianheritage.web.id

Our visit was an invitation from local activists who needs practician to make documentation for the temple, which is now in endangered situation by stockpile of coal mining activities.

Together with us, there is a fotographer, a videographer, and also Mrs Elizabeth Inandiak (indonesianist, France author).

I planned to have a week there in Muarojambi (from 18-26), while my bf only 3 days. But i had a bad flu on my 3rd night there, so he decided to bought my new tickets so i can comeback home together with him.

Now I know that headache & faver is not always a common (simple) sick. Tired & sleeplees is the most reason to get typhoid :))

And another bad news is: I have got broken hearted, just the 2nd day of our stay in Muarojambi. Yes, being single and unhealthy is not good :))

Thats all from me. All the bad news. Humm, during this bedrest, i am planning to have another trip soon. Hahaha, i need to be happy like you do.

Arround September i will fly to Malaysia, hopefully we can meet somewhere there. Need some recommendation from you about cultural heritage sites i should see.

Nice to hear from you, always. Send my hugs to Annick.

AZ

*are you still updating the lettersfromindonesia.blogspot since you are in Malay now?

#

Mlekom,
AZ

Thursday, May 24, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:58:00 PM |

Bolu Kukus Ubi Ungu






Ini kali ketiga mama bikin kue ini. Kali ini untuk hantaran mengunjungi teman lama papa. Trims, Ma. Selalu enak dan cantik! :)

Mlekom,
AZ 

Wednesday, May 23, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:02:00 PM |

Kue Ketan Srikaya


Aku sangat suka srikaya. Di Medan, srikaya dijual di toko-toko roti, sebab ia menjadi selai roti tawar. Di Jogja tak ada. Mama sering buat, mewarnainya dengan pandan agar alami.

Selain untuk teman roti tawar, srikaya bikinan Mama biasanya juga digandengkan dengan ketan kukus. Lezat. Selalu! :)

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 10:02:00 AM |

Call for Paper: Jurnal Penanggulangan Bencana


Jurnal Penanggulangan Bencana adalah jurnal ilmiah populer yang diterbitkan oleh Pusat Data, Informasidan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB). Jurnal Penanggulangan Bencana diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember. 

Jurnal Penanggulangan Bencana bertujuan sebagai wadah untuk menampung ide, gagasan, pengalaman dalam penanggulangan bencana bagi akademisi, peneliti, praktisi, pelakupenanggulangan bencana dan sebagainya. 

Guna meningkatkan sosialisasi penanggulangan bencana kepada masyarakat, maka Jurnal Penanggulangan Bencana ini didistribusikan dalam lingkungan BNPB,kementerian lembaga, 33 BPBD tingkat provinsi dan 367 BPBD Kab/Kota.

Redaksi mengundang Bapak/Ibu untuk berkontribusi makalah orisinal baik berupa hasil penelitian ataupun essai kreatif. Makalah tersebut belum pernah diterbitkan oleh jurnal lainnya dan panjang makalah antara 10 -15 halaman dengan mengikuti pedoman penulisan yang dapat dilihat di sini

Adapun tanggal penting berkenaan dengan undangan ini adalah 31 Oktober 2012 sebagai tanggal akhir penerimaan makalah.

Makalah yang masuk akan melalui proses blind review oleh dewan redaksi sebelum diputuskan untuk diterima atau tidaknya. Kriteria penilaian meliputi beberapa aspek, yaitu orisinalitasi makalah, logika ilmiah-mengikuti kaidah ilmiah, kebaruan referensi, kesesuaian dengan pedoman penulisan. Bagi makalah yang dimuat akan diberikan apresiasi sebesar Rp. 100.000,- per lembar (dipotong pajak). Keputusan dewan redaksi mengenai diterima atau tidaknya sebuah makalah bersifat mutlak.

Bila ada yang ingin dikonfirmasikan lebih lanjut, dapat menghubungi redaksi Jurnal PenanggulanganBencana, dengan alamat sebagai berikut:

Redaksi Jurnal Penanggulangan Bencana
Jln. Ir. H. Djuanda No. 36 Jakarta Pusat, 10120
Tel: 021-3458400; 
Fax: 021-3458500
Email: redaksijurnal@bnpb.go.id

*
Sumber dari sini.

Tuesday, May 22, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:14:00 PM |

Tumis Tahu Seafood


Lagi batuk-pilek. Tidak ramah makanan yang digoreng. Mendadak pengen masak sendiri, sebab susah cari makanan yang ramah penderita batuk.

Di kulkas ada toge, tahu, ayam, udang. Kutumis dengan lada hitam. Jadinya begini :)

Mlekom,
AZ

Saturday, May 19, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:38:00 PM |

Catatan Geoheritage Trip

Minggu (13/05) pukul 07.30 aku tiba di TBY, tempat ngumpul yang disepakati oleh panitia. Ternyata belum ada yang datang. Sambil menunggu, aku jalan ke Malioboro, menemui teman-teman dari komunitas Peta Hijau yang sedang mengadakan Survei Peta Hijau Pejalan Kaki Kawasan Malioboro.

Setengah jam, teman-teman Geoharitage Trip belum tiba di TBY. Aku duduk di bangku taman trotoar depan Benteng Vredeburg. Sarapan soto gerobak sambil melihat rombongan senam di tengah jalan Akhmad Yani yang ditutup tiap Minggu pagi itu.

Ini sepatuku yang dibeli dengan cara memaksa: sekali lihat langsung comot. Dapat warna ngejreng. Seru juga, ini sepatu kets merah pertamaku. Kubeli malamnya bersama Ndil, demi perjalanan geoheritage trip. Di benakku, ini akan menjadi perjalanan penuh petualangan alam: lee-wa-ti guu-nung tuu-ru-ni lem-bah...

Semalam kumasukkan ini di bagpack-ku:
  1. Satu kaos + satu celana tambahan, barangkali basah atau kotor.
  2. Kacamataitem dan payung. Pagi itu mendung.
  3. Sandal jepit dan kaos kaki. Mungkin sepatuku basah/berlumpur. Mungkin dingin.
  4. Jaket
  5. Raincoat
  6. Panadol Ekstra, obat sakit kepala andalan berwarna merah itu.
  7. Air mineral
  8. Cemilan
  9. Kamera
Wardrobeku:
  1. kaos hitam
  2. kemeja lengan panjang
  3. jeans longgar
  4. kets + kaos kaki
Kostum siap tempur!
08.30 akhirnya dikabari Mbak Sinta kalau semua sudah ngumpul. Aku kembali berjalan ke TBY, menyusuri trotoar Pasar Bringharjo yang pagarnya sungguh bau pesing :|

Kami berkenalan. Ternyata ada Opah Cuk Riomandha yang kukenal di Komunitas BOL BRUTU. Lalu Aisyah Hilal (Mbak Ilal, kami sudah berteman di FB, baru ini kenalan), C Prasetyadi (Pak Pras, dosen Geologi UPN Yogyakarta) yang akan menjadi pemandu kami, dan Popok Tri Wahyudi (Mas Popok, penyelam!), dan tentu Sinta Carolina. 

Usai breafing, akhirnya kami berangkat juga. Mundur 1.5 jam akibat mobil rentalan yang datang terlambat. Masing-masing kami mendapat bekal sebendel dokumen perjalanan ini, sebotol besar air mineral, dan sebuah blocknote yang didalamnya berisi 9 poin pertanyaan yang perlu kami komentari usai perjalanan ini. Juga ada beragam cemilan untuk dibagi di mobil.

Dalam perjalanan bertajuk "Fieldtrip Geoheritage: Jogja Riwayatmu Dulu" ini, kami mendapat kuliah dari Pak Pras, di mobil, di jalan, di situs-situsnya. Sangat menarik, hal yang sangat baru bagi kami yang dalam keseharian tidak menyentuh area ini. eh ternyata semua belum mengerti tentang geoheritage ini, meski sudah membaca ToR yang dikirimkan bersama undangan.

Stop Site I: Lava Bantal
Lokasi: Berbah, Sleman, DIY
Tak sampai setengah jam, kami tiba di lokasi ini. Inilah kesaksian pertama kami tentang pembentukan pulau Jawa. Tempat ini sangat indah, ingin rasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk meyusuri sungai kecil ini.

Namun sayang, kami hanya setengah jam di sini. Waktu singkat itu diisi dengan kuliah visual dari Pak Pras. Visual langsung dari benda yang dapat kusentuh dan lihat langsung. Di sini terlihat betapa Pak Pras memiliki seluruh informasi mengenai sejarah dan peta geologi di lokasi ini.

Catatanku tentang Lava Bantal ada di sini.

Pak Pras

Stop Site II: Endapan Piroklastik
Lokasi: Candi Ijo, Kalasan, Klaten
Untuk melengkapi paparannya, Pak Pras membawa alat-alat geologi. Kami bisa belajar mengamati ala peneliti.

Catatanku mengenai Endapan Abu Vulkanik ini ada di sini.



Mengamati usia batuan dari struktur material pembentuk. 

Foto atas: aku. Foto bawah: Cuk Riomandha

Stop Site III: Sidemen Konglomerat - Sekar Bolo
Lokasi: Jiwo Barat, Bayat, Klaten
Dalam pejalanan menuju lokasi ini, kami melewati pertigaan menuju sebuah desa pengrajin gerobak angkringan. Ah, menarik sekali. Kapan-kapan harus dikunjungi!

Tiba di Sekar Bolo, Pak Pras meminta izin pada pemilik rumah yang tampaknya sudah sangat akrab dengan beliau. Ya, beliau mengajak tiap mahasiswanya ke sini. Kami akan mampir ke halaman belakang rumah ini. 

Halaman belakang? Ya, salah satu jejak singkapan batuan sedimen konglomerat ini ada di halaman belakang rumah warga. Tidak halaman juga sih, mungkin tepatnya kebun. Sayang, ada air yang mengalir dari rumah tersebut. Mungkin sisa pembuangan kamar mandi. Wuih, mengapa tidak dicarikan titik lain, ya? Namun, tentu saja pemilihan tempat ini sudah dipertimbangkan matang, seperti terkait daya jangkau yang mudah dan kelengkapan jenis bebatuan yang akan dipelajari.

Areal ini agak sempit, tak dapat memotret dengan leluasa. Tapi tak apa, hari mulai terik. Kukenakan kacamataitem dan nangkring di bawah atap rumah. Petualang kok takut terik! Hehe :)

...dan aku mlipir cari teduh. Foto: Cuk Riomandha
Di daerah ini ada sebuah makam ulama besar. Saat itu, dan hampir tiap hari, daerah ini ramai lalu-lintas bus berisi rombongan pengajian yang akan ziarah. Namanya Syech Domba, tepatnya di Kampung Ngisor.


Stop Site IV.a: Watu Prau
Lokasi: Perbukitan JiwoTimur, Bayat, Klaten
Di sini kami takjub melihat batuan tertua di Pulau Jawa. Meski hari semakin terik, aku tetap berdiri di tengah sengatan matahari untuk memegang struktur batuannya. Lalu... meneduh di teras rumah warga, ketika yang lain tetap menjemur diri demi bisa mendengarkan penjelasan menarik dari Pak Pras tentang "basement" Pulau Jawa ini.


Stop Site IV.b: Watu Prau
Lokasi: Perbukitan JiwoTimur, Bayat, Klaten
Akhirnya terjawab pertanyaan mengenai nama situs ini: Watuprau. Batu besar yang kami duduki ini berbentuk seperti perahu. Ia tersusun atas batugamping nummulites (apatu, pak?). Wilayah ini kini menjadi hal milik Jurusan Geologi Universitas Gadjah Mada, sebagai laboratorium ajarnya.

Satu-satunya pose bersama. Foto: FB Cuk Riomandha
Stop Site Tambahan: Nasi Trancaman
Lokasi: Jalan Raya Cawas-Klaten, Jawa Tengah
Dalam perjalan menuju situs terpenting bagi hajat hidup ini, ada sebuah tempat yang teramat ingin kujadikan Stop Site Tambahan b: Pabrik cerutu! Opah Cuk bilang, itu pabrik jadul yang membuat cerutu untuk kebutuhan ekspor ke Eropa, terutama Rusia. Mereka menyimpan daun tembakau selama bertahun-tahun untuk produk terbaik. Ah sudahlah, lupakan...

Nah, situs tambahan ini luar biasa. Unik, ayam disatukan dengan sayur trancam.

 

Stop Site V: Jurang Jero.
Lokasi: Perbukitan Tancep, Kecamatan Ngawen.
Di sini kami dapat melihat seluruh wilayah yang sudah dan akan dilalui dalam fieldtrip ini. Berhenti hanya sebentar untuk penjelasan rangkaian geologi, dari laut hingga Gunungapi Merapi di utara yang puncaknya tampak di kejauhan.
Gunungapi Merapi berada jauhhh di kanan anda, wahai pembaca :)

Stop Site VI: Morfologi Wonosari Platform
Lokasi: Desa Nglipar, Wonosari, DIY


Lihat batu endapan material yang kami injak itu beserta seluruh bentang alam di sana. Dulunya, ini merupakan dasar laut. Banyak pertanyaan untuk Pak Pras di lokasi ini. Salah satunya: Jadi mana yang benar? Daratan menghilang atau dasar laut naik ke permukaan?

Untuk menjelaskannya berulangkali, sebab "penonton" tak segera mengerti, Pak Pras menjelaskannya sangat detil dengan gambar yang dicorat-coretnya di kertas. Mengertikah kami? Ya, saat itu. Sekarang sudah lupa lagi :|


Stopsite VII: Bioturbasi Sambipitu
Lokasi: Kali Ngalang

`
Aha, ini situs menarik. Meski tak secantik sungai pertama, dia menyimpan misteri batuan yang membuat kami lagi-lagi terpana. Ada jejak binatang laut yang dalam bahasa Jawa disebut jingking (aku tak mengerti jenis binatang ini bentuknya seperti apa). Aku melihatnya seperti patung legenda Malin Kundang yang ada di Pantai Padang, Sumbar.

Dulunya, situs ini merupakan pantai dari laut lepas. Kebayang, gak?

Kami hanya sebentar di sini, lalu naik ke jalan raya menuju halaman masjid tempat kami memarkir mobil. Halaman masjid, sebab sebelumnya menggunakan toilet masjid ini. Astagfirullah, mampir masjid buat ke belakang... :)

Kebetulan di samping halaman masjid ini ada warung. Tadi sebelum turun ke sungai, sudah memesan kopi. Kopi siap santap dengan beraneka cemilan. Aku membeli dua jenis mainan tradisional yang pernah kumainkan saat SD di Aceh.

Stopsite VIII: Gunungapi Purba
Lokasi: Nglanggran, Wonosari, DIY
Tahukah, ini hanya lima menit perjalanan dari Bukit Pathuk Gunungkidul yang terkenal sebagai tempat tongkrongan dengan view kota Jogja dari ketinggian itu! Situs ini cukup populer. Warga muda di desa ini menggerakkan ecotourism dan menggunakan media Facebook dan website untuk pemasarannya.

Di sini dapat bonus arca di salah satu rumah warga. Opah Cuk manggil aku, sepertinya tak ada yang tertarik selain kami berdua. Kami habiskan 15 menit untuk berbincang dengan pemilik rumah, pemuda pengurus ecotourism, dan penjaga warung. Dasar pemburu batu...

Arca puntung tanpa badan dan kepala. 
Ditemukan di puncak Gunung Purba

Inilah akhir perjalanan panjang kami menyaksikan jejak purba bumi Jawa. Durasi trip yang direncakan 12 jam ini, ternyata lebih singkat. Ini melegakan, sebab otak terasa banjir informasi. Padahal, menurut Pak Pras, trip ini sudah dipangkas untuk mempersingkat waktu. Untuk mengetahui proses pembentukan alam yang lengkap, setidaknya (sepertinya, menurutku) perlu tiga hari.

Meski begitu, delapan situs ini sudah lengkap untuk mempelajari geologi purba dan proses pembentukan Pulau Jawa. Satu per satu akan kubuat tulisan terpisah, segera!

Waktu
Buatku, waktu yang digunakan untuk trip ini terasa begitu singkat. Dengan delapan situs perhentian, sepertinya akan lebih bermakna jika dipisah menjadi dua hari. Mengapa?
  1. Agar ada kelas kuliah singkat mengenai geoheritage yang akan dikunjungi di trip ini. Kuliah dengan bantuan video akan sangat menarik dan membuat orang makin penasaran. Yang paling penting, agar peserta punya gambaran sebelum berangkat.
  2. Agar ada jeda untuk mencerna tiap informasi.
  3. Agar ada waktu untuk menikmati tiap keindahan dari fenomena alam yang tersaji di muka kita.
  4. Agar ada satu waktu dimana terjadi diskusi mendalam antara peserta dan pemandu usai perjalanan, setelah peserta beristirahat dan segar lagi untuk berdiskusi.
Untuk menyasar paket wisata ini bagi keluarga, kupikir perlu dirombak lagi alokasi waktunya. Untuk urusan metode penjelasan pada anak, kuyakin Pak Pras jagonya. Wong kami yang sudah tua-tua ini saja diajari Pak Pras dengan bahasa awam.
 
Pemandu
Saat erupsi Gunungapi Merapi 2010 dan menjadi administrator untuk akun Twitter @jalinmerapi, mau tak mau aku memaksa diri untuk mempelajari geologi Merapi. Jika website pemerintah seperti BPPTK dan BNPB enggunakan bahasa tingkat tinggi yang tak dimengerti orang awam, aku cari rujukan lain. Salah satu yang sering kukunjungi adalah Dongeng Geologi ini. Meski juga menggunakan bahasa geolog, namun penulisnya memuat gambar-gambar yang membuat orang awam sepertiku dapat mengerti, sedikit.

"Pak, maafkan saya jika nanti penjelasan bapak tidak masuk ke otak saya," pesanku di TBY paginya. Nah menurutku, penjelasan Pak Pras ini adalah yang terbaik. Jujur, aku merasa mengerti tentang apa yang dijelaskan selama perjalanan ini. Ya, meski tak semua.

Ah, aku menyayangkan tidak membaca ToR itu dengan seksama sebelum kami memulai perjalanan, agar aku sempat mencari tahu (minimal googling) tentang geologinya..

Bagaimana dengan peserta lain? Aku tak tahu. Tapi, saat perjalanan pulang, kami tertawa-tawa karena merasa bodoh akibat tak dapat menjawab pertanyaan Pak Pras tentang salah satu situs yang telah kami kunjungi... Ya ampun!

Menurutku, ini akibat banjir informasi yang kami terima begitu banyak dalam waktu singkat, tanpa sempat mencernanya. Ngeles, yah!

Kuliner
Warung Ayam Trancam itu menarik. Meski ayam gorengnya tidak istimewa, bumbu sayur trancamnya sangat lezat. Namun seingatku, itu bumbu urap (gudangan), bukan trancam yang biasanya putih ya? CMIIW :)

Makanannya mahal untuk ukuran desa di Jateng, apalagi jika dibandingkan dengan harga makanan di Jogja. Ini sekitar 2x lipat harga Jogja dengan menu sama, ya. Tapi mengenai rasa, dia juara!

Warung ini juga menarik, sebab ada beragam "temuan" langka, seperti sirup dari jejamuan :) Selain itu, posisi warung ini tepat di jam makan, di antara trip panjang ini.



Aku

Aku terkecoh dengan kata "gunung" di nama "Gunung Purba". Pikiranku langsung terbang jauh menuju situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jabar, yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam! Informasi yang tidak lengkap di itinerary membuat isi backpack-ku terasa lebay.

Begitulah. Jika diajak ngetrip lagi dengan rute ke situs-situs yang dipotong demi mempersingkat paket ini, aku siyaph! :)

Terimakasih kepada Mbak Sinta Carolina dan Aisyah Hilal yang telah menjadikan kami bertiga sebagai observer. Jalan-jalan gratis kes situs yang tak pernah kami kunjungi sebelumnya, bonus pengetahuan yang juga tak pernah kami ketahui sebelumnya.

Mlekom,
AZ


Friday, May 18, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 3:36:00 PM |

Mengejar Penerbangan Pertama

Kasur empuk vs terbang pagi...
Mengejar penerbangan pertama di Cengkareng selalu bukan hal mudah bagiku, meski dulu cukup sering melakukannya.

Aku sempat menjadi "komuter" Jogja-Jakarta-Jogja, jaman kuliah di Jogja dan rumah di Jakarta (ituloh, Ciledug yang Jakarta coret itu). Kalau harga tiket murah, ya biasanya naik pesawat. Apalagi jika waktu yang habis di kereta api hanya terpaut sedikit lebih murah jika dibanding keuntungan membayar tiket pesawat yang cuma sejam perjalanan. *Ya oke, tambah sejam perjalanan rumah-bandara*

Ini juga kualami saat masih 'bercinta' dengan dia-yang-orang-Jakarta. Sebagai mahasiswa, waktuku pasti jauh lebih luang dibanding dia-yang-bekerja. Iya, aku memang oudipus yang mencintai lelaki berusia 7 tahun di atasku. TUJUH! *semoga anda puas*

Juga jaman ketika sering tugas luar kota dari kantor. Punya bos super disiplin dan pemarah. Bahkan untuk meminta tantatangannya pun kami sering harus menemui beliau di luar kota. Kantor kami bercabang, jadi beliau bisa berada di kota manapun. Biasanya, untuk hal-hal sepele begini, berhubung aku anak karyawan termuda, maka akulah menjadi tumbal. Kami diharuskan berangkat pagi dari Jogja, lalu pulang sore.

PP di hari yang sama ini untuk menakan ongkos, terutama hotel dan makan. Jika saja Jakarta-Cengkareng tak macet, mungkin kami hanya menginjak bumi Jakarta selama satu jam, atau kurang. Nah, daripada pulang sore, aku biasanya menginap dan mengambil penerbangan pagi di keesokan harinya. Masuk kantor tetap pukul 09.00, dengan pakaian sudah rapi ala tante-tante esmud. Kadang malah sempat pulang, sebab bandara Jogja ke rumah hanya 25 menit dan rumah-kantor 20 menit.

Awalnya masa-masa ini menderita. Lama-lama terbiasa. Tapi itu dulu. Sekarang, hari ini, aku sangat tersiksa. Bangun pukul 03.00, lalu mandi air dingin, menggeret koper (berisi pakaian 2 minggu) ke jalan dan menyetop taksi. Tidur di taksi juga bukan pilihan cerdas, sebab taksi yang tidak kamu pesan sejak semalam bisa jadi bukan taksi yang dapat dipercaya.

Demi tidak terlambat dan menghemat ongkos taksi, aku terpaksa bergabung dengan Ndil yang tidur di kantornya. Cukup tersiksa! Aku tidur di dalam ruang kerja dengan sebuah kasur lipat sangat tipis. Malam ini, kasur itu dihibahkan oleh mas-mas penjaga kantor untukku. Si mas-mas sendiri tidur di ruang luar di sofa, bersama Ndil.

Pagi ini terpaksa berangkat pagi karena alasan tiket yang Rp 150 rb lebih murah dibanding jadwal pukul 07.00, dan makin mahal setelahnya. Tak ada lagi anggota keluarga atau dia yang mengantarku dengan mobil nyaman. Tak ada pula mama yang membawakan bekal makanan.

Yaampun Jakarta, bagaimana mungkin jutaan makhluk bisa hidup di perutmu?
Yaampun Muarojambi, demi kamu aku melakukan ini lagiiii.

Mlekom,
AZ


Thursday, May 17, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 1:08:00 PM |

Si Miskin yang Rewel

Setelah diskusi panjang tentang keinginanku yang teramat sangat agar Ndil ikut ke Muarojambi, akhirnya Ndil terpaksa setuju.

Sejak semalam perasaanku tak enak. Ingin bertemu dia untuk ngobrol langsung. Tadinya niat bertemu di bandara Cengkareng, tapi buatku enggak cukup. Yang pasti, aku juga butuh Ndil untuk membantuku dalam proses pembuatan Greenmap di Muarojambi. He's the best on it!

Setelah berbagai urusanku selesai, siang langsung ke travel agen. Travel temanku. Kupilih di sana, sebab searah dengan rumah Ndil. AKu harus mampir untuk mengambil pakaiannya dan beberapa 'perangkat' untuk membuat pelatihan Greenmap.

Lovina Travel Agent
Mas petugasnya sangat sabar meladeniku yang sibuk memilih jadwal dengan keterbatasan dana yang kupunya. "Pokoknya pilih yang paling murah ya mas!"

Sejam untuk mencorat-coret. Huhuhu, teharu dengan kebaikan si mas. Mungkin akulah pelanggan pertama yang sangat rewel. Ah dasar si miskin yang rewel!

Ini kali pertamaku beli tiket dalam tekanan mendalam (ini bukan ungkapan lebay, sodara!). Jujur, sampai pusing saat merangkai angka-angka berupa jadwal terbang dan bilangan harga. Selama ini sepertinya perjalanan mudah-mudah saja. Jika tidak dipesankan keluarga, ya dipilihkan kantor. Simpel!


Segenap perjuangan
Akhirnya dapat tiket berikut:
JOG-CGK 18.50, untukku sore nanti
CGK-DJB 05.45, untuk kami besok :(
DJB-CGK 07.40, untuk Ndil
CGK-JOG 11.15, untuk Ndil

Aku belum beli tiket pulang, sebab masih harus menyesuaikan jadwal dengan teman-teman lain, dengan agenda ini

Muarojambi, kami datang!

Hummm, masih harus buru-buru melakukan sejumlah hal lagi sih, sebelum ke bandara.

Mlekom,
AZ








Posted by adriani zulivan Posted on 7:38:00 AM |

Bukan Supermen


Sejak semalam ngidam coklat ini. Setelah puluhan tahun mencintainya, baru hari ini kutahu bahwa ternyata judulnya bukan "Supermen" :)

Mlekom,
AZ

Tuesday, May 15, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:27:00 PM |

Sowan Sojiwan



Perjalanan kembali ke Jogja dari Salatiga tadi tidak begitu menyenangkan, sebab kepalaku begitu sakit akibat terkena panas. Lagi-lagi, kacamata gelap tak mampu halau sinar matahari yang begitu terik menghujam mataku.

Sepanjang jalan kurebahkan sandaran kursi, berusaha tidur. Tiba-tiba mobil berhenti.
"Kenapa?" tanyaku pada Ndil.
"Gak papa"
"Ngapain berhenti? Aku pengen cepat nyampe..."
"Lihat itu" tunjuknya pada sesuatu di kiriku.

Itu candi. Kuturunkan kaca, ambil kamera.
"Yuk turun," kata Ndil.
"Nggak deh, aku motret dari sini aja."
"Ayo, aku tunjukkan sesuatu, mumpung sudah di sini. Banyak cerita binatang di reliefnya."

Dan kami turun. Keliling sekitar setengah jam. Lama juga :)

Cerita tentang candi ini akan kutulis kemudian, yah!

Trims Ndil :-*

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 7:02:00 AM |

Berebut Pembeli


Pagi di depan gang rumah Jogja. 7 pedagang berebut pembeli: 2 sayur, 2 sarapan, 1 snack, 1 jamu.

Mlekom,
AZ

Monday, May 14, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:20:00 PM | No comments

Lubang Mengintip


Lokasi: Stasiun Tugu, Yogyakarta

Oops!

Mlekom,
AZ

20140514

Sunday, May 13, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 2:43:00 PM |

Endapan Abu Vulkanik, Prambanan

Stop Site II Geoheritage Trip

Di lokasi ini terdapat singkapan batuan endapan debu gunungapi purba, membentuk morfologi bukit. Oleh penduduk lokal bukit ini ditambang menghasilkan kupasan tebing setinggi 30 m, menyingkap dengan segar bebatuan penyusunnya yang umumnya terdiri dari perlapisan debu gunungapi mengandung fragmen-fargmen batu apung (pumice).
Kehadiran batuapung ini membuktikan dengan sangat meyakinkan bahwa perlapisan ini merupakan hasil letusan gunungapi yang eksplosif. Batuan semacam ini banyak dijumpai mulai dari perbukitan di daerah Parangtritis sampai di daerah Wonogiri dan dengan ketebalan antara 300-600 m. Singkapan terbaik terdapat di Desa Semilir, di Kecamatan Pathuk, DIY, sehingga formasi batuan ini disebut Formasi Semilir.
Formasi ini, secara stratigrafi (urutan perlapisan), berada di atas Lava Bantal Berbah. Distribusi yang luas dan dengan ketebalan yang besar mengindikasikan bahwa Formasi Semilir ini dihasilkan dari suatu peristiwa rangkaian letusan gunungapi yang besar 20 jt th lalu yang kemungkinan tidak kalah dahsyat dengan letusan Toba Volcano. Oleh karenanya formasi ini disebut sebagai hasil super eruption dari Semilir Volcano (Smyth et al. 2005).
Dari Lava Bantal Berbah yang berada di bawah menuju ke Formasi Semilir yang berada di atasnya, berarti kita melihat bukti perkembangan suatu busur gunungapi yang pada awalnya ditandai dengan volkanisme ‘monogenesis’ (hanya menghasilkan satu lelehan lava) di bawah laut, kemudian berkembang menjadi volkanisme ‘poligenesis’ yang menghasilkan gunungapi strato (terdiri dari perselingan lava dan volkaniklastik), dan dipuncaki dengan peristiwa super eruption Gunungapi Semilir.
Formasi Semilir ditumpangi oleh Formasi Nglanggran, yang lebih muda yang terdiri dari breksi andesit dan sedikit lava andesit. Hadirnya Formasi Nglanggran menunjukkan bahwa setelah terbentuk hamparan luas hasil letusan katastrofis Gunungapi Semilir, kemudian disusul dengan tumbuhnya gunungapi strato baru, yakni Gunungapi Nglanggran. [C. Prasetyadi]

Lokasi tebing ini tak jauh dari situs Candi Ijo di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jateng; atau sekitar 20 menit dari gerbang kompleks Candi Prambanan. 

Di sini kita dapat melihat sebuah tebing batu apung (gamping) yang ditambang masyarakat untuk bahan bangunan. Sedih mendengar cerita tentang eksploitasinya. Tebing ini dibagi-bagi sesuai kepemilikan (ya, tebing dijual-belikan!). Para pekerja yang berada di sana menggarap lahan juragannya masing-masing.


Berapa lama kira-kira tebing setinggi 30 meter ini akan habis? Tak lama! Sebuah lapangan besar di seberangnya habis hanya dalam waktu empat tahun. Kuulang: EMPAT tahun saja!

Lapangan luas itu dulunya tebing piroklastik!
Jika tebing ini habis, maka pengusaha tambang akan mencari bukit-bukit baru untuk dipecahkan, lalu dijual. Jangan kaget jika di kemudian hari, anak-cucu kita tak sempat melihat jejak endapan vulkanik.


Kegiatan penambangan


Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 1:26:00 PM |

Lava Bantal, Berbah, Sleman

Stop Site I Geoheritage Trip
Lihat struktur batuannya.
Lava bantal terbentuk akibat dari lava hasil erupsi lelehan yang langsung kontak dengan fluida (masa air, bisa di laut atau danau). Pembekuan yang cepat karena kontak dengan masa air menyebabkan mineral-mineralnya tidak terbentuk dengan baik, dan membentuk geometri mirip bantal sehingga disebut lava bantal atau pillow lava.
Umur lava bantal Berbah ini diperkirakan lebih tua dari 30 jt th. Dari perkiraan umur dan komposisi yang basaltis diperkirakan gejala erupsi lelehan ini merupakan cikal-bakal gunungapi di Pulau Jawa yang kemudian berkembang menjadi himpunan gunungapi strato (disebut himpunan batuannya sebagai OAF-Old Andesite Formation), yang erupsinya eksplosif, dan dengan komposisi umum andesitik. Jadi lava bantal Berbah ini representasi dari bentuk awal volkanisme Pulau Jawa.
Singkapan seperti ini tidak banyak dijumpai di sepanjang Pegunungan Selatan Jawa, lava Berbah adalah yang terbaik. Kelangkaan ini mempertegas bahwa lava ini merupakan fase awal mulai munculnya gunungapi di Jawa. [C. Prasetyadi]
Tak sulit mencapai lokasi ini, hanya 15 menit dari Perumahan Blok O di timur Jogja Kota. Meski tak sepopuler Kali Progo, sungai ini cukup dikenal masyarakat Jogja.


Singkapan formasi batuan di sungai ini membuat Kali Berbah sangat cantik. Tak sedikit juru foto membuat sesi pemotretan di sini. Namun, sepertinya sungai ini tak masuk destinasi wisata andalan. Tak ada papan petunjuk. Tak ada jalur khusus pengunjung. Tak ada pula areal luas bebas hunian yang dapat dijadikan semacam pantai untuk menikmati suasana. Atau entahlah, mungkin aku yang tak tahu bahwa itu semua ada.

Batu di kiri dan di seberang berasal dari dua zaman berbeda, lho!
Untuk menuju lokasi ini, turunlah di sebuah papan nama bengkel mobil. Parkir kendaraan anda di pinggir jalan. Lalu masuklah ke halaman rumah bengkel tersebut. Minta izinlah untuk turun ke sungai, sebab jalan ke sungai itu berada di belakang rumah tersebut.

Masuklah ke halaman bengkel ini.
Sayang jika lokasi ini tidak diketahui banyak orang? Ya, menurutku. Sebab dengan mengetahui, orang akan mendapat lebih banyak pelajaran tentang geoheritage. Sayang jika potensinya tidak dimanfaatkan untuk industri wisata? Tidak, menurutku. Biarkan ia tak terjamah kapital, agar terus indah dan lestari.

Jembatan itu adalah jalan raya.
Hummm, ngomong-ngomong tentang lestari, saat kami sedang "kuliah alam" tentang geoheritage di sini, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor berhenti di jembatan persis di atas sungai. Tiba-tiba "Bugh!" ada suara keras dentaman di air. Ternyata, pengendara motor berhenti untuk membuang seplastik besar kain perca, ke dalam sungai.

"Hoy!" teriakku kencang, spontan.

Motor itu pergi, tak pedulikan teriakanku. Dia, seorang ayah. Membonceng gadis kecil di belakang. Mendidik salah anaknya, tentang membuang sampah. Sayang...

Jembatan ini menjadi jalan raya yang menghubungkan dua daerah yang diputus Kali Berbah. Ada satu jembatan tua di sebelahnya.


Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 6:37:00 AM |

Si Ngejreng

Pagi, Malioboro. Si Ngejreng usia semalam :)

Perkenalkan. Ini Si Ngejreng. Dibeli tadi malam untuk menyambut perjalanan panjang rute Geoheritage trip hari ini. 

Dia dibeliin Ndil, dengan segenap perjuangan:  
  • ngabur sejam dari agendanya yang padat (ambil jam magrib dengan alasan akan mandi, padahal tak sempat mandi juga), 
  • lalu ke emol, muter-muter pilih sepatu (tak terlalu lama di sini), 
  • mengantri kasir (ini cukup lama), dan 
  • mengantarku pulang.

Trims, Ndil. Selalu! :*

Mlekom,
AZ 

*Eh aku bilang ini utang lho, yah!

Wednesday, May 9, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:52:00 PM |

Official Statement UGM tentang Pembubaran Diskusi Irshad Manji

Terkait dengan batalnya diskusi dengan Irshad Manji di Center for Religious and Cross Cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
  1. UGM menjunjung tinggi kebebasan akademik di lingkungan UGM dengan menyelenggarakan dan memfasilitasi berbagai diskusi dengan berbagai tema dalam berbagai format diskusi. UGM mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dan Keilmuan. Dalam azas keilmuan tersebut kebebasan akademik dijunjung dan tetap ditujukan untuk kemanfaatan dan kebahagiaan. Bila dilihat akan ada mudharat, diskusi ilmu dicari cara lain yang memberi manfaat dengan menghindari mudharat. UGM tidak pernah melarang kedatangan Irshad Manji ke UGM, diskusi dibatalkan karena alasan pada poin 2 berikut.
  2. Pada Selasa (8/5/12) sekitar pk 22.30 UGM didatangi ratusan massa yang meminta diskusi dengan Irshad Manji dibatalkan. Juga adanya  masukan dari beberapa pihak terkait hal tersebut. UGM mempertimbangkan hal ini sebagai upaya UGM dalam menjaga keamanan tamu UGM, warga kampus, dan mitra kerja. Dalam hal keamanan ini UGM menganggap perlu kehati-hatian ekstra mengingat kondisi keamanan yang akhir-akhir ini tidak kondusif.
  3. UGM tetap berkomitmen untuk menegakkan kebebasan akademik, namun perlu dukungan dari semua pihak dalam pelaksanaannya agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Demikian informasi ini kami sampaikan agar masyarakat dapat memahami kondisi yang ada dengan lebih komprehensif. Terima kasih.


*
 Gambar: http://bit.ly/JdyrdT

Statement ini tidak dilansir di situs resmi http://ugm.ac.id/, sepertinya disebar di forum Fortagama. Ini saya dapat dari Prof Danang Parikesit (Ketua LPPM UGM) yang memperolehnya dari Bagian Humas UGM, a/n Wiwit Wijayanti.

Mlekom,
AZ

Tuesday, May 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:33:00 PM |

ADRIANI



Adriani
by George Sand, Eliakim Littell, Robert S. Littell

This is a reproduction of a book published before 1923. This book may have occasional imperfections such as missing or blurred pages, poor pictures, errant marks, etc. that were either part of the original artifact, or were introduced by the scanning process. We believe this work is culturally important, and despite the imperfections, have elected to bring it back into print as part of our continuing commitment to the preservation of printed works worldwide. We appreciate your understanding of the imperfections in the preservation process, and hope you enjoy this valuable book
___________________________________________________________________________

Paperback, 650 pages
Published February 3rd 2010 by Nabu Press (first published 1993)
ISBN 1143470958 (ISBN13: 9781143470950)
Edition language: French
Original title: Adriani

Other Edition:


*
I just know that there is a book named... my name :)

Mlekom,
AZ

Copas:  
Posted by adriani zulivan Posted on 11:32:00 AM |

Undangan Geoheritage Trip

Hai Adriani,

Aisyah Hilal dan Sinta Carolina hendak mengundangmu ikut dalam sebuah trip bertema GeoHeritage, dengan rute Jogja-Berbah-Prambanan-Bayat-Ngawen-Nglipar-Nglanggran (Pathuk)-Jogja. Kami bekerja sama dengan Tim dari Jurusan Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta. Trip akan kami lakukan pada Minggu 13 Mei 2012, mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Demi kemudahan koordinasi, titik pertemuan adalah di area Taman Budaya Yogyakarta Jln.Sriwedani No.1, pukul 07.30 WIB tepat.

Kamu adalah satu dari empat teman yang kami ajak untuk perjalanan ini. Mungkin kamu bertanya-tanya, kali ini dalam rangka apa ya kira-kira Ilal dan Sinta mengajak kamu dolan? Nah! Ilal dan Sinta sedang coba menggagas sebuah usaha penyelenggaraan wisata minat khusus yang khas Jogja, salah satu yang kami siapkan adalah GeoHeritage Trip ini. Untuk menyiapkan agar trip ini siap luncur kepada calon pelanggan, kami hendak mengumpulkan opini dari teman-teman peserta trip kali ini.

Harapan kami, kalian bisa memberi masukan dan komentar tentang pelaksanaan trip ini. Dalam email berikutnya, kami akan kirimkan poin-poin umum yang perlu dicermati untuk diberi masukan dalam trip ini.Demikian dulu dari kami. Kami akan senang sekali jika kamu bisa mengikuti trip yang kami tawarkan ini.

Salam hangat,
Aisyah Hilal & Sinta Carolina

Informasi teknis: 
  1. Kami akan menyediakan mobil untuk perjalanan ini.
  2. Kami akan menyediakan satu botol aqua besar untuk setiap peserta.
  3. Warung Makan Ayam Trancam akan menjadi tempat persinggahan makan siang. Untuk makan siang, para peserta diharap membayar sendiri.
  4. Demi kenyamanan mengikuti trip ini, peserta diharap mengenakan pakaian yang nyaman, sepatu lapangan/kets kasual, dan menyiapkan kebutuhan pribadi, seperti: topi, payung, ponco, tabir surya, dan lain sebagainya.
  5. Seperti telah disebutkan di atas, kita berkumpul di area Taman Budaya Yogyakarta Jln.Sriwedani No.1, tepat pukul 07.30 WIB. Dimohon untuk berkumpul tepat waktu, agar trip juga dapat diselesaikan tepat waktu.
  6. GeoHeritage Trip ini akan dipandu oleh Bpk. C.Prasetyadi, dari Jurusan Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta.

Sedikit pengantar dari Tim Jurusan Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta tentang GeoHeritage: 
Dua peristiwa alam belakangan ini, gempa 2006 dan erupsi Merapi 2010, merupakan bencana alam (bencana geologi) yang traumatis karena besarnya korban yang diakibatkannya. Kebanyakan masyarakat kaget dan tidak siap mental menghadapi kejadian alam ini. Hal ini karena kesadarannya yang masih rendah bahwa kita tinggal ditempat yang merupakan bagian dari wilayah rentan bencana geologi.

Erupsi gunungapi dan gempa tektonik merupakan bagian atau akibat dari proses alamiah geologi yang berlangsung sejak jutaan tahun lalu sampai sekarang bahkan sampai yang akan datang sebagai bagian dari dinamika Bumi. Proses ini berjalan terus tanpa henti dan meninggalkan rekaman-rekaman dalam batuan yang membentuk bentang alam (Pulau Jawa) dimana kita tinggal.

Di wilayah Jogja, di daerah-daerah Berbah, Prambanan, Bayat dan sekitarnya, terdapat bukti atau warisan geologi yang mengandung informasi tentang riwayat daerah Jogja dan sekitarnya sampai ke masa jutaan tahun yang lalu. Warisan geologi ini membentuk cerita yang utuh sejak zaman pra-gunungapi, zaman gunungapi purba dan zaman gunung api masa kini. Warisan geologi yg utuh seperti ini langka dijumpai. Dalam hal inipun Jogja juga bersatus istimewa. Keistimewaan inilah yang akan disosialisasikan sehingga tumbuh apresiasi terhadap masa lalu sehingga berkurang kegamangan dalam menatap masa depan terutama dalam kaitannya “hidup” bersama bencana, bencana gempa dan gunungapi, sehingga kita –sebagai masyarakat- lebih siap dan waspada untuk menghadapi semuanya.

Dalam satu sisi yang lain, warisan geologi yang istimewa tadi juga memiliki keterkaitan dengan tempat atau wilayah lain. Batuan tertua di tanah Jogja dan sekitarnya ternyata berbagi asal yang sama dengan anak-benua India, berasal dari Benua Purba Gondwana.

*
Email itu kudapat tadi. 
Ceritanya, bekerjasama dengan Jurusan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Mbak Ilal dan Mbak Sinta sedang merintis trayek perjalanan wisata minat khusus yang dinamakan Geoheritage Trip. Trip ini akan menjelajah bukti-bukti perjalanan bumi berupa peristiwa geologi yang terjadi jutaan tahun lalu, seperti menghilangnya laut dan terbentuknya daratan. Kita akan diajak melihat sejarah terbentuknya Pulau Jawa, lho!

Rute ini merupakan "laboratorium" bagi mahasiswa jurusan pendidikan ilmu-ilmu bumi, seperti geologi, geografi, perminyakan, dan seterusnya. Geologi UPN Yogyakarta salah satunya. 

Nggak ngeh? Aku juga, sama! :) 
Tapi jangan khawatir, informasi terkait geoheritage dalam trip ini bisa dipelajari di sini. Paket ini juga pernah diperkenalkan dalam sebuah pameran di Jogja, cek beritanya di sini.


Sebelumnya aku pernah mendengar tentang warisan geologi berupa Gunung Purba di Yogyakarta. Namun merasa tidak tertarik, sebab ini pasti akan penuh hal-hal yang tidak masuk akal pikiranku: alam, scientific, geologi...

Kali ini aku langsung mengiyakan ajakan Mbak Sinta, karena kupastikan perjalanan ini akan benar-benar bermuatan heritage, sebab itu "mainan" Mbak Sinta di kantornya: Center for Heritage Conservation (CHC) UGM.

"Siyaph!" jawabku.

Paket wisata ini akan menyasar para petualang, pecinta kegiatan alam, dan tentunya akademisi. Aku? Mungkin diundang sebagai orang yang suka blusukan ke situs-situs pusaka. Ada dua orang undangan lain yang belum kutahu siapa. Kabarnya, kami akan diminta menulis perjalanan kami sebagai rekomendasi bagi pihak penyelenggara untuk kemudian meluncurkan program wisata ini kepada publik.

Geoheritage. Mahluk apakah itu? 
Penasaran? Aku juga, sangat! Tunggu cerita dari sana, yah!

Mlekom,
AZ 


Sumber gambar dari sini.

Saturday, May 5, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:11:00 AM |

Batu Merapi with JALIN Merapi


Menarik video ini. Tentang warga-warga lereng Gunungapi Merapi yang mempunyai tujuan sama, yang berinteraksi dalam komunitas JALIN Merapi.

Secara sederhana, video ini gambarkan jalinan kekuatan lokal untuk hidup berdampingan dengan ancaman bencana.

Damailah Merapi-ku! :)

Mlekom,
AZ

Video milik @Bayu_RakomKFM
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata