Wednesday, July 25, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 4:28:00 PM |

Tiga Hari Keliling Gunung Jateng

Tiga hari berturut-turut, aku dan Elan main ke lereng gunung-gunung yang ada di Jateng. Ya, cuma lereng gunung sih. Hehehe, judulnya lebay yah.

Aku ikut Elan yang punya agenda sosialisasi program kerjanya. Meski kerja, selalu ada bonus kesenangan di akhir kegiatannya.

Hari I: Senin, 23 Juli 2012

Kaki Gunung Merapi 

1. Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten
Kali ini, kami bersama Mas Mart. Berangkat pukul 08.30 dan tiba sejam kemudian di Kantor Lurah Desa Sidorejo. Sosialisasi diadakan untuk Mahasiswa KKN UII yang... masya Allah, bukannya perhatikan orang yang bicara di depan, malah asyik foto-foto narsis sendiri secara sembunyi-sembunyi di bangku mereka. Setelah acara bubar, ini yang mereka lakukan:

Kelakuan mahasiswa KKN UII
Meski hanya ada 1-2 mahasiswa yang tertarik (hanya dua orang bertanya, lainnya saling tolak-tolakan ketika diminta menjawab pertanyaan), sosialisasi ini berjalan baik. Ya, sebab mahasiswa tak mungkin menolak permintaan desa yang memberi mereka nilai untuk KKN-nya ini kan?

2. Kebun Pak Totok
Dari Kantor Lurah, kami ke kebun Pak Totok. Hanya sekitar 1 km mengarah ke puncak Merapi, kami tiba untuk memetik cabai merah! :)


Menuju perjalanan selanjutnya, Desa Balerante, kami melihat proses penambangan pasir material erupsi yang menurut Mas Mart: "Tidak mau belajar dari bencana". Maksudnya, proses menggali dengan lubang-lubang seperti ini berlangsung segera setelah erupsi 2010, namun mereka tidak pernah mau peduli bahwa lubang-lubang besar itu akan berbahaya ketika banjir lahar.


3. Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten
Lama tak bertemu Pak Jainu, Kaur Pemerintahan Desa Balerante. Kami mendatangi rumah beliau yang berada di kilometer 4,5 dari puncak Merapi.

Pak Jainu dan Mas Mart
Akhirnya, untuk pertama kalinya, aku menginjak desa ini. Meski saat tanggap-darurat bencana 2010 lalu sering bertemu warga Balerante, namun hanya di pengungsian. Ketika mampir shalat ashar di masjid dekat rumah Pak Jainu, kami sempat melihat-lihat lingkungan sekitar yang kini sudah bangkit.

Pasca erupsi Gunungapi Merapi pada 2010 lalu, desa ini menggerakkan batik lokal. Pak Jainu memperlihatkan cetakan motif batik cap yang mengandung cerita tentang Merapi. "Kapan-kapan saya lihat ke perajinnya ya, pak!" kataku pada Pak Jainu.


4. Masjid Komaruddin
Pukul 17.00 kami tiba di Bantul, antar Mas Mart. Lalu pulang, mampir ke masjid di Jalan Suryodiningratan Jogja untuk shalat ashar. Begitu salam, langsung adzan magrib. Dapat takjil semangkuk bakso plus segelas teh hangat. Alhamdulillah... Tak lupa kujebloskan sejumlah rupiah ke kotak amal di depan masjid, sebagai ganti makanan enak yang tak kami bayar itu.

Hari II: Selasa, 24 Juli 2012

Kaki Gunung Sindoro - Sumbing

1. Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung
Berangkat dari Jogja pukul 07.30, kami tiba di Temanggung dua jam kemudian. Langsung menjemput Pak Danang di Bappeda, kantornya yang berada di pusat kota. Langsung meluncur ke Desa Kandangan (30 menit) untuk menjemput Pak Taufik, Kaur Pemrintahan Desa Kandangan. Lalu menuju Kantor Kecamatan Bejen (sejam perjalanan).

Acara sosialisasi dimulai pukul 11.00. Kasihan para Lurah yang sudah menunggu sejak pukul 09.00. Kami tak tahu berapa jauh jarak kecamatan tersebut dari Kota Temanggung :(

Yang lain berseragam, aku sandal jepit!
Selain bantu motret kegiatan, aku menjawab sejumlah pertanyaan mengenai program ini (ah, untung aku tahu! Hihihi) dan membantu proses penginstallan software ke laptop masing-masing Kades.

Perjalanan ke-dari kecamatan ini sangat indah. Sejauh mata memandang, gunung dan tanaman terlihat. Biru, hijau. Ah, indah. Ditambah aktivitas warga yang sungguh menarik hati.


Di sepanjang jalan juga melihat iklan sirup merk Astina yang (sayangnya) ditempel di pohon-pohon. Jadi tertarik mencoba rasanya...


2. Toko Kacamata, Kota Temanggung
Aku lupa membawa kacamata hitam. Sepanjang jalan kami pasang mata, mencari penjual kacamata hitam. Mata telanjangku tak kuat terpapar sinar matahari. Ternyata, sepagi itu tak mudah. Sempat memelankan laju mobil di Sleman, Muntilan, dan Magelang. Akhirnya dapat di Temanggung, kota tujuan, setelah kututup mata dengan jaket sepanjang perjalanan. Tak apalah, daripada tidak. 

Kacamata ini kudapat di sebuah optik dekat Pasar Temanggung. Berkaca mika, Rp 20.000,-. Sebenarnya mereka punya bahan kaca seharga Rp 150.000. Namun desainnya norak sekali dengan emas-emasan :)

3. Masjid ... (tidak mencatat namanya)
Acara sosialisasi selesai pukul 16.00. Sejam ke Kandangan, lalu Temanggung Kota, mengantar Pak Taufik dan Pak Danang. Kami mampir di sebuh masjid di ujung Temanggung, untuk shalat ashar dan menunggu maghrib. Dapat takjil lagi. Kujebloskan lagi sejumlah rupiah ke kotak amal untuk makanan dan keakraban luar biasa dari penduduk setempat.


4. Tip Top
Beruntung, jalur Magelang-Jogja tidak macet. Kami tiba dua jam kemudian. Lalu mampir cari makan. Sebab perut tak terlalu lapar, kami memilih Tip Top, warung eskrim jadul di Mangkubumi.

Hari III: Rabu, 25 Juli 2012

Kaki Gunung Sindoro-Sumbing

1. Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung
Hari ini masih di Temanggung. Tadinya tidak mau ikut, tapi mengingat aku belum ke satupun situs arkeologi di kabupaten ini, aku paksakan diri untuk ikut lagi. 

Kemarin pagi, sebelum berangkat, kucetak informasi di internet tentang Situs Liyangan. Kemarin memang tak ada waktu untuk jalan. Namun hari ini, karena berangkat lebih pagi, kami bisa menyelesaikan sosialisasi hingga pukul 13.00.

Semalam kuajak teman-teman Tukang Makan untuk ikut serta. Namun mereka tentu tak tertarik akibat jeda lima jam menunggu Elan bekerja.

Kami berangkat dari Jogja pukul 06.30. 1,5 jam kemudian tiba di Magelang, lalu Temanggung. Langsung menjemput Pak Taufik dan Gabri di Kandangan. 

Oh yeah? Hummm... | Lokasi: Jembatan menuju Temanggung
Gabri adalah sahabatku yang sedang KKN di desa tersebut. Kami minta bantuannya untuk mengikuti proses ini, sebab ia mempunyai program kerja mengenai sistem informasi.

Presentasi
Oya, sepanjang jalan ke kecamatan ini sangat menarik. Selain bentang alam, juga aktivitas warganya. Sepanjang jalan tampak kebun-kebun kopi. Warga menjemur kopi panenannya di sepanjang jalan yang dilewati kendaraan. "Aku harus membeli kopi Temanggung!" sorakku dalam hati.


Hari ini proses sosialisasinya cukup rumit. Tapi aku enggak ikut-ikutan ribet, cuma bantu proses installing :) Lihat kehebohan di TKP:

Trio maut: Gabri (pakai jas almamater), 
Pak Taufik (merah, sebelah Gabri), Elan (kemeja putih)

Mundur sejam dari perkiraan, proses ini selesai pukul 14.00. Kutanyakan apakah Pak Taufik dan Gabri ada keperluan lain, jika tidak, aku ingin diantarkan mencari kopi. Eh, Elan malah mengingatkan ke candi-candi. Aku? Pengen banget sih, tapi sengaja tidak kuucapkan, karena kutahu mereka semua  cape. Akhirnya, Pak Taufik antarkan kami ke... Situs Liyangan!

2. Situs Liyangan
Perjalanan ke sana sekitar 40 menit dari Kecamatan Gemawang. Aku tertidur di jalan, tiba-tiba sudah di gerbang Desa Liyangan. Alhamdulillah, jadi juga!


Narsis
Tidak, mereka tak menginjak puncak candi.
3. Kopi Temanggung
Setelah mengantar Pak Taufik dan Gabri kembali ke Desa Kandangan, kami mampir ke Kota Temanggung untuk mencari kopi. Sengaja tidak bertanya pada Pak Taufik yang tadinya ingin mengantarkan ke tetangganya, sebab kami sungkan, sudah terlalu sore.

Sepertinya, nyaris seluruh Alun-alun di Jateng ada baliho rokok...
Menyusuri jalan-jalan kota: pasar, pertokoan, tak kami temukan. Huff. Akhirnya mampir Masjid Agung di Aloon-aloon. Shalat ashar di masjid yang penuh debu karena sedang dalam renovasi ini.

4. Masjid Agung Temanggung
Masih 15 menit lagi maghrib. Sambil menunggu berbuka, Elan tidur di teras masjid. Kasihan, capek sekali Pak Pir yang sudah nyetir luar kota tiga hari ini...
Zzzz...
Kami dapat takjil lagi di sini. Enggak kami sih, tapi Elan. Sebab tak ada gerombolan perempuan, jadi aku tak gabung di areal laki-laki yang berbuka bersama di masjid ini :|

Aku lapar. Elan bawakan aku sepotong pisang goreng. Alhamdulillah, daripada tidak. Kami berniat makan berat di Jogja saja, dan membeli bakso dan mi ayam di Temanggung atau kupat tahu di Magelang. Lalu, selain mencari toko roti dan/atau toko oleh-oleh yang kami yakin menjual kopi Temanggung, kami pun pasang mata untuk warung makanan.

5. Dele Goreng
Maksudnya: Kedelai goreng. Ini adalah makanan khas Temanggung. Ada di toko oleh-oleh. Kami mampir, niat mencari kopi. Ternyata tak ada. Dua toko kami hampiri. Okelah kalo begitu.


Jalur Temanggung-Magelang ini merupakan jalur padat. Yang lewat tak hanya mobil, namun juga truk dan mobil besar sejenis. Bayangkan fuso sebesar ini tiba-tiba ada di muka kami, setelah memutar dari toko dele. Si besar yang tak mau mengalah... :|


6. Alun-alun Magelang
Ternyata sepanjang jalan tak ada yang menarik. Hingga tiba di Magelang. Kuputuskan untuk mampir di Alun-alun Kota Magelang, makan di warung tenda yang punya kran air bersih. Tenda itu berada di timur menara air kuno.

Menara air di ujung sana.
Suasana di sini ramai. Kami sempatkan mampir melihat bazaar di depan Matahari, memotret kondisi trotoar yang licin dan klenteng cantik.

Trotoar kok dipasangi lantai keramik!
Klenteng cantik di selatan Alun-alun.
Kami sempatkan pula mampir ke toko oleh-oleh untuk mencari... kopi Temanggung! Hehe, kopinya tidak ada, malah beli pisang aroma yang rasanya yahud! Meski dijual di Magelang, ini khas Temanggung dan memang diproduksi di sana.

Toko oleh-oleh adalah sampah visual terbesar di Magelang!
Akhirnya langsung pulang, tak jadi makan berat di Jogja. Selain kecapean dan sudah terlalu malam, siomay dan teh botol Alun-alun Magelang masih memenuhi perut kami.
RT ‏@adrianizulivan Pagiku sekarang tanpa kamu, ya! #tigahariseru
Hari ini aku tak ikut Elan lagi yang masih ada sosialisasi ke Kecamatan lain di Temanggung. Aku sedikit pilek, karena kemarin Temanggung dingin sekali, tak seperti hari sebelumnya. Elan pun jalan dengan teman kantornya. Eh, pulang-pulang bawa 2 kg biji kopi. Tunggu ceritanya besok, ya!

Mlekom,
AZ

Tuesday, July 24, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:29:00 PM |

Ajakan Ngabur ke Candi Gondosuli dan Situs Liyangan

Hai hai,

Maaf belum sempat menjawab mention teman-teman. Minggu ini aku keliling gunung-gunung :)

Begini. Besok (25/07), Elan akan ada perjalanan ke Temanggung. Agendanya bertemu masyarakat pukul 09.00-13.00. Setelahnya, free time.

Nah, Elan mengajak kita untuk mengunjungi dua situs di Kabupaten Temanggung, yaitu:


yang katanya, areanya lebih luas dibanding Borobudur. Ada sejumlah situs menarik lain di sekitarnya

Gambar dari sini.

yang saat ini masih dalam tahap ekskavasi.

Gambar dari sini.

Rencana perjalanan:
....-07.00 Kumpul di JEC
07.00-09.00 perjalanan ke Temanggung.
09.00-13.00 agenda kerja Elan bersama perangkat desa
13.00-... mblusukan candi-candi, borong kopi lokal, buka puasa, makmal di Kopi Klothok Magelang, pulang

Sampai jumpa besok!

Mlekom,
AZ


Lainnya tentang Gondosuli:
  1. http://sasadaramk.blogspot.com/2011/07/candi-gondosuli.html
  2. http://manggungnews.blogspot.com/2011/12/prasasti-gondosuli.html
  3. http://nonapelantjong.blogspot.com/2010/02/temanggung-i-luv-edition.html 
  4. http://www.temanggungkab.go.id/potensi.php?mnid=99
  5. http://hanacaraka.com/CJGondosuliP.htm
 Lainnya tentang Liyangan:
  1.  http://www.tribunnews.com/2012/06/20/batu-pendapa-situs-liyangan-ditemukan
  2. http://www.mediaindonesia.com/foto/17488/Ekskavasi-Situs-Liyangan 
  3. http://arcomsukarno.blogspot.com/2012/06/kabar-terakhir-situs-liyangan.html
Posted by adriani zulivan Posted on 9:17:00 PM | No comments

111 Tips & Trik Mahir Menjahit

111 Tips & Trik Mahir Menjahit111 Tips & Trik Mahir Menjahit by Hartani Syamsuddin
My rating: 3 of 5 stars

Still, for those who will begin to learn to sew, requires to take a sewing class before reading this :)

View all my reviews

Saturday, July 21, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:38:00 AM |

Manusia-manusia tak Beradab

 Gambar dari sini.

Lihat tayangan video berikut:

Berita ini ditayangkan kemarin sore. Tak kuat rasanya melihat sapi-sapi kecil itu dilempar ke laut dengan kasarnya. Seolah mereka, manusia-manusia itu, sedang melempar karung beras. Mungkin karung beraspun akan mereka perlakukan lebih beradab!

Tayangan ini sepertinya dipotong. Di tayangan TV tampak jelas bagaimana sapi-sapi itu dilempar dengan kasar. Pembaca berita bahkan membaca narasi seperti ini:

Sapi-sapi ini hanya dilemparkan ke air. Meski air surut, mereka tidak mengantarkannya ke darat. Pembeli yang akan berenang mengambil sapi-sapi itu.

Kejam. Tak beradab! 
Ayo jangan beli sapi dari Situbondo sampai mereka memperlakukan hewan-hewan itu dengan bijaksana!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Friday, July 20, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 8:29:00 PM |

Call for Contributions: Citizen Activism the Past Decade

Global Sweepstakes: Citizen Activism the Past Decade

Call for Contributions to the June issue of the ‘Digital Natives with a Cause?’ newsletter ‘Citizen Activism’ | Deadline: August 13, 2012.

The past decade (2001 – 2011) has been marked by unprecedented democratic protests across the globe. Not only have citizens risen against autocratic regimes or systemic corruption, which is not unprecedented in itself, but also, a spark in one region inflamed solidarity among neighbouring nations to pick up the placards and march for change. Plenty has been written about the strategic deployment of social media, Web 2.0 platforms and Smart-gadgets by the digital natives (the youth and the old alike) to rewrite the rules of citizen activism.

In this issue of the newsletter, we explore the mechanics of activism aided by media: web, social, digital, and traditional. What do we understand by a cause and how does it find resonance at the local and global platforms? 
  • Is the digital native a community player or a global citizen? 
  • How do digital natives connect, collaborate, mobilize and bring about their visions of change? 
  • The aim is to not establish or reinforce these dichotomies, if indeed they exist, but to understand the dimensions of the stage the digital natives operate on and if that stage is a synecdoche for global youth-led civic action. 
A case in point: ‘Slut Walk’ moved from being a one-off march in Toronto to becoming a global movement and came full circle when small towns and cities across the world organized protest marches with a local ‘twist’.

Topics that contributors can explore:
  1. What do we understand by citizen activism? How has citizen activism changed because of new media tools?
  2. Youth as 'change agents'. Are protest movements youth oriented today? How are civil rights movements of the past decade different from the wave of movements that marked the 60s? (women's lib, LGBT rights, civil rights, disability rights).
  3. Participatory Politics and Web 2.0 | Value and power of the Network in effecting change | Mobilizing support and consensus within the network |studies on politically active youth using social media | digital natives as apathetic citizens.
  4. Kony 2012 video campaign | interviews | what went wrong and what did they do right?
  5. Rise of the ‘Glocal’ (global with local resonance) cause | Slut Walk and Co – global protests inspiring local campaigns | Children of globalization with global stakes supporting local causes – how does this work?
  6. Role of new media as a vehicle for civic engagement.
  7. Learning from past campaigns: citizen activism initiaites and strategies in history that inspire modern campaigns (The ‘Walk to Work’ protest in Uganda protesting against fuel price hike and removal of subsidies is similar to Mahatma Gandhi’s Dandi march in pre-independence India to protest against Salt Tax).
  8. Finding commonalities in citizen acitivism across Asia, Africa and Middle East.
  9. Is Slacktivism still a misunderstood term?
  10. How do we measure value, quality and success of campaigns? When does a protest officially end? Studies that explore the end of activism (specific protests). Does regime change signal success?
  11. The future of activism | resources, tools and strategies | bio-surveillance + working with the establishment.
To know more about the topics you can write about, please write to: nilofar.ansh@gmail.com (Nilofar Ansher, Community Manager)

Source: Here.



Pic from here.

Thursday, July 19, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:55:00 PM |

Cucunya @joeyakarta



`
 



Hihi, dikirim @joeyakarta barusan :)

Mlekom,
AZ  

Wednesday, July 18, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:29:00 AM |

Undangan Tailor Made Trainer: Smartphone untuk Jelajah Pusaka


Gambar dari sini.

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) bekerjasama dengan Urban Solutions dari Belanda akan mengadakan rangkaian pelatihan Tailor Made Training (TMT) yang bertujuan membantu Masyarakat Pemerhati Pusaka Indonesia mengembangkan aplikasi smart-phone untuk Jelajah Pusaka di beberapa kota terpilih di Indonesia. 

Pelatihan ini akan diselenggarakan dalam dua tahap yaitu:
  1. TMT - Executive Level di Denpasar, 3-7 Agustus 2012. Tema: ‘i-Discover' - Catapult Indonesia Heritage societies into the 21st century. A training course to enable Indonesian Heritage Societies to develop smart-phone applications for heritage trails in selected Indonesian Cities.
  2. TMT - Operational Level di Surabaya (12-17 Oktober 2012).
Acara ini terbatas hanya bagi undangan. Lihat ToR-nya di sini. Semoga bisa bergabung dan bermanfaat untuk Indonesian Heritage Inventory (IHI) yang sedang kami kembangkan, ya!

Mlekom,
AZ 

* saat mencari gambar untuk tulisan ini, aku menemukan artikel menarik. Sila baca :)

Tuesday, July 17, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 8:55:00 AM |

Gule Kambing Sargede


Mlekom,
AZ

Saturday, July 14, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:24:00 AM |

Call for abstracts: Archiving and Visualization of Intangible Heritage


Special Session 1: 
Archiving and Visualization of Intangible Heritage

Call for participation 
A special session will be held as part of NODEM 2012 Hong Kong, organised by DIHA (Digital Intangible Heritage in Asia). 

The aim of this special session is to provide a platform for culture heritage researchers, museum curators, educators, digital media specialists, linguists, designers and others in these related industries to present the challenges in their respective fields with a view to promote opportunities for interdisciplinary collaboration. We believe that collaboration at this level will spark major breakthroughs in highlighting awareness of intangible heritage in Asia. 

Project abstracts are invited on all aspects from the following sub-fields including, but not limited to: 
  1. cultural research and inquiries in intangible heritage
  2. enviromental and ecological issues and intangible heritage
  3. the role of language and cultural knowledge repositories in the conservation of intangible heritage 
  4. curating intangible heritage in museums 
  5. interface and design of digital media for the exhibition of intangible heritage 
  6. meaning-making and the interpretation of intangible heritage exhibitions 
  7. visual media and memory and intangible heritage 
  8. innovative ways of accessing intangible heritage resources 
Submissions are welcome from researchers, developers, curators and exhibition designers. 

Please submit your abstract (300 words) to diha@ntu.edu.sg by 1 September 2012. Participants will be notified about the status of their submission by 15 September 2012. 

The participants of this special session also will be able to attend the entire program of NODEM 2012 Hong Kong

About DIHA 
DIHA is an interdisciplinary research cluster involving several researchers across Schools and Colleges in Nanyang Technological University, Singapore (NTU) as well as external partners. DIHA captures the vibrant cultural and linguistic fusion of the Asia Pacific region through interdisciplinary lenses.

DIHA Co-founders
  • Assoc Prof. Ng Bee Chin | School of Humanities and Social Sciences, Division of Linguistics and Multilingual Studies. Email: mbcng@ntu.edu.sg 
  • Visiting Assoc. Prof. Halina Gottlieb | School of Humanities and Social Sciences / The Interactive Institute, Sweden. Email: halina.gottlieb@tii.se   
*
Mas @maulanarc forwarded thie email to me. Thanks!

Tuesday, July 10, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM |

Invitation: Public Forum and Expert Meeting

Got an invitation from Ibu Laretna T Adhisakti from Center for Heritage Conservation (CHC) - Universitas Gadjah Mada. This event called "Public Forum: Managing Heritage Cities in Asia and Europe; the Role of Public-Private Partnerships.

"For Wijoyono's family," she said when gave this invitation . There, my name is added manually with Ibu Sita's handwriting. Hummm...

The invitation card for us

Anyway, glad to have this invitation. Beside the Public Forum, we are also invited to the Expert' Meeting Forum on the same theme. It is as preparation for the 5th ASEM Culture Ministers’ Meeting 2012 which will also be held in Yogyakarta this year on 18-19 September.

The second forum must be very interesting. Many international expert on heritage will join there. You can see the concept and schedule here and there.

Can't wait!

Mlekom,
AZ 

 The poster to public

Monday, July 9, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:02:00 AM |

Undangan Diskusi: Stadsherstel Amsterdam N.V.

Undangan Diskusi "Stadsherstel Amsterdam N.V." 
Rabu, 11 Juli 2012, 10-11 WIB 
di Ruang Auditorium ERASMUS HUIS Jakarta

Salam lestari,

Bersama ini BPPI mengingatkan kembali dan mohon konfirmasinya untuk Seminar Singkat tentang "Heritage & Public Private Partnership" pada Rabu, 11 Juli 2012 jam 10.00-11.00 WIB menampilkan pembicara dari Belanda yaitu Paul Morel, project manager Stadsherstel Amsterdam N.V. - The Company for City Restoration.

Sekaligus bersama ini kami menginformasikan perubahan tempat acara yaitu menjadi: Erasmus Huis (Ruang Auditorium), Jalan HR Rasuna Said. Kav S-3, Kuningan, Jakarta Selatan.

Target peserta adalah para usahawan, praktisi bisnis, praktisi perbankan serta praktisi ekonomi lainnya yang diharapkan berperan besar dalam pelestarian bangunan bersejarah dan beragam kekayaan pusaka lainnya terutama pemanfaatannya dari bidang ekonomi.

Khusus kepada anggota dan sahabat BPPI kami harapkan kehadirannya untuk memberikan masukan, saran dan pandangan untuk memperkaya pembahasan topik tersebut di atas. Tidak dipungut biaya, silakan tunjukkan Kartu Anggota BPPI di pintu kedatangan.

Pendaftaran dan informasi lebih lanjut ke Sekretariat BPPI: 
tlp/sms ke 085881214545 / 021.3511127 
email ke bppi.indonesianheritagetrust@gmail.com.

Bahasa yang dipakai adalah Bahasa Inggris, untuk pembicaraan dalam bahasa Indonesia akan dibantu penerjemahannya oleh panitia.

Untuk Anggota yang belum memiliki Kartu Anggota silakan memesan ke Sekretariat BPPI.

Sekretariat BPPI

*
Itu email dari BPPI. Info lengkap di sini.

Paul Morel. Gambar dari sini.


Sunday, July 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 7:12:00 PM | No comments

A Warm Day with A Warm-Hearted Japanese Couple

Geospatial Coast Laboratory

This is my first meeting with Tomi. She is the wife of Junichi, our colleague from Japan. Both are activist of community radio in Kobe, Japan. 

Joyo and I picked them at their hotel in the mid of the city. After doing some tricky plans of choosing the way (it was traffic jam in the long holiday periode of students in Indonesia), then we found the way to Depok Beach for almost 1,5 hours driving. On our way, we saw the Geospatial Coastal Laboratory with a giant pottery pot in front of the lab.

We first stopped at a beach, I don't remember the name, but it was close to Depok Beach, but not as crowded as Depok. Tomi was very happy, "This is the first beach for me in Indonesia, well, except in Bali," she said.



We parked the car in front of a house (it is IDR 5.000 for a car), managed by the villagers. We went down to the beach, to know how it feels playing with the sand. Unfortunately, the wind blows so strong while the weather is so hot, so we decided to move to the main destination: lunch.

It was almost 2 in the afternoon when we arrived at the fish market. Took some kilograms of fish, shrimp and two kind of scallops, than bought it to a restaurant with beach view. This is the restaurant that's always chosen by my family. We choose the menu than give all of the seafood to be processed by them.


It was too much for us, we could't 'finish' them all since our stomachs was too much full. We went to the last destination: Kampung Batik Imogiri. It is a kampong in southern Yogyakarta, about one hour drive from the city.

We had a nice conversation with Mas Nur, the leader of this batik business. Mas Nur told us the history of these batik which was developed after the big earthquake in 2006. Joyo did some heritage work with this community.


Mas Nur tells us the story.
The disaster destroyed not only the houses (especially the traditional), but also the life of the people, including their economic income. Some NGO and academic groups helped the locals to build their houses and try to make some workshops about batik making.


Making process, a must show for visitors.
Today, Batik Imogiri is famous as one of the biggest batik industry in Yogyakarta. The biggest product is painting (tulis) batik with natural coloring (called indigo). In this village, you can also try to learn how to make batik with your own design (they have workshop where you can buy some tourism package). Or you can just see the making process and act like you are painting the batik, just like we did :)


It's me & Tomi, acting :)
Look at these beautiful paintings!
My fave is the blue leaves on the left.

Then we went back to the hotel, left this couple there. What a very warm (read it with "hot shiny") day with a warm-hearted Japanese couple. Love to meet another day...

Those are two of many more tourism sites that will be visited by some students of Tomi's collage. Tomi is a professor in Osaka University, going to run a field school about disaster in Yogyakarta. The topic will be multi-discipliner, from economic to architect. It is not only the disaster of earthquake, but also the eruption of Merapi Volcano. They day will be in the end of this September. Can't wait to meet them all!

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 5:21:00 PM |

Wong mBatak mBatik

`


Tuesday, July 3, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:30:00 PM |

Mission Accomplished

Hari ini cukup capek. Sesorean bersenang-senang dengan dua sepupu dari Medan: Pajar dan Nisa. Misi utama kami adalah memetik salak di kebun. Kebunnya milik @alexia308. Begini ceritanya :)

Misi I: Antar kue ke @alexia308 dan culik orangnya untuk ke Misi II
Dibantu Mamaku, Nisa yang anak SMK Boga itu bikin kue untuk menyuap Bang @alexia308 agar mau mengajak ke kebunnya. Inilah kue Bolu Kukus Ubi Ungu yang kami hantarkan ketika menjemput si empunya kebun :)



Misi II: Kebun salak
Hasil jarahan: Tiga karung salak = sebagasi!



Misi III: Nongkrong di Raminten
Anak-anak ini belum pernah ke Raminten. Nisa bingung dengan patung besar Yesus dan keberadaan mushalla di warung ini. Dia sampai tak enak makan...

Misi IV: Antar Bang Alex pulang

Misi V: Mampir Ngasem
Demi hindari kemacetan Malioboro di masa liburan ini, kami mengantar Nisa ke Ngasem untuk mencari idamannya: Kaos Jogja. Ini bukan Dagadu, namun produk berbeda dengan desain kreatif yang kini banyak menjamur di Jogja. "Kalo Dagadu, Nisa sudah punya," katanya. Harganya mahal juga, Rp 60.000 per kaos. Dagadu Jogja berapa yah?

Misi V: Tergeletak 
Kecapean. Tidur. Eh, itu aku. Nisa dan Pajar harus packing, sebab pesawatnya pukul 07.30 pagi. Kusempatkan juga membantu Nisa, karena barang bawaanya dari yang awalnya hanya satu koper, beranak pinak menjadi 6. Ini hasil dua minggu di Bandung + seminggu di Jogja.

*
Anak-anak ini terkesan sekali dengan kegiatan panen salak. Kudengar cerita-cerita bergairah saat mereka menelepon orangtuanya. Ibu mereka pun berbincang lama denganku dan mengucapkan terimakasih plus keinginan untuk ikut memanen salak.

Hummm, terimakasih itu seharusnya untuk @alexia308. "Trims Abang Alex!" ucap anak-anak ini ketika Alex menutup pintu mobil...

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata