Friday, September 28, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 5:30:00 PM |

Oktober, Kemana Kita?


Gambar dari sini.

Agendaku, agendamu. Tak sabar aku tak sabar... *dangdutan*

Senin 1 - Jogja
Selasa 2 - Gunung Kidul
Rabu 3 - Gunung Kidul

Kamis 4 - Gunung Kidul
Jumat 5 - Gunung Kidul
Sabtu 6 - Gunung Kidul
Minggu 7 - Semarang?
Senin 8 - Temanggung
Selasa 9 - Temanggung

Rabu 10 - Temanggung
Kamis 11 - Temanggung
Jumat 12 - Surabaya
Sabtu 13 - Surabaya

Minggu 14 - Surabaya
Senin 15 - Surabaya
Selasa 16 - Surabaya
Rabu 17 - Surabaya
Kamis 18 - Surabaya
Jumat 19 - Surabaya
Sabtu 20 - Surabaya
Minggu 21 - Surabaya
Senin 22 - Banyuwangi
Selasa 23 - Banyuwangi
Rabu 24 - Rote, Jogja
Kamis 25 - Rote, Jogja

Jumat 26 - Rote, Jogja
Sabtu 27 - Rote, Jogja
Minggu 28 - Rote, Jogja
Senin 29 - Jogja
Selasa 30 - Jogja
Rabu 31 - Jogja

Apaan sih ini?
Ya, cuma kita dan Tuhan yang tahu :))

Mlekom,
AZ

Thursday, September 27, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:47:00 AM | No comments

Hallo from Indonesian Heritage Inventory

Pic from here.
Hallo everyone, 
how are you? Hope you are doing fine, as fine as we are, here in Jogja :)

Here is some updates of what we are doing in Indonesian Heritage Inventory (IHI), last month till today:

I'm very pleased with notice from Laurie Neale (Europa Nostra) about the contest of Wiki Love Monuments (WLM), the same way of crowdsourcing data collecting in Europe. It will be valuable if I can contact them to make networks. 

Elanto and I have studied the WLM website, just after Laurie tell us about them, last June. But until now we have no courage to call them, since we don't have enough "capital" to be look by the world. One reason is the language that we use in our website. We still have not found enough time and energy to do the translation into English by the two of us, according to suggestions of some relatives.


I realize the important of writing in English for IHI. I will do it, soon as we have volunteers. Now the website management is handling by me and Elanto Wijoyono. Now we are organizing a professional teamwork to organize it.

Our concern now is to introduce the IHI system to the local heritage community in all over Indonesia, so they can contribute data from their region. It takes time, during our work of updating the incoming datas to the website.

Our plan is to make it bilingual, since our purpose is to provide knowledge and information to the owner of Indonesian heritage: the Indonesian citizen. Hopefully we can do it soon.

"With regard to language of the web site, please don't worry or rush. I fully agree it is first and foremost for the Indonesian community for them to engage and benefit. Perhaps you can start providing some brief summaries or information so that others can benefits and reach you if necessary," said Gamini Wijesuriya (ICCROM) last month (3/08). 

Once again, thanks to Laurie for the information and her assistance in introducing IHI to Maarten Dammers (27/09). He is the one from WLM. Two days after, he stating that he would help us to be included in the next year contest-project.


Update of the IHI
We have no significant progress. We are having trouble finding volunteers who are willing to help us to fill the content of the website, while Elanto and I busy with all the things related to the promotion of IHI (including to introduce how to use it, to the public) and website management.

Beside that, we visited some communities to inventory their heritage. We were also invited to participate in some heritage forums. In December, we are invited to Hong Kong for this conference: http://www.nodem.org/conferences/hong-kong-2012/

I am lucky that my abstracts of paper about IHI has received by the committee. But now I am confused where to go to find funds to pay for tickets, hotels, etc for Hongkong. Do you have any recommendations where should I look for?

By the way, we were in Bali for a workshop: ‘i-Discover' - Catapult Indonesia Heritage Societies into the 21st century. A training course to enable Indonesian heritage societies to develop smart-phone applications for heritage trails in selected Indonesian Cities. Here is the info (in Bahasa Indonesia).

Thank you very much for everyone's advice for the development of IHI. Glad to meet you all again, here :)

Adriani Zulivan,
Director of Indonesian Heritage Inventory

Friday, September 21, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:53:00 PM |

September Ceri[t]a

Dear Amy, see you in September, hope that you'll remember me next year.
Hey Jammie, you've been a great friend of me, I hope that I'll still see you arround here... 
["Yearbook" - Hanson]

September. 
Pernah menjadi bulan yang selalu kunanti dengan ceria

September di tahun pertama KITA. Aku menanti saat, untuk membeli sepasang cincin perak dari Kotagede. Cincin itu berpatri inisial panggilan sayang kita. 

CK
September tahun kedua. Kuberanikan diri untuk memasak sesuatu. Sebuah pudding berbentuk hati hadir di tengah obolan santai kita bersama sejumlah teman. Aku bahagia, ketika kurasakan kebahagiaan kamu.

<3
Ya, September. Bulan di mana aku menunggu kamu bertambah usia. Selalu punya rencana-rencana mendadak untuk membuat kamu lebih bahagia, di sebuah hari, di tiap bulan ini.

Tahun lalu, September kedua itu, adalah bulan kelima kita memutuskan untuk merangkai KITA. Aku dan kamu rencanakan sebuah KITA, dalam sebuah ikatan. Ikatan yang bukan sekadar cincin Kotagede, bukan pula sekadar cinta berbentuk pudding hati. Itulah saat dimana kita berdua ingin menyatukan kamu dan aku, menjadi KITA.

September itu, keluargamu ke rumahku. Berkenalan, berbagi ceri[t]a. Kenangan ini terlalu indah menyedihkan untuk kuingat...


Kamu tahu?
Di awal September ini, Papa menanyakan tentang kamu. Lebih tepatnya, beliau bertanya tentang KITA. Berharap kita, kamu dan aku, benar-benar menjadi KITA, di tahun ini. "KITA" yang bukan sekadar "kita". KITA yang dulu pernah menjadi mimpi kita.

Dengan berat hati, kuceritakan semua yang terjadi pada KITA. Apa adanya. Saat bercerita, kepalaku mendadak pusing. Kurasakan mataku memproduksi air, hingga membuatnya berkaca-kaca. Kujaga emosi, memastikan tak ada yang menetes jatuh.

Papa tanyakan berbagai kemungkinan untuk kembali. Papa juga menyebut tentang blog ini yang masih sering bercerita tentangmu. Mauwo (kakak Papa) pun menyatakan hal sama.

"Hati sudah berubah," kataku. 

Mereka pun tak lagi menanyakan kemungkinan-kemungkinan itu. Entah mereka percaya, atau tidak...

Tahun ini, September ketiga. Aku bahkan tak ingat lagi tanggal lahirmu. Trims ada jamuan makan kemarin malam, ketika salah seorang teman membangkitkan ingatan.

Trims? Kenapa harus berterimakasih? Memangnya apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan?

...dan... ah! Kenapa pula hidungku mendadak pilek saat kuketik tulisan ini? Lalu mengapa juga jari-jariku sibuk mengusapkan tisu ke kedua mata? 

Ah!

Tahun ini, Septemberku tak ceria. Aku di sini, berbagi ceri[t]a.

Mlekom,
AZ 


Thursday, September 20, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:00:00 PM | No comments

Tumben? Makasih! Tapi...


Tadi si Ndil pergi seharian sama tamunya, orang Jepang. Tiba-tiba ngasih kalung cantik ini.

"Tumben?" kataku. Ndil mana pernah bawa apa-apa, apalagi sesuatu yang kusuka.

"Tadi mampir toko oleh-oleh, ada ini."

"Makasih deh, tapi aku kan udah punya yang ini..."

"Punya kamu kan silver, gak emas gini!"

"Iya, makasih ya!"

Ya daripada marah... :|


Mlekom,
AZ


[20130511]

Monday, September 17, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 3:20:00 PM |

UNDANGAN Pelatihan Aplikasi Jelajah Pusaka untuk Telepon-pintar



Yth Komunitas Pelestari Pusaka Indonesia,

Apakah teman-teman sudah mendengar tentang undangan membuat aplikasi smartphone untuk jelajah pusaka? Klik informasinya di sini.

Aplikasi ini berupa rute peta berjalan kaki untuk melihat obyek-obyek menarik di suatu kawasan. Mulai dari tempat bersejarah, makanan khas, industri lokal, tempat belanja oleh-oleh, hingga hal-hal lain yang wajib untuk dikunjungi. Mungkin cerita pengalaman saya mengikuti pelatihan ini bisa membantu, sila klik tautan berikut.

Harapannya, proses ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat lokal terhadap pentingnya kekayaan pusaka (heritage) di sekitarnya; sekaligus meningkatkan kunjungan wisata yang akan berdampak positif terhadap perekonomian warga.

Untuk itu, teman-teman komunitas perlu menentukan sebuah kawasan; entah berupa sebuah jalan, sebuah blok, dst dalam satuan apapun; yang kira-kira menarik untuk dikunjungi. Tentu dalam jangkauan berjalan kaki, ya. Pengalaman di Denpasar kemarin, kami mengitari kawasan sekitar 4 kilometer di pusat kota.


Dari seluruh proposal yang masuk, akan dipilih 10 kota yang akan diikutkan dalam pelatihan nasional di Surabaya pada 12-17 Oktober 2012. Panitia akan menanggung seluruh tiket PP dari kota masing-masing, penginapan, dan konsumsi selama penyelenggaraan kegiatan. Tiap kota yang terpilih diminta mengirimkan 2 (dua) orang perwakilannya.

20 orang yang diundang ini, nantinya secara otomatis akan menjadi peserta pada acara Temu Pusaka Indonesia (TPI), yaitu sebuah pertemuan nasional komunitas pelestari pusaka. Acara TPI ini diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), juga di kota Surabaya. Lihat agenda TPI di sini.

Pasca pelatihan Surabaya nanti, 10 kota tersebut akan mendapat pendamping lapangan oleh trainer yang telah ditentukan. Jadi, akan ada 1-2 orang yang akan membantu proses pembuatan aplikasi jelajah pusaka di kota anda, jika nantinya terpilih.

Trainer:
  1. Adriani Zulivan (Yogyakarta)
  2. Diah Ambarwati Kardinal (denpasar)
  3. Elanto Wijyono (Yogyakarta)
  4. Hasti Tarekat (Belanda)
  5. Indira Shindi (Medan)
  6. Paulina Mayasari (Surabaya)
  7. Suci Rifani (Jakarta)

Jika tidak lolos proses ini, semoga teman-teman komunitas dapat hadir di acara TPI. Acara ini mengundang para pelaku pelestari pusaka skala individu, komunitas, pemerintah, dst. Harapannya, agar kekayaan pusaka lokal bisa dikenal di forum nasional.

Begitu dulu, semoga teman-teman tertarik dan segera bikin proposal, ya! :)

Jika ada pertanyaan, bisa ke shindi_20@yahoo.com (Shindi Indira, Koordinator Program Lokal) dan suci.rifani@yahoo.com (Suci Rifani, Sekretariat BPPI)

Mlekom,
AZ

Saturday, September 15, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 1:30:00 PM |

Lolos!

Hai hai hai, lagi gembira nih. Abstrak paperku diterima! Hehehe, alhamdulillahi rabbil alamin...

Abstrak ini kukerjakan buru-buru, hanya beberapa jam sebelum deadline pengiriman ditutup. Ceritanya, saat itu aku sedang di Malang untuk sebuah proyek "jalan-jalan".

Gambar dari sini.
1 September 
Hari terakhir pengiriman abstrak. Padahal, info tentang konfrensi internasional ini sudah kudapat sejak pertengahan Juli lalu. Abstrak harus dikirim ke Singapur, negara yang waktunya satu jam lebih cepat dari Indonesia. Artinya, pukul abstrak itu harus terkirim sebelum pukul 23.00WIB.

Persoalan tidak mudah. Pertama, hotspot hotel tak sampai kamar. Malas menulis di lobby, sebab ini bukan hotel besar yang punya ruang tunggu yang nyaman. Kuputuskan untuk mencari cafe. Ternyata ini tak mudah, berbeda dengan di Jogja. Akhirnya kami menuju sebuah mal di pusat kota. Pasti ada kafe atau resto yang punya hotspot di sini, pikirku.

Celingak-celiguk di kawasan Alun-alun, akhirnya dapat warung KFC bertuliskan "24 jam" dan "free hotspot". Batal ke mal, sebab pastinya jam 9 sudah tutup. Ternyata di warung itu ada Internet Corner. Ada 5 PC terhubung internet di sana.

.
Semua PC dikuasai anak-anak kecil dan remaja. Ah, malam minggu itu KFC jadi tempat nongkrong keluarga, ternyata. Aku harus "menyingkirkan" seorang anak batita yang pencet-pencet keyboard komputer tanpa dia mengerti.

Oke, aku dapat koneksi. Persoalan belum selesai sampai di sini. Aku harus merangkai tulisan dari poin-poin yang sudah dibicarakan. Poin ini kudapat dari diskusi via Gtalk dengan Mas Punto dari Center for Heritage Conservation (CHC) UGM, dua hari sebelumnya.

Sedikit kesulitan, sebab pikiran dihantui keterbatasan waktu yang terbatas. 08.11 kukirim ke @joeyakarta, berharap dia bersedia memberi komentar. Hufff, dia pun sibuk. 08.18 kukirim ke @uradn yang ternyata lagi di jalan.

08.24 dapat balasan dari @joeyakarta. Kuperbaiki tulisanku, sambil mengalih-bahasakan ke Bahasa Inggris. 08.42 mendapat tambahan lagi dari @joeyakarta. Kumasukkan ke tulisanku.

Bolak-balik mengedit agar sesuai aturan: hanya 300 kata. Sempat hampir nyerah ketika jarum jam di depanku mengarah ke 23.00, ini sudah tanggal 2 September di Singapur.

Tepat 23.43 WIB, tulisan terkirim ke panitia. Telat nyaris satu jam. "Ah, kali aja panitia-nya melihat waktu yang tertulis di email yang masuk, bukan di jam PC-nya. Nothing to lose, pikirku."

2 September
Nyampe hotel nyaris jam 01.00. Besok pagi harus bergerilya lagi.

5 September
Panitia NODEM kirimkan email tentang Abstract Submissions. Ada lega, ketika tahu bahwa aku tidak telambat mengirimkan aplikasiku. Ya, meski juga tidak yakin akan lolos :)

15 September
Aku sudah lupa tanggal pengumuman penerimaan abstrak, sebab terlanjur yakin tak akan lolos. 13.30 masuk sebuah email dari panitia NODEM di Swedia yang menyatakan bahwa abstrakku lolos dan aku diundang untuk berpartisipasi di acara NODEM di Hongkong. Yay!

Padahal, tulisan abstrak ini belum memuaskanku. Dan akibat keterbatasan waktu serta keterkaitan tema, maka aku diminta membuat presentasi poster, bukan dalam bentuk oral. Tak apalah, sebuah kemajuan. Ini tulisan pertamaku untuk forum internasional, kan :)

Bagaimanapun, aku berterimakasih kepada @puntowijayanto untuk obrolan panjangnya dan ngasih banyak masukan. Juga @joeyakarta yang mau "menemani" lembur dan mengomentari tulisanku. Yang paling penting adalah @maulanarch yang telah mengirimkan informasinya

Kalian semua berjasa, untuk pengalaman tulisan ilmiah internasional pertamaku ini. Trims! :*

Nah kalau sudah lolos, terus siapa yang mau bayarin tiket ke Hongkong? Ini nih, berburu sponsor jadi persoalan selanjutnya...

Mlekom,
AZ

Friday, September 14, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 6:31:00 PM |

Kuno.Kini.Nanti - Semarang 2012

Teman-teman Semarang akan menggelar kegiatan "Pameran Kuno.Kini.Nanti - Semarang 2012". Kegiatan ini bertajuk "Melawan Lupa; Retrospeksi Semarang Awal Abad ke-20".  

Selama seminggu akan digelar beragam acara, seperti pameran, lokakarya, dan temu wicara. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada 5-11 Oktober 2012. Tempat kegiatan dipusatkan di Gedung H Spiegel, Jalan Letjen Soeprapto 34 Semarang. 

Gambar dari sini.
Pada saat berbarengan, di Semarang juga digelar kegiatan "International Conference on Urban Heritage and Sustainnable Infrastructure Development" di Gereja Blenduk (5-10) dan Susteran Gedangan (6/10).



Agenda kegiatan pameran dan ragam kegiatan pendukungnya adalah sebagai berikut:

Jumat, 5 Oktober 2012
08.00 - 09.00 

Pembukaan pameran
09.00 - 12.00 
- Jelajah Pusaka
- Kuliah Umum: Komunitas Historia
13.00 - 18.00 
Pameran
19.00 - 21.00 
Pertunjukan musik

Sabtu, 6 Oktober 2012

10.00 - 14.00
- Jelajah Pusaka
- Kunjungan dari SD dan SMP
14.00 - 19.00 
Lokakarya: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya/MADYA (Hari I)
19.00 - 21.00
Temu Wicara: Dunia Animasi (Jogja Animation)

Minggu, 7 Oktober 2012
09.00 - 13.00 

Jelajah Pusaka
13.00 - 19.00 

Lokakarya: MADYA (Hari II)
19.00 - 21.00 

Pertunjukan musik

Senin, 8 Oktober 2012
09.00 - 13.00 

- Jelajah Pusaka
- Kunjungan dari SD dan SMP
 
19.00 - 21.00
Temu Wicara: Dinamika Pelestarian Situs Bersejarah (BP3, Balar Yogyakarta)

Selasa, 9 Oktober 2012

09.00 - 16.00 
- Jelajah Pusaka
- Lokakarya: Peta Hijau (Hari I)

19.00-21.00
Pertunjukan musik

Rabu, 10 Oktober 2012

09.00 - 16.00 
- Jelajah Pusaka
- Lokakarya: Peta Hijau (Hari I)

19.00 - 21.00 
Temu wicara: Mempersiapkan Semarang sebagai Kota Warisan Dunia (BKP Borobudur)

Kamis, 11 Oktober 2012
09.00 - 13.00

- Jelajah Pusaka
- Kunjungan dari SD dan SMP

19.00 - 20.00 
Pecha Kucha
20.00 - 21.00
Pertunjukan musik

Pameran dibuka tiap hari, pukul 08.00-21.00. Yang mau gabung? Yuk! 

Btw, aku belum berhasil Google website resmi acara ini. Info di atas dari co-pas email Elanto.

Mlekom,
AZ

Thursday, September 13, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:18:00 AM |

Festival Museum Yogyakarta 2012

.
Pameran dan Karnaval Museum
 

Pameran Tanggal 23-28 September 2012 di Pagelaran Kraton Yogyakarta, diikuti 32 museum negeri dan swasta Yogyakarta + 10 museum luar Yogyakarta

Karnaval Tanggal 23 September 2012 pukul 14.00 - 17.00 WIB di Jalan Malioboro, diikuti 32 museum Yogyakarta.

Acara pameran dimulai pukul 10.00 pagi s/d 21.00 WIB. 

Khusus tgl 23 Sept pukul 18.00-21.00 WIB disediakan tiket gratis.

Ada lomba dan permainan yang menarik bagi para pengunjung, dan ada pertunjukan kesenian (everyday).
 

Mari diramaikan!

Sumber info dari sini.

Mlekom,
AZ

Wednesday, September 12, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:57:00 PM |

Batagor Cucut

Siap goreng
Beberapa minggu ini lagi suka banget makan siomay-batagor. Ketularan partner-in-walk (???) -ku yang sdah beberapa bulan ini (atau dari dulu?) sering ngajak makan di Mang Mudi, Kang Ujang, dan judul-judul warung Siomay Bandung lain di Jogja. Dia entah suka siomaynya, entah pula karena di warung-warung ini ada beranekaragam es yang sangat dia gemari.

Terus-terusan makan siomay-batagor tidak pernah bikin bosan. Apalagi, sudah sebulan ini aku makan 4-5 kali sehari. Di antara tiga jam makan utama, aku cari batagor dan makanan lain non nasi.

Beberapa hari lalu baca twit seorang teman yang bikin siomay. Jika dia yang baru saja belajar masak itu bisa, masa aku nggak bisa? :)

Semalam tekad bulat. Sengaja aku bangun pagi agar tak kesiangan belanja. Sebelum ke pasar, kucari resep di Google dengan kata kunci "somay batagor". 

Ngepasar
Sejujurnya, aku tak tahu bentuk ikan tenggiri. Tapi gak sulit untuk bertanya pada penjual. Sayang, tak ada tenggiri di Pasar Prawirotaman Jogja. Kutemukan ikan tongkol, nila, bandeng, lele dan ikan... (lupa namanya). Satu-satunya yang tampak memungkinkan hanya ikan cucut (aku tahu nama ikan ini karena mudah dikenali dari bentuk muncungnya).

Penjual pasar ternyata juga bersedia memotong ikan hingga berbentuk fillet. Tidak sampai bersih, hanya dibagi menjadi tiga bagian: daging kanan, kiri dan tulang. Tugasku menguliti dan membuang tulangnya di rumah. Tapi potongan ini sudah sangat membantu, jarang ada pedagang pasar yang mau mem-fillet. Dulu untuk peliharaan burunghantu-ku, aku belanja di fish mart khusus.

Resep juga memberi alternatif udang. Aku juga suka siomay cumi. Tapi sayang, mama lagi tak mau makan seafood karena kolesterol yang sedang tinggi. Tinggal berdoa, semoga ikan cucut ini enak.

Lupa dapat di situs mana, tapi ini resepnya, plus sedikir modifikasiku:

Bahan baso:
1/2 kg ikan cucut
1/4 kg ayam
3 bawang putih
1 ons kanji
2 ons terigu
1 telur
garam
merica hitam
kulit pangsit

Pelengkap:
tahu
kentang
kubis 
telur puyuh
kacang panjang
jagung
kecipir
terong hijau bulat

Saos kacang:
1,5 ons kacang tanah 
0,5 ons kemiri
kecombrang secukupnya
5 cabe rawit
4 cabe merah
2 bawang putih
cuka
garam
gula merah

Cara masak:
  1. Semua bahan baso dihaluskan (aku pakai blender). Lalu dicampur. Tambah air. Masukkan adonan ke dalam kulit pangsit dan tahu. Masukkan dalam dandang kukusan.
  2. Semua bahan pelengkap dikukus bersama pangsit. Setelah matang, goreng pangsit dan tahu untuk menjadi batagor. Biarkan sepeti itu untuk menjadi siomay.
  3. Sangrai semua bahan saos, kecuali kecombrang dan gula. Haluskan (blender) bersama kecombrang. Tuang ke panci, tambah air, masukkan sisa bahan, masak sampai mendidih.
  4. Selesai! :))

Mudah banget, ya! Aku pun takjub karena rasanya enak. Juga mendapat komentar sama dari chef terbaik sepanjang hidupku: Mama.


Siap santap
Awalnya, jagung ingin kumasukkan ke dalam adonan baso untuk menggantikan bengkoang di resep. Tapi lupa memasukkan, eh dikukus enak juga. Sensasi rasanya menarik sekali di antara rasa dominan kacang (saos). Kecombrang juga menambah rasa mengejutkan. Saranku, jangan banyak-banyak memakai kecombrang sebab aromanya sangat kuat, jangan sampai mendominasi lalu menghilangkan aroma kacang.


Bahan-bahan bergaris bawah dalam resep di atas adalah pelengkap yang tidak biasa ada di menu batagor/siomay. Aku hanya tertarik membeli karena rasanya yang memang kusuka :)

Oh iya, setelah membungkus pangsit, untuk mengetahui rasa daging olahannya, kucoba menggoreng beberapa. Rasanya sangat enak. Aroma amis ikan tertutupi oleh ayam. Gorengan ini enak dimakan dengan saos sambal.


Kenang-kenangan dari usaha pertama memasak ini adalah dua baret di dua jari tangan + lengan kanan kecipratan saos kacang panas. Jadi masak sambil ber-plaster dan bioplacenton. Belum lagi efek di tumit yang sangat sakit pasca berdiri empat jam di depan kompor :))

Kedua jari ini terkena pisau

Tapi bagaimanapun, bahagia sangat bisa bikin masakan yang enak. Apalagi itu makanan favorit yang biasa kubeli.

Mlekom,
AZ 

*maaf ya, fotonya seadanya. Formalitas aja nih motretnya, karena kaki selak sakit.

 

Wednesday, September 5, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 2:06:00 PM |

Note: Training of Smartphone for Heritage Trails

Image by Urban Discovery.

Being participant on this Tailor Made Training program is a wonderful chance to me. This is a training to make Smartphone Application for Heritage Trails. I was invited on the name of my project: Indonesian Heritage Inventory.

It is held by Urban Sollutios in the frame of their city program called Urban Discovery. Urban Discovery is a group of architects and urban planners who works on urban environmental, inner city revitalization and heritage preservation projects throughout Asia. In Indonesia, they are incorporating with Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). BPPI or Indonesian Heritage Trust is a civil society organization aiming at strengthening and assisting heritage conservation in Indonesia. BPPI is in partnership with Balikuna (Bali Heritage Trust) --which is also the host of this program in Denpasar.

Held on 4-8 August, 2012, this program attended by seven participants from six heritage cities di Indonesia, ie Medan (North Sumatra), Jakarta, Yogyakarta, Surabaya (East Java), and Denpasar (Bali); plus a BPPI respresentatives for Europe.

The aplication is already done by Urban Discovery. All we have to do is to collect datas and put it in to the ready template. Since the idea of Urban Sollution is to help communities to find out their 'treasure', this training is aimed to Denpasar, as the biggest city in Bali which is not that popular as tourist destination compare with other sites in this island.

This is the agenda: 

Day I 
Opening
Introduction of the program and participants with all their backgrounds that can be useful to this training/program.

Day II 
Experiencing, Market Research and Socialization
Balikuna presents about its existing heritage trails. It is important for us to find out which location we will choose to make the aplication. Fortunately, the government of the city has set Jalan Gajahmada (Gajahmada Street) as "heritage street".

There are many interesting objects on this street, including heritage sites. What are they? Balikuna has explain, and we found out more when we walked down the street.

After that, we met Bali Creative Community. They are group of young people who dedicates their work to the city of Denpasar. The goverment supports them much. There, we discussed about our program and asked for some recommendations.

The last agenda on this day is went to Jalan Gajahmada for the heritage trail. We visited the Palace of Bali King, old weaving workshop, colonial buildings, some shops that sells unique product (Bali Coffee, weaving fabrics, etc), traditional market and took some taste of traditional foods.

We made notes and pictures of everything we saw. This is what we need for the contents of the smartphone's aplication. 

Day III
Feeding in Data
Each of us presented what we saw during the trails. Then the forum decided, weather the sites are important to be included or not. After that, we worked on texts (small description), pictures, and maps.

We also discussed about the revenue mode: how will the application be made available, website, marketing support, etc. Plus the revenue sharing arrangement between the heritage societies. As information, this application is given to the heritage societies in Indonesia for free. But people (public: tourist, traveler) have to pay when they download it to their devices.

Day IV
Meeting: Preparation for Operation Level
As this is the Executive Level, the seven of us will be trainers for training in 10 cities in Indonesia. Two different cities for each of us to be handled.

The next training will be the Training for Operation Level. It will be held in October, coincides with The National Meeting of Indonesian Heritage Society in Surabaya (East Java), organize by BPPI.

There are more than 10 heritage cities in Indonesia which has been registered in Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI/Indonesian Heritage Conservation Network). Due to operational budget, we have to select only 10 of them. So how do we select? By opening call for proposal to heritage public. We have just opened it yesterday, here it is the info (in Bahasa indonesia).

This day, beside mecanism to select participants, we also discussed about:
  • the design of training programme, 
  • put together a training preparation package for application; including formats/guidance for filling in information: requirements for photo’s maps etc,
  • research best practice case studies on how heritage NGO’s in other countries around the world use new and social media
Day IV 
Evaluation, Closing
Here we are on the last day. We make evaluation about all the progress. Than we came back to the field if there is any uncomplete data about the site. We took more picture, more interview, etc.


Day V 
Meeting the Stakeholder
We visited Major of Denpasar to report the progress of program implementation. It is needed since we want supports from the government. It was great that they are very welcome. See the publication here (in Bahasa Indonesia).

More info about this application, you can see some example of what Urban Solutions has done with their Urban Discovery projects, here.

See you in October!
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 10:17:00 AM |

The Jogja International Performing Arts Festival - Asia Tri Jogja 2012


Art has been imagined as the humanness virtue of peace; the artistic willing, senses and instruments, that reflecting the human’s need to seek their utopia, their hiding place within self, where everything means for peaceful existence. Thus by singing, dancing, performing or visualizing, the hopes reflected.

The existence of ART and the searching of PEACE have constituted cultural dialogue for centuries. Arts, the domain of cultural sense of creativity, have the power to touch human’s heart, to influence people from within their sensitivity. At the end of the millennium, many works of art answering the challenge to interweaving many differences of human cultures. Peace has come into artist agenda. Many traditional and modern societies have shown that the reality of arts have played a great role on the reflective side of life, on peace making, within or towards individuals and communities.

The Jogja International Performing Art Festival is an annualy performing arts festival whose foundation is aimed to provide Indonesian artists especially Yogyakartans with cultural dialog and exchange with foreign artists from across the world.

JIPA is designed to be an open art festival. The list of artists participating in the Festival is made under the recommendation of an independent team of curators. The Festival is open to artists from across the world regardless their nationality, ethnic, and religious background. An open communication of different cultures is the Festival’s main goal with human relationship and art creativity as its groundwork.


[co-pas from the official website]

The Jogja International Performing Arts (JIPA) Festival

29 Sept & 1 Okt | 19.30 | Sositet Taman Budaya Yogyakarta

30 Sept | ISI Yogyakarta
Performance:
  1. Taketeru Kudo - Japan
  2. Jocelyne Montpetit - Canada
  3. Chelsea Heikes - USA
  4. Agnes Christine - Singapore
  5. Eblen Macari Ensemble - Mexico
  6. Hong Zhuan Yue - China
  7. Nanyang Ensemble - Singapore
  8. Danang Pamungkas - Indonesia
  9. Komang Praptika - Indonesia
  10. Suji Dance Company - Indonesia
  11. Maya Dance Theater - Singapore

Asia Tri Jogja 2012 
02 - 04 Okt | 19.00 | Museum Ullen Sentalu, Kaliurang
Countries:
  1. Holand
  2. Spain
  3. Canada
  4. Japan
  5. USA
  6. Singapore
  7. India
  8. Mexico
  9. Indonesia
Source Facebook Invitation. The web is not updated, yet. But you can join the dynamic Facebook group here.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 12:30:00 AM |

Yth Walikota Yogyakarta

Yth Walikota Yogyakarta,

Saya adalah warga Kota Yogyakarta. Perkenankan saya menyampaikan perihal berikut, terkait perlakuan sejumlah pegawai di jajaran kantor Balai Kota Yogyakarta.

Jumat (31/08) lalu, pukul 8.30 saya ke Balaikota untuk mengurus Kartu Kuning. Masuk lewat gerbang utara, saya menghampiri Pos Jaga yang terletak di seberang masjid. Ada lebih dari lima orang di sana. Ada yang berseragam, ada yang tidak. Mayoritas Satpol PP. Mereka berkumpul santai di sana, ngopi dan merokok.

Saya menanyakan ruangan Disnakertrans. Beberapa menjawab dengan baik, tetapi salah satu berkomentar, "Untuk mbaknya, saya anterin tidak apa-apa".

Tak saya tanggapi, langsung menuju selatan. Tak lama, seorang lain berseragam Satpol PP--yang sedang jalan berlawanan arah dengan saya--berkomentar, "Mbaknya jalan kaya pragawati..." sambil tertawa-tawa.

Urusan saya selesai. Saya keluar melalui gerbang yang sama. Melewati kantor Satpol PP, ada tiga orang yang bersuit-suit dari dalam kantor. Saya tatap mereka, ingin saya hampiri, catat nama, lalu ambil foto mereka. Namun saya urungkan.
Kronologis kejadian telah saya tulis di tautan berikut: http://adrianizulivan.blogspot.com/2012/08/pelecehan-di-kantor-walikota-jogja.html

Saya menganggap hal itu sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Meski hanya dengan kata-kata, mereka melakukan pelecehan. Ini adalah perbuatan yang tidak senonoh. Terlebih lagi, perbuatan itu dilakukan di sebuah institusi terhormat sekelas Kompleks Perkantoran Pemkot, oleh pegawainya sendiri.

Saya ingin ada tindakan serius untuk kelakuan mereka ini. Jangan sampai orang-orang seperti saya trauma, lalu enggan berurusan dengan Balai Kota. Saya yakin, saya bukan satu-satunya tamu Balaikota yang mereka lecehkan seperti itu.

Saya tunggu tanggapan baik dari Bapak Walikota.

Salam,

Adriani Dwi Kartika Zulivan,
...(alamat lengkap), Jogja

Tembusan:
- Humas Kota Yogyakarta
- Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta

*
Barusan kirim email di atas ke Walikota Jogja, terkait kasus ini. Semoga segera mendapat tanggapan.

Mlekom,
AZ

Sunday, September 2, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:03:00 PM | No comments

Minuman Toilet


Lokasi: Masjid Agung Malang, Jawa Timur

Ibu ini menjual minuman di dalam toilet...

Mlekom,
AZ

20140514
Posted by adriani zulivan Posted on 7:52:00 PM | No comments

Kolam Wudhu



Bukan lautan, hanya kolam wudhuuu... Kolam di lantai gedung Masjid Agung Malang, Jawa Timur.

Mlekom,
AZ

20140518

Saturday, September 1, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:43:00 PM |

Indonesian Heritage Inventory, a New Way to Access Intangible Heritage

Innovative ways of accessing intangible heritage resources:
Indonesian Heritage Inventory, 

a New Way to Access Intangible Heritage

Indonesia became one of country that experienced a boom in the use of social/networking media. Facebook and Twitter user in Indonesia are always in the top ranking of the world. The biggest number of social media consument in Indonesia is young people. It allows the emergence of citizen journalism,
counciously or not, is carying the new model of documentation by the public, known as crowd-sourcing.

Public in Indonesia has already familiar with database crowd-sourcing, not only to collect information, but also to manage public campaign and people action. They were using Facebook to fight againts corruption, chance the law that does not siding to the people justise, and to help disaster victims.

There are so many group of social media user shares information about heritage. When someone go to one heritage site, he will took picture of himself with the heritage site as the background. Then he will upload it to the social media. Then write complete description about the site he saw then upload it. This is the first step to preserves the heritage.

Is it enough then to be called as database system? Not yet! One place is needed to provide all tinformation about Indonesian heritage. The system managed by Indonesian government and some other institution seems not yet ready, both in infrastructure and human resources. Each department has their own central database, but it is not integrated and not easy for public to access. This is the reason why crowd-sourcing is needed.

Since Januari 2012, there is an initiative to build a database system in Indonesia, called Indonesian Heritage Inventory (IHI - http://indonesianheritage.web.id). IHI recorded information on text, maps, picture and video. IHI allows everyone to use and/or add information. It means that the data is dinamic.


Adriani Zulivan,
Indonesian Heritage Inventory, Indonesia
http://indonesianheritage.web.id
 
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata