Thursday, January 24, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 AM | 1 comment

Coba Dulu, Kalau Gagal Ya Sudah!

Gambar dari sini.
Kalimat judul di atas terdengar positif, ya. Semacam you'll never know before you try! Namun, tidak begitu yang aku tangkap.

Semalam aku diundang tim dari Jakarta untuk ngobrol tentang inventarisasi pusaka. Mereka adalah orang pemerintahan dari dinas yang mengurusi perkotaan. Intinya cari konsultan untuk proyek inventarisasi pusaka di 10 kota yang menjadi pilot project. Mereka ingin menggunakan sistem Indonesian Heritage Inventory (IHI) yang kubangun.

Kutolak, tentu saja. IHI harus tetap menjadi gerakan independen yang tidak dibawahi badan pemerintahan. Biarkan dia tumbuh menjadi organisasi yang berakar pada kekuatan publik. Kutawarkan bentuk lain, dengan mengadopsi pada cara kerja IHI untuk proses pendataan. Mereka setuju.

Dengan GIS sistem, IHI memungkinkan pendataan situasi terkini lewat crowd-sourching. Ini yang membedakan IHI dengan sistem lain yang tidak dinamis: hanya ada satu data, sejak awal didokumentasikan hingga entah kapan.

*
Di hari yang sama (23/01), Elanto Wijoyono diundang oleh dinas yang mengurusi budaya. Bersama berbagai stakeholder terkait pusaka, mereka merapat seharian. Dinas ini tertarik mengadopsi Sistem Informasi Desa (SID) yang dikembangkan Elanto bersama timnya.

Nah, ini kenyataan, bahwa dua instansi kementrian akan membuat sebuah basis data dengan tema sama: pusaka. Semalam kuceritakan pada Elanto tentang obrolanku dengan orang-orang perkotaan itu. Aku takut jika sistem ini menjadi tumpang tindih, lalu kemudian malah menjadi tak efektif.

Awal 2011, Elanto pernah tawarkan pembuatan sistem informasi pusaka. Tawaran ini ia berikan pada Indonesian Heritage Trust, sebuah organisasi yang menjadi hub komunitas pusaka se-Indonesia. Tawaran ini ditolak, dengan alasan yang aku lupa apa. Sistem inilah yang kemudian, di awal 2013 ini, dilirik dinas yang mengurusi budaya itu.

Oktober 2011 muncul Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Kegiatan ini dimotori sejumlah komunitas peduli pusaka. Sistem ini coba menangkan segala informasi di dunia maya terkait pusaka. Mirip dengan basisdata yang selama ini telah dikembangkan pemerintah. Perbedaannya terletak pada verifikasi data yang tidak dilakukan, sebab mengambil floating information yang bertebar di media online.

Maret-April 2012, aku dan Elanto meneliti sejumlah instansi pusaka di Yogyakarta, yang meliputi pemerintah, LSM, hingga kampus. Kami mencari tahu sistem pendokumentasian yang mereka gunakan. Cek laporan awalnya di sini.

Tiap organisasi itu memiliki sistem inventarisasi masing-masing. Tak ada sinergi antar satu sama lain. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan pernah membuat sebuah sistem online (namun intranet) benama Sistem Informasi Kebudayaan (SIK). Sebuah kebijakan top-down yang menyulitkan masing-masing instansi di bawahnya. AKhirnya, SIK mangkrak setelah dibangun dengan uang negara yang tak main-main jumlahnya.

*
Kembali ke obrolan tadi malam. Kuusulkan membuat sistem terintegrasi. Namun bukan menyuruh semua instansi menerapkan sistem ini di kantornya, namun mengintegrasi sistem yang telah ada. Berdasar penelitian yang telah kami lakukan di 2012 lalu, kusimpulkan bahwa para pegawai pemerintah tak memiliki kema(mp)uan yang cukup untuk mengubah kebiasaan mereka.

Mereka sadar bahwa nantinya sistem ini akan memudahkan pekerjaan, namun merasa keberatan jika harus mengulang proses memasukkan data yang selama ini telah tersimpan di sistem mereka ke dalam sistem baru.

Orang-orang perkotaan ini tak setuju. Menurut mereka, justru program ini menjadi upaya untuk 'memaksa' mengubah kebiasaan itu.

"Saya tidak yakin," kataku.
"Ya kita coba"
"SIK itu gagal. Selain sistemnya yang belum matang, orang-orangnya juga tak siap."
"Harus dicobakan."
"Kecuali begini... Setelah sistemnya selesai dibangun, kita bikin workshop managemen sistem, pesertanya tiap instansi. Tak boleh pejabatnya, namun anak muda yang mengerti IT. Dua per instansi."
"Ya, begitupun boleh. Kalau upaya ini gagal ya sudah. Yang penting sudah dicoba."

Aku agak tak suka dengan kalimat terakhir. Seakan begini bunyinya: Ini ada uang yang harus dihabiskan, buatlah proyek; perkara jalan atau tidak, ya itu urusan kemudian...

Sedih ya. Ini negaraku, mana negaramu?

Mlekom,
AZ




about it
Categories: ,

1 comment:

  1. Susah mbak untuk live-update, apalagi IHI sepertinya punya celah yaitu data yang diinput bisa saja berganda dengan data yang sudah ada.

    ReplyDelete

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata