Friday, May 24, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:28:00 AM | No comments

Jelajah Pusaka Pecinan Petak Sembilan Jakarta




Waktu
Sabtu, 25 Mei 2013 pukul 09.00–12.00 WIB

Peserta 
Umum. Pencinta dan pemerhati pelestarian, khususnya pelestarian pusaka terkait budaya Tionghoa.

Biaya
Gratis

Latar Belakang
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dalam rangka Tahun Pusaka Indonesia 2013 serta melaksanakan salah satu program kerjanya yaitu Pendidikan dan Pengembangan Kapasitas Pelestarian berencana mengadakan Jelajah Pusaka. Program ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat kekayaan pusaka di sebuah daerah serta berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar. 

Pada kesempatan ini BPPI menyelenggarakan jelah Pusaka Pecinan Jakarta yang terintegrasi dalam kegiatan Gelar Karya PNPM Pusaka pada 25 Mei 2013. Adapun program PNPM Pusaka merupakan program pendampingan masyarakat dalam mengenali, mencintai, melestarikan dan mendayagunakan pusaka untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. PNPM Pusaka adalah kerjasama BPPI dengan  Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI.

Salah satu ciri khas yang umum terdapat disetiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya pemukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (China Town) di kota itu. Kawasan Pecinan, dalam sejarahnya selalu menjadi penopang sekaligus jantung perekonomian. Tak heran, jika Pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia, termasuk Jakarta.

Jauh sebelum Belanda membangun Batavia, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah Timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan Sunda Kelapa. Kedatangan orang-orang cina bahkan sudah dimulai sejak sebelum abad ke 7.  Pada masa dimana tembok Batavia masih berdiri dengan kokoh, Orang-orang cina bebas keluar masuk dan tinggal di dalam kota. setelah terjadinya Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di luar tembok yang saat ini kita kenal sebagai glodok.

Di Pecinan Glodok dan sekitarnya tempo doeloe konglomerat Khouw pernah berjaya; ribuan orang China juga pernah dibantai; perayaan Imlek; semarak Cap Go Meh; nostalgia Peh Cun, panasnya perjudian dan madat, serta aktivitas perdagangan dan perekonomian yang terus bergelora. Jejak-jejak itu, kendati terus memudar, masih tetap terasa kental.

Penamaan Glodok pun mempunyai cerita tersendiri. Konon Glodok berasal dari kata grodok yaitu bunyi air yang jatuh dari pancuran di sekitar daerah tersebut. Namun ornag-orang Cina disana mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata grodok seperti layaknya orang pribumi dan mereka menyebutnya dengan glodok.

Satu lokasi terkenal di Glodok adalah Petak Sembilan. Jalan ini sebenarnya adalah bagian dari jalan kemenangan 3 namun karna dahulu  rumah-rumah penduduk yang terdiri dari petak-petak yang berjumlah Sembilan maka jalan itu pun dikenal dengan petak Sembilan. Didalamnya terdapat banyak potensi heritage baik tanginle maupun intangible. Sejak awal 2013 BPPI bersama dengan Kemenkokesra berkomitmen menggulirkan program pendampingan komunitas lokal di Petak Sembilan, mendorong mereka untuk lebih memahami potensi pusaka di petak Sembilan, mencintai dan mengembangkan serta melestarikannya.

Rute Jelajah

  • Berkumpul di Klenteng Kim Tek Ie / Jin De Djuan
  • Petak Sembilan - Klenteng Kim Tek Ie – Toko Obat Karti Djaja - Rumah Pabrik kue Bulan - Gereja Maria de Fatima – Klenteng Fat Cu kung Bio - Klenteng Tang Seng Ong – Rumah Keluarga Wongso - Kawasan Toko tiga – Rujak Juhi – Rujak Shanghai –Toa Se Bio

Biaya
Kegiatan ini tidak dipungut biaya.

Informasi
Sekretariat BPPI 021-3511127
Nafi 081329380937 


Objek Pusaka yang Dikunjungi

1. Klenteng Kim Tek Ie / Jin De Djuan
Klenteng ini terletak tepat di Petak Sembilan. Klenteng ini bisa dikatakan sangat tua karena menurut Adolf Heuken pada tulisan Historical Sites of Jakarta (1989) yang mengutip dari catatan Les Chinois de Jakarta: Temples et Vie Collectives (1977) tulisan Claudine Salmon dan Denys Lombard, menyatakan bahwa pada sekitar tahun 1650, seorang letnan Tionghoa bernama Guo Xun Guan (Kwee Hoen) mendirikan sebuah klenteng untuk menghormati Guan Yin (Dewi Kwan Im) di Glodok.

Awalnya klenteng ini disebut dengan Klenteng Guan Yin Ting (Kwan Im Teng) atau berarti kediaman Guan Yin. Namun sayangnya hampir seabad kemudian klenteng ini dirusak serta dibakar dalam peristiwa Tragedi Pembantaian Angke pada tahun 1740. Pada tahun 1755 seorang kapten Tionghoa menamai kembali klenteng yang sempat dirusak lalu dipugar kembali ini dengan nama Jin De Yuan (Kim Tek Ie) yang berarti “Klenteng Kebajikan Emas”.

Kelenteng ini merupakan kelenteng umum, artinya tidak secara khusus memuja salah satu agama / aliran saja, tetapi memuja berbagai agama, seperti Tao, Khonghucu dan Buddha.

Jika kita berdiri dihalaman luar yang dikelilingi tembok - setelah melewati pintu gerbang pertama di selatan - disebelah kiri terdapat tiga kelenteng sekunder dan modern: Hui Ze Miao (kelenteng untuk leluhur Hakka), Di Cang Wang Miao (dipersembahkan kepada Raja Neraka) dan Xuan Tan Gong, yang dipersembahkan kepada dewa pemberi kekayaan. 

Lalu, kita masuk ke halaman kedua dimuka kelenteng utama dan melihat dua singa (Bao Gu Shi) yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok Selatan (1812). Sebuah pembakar kertas (uang kelenteng) yang disebut Jin Lu, berdiri di bawah atap bertingkat. Jin Lu tertua ini sekarang diletakan di halaman belakang. Pada alat itu tertera dibuat di Kwangtung pada tahun 1812.

Gedung utama Kelenteng Jin De Yuan dibangun sesudah tahun 1740, karena kelenteng yang lama ikut dihancurkan pada tahun itu. Ujung-ujung atap gedung induk dengan genteng yang bagus melengkung keatas, dihiasi dengan naga-naga dan berbagai patung porselin. Pintu ganda utamanya dilukisi gambaran penjaga (Men Shen). Kedua jendela bundar dari ukiran kayu yang tembus pandang, melambangkan Qi Lin, binatang menakjubkan yang menyerupai kuda bercula satu. Binatang ini dianggap lambang keberuntungan yang luar biasa.

Gambar timbul modern di sebelah kanan dan kiri melukiskan burung phoenix dan naga, simbol kaisar dan ratu. Empat lentera menghiasi ruang depan ini. Tulisan horisontal pada papan kau diatas pintu masuk menunjukan nama kelenteng ini. Diatas pintu masuk disebelah dalam, didalam sebuah kotak tampak patung San Yuan, Kaisar Tiga Dunia. Patung Dewa Tao ini mungkin berasal dari abad ke-17.

Bangunan utama dikelilingi dengan bangunan lain di sisi Timur, Utara dan Barat, sehingga seperti aksara U terbalik.

Di kanan dan kiri bangunan utama terdapat pintu samping yang jarang dibuka. Ujung bumbungannya mencuat ke atas dan terbelah dua dalam gaya yang disebut "Gaya Ekor Walet", sebab bentuknya mirip ekor burung walet yang ujung ekornya terbelah dua. Pada masa lalu ujung bumbungan seperti ini, bersama sepasang singa batu, hanya boleh dipakai untuk menghiasi bangunan kelenteng dan gedung-gedung para pemuka masyarakat Tionghoa (Majoor, Kapitein, dan Luitenant]. Maka dari itu jumlah gedung dengan gaya ekor walet tidak banyak ditemukan. 

Contoh beberapa gedung dengan gaya ekor walet, selain kelenteng, adalah Gedung Candra Naya, Gedung Perniagaan, gedung bekas Kedutaan Tiongkok (telah dibongkar). Orang biasa dan hartawan dilarang memakai bentuk bumbungan seperti itu. Mereka hanya boleh membangun rumah atau toko dengan bentuk atap yang disebut "Gaya Pelana". Contoh bangunan dengan atap ekor pelana adalah bangunan-bangunan tradisional sepanjang Angke, Jembatan Lima, Toko Tiga, Pejagalan, Pasar Pagi, Pasar Baru, dll.

Diruang tengah - Ta Tieng - tampak banyak patung buddhis yang berkualitas baik, namun berasal dari sebelum tahun 1740. Pada tembok kanan dan kiri bagian tengah dipasang kotak berkaca dengan delapan belas patung Arahat atau Luohan. Tiga patung besar dibelakang patung Guan Yin pada tembok belakang melambangkan San Zun Fo Zu, semacam tritunggal Buddhis, yang disertai sejumlah patung lebih kecil, yang sebagian berasal dari abad ke-18.

Dalam gedung samping kiri terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Nama mereka masih tertulis pada beberapa lempeng batu. Dalam kamar pertama terpasang altar paling tua dari seluruh kelenteng. Kamar kedua diisi dewa Tao Fu De Zheng Shen [Hok Tek Tjen Sin] - Dewa bumi dan kekayaan. Dialah dewa yang paling dihormati di Jakarta, karena orang Tionghoa pada jaman dahulu bekerja sebagai pedagang dan petani.

Di gedung belakang, dalam kamar sembahyang tengah, terdapat patung seorang dewa setempat yang dihormati. Nama dewa itu adalah Ze Hai Zhen Ren [Cek Hay Cen Ren]. Nama sesungguhnya adalah Guo Liuk Kwan [Kwee Lak Kwa]. Sebuah lonceng buatan tahun 1825 dipojok kanan halaman belakang merupakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Akhirnya di sayap kanan, dua kamar sembahyang diisi sebuah altar untuk menghormati Qing Shui Zu Shi, "Tuan karang terjal yang disebut Qing Shui Yan". Nama sesungguhnya Chen Pu Zu dan dihormati juga di kelenteng Tanjungkait di utara Tangerang.

Papan pujian (tahun 1757) yang tergantung di atas ruang utama dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa di kelenteng ini terdapat berbagai aliran.

Huruf Jin De Yuan [Kim Tek Ie] yang tertera horisontal di atas pintu utama ditulis oleh ketua kelenteng pada waktu itu. Begitu pula sepasang syair di kiri dan kanan pintu, dipandang dari dalam kelenteng, yang memiliki arti: Pedupaan mas mengepulkan awan kebahagiaan, semua tempat terbuka, demikian pula dengan alam Dharma.

Gerbang kebajikan menampakkan atmosfir kejayaan yang menyebar luas di alam manusia.

2. Toko Obat Karti Djaja
Salah satu ciri khas pada setiap pecinan adalah  keberadaan Toko Obat China. Cara pengobatan khas Cina memang sudah popular bahkan sejak zaman pemerintahan Kolonial. Satu toko yang cukup ramai di datangi orang dalah Karti Djaja. Banyak pengunjung dari berbagai daerah Jakarta yang menccoba mencari pengobatan cina berkunjung ke toko ini untuk menemukan  obat  yang mungkin tidak  terdapat pada tempat lain.

3. Rumah Pabrik Kue Bulan Viki
Kue bulan (Hanzi: 月餅, pinyin: yuèbǐng) adalah penganan tradisional Masyarakat Tionghoa yang menjadi sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam Bahasa Hokkian-nya, gwee pia atau tiong chiu pia. Sedangkan dalam bahasa Hakka / Khek- nya, yaitu " Nyekh Ppyang " .

Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.

Pada jaman Dinasti Yuan, rakyat Han pada saat itu menentang pemerintahan Mongol dari Dinasti Yuan, dan para pemberontak, dipimpin oleh Shu Yuan Zhang, merencanakan untuk mengambil alih pemerintahan. Shu bingung memikirkan bagaimana cara menyatukan rakyat untuk memberontak pada hari yang sama tanpa diketahui oleh pemerintah Mongol.

Salah seorang penasehat terpercayanya akhirnya menemukan sebuah ide. Sebuah berita disebarkan bahwa akan ada bencana besar yang akan menimpa negeri Tiongkok dan hanya dengan memakan kue bulan yang dibagikan oleh para pemberontak dapat mencegah bencana tersebut. Kue bulan tersebut hanya dibagikan kepada rakyat Han, yang akan menemukan pesan “Revolusi pada tanggal lima belas bulan delapan” pada saat membukanya.

Karena pemberitahuan itu, rakyat bersama-sama melakukan aksi pada tanggal yang ditentukan untuk menggulingkan Dinasti Yuan. Dan sejak saat itu kue bulan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Perayaan Pertengahan Musim Gugur.

Di Petak Sembilan dahulu terdapat dua produsen pembuatan kue bulan namun saat ini hanya tinggal satu saja. Pabrik kue Bulan Viki hanya akan memproduksi kue bulan dari tanggal 22 Juni 2013 sampai dengan 19 September 2013.

4. Gereja Maria de Fatima
Tidak jauh dari Klenteng Toa Se Bio terdapat sebuah gereja bagi warga Tionghoa, bernama Gereja Santa Maria Fatima.Awalnya gereja ini hanya menggunakan bahasa Tionghoa dalam pelayanannya karena memang jemaatnya merupakan warga keturunan Tionghoa, tapi sekarang gereja ini mengadakan pelayanan dengan bahasa Indonesia dan Tionghoa.

Arsitektur gereja ini unik karena sebenarnya sebelum menjadi gereja, bangunan ini merupakan kediaman dari seorang Luitenant der Chinezen bermarga Tjioe. Oleh karena itu gereja ini kental dengan arsitektur yang diperuntukkan bagi pejabat Tionghoa masa pemerintahan Hindia-Belanda, lengkap dengan struktur satu bangunan utama dan dua bangunan samping, ujung atap melengkung gaya ekor walet, dan kawalan dua singa batu di halaman depan. 

Banyak bagian berbau Tionghoa di gedung ini seperti inkripsi-inkripsi Tionghoa di bubungan atap, tempat untuk patung dewa, serta sketsel berwarna merah dan emas yang berada di depan pintu utama gereja dibiarkan seperti apa adanya oleh pihak gereja. Tidak diketahui secara jelas kapan dan bagaimana sejarah bangunan ini didirikan, hanya diketahui bahwa gedung ini dijual oleh pemiliknya setelah Tingkok dikuasai komunis pada tahun 1949.

Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austriasebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.

Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektar, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Pada tahun 1954, Perayaan Ekaristi pertama dilaksanakan di dalam gereja dan dipimpin oleh 4 orang imam dan diikuti oleh 16 orang umat. Minggu-minggu berikutnya jumlah umat semakin bertambah dan misa dimajukan menjadi pukul 06.00 sedangkan pada pukul 07.30 digunakan untuk misa berbahasa Mandarin.

Semakin lama umat semakin bertambah, maka pada tahun 1968, Perayaan Ekaristi diadakan di dalam ruang kelas di kompleks sekolah Ricci, dan diberkati oleh Mgr. Salvatore Pappalardo, Duta Besar Vatikan waktu itu, sementara kapel lama direkonstruksi ulang menjadi gereja yang lebih besar. Gereja baru mampu menampung 600 orang umat, bangunan kanan digunakan untuk pastoran dan kirinya dialihkan fungsi dari ruangan kelas, menjadi ruangan seksi organisasi.

Setelah kedatangan Pater Otello, gereja direnovasi secara besar-besaran, pergantian lantai dan langit-langit. Penataan tempat untuk patung Maria de Fatima, yang berasal dari Urtijëi, Italia Utara, dan Hati Kudus Yesus, yang diberkati oleh Mgr. Leo Soekoto SJ. Lalu dipasang pula ukiran kayu Yesus yang disalib bersama 2 orang penjahat yang dikirim dari Italia pada jaman Pater Liliano. Selain itu lahirlah organisasi-organisasi seperti koor paroki, Legio Mariae, Putra Altar, kelompok-kelompok katekumen baru, Sekolah Minggu, dan pertemuan-pertemuan di lingkungan.

Lalu Pater Guido memisahkan sekolah Ricci dari Yayasan Strada dengan menambah 1 gedung baru. Saat ini gedung itu digunakan oleh SMP, dan jumlah siswanya saat itu mencapai 1.000 orang.

Kedatangan Pater Ettore membawa perkembagan baru bagi gereja khususnya pada kegiatan Legio Mariae. Legio Mariae berkembang pesat menjadi 4 presidium. Setelah Pater Ettore pindah, tugasnya digantikan oleh Pater Vincenzo Barravalle SX. Pada saat itu diresmikanlah gedung olahraga sekolah Ricci. Untuk membantu pelaksanaan sekolah, dimintalah suster dari Kongregasi SND untuk membantu SMP dan SMA. Tugas suster kongregasi SND kemudian dilanjutkan kepada Kongregasi Fransiskan Pringsewu dan sekarang menjadi kongregasi FSGM (Fransiskanes Santo Georgius Martir).

Pada tahun 1989, Pater Yosef Bagnara diangkat menjadi Kepala Paroki menggantikan Pater Vincenzo yang ditugaskan di Pulau Nias. Selain jumlah umat yang semakin bertambah, terjadi pula pemekaran di wilayah yang ada di Paroki menjadi 8 wilayah dan 25 lingkungan. Selain itu muncul pula seksi-seksi baru seperti Sant' Egidio, HAK dan KKMK. Selanjutnya jabatan kepala paroki dipegang oleh Pastor Guido Paolucci, dan pada tahun 2011 oleh Pastor Germano Framarin.

5. Klenteng Fat Cu Kung Bio
Fat cu kung Bio itu tempat sembahyang sama dengan Klenteng dimana yang menjadi tuan rumah  Dewa Fat Cu Kung. Di Fat Cu kung Bio juga ada Dewa Hok Tik Cengsin,Hian Tian Siang Tee dan dewa-dewa yang lain.
Sosok Fat Cu Kung berawal dari masa Dinasti Songhang, Xiao dan Hong bertarung melawan siluman ular yang mengacau di daerah Yong Chun, tepatnya Telaga 9 Naga. Karena kehebatan ilmu tarung siluman ular, Hong dan Xiao tewas. Beruntung, Zhang dapat melarikan diri ke gua pertapaan. Di sini, Zhang dapat memohon bantuan Lu Dong Bin, salah satu dewa yang terkenal sakti.
Lu Dong Bin berkenan meminjamkan pedang pusakanya pada Zhang. Berkat kehebatan pedang ini, siluman ular dapat dikalahkan. Sebagai rasa hormat pada Zhang, warga Yong Chun mendirikan kelenteng di gua pertapaan Tao Yuang Dong. Pemujaan kepada Zhang, yang memiliki nama lengkap Zhang Gong Shen Jun, pun dimulai. Karena kesaktiannya, masyarakat menyebutnya dengan nama Fa Zhu Ghong, yang di Indonesia dikenal dengan Fat Cu Kung.


6.      Klenteng Tang Seng Ong
Tan Seng Ong yang Juga dikenal sebagai Kai Ciang Seng Ong lahir di Provinsi Honan pada tanggal 15 bulan 2 tahun 657 Masehi dengan Nama Asli Tan Goan Kong. Ia adalah seorang pejabat militer di daerah Zhang-zhou di propensi Fujian, bernama Chen Yuan guang (tan Gwan Kong–Hokkian) yang hidup pada jaman Dinasti Tang, masa pemerintahan Kaisar wanita Wu Ze Tian. Chen Guang, penduduk asli Guangzhou, pada jaman pemerintahan Gao Zong membantu ayahnya memerintah di wilayah Fujian. Setelah ayahnya meninggal, dia menggantikannya.

Pada permulaan tahun Yong Long, dia mengajukan usul kepada pusat, agar dia diberi kuasa untuk mengurus wilayah Zhangzhou (Ciangcui–Hokkian) yang bergunung-gunung. Pemerintahan pusat memberi ijin, lalu memerintahkannya menjadi ”residen” wilayah itu. Wilayah Zhangzhou, pada masa itu merupakan kawasan yang luas, penuh hutan belantara lebat, rawa-rawa yang mengeluarkan uap beracun, ular dan binatang lainnya banyak berkeliaran di situ, masih ditambah lagi banyaknya penyamun yang bersarang di wilayah yang bergunung-gunung itu. Kehidupan rakyat masih sangat terbelakang dan menderita. 

Chen Yuan Guang kemudian memperkenalkan daerah tengah yang telah maju kepada penduduk setempat. Tanah yang penuh dengan semak-semak belukar diperintahkan untuk dijadikan sawah dan ladang yang subur. Rawa-rawa yang menjadi sumber penyakit ditimbun, sehingga penghidupan rakyat lebih baik. Penjahat-penjahat yang mengganggu keamanan dibasmi, sehingga rakyat jadi tentram. Tetapi didalam pertempuran dengan gerombolan-gerombolan perampok itu Chen Yuan Guang gugur.

Pada imigran yang datang dari Zhangzhou dan orang-orang marga Chen (Tan) menganggapnya sebagai dewa pelindung. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 15 bulan 2 Imlik. Kecuali didaerah Zhangzhou sendiri, para imigran juga mendirikan klenteng peringatan di Taiwan, untuk mengenang jasa-jasanya. Untuk penghormatan Chen Yuan Guang disebut sebagai Kai Zhang Sheng Wang atau Raja Suci pembuka wilayah Zhangzhou.

Pemujaan terhadap Kai Zhang Sheng Wang, seiring dengan menyembah orang-orang Tionghoa dari Zhangzhou, juga menyebar ke Indonesia. Di Jakarta dan Semarang, antara lain, terdapat klenteng untuk memujanya, yang dikelola oleh kaum imigran yang bermarga Chen (Tan–Hokkian).

Pada mulanya, vihara ini hanya diperuntukkan bagi Marga Tan, tetapi sekarang vihara ini sudah diperuntukkan bagi siapa saja. Vihara ini sudah berdiri pada awal 1700an, namun pada tahun 1740 dihancurkan oleh VOC dan pada saat itu juga ada pembantaian orang-orang Tiong Hoa secara besar-besaran. Di dalam vihara ini ada kolam ikannya, memang kalau rumah-rumah tua biasanya ada kolam ikannya sebagai sumber air, karena dulu kan belum ada pam. 
  
7. Rumah Keluarga Wongso
Rumah ini termasuk kedalam salah satu rumah tua bergaya cina. Pada masa kolonial, keluarga Wongso dikenal sebagai ornag yang ramah dan baik. Rumah ini dahulu dijadikan sebagai penampungan anak-anak nakal, telantar atau anak-anak yang tidak diurus. Sayangnya saat ini tidak diketahui dengan pasti dimana keturunan dari beliau.

8. Toko Lautan Mas Kawasan Toko Tiga
Toko ini berada di Jalan Toko 3 (mengapa disebut Jalan Toko 3 adalah karena di sana dulu ada tiga buah toko besar). Toko Lautan Mas dulunya adalah rumah seorang saudagar yang bernama Oeey Tambah Sia pada tahun 1800-an. Ia terkenal karena dia adalah pengusaha yang sangat kaya dan terkenal playboy. 

Bpk. Alwi Syahab pernah bercerita sama Kak Ferry (guide kami), bahwa saking banyaknya uang si Oeey Tambah Sia ini, kalau dia BAB, dia bersihinnya pakai uang, jadi kalau dia lagi BAB, banyak orang yang datang mau pungut uang lap itu dan saking dia playboynya juga, dia sampai berhubungan sama sepupunya sendiri. Bahkan, suatu hari ada orang India yang mau beli tanah dia di daerah Pasar Baru dan setelah deal dan si India ini mau bayar, Oeey Tambah Sia lihat anak perempuan si India ini, cantik banget, dia bilang, “Ga usah dibayar deh, tapi putri kamu saya pakai 2 malam.”

Oeey Tambah Sia itu pengusaha yang kaya banget, tapi dia menjalankan usahanya dengan cara yang ga sehat, dia suka bayar orang untuk bunuhin saingan-saingan bisnisnya dia. Setelah ketahuan berbuat curang, dia dipenjara dan digantung di Lapangan Fatahilah pada tahun 1800an. Tapi, sebenernya walaupun dia ga berbuat curang, keluarganya memang sudah kaya, ayahnya itu adalah Kapten Tiong Hoa.

9. Rujak Juhi
Di kawasan ini terdapat beberapa penjual Rujak Juhi. Bahkan ada sebuah kedai Rujak Juhi legendaris. Kedai itu adalah kedai pertama Rujak Juhi di kawasan Glodok dan masih bertahan. Saat ini sudah dikelola oleh keturunan yang kedua.

Juhi adalah sejenis cumi-cumi, dengan ukuran yang agak besar. Juhi biasanya dimakan oleh orang Jepang atau Cina dengan cara dipanggang. Sekitar tahun 1948 Indonesia mulai mengenal Rujak Juhi,setelah makanan ini dimodifikasi oleh Kwe Tjang yang juga merupakan keturunan Cina. Juhi dibakar/dipanggang, diberi bahan pelengkap lain, lalu disiram dengan saus kacang yang telah dibumbui.

10. Rujak Shanghai
Rujak Shanghai adalah sejenis rujak yang terbuat dari buah-buahan, namun yang membedakan, rujak ini menggunakan pula Juhi. sebelum disajikan, Juhi dan Ubur-ubur yang sudah dikeringkan, terlebih dulu direbus agar daging Juhi dan Ubur-ubur menjadi lembut. Setelah itu, barulah kedua binatang laut ini dipotong kecil-kecil dan kemudian ditaruh di piring.

Untuk memberikan rasa segar dalam masakan, ditambahkan pula sayur kangkung dan mentimun yang diiris kecil hingga menjadi acar. Kemudian, irisan mentimun dan kangkung dicampur menjadi satu dengan daging Juhi dan Ubur-ubur. Barulah masakan segar itu diberi kecap asin dan saus sambal atau tomat dengan ditaburi tumbukan kacang tanah sebagai kuahnya.

11. Klenteng Toa Se Bio
Kelenteng Toa Se Bio juga disebut Kelenteng Duta Besar, untuk menghormati dewa yang dipuja di klenteng ini yaitu Toa Se Kong atau Paduka Duta Besar. Terletak di Jalan Kemenangan III dahulu Jalan Toasebio. Pada awalnya kelenteng ini dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiothoa (Changtai) di Privinsi Hokkian (Fujian), walaupun tidak jelas kapan waktu pastinya, dan dipersembahkan kepada Cheng-goan Cin-kun yang merupakan dewa daerah tersebut.

Sumber lain menyebutkan bahwa , Toa Se Bio berarti ‘kelenteng utusan’. Hal ini dikarenakan pada abad ke-15 seorang utusan Raja Cheng Goan Cheng Kun dari China Selatan pernah datang ke Glodok untuk bersilaturahmi dengan pengurus Kelenteng Cheng Goan Cheng Kun. Pendiri kelenteng ini adalah seorang pedagang yang berniaga di Pasar Glodok. Sebagai pengingat sang raja, maka didirikan kelenteng dengan nama tersebut. Belakangan, nama Toa Se Bio lebih dikenal ketimbang nama Cheng Goan Cheng Kun, karena Toa Se Bio lebih mudah diingat ketimbang Cheng Goan Cheng Kun.

Saat terjadi kerusuhan dan pembantaian etnis China pada 1740, kelenteng ini sempat dibakar massa. Pada saat itu benda yang selamat hanya patung Cheng Goan Cheng Kun dan  hio lo (tempat menancapkan lidi hio yang biasa diletakkan di altar di depan patung dewa). Kini, patung tersebut disimpan dalam lemari kaca di lantai atas agar tidak rusak, mengingat usianya yang sudah sangat tua. Sedangkan yang di pasang di altar kelenteng ini adalah replikanya.

Adapun hio lo tetap berada di tempat semula, dapat dilihat oleh semua orang. Hio lo bertulisan aksara China kuno ini kerap menjadi objek penelitian mahasiswa dan dosen Universitas Indonesia.

Menurut kepercayaan konon salah satu keistimewaan kelenteng ini adalah sangat manjur untuk bersumpah. Bagi mereka yang menepati janji sumpahnya di depan altar kelenteng ini dipercaya hidupnya akan berjaya, sedangkan yang kukuh dengan kebohongannya niscaya akan mendapat celaka.

Di ruang altar utama kelenteng ini terletak sebuah hio-louw untuk menancapkan hio atau dupa lidi yang berangka tahun 1751. Hio-louw di kelenteng ini berangka tahun tertua ke dua setelah meja sembahyang tahun 1724 di Kelenteng Kim Tek Ie (Jin De Yuan). Selain altar utama, di ruang kiri klenteng ini, terdapat tempat pemujaan yang dibagi berdasarkan permintaan.

Seperti halnya kelenteng lain, akan dijumpai pula patung-patung para dewa dan dewi tak terkecuali patung Dewi Kwan Im. Di dalam klenteng ada suguhan musik gambang kromong. Ternyata, musik ini menjadi musik wajib setiap merayakan ulang tahun dewa Taois Cheng-goan Cin-kun selama dua hari. Di Klenteng ini pula, tiap perayaan Cap-go Meh, hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek, diadakan upacara kirab keliling Pecinan yang dinamakan Gotong Toapehkong. Tradisi sempat terputus sejak 1958 dan dirintis kembali setelah era reformasi.

12. Kawasan Gang Gloria
Sebetulnya kawsan gang Gloria adalah sebuah jalan sempit yang berada tepat dibelakang Gedung Gloria yang sudah terbakar beberapa waktu lalu. Kawasan ini kemudian terkenal sebagai surganya kuliner.

Memasuki Gang Gloria kita akan disambut berbagai pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai jenis makanan dari mulai cemilan ringan seperti permen, Bakmi khas cina, Es kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi hingga berbagai hidangan berbahan dasar babi.

*
Unduh dokumen PDF di sini.
Gambar dari sini.

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata