Thursday, February 28, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:44:00 PM | No comments

Suara Anak tentang Sponsor Rokok di Konser Musik


Surat Lentera Anak Indonesia kepada Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta

Kepada Yth. Bapak Arie Budhiman

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta

Jl. Kuningan Barat No. 2 Jakarta -  12710
Telp: 62-21-5205455, 62-21-5205454, 62-21-5201369, 62-21-5209689
Fax: 62-21-5270917, 62-21-5229136
Email: info@jakarta-tourism.go.id


Dengan hormat,
Perkenankan kami menyampaikan surat ini atas nama Lentera Anak Indonesia, sebuah lembaga independen yang mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Negara demokratis yang ramah anak.

Lentera Anak Indonesia menyesalkan atas keterlibatan dan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta dalam “Jakarta International Djarum  Super Mild Java Jazz Festival 2013”  yang akan diselenggarakan pada tanggal 1 – 3 Maret 2013, melalui kampanye Enjoy Jakarta. Mengingat bahwa sponsor utamanya adalah zat adikitf rokok (Djarum Super Mild). Badan Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan pada tahun 2010 konsumsi rokok akan membunuh 10 juta orang. Dari jumlah itu, 70% korban berasal dari Negara berkembang. Dan Indonesia termasuk 5 Negara dengan konsumsi rokok tertinggi di dunia.

Konser musik digunakan industri rokok untuk mempromosikan produknya dan menarik perokok pemula, yaitu anak-anak dan remaja. Pada penyelenggaraan Java Jazz 2012 yang lalu, kami memantau bahwa  anak-anak dan remaja  yang hadir pada festival ini  dibombardir dengan berbagai bentuk iklan rokok.  Merek rokok  muncul di berbagai tempat festival,  panggung utama, TV Plasma, pintu gerbang masuk, T-shirt panitia, dan penandaan lainnya bahkan ditemukan penawaran rokok dengan harga diskon.

Pada bulan Desember 2012 yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Pemerintah No.109 Tahun 2012 yang merupakan mandate UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan untuk melindungi masyarakat dari bahaya konsumsi rokok. Pasal 36 Peraturan Pemerintah No.109 Tahun 2012 melarang acara yang disponsori industri rokok menggunakan logo, merek dagang produk tembakau termasuk brand image dan melarang peliputan kegiatan yang disponsori rokok oleh media massa. Ini untuk mencegah promosi zat adiktif rokok secara terang-terangan.

Karena itu, kami mendesak Bapak Arie Budhiman selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta mengambil langkah-langkah proaktif untuk mendukung implementasi Peraturan Pemerintah No.109 Tahun 2012 dengan menarik dukungan terhadap penyelenggaraan Java Jazz Festival 2013.

Demikianlah surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami mengucapkan terima kasih.



Jakarta, 22 Februari 2013

Hormat kami,


Hery Chariansyah, SH 
Direktur Eksekutif                       


Tembusan:
  1. Yth. Gubernur DKI, Bapak Joko Widodo
  2. Jaringan Masyarakat Pengendalian Tembakau di Indonesia
  3. Arsip



Monday, February 25, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:28:00 PM | No comments

Monolog Siapa Aku

Monolog "Siapa Aku?" karya Laksmi Notokusumo (Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia) dibawakan oleh Taoria Banjarnahor (Cancer Information and Support Center) ditampilkan saat Dramakala Festival, London School of Public Relation, 22 Februari 2013.




Dari Twitter @kitakorban.


Sunday, February 24, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:02:00 PM | No comments

Perjaka

PerjakaPerjaka by Kartika Catur Pelita
My rating: 1 of 5 stars

Dikasih teman, disuruh mereview:

Bacanya capek...

View all my reviews

Friday, February 22, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:30:00 AM | No comments

Jokowi: Saya Enggak Pernah 'Nyobain' Rokok



JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengajak siswa-siswi SMAN 24, Senayan, Jakarta, untuk tidak merokok dan segera meninggalkan rokok. Hal itu ia sampaikan dalam acara peringatan Hari Kanker Sedunia di sekolah tersebut, Jumat (22/2/2013).

"Jangan merokok, tinggalin, merokok itu satu pun enggak ada manfaatnya," kata Jokowi di hadapan para siswa dan peserta kegiatan. Ia juga menyampaikan bahwa seumur hidupnya belum pernah mencicipi rokok.

Tak hanya itu, mantan Wali Kota Surakarta ini juga mengaku tak suka minum kopi, terlebih lagi minum minuman beralkohol. "Saya merokok aja enggak, ngopi juga enggak, apalagi minum (minuman keras). Enggak tahu kenapa, ya enggak pernah saja," ujarnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wali Kota Jakarta Pusat Saefulllah dan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Nila Juwita Anfasa Moeloek serta kepala SMA se-Jakarta Pusat itu, Jokowi mengenakan pakaian sadariah. Dia tiba di SMAN 24, Senayan, Jakarta, sekitar pukul 08.15 WIB, bersama istrinya, Iriana, yang mengenakan kebaya berwarna hijau.

Jokowi juga sempat membagikan tiga sepeda gunung untuk tiga siswa yang berhasil menjawab pertanyaannya. Sebelum meninggalkan lokasi, Jokowi dan Iriana menyematkan pin peringatan Hari Kanker Sedunia kepada semua kepala SMA se-Jakarta Pusat yang hadir di acara itu.

Penulis: Indra Akuntono
Editor :Palupi Annisa Auliani
Sumber: Kompas

Thursday, February 21, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:02:00 PM | 1 comment

Lidah Ibu

Sumber dari sini.
"Sunset di Madailing Natal" kata Pak Said di akun Twitter-nya @saididu. Itu kampung Mamaku.

Jadi teringat kicauan sebuah akun Twitter di linimasaku tadi pagi: "Selamat hari bahasa ibu sedunia!" Aku baru tahu ada hari peringatan khusus bahasa ibu. Coba cek di sini.

Ibuku, Mama, lahir di Mandailing Natal (sering disebut hanya dengan "Natal"). Aku baru tahu ini setelah SD, mungkin. Selama ini, yang kutahu Mama adalah orang Medan. 

Mama sekolah di Padang (Sumatra Barat) dan Sibolga (Tapanuli Selatan, Sumatra Utara). Lalu kuliah, bekerja, hingga menikah menetap di Medan, meski kemudian kami sekeluarga hidup nomaden (maklum, PNS!).

Nah, aku belum pernah sekalipun ke kampung Mama. Kakak dan adikku pernah, masing-masing sekali saat mereka masih berusia TK. Aku lihat kehidupan murni pedesaan di sana, dari foto-foto perjalanan mereka. Sawah, kerbau, mandi dari air yang ngucur di bilah bambu... Menyenangkan sekali! 

Apalagi, sekitar 3 tahun lalu aku tahu bahwa keluarga Mama punya beberapa pulau kecil di sekitar Kepulauan Nias. Sayangnya, aku tahu info ini justru di saat salah satu pulau itu akan dijual. Sedih...

Ke kampung Papa pun baru sekali, ketika aku sudah kuliah, ketika kami sudah tinggal di Jawa. Itu tahun 2006. Kampungnya terletak di Sungai Rangeh, Bayur, Maninjau, Sumbar (untuk tahu detil diantara "Sungai Rangeh" dan "Sumbar", aku ngintip Google!). Namun Papa tak pernah tinggal di sana, sebab Nambo (Bapaknya Papa), sudah tinggal di Medan sejak Papa belum lahir.

Kembali ke hari ini. Jadi, kira-kira bahasa apa yang bisa disebut sebagai "bahasa ibu" buatku? Kami di rumah berbahasa Indonesia, dengan logat campuran dari berbagai kota yang pernah kami tinggali; terutama Medan (medok yang tak pernah pudar dari lidah Papa-Mamaku) dan Jogja, tentunya.

Kami bisa berbahasa Minang (bahasa ibu untuk Papaku) entah dari mana, sebab kami tak pernah tinggal di Sumbar. Kami juga mengerti bahasa Batak, sebab pernah tinggal di Tano Batak. Namun, meski Natal masuk Tapanuli (yang identik dengan Batak), Batak Toba bukan bahasa kampung Mamaku (Mama bahkan tak mengerti bahasa Toba!). Juga bukan bahasa Minang, meski Natal sangat dekat dengan Sumbar.

Sejujurnya, aku tak tahu bahasa yang kerap digunakan Mama ketika berbicara dengan Almarhum Paman, abangnya Mama yang tinggal di Solo (ya, Solo, Jawa Tengah!). Itu bahasa asli Natal, ada sedikit kemiripan dengan Minang, hanya sedikit mirip. Agak sama dengan bahasa Jambi, yang cukup bisa kupahami akibat kemiripan dengan Minang.

Sekarang, kalau Mama ngomong bahasa itu saat bertelepon dengan saudara di Natal, sebagian besar bisa kumengerti. Lagi-lagi, entah bagaimana aku bisa mengerti, hanya lewat obrolan yang kudengar sekilas.

Masih pertanyaan sama: Mana bahasa ibuku? Lidah ibuku berbahasa Indonesia logat Medan. Aku bahasa Indonesia logat sok di-Medan-Medan-kan dengan medhok Jogja banget.

Well, happy international mother's tongue day!

Mlekom,
AZ





Posted by adriani zulivan Posted on 8:52:00 PM | No comments

Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie

Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920 by Soe Hok Gie
My rating: 4 of 5 stars

Ini buku profil organisasi apa novel perjuangan? Saya menikmati bahasa tulis yang digunakan dalam buku ini. Bahasa tersebut membuat buku se-serius ini jadi mudah dicerna oleh orang awam yang seringkali malas membaca sejarah, seperti saya.

Apakah ini bahasa asli yang digunakan Gie di dalam skripsinya? Atau mengalami penyuntingan demi kepentingan penerbitan? Saya jadi tertarik mengetahui dua edisi terdahulunya.

Oh ya, saya baca PDF-nya, dapat saat Googling.

View all my reviews
Posted by adriani zulivan Posted on 1:13:00 PM | No comments

Karawitan Durian

Foto: Sukiman Mochtar

Jumat (22/02) besok, Radio Komunitas Lintas Merapi FM akan mengadakan pertunjukan wayang kulit. Acaranya di studio Lintas Merapi FM, Desa Deles, Klaten, yang terletak 4 kilometer (jarak udara) dari puncak Gunungapi Merapi.

Lihat informasi lengkapnya di sini.

Bersama sejumlah teman, aku akan menonton pertunjukan ini. Kebutuhanku untuk mendokumentasikan pertunjukan tersebut dan niat terselubung berburu durian Merapi.

Hohoho, teteup ya!

Kami akan berangkat Jumat pukul 17.00 dari Jogja, kembali ke Jogja keesokan harinya. Nah, dalam perjalanan pulang ini, mari sempatkan berburu. 

Memangnya banyak durian di sana?

Desa Deles tak punya kebun durian, namun desa-desa sekitarnya tiap tahun melimpah ruah. Bayangkan bisa mencicipi durian segar-dari-pohon seharga Rp 10.000 per buah. Mana ada di Jogja! :)

Ini cerita perburuanku tahun lalu. Ini cerita perburuan orang lain :)

Kita akan menginap di studio Lintas Merapi. Sudah minta izin kepada Mas Sukiman, empunya rumah.

Kalo mau ikutan, mention aja di @adrianizulivan.

Mlekom,
AZ




Wednesday, February 20, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:19:00 PM | No comments

Dear You!

Pic from here.

This post forced me to create a new label: KAMU! :)

How are you today? Me, I am doing good, although there was a dizzy of confusing chat. But the rest of this day is very exciting.

Dear you, when will you finish your work today? I wanna tell you about my day today...

I was really waiting for this day, the day they were interviewed me. It was one fun hour, not as tense as I thought. I think, they were interested on me. Hopefully!

What I think before sounds more interesting, after my fun conversation with them. Them! Yes, they are three ladies. The oldest one sounds cheerful-funny. Looks like I'm going to love my new world. Yeah of course, if I get this chance!

You know, this afternoon I got a good news about Ledhok Community. A friend brought a prospective buyers to buy their plant product: mint leaves. Guess what? The buyer is asking the mint leaves in a few hundred pounds! Alhamdulillah, finally Ledhok Community will have market for their farm products. Thanks Mas @escoret.

Recently, a friend called me about a column in which he runs the fashion media. We've talked about this a few months ago. Apparently, he made ​​a special section for me: "Something like Samuel Mulia in "Parody"," he said. Haha, yes definitely different! Well, yesterday I agreed to make one article per month, I asked for my own issues: all about "nusantara clothing". He is agreed. I think, this issues will be match to Indonesian Heritage Inventory (IHI) as well: One row, two-three websites done! :)

Well you, I've just re-read documents about an event in campus. I am involved there, of course in the field of marcomm. It is a bit surprising, since it is 'offending' (negatively) an issue that I've been striving for. Desperately need input on this!

Hey you, I'm going to show you my new sewing machine that couldn't work well. Do you have any suggestion to help? Huff... desperately, I went to a tailor nearby here, asked "how-to-use-it". She keeps trying, until I said "Let's bring it to repairman" after 3,5 hours (she didn't want to stop)! She was agreed. But, since there are still guarantee time, I would try to contact the distributor agent first.

There you, I also want tell you about a photograph of a friend. He had been changing picture on his Facebook profile. It is a pic of himself together with his wife, in the middle of rice fields. Beautiful, really. This couple is always amazing. Here we go, I've got the copy for you :)


Pic of Singgih Kartono.

Another thing, yesterday I made a delicious (but sodden) cake. Hahahaha, onetime you have to taste it!

Well, it's my day fun.

Dear you, again, when will you finish your work today? I wanna tell you about my day today...

Dear you, are you listen? :))


Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 5:39:00 AM | No comments

Anak Ganteng Disayang Tuhan


Obrolan malam itu dgn Cleondra...
Cleo: Pa, anak ganteng itu disayang Tuhan yaaa?
GP: iya donk cah bagus.. 
Cleo: Jadi kl gitu Tuhan gak sayang Papa ya?....
GP: lha kenapa Le??
Cleo: Soalnya wajah Papa tidak seganteng aku & dek Sean (sambil nyenggir & joget2)
GP: +£#^^%**• (dgn penuh kesabaran & ketabahan kujawab) iya soalnya gantengnya Papa udah Papa titipin untuk kamu & dek Sean...
Cleo: ah maassaaaakk.. Papa bo'ong.... Dimana penitipan ganteng...? Adanya penitipan helm di parkir motor..
* haduh.. Beli casing wajah dimana yaaa...

#
Copas dari Facebook GP (Yusup Martyastiadi). Aku cekakakak guling-guling bacanya. Oia, Cleo ini anaknya memang kritis banget. Pokoknya kalau ngobrol sama dia kita harus punya 1001 jawaban untuk memuaskan dia.

Ah, kangen Cleo. Juga belum pernah lihat Dek Sean!

Mlekom,
AZ

Tuesday, February 19, 2013



FORUM JOGJA SEHAT TANPA TEMBAKAU
Sekretariat:
Kantor MTCC, Lantai II Sektor Utara Gedung ASRI Medical Center,
Jl. HOS Cokroaminoto No. 17 Yogyakarta 55252
Fax : 0274-583900 (d.a. Perkumpulan IDEA)
E-mail: forum.jstt@gmail.com
CP. Valentina Sri Wijiyati (081392413509),
Nanik Prasetyoningsih (08157969113)

No. 008/Eks./FJSTT/II/2013


SIARAN PERS; DAPAT DIKUTIP TANPA KONFIRMASI


PENUNDAAN PENETAPAN
PERDA KABUPATEN BANTUL TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK (KTR),
PENGKHIANATAN AMANAT RAKYAT

Penantian rakyat Kabupaten Bantul akan adanya payung hukum yang bisa melindungi rakyat Kabupaten Bantul, terutama anak dan perempuan, dari ancaman bahaya asap rokok orang lain (AROL) semakin tidak menentu. Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Panitia Khusus DPRD Kabupaten Bantul dan Pengambilan Keputusan Terhadap Hasil Pembahasan Raperda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang diselenggarakan pada Selasa, 19 Feburari 2013 ditunda. Apa pasal?

Kuorum pengambilan keputusan 2/3 jumlah anggota DPRD tidak tercapai. Ketika rapat dibuka sesudah mundur lebih dari 2 jam, dilaporkan oleh Sekretariat DPRD Kabupaten Bantul bahwa dari 45 orang anggota DPRD Kabupaten Bantul, 25 orang hadir, 2 orang ijin, dan 18 orang tidak hadir tanpa keterangan yang jelas. Perinciannya :
  • Fraksi PDIP beranggota 14 orang, 1 orang ijin, 13 orang tidak hadir�raksi;
  • Fraksi PAN beranggota 7 orang dan hadir seluruhnya,
  • Fraksi Partai Demokrat beranggota 5 orang dan hadir seluruhnya,
  • Fraksi PKS beranggota 5 orang dan hadir seluruhnya,
  • Fraksi Partai Golkar beranggota 5 orang, 1 orang ijin, 4 orang tidak hadir
  • Fraksi PPP beranggota 4 orang dan hadir seluruhnya,
  • Fraksi Karya Bangsa beranggota 5 orang, 4 orang hadir, 1 orang tidak hadir
Perilaku wakil rakyat yang sungguh memprihatinkan!

Raperda Bantul tentang KTR yang merupakan raperda prakarsa (inisiatif) DPRD Kabupaten Bantul masuk dalam Prolegda 2013 dan merupakan terobosan penjabaran UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan serta UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sayang sekali prakarsa baik untuk memajukan derajat dan kualitas hidup rakyat Kabupaten Bantul dengan pemajuan hak asasi manusia atas kesehatan serta untuk memajukan perlindungan anak dari ancaman bahaya rokok ini dikhianati tanpa kejelasan. Betapa ironis sikap wakil rakyat yang malah menyiakan hak inisiatifnya!

Seruan senyap anak Kabupaten Bantul yang membutuhkan perlindungan dari ancaman bahaya rokok seolah tidak bergema di hati sebagian wakil rakyat Kabupaten Bantul. Penelitian Heni Trisnowati, Yayi Suryo Prabandari, dan Retna Siwi Padmawati (Cigarette Advertising Exposure And Smoking Behaviour Among Teenagers At Junior High School In Bantul District Yogyakarta Special Province, 2012) menunjukkan bahwa jumlah remaja yang mencoba merokok adalah 39,5% responden, remaja perokok mencapai 58,9% responden, dan remaja rentan terhadap merokok adalah 11,6% responden. Proporsi anak laki-laki yang mencoba merokok lebih tinggi (63,5%) dibandingkan dengan perempuan (8,6%). Ancaman bagi generasi penerus bangsa yang tidak bisa dianggap sebelah mata!

Ketika dunia sedang berjibaku untuk memperjuangkan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dan bahkan sudah bergegas menyusun agenda pasca 2015, sebagian wakil rakyat Kabupaten Bantul justru mengkhianati seruan dunia ini. Ketika dunia berjuang memajukan kesehatan, memerangi kemiskinan-pemiskinan, dan mengupayakan dunia layak anak, sebagian wakil rakyat Kabupaten Bantul seolah menuli. Mereka tidak peduli bahwa amanat rakyat untuk pemajuan derajat kesehatan rakyat serta perlindungan anak sudah dimaktubkan dalam peraturan perundangan Republik Indonesia.

Mari kita tilik!
  • Pasal 115 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan ‘Pemerintah Daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.’
  • Pasal 1 angka 11 Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan menyatakan ‘Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau memproduksi Produk Tembakau.’
  • Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan menyatakan Pemerintah Daerah wajib menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di wilayahnya dengan Peraturan Daerah.’
  • Pasal 6 ayat (1) Peraturan Bersama Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 188/MENKES/PB/I/2011 dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok menyatakan Ketentuan lebih lanjut mengenai KTR di provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan peraturan daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota.’
  • Pasal 10 huruf j Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak menyatakan ‘Indikator KLA untuk klaster [hak anak atas] kesehatan dasar dan kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c meliputi : … j. tersedianya kawasan tanpa rokok.’
Perilaku sebagian wakil rakyat Kabupaten Bantul ini semakin ironis karena pada tahun 2011 Bupati Bantul melalui Keputusan Bupati Bantul Nomor 241 Tahun 2011 tentang Pembentukan Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak Tahun 2011-2014 telah menguatkan komitmen Kabupaten Bantul terhadap pemajuan hak anak dengan membentuk Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak Tahun 2011-2014. Upaya Kabupaten Bantul menuju kabupaten layak anak ternyata
justru dikhianati oleh sebagian wakil rakyat Kabupaten Bantul.

Kami menyeru:
  1. DPRD Kabupaten Bantul mewujudkan komitmen memajukan derajat kesehatan rakyat Kabupaten Bantul serta memajukan perlindungan anak Kabupaten Bantul dengan segera menetapkan Perda Kabupaten Bantul tentang Kawasan Tanpa Rokok.
  2. Semua pihak di Kabupaten Bantul ---DPRD Kabupaten Bantul, Pemerintah Kabupaten Bantul dan seluruh jajaran eksekutif serta seluruh elemen masyarakat sipil--- untuk mewujudkan prinsip ‘kepentingan terbaik untuk anak’ serta keberpihakan kepada hak asasi manusia atas kesehatan dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan.

Yogyakarta, 19 Februari 2013.

*
Unduh PDF Siaran Pers di sini.

Sunday, February 17, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:54:00 PM | No comments

A Giant Pack of Lies, Mardiyah Chamim

A Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di IndonesiaA Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia by Mardiyah Chamim
My rating: 5 of 5 stars

Tak perlu pintar untuk mengetahui muslihat para cukong rokok dan kroninya, buku ini paparkan semuanya.

Saya yang selama ini menjadi bagian dari warga masyarakat pengasap, merasa betapa bodoh saya dan jutaan warga lain yang membiarkan diri kami terpapar asap rokok.

Sebagai warga dari sebuah negara yang melegalkan asap rokok di manapun di tiap sudut ruang publik dan privat, saya merasa makin bodoh ketika tak dapat memilih pemerintah yang dapat memperjuangkan hak saya dan jutaan warga lain yang senasib dengan saya.

Bacalah, bacalah, bacalah!

View all my reviews

Friday, February 15, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:00:00 PM | No comments

Audio Mempermuda Usia

Gambar dari sini.

PREMIS*
  • Tadi, via email: Dear Ms Adriani Zulivan
  • Kemarin, via telepon: Selamat sore, dengan Ibu Adriani Zulivan?
  • 3 hari lalu, via email: Dear Mrs Adriani Zulivan
KESIMPULAN
Audio memperMUDA usia...

:))

Mlekom,
AZ

*oleh satu orang yang sama
Posted by adriani zulivan Posted on 9:50:00 AM | No comments

Favorite Work!

Pic from here.
What do you love in working? 

For me, it is the "please find the attached" sentence & click SEND. And also the "sent" notification. 

"And ... and when the invoice is paid," said a Twitter's friend.

 That's all my favorite part of all work. What's yours?

Mlekom,
AZ

Thursday, February 14, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:03:00 PM | No comments

03-03-13

Gambar dari sini.

Sulit banget cari gedong manten!

Begitu kata ibu-ibu yang datang arisan di rumahku sore tadi. Anaknya akan menikah. Menurut perhitungan tanggalan Jawa (weton?), itu tanggal yang baik.

Ibu ini terlihat senang dengan penanggalan itu. Selain tanggal cantik (ia terus mengulang kata-kata "kosong tiga - kosong tiga - dua ribu tiga belas"), ini juga bertepatan dengan akhir pekan 

"Disempatkan datang ya, bu. Saya tahu tanggal ini banyak manten. Mungkin ibu-ibu juga ada undangan lain, tapi sempatkanlah datang, kan kita bertetangga..." katanya.

Buatku, ini angka HAMPIR cantik sih, belum angka cantik. Ya, Insya Allah barokah dan mawaddah wa rahmah ya, tante...

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 13, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 6:39:00 PM | No comments

Masmas Ngemol

Seorang Masmas, di Jakarta. Berhubung lagi selow usai rapat kantornya, 'kutangkap' tawaran "Mau nitip apa?" yang dia lontarkan pagi tadi.

Sekali nangkap ya nggak mau nanggung, langsung minta tolong carikan mesin jahit portable idamanku ini. Alhasil, Masmas yang tidak hobi ngemol itu, terpaksa sowan ke salah satu emol.

Gambar dari sini.
RT @adrianizulivan Ada masmas keliling Ace Hardware, nyari titipanku. #sayangbinik
"Mini sewing portable wht pink 403. 7 Built in patterns. Atau sewing machine 201" SMS-nya. Setelah tengok Google, cek foto kiriman si Masmas, dan meneleponnya, kuputuskan ambil tipe kedua. 

Done! Eh tapi si Masmas kok masih sliweran di emol? Eh ternyata, sambil nunggu keputusanku tadi, dia sempatkan berkeliling.

"Ada sepeda Schwinn yg aku pengen. 3juta di sini", SMS-nya. Aku gak ngerti ini sepeda yang kaya mana :|

"Jalan2 di mol sepi sendirian. Diskon sampe 50%. untung jalan sendirian ya" SMS-nya lagi. Kalimat ini berarti: "Untung kamu gak di sini, bisa bolong kantongku!" :(


RT @adrianizulivan Masmas: Jalan2 di mol, sepi sendirian. Diskon sampe 50%. Untung jalan sendiri ya | Aku: Pelit!

"Banyak kemeja 50% diskon. *Halah" nahlo, dia tergoda. Kyaaa :)

"Belilah satu buat kamu. Warna abu2/item," kataku.

"Aku gk beli baju. Beli parfum aja. Biar kamu gak ngambek kalo aku bauk. Diskon 50%. Yg ini jgn ditwit ya" kalimat terakhirnya bikin ngekek :))

"Wangi gak parfumnya? jawabku.

"Wangi. Wangi diskon"

...blablabla...

Mlekom,
AZ



Saturday, February 2, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:44:00 AM | No comments

Tebak Gambar



Obrolan via email. Mbaknya dan Masnya.

Mbaknya:
Ini kubikin waktu aku bedrest bbrp hari lalu.
Elik tenin gambare. Tebak opo! :)

Masnya:
denah rumah KITA

Mbaknya:
Iyaaaaaa :))
Kok tauk?

Masnya:
ya tau donk apa keinginan istriku :)

Mbaknya:
Ya drmn taunya

Masnya:
rumah dapur kamar jalan setapak pake batu halam tengah

Masnya:
itu sumur atau panggangan daging?
yg di depan itu akuarium raksasa? *serius nanya


Mbaknya:
Oooo. Hahaha yaaya.

Mbaknya:
Iih itu bukan sumur. Bukan panggangan. Itu tu pondok bambu bentuk bulet utk kamar2 tamu...
Gambarnya jelek pasti kmu enyek :|


Mlekom,
AZ

Friday, February 1, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:27:00 PM | No comments

Kawasan Tanpa Rokok Hanya Angan-angan


Oleh Dwi As Setianingsih

Mencari tempat yang bebas asap rokok di Jakarta ini nyaris mustahil. Maklum, di Jakarta, perokok ibarat raja.

Rahmat (17) tertawa saat ditanya di mana dia biasa membeli rokok. ”Di warung-warung pinggir jalan banyak. Enak lagi, bisa ngeteng,” jawabnya santai.

Ketika punya cukup uang, pelajar kelas I SMA ini membeli rokok di toko-toko swalayan kecil. ”Tidak pernah ditanya tuh KTP-KTP-an. Bayar saja, langsung pergi,” ujarnya.

Di pasar swalayan, rokok umumnya ditempatkan di dekat kasir. Ini tidak menghalangi remaja untuk membelinya meski petugas kasir umumnya mengaku menanyakan KTP.

”Kalau pembelinya pelajar, kami biasanya meminta kartu identitas mereka. Memang sudah seperti itu aturannya,” ujar salah satu kasir di Seven Eleven di kawasan Senayan, Jakarta.

Bagi remaja seperti Rahmat, merokok adalah lambang kejantanan. Dia menyebutnya macho, sekaligus lambang pergaulan. Anak bungsu dari empat bersaudara ini sudah merokok sejak SMP.

”Bapak-ibu saya tahu. Enggak apa-apa,” ucapnya.

Longgarnya peraturan dari orangtua membuat Rahmat bebas merokok di mana pun, termasuk angkutan umum. Nyaris tak ada yang menegur.

Dia tak paham, di negara ini rokok seharusnya tidak dijual kepada konsumen di bawah usia 18 tahun. Bahkan, merokok seharusnya juga tidak bisa dilakukan di sembarang tempat.

Di DKI Jakarta ada Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 50 Tahun 2012 yang mengatur tentang kawasan dilarang merokok (KDM). Yang masuk dalam kategori KDM adalah tempat umum, tempat pelayanan kesehatan, tempat belajar-mengajar, tempat ibadah, tempat bekerja, arena kegiatan anak- anak, dan angkutan umum.

Karpet merah
Pelaksanaan Pergub soal KDM itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ketika Pergub No 75/2005 tentang KDM dikeluarkan, razia terhadap perokok nakal beberapa kali digelar Satpol PP. Namun, kini, yang terjadi banyak KDM yang justru seolah-olah menggelar karpet merah bagi perokok.

Restoran dan kafe di pusat perbelanjaan adalah salah satunya. Di Cilandak Town Square, misalnya, hampir semua restoran dan kafe dipenuhi perokok. Di Mal Pondok Indah malah ada kafe yang sama sekali tidak menyediakan tempat bagi pengunjung yang tidak merokok. Di Plaza Senayan, ada restoran yang hanya menyediakan area merokok di seluruh restoran setelah pukul 17.00.

Restoran dan kafe biasanya membagi area menjadi area merokok dan tidak merokok. Satu hal yang tidak dibenarkan karena Pergub menyebutkan, ”merokok di dalam gedung tidak diperbolehkan”.

PR dan CSR Manager Senayan City Sri Ayu Ningsih mengatakan, Senayan City mendukung Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Pergub tentang KDM.

”Kami selalu mengimbau seluruh tenant, pengunjung, pengemudi, hingga kontraktor untuk mematuhi aturan tersebut,” papar Ayu. Perda dan pergub pun ditempel di setiap pintu masuk kafe dan restoran.

Namun, dia tidak membantah jika masih ada penyewa yang tidak mematuhi aturan. ”Kalau menemukan yang bandel, silakan lapor,” ujar Ayu.

Di lapangan, Pergub tentang KDM ini ibarat macan ompong. Kepala Subbidang Edukasi Lingkungan Bidang Penegakan Hukum Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta Rahmat Bayangkara menunjuk pengelola gedung seharusnya bertanggung jawab.

”Mereka mengatakan sudah menempelkan aturan di restoran, kafe, lalu ada satpam yang siap menegur, padahal belum tentu seperti itu,” katanya.

Terkait pengawasan, Rahmat menjelaskan, tanggung jawab tidak hanya berada di BPLHD, tetapi sudah dilimpahkan kepada setiap pihak sesuai wilayah tanggung jawabnya.

Sayang, dalam praktiknya, pembagian tugas dan tanggung jawab itu tidak selalu berjalan. Tidak heran apabila efektivitas pergub sejak 2009-2011, kata Rahmat, baru mencapai 64 persen. Tahun ini target dinaikkan menjadi 80 persen.

Tidak imun
Selain pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, termasuk kantor pemerintah, juga tidak imun dari asap rokok. Pantauan yang dilakukan Swisscontact terhadap 1.600 gedung di Jakarta menunjukkan, secara keseluruhan tingkat kepatuhan terhadap pergub hanya 48 persen.

”Ini memprihatinkan karena angkanya masih di bawah 50 persen,” kata Direktur Eksekutif Swisscontact Indonesia Dollaris Riauaty Suhadi.

Data pantauan Swisscontact periode Oktober-Desember 2012 menunjukkan, tingkat kepatuhan di tempat pendidikan 49 persen, kantor swasta 53 persen, kantor pemerintahan 47 persen, tempat ibadah 33 persen, restoran 39 persen, mal 44 persen, dan hotel 50 persen.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan, masalah utama adalah rendahnya pengawasan dan tidak adanya sanksi bagi pelanggar. ”Kalau kami tanya, masyarakat umumnya melanggar karena tidak ada sanksi,” katanya.

Karena itu, dia mendukung rencana Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang menyiapkan sanksi bagi pegawai negeri sipil (PNS) yang melanggar. Maklum, 45 persen perokok pelanggar berstatus PNS.

Tentu saja, kalau hanya PNS yang bakal dijewer, kawasan dilarang merokok benar-benar hanya sebuah angan-angan.

Sumber: Kompas
Posted by adriani zulivan Posted on 8:22:00 PM | 1 comment

Tak Ada Lagi Perdebatan soal Ekonomi Rokok


Masih perlukah perdebatan tentang manfaat dan mudaratnya rokok? Hampir pasti tidak. Ditinjau dari sisi apa pun, rokok lebih mendatangkan keburukan ketimbang kebaikan, bukan saja dari sisi kesehatan, melainkan juga dari sudut pandang ekonomi dan sosial. Alih-alih berdebat berkepanjangan, ada baiknya energi kita curahkan untuk melakukan semua upaya agar generasi Indonesia masa depan adalah generasi sehat dan kuat untuk memenangi kompetisi global yang semakin ketat. anton sanjoyo

adirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, meski terlambat dan masih banyak kekurangan, dinilai sebuah langkah maju. Di luar PP yang merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan itu, semua hitungan kesehatan, ekonomi, dan sosial tidak satu pun aspek yang mampu mendukung rokok di bumi Indonesia.

PP yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 Desember 2012 tersebut patut disambut gembira mengingat kecenderungan terus meningkatnya konsumsi rokok di Indonesia. Abdillah Ahsan, peneliti Lembaga Demografi FEUI, menuturkan, jelas sekali ada indikasi meningkatnya persentase orang merokok. Bahkan, persentase laki-laki merokok di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, yakni 67,4 persen.

Bagi Indonesia, kecenderungan ini tentu sinyal bahaya, siaga satu kesehatan nasional. Terkait dengan struktur produktif yang saat ini mendominasi struktur penduduk Indonesia, konsumsi rokok yang meningkat juga meroketkan dampak negatif. Abdillah memaparkan, dampak buruk itu antara lain alokasi uang yang dihabiskan untuk membeli rokok dan mengorbankan pengeluaran lainnya yang lebih penting, seperti untuk gizi dan pendidikan, meningkatnya risiko terkena penyakit yang akan mengurangi produktivitas kerja, meningkatkan biaya kesehatan, dan meningkatkan risiko mati muda.

”Kesemuanya akan berdampak pada melemahnya peran penduduk usia produktif. Bahkan, penduduk usia produktif ini malah bisa menjadi beban negara di mana seharusnya dia menjadi aset negara,” ujar Abdillah.

Indonesia juga terancam kehilangan bonus demografi jika kecenderungan meningkatkan konsumsi rokok dibiarkan. Bonus demografi adalah kondisi di mana rasio ketergantungan penduduk usia nonproduktif dengan usia produktif mencapai kondisi yang minimal. Menurut perhitungan, kondisi ini akan terjadi pada tahun 2020-2030.

Saat itu, rasio ketergantungan mencapai 44 persen sehingga memunculkan harapan meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena uang yang sebelumnya habis untuk membesarkan anak- anak dan membiayai penduduk lansia akan bisa digunakan untuk menabung dan investasi. Namun, dengan konsumsi rokok yang tinggi, akan menyebabkan Indonesia bisa kehilangan momentum bonus demografi itu.

Petaka demografi
Abdillah menambahkan, panen penyakit akibat rokok diperkirakan 15 tahun setelah mengonsumsi rokok. Padahal, remaja perokok saat ini yang berusia 15-19 tahun adalah penghuni pasar kerja pada tahun 2020- 2030. Dengan demikian, sekitar 4 juta perokok remaja berusia 15-19 tahun dan sekitar 6 juta perokok dewasa awal (20-24 tahun) akan menyesaki pasar kerja pada tahun 2020-2030 dengan kondisi sakit-sakitan. Hal ini sangat menyedihkan karena bisa jadi bonus demografi justru akan menjadi petaka demografi.

Selain itu, beban negara akibat terus meningkatnya konsumsi rokok terbilang raksasa. Menurut penelitian Soewarta Kosen dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, pada tahun 2010, kerugian makroekonomi total terkait konsumsi rokok mencapai Rp 245,4 triliun. Angka raksasa ini di antaranya akibat hilangnya waktu produktif karena sakit, disabilitas, dan biaya pembelian rokok Rp 138 triliun.

Sementara itu, penerimaan negara dari cukai rokok pada 2010 hanya Rp 56 triliun. Walhasil, kerugian makroekonomi terkait konsumsi rokok empat kali lipat dibandingkan dengan penerimaan negara dari cukai rokok.

Karena itu, ekonom Faisal Basri berpendapat, dengan begitu jelas gamblangnya kerugian bangsa Indonesia akibat rokok, sejatinya tidak ada lagi perdebatan mengenai manfaat dan mudaratnya produk adiktif ini. ”Jadi tidak ada lagi hitungan-hitungan untung atau ruginya rokok. Sudah sangat jelas merugikan. Rokok tidak boleh mendapatkan tempat dalam sistem ekonomi kita,” ujar Faisal.

Faisal mengingatkan, cukai merupakan instrumen untuk memengaruhi pola konsumsi masyarakat. ”Cukai tak boleh dipakai sebagai andalan penerimaan negara,” ujarnya.

Abdillah berpendapat senada. Menurut dia, kebijakan cukai rokok di Indonesia masih gagal menjalankan amanat konstitusi seperti yang tertera dalam UU No. 39/2007 di mana cukai dikenakan untuk mengendalikan konsumsi.

Sistem cukai rokok di Indonesia juga sangat rumit karena besaran tarif dikenakan berdasarkan jenis rokok, skala produksi, dan rentang harga jual.

Hal ini mengakibatkan fungsi cukai untuk pengendalian konsumsi menjadi kabur dan tidak bermakna. Akibat dari sistem cukai saat ini adalah rentang harga jual yang lebar antara rokok termurah (Rp 3.000 per bungkus) dan termahal (Rp 14.000) atau empat kali lipat lebih perbedaannya. Hal ini mengakibatkan hilangnya dampak kenaikan cukai rokok pada penurunan konsumsi karena perokok beralih ke rokok yang lebih murah.

Dijadikan musuh negara
Menurut Faisal, di seluruh dunia, di negara-negara paling liberal sekalipun, rokok sudah menjadi ”musuh” negara dan tak diberi tempat, apalagi tempat yang nyaman dalam sistem ekonomi. Meski begitu, negara tetap harus menaruh perhatian besar terhadap proses menuju Indonesia tanpa rokok. Ini untuk menghindari penurunan drastis pendapatan petani tembakau dan penerimaan negara. Harus dibuat peta jalan (road map) ke arah sana dan dilaksanakan secara tegas melalui mekanisme UU.

Terhadap petani tembakau, seperti banyak dilakukan di sejumlah negara, diajak dan disokong sekuatnya untuk pindah menanam tanaman lain yang punya nilai ekonomi lebih baik ketimbang tembakau.

”Petani pasti mau kalau hasilnya lebih baik. Banyak tanaman dengan nilai ekonomi lebih baik ketimbang tembakau. Ini harus disesuaikan dengan situasi setempat,” ujar Faisal.

Abdillah menambahkan, pada 2008, Lembaga Demografi FEUI pernah melakukan penelitian di tiga kabupaten, yakni Bojonegoro, Kendal, dan Lombok Timur, terhadap 450 buruh tani tembakau. Penelitian itu menemukan, sebagian besar petani, 65 persen, ingin berpindah ke perkebunan lain jika memberikan pendapatan yang lebih baik.

Ditemukan pula sejumlah tanaman memberikan keuntungan yang lebih ketimbang tembakau dan ini tentu saja disesuaikan dengan agroklimat setiap daerah sebab tanaman yang cocok di daerah tertentu belum tentu bisa tumbuh subur di daerah lainnya.

Untuk dataran rendah dan menengah (0-900 meter di atas permukaan laut/mdpl), tanaman bawang merah, melon, dan cabe merah lebih menguntungkan ketimbang tembakau. Adapun untuk dataran tinggi (lebih dari 900 mdpl), kentang dan cabe merah punya nilai jual lebih baik daripada tembakau.

Menurut Faisal, peta jalan Indonesia tanpa tanpa rokok harus berjalan simultan dan terprogram jelas langkah-langkah serta tahapan-tahapannya. Yang paling penting adalah dalam setiap langkah, semuanya harus diperhitungkan matang segala dampaknya. Misalnya menaikkan harga rokok lewat mekanisme cukai harus dihitung akurat agar tidak menimbulkan barang ilegal, artinya rokok tanpa cukai atau cukai bodong. Jika mekanisme menaikkan harga justru menimbulkan barang ilegal, konsumen dan negara akan lebih dirugikan. Sebab, rokok ilegal tidak bisa dikontrol kadar nikotin dan bahan kimia beracun lainnya yang menumpuk di dalamnya. Sementara keuangan negara juga bobol karena negara tidak mendapatkan sepeser pun.

Di luar semua upaya untuk mengurangi konsumsi rokok, Faisal berpendapat, cara edukasi merupakan jalan paling ampuh. Belanda sukses menggunakan cara ini dalam kasus mariyuana. Dengan edukasi yang gencar, yang diubah atau digeser adalah sisi permintaan sehingga kuantitas permintaan turun dan diikuti oleh penurunan harga. Jika menggunakan mekanisme cukai untuk menaikkan harga, kuantitas barang memang turun tetapi tidak sebesar penurunan dengan menggeser kurva permintaan.

Faisal juga mengingatkan, semua usaha untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia dari bahaya rokok harus dilakukan secara sungguh-sungguh melibatkan semua kekuatan bangsa. Sebab, kekuatan industri rokok sangat besar. Ini tergambar dari situasi di mana nyaris tidak ada kelangkaan produk rokok di seluruh Indonesia. Dengan sistem logistik yang luar biasa, mereka bisa melakukan penyesuaian harga di mana pun. Pada daerah di mana daya beli rendah, harga rokok bisa murah.

”Tanpa ketegasan negara, peraturan di level apa pun akan dilanggar oleh industri rokok yang dikendalikan hanya oleh lima pabrikan besar,” kata Faisal.

Sumber: Kompas
Posted by adriani zulivan Posted on 8:17:00 PM | No comments

Belajar dari Regulasi Rokok Negara Lain

Penulis : Ichwan Susanto | Irwan Julianto




Tingginya tingkat konsumsi rokok di suatu negara berkorelasi dengan longgar atau ketatnya regulasi terhadap rokok. Hingga tahun 2009, Indonesia menempati peringkat keempat di dunia dalam konsumsi rokok setelah China, Amerika Serikat, dan Rusia. Namun, kini Indonesia menyodok ke peringkat ketiga untuk konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India.

Bagaimana regulasi soal rokok di negara-negara lain mulai dari yang paling longgar hingga yang paling ketat?

China
Sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia mencapai lebih dari 1,3 miliar jiwa, China menjadi produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia. Melalui perusahaan monopoli yang dibentuk negara pada tahun 1991 melalui UU Monopoli Tembakau, China National Tobacco Corporation (CNTC) menguasai 98 persen pasar rokok di China yang menghasilkan lebih dari 2,1 triliun batang rokok (2008).

Ditaksir sekitar sepertiga penduduk dewasa di China adalah perokok. Laki-laki dewasa 53 persen (bandingkan dengan Indonesia yang mencapai 67 persen) dan perempuan 2 persen.

Cukai rokok di China sangat rendah sehingga rokok dijual murah. Harga rokok 7-10 yuan atau dengan kurs 1 yuan setara Rp 1.400 harganya Rp 9.800-Rp 14.000 per kemasan. Hampir sama dengan di Indonesia. Nilai cukai 30-40 persen dari harga rokok.

Meski telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (FCTC) pada 11 Oktober 2005, China masih belum memiliki regulasi secara nasional untuk mengendalikan konsumsi rokok warganya. Pengendalian rokok terbagi pada lintas sektor, seperti UU Periklanan Tahun 1994 yang melarang iklan rokok pada film, televisi, radio, koran, dan majalah. Untuk iklan luar ruang pengaturannya diserahkan kepada pemerintah daerah masing-masing.

Dalam soal pengemasan, pada tahun 2008 China mengaturnya, tetapi dapat dikatakan terlalu longgar, bahkan Indonesia jauh lebih baik. Peringatan kesehatan pada kemasan yang luasannya 30 persen hanya berbentuk teks.

Industri rokok dilarang menggunakan kata-kata menyesatkan seperti mild atau low tar. Kementerian Kesehatan China melarang merokok di 28 lokasi ruang dalam (indoor), seperti tempat belajar, kafe internet, angkutan umum, ruang tunggu di bandara, dan pesawat.

India
Dibandingkan China dan Indonesia, India sebenarnya jauh lebih maju dalam regulasi rokok. Ini berkat keberanian politis Menteri Kesehatan Dr Anbumani Ramadoss.

Ia berani mengambil risiko dimusuhi industri rokok dan petani tembakau karena sejak Oktober 2008 melarang rokok diiklankan dan dipromosikan di media massa, media luar ruang, ataupun menjadi sponsor olahraga dan pergelaran musik. Ketika Kompas mengunjungi India pada tahun 2009 memang tak terlihat satu pun baliho iklan rokok di jalanan India. Sungguh kontras dengan situasi di Indonesia.

India telah meratifikasi FCTC pada 5 Februari 2004. Lebih dari 275 juta perokok di India atau sepertiga penduduk dewasanya mengonsumsi tembakau. Prevalensi laki-laki perokok 48 persen dan perempuan 20 persen.

Produk tembakau yang mendominasi di India adalah semacam rokok lintingan yang dibungkus daun tendu yang dikeringkan, khas India yang biasa disebut bidi. Oleh produsennya, bidi diberi perasa menarik seperti vanila, cokelat, stroberi, atau mangga.

Cukai rokok masih rendah sekitar 40 persen dan cukai bidi sekitar 9 persen. Harga bidi di India sangat murah, sekitar 4 rupee atau Rp 700 per pak berisi 10-12 batang dengan nilai kurs 1 rupee setara Rp 180. Harga rokok sekitar 20 rupee atau Rp 3.600 per pak.

Bidi menguasai 48 persen pasar tembakau, tembakau kunyah 38 persen, dan rokok 14 persen. The Imperial Tobacco Company Group menguasai 58 persen pasar rokok di India, Philip Morris International 12 persen, dan Golden Tobacco Ltd 11 persen.

Pada tahun 2008, sekitar 98 miliar batang rokok terjual di India. Diperkirakan sekitar satu juta warga India meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan oleh tembakau.

Peringatan bergambar di kemasan rokok sudah diterapkan, tetapi hanya di bagian depan kemasan dan harus diganti setiap 24 bulan. Industri juga dilarang menggunakan deskripsi yang membuat salah persepsi seperti pencantuman kata light, ultralight, atau low tar.

Thailand
Selain Singapura dan Malaysia, Thailand tergolong maju dalam regulasi rokok. Negara ini telah meratifikasi FCTC pada 8 November 2004. Thailand telah banyak menunjukkan kemajuan dalam mengendalikan konsumsi rokok di negaranya. Ini ditunjukkan dengan prevalensi perokok yang turun. Tahun 1995, prevalensi pria perokok mencapai 70 persen dan kini 40 persen.

Kemajuan Thailand ini didukung oleh sejumlah regulasi pemerintahnya yang mendukung pengendalian tembakau. Pada tahun 1992, Thailand menerbitkan dua perundangan yang mengontrol tembakau.

Pertama, UU Pengendalian Produk Tembakau yang mengatur pengemasan, pelabelan, promosi, periklanan, dan sponsorship produk tembakau. Thailand menggunakan peringatan kesehatan berupa teks dan gambar di kemasan rokok sejak Maret 2005. Thailand juga melarang hampir semua iklan dan promosi tembakau.

Perundangan kedua adalah UU Perlindungan Kesehatan bagi Nonperokok. UU ini memberi mandat bagi Kementerian Kesehatan Thailand mengeluarkan berbagai keputusan yang melarang semua kegiatan merokok di tempat publik, tempat kerja, dan transportasi publik.

Harga rokok di negara ini cukup mahal, sekitar Rp 50.000 per pak. Ini karena cukai rokok di Thailand sangat tinggi yang dinaikkan bertahap dari 55 persen (1992) hingga 85 persen (2009).

AS dan Australia
Tanggal 22 Juni 2009, Presiden AS Barack Obama menandatangani UU Pencegahan Merokok dalam Keluarga dan Pengendalian Tembakau yang rancangannya telah disetujui Kongres. Legislasi ini memberikan kekuatan dahsyat kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk meregulasi rokok.

Rokok tak boleh dijual di kios atau toko yang berdekatan dengan sekolah. Pembeli rokok dibatasi dengan kewajiban menunjukkan kartu identitas yang menyatakan bahwa mereka berusia minimal 18 tahun.

Menurut Obama, lebih dari 400.000 warga AS meninggal setiap tahun karena penyakit yang terkait tembakau. Ini menjadi penyebab paling utama kematian yang dapat dicegah di AS. Lebih dari 8 juta warga AS menderita setidaknya satu penyakit serius yang disebabkan oleh rokok. Ini membebani Pemerintah AS lebih dari 100 miliar dollar AS per tahun.

Hampir 90 persen dari semua perokok di AS mulai merokok sebelum usia 18 tahun. ”Anak- anak dan remaja menjadi perokok bukan tanpa alasan. Mereka menjadi target promosi agresif industri rokok. Tahun 1994, para CEO industri rokok pertama kali dihadirkan di Kongres.

Mereka membantah tembakau mematikan, nikotin adiktif, serta membidik anak-anak dan remaja. Mereka menghabiskan miliaran dollar AS untuk lobi dan iklan guna membantah semua tuduhan itu. ”Kini, 15 tahun kemudian kampanye mereka gagal,” kata Obama, yang mengaku pernah menjadi perokok aktif dan adiktif.

Bagaimana dengan Australia? Dibandingkan AS, regulasi di negeri ini lebih ketat. Tanggal 2 Januari lalu Pemerintah Australia mengeluarkan Strategi Tembakau Nasional 2012-2018 yang diadopsi oleh pemerintah federal dan semua negara bagian.

Prioritasnya ada tujuh, yaitu melindungi kebijakan kesehatan dari campur tangan industri rokok, melarang total iklan dan sponsorship rokok, mengurangi ketersediaan rokok, meningkatkan kawasan tanpa rokok, memperkuat kampanye media massa dan pendidikan publik, meningkatkan layanan berhenti merokok, dan regulasi lebih ketat terhadap isi rokok serta suplai tembakau.

Menteri Kesehatan Australia Tanya Joan Plibersek berkomitmen untuk mewajibkan kemasan rokok bersifat generik tanpa menonjolkan merek rokok aslinya karena yang ditonjolkan adalah label peringatan bahaya merokok. Tujuan kebijakan ini adalah memutus kesetiaan pada merek (brand loyalty) rokok tertentu.

Sumber: Kompas
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata