Saturday, March 30, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:28:00 PM | No comments

Primordial Girl


I am doing the incorrect one, always in public toilet! Well, I am one the primordial on the left... :|

Mlekom,
AZ

20140514

Friday, March 29, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:36:00 PM | No comments

Save Energy!


Baru kali ini merasa disuruh matiin lampu toilet! — at Edu Hostel Jogja.

Mlekom,
AZ

20140518
Posted by adriani zulivan Posted on 10:22:00 PM | No comments

Pria Lanang Men - Wanita Wedok Women


Edu Hostel, Yogyakarta. Kata Pak Kartono Mohamad: Dilarang merokoknya juga ditambahi "Ora Oleh Udud" atau "Boten Pareng Udud".

Mlekom,
AZ

20140518

Wednesday, March 27, 2013



Kerjasama Asian Media Information and Communication Centre (Singapore) dengan Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM sebagai Panitia Lokal. Kegiatan ini terbuka bagi akademisi, mahasiswa, dan pemerhati perkembangan komunikasi dan media di Indonesia dan Asia Pasifik. Biaya pendaftaran diberlakukan kepada peserta pendengar (attendees) dan presenter.

Dalam konferensi ini, calon peserta dari Indonesia dapat berpartisipasi melalui dua jalur, yaitu jalur konferensi utama (internasional), dan jalur Indonesian Track.

Untuk mendaftar sebagai pemakalah pada jalur internasional, calon peserta diharapkan mendaftar melalui website AMIC di http://www.amic.org.sg/.

Untuk mendaftar menjadi pemakalah atau penampil poster pada Indonesian Track dan menjadi pendengar dari lokal Indonesia, calon peserta diharapkan mengakses website AMIC UGM 2013 di http://www.amicugm2013.com/.

Kami membuka lebar kesempatan bagi partisipasi mahasiswa se-Indonesia di kegiatan ini. Oleh karena itu, kami menyediakan beasiswa/subsidi bagi peserta mahasiswa terpilih. Informasi lebih lanjut: Sdr. Adam W Sukarno di <adam_sukarno@yahoo.com>.

Terima kasih.

Info dari sini.

Tuesday, March 26, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:08:00 PM | No comments

SK



Sari Kecap
BPOM RI MD: 145411025014
Komposisi: gula merah, kedelai, air, garam, rempah-rempah
PT Lombok Gandaria
PO BOX 1049 Karanganyar, 57771, Indonesia


Kutemukan di sebuah warung mie ayam di Kepanjen, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Mlekom,
AZ

20140512

Monday, March 25, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 12:27:00 AM | No comments

Aa Gym Bicara Rokok

Di balik berbagai kontroversi tentang sosoknya, Aa Gym tetap menginspirasi. Aku sih cengar-cengir nonton video ini. Obrolan serius, diobrolin santai ala komik. Berikut beberapa catatan yang aku suka:

Merokok Itu Bencong!
Banyak remaja perokok menyebut kata "Bencong kamu!", ketika ada temannya tidak merokok. Coba ajak ke tempat mangkal bencong; lihat, semua bencong merokok! Jadi, yang merokok itu ya bencong!

Manfaat Merokok:
  1. Rumah perokok bebas maling. Bagaimana maling bisa masuk, jika setiap saat pemilik rumah mengeluarkan suara "uhuk, uhuk". Batuk yang tak berhenti akibat rokok.
  2. Perokok tak bisa dikejar anjing. Baru 20 langkah saja sudah keok.
  3. Perokok tak pernah tua. Sebab keburu mati di usia muda.
Jangan Mau Bersuami Perokok!
  1. Meski perokok pasif, ibu beresiko menyebabkan anak yang dikandungnya menghisap asap rokok. Asap ini dapat membahayakan otak janinnya. Makanya, kalau ada anak bodoh, mungkin ayahnya perokok.
  2. Biaya rokok memakan anggaran rumah tangga.

Ya sudah lah, monggo tertawa sendiri :))

Mlekom,
AZ







Thursday, March 21, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:58:00 PM | No comments

T.H.G




Kecap No. 1 cap T.H.G
Rasa: Manis
Isi bersih: 600 ml
Daftar No: 328809
Lingkar Selatan 88 Kudus



Kutemukan di warung Soto Kudus, selatan Kantor Kominfo Jalan Imogiri Barat, Bantul, Yogyakarta.

Mlekom,
AZ

20140512
Posted by adriani zulivan Posted on 7:24:00 AM | No comments

Polisi Diharap Turun Tangan Ikut Atasi Perokok Bandel



Jakarta, Meski sudah disediakan tempat khusus merokok, namun masih banyak saja orang yang bandel merokok sembarangan. Di angkutan umum hingga di pinggir-pinggir jalan, para perokok masih bandel ngebul sembarangan.

Dalam rangkaian kampanye anti rokok, aktivis anti rokok dari India, dr Pankaj Chaturverdi MBBS,MS,FAIS, FIC mengajak dokter dan polisi untuk membantu pengendalian rokok di masyarakat. Berdasarkan pengalamannya di India yang disebutnya masih satu budaya dengan Indonesia, ia ingin memperluas kampanye ini untuk mengendalikan peredaran tembakau pada masyarakat Indonesia.

"Saya memiliki gelar kedokteran, tetapi saya tidak dapat menyelamatkan perokok. Maka saya mengajak bapak dan ibu polisi, walaupun Anda tidak memiliki gelar dokter namun Anda dapat menyelamatkan jutaan jiwa," ujar dr Pankaj.

Hal itu disampaikan dia dalam acara Round Table Discussion bersama dengan tema Menyatukan Suara Dokter dan Korban dalam Perjuangan Pengendalian Rokok di Indonesia, di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jl Tirtayasa Raya No 6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Kamis (21/3/2013).

Indonesia tercatat sebagai peringkat pertama dari 16 negara yang disurvei dengan tingkat prevalensi perokok aktif tertinggi yaitu 67,4 persen untuk laki-laki dan 4,5 persen untuk perempuan. Artinya sekitar 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif.

Dijelaskan dia, nikotin merupakan bahan adiksi paling kuat candunya setelah morfin, heroin, alkohol, ganja, dan kopi. Nah, dalam hal ini perokok pasif lebih dirugikan daripada perokok aktif.

Asap rokok mengandung berbagai macam arsen yang dapat masuk ke tubuh. Hanya dengan sekali hisap maka zat-zat tersebut dapat merusak seluruh sel tubuh. 

Ia juga menuturkan bahwa rata-rata pasiennya baru bisa dan mau memutuskan untuk berhenti merokok setelah mendapatkan vonis kanker. "Obat merokok hanya satu, kanker," ucap dr Pankaj.

Dalam acara yang sama, aktivis anti rokok, dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG menyebut
rokok adalah ancaman global untuk seluruh dunia. "Ibu hamil yang duduk disebelah suaminya yang merupakan perokok aktif memiliki kemungkinan besar melahirkan prematur atau mengidap kanker mulut rahim," terangnya.

Dia menjelaskan ketika terjadi pembakaran rokok, perokok aktif akan menghisap lalu menghembuskannya kembali. Sedangkan perokok pasif menghirup 2 kali lebih banyak zat yang dikeluarkan setelah dihisap maupun asap akibat pembakaran rokok yang tidak dihisap oleh perokok aktif. 

"Inilah yang paling banyak menyebabkan persalinan dismature," imbuh dr Hakim. (vit/vit)

Sumber: Detik Health

Tuesday, March 19, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:50:00 PM | No comments

Pejalan Kaki dalam Romantisme Yogyakarta


*Malioboro: Pejalan kaki yang berebut tempat dengan parkir sepeda motor.

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
[Yogyakarta, Kla Project]

Lirik berjudul "Yogyakarta" milik Kla Project ini diliris tahun 1991. Bayangkan, betapa lama sudah Yogyakarta "menyemai" benih PKL dan pengamen di ruang publiknya. 

Mungkin, kala itu warung lesehan dan pengamen justru menambah kesyahduan kota. Romantisme ala Yogyakarta yang menghanyutkan siapapun yang merasakan. Mungkin, kala itu pedagang makanan dan musisi ini dibutuhkan, tak ada rasa terganggu di hati para penikmat suasana. 

Berbeda dengan hari ini.

Tikar-tikar warung lesehan digelar hingga ujung trotoar, tak peduli resiko makanan tercemar kotoran dari jalan. Air buangan cuci piring menggenangi trotoar, minyak jelantah menempel permanen. Jalur pejalan menjadi licin dengan warna hitam menjijikkan.

Hari ini.

Pemusik jalanan ngamen secara berombongan, dalam jumlah banyak. Mereka kerap tak merasa sungkan ketika merebut hak pejalan kaki dengan menutup areal pedestrian. Bukan satu-dua jam, namun sepanjang hari-malam. 

Dulu, bait di atas membuat kita terlena. Bait yang seolah membiarkan ketidakberesan tata ruang kota kita, lewat alunan musik indah nan syahdu. Bait yang 20 tahun kemudian digugat, oleh para penikmatnya sendiri.

Siapa yang pantas disalahkan? Ah, ini urusan panjang yang tak akan ada habisnya. Lihat Malioboro. Dulu pedagang "dibersihkan" demi dalih kenyamanan pejalan kaki. Yang terjadi kini, pejalan kaki dikalahkan pakir sepeda motor dan PKL.

Tahun 2008 terjadi penolakan sengit atas rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman DIY membersihkan PKL di sejumlah ruas jalan. Demi 'mengusir' para PKL agar tak menghuni trotoar lagi, Pemda membangun pot-pot besar di Jalan Colombo Samirono dan memagari trotoar di sepanjang jalan depan RS Sardjito. 

Sayangnya, langkah ini justru tak berpihak pada pejalan kaki, sebab menutup trotoar. Tak perlu menunggu lama, para PKL kembali lagi menghuni kawasan tersebut. Dalam hitungan bulan, satu-dua-tiga PKL kembali (atau, mereka pedagang baru yang tidak termasuk PKL yang direlokasi?). Ketika jumlah mereka masih sedikit, Pemda tak kuasa menghalau. Tak heran jika jumlah ini lekas beranak-pinak dan makin menjamur. Parahnya lagi, jika dahulu mereka menghuni trotoar, kini menempati bahu jalan.

Tentu saja di bahu jalan, sebab trotoar ditutup. Akibat lain, pejalan kaki makin sengsara akibat ruas jalan yang makin sempit. Bayangkan sebuah jalan dua lajur yang digunakan untuk berbagi antara kendaraan (dari sepeda hingga bus kota), tenda PKL, parkir mobil dan sepeda motor, serta pejalan kaki yang tak lagi punya trotoar.

Itu lima tahun lalu. Pemerintah seakan tak punya daya untuk menegakkan peraturan. Papan-papan bertuliskan perda tentang kawasan larangan berjualan hanya menjadi pajangan tak bermakna, dikalahkan entah kekuatan mana. Mungkin preman yang menguasai kawasan tersebut. Mungkin pula kong-kalikong oknum pemerintah. Kita tak pernah tahu. Yang kita tahu, oknum-oknum ini tak berpihak pada tata kota yang baik, yang ramah pada pejalan kaki.

Kita butuh pedagang, juga musisi jalanan. Mereka memudahkan dan mewarnai hidup. Namun, ada harga yang dibayar untuk kenyamanan ruang publik kota kita, ketika tak ada pengaturan atas keberadaan mereka.

Inilah romantisme ala Yogyakarta...


Mlekom,
AZ

*Gambar dari Tribun Jogja.

Posted by adriani zulivan Posted on 2:50:00 PM | No comments

Jogja Ramah Pejalan Kaki

Foto: Mira Afianti.
Judul di atas adalah pertanyaan: Benarkah? Meski tak banyak, ada sejumlah kawasan di Kota Jogja* yang cukup ramah pada pejalan kaki. Mana saja?
  1. Kawasan Kompleks UGM. Namun, hanya bagian kampus timur (Bulaksumur). Jalur sepeda pun sangat baik di sini. 
  2. Kawasan Balai Kota, Timoho. Namun, hanya jalan di depan dan samping, yaitu bagian trotoar  yang 'menempel' pada tembok dan/atau pagar Balkot dan rumah dinas Walikota.
  3. Kawasan Kotabaru. Hanya bagian dalam. Kawasan ini sangat nyaman untuk berjalan kaki. Kawasan hunian tua ini cenderung sepi, jauh dari hingar bingar kesibukan bisnis. Akibatnya, trotoar tak dirampas pedagang kaki lima (PKL). Pohon-pohon tua nan rindang turut menambah kenyamanan.
  4. Kawasan Bintaran. Mirip Kotabaru: pemukiman zaman Belanda yang bukan pusat kegiatan ekonomi, maka cenderung teratur. Meski demikian, kini areal yang hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari Malioboro ini, secara ekonomi terus menggeliat. Trotoar mulai dihuni PKL. Bahu jalan mulai dikuasai preman parkir.
  5. Malioboro? Mangkubumi? Ah, meski ada trotoar yg baik, hak pejalan kaki dirampas PKL, parkir, pemusik jalanan yang ngamen rombongan (berjumlah banyak, menutup areal pedestrian hingga sehari-semalaman), dst.
Ada tambahan? Itu yang pernah kulihat. Jumlah ini sangat minim. Apalagi jika kompleks UGM dikurangi, sebab berada di wilayah administratif Kabupaten Sleman, bukan Kota Jogja.

Sekali lagi, benarkah Jogja ramah pejalan kaki?


Mlekom,
AZ


* Provinsi DIY terdiri atas lima kabupaten/kota. Kota Jogja adalah salah satunya. Jadi, penyebutan "Kota Jogja" bukan berarti Yogyakarta secara keseluruhan. Penyebutan ini kerap membingungkan non penduduk Jogja :)


Monday, March 18, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Menjadi Perempuan Biasa

Gambar dari sini.
Perempuan biasa itu, menurutku:
  • Tercukupi kebutuhan hariannya
  • Mampu membeli apapun yang dia inginkan
  • Dimanjakan oleh pasangannya, dengan menyediakan apapun yang dia mau
Dengan kata lain:
Perempuan yang tiba-tiba mendapat kejutan sepatu cantik yang selama ini ditaksir, traktiran makan mewah di hari ulang tahunnya, dan sekadar dibelikan buku-buku terbaru yang diinginkan. Atau perempuan yang diantar membeli baju, ditemani jalan-jalan dan dibelikan tiket liburan.

Mengapa semua berbau material? Apakah itu perempuan biasa? Ya, menurutku. Perempuan biasa. Biasa saja. Sangat biasa, seperti banyak perempuan di sekelilingku. Tapi temanku tak setuju. "Kukira bahagia itu sederhana, ternyata bahagia itu berbiaya," katanya.

Bahagia. Apakah aku bahagia dengan kriteria "perempuan biasa" versiku itu? Bagaimana jika suatu hari nanti, aku, atau pasanganku, tak dapat memenuhi kriteria itu? Apakah kemudian aku tak akan berbahagia?

Setelah kupikir lagi, kriteria "perempuan biasa" tadi adalah bentuk keegoisanku sebagai seorang... seorang apa? Perempuan? Tidak, tak semua perempuan mewakili itu. Itu egoisku semata, sebagai seorang Adriani.

Jika begitu, aku tak mau lagi hidup sebagai perempuan biasa. Aku harus menjadi perempuan luar biasa, yang:
  • Punya pekerjaan dan kegiatan menyenangkan.
  • Dekat dengan sahabat dan keluarga yang selalu mendukung.
  • Ada pasangan yang selalu membantu, melindungi, mencintai.
  • Mampu membahagiakan orang lain, berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak, sekecil apapun peranmu.
Materi selalu penting. Jangan pernah ingkari itu. Tapi, dia bukan satu-satunya alasan yang dapat membahagiakan kamu. Cari uang, penuhi kebutuhanmu. Lalu, bahagiakan hidup dengan cinta dari banyak orang. Itu baru bahagia. Sejatinya. Menurutku, kini.

Obrolan ini menguras pikir. Trims untuk kamu. Selalu butuh orang lain untuk mengingatkan. Aku tak lagi ingin sekadar menjadi perempuan biasa. Semoga aku bisa.

Mlekom,
AZ

Performers urged to reject tobacco sponsorships*

The Java Jazz festival kicks off this Friday in Jakarta, Indonesia. It's one of the largest annual music festivals in the world, and concert promoters have spent the last few months promoting the stars who will perform. But they've promoted tobacco even more.

What are the biggest words on Java Jazz's official poster and billboards? It's not "Java Jazz." It's not the names of star performers. It's a brand of cigarettes made by Djarum, the tobacco company sponsoring the music festival.

After plastering the streets of Jakarta and the internet with images of celebrities and Djarum’s Super Mild cigarettes, a tiny line has appeared on an official poster that says: "Djarum, along with Java Jazz artists, are opposed to kids smoking cigarettes."

The truth: Such concerts are very effective at marketing cigarettes to kids by associating them with popular events and performers. Tobacco companies need new youth smokers to replace their customers who get sick and die from smoking-related disease.

If past tobacco-sponsored events are any guide, Djarum will hand out free samples of cigarettes, bombard concert-goers with images that make smoking look fun and cool, and make sure their logo appears with every celebrity. One tiny line on a poster can't hide the obvious.

Many countries, including the U.S., ban tobacco companies from sponsoring concerts and other events, but not Indonesia. The result is that an estimated 78 percent of current Indonesian smokers started before the age of 19.

Java Jazz is an egregious example of U.S. and other internationally-known performers helping tobacco companies market their deadly products to kids. Visit Tune Out Tobacco to tell artists they should refuse to perform at tobacco-sponsored events and not allow their images or music to be used to promote tobacco.





*Co-pas directly from here.


Saturday, March 16, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:49:00 PM | No comments

The Book of Tea

The Book of TeaThe Book of Tea by Kakuz┼Ź Okakura
My rating: 3 of 5 stars

Tea is a work of art & needs a master hand to bring out its noblest qualities ~ Kakuzo Okakura

So many new lesson of the history of tea, from the country where it began to the worldwide nowadays. "Teaism! is one new ideologic-vocab I have just learned here :)

Thanks for this comprehensive research!

View all my reviews

Wednesday, March 13, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:18:00 PM | No comments

Ferry: Iklan Rokok Kontradiktif

Meski materinya mirip dengan guyonan Pandji beberapa waktu lalu, guyonan Ferry Ardilesmana (@DetectiveFerry) ini perlu disimak. Lucuk!

Mlekom,
AZ




Tuesday, March 5, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:13:00 PM | No comments

Pandji Bicara Rokok

RT @awasirokok Kalian harus nonton stand up komedi yg ini. Salut dg kejujuran @pandji http://www.youtube.com/watch?v=ETYRwuc_s3A … #rokok #kretek

...dan keberaniannya! 
Siapa sih yang hidupnya bisa tenang, jika ia adalah seorang warga Indonesia yang melawan digdaya perusahaan rokok?

Ini komedi cerdas!

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 8:07:00 PM | No comments

Enam Juta

Gambar dari sini.

Jika digaji enam juta, apa yang dapat kamu lakukan di tiap bulannya?
  1. makan 3 x sehari di warung yang sehat-bersih
  2. makan 1-2 x sehari di resto/cafe mediocre
  3. makan di resto mewah (plus ngajak satu orang lain) seminggu sekali
  4. nonton 2 x seminggu
  5. nyalon 1 x seminggu
  6. beli buku hingga 250 ribu
  7. beli baju/sepatu/tas hingga 500 ribu
  8. bensin 1 juta
  9. isi pulsa hape 2 x 200 ribu
  10. nabung 500 ribu

Ini masih bersisa. Bisa digunakan untuk:

  1. beli tiket PP seharga 2 juta
  2. bayar hotel 1 juta untuk dua malam
  3. beli oleh-oleh 500 ribu
  4. bayar angkot di kota lain 500 ribu
Ini di Jogja, dengan kondisi punya rumah dan memiliki kendaraan pribadi. Tapi minus membayar segala tagihan rumah (listrik, air, internet, koran, sampah, makanan kucing) dan bea perawatan mobil. Dengan kata lain: Lajang yang berteduh di atap orangtua.

Ini di Jogja.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 11:16:00 AM | No comments

Udan, Lungo O


udan lungo o
teko o liyo dino
aku arep dolanan
udan lungo o

"Hujan, pergilah. Datanglah lain hari. Aku ingin bermain. Hujan, pergilah." Begitu artinya. 

Itu senandung hujan murid-murid PAUD Gajahwong. Anak-anak itu bingung, sebab kelas belajarnya bocor. Jogja seharian tadi memang hujan deras, sejak pagi hingga siang. Bahkan sejak kemarin siang. Lebat sekali. Langit pekat. Beberapa wilayah menjadi becek dan terendam (meski tak sampai banjir).

Kelas PAUD terbuat dari dinding gedhek (jalinan bambu) beratap seng. Mungkin tak terlalu tangguh menahan deras hujan tadi pagi. Cukup sedih membaca bait tersebut. Bait yang kudapat dari status Facebook Sekolah Gajahwong

Ada yang mau bantu mereka? Bangunan sekolah bukan kebutuhan utama. Coba cek info berikut untuk ikut berperan serta:




Tentang PAUD Gajahwong pernah kutulis di sini.

Udan, lungo o. Adik-adik Gajahwong mau belajar...


Mlekom,
AZ

*) Kedua gambar dari Facebook Sekolah Gajahwong.


Sunday, March 3, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:42:00 PM | No comments

Catatan Tak Penting

Sumber foto dari sini.

Demi kelancaran proyek, ada alat yang perlu dibeli:
  1. Timbangan bahan
  2. Box tingkat
  3. HDD *)
Update per 07/03:
  1. SIM A dan C (dikali dua)
  2. Rice-cooker mini 
Proyek apa, hayooo?

Yaweslah. Ini merupakan catatan tak penting.



Mlekom,
AZ


*) akan bersambung, sejalan dengan ingatan :)


Saturday, March 2, 2013



from: literature.art <literature.art@davidpublishing.org>
to: adrianizulivan <AZ@gmail.com>
date: Fri, Mar 1, 2013 at 3:47 PM
subject: Call for Papers or Books from Journal of Literature and Art Studies (ISSN 2159-5836)


Journal of Literature and Art Studies, USA
International Standard Serial Number:
     ISSN2159-5836 (Print), ISSN 2159-5844 (Online)  
Call for Papers and Books



Dear Adriani Zulivan,

This is a journal entitled Journal of Literature and Art Studies (ISSN 2159-5836) published across the United States by David Publishing Company, EL MONTE, CA, USA. We are glad to know you have submitted a paper named: Innovative Ways of Accessing Intangible Heritage Resources: Indonesian Heritage Inventory, a New Way to Access Intangible Heritage at NODEM 2012. We are very interested in your research. If the paper mentioned has not been published in other journals and you have the idea of making our journal as a vehicle for your research interests, please send us the English electronic version of your paper in MS word format. And all your original and unpublished papers are welcome.

Hope to keep in touch with you by email. If you have other original and unpublished papers or books at hand which have not been published yet, please feel free to send them to us too. As an American academic publishing group, we wish to become your friends if necessary. At present, we also want to invite some people to be our reviewers or become our editorial board members. If you are interested in our journal, Please send your CV to us too. Expect to get your reply soon.

Description:
Journal of Literature and Art Studies is an international academic journal (print and online), published monthly by David Publishing Company, USA, which was founded in 2001, and is striving to provide the best platform for artists and scholars worldwide to exchange their latest findings and results. Our journal is an English version and your contribution to our journal would be very much welcome!

Current columns involve:
Literature studies, art theory, culture and history of arts, appreciation of arts, etc..

Some renowned databases our journal can be retrieved:
Journal of Literature and Art Studies is to be indexed in following databases:

  • Database of EBSCO, Massachusetts, USA (Humanities Abstracts (H.W. Wilson))
  • LLBA Database of CSA
  • Universe Digital Library S/B, Proquest
  • Proquest, USA
  • Chinese Database of CEPS, American Federal Computer Library center (OCLC), USA
  • Chinese Scientific Journals Database, VIP Corporation, Chongqing, P.R. China
  • Ulrich’s Periodicals Direcory
  • Summon Serials Solutions

Information for author(s):
  1. The manuscript should be original, and has not been published previously. Please do not submit material that is currently being considered by another journal.
  2. Manuscripts may be 3000-8000 words or longer if approved by the editor, including an abstract, texts, tables, footnotes, appendixes, and references. The title should not exceed 15 words, and abstract should not exceed 400 words. 3-8 keywords or key phrases are required.
  3. The manuscript should be in MS Word format, submitted as an email attachment to our email address.
  4. Author(s) of the articles being accepted are required to sign up the Transfer of Copyright Agreement form.
  5. The author(s) will receive 2 copies of the issue of our journal containing his/her (their) article(s).
  6. It is not our policy to pay authors.

Submission of manuscript:
All manuscripts submitted will be considered for publication. Please visit our website at www.davidpublishing.com for our automatic paper submission systems or send an email attachment to: art.literature@yahoo.com, literature.art@davidpublishing.org.


Best Regards!

Wayne
Editorial Office


Journal of Literature and Art Studies (ISSN 2159-5836) David Publishing Company
9460 TELSTAR AVE SUITE 5,EL MONTE,CA 91713,USA
Website: http://www.davidpublishing.com
E-mail: literature.art@davidpublishing.org
Tel: 1-323-9847526, 1-323-4101082;  Fax: 1-323-9847374; 1-323-9080457

[Attachment]
Journal of Literature and Art Studies 2012-6.pdf


Pic from here.
#
Demi keamanan, aku gunakan bahasa Indonesia, yah! (well, meski mereka dapat mengakses Penerjemah Google).

Nah, semalam baca email di atas (aku co-pas apa adanya). Siapa coba yang gak tertarik? Bangga, malah! Paperku akan dimasukkan dalam sebuah jurnal. di Amerika Serikat! Wohooo, mimpi apa aku kemarin?

Tapi kita kan gak bodoh-bodoh amat sih, bisa menakar kekuatan (halah) tulisan yang kita hasilkan. Maka, sepagian ini kuhabiskan dengan mencari tahu sana-sini mengenai David Publishing (DP).

Taraaaa!

Seperti yang sudah kuduga, ini adalah jurnal abal-abal. Lembaga ini sengaja mencari tulisan-tulisan untuk dimuat di jurnal mereka, demi kepentingan kredit. Info mengenai jurnal-jurnal ini mereka peroleh secara online, dari beragam konfrensi internasional. 

Alamat email-ku mereka dapat dari mana? Entahlah. Mungkin terpublikasi di website penyelenggara konfrensi, sebagai contact person peserta konfrensi? Mungkin juga mereka menggunakan mesin pencari. Toh alamat emailku tersebar dimana-mana (ihir, sok populer!).

Paper dengan judul di atas menjadi bahan presentasiku untuk NODEM 2012, sebuah konfrensi di Hongkong. Sila baca abstraknya di sini. Ini portal DP. Tentang himbauan terkait kecurangan DP ada di sini dan sini.

Semoga kalian tidak kecolongan, yah!


Mlekom,
AZ


Friday, March 1, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 2:50:00 PM | No comments

Lucky vs Blessed

Pic from here.
Girl Number One:
  1. Reputable government university graduated
  2. Married, one child-girl
  3. Place of origin: Big city
  4. Outlook: Thin-tall, Asian brown, pretty
  5. Dress like a noble: long skirt, long sleeves
  6. Comes from wealthy families
  7. Worked in a local NGO, in a big town in Java
  8. Working as an at-home-mom and wife, in abroad
  9. Do shalat

Girl Number Two:
  1. Infamous private university graduated
  2. Unmarried, yet
  3. Place of origin: Small town
  4. Outlook: Short stature, Asian fair, not that beauteous
  5. Dress: Anything looks mini-mini from top to toe
  6. Comes from mediocre families, barely below the average
  7. Worked in a local company, in the capital city
  8. Working in a multi-national agency, in the capital city
  9. Never do shalat
I called the first one as BLESSED, while another is LUCKY.

Which one is me? None! :)
Which one do I want to be? None.
Which one I like? Both, in between, not all, some. They are my models. 

Hahaha.


Mlekom,
AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata