Sunday, June 30, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM | No comments

Agenda Berjalan


Sabtu. Tadi pagi, dalam perjalanan kami ke Cangkringan, Mas Fatur menanyakan ada agenda apa saja di akhir pekan ini.

"Nanti siang ada pawai Kraton Pakualaman. Malam nanti aku ada diskusi di IVAA, pembicaranya temenku, Mas Aji. Hari ini juga ada Festival Lima Gunung, tadinya mau ikut sama teman-teman IHY, tapi batal karena acara di Cangkingan ini. Oh ada pertunjukan kesenian apa gitu di dekat Borobudur, ini hari terakhir."

"Jadi hari ini agendamu tiga?"

"Iya, ikut?"

"Lihat nanti, aku habis dari sini mau nongkrong dengan teman-teman di Taman Kuliner. Aku cuman nanya. Kan kamu agenda berjalan," sambil senyum.

Agenda berjalan.

Oya?

Mungkin juga! Aku sering mengabari teman yang kupikir akan tertarik. Salah satunya Mas Fatur ini, sering kuajak lihat acara di sana-sini (dan sebaliknya, dia yang mengabariku agenda tertentu). Biasanya info kuperoleh dari Twitter atau milis. Kalau rajin, suka buka-buka undangan event di Facebook atau tracking linimasa akun-akun daerah seperti @infosenijogja. Nanti infonya ku-copas ke blog ini, masuk kategori "agenda". Yang benar-benar ingin kudatangi akan kutulis di kalender meja.

Hummm... pantesan di pagi akhir pekan, Mas Fatur sering meng-SMS: Apa kegiatan hari ini, Dek?

Ada apa saja di Juli ini? Coba tanya aku, mungkin aku bisa menjawabnya :)

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 8:05:00 PM | No comments

SUSTAIN 2013: Final Decision of Extended Abstract Review




The 4th International Conference on Sustainable Future
for Human Security - SUSTAIN 2013
Kyoto University - Kyoto, October 19-20, 2013
Mezon Kiku 306, Nishiura 17-2, Gokasho, Uji, Kyoto, Japan. 611-0011
Email: secretariat@sustain-kyoto.com, Tel: +81-80-4480-7148
Website: http://www.sustain-kyoto.com


Dear Mr./Ms. Adriani Zulivan,

Thank you for submitting you’re an extended abstract entitled: “The Use of Social Media and Information  Technology for Disaster Risk Reduction”- (Paper ID: SE 68) to The 4th  International Conference on Sustainable  Future for Human Security ‐ SUSTAIN 2013. We have received large number of high quality submissions and the decision has been very difficult.

The result of the extended abstract review by the scientific committee has been decided, and we regret to inform  you that your extended abstract could not be accepted for The SUSTAIN 2013 conference.

The committee would like to thank you for the submission and we encourage you to participate in our next SUSTAIN conference.


Yours sincerely,

Nuki Agya Utama, PhD. International Scientific Committee

Saturday, June 29, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 1:16:00 PM | No comments

Acara Tutup Tahun Sekolah Gajahwong


Temans,

Minggu (30/06) besok aku akan membantu teman-teman pegiat Sekolah Gajahwong yang akan mengadakan acara tutup tahun ajaran untuk murid-murid PAUD Gajahwong. Sekolah Gajahwong adalah lembaga pendidikan informal yang diperuntukkan bagi anak-anak pemulung yang bermukim di bantaran Kali Gajahwong, Ledhok, Timoho, Yogyakarta.

Kegiatan ini terbuka untuk umum. Akan ada kegiatan jelajah mengenal alam, permainan edukatif, dan pameran karya anak. Sayang anakku tak bisa diajak (bingung cara bawa kandangnya, hehehe). Buat teman yang ingin membawa anak atau ponakan, silahkan saja. 

Acara ini gratis, namun perlu membawa konsumsi dan keperluan masing-masing agar tidak memberatkan panitia. Untuk menyelenggarakan kegiatan tsb, panitia yang bekerja voluntary ini mendapat bantuan publik berupa konsumsi, transportasi (bus) dan tempat di Cangkringan (dekat Resto Morolejar). Jika ingin menyumbang apapun (makanan, buku, alat-alat edukatif, dst), akan sangat berarti buat mereka.

Acara bertempat di Pondok Alam Cangkringan, pukul 08.00-12.00. Jika ingin berangkat bareng, panitia sediakan bus yang akan berangkat dari Sekolah Gajahwong pukul 07.00.

Yang tidak punya anak tapi tetap pingin ikut? Mari menjadi relawan! http://ledhoktimoho.wordpress.com/2013/06/29/call-for-volunteer-gathering-tutup-tahun-ajaran/

Info lengkap sila cek di sini. Gambar dari sini.

Mohon disebarkan.

Mlekom,
AZ

Friday, June 28, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:30:00 PM | No comments

Kereta Pengajian


Kereta kelinci ini berisi rombongan jamaah pengajian. Lihat bagian belakang tergantung kain sarung anak laki-laki bercelana pendek :)

Lokasi: Perempatan Jalan Veteran Umbulharjo, Yogyakarta.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 6:41:00 PM | No comments

ArtFRESH_Agraris 2013



RoadShow Lorong Panggung #9 

ArtFRESH_Agraris, Jogja 2013 
04-06 Juli 2013 

Sanggar Seniman Muda 
Jln. Magelang Km 12 Krapyak,Triharjo,Sleman Yogyakarta. Indonesia 
-Depan BRI Sleman- 

ArtFresh adalah: Event Penyegaran Semangat Gairah Berkesenian dan persahabatan yang dilandasi ke - khas -an cara/style bersosialisasi khas Yogyakarta .

Gagasan tersebut terinisiasi dalam pertemuan di Studio Eko Rahmy/komunitas SANGGAR Semangat Muda (SEMUD)-Indonesia oleh beberapa kelompok kesenian di Yoyakarta . 

Event tersebut melibatkan seni rupa,seni musik,sastra, teater,dan penggerak seni lukis Yogyakarta. ArtFresh kedepannya sebagai event tahunan.

AGRARIS adalah tema yang tidak sekedar menambah hiruk pikuk berita dan warna wacana kegiatan kesenian yang tumbuh subur merangsek ke kultur sosial-budaya generasi kekiniaan, selebihnya sebagai wadah semangat eksplorasi ,eksperimen,bagi bakat-bakat muda,diharapkan memunculkan ide segar dan menyegarkan. Sanggar Semangat Muda dengan Kesanggaran sebagai wadah serta adanya ketokohan tersebut selaras dengan langkanya tokoh yang mampu dekat generasi muda. 

cihuiii......begitu segarnya hari-hari 
hujan datang membasahi bumi 
membawa keajaiban air 
menilisik kerelung sanubari 
di segenap penjuru kampung- kampung 
begitu fresh...... cespleng 
sawah dan kebun pun basah semua 
lalu mentari menggantang......tersipu malu 
memberikan panasnya 
silih_datang warnai setiap lekukkan 
dalam garis-garis kelokkan katulistiwa 
bumi Agraris ...... 
....ekkk yaaaa 

ArtFresh dalam bahasa inggris Art berarti Seni dan Fresh berarti Segar ketika digabungkan artinya SeniSegar ataupun SegarSeni dan Agraris bisa diartikan tanah pertanian nan subur makmur,permai,sejahtera yang penuh salam senyum tanpa penindasan yaitu Bumi nusantara_ indonesia.

Yang akan basah ketika musim penghujan serta Panas terik merona ketika musim panas tiba dan akan selalu silih-berganti sebagai sebuah siklus kehidupan penuh kesegaran.

ArtFresh Agraris dalam peristiwa perhelatan hajatan seni budaya kali ini dimaknai sebagai hal-hal,ide,serta gagasan penyegaran pada ingatan tentang keelokkan alam kehidupan ditanah Agraris yang tidak terlepaskan oleh Nafas hidup dan kehidupan keagungan identitas jati diri,Seni, Kesenian, Berkeseniannya serta kebudayaan_budaya masyarakatnya. Tanpa pengkotak-kotakkan Status,Wilayah serta Pengkultusan apalagi menjadi Raja-raja kecil kesenian yang haus Penghormatan, pujian,Sanjungan yang serba semu,instant dan Menyesatkan generasi kemudian. 

Kegiatan kali ini sebagai pancingan awal Ranah Budaya dimana batas – batas definitive formal sangat tipis singgungannya pada praktek ,_antara Senirupa,Seni Musik , Sastra,Teater,Performance Art, baik yang tradisional maupun modern art. 


Salam Art FresH !!!.................. Ars Longa Vita Brevis 

Rangkaian Acara 

04 Juli 2013. Pukul 19.30 -23.00 wib 
Pembukaan
Di Buka Oleh: Ibu Dian Anggraeni 
Host: IBob SuSu 
Panggung Budaya 

PelunCuran Buku:
Kumpulan Antology Puisi “Deru Merapi", Sanggar Seniman Muda.2013 

PembaCaan Puisi:  

  • Ashari (Yogyakarta) 
  • Bandel Ilyas (Yogyakarta) 
  • Topan Sanggar Bambu Yogyakarta 
  • ToVa Woy (Jakarta) 
  • Tj (Yogyakarta) 
  • ER.Fajar (Yogyakarta) 
  • Herry Heigert( Papua)
  • Wardi Bajang
  • IBob SuSu (Yogyakarta) 
  • Priyadi DS (Jakarta) 
  • L .Surajiya (Kulon Progo) 
  • Mustofa W. Hasyim 
  • Stanza Krisna

PerformanCe Art: 

  • Sindu Cutter 
  • IBob SuSu 
  • Lanjar Jiwo 
  • Uret Pari Ono 
  • Wardi Bajang

04 - 06 Juli 2013 . Pukul 09.00 - 21.00 Wib 

Pameran senirupa 

  • Ashari 
  • Asrul Sani 
  • Andon Esty 
  • Amin SyahleVi.SE 
  • Ari KOLIK Bambang Vespa 
  • Cahaya NoVan 
  • Dhamas ”Bolenk” Saputra 
  • Erlambang B.N 
  • ER.Fajar 
  • Eko ”mbendol” Purnomo 
  • Joko Atmojo 
  • Kasirin 
  • Lukman Riadus .S 
  • Lutfi Darmawan 
  • Lanjar Jiwo 
  • Naim 
  • Nanang Nur Cahyo 
  • Rahmad Sujoko 
  • Suharno 
  • Sindu Cutter 
  • T.Brontho Sutejo aka“Tejo Murtopo” 
  • Uret Pari Ono 
  • Petro Benny 
  • Wardi Bajang 
  • Wahyu Catur Natalianto aka“Ghemphiel” 
  • Heru Fitoyo

Seni Instalasi

  • Ashari
  • Andon Esty 
  • Nanang Nur Cahyo 
  • Surajiya 
  • Komunitas Do It Yourself (DIY) Yogyakarta 
  • Kaji Habeb (Magelang)
  • Lanjar Jiwo 
  • ER Fajar
  • Wardi Bajang 
  • Indo B Satria 
  • Pram Sasmito 
  • Gono Rimbun 
  • Renzo 

Lukisan Baleho,Banner,Cukil Kayu: 
Sebumi (Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia)

Lukisan Mural: 

  • Lanjar Jiwo 
  • Kelompok JajalWAE 
  • Wardi Bajang 
  • Rangga A.P 
  • Bobby Prabowo 
  • Yusda R Saputra 

05 Juli 2013 
Pentas Musik:
Pukul 15.00 - 21.00 Wib 

  • Dangdut Asoylolee Yogyakarta 
  • Spoer (Balada) Yogyakarta 
  • Nol Km (Reagge) Yogyakarta 
  • Oke Humanitas (Musik Eksperimental) Yogyakarta 
  • HADROH MAHABAHTULLAH Krapyak 
  • Jahe Anget (Reagge) Yogyakarta 
  • Sejari (Balada) Yogyakarta 
  • Jamur Kuping (Balada) Yogyakarta 
  • Milagros (Balada) Solo 
  • Untung Basuki (Balada) Sanggar Bambu Yogyakarta 

06 Juli 2013 
Pukul 12.00 wib - 15.00 
Pemutaran film "Papua” 
Bersama: Herry Heigert (NaPaS) National Papua Solidarity 

06 Juli 2013 
Lorong Panggung
Wawancara ” EkoLOGIS Rahmy” Bersama perupa Eko Rahmy 
Host: I Bob SuSu 
Jinggel Song: Nyonyor Numpang Tenar 


Sanggar Seniman Muda 
Jln. Magelang Km 12 Krapyak,Triharjo,Sleman 
Yogyakarta.Indonesia 
cp:twoart4@gmail.com

Info dari sini.

Thursday, June 27, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 6:45:00 PM | No comments

The Dance that Makes You Vanish


Kuliah Umum Buku

The Dance that Makes You Vanish: Cultural Reconstruction in Post Genocide Indonesia
Oleh: Rachmi Diyah Larasati

Penanggap:

  • Anna Mariana (Sejarawan di Etnohistori)
  • Leslie Dwyer (Antropolog di George Mason University, USA)

Jumat, 05 Juli 2013, Pukul 16.00 – selesai
di Rumah IVAA, Jalan Ireda, Gang Hiperkes, Dipowinatan, MG I/188 A-B, Yogyakarta

The Dance that Makes You Vanish: Cultural Reconstruction in Post Genocide Indonesia (University Minnesota Press, March 1, 2013) adalah sebuah buku yang mengupas bagaimana politik bentuk tari dan tubuh tari dimediasi sebuah sistem bernegara yang mengakibatkan penghilangan penari dalam konteks 1965 dan sesudahnya. Kajian estetik politik ini melihat diskriminasi tubuh tari melalui pemetaan pemahaman intensitas perbedaan pandangan politik sosial dan penggunaan agama untuk menjadikan kekerasan sebagai bahasa yang dilegitimasi sebagai alat pembentukan nilai baru dalam sebuah pergantian kekuasaan.

Berdasarkan metode etnografi dan analisis materialisasi sejarah dan kesejarahan, Larasati mendudukkan kajian post colonial dalam mewacanai politik nasional dan lokal dalam hubungannya dengan konsumsi makna tubuh tari di dalam terjemahannya dalam sistem hubungan international - (merumuskannya dengan metodologi penggolongan secara politik budaya dunia: seperti yang dilakukan oleh Edward Said dan Marta Savigliano). Secara lebih jauh – Larasati menginterogasi materialisasi kesejarahan melaui pengalamannya sendiri ketika menari dalam perlindungan sistem kenegaraaan (kesenian yang ter-institusi dalam misi-misi kesenian dan praktek kenegaraan) dibandingkan dengan ingatan pembelajaran “informal” dari tubuh-tubuh disekelilingnya, dari sebuah desa yang “merah.”

Larasati memetakan keterhubungan kekerasan lokal-nasional secara ideologi yang ironiknya berbalik arah: Tubuh Tari dan Pelakunya, dianggap bermakna secara ideologi – sehingga legitimasi penggolongan kategorisasi tubuh-tubuh yang mampu mengancam negara, memberi ancaman terhadap stabilitas kenegaraan yang ditimbulkan (seperti kajian yang disebut: “replica” dan reproduksi oleh Walter Benjamin dan Michael Taussig, “unruly body” by Michel Foucault, “witnessing”: Diana Taylor). Tetapi dalam pemetaan kasus 1965 - dan sesudahnya ini, menjadi berbeda dengan berdasarkan pada pengalaman tubuh tari sebagai metoda archive itu sendiri, yang bisa berbicara dan memproduksi kesejarahan baru (Assia Djebar, Jean-Luc Nancy, Anna Tsing and Macarena Gomez-Barris, Gayatri Spivak).

Dengan menggunakan contoh-contoh ingatan yang dimediasi, termediasikan dan munculnya ingatan yang berbeda dan produksi materialisasi sejarah yang bertabrakan secara narasi. Larasati memfokuskan metodologi ingatan akan ruang, estetika dan politik kekerasan dalam masa Orde Baru dan sesudahnya sebagai ruang untuk memikirkan ulang etik dan sejarah. Memfokuskan penelitiannya pada masa 1965 dan sesudahnya, Larasati dalam buku ini mencoba melihat konsumsi estetik tradisional yang “indah” tidak menjamin pengertian kemanusiaan, karena politik pandang dan makna secara spekulatif ditandai dengan konteks sosial yang bisa direkonstruksi secara waktu dan ruang bagi pelaku. Maka, penggolongan keikutsertaan kesenian dan tubuh tari yang pernah dimusnahkan dalam ingatan baru, tidak menjamin perlindungan secara kewarganegaraan melainkan cenderung tercakup dalam sistem neoliberal baru.

Rachmi Diyah Larasati adalah Associate Profesor bidang Teori Kajian Budaya dan historiography di Jurusan Theatre Arts & Dance, University of Minnesota di Kota Minneapolis; Profesor di kajian Feminism di jurusan Gender, Women, and Sexuality Studies (afiliasi). Ia juga pernah mengajar di Brown University di program Critical Global Humanities Research Institute (BIARI, 2011), dosen tamu di IRB Universitas Sanata Dharma 2012, Universitas di Addis Ababa, Ethiopia, 2011, Universitas Granada, Spanyol, 2011. 

Buku dan tulisan-tulisan yang dihasilkan: 

  1. The Dance that Makes You Vanish (March, 2013, University of Minnesota Press); “Indonesian Dancing Bodies: Massacres and Restrategizing the Postcolonial State” in Asian Studies: Culture and Society in Asia, 2013, 45: 1-2. 
  2. “Desiring the Stage: The Interplay of Mobility and Resistance” (Neoliberalism and Global Theatres, Palgrave Macmillan 2012,256-265); 
  3. “Eat, Pray, Love Mimic: Female Citizenship and Otherness” (South Asian Popular Culture. Vol.8. Is 1, 2010 Reprinted in Transnational Feminism and Global Advocacy in South Asia, (Routledge 2012, 97-104); 
  4. Lingkaran Tubuh, Tari dan Kekuasaan, Jurnal Perempuan: the Journal of Women in Indonesia, Special Edition 62: Invited contributor. 
Beberapa tulisan yang akan terbit: 

  1. “Crossing the Seas of Southeast Asia: Indigenous Diaspora Islam and Performance of women Igal.” Dance and Ethnicity (2013); 
  2. “Female Combatan, Shari’a Law and Inquiry on Aesthetic in the War Zone,” in Choreography and Corporeality: Theories in Motion, Tommy Defrantz and Philippa Rodfield, eds. London: Plagrave Macmillan, 2014, (Invited Contributor-Forthcoming); 
  3. “The Catalyst: Human, Replica and Aesthetic Remembering" in Conversation on Critical Humanities, Binyam Sisay Mendisu (ed), Addis Ababa University.

Diselenggarakan atas kerjasama:
IVAA | Etnohistori | Kotak Hitam Forum | PUSDEP Sanata Dharma 

INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVE
Jalan Ireda, Gang Hiperkes, Kampung Dipowinatan
MG I / 188 A-B, Keparakan, Yogyakarta 55152, Indonesia
P/F +62 274 375262 | E ivaa@ivaa-online.org
URL www.ivaa-online.org | Join ivaa-online on Y!Groups
Like IVAA on Facebook | Follow @KawanIVAA on Twitter

Visit Digital Archive of Indonesian Contemporary Art
http://archive.ivaa-online.org/

Sumber: IVAA

Wednesday, June 26, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:36:00 PM | No comments

AB 6584 JY


Lihat plat nomor motor sebelah kanan :))

Mlekom,
AZ

Tuesday, June 25, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:12:00 AM | No comments

Abstract Approval - ICCPP 2013






ABSTRACT APPROVAL - ICCPP – 2013
Abstract Reference No: INDO03-EW-AZ


Dear Mr. Elanto Wijoyono and Mr. Adriani Zulivan,

We are pleased to inform you that your abstract titled “Merthi Kutha, When People Grab their Public Space” for a paper to be presented at the International Conference on Cities, People and Places (ICCPP-2013) has been approved for a 15 minute oral Presentation.

You are now requested to submit your full paper based on the approved abstract prepared in accordance with the specified template responding to the reviewer’s observations. The paper must be original and must have not been published before. You are advised to conform strictly to the instructions in the template. Your full paper shall be reviewed and assessed by the ICCPP International Scientific Committee (ISC). The ISC Assessment Form used to assess your paper is also attached for your guidance in preparing your full paper.

For authors whose first language is not English, you are advised to have your work edited by a fluent English writer prior to submission. Papers can be rejected due to poor standard of English. Any plagiarized paper shall also be rejected.

All approved papers (subjected to amendments, if any) shall be published in the CD of proceedings. However, it is COMPULSORY for you to submit your Full Paper, Publishing Agreement, Registration Form, and Registration Fees no later than 15th August 2013 to be included in the proceedings.

For any future correspondences, please refer your Abstract Reference No: INDO03-EW-AZ

We are looking forward to see you in Colombo in October 2013.

Conference Chair
ICCPP 2013


CONFERENCE WEB SITE: http://www.mrt.ac.lk/archi/ICCPP2013/

Posted by adriani zulivan Posted on 9:04:00 AM | No comments

Liburan di Perpus Kota Jogja #5



Liburan di PerpusKota  merupakan kegiatan rutin tahunan  Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta yang diperuntukkan bagi  anak-anak. Pada tahun ini  adalah pelaksanaan kegiatan liburan yang ke-5 yang dikemas  secara unik dan menarik, terdiri dari 3 sub kegiatan yaitu:

Liburan di PerpustKota 5 bagi anak,  yang akan berlangsung pada tanggal 2 s.d 6 Juli 2013 dengan tema Karnaval Budaya bersama PerpusKota. Kegiatan   ini dapat diikuti oleh 60 anak  dengan usia 3 sampai 12 tahun di Perpustakaan Kota Yogyakarta. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah Membuat Orang-orangan Sawah,  Performance Art, Menghias Caping, Pertunjukan Tari Caping, Melukis Celengan Gerabah, Sign Art Melukis Tampah, serta  Karnaval Budaya. Kegiatan ini tidak dipungut biaya/gratis. Pendaftaran akan dibuka dari tanggal 24 s.d 30 Juni 2013 jam kerja.

Junior Smart Camp 2013, yang akan berlangsung tanggal  6 s.d 7 Juli 2013 dengan tema Membangun Karakter Anak Penuh Karya  diikuti oleh 60 anak dengan usia 9 sampai 12 tahun.  Kegiatan ini akan dilaksanakan di Omah Jawi Jl. Kaliurang. Kegiatan ini dikemas dalam kerangka outbound dan kelas menulis. Peserta akan memperoleh fasilitas berupa kegiatan outbound, modul pelatihan, tas, makan snack, sertifikat, dan penginapan.  Pendaftaran akan dibuka dari tanggal 24 Juni s.d 4 Juli 2013 jam kerja.

Contact Person: Aulia R. (08971145894), Li Do De Rio (085729415322).

Asyiknya Membuat Film, yang akan berlangsung tanggal 10, 11, 13 Juli 2013 di Perpustakaan Kota Yogyakarta.  Peserta kegiatan ini adalah anak-anak dengan usia 10 sampai 14 tahun sejumlah 30 peserta. Dalam kegiatan ini peserta akan dikenalkan  Literasi Media, Materi Dasar Perfilman, Shooting dan Editing. Selama kegiatan peserta akan dibagi dalam 3 kelompok  yang masing-masing kelompok akan menggarap satu proyek film. Kegiatan ini tidak dipungut biaya/gratis. Pendaftaran dibuka  dari tanggal 24 Juni s.d 8 Juli 2013 jam kerja.

Bagi masyarakat yang berminat mengikuti kegiatan ini  dapat mendaftar langsung dengan cara mengisi formulir dan biodata peserta yang disediakan di Front Office Perpustakaan Kota Yogyakarta Jl. Suroto Nomor 9 Kotabaru Yogyakarta., Telp (0274) 511314. 


Sumber: Perpus Kota Jogja.

Monday, June 24, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 9:44:00 PM | No comments

NODEM 2013 Sweden




NODEM 2013 Sweden
Beyond Control – The Collaborative Museum and its Challenges
December 1-3, 2013

NODEM Network of Design and Digital Heritage/Interactive Institute Swedish ICT
Swedish Exhibition Agency
Stockholm City Museum

December 1, 2013: Reception
December 2, 2013: Keynote sessions
December 3, 2013: Special and thematic sessions

ABOUT THE CONFERENCE

The overarching goal of NODEM 2013 – Beyond Control is to highlight and investigate a variety of challenges that museums and other culture-historical institutions are facing in an increasingly digital, and media saturated, landscape.

The aim of the conference is to bring together museum and heritage professionals (GLAM and heritage sector), innovation experts (universities, research and technology transfer centres, start-ups) and practitioners (SME sector) to enable discussion on the potential of collaboration and innovation.

For decades digital technologies have been considered by the museums as bringing rapid changes that create challenges for the museum work and practices. With the advent of the digital age, museum professionals must constantly focus on the consequences and re-evaluate the museum’s role, as knowledge and interpretative processes are co-created with audiences and other expertise centres. At the same time innovation experts are researching and designing novel interfaces and experiences. How do we bring these different perspectives and approaches?

The exhibition space Interactive Salon will be arranged at the Stockholm City Museum.
This year’s edition focuses on: New conception of museums as public spaces and communication modes and interfaces. The Interactive Salon showcases the latest, cutting-edge products, exhibitions and services for museums, galleries and heritage sites. Open throughout the duration of the conference.

VENUE

Hilton Hotel, Slussen
Guldgränd 8 Box 15270, Stockholm

The Stockholm City Museum
Ryssgården, Slussen, Stockholm

The Museum of Medieval Stockholm
Strömparterren, Norrbro, Stockholm

Beyond Control is part of the NODEM Nordic Digital Excellence in Museums conference series under the stewardship of Interactive Institute Swedish ICT

Contact: nodem@nodem.org

Visit conference site here.


Sunday, June 23, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:14:00 PM | No comments

Putu Mayung


Saturday, June 22, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:09:00 PM | No comments

Djelajah Plengkoeng



Sunday, July 7, 2013
7:30am
Plengkung Magelang

Bangunannya megah dengan gaya arsitektur yang luar biasa, melengkung kokoh bak terowongan. Mengalir sebuah selokan air di atasnya membelah kota Magelang menjadi 2 bagian. Berdiri tegak hingga ratusan tahun. Membentang dari Pucangsari-Poncol-Aloon2-Tengkon-Bayeman hingga Jagoan sepanjang lebih dari 5 kilometer. Mengairi sawah, menyirami tanaman, menggelontor kotoran dll.

Itulah Plengkung namanya yang hingga kini tetap setia menjalankan tugasnya.
Lalu seperti apakah kondisinya sekarang, apakah masih seperti dulu ?
Jika kamu pecinta sejarah dan suka berpetualang, ayo ikuti :

"DJELADJAH PLENGKOENG" (Trekking Jalan Kaki)

Waktu : Minggu 7 Juli 2013
Jam : 07.30 WIB-selesai
Tempat Kumpul : Depan Radio Polaris Jl. A Yani Kota Magelang.
Kontribusi : Rp 15.000,-
Fasilitas : Makalah, Makan dan Minum

Cara Pendaftaran/info: ketik PLENGKOENG [nama anda] 
kirim ke: 0878 32 6262 69

NB:

  1. Rute: Start dari hulu boog Kotta Leiding di Pucangsari/belakang Radio Polaris menelusuri sepanjang boog Kotta Leiding menuju Plengkung Baru di Badaan, ke Plengkung Lama di dekat SMK 3, Aloon-aloon, ke Plengkung Tengkon, Bayeman dan finish di Jagoan sejauh 5 kilometer. Break event di Warung Makan Tempo Doeloe "Voor de Todar" Jalan Gatot Subroto 58 Kota Magelang.
  2. Para peserta wajib memakai sepatu, topi, kaos cadangan, handuk kecil, sedia payung/mantol.
  3. Bagi peserta yang memakai sepeda motor harap menghubungi panitia di kontak person: 0878 32 6262 69.
  4. Jangan melakukan Vandalisme pada BCB dan jangan buang sampah sembarangan.

SAVE HERITAGE AND HISTORY IN MAGELANG.

Sumber: Kota Toea Magelang

Thursday, June 20, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:21:00 PM | No comments

Cultural Heritage. Environment, Ecology and Inter-Asian Interactions



IIAS Events
Call for Papers
Cultural Heritage. Environment, Ecology and Inter-Asian Interactions
Deadline: 31 July 2013
Conference dates: 6-8 January 2014

In Asia, the notion of ‘heritage’ is often associated with the construction of post-independence nation-state models, the definition of national ‘traditions’, and the idea of a pre/post-colonial historical national continuity. As a result discussions about ‘heritage’ are often state-dominated, leaving little room for regional and trans-regional views especially where it concerns inter-Asian interactions. These interactions as well as the establishment of particular (sacred) sites were often the direct product of environmental or ecological conditions which would furthermore often also assure their continuation and/or conservation over long periods of time. However, over time not only environmental/ecological conditions would change but also geopolitical ones introducing different visitors and even ‘owners’ to particular sites, changing their cultural, social and political significance.

This conference welcomes papers that investigate the role environmental/ecological and historical factors have played in the changing significance of sites in Asia and/or how these factors (continue to) influence the maintenance and conservation of these sites. In relation to this the conference is also interested in how intangible forms of heritage (folklore, customs, or particular rituals) have similarly been influenced and/or affected. It particularly welcomes papers that introduce an inter-Asian perspective either with respect to the (changing) significance of these sites or in relation to the maintenance and conservation of them as cultural heritage. The conference is open to scholars from a diverse range of backgrounds including (art) history, archaeology, cultural studies, ecology & environment studies and social sciences as well as practitioners ranging from conservationists to managers and activists.

Keynotes
  • Rick Asher (Department of Art History, University of Minnesota)
  • Robin Coningham (Department of Archaeology, Durham University)
  • Engseng Ho (Cultural Anthropology, History and Duke Islamic Studies Center; Duke University)
  • Akira Matsui (Center for Archaeological Operations, Nara National Research Institute for Cultural Properties)
  • Mike Robinson (Ironbridge International Institute for Cultural Heritage, University of Birmingham)
  • Location
This two-day conference will be jointly organized by the new Nalanda University and the Netherlands based International Institute for Asian Studies (IIAS). Rajgir (Bihar) promises to be an exceptionally interesting location for this conference given its proximity to the ancient site of Nalanda University (a prime example of inter-Asian connections) as well as many other important historical and religious sites such as Bodh Gaya, where Buddhism finds it origin. The conference program will include a full-day of sightseeing. The location for the conference will be the newly built Convention Centre that is equipped with all modern facilities.

Accommodation and Transportation
Accommodation will be provided to all presenters in a convenient four-star hotel. To non-presenters accommodation will be made available at the same hotel at a special rate. Rajgir is easily connected by rail and bus to the airports of Gaya and Patna which have frequent connections with the international airports of Delhi and Kolkata. The conference organizers will gladly assist with travel queries and will make sure local transportation from and to the conference venue, hotels, bus and train station is provided for. Conference participation is free of charge. For further details please see: http://www.nalandauniv.edu.in/conference.html

Abstract & Program
Please submit your abstract of no more than 250 words before 31 July 2013. Please also include a summary of no more than a 150 words of your current affiliation, research interests and key publications. Presenters may be requested to be discussants and/or chairpersons in other sessions. Presentations will be thirty minutes with fifteen minutes of questions of answers. The presentation of photographic or video-material is not only possible but also highly encouraged. Suggestions for documentary screenings or musical performances that could be included in the evening program are also highly welcome. Please submit your abstract, inquiries and/or suggestions to: conferences@nalandauniv.in

Organization
Nalanda University was in existence for nearly 800 years from the fifth till the twelfth century CE and attracted scholars from countries as diverse as China, Japan, Korea, Mongolia, Sri Lanka, Tibet and even Turkey. It was one of the oldest universities in the world. The newly founded Nalanda University is an international university unlike any in India. It has been mandated to be an international institution for the pursuit of intellectual, philosophical, historical and spiritual studies. It aims to bring together the brightest and most dedicated students from countries across the world irrespective of gender, caste, creed, disability or socio-economic background. It is a non-state, non-profit, secular, self-governing international institution and will, eventually, consist of seven different schools, among which are schools dedicated to Historical Studies and one that focuses on Ecology & Environment Studies.

The International Institute for Asian Studies (IIAS), established in 1993, is principally a research and exchange platform based in Leiden, the Netherlands. It encourages the multidisciplinary and comparative study of Asia and as such actively promotes (inter)national cooperation. IIAS acts as an international mediator, bringing together academic and non-academic partners including cultural, social and policy organizations. The research at IIAS is carried out under the aegis of three programmatic clusters of which Asian Heritages is one. It explores the notion of heritage as it evolved from a Europe-originated concept associated with architecture and monumental archaeology to incorporate a broader diversity of cultural forms and values, including the so-called ‘intangible’ heritages and the importance of cultural heritage in identity construction.

See more at: http://www.iias.nl/event/cultural-heritage-environment-ecology-and-inter-asian-interactions#sthash.4yD1WA6r.dpuf

Tuesday, June 18, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:07:00 PM | No comments

Jeruji Besi yang Membasahi Saputangan



Bergaul dengan warga desa memunculkan kesadaran bahwa desa itu tidak se-udik, se-katrok, se-kampungan yang dipikirkan orang awam. Aku mengenal sejumlah orang hebat yang melakukan banyak hal untuk desanya. Diantara mereka adalah para Kepala Desa (Kades).

Salah satu Kades yang kukenal adalah Pak SA. Ia adalah seorang mantan wartawan di Jakarta, mantan aktivis kampus yang bergelar Sarjana Ekonomi, dan kini menjadi mantan Kades sebab masa jabatannya telah berakhir. Ia memenangkan suara nyaris mutlak di dua periode pemilihan. 

Warga bangga padanya. Akupun begitu. Ia sangat bijak dan taktis. Juga memiliki selera humor yang sangat tinggi. Tahun 2010 aku pernah sakit perut akibat terbahak-bahak mendengar cerita beliau. Bagaimana tidak, nyaris sejam perjalanan ia menceritakan hal-hal lucu.

Pak SA adalah salah satu Kades yang memiliki visi hebat. Mencari sosok pemimpin sekelas beliau bukan perkara mudah, bahkan di tingkat negara! Sampai-sampai, beliau dilirik berbagai pihak untuk dicalonkan menjadi Bupati. Tak hanya di kabupaten tempat tinggalnya, namun juga kabupaten tetangga. Sip sekali!

Untuk sebuah majalah, aku pernah mewawancara beliau tentang sebuah program yang sedang dijalankannya. Program ini berbasis teknologi informasi, bermula dari cita-citanya untuk mewujudkan tata kelola data desa yang baik dan aksesibel. Sebuah LSM di Yogyakarta membantu beliau mewujudkan cita-cita ini dengan membangun sistem informasinya. Program ini kemudian menjadi pemenang di tingkat kabupaten, dalam sebuah lomba desa berskala nasional.

2007
Pasca gempa bumi 2006, pemerintah menggelontorkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi. Dana bantuan ini diberikan kepada desa-desa yang terkena dampak bencana. Besaran uang berbeda bagi tiap rumah yang menjadi korban, tergantung tingkat kerusakan.

Sayangnya, pembagian ini kerapkali menimbulkan persoalan baru. Banyak pengalaman dari desa-desa lain yang menceritakan tentang perpecahan keluarga, keributan antar warga, dll yang diakibatkan oleh pembagian dana bantuan yang dianggap tidak adil. Entah atas dasar apa, bupati yang berkuasa saat itu menyatakan bahwa dana bantuan gempa untuk proses rehab-rekons bisa dikelola sesuai dengan kearifan lokal. 

Pak SA tentu tak menginginkan kejadian serupa terjadi di desanya. Dalam sebuah forum warga yang dihadiri oleh seluruh pejabat berwenang terkait bantuan gempa, ia mengusulkan agar dana senilai Rp 1 milyar dibagikan secara merata ke seluruh warga, meskipun rumahnya tidak rusak. Hal ini dilakukan untuk mengindari konflik akibat data rujukan yang digunakan pemerintah untuk pembagian dana gempa tidak akurat. Sebagian lain dana itu dipotong untuk pembangunan sarana dan prasarana desa. Warga setuju. Walaupun seluruh bukti transaksi terekam baik, persetujuan ini tidak memiliki kekuatan formal, sayangnya, sebab tak ada perjanjian tertulis berupa dokumen legal. Inilah yang dinamakan kearifan lokal, berdasar azas kepercayaan.

03 Juni 2013
Saat aku memeriksakan diri ke Rumah Sakit, ada yang menyapa. Mas AfZ, kenalan lama. Dia sedang memeriksakan punggungnya yang cidera akibat kecelakaan sepeda motor minggu lalu. Tabrak lari.

Mas AfZ adalah putra dari Pak SA. Ia datang bersama ibunya. Obrolan bermula dari pertanyaan standar orang bertemu di RS: Siapa yang sakit, sakit apa, dan seterusnya, hingga menanyakan kabar ayahnya.

"Senin  depan (10/06) akan dilangsungkan sidang di pengadilan Tipikor," kata Bu SA. Beliau langsung langsung menghubungi pengacaranya untuk menanyakan jadwal persidangan, ketika kunyatakan keinginanku untuk menghadiri sidang.

Pak SA menjadi terpidana korupsi. Kasus yang menjeratnya adalah soal pembagian dana bantuan gempa yang dianggap tidak diatur sebagaimana mustinya.

Sebenarnya, sejak ditangkap dan dipenjara pada 31 Oktober 2012, aku sudah sangat ingin menjenguk beliau ke rutan. Aku berharap, selain sebagai ungkapan solidaritas, juga ingin menanyakan hal yang mungkin bisa kubantu. Aku kenal sejumlah Guru Besar Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada. 

Niat itu dipatahkan teman-temanku. Menurut mereka, perkara yang sedang dalam proses penyusunan dapat menjadi runyam jika kedatangan orang baru. "Bisa-bisa dituduh ingin bersekongkol untuk hal buruk," kata mereka. Mengenai bantuan hukum, ada teman yang sudah bergerak, lewat lobi non hukum, jalan ini sebaiknya tidak melibatkan ahli dahulu.

3 Oktober 2012
Bersama tiga teman lain, aku sempatkan mengunjungi Pak SA di rumahnya. Saat itu berita korupsi ini mulai terdengar di telinga publik. Kami datang hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul, tak sedikitpun menyentuh isu tersebut. Pak SA masih terlihat tenang dan kocak seperti biasa. Beliau juga menceritakan mimpi-mimpinya untuk kemajuan desa. Ini pertemuan terakhir kami dengan beliau.

10 Juni 2013
"Urusan benar atau salah sudah menjadi wewenang pengadilan untuk memutuskannya. Kita hadir sebagai teman untuk memberikan semangat dan dukungan moral kepada Pak SA dan keluarga dalam menjalani proses kasus yang dituduhkan kepadanya," kata temanku menjawab pertanyaanku tentang kapasitas kami di persidangan.

"Mari, Bapak di dalam," kata Mas AfZ yang menyambut kami di Pengadilan Tipikor.

Kami masuk ke ruang transit tahanan. Tampak di situ Pak SA sedang berbincang dengan Bu SA, melalui jendela. Ya, ruang sekitar 3x4 meter itu semacam penjara dalam versi manusiawi. Ada sebuah kursi panjang dan toilet di dalamnya. Bersih, manusiawi, selayaknya ruang-ruang di kantor lain. Yang membedakan adalah teralis besi yang terpasang kokoh di tiap daun pintunya.

Ruangan putih itu dibagi dua, dengan pembatas berupa tembok kaca. Ruang pertama untuk tahanan, ruang lainnya untuk penjenguk. Ada pintu dan dua daun jendela di tembok kaca itu. Perbincangan dengan Pak SA berlangsung melalui celah daun jendela yang diangkat agar tak menghindari pandangan. Diangkat dengan cara menahannya dengan tangan, temanku yang melakukan itu.

Pak SA, seperti biasa, menyambut kami hangat dan menyatakan terimakasih atas kunjungan ini. Obrolan, juga seperti biasa, berjalan ngalor-ngidul menyenangkan selama setengah jam. Meski tetap terlihat setegar SA yang dulu, ada hal yang berbeda dari beliau. Kalian akan tahu jika pernah mengenal sosok SA sebelum kejadian ini.

Temanku menceritakan tentang sistem basis data yang dikembangkan LSM-nya, di mana tiga tahun lalu desa Pak SA menjadi pilot project. Sistem ini kini berkembang pesat. Pak SA tentu bangga, sebab beliau menjadi salah satu penggagas. Beliau menceritakan kegiatannya di rutan.

"Saat ini saya sibuk menulis untuk bahan persidangan. Nanti usai putusan, akan punya waktu untuk menulis. Saya ingin menulis buku tentang peran pemdes di masa pasca gempa, terutama terkait perbedaan antara hukum negara dengan kesepakatan warga." Kesepakatan warga ini adalah "kearifan lokal" yang kusebut di atas. Selain itu, kasus ini semakin menegaskan bagaimana dampak sosial yang muncul ketika pemerintahan dikelola dengan data yang tak akurat. Sayangnya, dampak tersebut harus ditanggung oleh ujung tombak pelayan masyarakat, yakni perangkat pemerintahan desa.

Sebagai Kades, Pak SA menjadi pucuk pengambil kebijakan desa, sedang enam stafnya dianggap telah menjalankan putusan melanggar hukum yang ditetapkan atasannya. Satu periode pemerintahan desa itu dianggap menyalahgunakan wewenang. Sesimpel itu...

*
Ketika melihat kami datang, Bu SA yang tadinya berdiri mengobrol dengan suaminya, langsung menyingkir ke kursi tempat pengunjung. Beliau terus mengusapkan saputangan ke matanya yang merah dan berkantung tebal. Bagaimana tidak, suaminya berada di kursi pesakitan. Aku jadi kikuk sendiri. 

Ingin ikut duduk di samping beliau, namun aku tak kuat melihat orang menangis. Ketika melihat Pak SA di ruang berjeruji itu saja aku hampir menitik air mata. 15 menit berselang, kuberanikan diri duduk di samping Bu SA, menanyakan hal absurd.

"Ibu sehat, Bu?" pertanyaan sama kutanyakan juga ke Pak SA di awal pertemuan tadi.

"Alhamdulillah sehat," jawabnya lirih, sambil terus mengusap saputangan.

Lalu aku bingung, sebab si Ibu juga tak setegar suaminya. Ia tak mampu berkata banyak.

"Dengan siapa ke sini, Bu? Berdua dengan Mas AfZ saja?" nah, pertanyaan absurd lagi.

"Itu dengan anak-anak semua" menunjuk adik-adiknya Mas AfZ.

"Mas AfZ bagaimana, Bu? Sudah sehat?"

"Lumayan Mbak, tapi masih terbatas geraknya." Pertanyaan ini sudah kutanyakan juga langsung ke Mas AfZ saatkami baru bersua tadi.

"Ibu sehat-sehat ya Bu, biar Bapak juga sehat," kataku sambil memegang pundaknya. Absurd.

"Iya Mbak..." 

Bla bla bla, tentang berapa kali beliau menjenguk, kesehatan si Bapak, dst sampai petugas datang, beritahukan giliran persidangan Pak SA tiba. Aku dan teman-teman ke luar, memberi waktu pada keluarga dan tim Kuasa Hukum.

Tuntutan
Agenda sidang kali ini adalah pembacaan tuntutan oleh Jaksa. Pak SA
didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. Berdasar keterangan saksi di sidang-sidang sebelumnya, Pak SA dan beberapa Staf Pemerintah Desa yang dipimpinnya (ada 6 orang lain yang ditangkap beberapa hari pasca penangkapan Pak SA), terbukti telah melakukan pemotongan dana bantuan pasca-gempa. Dana itu digunakan untuk membangun sejumlah infrastruktur desa. 

Atas dakwaan tersebut, jaksa menuntut hukuman penjara 6 tahun (potong tahanan) dan denda (sekitar) Rp 200.000.000 (subsider 3 bulan kurungan). Juga wajib membayar denda sebesar (sekitar) Rp 60 juta atas kerugian negara yang mencapai angka lebih dari Rp 1 Milyar. Jika denda tersebut tak bisa dibayarkan, maka pengadilan akan menyita aset pribadi.

"Enam tahun!" pekikku dalam hati.

"Biasanya putusan akhir tak akan jauh-jauh dari itu," kata temanku.

"Apakah ada yang bisa dibantu untuk saat ini?" tanyaku.

"Ini sudah putusan, mestinya sebelum ini..."

"Dulu aku pernah menawarkan untuk menghubungi orang UGM!"

"Tapi sepertinya tidak akan berubah lagi, kecuali ada peninjauan kembali (PK). Untuk PK itu, kalau keluarga masih punya energi..."

Hatiku mencelos... :(

Dalam persidangan ini hanya menghadirkan Pak SA, sedang enam stafnya akan disidang keesokan harinya. Mereka selalu dipisah, mulai dari lokasi rutan yang berbeda kabupaten, hingga jadwal yang tidak pernah disatukan (kecuali dalam proses mendengarkan saksi). Ini disengaja agar tak terjadi tindakan saling mempengaruhi.

Sidang berlangsung sangat singkat, kurang dari setengah jam. Pak SA langsung dibawa kembali ke ruang transit. Kami tidak ikut, biarkan keluarga dan kuasa hukum berunding. Kami menunggu di luar. Sepanjang persidangan, saputangan Bu SA terus bekerja.

Tak lama, Pak SA dan keluarga keluar. Kami hampiri, salaman. Genggamannya masih sekencang biasanya ia menjabat tangan. Aku tak tahu harus mengucap apa: Sampai jumpa lain waktu, Pak! Semoga sukses persidangannya besok! Absurd lagi, kan? Maka aku diam saja, sambil menyunggingkan senyum paling manis yang kupunya, sambil melambai hormat ketika si Bapak sudah masuk ke mobil hijau berjeruji itu.

Si Ibu mengikuti beliau. Si Bapak, sambil melambai kepada kami, menjulurkan tangannya di antara jeruji jendela mobil. Si Ibu meraihnya, lalu menciumnya sayang. Dengan rasa sayang mendalam. Aku menangis melihat adegan ini.

Keluarga pulang dengan kendaraan terpisah. Kami berpamitan.

Ini pengalaman pertamaku masuk ke ruang sidang, selain ruang praktek mahasiswa hukum di kampus. Aku benci jeruji-jeruji yang membuat saputangan Bu SA basah kuyup!

11 Juni 2013
Kemarin, dari keluarga Pak SA, kami mendengar bahwa persidangan mantan staf Pak SA akan disidang hari ini. Kami datang di jam yang sama dengan kemarin, namun melihat kondisi kantor yang sepi. Ternyata persidangan diadakan pagi hari...

Hari Ini
Besok, 19 Juni 2013 pukul 08.30 akan diadakan sidang lanjutan dengan agenda pembacaan pledoi oleh Pak SA, masih di Pengadilan Tipikor, Jalan Soepomo, Janturan, Yogyakarta (pertigaan kecil di seberang swalayan Pamella I). Ada yang ingin turut memberi dukungan moril? Mari!


Foto kuambil di persidangan kemarin (10/06). Seluruh nama (orang, lembaga dan tempat/lokasi) kusamarkan demi kepatutan.

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata