Monday, November 25, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 7:54:00 PM | No comments

Selamat Hari Guru, Paman!

Keluarga Budhe di pernikahan Kakak akhir tahun lalu, minus Paman.
Pernah tahu bahwa di Indonesia ada rumah sakit khusus stroke? Ada, di Bukittinggi, Sumatera Barat, bernama Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN). Mengapa RS nasional bukan di pusat? Guyonan orang lokal sih: Karena makanan Minang penuh santan, jeroan, pedas, asin, dst.

Aku gak minat membahas tentang RS ini. Namun alasan "urang awak rentan penyakit stroke, akibat makanannya dituduh sebagai penyebab utama penyakit stroke". Keluargaku punya pengalaman ini.

Mamaku punya kakak angkat, kupanggil Paman. Paman tinggal dengan keluarga Mama sejak mereka masih SD di Pulau Telok, Nias, Sumatera Utara. Keluarga Mama adalah pengusaha, menjual berbagai macam hasil tani dan membuka toko panglong. Paman bertugas menjaga toko dan merawat dua adik barunya: Mamaku dan Etek (adik Mama yang juga perempuan).

Masa kecil mereka begitu menyenangkan. Hidup sebagai anak pantai yang mengayuh sampan untuk memetik kelapa di pulau milik Ayah mereka, sembunyi di ladang saat bolos mengaji, hingga menggoda para pelanggan toko yang singgah.

Paman merantau ke Jawa, ambil sekolah kedokteran di Yogya. Sayang, Pendidikan Kedokteran Paman terputus akibat Ayah Mama meninggal. Tak ada lagi biaya sekolah. Akhirnya Paman pindah ke Solo, ambil Pendidikan Keguruan yang biaya sekolahnya lebih murah. Paman membiayai dirinya sendiri.

Paman menjadi guru di SMA Al-Islam Solo. Lalu menikah dengan muridnya (semoga aku tak salah ingat!), yang kini kupanggil Budhe. Bukan pernikahan mudah, sebab Paman adalah anak sebatangkara yang tidak memiliki orangtua dan kakak-adik kandung. Terlebih lagi, dia datang dari negeri antah-berantah di pulau seberang yang tak pernah tercatat dalam kisah pewayangan, atau jazirah nabi.

"Dia shalat-nya baik, orangnya santun, apalagi guru di sekolah Islam," kata Ayah Budhe tentang Paman. Aku tahu kisah ini tahun lalu, diceritakan Budhe. Pernikahan ini melahirkan empat sepupuku yang semuanya perempuan. Aku baru bersua dengan mereka 16 tahun lalu, saat keluargaku menjadi turis di Jawa.

Saat pertama ke Solo, aku tinggal di sebuah rumah joglo yang sangat cantik. Rumah milik keluarga besar Budhe ini berdiri di tengah sebuah pekarangan luas. Sayang, rumah ini kemudian dibongkar saat pembagian warisan. Kini ada banyak bangunan di tanah itu, banyaknya sejumlah anaknya Simbah.

Kalian tentu tahu bagaimana kehidupan guru di zaman itu. Paman, meski sempat menjadi Kepala Sekolah, tidak berpenghasilan besar. Namun keempat sepupuku diterima di sekolah negeri--berturut-turut Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip). Ini tentu menjadi kebanggan bagi keluarga besar kami, apalagi kemudian mereka lulus cum-laude dan mendapat pekerjaan yang baik.

Paman terkenal sangat disiplin di sekolah. Banyak murid takut padanya. Ini kudengar dari muridnya yang berkunjung. Tiap Lebaran tiba, murid-murid Paman, terutama yang sudah lulus, tak pernah putus berkunjung ke rumah. Mereka selalu membawa oleh-oleh dari kampungnya.

Mungkin faktor gen Sumatera yang membuat Paman memang keras. Mungkin pula karena kehidupan kecilnya yang memang keras. Meski begitu, banyak orang bilang kalau Paman 'sangat Jawa'. Tutur bahasanya halus, tak pernah kasar. Paman juga sering bergurau dengan Adikku, satu-satunya anak laki-laki di keluarga besar Mama.

Ketika kami pindah ke Jawa, hubungan dengan keluarga Paman semakin dekat. Terutama setelah kedua orangtuaku tinggal di Yogya. Tiap Lebaran kami ke Solo, sebagai kunjungan terhadap orang tertua di keluarga. Keluarga Solo adalah keluarga dengan jarak terdekat dengan kami. Memang Etek tinggal di Jakarta, adapula sepupu Papa yang di Bandung. Namun kami tentu sowan kepada yang lebih tua.

Budhe yang asli Solo tentu tak biasa memasak makanan Sumatera. Maka Paman sering membeli makanan di Warung Makan Padang, untuk mengobati rindunya pada kampung. Budhe juga belajar menu-menu tertentu. Jika berkunjung ke Solo, Mama juga selalu memasakkan makanan kesukaannya. Tiap kami berkunjung ke Solo, Paman selalu mengajak Adikku makan di Warung Padang.

Sampai Paman terkena penyakit stroke ringan. Paman mulai membatasi makannya. Tidak lagi memilih jeroan dan santan. Budhe sangat protektif. Mama hanya membawakan menu bebas santan dan daging, seperti Ikan Sampade. Kepada Mama, Budhe pun meminta resep beberapa masakan Sumatera yang bebas kolesterol.

Namun, jika di luar rumah, tentu sulit mengontrol Paman. Setelah sehat, daging dan santan kembali disantap. Seingatku, dalam 1.5 tahun, Paman tiga kali mondok di RS akibat strokenya kambuh. Hingga akhir 2011 lalu.

Hari ini dua tahun lalu, kami sekeluarga berangkat mendadak ke Solo. Paman sudah tidak ada, kata sepupuku di telepon. Ini setelah seminggu terbaring tak sadarkan diri di RS akibat pendarahan otak.

Hari itu adalah 25 November, Hari Guru, sebagaimana hari ini. Pergi seorang Azril, si pendidik dari negeri antah-berantah.

Selamat Hari Guru, Paman. Terimakasih sudah mendidik orang yang melahirkanku!

Mlekom,
AZ

Saturday, November 23, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 11:00:00 PM | No comments

Bersua Walikota




Sejak dimulai pada Oktober lalu, Festival Seni Mencari Haryadi (FSMH) belum pernah sekalipun bertemu dengan Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta yang selama ini 'dicari'. Hingga pihak Gubernuran bantu memfasilitasi, lewat pertemuan pada Selasa, 26 November 2013 pukul 19.00 di Pendopo Kepatihan, Jalan Malioboro


Sarasehan bertajuk "Jogja untuk Semesta" ini akan diawali dengan paparan dari narasumber, yaitu:

  1. Agung Kurniawan - seniman; mewakili gerakan Warga Berdaya dan FSMH
  2. Sumbo Tinarbuko (Dosen DKV ISI dan Pegiat Komunitas Reresik Sampah Visual)
  3. Bakti Setiawan (Dosen Arsitektur UGM, pemerhati tata kota)
  4. Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta
Usai paparan, akan ada sesi tanya-jawab yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk berdialog langsung tentang kota. Sarasehan ini mengundang seluruh masyarakat Kota Yogyakarta. Akan ada minuman hangat dan makanan ringan untuk kita.

Monggo manfaatkan dengan baik forum yang langka ini. Mencari Haryadi itu susah lho :)

Humas FSMH


CULTHIST '14 on Symbols, Representation, Expression 
in the History of Culture

Conference Venue: Sedad Hakkı Eldem Oditorium, Fındıklı Campus, MSFAU

Throughout the history of mankind, the symbols emerge in all eras and in all scales with various appearances and functions. Sometimes the meanings and functions of the symbols are obvious and some-other-times the symbols present a potential of a key that needs to be subjected to more comprehensive studies.

Symbols bear significance, as objects and concepts in themselves. Then again, accumulation of emotional, intellectual, ideological, anthropological, religious and political references equally bears significance, again, in itself. It is more than fair to claim that the role of symbols in daily life, their origins, stylistic qualities and semantic transformations constitute an inseparable part of cultural history.


THEMES
Culture and politics 
  1. Culture and production of symbol 
  2. Politics, ideology and symbols 
  3. Culture as a network of symbols
  4. Forms of symbol: words, sounds, gestures, visual images 
  5. Theories of symbol, representation and semiotics 
  6. Symbol, sign and metaphor 
  7. Symbol as an idea, belief, action, material entity 
Perspectives 
  1. Symbol and public memory 
  2. Symbols in religion, religious symbolism 
  3. Symbols, culture and geography: North, Central and South America, Africa, Europe, Middle East, Asia (India, China, Japan, Korea, Thailand), Oceania 
  4. Symbol, architecture and urban space 
  5. Scientific symbols, computer icons, punctuation, map-territory relation 
  6. Alphabet, font, glyph, grapheme 
  7. Icon, logo, emblem, motif 
Themes 
  1. Tragedies, disasters, plagues, wars, civil wars, demonstrations, revolutions 
  2. Fashion, sports, cosmetics and entertainment industry 
  3. Advertisement, vehicle industry, real estate, technology 
  4. Marketing strategies and consumer culture 
  5. Identity, class, race, gender and discrimination 
  6. Concepts and symbolism: death, birth, nature, hope, freedom, love, utopia, courage, passion etc. 
  7. Emotions and symbolsim: happy, excited, tender, scared, angry, sad etc. 
Art and science 
  1. Symbols in art and art as a symbol: sculpture, painting, street art, contemporary arts, performance arts, poetry, literature, photography, classical music, pop music, theatre, cinema 
  2. Symbols from sociological and antropological perspective 
  3. Symbols from a pschological and psychiatrical perspective 
  4. Psychoanalysis, rhetoric, and archetypes 
  5. Symbol and historiography 
  6. Deconstructivism and symbols 
  7. Orientalism, Neoclassicism, Eclecticism 
  8. Communication and human behaviour
AGENDA
  • New Deadline for submission of abstracts: Closed.
  • Last Deadline for registration: Oct 4, 2013
  • Deadline for full papers submission: Oct 4, 2013
Find out more here.
Posted by adriani zulivan Posted on 8:57:00 AM | No comments

2014 Conference on Anthropology & Sustainability in Asia




The 2014 Conference on Anthropology & Sustainability in Asia »
Anthropological Perspectives on Holistic Sustainability


CASA 2014 will be held at the KKR Hotel Hiroshima
Hiroshima, Japan
March 16-18, 2014

The Final Deadline for Proposals is February 1, 2014

The Conference on Anthropology & Sustainability in Asia is an international biennial conference. The first conference was held in 2012 in Bangkok, Thailand, and the 2014 conference will be held in Asia’s ‘City of Peace’: Hiroshima, Japan. CASA 2014 will begin with a welcome party on March 16th followed by a two-day interdisciplinary platform for scholars, researchers, policymakers, entrepreneurs, students, and practitioners on March 17th and 18th. Selection of Hiroshima as the venue site provides the ideal backdrop for a conference that will draw researchers and scholars from around Asia to discuss the importance of anthropology in regards to the CASA 2014 theme: Anthropological Perspectives on Holistic Sustainability.

Under the theme of Anthropological Perspectives on Holistic Sustainability, CASA 2014 welcomes submissions from the following sub-themes and special topics:

  1. Cultural Sustainability
  2. Social Sustainability
  3. Political Sustainability
  4. Economic Sustainability
  5. Archaeology and Sustainability
  6. Linguistic Sustainability
  7. Biological Sustainability
  8. Other areas (Please specify)

Special topics:

  1. Comparative cultural systems of sustainability
  2. Professional paradigms in researching the concept of sustainability
  3. The religious impact on the growth of sustainability
  4. Crisis of social solidarity and its implications on sustainability
  5. The erosion of community and its consequences on stable sustainability
  6. Education and civility in the receptivity of sustainability

Sustainability is a term of recent origin with widespread contemporary saliency.  In its popular use, sustainability tends to focus mostly on issues of natural environment.  The lens of environmental sustainability raises questions such as:

  • Can the natural world recover from damage caused by human activity at a rate faster than the damage is done?
  • Is the use of natural resources at a rate that is compatible with their regeneration?
  • What changes in human practice can lead to long-term availability of necessary natural resources?

Anthropological Perspectives on Holistic Sustainability will explore these and related questions, but in a way that considers sustainability beyond its ecological dimensions.  Trends toward broader consideration of sustainability are in place.  The World Bank and other governmental and non-governmental organizations have incorporated the concept of social sustainability into their approaches to development.  The notion of a “triple bottom line” that considers profit, people and planet has entered the private sector discourse on sustainability.  This conference considers the contributions that anthropology can make to expanding the horizons of sustainability.

Find out more here.

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata