Friday, April 25, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:07:00 PM | No comments

Merapi Memberi Waktu Bersiap



Minggu (20/4) dini hari, untuk kesekian kali sejak letusan besar tahun 2010, Gunung Merapi kembali erupsi. Namun, statusnya masih normal karena erupsinya dinilai kecil dan belum membahayakan. Sesungguhnya, hanya soal waktu Merapi kembali meletus hebat. Kini, masyarakat harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.

Oleh : Ahmad Arif

Kronologi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)-Badan Geologi, erupsi kecil Merapi terjadi Minggu pukul 04.26. Erupsi disertai lontaran batu pijar, sedangkan hujan abu menyebar ke tenggara, selatan, dan barat daya Merapi sejauh sekitar 15 kilometer.

”Sejauh ini, tidak ada indikasi peningkatan aktivitas Merapi lainnya. Gempa vulkanik normal. Dari deformasi juga normal sehingga kami simpulkan status Merapi tetap Normal,” kata Kepala BPPTKG Subandriyo.

Sehari setelah letusan kecil itu, BPPTKG mengirim petugas mengecek kondisi Merapi. Mereka kumpulkan sampel batuan pijar lontaran gunung: sisa letusan 2010 atau dari magma baru. Jika magma baru, artinya ada pergerakan yang bisa mengarah ke peningkatan aktivitas. ”Dari evaluasi sementara, ini bukan juvenile (material baru) meskipun pijar. Sampel akan diperiksa lebih detail,” kata Subandriyo.

Lalu, dari mana daya erupsi Merapi kali ini? Menurut Subandriyo, penyebabnya adalah tingginya kandungan gas di Merapi. ”Jadi, saat-saat tertentu, magma Merapi melepaskan gas vulkanik, terutama CO2. Jika ada gangguan eksternal, seperti gempa tektonik lokal, maka akan mempercepat proses letusan kecil ini,” papar dia.

Dua hari sebelum erupsi, tepatnya 18 April 2014, pukul 20.33, terekam gempa tektonik berkekuatan M 5,6 di selatan Merapi. Lalu, 19 April, pukul 08.00-20.00, terekam gempa tektonik jauh empat kali di sekitar Merapi. ”Beberapa kali letusan kecil Merapi dipicu gempa tektonik lokal. Namun, tidak setiap gempa tektonik lokal akan memicu letusan kecil seperti itu,” tutur dia.

Erupsi kali ini sebenarnya kerap terjadi sejak letusan besar 2010, misalnya pada Kamis (27/3/2014), Merapi juga mengembuskan asap tebal dan menyemburkan abu.

Meski sejauh ini Merapi berstatus normal, Kepala Badan Geologi Surono meminta anak buahnya terus mewaspadai salah satu gunung api teraktif di dunia itu. Begitu terjadi gempa tektonik di Yogyakarta, 18 April 2014, saat itu juga ia mengingatkan untuk bersiap-siap. Sebab, letusan Merapi biasanya didahului gempa di selatan. Benar saja, Merapi akhirnya meletus meskipun kecil.

Letusan 2010, kata dia, upaya penebusan kelalaian. Saat itu, berhari-hari, ia tunggu krisis Merapi hingga akhirnya mengeluarkan keputusan kontroversial mengungsikan warga hingga radius 15 km dari puncak. Keputusan yang belum pernah ada meski kemudian terbukti letusan 2010 itu memang luar biasa dahsyat. ”Cita-cita saya, saat Kepala PVMBG, tak boleh ada istilah kecolongan. Meski belum berhasil tanpa korban, semangat itu pernah ada.”

Ibarat tengah beristirahat setelah letusan besar 2010, Merapi kini menggeliat. Hanya soal waktu Merapi akan kembali meletus hebat. Sebelum itu, perlu segera menyiapkan diri menghadapi hal terburuk.
Zona dilupakan

Stratigrafi Merapi yang dibuat geolog CG Newahll, S Bronto, dkk (10.000 Years of Explosive Eruptions of Merapi Volcano, 2000), menunjukkan, gunung ini punya sejarah letusan besar berulang. Di antara letusan besar, jamak letusan-letusan kecil.

Letusan 2010 mempertontonkan daya rusak Merapi yang luar biasa. Letusan pada 3 dan 5 November tahun itu adalah yang terkuat 100 tahun terakhir, menciptakan awan panas yang meluncur hingga 15 km melalui Kali Gendol. Material muntahan 150 juta meter kubik.

Namun, letusan itu terlihat kecil jika dibandingkan letusan pada 15-20 April 1872. Letusan mematikan Merapi kala itu berlangsung 120 jam tanpa jeda! Awan panas dan material jatuhan memusnahkan seluruh permukiman pada ketinggian di atas 1.000 mdpl.

Letusan sangat mendadak dengan lava kental, tekanan gas sedang, dan dapur magma dangkal, seperti letusan Gunung St Vincent di Kepulauan Antilles Kecil, Karibia, itu dicatat Kemmerling (1921) dan Hartmann (1934) yang menjadi rujukan penelitian B Voight dkk (2000) dalam Historical Eruptions of Merapi Volcano, Central Java, Indonesia, 1768-1998.

Letusan berlangsung lima hari, menghancurkan kubah lava yang tumbuh pada 1867-1871. Letusan dahsyat itu membentuk kawah sedalam 500 meter. Puncak Merapi pun terpangkas. ”Suara letusan seperti meriam terdengar sampai Karawang dan Priangan di barat, serta ke timur hingga Madura dan Pulau Bawean,” tulis Hartmann.

Setelah letusan 1872, Merapi biasa meletus setiap 3-5 tahun dengan skala relatif lebih kecil walau tetap mematikan. Berdasarkan catatan Voight (2010), sejak 1800, Merapi meletus 130.000 kali. Ratusan rumah dan ribuan hektar lahan pertanian hancur. Namun, dari tahun ke tahun, ancaman Merapi membesar karena kepadatan penduduk bertambah. Letusan Merapi 2010, menurut Surono, berdampak terhadap 1 juta lebih penduduk. ”Ini evakuasi massal terbesar di dunia,” kata dia.

Begitu letusan besar mereda, warga kembali ke Merapi karena, di samping menyimpan bahaya, gunung itu juga sumber hidup. Sutikno (2007) menyebut, nilai ekonomi yang diberikan Merapi per tahun mencapai Rp 33,04 triliun. Merapi menjadi penggerak tujuh sektor ekonomi: pertanian (Rp 2,1 triliun), perkebunan (Rp 24,9 triliun), peternakan (Rp 1,35 triliun), perikanan (Rp 4,5 triliun), kehutanan (Rp 6,8 miliar), pertambangan (Rp 396 juta), dan pariwisata (Rp 1,8 miliar).

Namun, berkah itu melenakan. Sebagian permukiman warga di sekitar Merapi dibangun di atas deposit letusan besar Merapi masa lalu. Data Lavigne dan Siswowidjoyo (1995), ada 80.000-100.000 orang hidup di kawasan berbahaya atau ”Forbidden Zone”, area beradius 10 km dari puncak Merapi. Kebanyakan di barat dan selatan. Ratusan ribu lainnya hanya beberapa kilometer dari zona ini.

Dengan segenap reputasi yang mematikan, Merapi merupakan gunung berpenduduk terpadat. Bahkan, banyaknya peninggalan prasejarah berupa candi di sekitar Merapi menunjukkan bahwa peradaban lama berkembang di sana. Namun, hampir semua jejaknya terkubur material Merapi, yang menandai pada masa lalu pernah sedemikian dahsyat letusannya. Letusan yang bisa kembali berulang. Kapan saja…


di ketik ulang tanpa edit 
sumber : koran kompas hari Kamis 24 April 2014, hal 14  – IPTEK – LINGKUNGAN & KESEHATAN
*copas dari Omah Adib

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata