Saturday, May 17, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 6:14:00 PM | No comments

Makan Angin #1



Makan Angin #1:
Pameran Seniman Residensi

Jae Hoon Lee
Paul Hendrikse
Yaya Sung

23 - 31 Mei 2014

Pembukaan
Jumat, 23 Mei 2014 | 19.00
Di Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

Performance oleh Paul Hendrikse
Jumat, 23 Mei 2014 | 21.00
Di Ark Galerie
Jl. Suryodiningratan 36A, Yogyakarta

Diskusi
Sabtu, 31 Mei 2014 | 19.30
Di Cemeti Art House
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta


Jae Hoon Lee
Sepanjang masa residensinya, Jae Hoon Lee berupaya menggabungkan dua fungsi objek yang sangat berbeda yaitu kepala patung Buddha dan sebuah barbel. Untuk fungsi normal dua objek ini simbol Buddha memiliki realitas objektif, dalam hal dipuja dalam kuil Buddha atau atmosfir suci serupa kuil. Secara paradoks, barbel Buddha karya Lee mengaburkan batasan antara dua fungsi guna yang berseberangan pada dua objek, ia mengesankan ambang antara ranah spiritualitas (pikiran yang sehat) dan fisikalitas (tubuh yang sehat). Barbel Buddha tidak hanya digunakan sebagai beban untuk membentuk otot atau mengurangi berat badan tetapi juga latihan meditasi dengan berfokus secara terus-menerus pada menghembuskan dan menarik napas selama latihan fisik. Sebagai tambahan, Lee membuat karya video dua kanal yang menunjukkan relawan dari Yogyakarta berlatih dengan barbel Buddha serta berbagai tekstur permukaan dari tempat tinggalnya dan Yogyakarta yang tercetak pada alas yoga. Dua karya yang berbeda disatukan dengan barbel Buddha membentuk sebuah instalasi di ruang galeri.

Jae Hoon Lee (dilahirkan di Seoul 1973), tinggal dan bekerja di New Zealand. Ia belajar seni patung di Institut Seni San Francisco, Amerika Serikat, kemudian melanjutkan pendidikan untuk gelar Master of Fine art di Elam School of Fine Art, Universitas Auckland, kemudian mengambil gelar PhD of Fine Art di Elam. (jaehoonlee.net)

Paul Hendrikse
Paul Hendrikse membuat rangkaian pengetahuan alternatif seputar ‘fakta-fakta’ sejarah. Karyanya berpusat pada tokoh atau peristiwa sejarah yang membekas di ranah publik. Mengesampingkan narasi besar sejarah dan tokoh protagonis yang sempurna, ia berpaling kepada kisah-kisah kecil para individu dan kepada ketidakpastian, mitos, spekulasi dan distorsi penggambaran yang meliputinya. 

“Maka, seperti halnya metafisika rasional mengajarkan bahwa manusia menjadi segala hal dari yang ia pahami, metafisika imaginatif ini menunjukkan bahwa manusia menjadi segala hal dari yang tidak ia pahami; dan mungkin proposisi terakhir lebih benar daripada yang pertama, karena ketika manusia paham ia memperluas pemikirannya dan menerima berbagai hal, tetapi ketika ia tidak paham ia membuat sendiri sesuatu hal itu dan ia menjadi hal tersebut dengan cara mengubah dirinya menjadi seperti sesuatu hal tersebut.” Giambattista Vico, The New Science (1725)

Selama masa residensinya, Hendrikse meneliti bagaimana pertemuan dengan “yang lain” melalui perdagangan, perang dan selama periode kolonisasi memberikan input tertentu terhadap kebudayaan Indonesia dan terutama pada ranah tubuh, menciptakan budaya (tubuh) creole termasuk tarian dan seni bela diri. Ia mempelajari bagaimana seni bela diri seperti Pencak Silat, sebuah bentuk bela diri di Indonesia yang tersebar luas, berurusan dengan pengaruh dan ancaman asing dengan cara meniru dan mengambil alih bahasa tubuh orang asing dan bagaimana hal ini mempengaruhi gerakan dan strategi bertahan. Dari bahan ini ia menciptakan sebuah performance bersama dengan Citra Pratiwi dan Rendra Bagus Pamungkas.

Paul Hendrikse dilahirkan di Terneuzen tahun 1977. Ia belajar seni rupa di Den Bosch, Belanda, dan menyelesaikan studi pascasarjana di Akademi Jan van Eyck di Maastricht, Belanda. (paulhendrikse.net)

Yaya Sung
Sebagai seniman yang bermukim di Jakarta, Yaya Sung melihat ruang kesenian Yogyakarta ideal, dimana proses membangun gagasan dianggap sama penting dengan hasil akhir karya. Mendapatkan kesempatan residensi di ruang yang ia anggap ideal, tidak membuatnya merasa cukup hanya dengan mengalami ke-ideal-an. Namun, ia justru mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengujicoba konsepsinya tentang “ruang ideal”; jika setiap ruang selalu memiliki tantangan dan problematikannya sendiri, seperti apa yang ada di ruang ideal ini? Apakah orang-orang yang berada di dalam ruang ideal juga mempunya ketakutan? Apa yang mereka takutkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggerakkan Yaya untuk melakukan penelisikan melalui rajutan interaksi baik langsung maupun tidak langsung dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Interaksi langsung ia lakukan melalui serangkaian kelompok diskusi, dan wawancara. Sementara interaksi tidak langsung ia lakukan dengan cara membuat “kotak berbagi rasa takut”, yang ia hadirkan di sekolah seni, komunitas fotografi, dan beberapa ruang seni di Yogyakarta, dimana orang-orang yang ada di sana dapat membagikan rasa takutnya melalui secarik kertas dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut. Mencari solusi atas persoalan-persoalan yang telah ditemukan ternyata tidak menjadi tujuan utama Yaya, tetapi rajutan relasi peristiwa-peristiwa emosi yang sama antara dirinya dan orang-orang yang berinteraksi dengannya menjadi lebih berharga. Dari sanalah Yaya menemukan kesadaran baru bahwa ruang ideal yang berisi aneka fenomena bukan hanya berupa kota, tetapi juga tubuh manusia. Fenomena mental berupa emosi yang berkelindan di dalamnya, tak ubahnya hasil aksi-reaksi substansi-substansi yang masuk ke dalamnya. Hal itulah yang kemudian Yaya olah di dalam proses penciptaan karya.

Yaya Sung (lahir di Jakarta, 1986) lulus Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan tahun 2008, kemudian melanjutkan pendidikan di Pre-Master for Fine Art Programme, Cambridge School of Visual and Performing Arts, Cambridge, Inggris. Tinggal dan bekerja di Jakarta. (yayasung.com)


Melalui program residensi Makan Angin, Rumah Seni Cemeti bermaksud memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian pada proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Selama tiga bulan, tiga seniman dari tiga negara: Indonesia, Belanda, dan Selandia Baru diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.
Program residensi Makan Angin #1 diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti dan didukung oleh Mondriaan Fund, Belanda dan Asia New Zealand Foundation. Program residensi Makan Angin #1 berlangsung selama tiga bulan dari bulan Maret hingga Mei 2014 di Rumah Seni Cemeti.

Sumber: Cemeti Art house via milis.
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata