Friday, June 13, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 10:41:00 PM | No comments

Si Anak Kampoeng

Si Anak KampoengSi Anak Kampoeng by Damien Dematra
My rating: 2 of 5 stars

Ekspektasi saya mungkin terlalu lebay untuk buku yang berkisah tentang sosok yang saya kagumi ini. Mestinya, sebelum mencetak, menerbitkan lalu menyebarluaskannya, penerbit melakukan proofreading kepada sejumlah urang awak juga.

Meski saya gak jago banget, saya bisa dan cukup mengerti lah cara, dialek dan bahasa Minang. Saat membaca buku ini, saya merasa sangat terganggu dengan bahasa yang digunakan. "ado apo, bicaro, kenapo, ndak", ini yang paling sering tertulis. Seluruh kata tersebut tidak ada dalam bahasa Minang. Saya sampai bertanya pada Ayah saya yang asli urang awak, beliau tertawa ketika membacanya.

Begini koreksinya:
ado apo -> a tu?
bicaro -> bakecek (berkata), mangecekan (mengatakan)
kenapa -> manga
ndak -> indak

Juga bahas-bahasa seperti "sih" yang cukup mengganggu. Judulnya saja "kampoeng", mengapa tidak "kampuang" sekalian?

Selebihnya, jika memang berusaha menampilkan cara bacakap urang awak, lebih enak menggunakan kata "kau", bukan "kamu", sebab memang tak ada kata "kamu". Selain itu, urang awak tidak pernah memanggil/membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan "aku", terutama pada orang yang dihormati dan orang tua; sebaliknya, orangtua pun tak pernah menyebut "aku" untuk memanggil dirinya di depan orang yang lebih kecil. Jadi yang lebih tua akan menyebut dirinya dengan kakak/uni, bapak (mungkin juga bukan bapak, tapi "apak"), etek, dst.

Di luar semua itu, yang sangat menyedihkan adalah ketika mengetahui yang mencetak buku ini adalah peneribit sebesar GPU. Hwa!

Saya baru menikmati cerita di sekitar 1/4 akhir buku. DI sana lebih banyak menggunakan kata "aku" dan "kamu", bukan bahasa-bahasa Minang yang cenderung dipaksakan.

Mestinya saya memberi 4 bintang untuk kisah sekuat ini, tapi bahasa yang kacau, ditambah informasi masa mendatang yang diceritakan di awal cerita ("listrik sekarang belum ada, nantinya PLN akan masuk di tahun 2005), membuat bintang 3 pun tak pantas...

Hi GPU, diedit donk! Terlalu sayang jika cerita orang besar dikisahkan dengan bahasa tulis seburuk ini...

View all my reviews
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata