Saturday, May 31, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:28:00 PM | No comments

Komunitas yang Bergerak



Aku selalu senang melihat komunitas pusaka yang bergerak aktif. Meski mereka bukan organisasi besar. Meski agenda mereka sedehana. Salah satunya adalah komunitas Kotagede Heritage Library.

Seharian tadi agendaku padat, namun demi memberi dukungan pada mereka yang telah bergiat dan mau mengundangku secara khusus, maka kusempatkan. Malam ini adalah agenda kedua program Bincang Akhir Pekan, temanya membuat film pendek.

Setelah makan malam di pasar Kotagede, kami langsung ke Pendopo Dalem Ngaliman, tempat penyelenggaraannya. Sesuai undangan, acara berlangsung pukul 18.30, ternyata belum ada yang datang. Kami pun nongkrong di Waung Jawi Dalem Sopingen, pesan wedangan.



Acara baru dimulai pukul 20.30 (!). Hahahaha, itu ketika perutku sudah gembung kebanyakan minum dan mata sudah sangat mengantuk. Kupaksakan tetap di sana, selain gak enak kalau langsung pulang ketika acara baru dimulai, juga pengen lihat presentasi pemateri.

Sayang, materinya sangat dasar, "apa yang dimaksud dengan video, video pendek", dst. Harapanku adalah materi semacam "mengapa perlu mendokumentasikan lingkungan sekitar, terutama Kotagede yang kaya peninggalan pusaka". Pemaparan malam ini juga lebih tepat disebut "bincang-bincang atau diskusi", bukan workshop seperti yang disebut dalam undangan :) 
Aku, yang cuma kelihatan hapenya :)
Bagaimanapun, ini langkah awal yang hebat. Membuat anak muda berkumpul (hadir perwakilan Karang Taruna dari masing-masing RT di Kotagede) untuk membicarakan kampungnya bukan hal mudah. Menurut panitia, agenda ini akan berlanju dengan pembuatan video hingga dapat ditonton khalayak.

Komunitas yang bergerak perlu selalu didukung. Nah, jadi nggak sabar nonton videonya kan?

22.00 aku pulang, setelah nggak kuat dengan asap rokok yang ngebul di mana-mana. Gambar terakhir milik panitia, bersama foto-foto lain di album ini.

Mlekom,
AZ
20140712

Friday, May 30, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 6:55:00 PM | No comments

Bikin Film Pendek tentang Kotagede


Workshop Bikin Film Pendek tentang Kotagede ini diselenggarakan oleh Kotagede Heritage Library. Poster dari sini. Sila datang, agenda ini gratis untuk umum.

Mlekom,
AZ
20140712

Posted by adriani zulivan Posted on 1:19:00 PM | No comments

Kau Memanggilku Malaikat

Kau Memanggilku MalaikatKau Memanggilku Malaikat by Arswendo Atmowiloto
My rating: 3 of 5 stars

Sejak awal sudah menemukan keasyikan cerita ini. Penokohan kompleks, meski tokoh-tokoh cameo ada yang terasa dipaksakan (perempuan pengebom jihad, ibu yang meracun tiga anaknya, sampai ayam yang melihat malaikat).

Percakapan kadang membingungkan, akibat penggunaan tanda petik yang... membingungkan (mau menjelaskannya saja saya bingung). Hal lain yang membingungkan adalah fakta tentang Di yang juga membingungkan si 'malaikat asli'.

Secara keseluruhan, cerita berkembang baik. Meski alur maju-mundur, tetap asik dinikmati. Arswendo selalu membuat saya berpikir, lalu merasa puas.

AZ

View all my reviews
Posted by adriani zulivan Posted on 8:55:00 AM | No comments

Jelajah Buku: Semarang dalam Kenangan


Kopdar Akbar Goodreads Indonesia 2014
Jelajah Buku: Semarang dalam Kenangan 

Seperti biasa, setiap tahun Goodreads Indonesia selalu memperingati hari ulang tahun kami setiap tanggal 7 Juni, dengan mengadakan Kopdar (Kopi Darat) dengan mengundang semua anggota Goodreads Indonesia.

Untuk tahun 2014 ini, kami spesial mengadakannya di Semarang pada tepat tanggal 7 Juni 2014 dengan tema 'Semarang dalam Kenangan'. Detail acaranya bisa dilihat di postingan di bawah ini.

Bagi yang pengen berangkat bareng naik bus atau kereta ke Semarang, juga bisa berkoordinasi dengan rekan-rekan yang lain. Ayo kita serbu Semarang!!

Itinerary:
08.30 – 09.00 Kumpul di Meeting Point (Lawangsewu)
09.00 – 09.30 Perjalanan ke Pecinan
09.30 – 11.30 Keliling Pecinan
11.30 – 12.00 Perjalanan ke Kota Lama
12.00 – 13.00 Makan siang di Taman Sri Gunting, salat duhur
13.00 – 14.30 Keliling Kota Lama
14.30 – 16.00 Ramah tamah dan diskusi di Taman Sri Gunting
16.00 – 16.30 Perjalanan ke Lawangsewu

Biaya: Rp 50.000,- / Peserta
(Konsumsi + Merchandise GRI + Transportasi selama Acara)

Registrasi:
Daftarkan diri kalian dengan memberikan balasan di thread ini. Peserta diharapkan sudah mentransfer biaya kopdar sebelum tanggal 2 Juni 2014 ke Rekening GRI: BRI Cabang Jakarta Warung Buncit A/C 0341.01.035258.50.1 a.n Puspa Sari Ayu Yudha 

Setelah itu, jangan lupa konfirmasi pembayaran dan pendaftaran ke email goodreads.indonesia@gmail.com dengan subjek Kopdar GRI 2014 dengan melampirkan bukti pembayaran.

Catatan:
  • Semua peserta diharapkan bisa tiba di titik kumpul (Lawangsewu) sebelum pukul 08:30 WIB.
  • Disarankan untuk membawa topi, payung, atau sunblock karena cuaca biasanya sangat panas.
  • Harap membawa obat-obatan pribadi bagi yang membutuhkan.
Contact Person:
Pratono (085640565058)
Mia Fiona (085234205008) 

Info dari sini. Gambar dari sini.

Wednesday, May 28, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 7:37:00 PM | No comments

Masjid Tua Sekitar Kraton Yogyakarta

Masjid menjadi simbol penting dalam kebudayaan Jawa. Konsep tata ruang kerajaan Jawa yang menganut "catur gatra tunggal", selalu menempatkan masjid sebagai satu dari empat wahana ruang yang menandai sebuah pemerintahan. 

Keempat ruang tersebut adalah Kraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai pusat kegiatan warga, masjid besar sebagai pusat ibadah, dan pasar besar sebagai pusat perekonomian. Konsep ini juga diadopsi Keraton Yogyakarta.

Sangat menarik melihat berbagai bangunan masjid tua yang terdapat di sekitar lingkungan kraton, tak hanya Masjid Gedhe. Tiap masjid memiliki sejarah khusus terhadap keberadaan Kraton Yogyakarta. Selain itu, masing-masing memiliki arsitektur yang unik dan sarat makna. 

Demi melihat berbagai keunikan tersebut, Indonesian Heritage Inventory (IHI) mengadakan agenda Jelajah Masjid di Lingkungan Kraton Yogyakarta, Selasa (27/05) kemarin. Adapun masjid yang dikunjungi adalah:


1. Soko Tunggal (1973)
Terletak di belakang gerbang utama pemandian kraton Tamansari, kawasan Jeron Beteng. Dinamai "soko tunggal" sesuai dengan artinya: disokong satu tiang. Masjid ini memang berdiri hanya pada satu tiang peyangga utama (saka guru), berbeda dengan bangunan Jawa lain yang biasanya disangga dengan minimal empat saka.

2. Margoyuwono Langenastran (1943)
Awalnya merupakan langgar kampung. Ketika semakin ramai, seorang pengusaha batik memperluasnya menjadi masjid. Saat Yogya menjadi ibukota RI, banyak pejabat negara yang shalat di sini. Masjid yang terletak di Jalan Langenastran Lor ini memiliki lengkungan berbentuk atap tumpang. Lantainya berupa tegel kembang. [Info lanjut di sini]

3. Selo (1709)
Masjid yang terletak di Sawojajar, Kampung Panembahan ini, dibangun bersamaan dengan istana air Tamansari. Bagian atap memiliki persamaan dengan Tamansari, yaitu adanya ukiran. Meski di jaman itu belum ada semen, tembok bangunan ini sangat kokoh. Air kelapa menjadi campuran pengganti air, yang mampu mengeraskan cor. Sebelum tahun 1962, bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid melainkan gudang penyimpanan keranda dan tombak. [Lebih lanjut di sini]


4. Condrokiranan
Masjid ini terletak di lingkungan ndalem Condrokiranan, yang kini menjadi Museum Sonobudoyo Unit II. Dulunya, ndalem ini merupakan tempat tinggal AKGP Aryo Mataram sebelum menjadi HB III. Sayangnya, fasad bangunan ini tak lagi menyisakan ciri bangunan asli, semua sudah dipugar. Tak ada tanggal pasti kapan masjid ini dibangun.

5. Rotowijayan (1832)
Posisinya tepat di depan gerbang utama pintu masuk wisata Kraton Yogyakarta. Masjid yang terletak di bagian barat keben kraton ini, juga dikenal dengan sebutan Masjid Keben.


6. Gedhe Kauman (1773)
Ini merupakan masjid besar yang menjadi salah satu unsur Catur Gatra Tunggal dalam tata kota kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini dikelola oleh warga kaum, penduduk yang tinggal di sekitar masjid. Berbagai ritual keagamaan kraton diselenggarakan di masjid ini.

.
Sebenarnya masih ada sejumlah masjid tua lain yang ada di lingkungan Kraton. Sayangnya kemarin kraton tutup sebab ada acara labuhan di Pantai Parangtritis, sehingga zona inti kraton hari itu tidak menerima wisatawan.

Mlekom,
AZ



Posted by adriani zulivan Posted on 11:14:00 AM | No comments

Peh Cun 2014: Doa untuk Negeri



Lomba perahu naga akan memeriahkan perayaan Peh Cun 2014 yang akan digelar di Laguna Pantai Depok, Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (1/6/2014) mendatang. Akan ada lima kota dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) yang berpartisipasi dalam lomba perahu naga. Lomba perahu naga yang biasanya dilaksanakan di Bendung Tegal Jetis akan dilaksanakan di Pantai Depok, tepatnya di Muara Sungai Opak

Selain lomba perahu naga, perayaan Peh Cun yang digelar Jogja Chinese Art dan Culture Centre (JCACC) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY dan Pemkab Bantul ini juga dimeriahkan Aero Sport dan wisata udara, Laga 150 Pelukis Jogja, Jogja Lion Dance Competition, lomba barongsai, festival layang-layang internasional, lomba fotografi dan hiburan rakyat. Pada malam harinya akan ada pembakaran naga lampion raksasa di Pantai Parangtritis. Rencananya naga sepanjang 126 meter. 

Sementara itu, ritual sembahyang Peh Cun dan waktu mendirikan telur akan dilakukan Senin (2/6/2014) siang pukul 12.00 sampai 14.00 WIB di kawasan Pantai Parangtritis. Perayaan Peh Cun bertema “Doa untuk Negeri” ini, warga juga berkesempatan untuk menerbangkan 214 lampion harapan yang disediakan panitia.

Dari berbagai sumber.

Sunday, May 25, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 1:35:00 PM | No comments

Ekspedisi Gerakan Sejuta Data Budaya

Daerah Tujuan Ekspedisi
  1. Sumatera Barat
  2. Kalimantan Tengah
  3. Banten
  4. Ponorogo
  5. Sukoharjo
  6. Banyuwangi
  7. Yogyakarta
  8. Bali
  9. Ciptagelar, Sukabumi
  10. Kampung Naga, Tasik
Kirimkan CV kamu beserta essay 2 halaman (spasi 1.5, font Times New Roman 12) yang berisi tentang tujuan ekspedisi yang ingin kamu datangi dan surat pernyataan (unduh di bit.ly/suratp) bersedia menjadi ekspeditor ke: wulan@budaya-Indonesia.org paling lambat 30 Mei 2014. Cek juknis di sini.

Peserta
  1. Diutamakan yang belum berkeluarga
  2. Usia tidak lebih dari 35 tahun
  3. Siap melakukan aktivitas pendataan budaya tradisional
  4. Tidak diwajibkan memiliki kemampuan mumpuni dlm fotografi, video, mendaki, dll
  5. Peserta akan menyediakan peralatan standar ekspedisi:
  6. Kamera Digital (min. 8MP)
  7. Kompas
  8. Ponsel/alat lain berfungsi sebagai GPS
  9. Ponsel/alat lain berfungsi sebagai voice recorder
  10. Peserta membuat essay 2 halaman (spasi 1.5, font Times New Roman 12) tentang tujuan ekspedisi yang ingin kamu datangi

Tata Cara
  1. Peserta sudah memahami tentang Gerakan Sejuta Data Budaya. Bahan yang wajib diketahui http://www.budaya-Indonesia.org http://www.sejutadatabudaya.comtwitter: @sobatbudaya @infobudaya
  2. Peserta memberikan pernyataan kesediaan untuk menjadi ekspeditor
  3. Peserta diundang ke acara Launching 9 Juni, Bandung (akomodasi ditanggung Panitia)
  4. Peserta berada di Bandung 2 hari 1 malam (atau tergantung jadwal penerbangan)
  5. Peserta akan dilantik untuk resmi menjadi tim ekspedisi daerah
Jadwal pelaksanaan ekspedisi:



Sumber: #GSDB

Wednesday, May 21, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 12:34:00 PM | No comments

Vastenburg Carnival: bamboo, it’s my costume


Vastenburg Carnival
Solo, 6-7 Juni 2014
 bamboo, it’s my costume

Indonesia yang kaya dengan ragam hayatinya masih banyak menyimpan kekayaan tradisi dan pengetahuan yang belum digali secara optimal. Salah satunya adalah tanaman bambu. Jenis tanaman ini mudah ditemukan dan ditanam di daerah-daerah Indonesia.  Dari 2040 jenis bambu yang ada di dunia, 165  jenis bambu tumbuh di Indonesia.  Suatu tanaman yang punya banyak manfaat dan multifungsi untuk obat-obatan, konstruksi bangunan, interior, kerajinan tangan, alat musik,  menyerap dan menahan air, mencegah erosi tanah dan lain-lain. Karena nilai kegunaannya itu, beberapa arsitek Indonesia menjuluki bambu sebagai ‘emas hijau’. Menjadikan bambu sebagai alternatif pengganti bahan bangunan seperti beton, besi, dan kayu yang kini berharga mahal.  Sayangnya, masih banyak masyarakat yang  tidak begitu peduli terhadap bambu. Kita tertinggal jauh dari Cina, Jepang dan negara-negara lainnya sudah melangkah lebih jauh menggunakan serat bambu untuk bahan tekstil dan terus mengembangkan teknologi bambu.

Mencermati nilai kegunaan bambu yang luar biasa itu, Rumah Karnaval Indonesia (RKI)  mengelaborasi dan mengeksplor bambu untuk kostum karnaval. Kemanfaatan bambu, karakter bambu yang ringan, mudah dibentuk (lentur), dan awet menginspirasi RKI membuat tema karnaval ‘bamboo, it’s my costume’ dalam  program Vastenburg Carnival, pada 6-7 Juni 2014. Selain itu, berdasarkan data historis, pada tahun 1925 ketika perayaan HUT Ratu Wihelmina di Surakarta, bambu telah digunakan menjadi elemen artistik dalam menghias keindahan Benteng Vastenburg. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Surakarta tempoe doeloe sudah akrab dengan bambu sebagai elemen artistik bangunan dan ruang publik. Oleh kerena itu, Vastenburg Carnival berusaha mengujungi masa lalu dan masa kini dalam perpektif pelestarian heritage.

Vastenburg Carnival  akan menampilkan karya kostum karnaval dari bambu hasil dari Workshop selama 4 bulan dan 8 grup karnaval pilihan dari daerah-daerah luar Solo. Program ini berupaya mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan kreativitas bambu dan memahami keberadaan cagar budaya benteng-benteng di Indonesia dalam format Pameran Foto Benteng-Benteng se-Indonesia (bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Arsitektur).  Program ini akan diadakan pada tanggal 6 -7 Juni 2014, di Cagar Budaya Benteng Vastenburg, Jl. Jenderal Sudirman, Surakarta. Peserta meliputi warga masyarakat Solo dan sekitarnya dan 8 grup karnaval tamu undangan.

Program ini bertujuan: (1) Mengapresiasi keberadaan tanaman bambu yang kini jarang dioptimalkan kemanfaatannya oleh masyarakat dalam format kostum karnaval dan Mengajak masyarakat untuk mencintai kekayaan ragam hayati Indonesia; (2) Memahami   aspek historis keberadaan benteng-benteng di Indonesia; dan (3) Memaknai warisan sejarah benteng Vastenburg sebagai simbol pertahanan budaya lokal Indonesia dan sebagai sumber inspirasi dalam meningkatkan jiwa nasionalisme-indonesiaan


Agenda Acara

Jumat, 6 Juni 2014
08.00 : Pembukaan Pameran Fotografi Benteng-benteng Indonesia
09.00 - 11.00 : Sarasehan “Pentingnya Benteng Sebagai Warisan Sejarah Budaya”
09.00 - 11.00 : Jelajah dan Menggambar Benteng Vastenburg
15.00 - 17.00 : Sesi Foto Vastenburg Carnival meliputi kostum dan artistik
19.00 - 21.00 : 1000 Api Benteng Vastenburg


Sabtu, 7 Juni 2014
19.00 – 20.00 : Arak-arakan Vastenburg Carnival
( Rute: Balikota Surakarta - Benteng Vastenburg )
20.00 – 20.15 : Seremonial Vastenburg Carnival
20.15 – 20.30 : Nostalgia Lagu-lagu Belanda Tempo Doeloe - Endah Laras.
20.30 – 22.30 : Pergelaran 6 Grup karnaval Indonesia
Banyumas, Magelang, Jogjakarta, Solo, Boyolali dan Semarang.


Sekilas tentang Benteng Vastenburg

Benteng Vastenburg dulu digunakan sebagai pusat pengawasan kolonial Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Kasunanan. Benteng Vastenburg dulu bernama "Grootmoedigheid" dan didirikan oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745. Bangunan benteng ini dikelilingi oleh tembok batu bata setinggi 6 m dengan konstruksi bearing wall serta parit dengan jembatan angkat sebagai penghubung. Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut seleka (bastion). Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera.

Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai markas TNI untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada masa 1970-1980-an bangunan ini digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya Kostrad untuk wilayah Karesidenan Surakarta dan sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya /Kostrad. Kini Benteng Vastenburg menjadi ruang publik kultural.


Kontak
Heru 0816675808, Taufik 085642253580
rumahkarnaval@gmail.com

Informasi dari siniBaca juga ini

Sunday, May 18, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 8:07:00 PM | No comments

ndadak ngGresik


Mendadak ke Gresik! Hari itu, kami punya dua agenda terjadwal, yaitu jelajah candi dan aksi reresik vandalisme di kawasan Tugu. Jadilah kami bareng terus, pagi sampai malam. Eh, ternyata kami ditakdirkan bareng lebih lama lagi, sampai tengah malam, sampai lusa kemudian. Asik!

Aku sudah tidur yang banyak, sudah nggak ngantuk lagi (setelah dua malam terjaga di atas mobil). Sudah pengen nulis di sini. Catatan seru untuk agenda dadakan ini. Sayang, setengah dari foto yang kujepret dengan hape... hilang :( Jadi, beberapa jam yang tertampil hanya mengira-ngira.


15 Mei

Pagi
Jelajah candi-candi di Sleman utara. Dengan agenda sarapan, kami habiskan lima jam di Candi Gebang, Morangan, Tempat Penyimpanan Arca Turi, dan Candi Kimpulan. Itupun melewatkan Candi Palgading, sebab harus ikut agenda selanjutnya di pusat kota Yogya. Kami juga melewatkan makan siang, meski sempat ngemil salak yang kami beli di Turi!



Sore

Langsung ke kawasan Tugu Yogyakarta. Melihat aksi komunitas Warga Berdaya yang melakukan pengecatan Modiste Pini yang dicorat-coret oleh entah siapa. Sempat ngabur ke warung mie ayam utnuk ngisi perut.

Magrib

Kembali ke Tugu. Aksi hampir selesai, proses pembersihan dilanjutkan dengan pengecatan. Sekitar Isya, aku dan DikPrij pulang. Kami penasaran, apakah Bakmi Kotabaru malam ini buka, setelah sekian lama tutup. Maka berbeloklah ke sana, eh buka. Kami memesan dua porsi untuk dibungkus, sebab sudah terlalu kenyang. 

Tak lama, kami dapat kabar bahwa ibunda dari Cakpii meninggal dunia. Lalu kami menghubungi Padhe yang masih di Tugu, serta Bulek dan Palek untuk gabung ke sini. Via grup WA, Tante yang tinggal di Solo mengusulkan untuk berangkat malam ini juga. Kami pun mengatur keberangkatan.


Sayang Bulek gak bisa ikut, sebab Palik tidak enak badan. Wajar saja, kami keliling seharian, hahaha. Yawes, kami minta doa saja agar sehat sampai tujuan.



Gambar milik Dikprij.
22.00
Berangkat dari Yogya. Berbekal selimut dan bantal, siap mampir ke rumah Tante. Uh, di detik akhir, Tante batalin keberangkatan. Tapi kami kekeuh mampir, ngajak makan bareng. Perjalanan Yogya-Solo disupiri Priyo.

23.30

Tiba di Solo. Tante sudah bersiap di gebrang kompleks, langsung capsus ke Gudeg Ceker. Tante akhirnya berhasil dibujuk untuk ikut ke Gresik. Dia pun menjadwal-ulang agendanya besok. Kami mampir ke Hotel Sultan, menitipkan mobil Tante di parkiran. Biar aman tak ditinggal sendiri di rumah. Perjalanan disopiri Padhe.



16 Mei

04. 50
Perhentian pertama. Shalat di salah satu masjid yang terlihat megah fasadnya, kotor toiletnya. Duh! Dan takmirnya menjadi jukir di halaman masjid ini. Welah! Kami singgah di sini sekitar sejam, recharge energy. Lalu berangkat lagi, gantian DikPrij yang nyopiri lagi.



09.49

Tanda-tanda pertama yang menunjukkan Gresik sudah dekat, kami temukan di jam ini. Kemacetan luar biasa, minubus yang kami tumpangi serasa dipepet pasukan Autobots transfomers. Habisnya, yang dihadapi truk-truk dan trailer... :(



09.53

Akhirnya gerbang perbatasan Kota Surabaya-Gresik! 12 jam Yogya-Gresik, yay! Kami mampir ke pom bensin, bersih-bersih sedikit (di sini gak bisa mandi, duh!). Lalu cari makan di dekat pusat kota. Dan aku bertanya polos: Mba, apakah di sini bisa mandi?


10.35
Akhirnya kami putuskan untuk cari hotel, agar bisa mandi-mandi dan istirahat sebelum balik ke Yogya nanti. Gugling!





Foto milik Dikprij.


11.30
Eh, Cakpii nyusul ke warung ini. Padahal kita udah nanyain alamat rumah Cakpii ke Bulek (yang pernah ngirim barang ke rumahnya). Jadi nggak enak, padahal lagi persiapan menuju pemakaman.



12.10
Masuk hotel. Lalu putuskan tidak ikut upacara di pemakaman, sebab Cakpii dan keluarga pasti sibuk, gak enak jika mengganggu. Kita nyusul kira-kira setelah upacara. Maka kami istirahat, tertidur, sampai... 

13.23

Buru-buru bangun, mampir ke toko sembako untuk di bawa ke rumah tahlil. Tiba di pemakaman, Cakpii malah sudah mau pulang bersama kakak-kakaknya. Mau mampir ke makam, dianjurkan tidak usah, sebab makamnya jauh di dalam kompleks pemakaman tersebut. Akhirnya kami langsung ke rumah, bersama sebagian keluarga. Cakpii nyusul.



15.10

Cakpii nyampe rumah. Kami ngobrol ngalor-ngidul. Senang bisa lihat dia ketawa :) 






Tapi sebenernya Cakpii memang selalu ceria, sampai beberapa hari waktu uminya kritis kemarin. Kami yang tergabung dalam sebuah grup WA, sampai membuat grup baru berjudul "sementara", agar tidak merasa 'tidak enak' jika membicarakan banyak hal di luar urusan umi yang sedang sakit. Soalnya kami saat itu sedang mempersiapkan agenda jelajah candi. 

16.00
Kami pamit. Senang sekali disambut hangat oleh keluarga besar ini. Semoga bisa kembali lagi... Eeeh, ternyata Cakpii malah ikutan kita keliling kota. Yaampun, semoga bukan karena gak enak sama kita...



16.20
Mampir ke warung nasi krawu yang populer sekota ini. Uenaknya polll, tapiii warungnya kurang bersih, duh. Tapi tetap pengen kembali lagi, hahahaha...



17.20

Tiba kembali di rumah Cakpii saat adzan maghrib. Keluarga sedang persiapkan tahlilan. Kami langsung ke penginapan. Tidur. 

22.30

Sudah dibangunin Tante suruh siap-siap. Duh, beratnya mata.... Kami berangkat disopiri DikPrij. Tidak berhenti kecuali buang air dan shalat shubuh. Setelah matahari datang, semua terjaga. Mobil udah serasa kotak kaca bernama tipi yang nayangin stand-up comedy: lucuk!

17 Mei

07.00
Masuk Solo. Keliling UNS, kampusnya Tante. Agenda komedi terus berlanjut. Ditambah kegilaan empat-anak-dekil-belum-mandi-masuk-kampus. Lalu sarapan di warung Jawa dekat Stasiun Balapan.

07.30

Sampai rumah Tante, setelah sebelumnya ambil mobil di Sultan. Tadinya sih mau mandi-mandi, batal. Malah asik ngitungin duit bea perjalanan untuk dibagi bersama. 09.30 kami pamit. Dadaaagh, Tanteee... Sampai ketemu di WA :)

11.00

Nyampe Yogya. Mampir dulu ke dawet Bogem. Seger, dah!


12.00
Nginjak rumah. Mandi. Kasur mana kasur! Tidur sampe sore. Hehehehe.

18 Mei



Kalau tidak ndadak ngGresik, mungkin kami gak bareng-bareng ke luar kota lagi. Terakhir ngabur bareng dari Yogya waktu ke Lombok tahun lalu. Via WA siang ini, kami berencana untuk kembali ke Gresik, dalam formasi lengkap, untuk jelajah pusaka. Cakpii ngajak mampir ke Pulau Bawean. Sadaaaap! Jika tidak ada halangan, agendanya September. Waaa... pas sekali, kami bertemu di Lombok tahun lalu di bulan yang sama :)

Kami pun sepakat untuk menghapus grup "sementara", yang sudah tak diperlukan lagi. Cakpii sudah kembali seperti dulu :)


Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya, ya! :*


Mlekom,

AZ



Saturday, May 17, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 7:05:00 PM | No comments

Reinkarnasi Bambu dalam Kekinian



Seminar Nasional "Reinkarnasi Bambu dalam Kekinian" 
Sabtu, 13 September 2014, Graha Solo Raya Surakarta

Call for Paper:

  • Sub Tema 1 (Bentuk Bambu):  Kelahiran dan Keberlanjutan Bambu
  • Sub Tema 2 (Fungsi Bambu): Desain dan Industri Kreatif Bambu
  • Sub Tema 3 (Intangiable Bambu): Diskursus Bambu Sebagai Kehidupan


Posted by adriani zulivan Posted on 6:14:00 PM | No comments

Makan Angin #1



Makan Angin #1:
Pameran Seniman Residensi

Jae Hoon Lee
Paul Hendrikse
Yaya Sung

23 - 31 Mei 2014

Pembukaan
Jumat, 23 Mei 2014 | 19.00
Di Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

Performance oleh Paul Hendrikse
Jumat, 23 Mei 2014 | 21.00
Di Ark Galerie
Jl. Suryodiningratan 36A, Yogyakarta

Diskusi
Sabtu, 31 Mei 2014 | 19.30
Di Cemeti Art House
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta


Jae Hoon Lee
Sepanjang masa residensinya, Jae Hoon Lee berupaya menggabungkan dua fungsi objek yang sangat berbeda yaitu kepala patung Buddha dan sebuah barbel. Untuk fungsi normal dua objek ini simbol Buddha memiliki realitas objektif, dalam hal dipuja dalam kuil Buddha atau atmosfir suci serupa kuil. Secara paradoks, barbel Buddha karya Lee mengaburkan batasan antara dua fungsi guna yang berseberangan pada dua objek, ia mengesankan ambang antara ranah spiritualitas (pikiran yang sehat) dan fisikalitas (tubuh yang sehat). Barbel Buddha tidak hanya digunakan sebagai beban untuk membentuk otot atau mengurangi berat badan tetapi juga latihan meditasi dengan berfokus secara terus-menerus pada menghembuskan dan menarik napas selama latihan fisik. Sebagai tambahan, Lee membuat karya video dua kanal yang menunjukkan relawan dari Yogyakarta berlatih dengan barbel Buddha serta berbagai tekstur permukaan dari tempat tinggalnya dan Yogyakarta yang tercetak pada alas yoga. Dua karya yang berbeda disatukan dengan barbel Buddha membentuk sebuah instalasi di ruang galeri.

Jae Hoon Lee (dilahirkan di Seoul 1973), tinggal dan bekerja di New Zealand. Ia belajar seni patung di Institut Seni San Francisco, Amerika Serikat, kemudian melanjutkan pendidikan untuk gelar Master of Fine art di Elam School of Fine Art, Universitas Auckland, kemudian mengambil gelar PhD of Fine Art di Elam. (jaehoonlee.net)

Paul Hendrikse
Paul Hendrikse membuat rangkaian pengetahuan alternatif seputar ‘fakta-fakta’ sejarah. Karyanya berpusat pada tokoh atau peristiwa sejarah yang membekas di ranah publik. Mengesampingkan narasi besar sejarah dan tokoh protagonis yang sempurna, ia berpaling kepada kisah-kisah kecil para individu dan kepada ketidakpastian, mitos, spekulasi dan distorsi penggambaran yang meliputinya. 

“Maka, seperti halnya metafisika rasional mengajarkan bahwa manusia menjadi segala hal dari yang ia pahami, metafisika imaginatif ini menunjukkan bahwa manusia menjadi segala hal dari yang tidak ia pahami; dan mungkin proposisi terakhir lebih benar daripada yang pertama, karena ketika manusia paham ia memperluas pemikirannya dan menerima berbagai hal, tetapi ketika ia tidak paham ia membuat sendiri sesuatu hal itu dan ia menjadi hal tersebut dengan cara mengubah dirinya menjadi seperti sesuatu hal tersebut.” Giambattista Vico, The New Science (1725)

Selama masa residensinya, Hendrikse meneliti bagaimana pertemuan dengan “yang lain” melalui perdagangan, perang dan selama periode kolonisasi memberikan input tertentu terhadap kebudayaan Indonesia dan terutama pada ranah tubuh, menciptakan budaya (tubuh) creole termasuk tarian dan seni bela diri. Ia mempelajari bagaimana seni bela diri seperti Pencak Silat, sebuah bentuk bela diri di Indonesia yang tersebar luas, berurusan dengan pengaruh dan ancaman asing dengan cara meniru dan mengambil alih bahasa tubuh orang asing dan bagaimana hal ini mempengaruhi gerakan dan strategi bertahan. Dari bahan ini ia menciptakan sebuah performance bersama dengan Citra Pratiwi dan Rendra Bagus Pamungkas.

Paul Hendrikse dilahirkan di Terneuzen tahun 1977. Ia belajar seni rupa di Den Bosch, Belanda, dan menyelesaikan studi pascasarjana di Akademi Jan van Eyck di Maastricht, Belanda. (paulhendrikse.net)

Yaya Sung
Sebagai seniman yang bermukim di Jakarta, Yaya Sung melihat ruang kesenian Yogyakarta ideal, dimana proses membangun gagasan dianggap sama penting dengan hasil akhir karya. Mendapatkan kesempatan residensi di ruang yang ia anggap ideal, tidak membuatnya merasa cukup hanya dengan mengalami ke-ideal-an. Namun, ia justru mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengujicoba konsepsinya tentang “ruang ideal”; jika setiap ruang selalu memiliki tantangan dan problematikannya sendiri, seperti apa yang ada di ruang ideal ini? Apakah orang-orang yang berada di dalam ruang ideal juga mempunya ketakutan? Apa yang mereka takutkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggerakkan Yaya untuk melakukan penelisikan melalui rajutan interaksi baik langsung maupun tidak langsung dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Interaksi langsung ia lakukan melalui serangkaian kelompok diskusi, dan wawancara. Sementara interaksi tidak langsung ia lakukan dengan cara membuat “kotak berbagi rasa takut”, yang ia hadirkan di sekolah seni, komunitas fotografi, dan beberapa ruang seni di Yogyakarta, dimana orang-orang yang ada di sana dapat membagikan rasa takutnya melalui secarik kertas dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut. Mencari solusi atas persoalan-persoalan yang telah ditemukan ternyata tidak menjadi tujuan utama Yaya, tetapi rajutan relasi peristiwa-peristiwa emosi yang sama antara dirinya dan orang-orang yang berinteraksi dengannya menjadi lebih berharga. Dari sanalah Yaya menemukan kesadaran baru bahwa ruang ideal yang berisi aneka fenomena bukan hanya berupa kota, tetapi juga tubuh manusia. Fenomena mental berupa emosi yang berkelindan di dalamnya, tak ubahnya hasil aksi-reaksi substansi-substansi yang masuk ke dalamnya. Hal itulah yang kemudian Yaya olah di dalam proses penciptaan karya.

Yaya Sung (lahir di Jakarta, 1986) lulus Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan tahun 2008, kemudian melanjutkan pendidikan di Pre-Master for Fine Art Programme, Cambridge School of Visual and Performing Arts, Cambridge, Inggris. Tinggal dan bekerja di Jakarta. (yayasung.com)


Melalui program residensi Makan Angin, Rumah Seni Cemeti bermaksud memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian pada proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Selama tiga bulan, tiga seniman dari tiga negara: Indonesia, Belanda, dan Selandia Baru diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.
Program residensi Makan Angin #1 diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti dan didukung oleh Mondriaan Fund, Belanda dan Asia New Zealand Foundation. Program residensi Makan Angin #1 berlangsung selama tiga bulan dari bulan Maret hingga Mei 2014 di Rumah Seni Cemeti.

Sumber: Cemeti Art house via milis.

Thursday, May 15, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:03:00 PM | No comments

Merayakan Hari Tertawa Dunia



Bulan Mei adalah bulan untuk berbagi tawa ria dan dirayakan sebagai Bulan Tertawa Sedunia. Tepatnya pada hari Minggu pertama, ditetapkan sebagai hari Tertawa Dunia. komunitas yang tidka bisa merayakannya pas pada hari Minggu pertama, bisa merayakan di hari-hari Minggu lainnya atau setiap hari pada bulan Mei. 



Merayakan Hari Tertawa Dunia
Sesi I: Hari Minggu tanggal 18 Mei 2014, jam 9 s/d 10 pagi
Tempat: Kampus UNY, jln Kolombo - Yogyakarta

Sesi ke II: Hari Minggu tanggal 25 Mei jam 6 s/d 7 pagi
Tempat: Mirota Kampus, jln Cornell Simanjuntak, Yogyakarta.

Tanpa ditarik biaya.
Silakan datang dan berhohohahaha.....    

Tertawa berbagi kegembiraan, kasih, dan perdamaian.... Yuuuk.... hohohahaha bareng. G r a t i s...    

Salam HOHOHAHAHA...   

Sumber: Emmy Liana Dewi

Friday, May 9, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:02:00 PM | No comments

Janji Wiken


Sejak status Gunungapi Merapi naik menjadi waspada awal Mei ini, kayanya belum sempat banyak istirahat. Rapat sana-sini. Turun-naik gunung keliling desa-desa di lereng Merapi. Agendanya ketemu warga untuk mengingatkan tentang status baru gunung dan diskusi dengan orang-orang yang bersedia nyumbang keahliannya untuk bantu proses kesiapsiagaan warga menghadapi bencana.

Liburnya kapan hayooo? Belum ada liburan. Sabtu-minggu, malam subuh pun dipakai keliling atau ketemu orang atau menulis konsep ini-itu. Ini semoga pada gak cape sebelum masa krisis Merapi tiba, deh!

Dengan ritme seperti ini, aku pernah tanya: kapan ya bisa liburan? Mengingat cucian dan pasti setrikaan yang menggunung. Tumpukan kain yang sudah berteriak minta dijahit (hey, pesanan Imam!). Pesanan tulisan yang belum selesai karena kehilangan mood. Belum lagi berbagai urusan pribadi yang tertunda.

Manan janji kalau wiken ini pasti libur. Mendengar itu, aku segera bikin agenda. Maka, tiap saat kuingatkan terus-terusan untuk tidak melanggar janjinya, karena banyak agenda yang sudah menanti di Sabtu besok...
  1. Pagi: Daftar BPJS. Setelah pelajari segala kemudahan yang ditawarkan, kupikir ada baiknya untuk masuk BPJS. Bayarnya cuma 50rb-an per bulan, bisa dapat segala layanan di segala rumah sakit. Kurasa, ini akan jadi penghematan besar untuk terapi carpal tunnel syndrome -ku, yang sekali datang bayar 100-an ribu. Pas tanya teman-teman, katanya BPJS ini gak bagus dan banyak kuciwa. Tapi aku mo kekeuh ajalah dulu. Kita lihat bagaimana nanti.
  2. Pagi: Ke salah satu institusi di bilangan kota. Mau lihat kemungkinan untuk mewujudkan rencana akhir tahun. #opooo
  3. Siang: Tengok-tengok resto Sego Bambu yang katanya lagi disewakan. Ini untuk rencana yang lain. #oposihkowekie
  4. Sore: rapat (!!!) dengan orang dinas kota.
  5. Malam: Ketemuan sama Geng TukangMakan, sekaligus penutupan pamerannya Bulek Sinta.
Harapannya cuma satu: Janji wiken libur ini ditepati. Yaaa, itu juga kalau Merapi tidak tiba-tiba meletus lho ya...

Udah ah, pengen segera tidur agar segera menjadi wiken. Wiken. Week-end, maksudku. Sampai besok, ya!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Thursday, May 8, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:17:00 PM | No comments

The Boy in the Striped Pyjamas

The Boy in the Striped Pyjamas: Anak Lelaki Berpiama Garis-garisThe Boy in the Striped Pyjamas: Anak Lelaki Berpiama Garis-garis by John Boyne
My rating: 4 of 5 stars

Cerita bergerak lamban di awal. Saya merasa baru mulai masuk ke inti cerita di pertengahan buku. Selanjutnya sangat menyenangkan. Saya menikmati terjemahannya, meski untuk beberapa kalimat masih ingin tahu apa bahasa aslinya.

Cerita dari sudut pandang bocah yang perlu dipelajari orang dewasa. Bahkan untuk konteks kekinian di negara kita yang katanya pluralis ini.

Ah andai ada seri komiknya, agar bisa saya bacakan di kelas Sekolah Gajahwong...

AZ

View all my reviews

Monday, May 5, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:57:00 PM | No comments

Sekolah Agropreneur



Teman2 yang masih berjiwa muda dan gatel dengan dunia pertanian, silahkan gabung Sekolah Tani Muda. Mumpung sekarang lagi bukak pendaftaran peserta baru.

Ada 2 versi kelas; gratis dan bayar 250 ribu. Yang versi bayar duit terkumpul buat sewa lahan garapan bareng per angkatan.

Di sini kita bisa belajar teknik pertanian 100% hayati alias organik, hingga ke pembelajaran tentang organisasi dan pasar.

Peserta sekolah ini diarahin untuk mampu jadi petani mandiri, pendamping petani atau jadi wirausaha agroindustri.

*

Salam

Sekolah Agro merupakan program yang yang diselenggarakan sekolah tani muda untuk memfasilitasi pemuda menjadi agropreneur. Bersama menyelenggarakan lingkungan belajar usaha pertanian dengan pendekatan keadaan riil pertanian yang ada saat ini. Sekolah agropreneur menciptakan proses pembelajaran yang mengedepankan kombinasi ilmu inovasi dan teknologi.pertanian aplikatif, praktek pengerjaan lahan usaha, mentoring, komunitas usaha bersama. Siswa egroprenenur akan diajak menjadi agropreneur yang cerdas, mandiri dan berorientasi aksi riil melalui pembuatan usaha bersama selama proses sekolah, sehingga siswa yang lulus pun telah memiliki usaha agro. 

Tidak ada biaya bagi para siswa , hanya wajib patungan praktek usaha bersama satu kelas sebesar 250rb setiap orang. Untuk pembayaran registrasi patungan usaha bersama. Silahkan bisa ke kantor Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM setiap hari selasa jam kerja, atau langsung di transfer ke Bank BRI no rek 301101018487533 atas nama Arief Setyo Widodo - Beasiswa sekolah tani .

Silahkan bisa membuat tulisan essay mengenai niat dan rencana untuk menjadi agropreneur. Tulisan essay yang mampu bisa menunjukan niat dan minat dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan beasiswa pembayaran patungan bersama.

Tulisan (minimal dua halaman calibri spasi 1,5) dan biodata. Dikirim ke sekolahtanimuda@gmail.com. Paling lambat 13 mei 2014.
Terimakasih


Sumber: Sekolah Tani Muda

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata