Tuesday, September 30, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 3:12:00 PM | No comments

Mamak-mamak Batak


Cem mamak-mamak Batak, kutengok. Bulat kali pun! *ya memang setengah darahku Batak kan ya*

Foto diambil siang ini oleh @cindynara :)

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 1:38:00 PM | No comments

#JogjaAsat


Halo kelas menengah Jogja. Ada situasi darurat. Jangan cuma diam dan melihat, sebelum terlambat. Dua hal yg harus kita perhatikan. Pertama, air adalah sumber daya dan kebutuhan dasar kita sebagai sesama spesies di sebuah ekosistem. Kedua, ‪#‎JogjaAsat‬ bisa terjadi karena kegagalan tata kelola pemerintahan yang harus segera kita bongkar kebusukannya! Hal yang dulu kita cuma lihat di TV nun jauh di sana, kini terjadi di pekarangan dan rumah kita sendiri. Tunggu apa lagi?

Asat (:Jawa) berarti kering. Seluruh konten diambil dari sini.

Posted by adriani zulivan Posted on 12:22:00 PM | No comments

SMS Bunda di The Jakarta Post


Pregnant women and new mothers now have a new way of learning how to ensure they and their babies remain healthy — through their cell phones. 

Itu yang ditulis The Jakarta Post pada 29 September 2014 lalu. Artikel ini menjelaskan tentang kerjasama berbagai pihak dalam  pengembangan program SMS Bunda. Tampak dalam artikel adalah gambar dari peluncuran program SMS Bunda di Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Sila cek beritanya di tautan ini.

[AZ]

Wednesday, September 24, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 12:04:00 PM | No comments

Guyon Segar ala JHPIEGO



Dalam kunjungannya ke Indonesia, Manjushree Badlani, Chief HR & Administrative Officer JHPIEGO Global, lakukan serangkaian aktivitas terkait pengembangan SDM. Salah satunya dengan mengadakan Compliance Training bagi seluruh staf. Ini adalah semacam pelatihan kekaryawanan, yang diselenggarakan di kantor Bandung dan Jakarta pada 10 dan 12 September 2014 lalu.

Materi yang diberikan berupa etika dasar yang perlu diperhatikan  oleh setiap staf; seperti perilaku di tempat kerja, kerahasiaan informasi lembaga, konflik kepentingan, serta kecurangan yang mungkin terjadi dalam hubungan kerja.

Hadir dalam pelatihan ini tak hanya staf, namun seluruh elemen yang ada di kantor Bandung dan Jakarta; Mulai dari Chief of Party, hingga Office Boy. Meski berisikan informasi serius, pelatihan ini penuh dengan guyonan segar.

[AZ]

Friday, September 12, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:55:00 PM | No comments

Ada EMAS di PSI Impact!


Kita tentu belum lupa, tentang kisah eklampsia yang dialami Yusni (18). Ibu muda dari Aras Kabu, Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara; yang mendapat pertolongan dua perawat yang baru saja mendapat pelatihan kedawatdaruratan dari program EMAS.

Kisah inspiratif berjudul “Right Place, Right Time, Right Training” ini muncul di highlight PSI Impact. Ini adalah majalah online yang diterbitkan oleh Population Service International (PSI). PSI merupakan organisasi nirlaba dunia yang bergerak di bidang pengembangan kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.

Selain kekuatan cerita, foto-foto besutan Hartono Rakiman tentang proses perawatan dan tindakan yang dilakukan untuk Yusni sangat menyentuh. Video berbentuk visual story dari kejadian sama, juga mereka sisipkan dalam artikel ini.

Sila cek artikelnya di sini.

Posted by adriani zulivan Posted on 12:31:00 PM | No comments

Joged Kejutan untuk Wilson



“Hei apa-apaan ini, kalian bukan orang Korea!” canda Dr Wilson Wang saat melihat serombongan orang berjoget ala Gangnam Style dalam ruangannya (29/09). Ini adalah persembahan  ‘pasukan’ EMAS yang selama ini kerja bersama Wilson di kantor EMAS Jakarta.

Sehari sebelum perpisahan ini, Wilson mengirimkan pesan perpisahan kepada seluruh staf. “Tak mudah bagi saya untuk untuk meninggalkan program EMAS. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk berada dalam lingkungan ini, sebagai keluarga dan teman; menjadi berguna bagi pasien dan komunitas yang kita layani; sambil belajar banyak hal tentang apa yang harus kita percayai agar dapat terus membantu orang lain”.

19 bulan kebersamaan munculkan beragam cerita menyenangkan. Wilson yang merupakan Senior Technical Advisor program EMAS dari Save the Children ini, mengaku sangat mencintai Indonesia. Salah satu bukti kecintaan, ia tunjukkan dengan memelajari Bahasa Indonesia. Hingga suatu hari, Wilson menyapa seorang staf.

“Hai, kamu binatang sekali!” dan staf pun bingung, sebab merasa tidak melakukan kesalahan padanya. “I mean, you are the star! (Maksud saya, kamu adalah bintang—Red)” ralatnya. Kisah ini disampaikan oleh Mia Pesik, Senior Program Manager, yang banyak membantu Wilson dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Seluruh staf hadir di ruangan tersebut. Satu per satu menyampaikan pesan dan kesan. Acara diakhiri dengan pemberian cinderamata khas Indonesia dan pemotongan kue tart.

Selamat jalan, Pak Wilson. Kamu adalah bintang (ingat, hanya ada satu huruf A di sana) di ingatan kami!

Sila cek video joged kejutan ini di sini.

[AZ]

Posted by adriani zulivan Posted on 12:10:00 PM | No comments

Membuka Data, Membuka Peluang


Membuka Data, Membuka Peluang
Mengintip Situs Data.id

Bukan rahasia lagi, jika Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki sistem penyimpanan data yang paling buruk. Ini baru tentang proses pendokumentasian, belum lagi soal sistem distribusi.

Sebagian dari kita, pasti pernah mengalami  masa-masa penelitian di bangku sekolah. Itu adalah saat pertama kita menghadapi ‘dunia nyata’ birokrasi di Indonesia. Awal September lalu, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) meluncurkan data.id. Mengutip informasi di portal, ini merupakan wadah berisi data yang terkait dengan Indonesia. Tak hanya dari Kementrian, namun juga lembaga pemerintahan, pemerintahan daerah, dan semua instansi lain.

Sebagai bagian dari kampanye Gerakan Data Terbuka, portal ini mampu menjawab tuntutan Undang-undang No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Yang menarik, portal ini juga menyimpan data terkait isu kesehatan, Ini tentu dapat membantu kerja-kerja program EMAS. 

Data apa saja yang berguna bagi EMAS? Berikut daftarnya, sebagaimana ditelusuri oleh Ibu Sushanty, Senior Program Manager EMAS:

  • jumlah kematian neo-natal (baru lahir) dan balita yang terjadi per provinsi
  • tenaga kesehatan per provinsi
  • jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih per kabupaten/kota
  • persentase pengguna alat KB per provinsi
  • jumlah dan rasio dokter dan perawat terhadap puskesmas per provinsi
  • data APBN untuk kesehatan

Kemunculan portal ini menjadi harapan besar untuk memotong birokrasi pencarian data. Dengan membuka data, maka akan otomatis membuka lebih besar peluang bagi siapapun.

[AZ]
Posted by adriani zulivan Posted on 12:07:00 PM | No comments

Ibu Neng Menyapa Dunia




Mungkin itu yang dapat menggambarkan munculnya kisah sukses program EMAS di Ciparay, Bandung, Jawa Barat. Artikel berjudul “Delivering Confidence and Quality: An Indonesian Health Center Makes Amazing Gains in Just One Year” ini difiturkan di sejumlah media online beraudiens global. Ini adalah tautan di portal Jhpiego dan EMAS Indonesia

Tentu kita bangga, kisah dari pedalaman negeri ini, muncul di belahan bumi lain. Selain itu, pada 21 Agustus lalu  kisah ini ikut muncul dalam cuitan Twitter USAID Global Health dengan akun @USAIDGH. Dengan demikian, kisah Bu Neng Supartini ini pun mendapat perhatian lebih luas dari publik dunia.
Ibu Neng menyapa dunia, dan semoga akan banyak Ibu Neng – Ibu Neng lain yang muncul.

[AZ]

Thursday, September 11, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 12:15:00 PM | No comments

Awalnya Coba-coba, Lalu Jadi Pecandu

Awalnya Coba-coba, Lalu Jadi Pecandu
Muhamad Bisri: Berhenti Merokok adalah Kemerdekaan Diri

Kisah ini mungkin cerita lama yang sering kita dengar. Cerita lama yang berulang, dari generasi ke generasi. Ekspansi industri rokok di Indonesia bukan pekerjaan kemarin sore, melainkan proses panjang yang lingkupi sejarah negeri sejak 200 tahun lalu. Hingga kini, dampaknya masih sangat nyata dalam kehidupan kita.

Juni 2014 lalu, Kementerian Kesehatan RI mencatat ada 66 juta jiwa perokok aktif di Indonesia. Angka ini mendudukkan  Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 3,9 juta diantaranya adalah remaja usia 10-14 tahun (data Global Adult Tobacco Survey). Maka tak heran, jika kisah awal mula perkenalan dengan rokok di atas kerap menjadi  keseharian remaja kita.

Hal ini diawali pula oleh Muhamad Bisri (39), Governance Specialist EMAS Sulawesi Selatan. Mempunyai ayah yang menjadi penikmat sejati kretek, membuat Bisri akrab dengan rokok. Namun, perkenalan dengan rokok baru terjadi di masa awalnya menjadi mahasiswa. Memang terdengar ironis, jika institusi pendidikan seperti kampus justru menjadi tempatnya mengenal bahan adiktif ini.

Setelah lulus dan bekerja, kecanduannya tak lantas hilang. Berbagai saran dari teman tak pernah bangkitkan keinginan untuk berhenti. Hingga pertengahan tahun ini, saat melihat gambar paru-paru hitam berlubang di bungkus rokok kesukaannya. “Rasanya mau pingsan saat melihat gambar itu, seperti menampar saya dengan keras,” jelas Bisri. Ia lalu bertanya, seperti apa wujud paru-parunya yang telah ia asapi selama 19 tahun itu.

Tepat 17 Agustus lalu, di Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bisri turut memproklamirkan kebebasannya dari jeratan candu rokok. Rasa khawatir akan kondisi raganya mampu menumbuhkan kesadaran besar atas pentingnya kesehatan. Setelah merasa mencapai kemerdekaan diri,  kini Bisri ingin menularkan pengalamannya , dengan menjadi Konsultan Berhenti Merokok.

[AZ]


Tuesday, September 9, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:19:00 AM | No comments

Indahnya Dunia Endah

Mbak Endah Laras mengundang Sahabat Pencinta Budaya di Jakarta dan sekitarnya untuk menyaksikan Pentas Musik Endah laras "INDAHNYA DUNIA ENDAH" - Bersama Brayat Endah Laras, feat. Liliek Jasqee (violin) dan Plenthe (perkusi) Bentara Budaya jakarta, Kamis, 11 September 2014 pukul 19.00 WIB...Free [Faizal Ahmad]


"Selendang menggendong kelahiran manusia… 
Menggendong isi alam, menarikan kehidupan… 
Yun ayun…. 
Hidup terayun ayun…ayun…ayun…. 
Tangan kaki mata punya hati menyapa hidup …." 

Sebait tembang diatas berjudul Yun Ayun, diciptakan dan dikidungkan oleh Endah Laras, penyanyi asal Solo, putri dari seorang dalang dan guru tari kesohor. Kemampuannya menyanyi ditempa sejak kecil, terbukti dengan seringnya memperoleh predikat juara di berbagai ajang lomba. Berbagai genre musik ia pelajari seperti pop, keroncong maupun seriosa. 

Mengawali karir secara serius sebagai seorang penyanyi pada tahun 1996. Aktif mengeluarkan album baik kolaborasi dengan beberapa seniman campursari maupun album sendiri. Antara lain “Gemes” dan “Jangkrik Genggong” bersama Anjar Any, album “Kembang Kecubung” serta “Lego” bersama Mus Mulyadi dan Manthous’s, album “Jakarta Suroboyo” bersama Boy Suryo, album “Aja Kanda Sapa-sapa” bersama Cak Dikin. Lalu beberapa solo albumnya antara lain “Lelo Ledhung” dan “Jenang Gula” kendang kempulan (1998), album “Andhe-andhe Lumut” dan “Mung Sliramu” (2000). Terlibat pula dalam kelompok Dongeng untuk Bangsa bersama Garin Nugroho, Widyawati, dan Edo Kondologit. 

Endah Laras sosok yang ramah, murah senyum, aktraktif dan selalu menemukan ide baru di setiap pertunjukannya, sehingga penonton tidak pernah bosan karena ia berupaya menawarkan kesegaran. Kiprahnya saat ini tidak hanya sebatas penyanyi solo tetapi juga guru vokal, komposer dan arranger baik musik kontemporer maupun musik tradisi Indonesia. 

Bersama kelompok brayat Endah Laras, ia terlibat aktif mencipta dan mengaransemen aneka tembang. Kehausannya di bidang seni dipenuhinya dengan menjajal dunia seni peran yaitu pada film “Soegija” karya Garin Nugroho dan “Finding Srimulat” karya Charles Gozali. 

Panggung nasional maupun internasional turut berperan mengembangkan kemampuan dan karirnya sehingga semakin memantapkan ayunan langkahnya sebagai seorang seniman. Seperti lagu Yun Ayun yang diciptakannya, seolah-olah menggambarkan jejak berkeseniannya yang selalu berayun menarikan kehidupan...

Monday, September 8, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 AM | No comments

Biar Kutulis untukmu Puisi Jelek yang Lain


Mari berkenalan dengan Forum Aktor Yogyakarta!

Forum Aktor Yogyakarta adalah sebuah wadah bagi para aktor seni pertunjukan du Yogyakarta. Tak terbatas hanya pada aktor berpengalaman, namun juga aktor-aktor baru. Tujuannya adalah untuk berbagi dan saling belajar bersama tentang dunia pertunjukan teater.

Sejumlah kelompok teater bergabung di dalamnya, termasuk teater kampus. Forum ini terbuka untuk semua aktor, selama tidak berafiliasi pada kelompok tertentu. Beberapa nama yang sudah familiar di telingan publik Yogyakarta adalah Verry Handayani, Jamaluddin Latif, Elisabeth L, F Anggit, dan masih banyak lagi.

Pada Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), forum ini terlibat dalam pembacaan dramatik sejak penyelenggaraan di tahun 2011-2013.

Kini anggotanya berniat mewujudkan pengalaman keaktoran dan berkesenian mereka ke dalam sebuah pertunjukan teater kolaboratif. Sebagai perdana, dimunculkan naskah berjudul "Biar Kutulis untukmu Sebuah Puisi Jelek yang Lain" karya Andri Nur Latif.

Naskah ini bercerita tentang dua lansia beda kelamin yang tak sempat menyatakan cinta di masa muda. Tanpa disadari, mereka tinggal di panti jompo yang sama.

Cerita ini akan dimainkan untuk penonton Yogyakarta, secara gratis tiap pukul 20.00 pada September ini:

  1. Kamis (11/09), PKM FSB UNY Lt. 2
  2. Sabtu, (13/09), Cafe Momento
  3. Selasa, (16/09), Ruang K.22

Sumber: Ratri Kartika Sari.

Wednesday, September 3, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 10:41:00 PM | No comments

ju li pan


Siang ini bersama Koordinator TI, set-up email kantor.
"Ad ri a ni ju li pan" 
"Zulivan, Mas. Pake zet" 
"Zu li pan" 
"Van, vi" 
"Enakan julipan" 
"..." 
"Ini komputernya mau dinamain apa?" 
"adriani julipan?" 
Sambil ngetik, nyebut "ad ri a ni zu li van" 
"Nah itu bener ngomongnya" 
"Oh, Adriani Julipan bener ya?"
"..."

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 9:40:00 PM | No comments

Orkes Si Pojan


"Kak, tanggal 6 nonton si Pojan main orkes, yuk."

Berawal dari ajakan itu semalam, akhirnya wiken ini aku punya kegiatan. Yay! Yang ngajak itu Mira, sepupuku. Yang main orkes si Pojan, adiknya Mira (ya berarti sepupuku juga ya, hahahaha).

Pojan baru pulang dari Hongaria-Bulgaria, ikut kejuaraan Folkfolore World Championship bersama tim Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) Mahawaditra. Juara berapa, coba? Satu! Iih, jadi ikutan bangga kan aku.

Si Pojan ini nama benarnya Fauzan. Sejak kecil sudah suka nabuh drum ato gonjrang-gonjreng gitar di rumah. Bapaknya punya studio dan grup keyboard. Kakaknya Mira pernah bisa main piano, tapi nggak diseriusi dan berkarir di bidang IT. Abangnya Mira, Ari, kuliah di institut seni dan jago main berbagai alat musik, termasuk saxophone.

Nah, sekeluarga jago musik. Pojan waktu SMA punya grup band di sekolah. Papaku suka godain, "Grup orkes Pojan berapa orang?" "Bukan orkes, band!" Orkes kan gak gaul ya buat anak muda, kesannya ABG banget, Angkatan babeh gue.

Dulu sempat suruh Pojan masuk ISI Yogyakarta atau IKJ Jakarta, tapi dia lebih milih Teknik Sipil. Yang penting tetap berorkes ria lah ya. Yang kali ini orkes beneran orkes, bukan band.

Selamat, Pojan. Besok minta tandatangan, ya!

Yang mau ikut nonton, sila cek ini, tempat poster ini aku ambil.

Mlekom,
AZ





  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata