Thursday, December 3, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 10:18:00 PM | No comments

Mudahnya Menjadi Penyuka Sesama


Tadi pulang naik bus dan menyadari betapa mudahnya orang menjadi penyuka sesama, ataupun bisex.

Aku duduk di kursi tambahan yang menghadap samping. Di depanku banyak orang bergelantungan (oh tentu saja aku beri tempat duduk pada bumil, meski hari ini kudu egois dengan penumpang lain sebab aku sedang ber-rok mini yang bahaya jika gelantungan--yunowataimin). Jadi--buat kelen yang gatau isi kopaja--posisi penumpang begini:

Supir di kanan (ya lah, endonesa woy!), di samping kiri pintu tempat naik-turun penumpang perempuan (ya, klo padet, beginilah sopir dan kernet membaginya). Pintu lain ada di belakang, untuk penumpang lakik.

Di belakang sopir ada satu bangku (semacam bangku baso berbahan besi yang 'ditanam' permanen). Bangku ini untuk 2 orang, aku salahsatunya. Di belakang bangku ada pintu geser untuk penumpang naik turun di halte. Jd klo duduk di bangku ini jangan harap bisa senderan, klo belom pengen jontor dicium pintu yang mbuka-nutup tanpa permisi.

Nah, di depanku ada space di samping pintu kiri untuk berdiri dua orang (yang kerap diisi 4-6 orang *emotsokkaget*), di belakang space ini ada deretan bangku terhormat (iya, karena bentuknya kursi, bukan bangku baso) untuk dua orang.

Jadi, diantara aku dan dia eh mereka yang berdiri di pintu kiri dan kursi terhormat, ada penumpang lain yang bergelantungan, biasanya dua orang. Tadi 'cuma' satu orang, berdiri menghadap aku. Kalian bisa bayangkan: dua perempuan, hadap-hadapan, yang satu di atas, satu lainnya di bawah. ‪#‎apasih‬
Itu sampe bagian tengah. Bagian belakang besok2 aku critain yes!

Nah, balik ke posisiku. Waktu padet2nya, kernet kan jalan mondar-mandir depan-belakang narik ongkos. Pas mo lewat drpanku, dia minta penumpang yang di drpan pada "masuk masuk, tengah tengah, kosong sini". Mbak2 depanku gak mau geser, dan terjadilah awkward moment itu:

Ketika bang kernet liwat, kedua kaki simbak2-yang-gelantungan itu masuk ke dalam pahaku (dalam paha itu = ituloh, kalo kamu duduk kan ada jarak antara paha sama paha). Lututnya mengunci di sana. Sampai keadaan stabil, kira2 dia gak bakal jatoh, aku tarik kaki dan mengatupkan kedua paha (iya, aku biasanya duduk agak ngangkang emang, makanya tu kaki embak2 bisa masuk2 aja.)
Kejadian ini berulang lagi sekali. Sampai dia pindah ke belakang.

Dengan pembagian ruang (pintu depan buat cewe, pintu belakang buat cowo), jangan heran jika cinta bersemi di antara penumpang yang melewati sesama pintu itu...

That awkward moment... Reminds me of this http://www.kompasiana.com/…/sopir-ugal-ugalan-penumpang-bus…

Mudah menjadi penyuka sesama? Enggak sih, ini tentang buruknya layanan transportasi publik kita. Anggap ini Kisah Kopaja #1. Masih banyak cerita lain menyusul :p

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata