Sunday, January 17, 2016


Meminggirkan Eksklusivitas Seni
Tak seperti Yogyakarta, ketika ngobrolin seni rupa, Jakarta tak menjadi kota yang pertama muncul di benakku. Maka tak heran ketika mengetahui usia Jakarta Biennale (sejak 1974) lebih tua dibanding Biennale Jogja (1988), bagiku cukup mengejutkan.

Rasa-rasanya, kegiatan seni rupa di Jakarta tidak seramai di Yogyakarta. Jikapun ada, ia kerapkali terlihat eksklusif. Eksklusif pada tema (sejarah tokoh bangsa, sejarah negara, dst), juga eksklusif secara pemilihan tempat (galeri atau museum besar). Masih ditambah dengan esklusifnya nama-nama seniman yang ikut berkarya. Diantaranya adalah pameran "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" (pertengahan 2012) dan "Aku Diponegoro" (awal 2015) lalu.

Eksklusif ini, menurutku, berkontribusi pada tidak bertambahnya masyarakat penikmat seni. Suasana yang terasa menjadi semacam "ini adalah pameran yang diperuntukkan bagi para seniman, kurator, kolektor, dan akademisi saja". Sedangkan orang awam yang datang untuk sekadar ingin melihat, mungkin merasakan seperti yang kurasakan ketika berada di antara pengunjung lain: Kamu ngapain di sini, emangnya ngerti seni?

Keberadaanku sebagai hanya-orang-awam-yang-ingin-melihat-lihat itu, seakan mendapat angin segar pada penyelenggaraan Jakarta Biennale 2015 lalu. Pemilihan tema, tempat dan perupa yang terlibat--lagi-lagi, secara psikologis membantu orang-orang sepertiku merasa 'dianggap' dalam sebuah pagelaran seni. 

Pertama, tempat. "Gedung Sarinah? Thamrin?" Tanya taksi yang membawaku menuju pagelaran itu. Ia pasti menanyakan apakah benar aku ingin ke gedung yang dua hari sebelumnya baru saja dihebohkan aksi teror tersebut. "Gudang pak, bukan gedung. Di Pancoran," jawabku. Berbekal aplikasi Waze, kami cukup kesulitan mencari gedung yang terletak di tengah kampung permukiman warga ini (ya ya, aku tidak membaca instruksi di web yang kemudian hanya bisa komentar: yaampun, ternyata di seberang Gelael!).

Tak hanya di mana, kuyakin tak banyak orang paham apa Gudang Sarinah itu. Bertanya pada Google, kalimat "jakarta biennale 2015" selalu menyertai di tiap hasil pencarian. Artinya belum banyak ulasan mengenai sejarah gedung ini. Meski demikian, melihat pemilihan bentuk huruf dan warna pada tulisan yang terpampang di fasad gedung, aku yakin ia memiliki hubungan dengan Pusat Perbelanjaan Sarinah di kawasan Thamrin yang dibangun Soekarno itu.

Saking tidak populernya, gudang ini nyaris terlupakan. Jakarta Biennale, menurut sebuah media, menjadi aktivitas pertama yang membangkitkan ingatan publik akan gedung ini. Aku tertarik membicarakan panjang lebar soal gedung berbentuk gudang ini. Ketika memilih bangunan biasa yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat, atau bukan bangunan khusus berlabel "kantong seni" dan semacamnya, rasa kedekatan (proximity) segera hadir dalam pikiran khalayak.

Pemilihan tempat di tengah permukiman warga, bagiku merupakan cara hebat untuk memenangkan hati masyarakat di luar dunia seni. Warga suatu perkampungan mungkin malas memasuki sebuah gedung megah berbentuk Galeri Nasional, misalnya; namun sangat penasaran dan ingin menjadi bagian dari perhelatan di Gudang Sarinah ini.

Kedua, tema. Berbicara tentang Jakarta adalah berbicara tentang kota. Pemilihan isu terkait persoalan kota adalah penting untuk mendekatkan karya seni pada keseharian warga, dalam hal ini tentu saja warga kota Jakarta.
Pameran ini berfokus pada situasi di sini dan saat ini, serta respons para seniman terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di sekitar mereka. ~ jakartabiennale.net
Isu terkait banjir, air bersih, penggusuran, diskriminasi, kekerasan politik hingga perdagangan aset negara, tentu menjadi keseharian masyarakat Jakarta. Masyarakat yang kepentingannya dalam kehidupan sosial, juga menjadi sumber ide para seniman kita.

Siapa perupa yang terlibat dalam sebuah pagelaran, tentu menjadi hal penting ketiga. Ketika aku tak mengenal banyak nama dalam daftar perupa di sebuah kegiatan, bagiku itu merupakan sinyal dimana eksklusivitas sedang dipinggirkan. Jika hanya menampilkan perupa yang telah menggoreskan namanya di jajaran atas karya seni, kalian pasti tahu apa yang ada di pikiran orang awam sepertiku sebelum mendatangi tempat di mana karya para 'dewa seni' itu dipajang!

Sederhananya, ada kelompok yang membaca karya seni sesuai dengan tingkatan berkeseniannya. Ada kelompok yang datang dengan informasi terbatas, lalu berusaha membaca karya yang di hadapannya dengan persepsinya sendiri. Kelompok lain adalah mereka yang datang karena mengagumi betapa cantik, bagus, menarik mata karya-karya yang dipajang, sehingga mereka merasa harus mengabadikannya lewat selfie ataupun wefie. Semestinya tak ada yang salah dengan motivasi kelompok-kelompok tersebut. Di Gudang Sarinah ini, Jakarta Biennale 2015 mengakomodir motivasi segala kelompok  tersebut.

Membaca Jakarta, Mereka Kota
Pagelaran dua tahunan yang dilaksanakan pada 15 November - 17 Januari ini, selain pameran karya seniman dari Jakarta juga menampilkan karya para seniman dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Tak hanya pameran, kegiatan ini diikuti beragam kegiatan seperti simposium, workshop, dan masih banyak lagi yang juga tak hanya melibatkan pekerja seni, namun juga publik yang lebih luas.

Berkaca pada kota asalku, Yogyakarta, melihat karya-karya dalam Jakarta Biennale seperti mereka-reka masa depan kotaku sendiri. Yogyakarta yang sejak 2011 lalu terus bersolek diri menjadi kota modern, dua tahun kemudian segera menjejak dampak bagi warga. Dampak ini sayangnya tak berpihak pada kepentingan publik. Air sumur perkampungan yang mengering, kemacetan akibat tumbuhnya pusat-pusat hiburan baru, dan masih banyak lagi.

Jakarta Biennale 2015 merefleksikan Jakarta sebagai kota dalam berbagai sudut pandang. Karya-karya itu mencoba mengajak pengunjung untuk melihat dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan sebagai dampak dari pembangunan kota. Aku seakan sedang membaca Jakarta lewat goretan lukisan dan berbagai instalasi yang ditampilkan di sana, untuk dapat mereka-reka bagaimana kotaku nanti jika pembangunan sudah begitu masif.
Gambar pertama adalah instalasi dari potongan-potongan bahan tekstil berwarna hitam karya Peter Robinson (Auckland) berjudul “Syntax System”. Gambar terakhir adalah aku di Gudang Sarinah pada Sabtu (16/01).

Mlekom,
AZ



Thursday, January 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 5:10:00 PM | No comments

Kami Tidak Takut


Jelang tengah malam.

"Mau ke mana?" tanya mas-mas-yang-itu.
"Bingung," kataku.
"Hummm..."
"Bundaran HI yuk. Kepengan lihat suasana malam di air mancur."

Keluar dari Djakarta Theater, kaki-kaki kami susuri halaman depan gedung yang terletak di sebelah Sarinah ini. Tentu lewati dinding kaca yang membalut warkop milik Schultz di Jalan Wahid Hasyim itu.

Ini tiga malam lalu. Jalanan sepi buatku takut, takut kejahatan urban seperti yang banyak diberitakan koran kuning. Hari ini jalanan yang sama ramai mengisi linimasa media. Meski keadaan sempat mencekam, aku berani bilang: Kami tidak takut.

Kejadian tiga malam lalu dan hari ini tidak berkaitan, tentu. Namun ini buatku tersadar, bahwa Jakarta dalam kondisi normal (baca: berikut kejahatan sehari-hari yang melekat padanya) lebih menakutkan, dibanding sebuah hari ketika ia diteror kelompok kecil yang berusaha mengguncang dunia.

Bangga pada seruan #KamiTidakTakut yang banjiri medsos seharian ini. Tunjukkan keberanian warga Jakarta dan Indonesia untuk melawan mereka yang coba mengusik ketenangan, tanpa reaksi berlebihan yang akan menguntungkan para pembuat onar ini.

Ini gambar Bundaran HI di masa lalu, tujuan kami malam itu.

Mlekom,
AZ


Saturday, January 9, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:16:00 PM | No comments

Minta Doa Agar Mampu Beli Motor


Aku usai ikut agenda jelajah kota dengan berjalan kaki 4 kilometer, sekian menit dudukkan pant*t di atas sadel belakang motornya si bapak-bapak ini:

Bisa naik motor?
Bisa pak.
Kenapa gak naik motor?
Gak punya.
Kerja (daerah) mana?
Kuningan.
Oh deket donk (dari rumah).
Iya.

Kenapa gak beli motor?
Gak ada duit.
Nyicil donk.
(...)
Nyicil aja, murah kok.
(...)
500 rebu sebulan.
Nanti saya jadi punya utang donk (ini males bgt njawabnya).
Ya dicicil. 
(...)
Daftar (jadi pengemudi) Gojek aja. Kan bisa pake motor.
(???)
Kalo ke kantor naik apa?
Gojek, baliknya Kopaja.
Nah klo PP berapa?
(Sialnya, otakku ngitung) 18rb.
Nah klo Gojek, tambah berapa lagi udah muter dua kali...
(...)
...berangkat dan balik kantor sekalian bawa penumpang.
(...)
Nyicil motor bisa lah!
(...)

Pulang kantor jam berapa?
7 (biar dia berhenti, lalu berpikir: oh iya yah, udah cape).
Kok lama amat?
Iya.
Masuk jam brp?
10 (karepku)
Nah pagi2 bisa nyalain aplikasi dulu sampe jam 10.
(Yah, salah strategi deh!)
Daftar aja, lumayan lho jam segitu. Apalagi daerah Kuningan jam2 kantor rame.
(...)

Duitnya dikirim ke ortu ya tiap bulan?
(Sekenanya) Iya.
Oh bagus, jadi bisa bantu2 ortu.
Iya.

Ortu masih komplit?
Ya.
Minta doa sama ibu biar dilancarkan rejekinya.
Ya.
Klo dibeliin motor, jadi keliatan hasil kerja kita.
(Hum...)
Kalo belom berani ngojek, coba2 aja bawa motor di sekitaran rumah.
(...)
[dst bikin saya berasa entahlah...]

Nyampe depan rumah:
Lho tinggal di sini? Kok bisa? Wah.
Saya tadi anter anak majikan sekolah, pak.

Mungkin karena iba sama aku, duit pembayaran jasanya yang kulebihkan mau dikembalikannya.

*
Btw, ada yang punya info kapan Gojek bukaan lagi? Kali aku bisa kirim-kirim CV...

Makasih ya pak, sudah memberi saya semangat untuk minta doa agar mampu beli motor (saya bold, italic dan underline lho ini pak!). Dan makasih ya pak, saya memang kucel! :)

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata