Friday, February 19, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 12:47:00 PM | No comments

Kursus di Lembaga Bahasa Kampus

Dalam rangka liburan panjang Maret nanti, aku berencana mengambil kursus Bahasa Inggris. Tempatnya kalau tidak di Yogya ya di Jakarta. Barusan nelepon semua lembaga bahasa kampus yang aku tuju. 

Oh ya, mengapa pilihannya lembaga bahasa milik kampus, bukan di lembaga kursus bahasa non kampus? Simpel, sebab beberapa temanku lolos beasiswa internasional karena kursus di tempat-tempat ini :p

Nah daripada informasi ini dibuang dan aku yakin banyak yang membutuhkan (ya aku sendiri sangat membutuhkan kompilasi seperti ini), jadi ada baiknya jika informasinya aku lempar ke sini ya.

Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) FIB UGM
Ya ampun, ditelepon di jam kantor, berulang-ulang tidak ada yang angkat. Ya sudahlah, kapan-kapan dicoba lagi! Info lengkapnya (yang sangat jelek dan sulit navigasinya), bisa dicek di portal ini.

Pelatihan Bahasa FEB UGM
Aku sangat tertarik dengan kursus yang ditawarkan di sini, sebab ada kelas short course dan dimulai tepat di masa liburanku. Berikut rinciannya:
  • Kursus akan dimulai pada 4 Maret.
  • Untuk kelas reguler: Berlangsung selama 1,5 bulan. Biaya Rp 700.000
  • Untuk kelas short course: Berlangsuung 3,5 minggu (kurang dari sebulan). Biaya Rp 500.000
  • Jam kelas Senin - Jumat dengan waktu yang dapat dipilih, yaitu pukul 09.30-11.30, 16.00-18.00, dan 18.30-20.30.
  • Tidak ada placement test, namun ada 3x test semacam TOEFl-Like (yang aku lupa apa saja namanya). Hasil dari tes ini yang akan menempatkan kelas-kelas yang sesuai kemampuan bahasa masing-masing peserta.
Perbedaan kelas reguler dan short course hanya terletak pada masa latihan soal. Untuk kelas reguler, latihannya lebih banyak. Namun materi yang diberikan sama banyak jamnya. Info lanjut bisa cek di web yang sangat user-friendly ini.

Pusat Pengembangan Bahasa UNY
Kursus yang ditawarkan cukup menarik, sayangnya baru dimulai bulai Mei nanti. Sebenarnya, kata petugas yang menerima teleponku, pendaftaran sudah dibuka sejak Januari lalu, namun sepi peminat sehingga kuota tidak mencapai 20 orang. Jika ada yang tetap ingin kursus dimulai, maka biaya untuk 20 orang dibebankan rata kepada tiap peserta. Rinciannya:
  • Kelas reguler: Berlangsung selama 6 minggu, per minggu ada 5x pertemuan (Senin-Jumat)
  • Kelas khusus aku enggak nanya.
  • Waktu: pukul 16.00-17.30
  • Biaya: Rp 1.200.000
Berhubung waktunya tidak memungkinkan, maka soal placement test dan kelas non reguler aku tidak tanya. Silahkan hubungi langsung ke sini ya bisa tertarik (iya, webnya seblas-duablas sama PPB FIB UGM).

Lembaga Bahasa Sadhar
Kursus di sini juga sepertinya menarik. Apalagi waktu kuliah sempat mupeng pengen masuk diploma bahasa di sini, sebab beberapa teman-temanku di UGM yang juga ambil diploma di sini, kebanyakan sudah dapat beasiswa ke luar. Informasinya:
  • Kursus terdekat berlangsung 29 April - 24 Juni 2016 22x pertemuan).
  • Biaya: Rp 1.250.000 untuk Level 1 dan ditambah Rp 100.000 untuk dua level selanjutnya.
  • Ada placement test untuk menentukan level.
  • Waktu: pukul 11.00-14.00
Sayangnya kursus dimulai saat aku sudah tidak liburan lagi :( Jika berminat, sila cek informasinya di portal yang sangat informatif ini. Oh ya, jika ingin kudu sengera, sebab menurut petugasnya, dua minggu sebelum dimulai biasanya kuota kelas sudah penuh!

Lembaga Bahasa Internasional UI
Yang menarik, kampusnya sangat dekat dengan tempat tinggalku. Informasinya:
  • Kelas dimulai Mei 2016, namun pendaftaran sejak pertengahan Maret 2016.
  • Saat pendaftaran itu ada placement test.
  • Biayanya snagat murah, hanya Rp 1.300.000 untuk semua level. Kalau kamu ditempatkan di Level 1 (yang berarti harus ikut kelas selama hampir 3 bulan) ataupun di Level 3 (yang kursus hanya sebulan), bayarannya sama.
Sayangnya, mbak-mbak yang menerima teleponku snagat tidak informatif: "Mbak, saya mau menanyakan informasi tentang kursus IELTS" 
"Ya."
"Gimana mbak?"
"Bisa."
"Kapan, jam berapa, bagaimana?"
... (baru deh dia jawab)
Biar gak buang-buang waktu ngobrol dengan simbak yang gak informatif itu, bisa cek informasinya di portal yang kontennya terus diperbarui ini. Dan jangan tunda-tunda mendaftar jika tak ingin kehabisan kuota!

*
Nah, selamat menimbang-nimbang kursus di lembaga bahasa kampus-kampus terbaik di Yogya dan Jakarta ini (info akan aku perbarui). Semoga informasi ini berguna. 

Let's learn ABC! Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Tuesday, February 16, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:34:00 PM | No comments

Merahisasi Senin

Jaman kuliah aku pernah menjadi relawan, lalu menjadi pegawai honorer, pada bagian International Research Collaborations di lembaga riset milik Universitas Gadjah Mada. Lumayan, berkantor di gedung yang sama dengan para petinggi di kampus tertua milik pemerintah ini.

Meski pekerjaan administratif membosankan, aku senang punya pengalaman bekerja dengan orang-orang hebat. Setidaknya, tiap ganti pemerintahan ada saja dari mereka yang menduduki posisi penting di pusat sana. Salah satu yang dulu sering kurecokin undangan rapat, kini menjadi Rektor cantik pertama di almamater kami. Uhuk.

Di sini pula aku pertama kali bersentuhan secara intens dengan lembaga internasional, berupa kampus ataupun donor (salah satu donor dari proyek yang kukerjakan waktu itu, juga merupakan donor di program kantorku saat ini). Keuntungannya, bisa kenal secara fisik nama-nama penulis paper di berbagai jurnal internasional. Juga jadi sedikit paham soal sistem hibah internasional.

Semua manfaat ini tentu berguna untuk berbagai pekerjaanku di kemudian hari, hingga hari ini.

Manfaat lain adalah dipertemukan dengan kawan-kawan luar biasa dari satu bidang, yang membuat pekerjaan membosankan menjadi menyenangkan. Yang ibuk-ibuk, bawaannya masih tetap seperti anak muda. Yang anak muda ya tetap masih seperti anak muda :)

Saking dekatnya hubungan meski di luar urusan pekerjaan, kami pernah menyepakati satu hal: Memakai pakaian berwarna merah setiap Senin. Ini ideku, semacam teriakan kepada dunia "We love Monday, semangat kami semerah baju ini meski habis liburan akhir pekan!" Hahaha...

Di hari lain kami bersepakat mengenakan pakaian serba putih, aku lupa hari apa dan untuk alasan apa. Yang pasti, urusan "merahisasi hari Senin" ini sempat membuat iri staf dari bidang lain :p
Nah foto-foto ini muncul di "memory Facebook" (iya, aku anggota setia #nyekerdikantor). Trus jadi kangen mereka kan nih...

Mlekom,
AZ

Sunday, February 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:24:00 PM | No comments

Besok Senin

Apa yang paling dirindukan perantau asal Yogya? Buatku, tentu pulang kampung di tiap akhir pekan, mudik. Yogya selalu punya magnet yang menarik-narik para perantaunya untuk pulang, dan pulang.

Bagaimana tidak. Selain bertabur kegiatan seni dan budaya, akhir pekan di Yogya juga menawarkan aktivitas sosial yang membangkitkan semangat bermasyarakat. Jika kamu merasa mengenal Yogya dan tidak tahu tentang gerakan @wargaberdaya (WB), kuberikan kamu kata ini: ter la lu.

Semangat "warga berdaya" coba memantau perkembangan kota dan mengkritisi hubungannya terhadap kepentingan warga kebanyakan. Kritis tidak dilakukan dengan konvoi menakutkan, teriak di corong toa, blokir jalan dengan bakar ban, lempar bom molotov ke kantor-kantor penyelenggara negara, atau aksi-aksi lain yang akhirnya nyaris selalu bisa ditebak: ricuh, ada yang ditangkap, dst.

Coba cek apa yang dilakukan teman-teman WB di wargaberdaya.wordpress.com deh! Mereka ngecat sendiri jalur sepeda yang belum disediakan pemerintah. Memanfaatkan Titik Nol sebagai bentuk protes akan hilangnya ruang bermain anak akibat pertumbuhan hotel yang masif. Mandi dengan gayung berisi pasir sebagai bentuk keprihatinan hilangnya air sumur warga akibat, lagi-lagi pembangunan hotel.

Hari ini semangat warga berdaya menebar cinta dengan membagikan bibit tanaman pangan kepada warga yang melintas di jalan. "Tanam tanaman, bukan beton" adalah semangat yang diusung. Siangnya mereka bergabung dengan gerakan lain yang menyorot isu nasional, pelemahan KPK. Jika saja akhir pekan ini aku berada di Yogya, kamu tahu di mana harus mencariku :p

Pertunjukan seni dan jelajah pusaka, mungkin dua hal yang kurindukan dari Yogya. Namun keduanya bisa kudapat dengan tidak begitu sulit di Jakarta. Namun semangat aktivisme warga untuk mengkritisi kebijakan penyelenggara negara, adalah atmosfer yang belum pernah kudapat di sini.

Kangen! Begitu kataku pada si mas-mas yang juga aktif di sana. Rindu sekali ingin ikut berkontribusi dalam semangat warga yang seguyub itu. Lagipula, ini adalah cara yang oke banget untuk mengisi akhir pekan agar berkulitas :)

Besok Senin. Apakah akhir pekanmu berkualitas?

Meski tidak merasakan aroma aktivisme ala Yogya, aku bisa menjawab "Ya!" dengan mantap untuk pertanyaan di atas. Meski kualitasnya hanya dirasakan bermanfaat bagi diri sendiri, kemarin aku belanja di pasar, mencuci dan memasak. Hari ini bekerja untuk agenda kantor. Bukan itu kualitas? :)

Oh ya, selamat hari kasih sayang bagi yang merayakan :*

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Tuesday, February 9, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:51:00 PM | No comments

Si Ahli Kasih Sayang

Setelah 5 dokter dengan 3 spesialisasi berbeda dari 3 rumah sakit berbeda, hari ini varicella zoster yang mendekam di tubuhku dipastikan tidak akan menular ke orang di sekitar. Setelah berapa tetes darah untuk laboratorium (akibat awalnya diduga demam berdarah), 159 butir obat + vitamin minum, serta 3 macam obat oles dan 1 macam obat kumur. Setelah 16 hari mendekam di rumah + 6 kali bersua dokter.

Setelah ahli penyakit dalam, kulit & THT, ada satu ahli lain yang sangat berjasa untuk mempermudahku menghadapi penyakit menyebalkan ini. Dialah si ahli kasih sayang, Ibu Zulivan, mamaku.

Setelah air mandi hangat berisi cairan antiseptik yang disediakannya 2 sampai 3x sehari. Setelah usapan hangat di tiap jengkal tubuhku saat ia mengoles obat, sementara aku merasa jijik dengan bentol-bentol menakjubkan itu. Setelah nasi lembut yang ia masak khusus, bahkan menanaknya menjadi bubur ketika virus blagu membuat nyeri telan di tenggorokan & sariawan di sejumlah titik. Setelah jus buah-buahan penghasil vitamin C yang tiap hari dibuatnya untuk tingkatkan daya tahan tubuh.

Juga setelah dua orang lain yang menjawab "enggak, biasa aja" ketika kutanya apakah mereka jijik dengan kulitku. Setelah mereka sibuk mengantar jemput ke dokter atau membeli obat atau makanan yang kuinginkan. Bapak Zulivan & Zulivan Putra.

Juga setelah kamu yang tiap hari menanyakan perkembanganku. Kamu, iya kamu! :)

Trims buat kalian semua. Terutama buat mama, mama, mama (kudu 3x sesuai sunnah).

Peluk cium buat ‪#‎MamakAwak‬ yang enggak pernah baca blogku :*

Akhirnya, besok aku ngantor!

Oh ya, hari ini mamaku masak heboh agar aku bisa membawa lauk untuk dimakan (baca: dihangatkan) sampai dua pekan ke depan (see!). Sore ini sebelum arisan, ia sibuk otak atik oven. Ia membayar janji, ketika kujawab "fruit cake" untuk pertanyaannya di hari pertama aku ke Yogya: Mau dibuatin makanan apa?

Aku jadi sedikit menyesal bikin mama capek :( Mama buatkan 3 loyang kecil: 2 buatku + 1 untuk di rumah Yogya.

Buat penghuni lantai 21, besok main-main lah ke ruanganku s:)

Mlekom,
AZ


Friday, February 5, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:43:00 PM | No comments

Aku Bahkan Tak Tahu Namamu, Pak!


Melihat gambar milik Polres Kota Yogyakarta ini, ingatanku terlempar ke 25 tahun lalu :)

Kami tinggal di perumahan yang diperuntukkan bagi pegawai kantor papaku. Berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari sekolahku di TK Pelangi di Kutacane. Coba tunjuk tangan, berapa orang di sini yang tahu di mana Kutacane itu?

Tiap pagi aku dan anak-anak sekolah di komplek kami diantar dengan mobil kantor, begitu pula pulangnya bagi anak-anak TK & SD kelas 1-2 yang usai kelas tengah hari (anak kelas selanjutnya yang pulang lebih siang tidak dijemput).

Ini adalah hari-hari awal sekolah. Suatu hari mobil kantor tidak menjemput. Dua teman sebayaku di komplek yang bersekolah di tempat sama, pulang dengan angkutan umum. Aku enggak berani, enggak mau ikut ajakan mereka.

Lewat tengah hari, aku mulai menangis. Sendirian di sekolah, guru-guru pun sudah pergi (sekarang jadi mikir, kok bisa ya guru pulang duluan sebelum muridnya pulang?!). Tiba-tiba seorang bapak paruh baya (kalau hari ini aku bisa tebak usianya sekita 50an tahun) mengendarai sepeda motor, bertanya mengapa aku menangis.

Aku jelaskan bahwa aku tidak dijemput. Si bapak tanya, dimana rumahku. Aku cuma menggeleng dengan suara terisak, "Enggak tahu". Ketika bapak ini menunjuk "Ke sana (mengarahkan telunjuknya ke arah depan tubuhnya) atau ke sana (telunjuk mengarah belakang punggung)? Akupun dapat menunjuk arah yang benar.

Si bapak membantuku naik ke atas jok belakang sepeda motornya. Sepanjang jalan dia mengajakku berbicara, menanyakan apakah di situ rumahku, tiap kami lewati sebuah kantor. Kantor-kantor pemerintah/BUMN di kota kecil biasanya terletak satu kompleks dengan perumahan pegawainya. Rumah-rumah ini biasanya diperuntukkan sebagai tempat tinggal bagi pegawai yang bukan warga setempat. Logatku yang tidak seperti orang lokal, mungkin, yang membuat si bapak yakin bahwa aku adalah penghuni salah satu perumahan di sana.

"Itu rumahnya!" teriakku ketika sepeda motor melaju pelan melewati gerbang kompleks kami. Sedikit berputar balik, sepeda motor langsung diarahkan ke halaman di balik pagar. Aku langsung menuju ruang kerja papa. Sedikit gambaran, kantor berada di bagian depan komplek, lalu perumahan di belakangnya, ada lapangan olahraga diantara keduanya.

Papaku langsung menggendong aku, keluar menemui si bapak. Mengucapkan terima kasih dsb. Kemudian papa menggendongku ke Kede (toko menjual aneka jajanan) di samping kompleks. Papa pikir aku sudah dijemput supir kantor, sebab papa sudah melihat temanku pulang, temanku yang naik angkot tadi.

Sebagai permintaan maaf (pa, kok bisa???!), papa membiarkanku memilih jajanan apapun yang kumau. Opak asin, opak pedas & biskuit sepanjang lidi yang dicelup ke coklat encer (apa ya namanya). Tiga jajanan ini yang masih kuingat.

Kebayang ya jika peristiwa ini terjadi di jaman sekarang dan bukan di kota kecil seperti Kutacane.

Trims pada bapak pahlawan kehidupanku. Sayang aku bahkan tak tahu namamu, pak! Trims!

*dan adek di foto ini, semoga mendapat pengalaman baik sepertiku.

Mlekom,
AZ


Tuesday, February 2, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 6:05:00 PM | No comments

Tanya Saja pada Rumput yang Bergoyang

Coba tanyakan pada orang Medan, apakah pernah ke Tjong A Fie Mansion di Medan. Lalu tanyakan pula, apakah pernah ke Cheong Fatt Tze Mansion di Penang. Aku yakin, untuk jawaban "pernah" akan dimenangkan oleh mansion kedua.

Malaysia, terutama Penang, sudah menjadi semacam "kabupaten" lain bagi orang Medan. Berobat adalah alasan paling banyak untuk mengunjungi pulau yang oleh orang Medan, sebagaimana orang Penang asli, diucapkan dengan "pi-neng" ini.

Aku juga menanyakan bapak taksi, apakah wisatawan juga mengunjungi mansion ini. Menurutnya ya, jika wisatawan asing. Wisatawan lokal sangat jarang. Menurutnya, wisatawan lokal begitu datang langsung ke Brastagi atau Danau Toba, sedangkan kota Medan hanya untuk makan-makan enak dan membeli oleh-oleh.

Tentu saja tak ada yang salah dengan pemilihan tempat wisata, sebab itu soal ketertarikan. Namun untuk obyek wisata yang sama, ketika orang Medan tidak tertarik ke obyek yang ada di kotanya namun tertarik pada obyek yang ada di negeri orang, bukankah ada yang salah di sini?

Menjawab "Tidak, tidak ada yang salah" juga tidak apa-apa sih. Begitu juga ketika aku bilang "Iya, memang ada yang salah" :)

Jadi siapa nih yang mau disalahkan? 
  1. Salahkan pemerintah yang tidak mengemas informasi mengenai wisata lokal.
  2. Salahkan orang Medan yang lebih tertarik meninggalkan jejak di tempat wisata negara lain daripada di negeri sendiri.
Mengapa orang Medan lebih tertarik ke Cheong Fatt Tze Mansion? Karena rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput sendiri--mungkin. Lalu, apa dampaknya? Hummm, coba tanya saja pada rumput yang bergoyang...

Ya maap jika tidak menjawab :) Ini juga menjadi kegelisahanku sebagai seorang anak Medan :(

Yang atas gambar mansion di Medan, yang bawah di Penang. Diambil awal Agustus 2015.

Mlekom,
AZ


Monday, February 1, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:28:00 PM | No comments

Masjid Tua di Pekojan Jakarta

Di wilayah kerajaan Jawa, masjid besar seringkali menjadi penanda adanya kampung muslim. Biasanya, kampung yang disebut Kauman ini, berada di sekitar lokasi tempat berdirinya masjid. Para penduduk Kauman lah yang sehari-hari bertugas menghidupi masjid. Yang disebut masjid besar adalah masjid yang sampai di kemudian hari (baca: sekarang) tetap menjadi masjid utama yang menjadi simbol pemerintahan, hingga di masa kini.

Jika membandingkan dengan Jakarta, agak sulit melihat konteks tersebut. Bangunan mana yang merupakan masjid utama dan menjadi simbol keagamaan? Jika mengacu konsep Catur Gatra Tunggal, mungkinkah Istiqlal beserta istana negara (sebagai representasi unsur pemerintahan, meski dibangun di jaman berbeda), serta Lapangan Monas (alun-alun, representasi ruang publik penghubung penguasa dan rakyat). Lalu mana pasar besar? Pasar terdekat sepertinya Tanah Abang, tapi itupun jauh (dekat tapi jauh hahaha) dan tidak pas membentuk catur gatra tunggal.

1. Papan BCB Al-Anshor. Jadi jemuran :(
Sulitnya menemukan masjid besar ini, membuat orang awam tak terlalu mudah menebak di mana kampung muslim ala Kampung Kauman di Jawa. Sejarah muslim Jakarta tentu tidak dimulai dari pembangunan Masjid Istiqlal oleh Soekarno (1951), namun jauh sebelum itu saat wilayah ini masih bernama Sunda Kelapa di bawah pemerintahan Padjajaran (awal abad ke-15). 

Saat itu diyakini, kedatangan awal Islam dibawa oleh ulama dari Champa. Masuknya pedagang muslim asal Cina, Arab dan Gujarat juga memberi pengaruh besar lewat pernikahan dengan penduduk lokal. Masjid Al Anshor di Kampung Koja diyakini sebagai masjid tertua di Jakarta.


Kampung Koja terletak di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Nama Koja (Khoja) berasal dari sebutan bagi pedagang India muslim asal Bengali yang banyak menetap di jaman itu. Kini wilayah tersebut disebut Pekojan.


Di masa selanjutnya, Belanda membuat aturan agar seluruh pendatang dari Hadramaut harus menetap di Pekojan. Sejak itu, Pekojan dikenal dengan Kampung Arab dan meluas hingga wilayah Sawah Besar dan Condet. Kini sulit menemukan keturunan India di Pekojan, adapun warga keturunan Arab tinggal sekitar 10%, dan sisanya adalah warga Tionghoa.


Meski letaknya menyempil di dalam perkampungan padat penduduk, Pekojan pantas ditelusuri untuk melihat jejak persemaian Islam di Jakarta. Jejak-jejak ini masih terlihat utuh dari sejumlah bangunan masjid yang dibangun sejak masa muslim India hingga Arab. 



2. Mihrab Al-Anshor.
1. Masjid Al Anshor (1648)
Tak begitu mudah mencari letak masjid tertua di Jakarta ini. Keempat sisi bangunannya diapit rumah penduduk dengan jarak yang hanya dapat dilewati pejalan kaki. Sayangnya tak ada yang tampak lama dari bangunan masjid yang terletak di Gang Pengukiran II ini. Masjid ini terus mengalami perombakan bangunan, seperti gambar ini saat aku datangi akhir Juni 2015. Bangunan selain diperluas ke depan, juga ke atas menjadi bertingkat. 
3. Pintu depan Al-Anshor. Seperti rumah tinggal kekinian.
Perombakan total ini nantinya tentu akan menghilangkan ciri asli bangunan. Padahal, bangunan ini telah menjadi benda cagar budaya (BCB) provinsi sejak 1972. Menyedihkan memang, namun pusaka seringkali kalah atas kepentingan publik. Atas nama agama, dan jumlah warga yang menggunakan masjid ini semakin banyak, maka memori hanyalah angin lalu.



4. Ar Raudhah, sangat terawat.
2. Mushola Ar Raudhah (1887)
Tak seperti masjid sebelumnya, melihat bangunan ini kita bisa tahu betapa tuanya masjid ini. Bangunannya mengingatkanku pada bangunan di Kotagede Yogyakarta, terutama pada bagian jendela. Ini mengikuti arsitektur rumah Betawi. Daun jendela dan pintu berbahan kayu yang terdapat pada masjid yang terletak di Jalan Pekojan I Gg 3 ini, sepertinya masih asli.

Masjid bernama lengkap Ar Raudhah Shahabuddin ini didirikan keturunan Arab. Awalnya dikhususkan bagi jamaah perempuan. Di kemudian hari di masjid inilah berdiri Jamiatul Khair, organisasi pendidikan Islam tertua di Jakarta (1901). Banyak tokoh Islam lahir dari gerakan ini, seperti KH Dahlan, HOS Tjokroaminoto, H Samanhudi, hingga H Agus Salim. 




5. Manara Annawier.
3. Masjid Jami Annawier (1760)
Terletak di Jalan Pekojan Raya No 71, inilah masjid tua Pekojan dengan bangunan termegah. Sayang aku tidak punya foto dalam bangunan yang berupa tiang-tiang megah berjumlah banyak. Tiang-tiang ini bergaya eropa klasik.

Masjid ini didirikan oleh ulama Hadramaut keturunan Nabi Muhammad SAW dari putrinya Fatimah. Aku beruntung bisa menyaksikan matahari tenggelam dari menaranya.




6. Pintu lantai dasar menuju ruang utama Langgar Tinggi.
4. Langgar Tinggi (1829)
Tampak luar, bangunan ini mirip dengan Langgar Dhuwur tempat bergiat KH Ahmad Dahlan di Kauman Yogya. Bangunan ini terdiri atas dua lantai. Lantai pertama ada tempat wudhu dan kediaman pengurus masjid, lantai kedua tempat sembahyang.

Bahan utama bangunan terbuat dari tembok, sedangkan ornamennya berupa kayu. Arsitektur masjid dipengaruhi berbagai gaya, yaitu Eropa, Tionghoa dan Jawa. Menurut pengurus masjid, masjid ini ramai dikunjungi keturunan Arab di sepekan sebelum Idul Fitri. Mereka akan memasak beragam menu makanan Arab untuk dibagikan kepada warga dan masyarakat yang berkunjung.


7. Tampak dalam Langgar Tinggi.


Entah masih ada masjid tua lain di Pekojan atau tidak. Jika berkesempatan ke sana lagi, informasi ini akan kuperbarui. Untuk bahan bacaan bisa kunjungi blog milik Alwi Shahab. Foto 4, 5 dan 6 dibidik Mas Fatur. Trims untuk Uci yang sudah mengantar berkeliling.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 4:02:00 PM | No comments

Mama dan Belanja Bulanan yang Ribet

Untuk pertama kali setelah masa kanak-kanak, aku bahagia diajak pergi untuk belanja bulanan. Iya, waktu kecil kan pasti sumringah diajak ke pasar dan toko di berbagai kota yang kami tinggali di masa kecilku. Atau ke emol, ketika kami berkesempatan ke kota yang lebih besar di awal-awal bulan.

Usai masa kanak-kanak, lebih senang menolak. Ketika diajak malah sering tolak-tolakan sama adek, sebab belanja bulanan berarti harus nyupirin mama & bantu angkat-angkat belanjaan (anak durhaka!). Masuk masa pensiun dan tinggal di Yogya, papa menjadi pendamping setia mama belanja bulanan di Toko Progo dan Pasar Bringharjo. 

Iya, kami nyaris tidak pernah ke emol lagi untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Dan ini bukan promosi Toko Progo atau Pasar Bringharjo lho ya :) 
Eh sebentar, sudah ke Progo, kenapa masih di Bringharjo? Kan bisa beli semua kebutuhan di Progo saja atau di Bringharjo saja?

Mamaku sih gak bisa! Mama belanja sabun dan sejenisnya di Progo. Sedangkan garam dan bumbu dapur kering lain, di Bringharjo. Alasannya, barang-barang Progo pasti cepat habis, jadi bisa memastikan shampoo yang kami pakai adalah hasil produksi baru. Mentega, tepung, mie kering dll juga belanja di sini.

Enggak takut garam dan bumbu lain produk lama di Bringharjo? Kata mama, enggak. Aku lupa penjelasannya bagaimana, tapi dia selalu bilang: berbagi rejeki. 

Tiap masuk bagian belakangan bangunan Pasar Bringharjo yang berbatasan dengan Toko Progo itu, mama selalu disambut ibu-ibu buruh gendong yang sudah mengenalnya. [Ih jadi teringat, waktu mata kuliah Fotografi di Ilmu Komunikasi, aku ambil foto ibu-ibu buruh gendong ini untuk tugas akhir Foto Esai lho!].

Akhirnya tentu hanya satu-dua orang yang jasanya digunakan mama untuk mengangkat gula merah, asam jawa, dst dari lantai atas ke bagasi di parkiran yang biasanya di dekat pagar pasar. Beberapa ibu lain yang menawarkan jasa namun tidak kebagian mengangkat barang-barang mama, biasanya diberi salam tempel.

Di Bringharjo, mama juga belanja bahan basah untuk sebulan, seperti cabe, kentang, kacang tanah, bawang, dst. Ditambah bahan-bahan makanan untuk beberapa hari ke depan, seperti sayur mayur, ikan dan buah.

Oh itu belum semua. Jelang daerah rumah kami, mama mampir lagi ke sebuah toko sembako. Di sana beli beras--kami yang orang Sumatra sangat memilih-milih beras, enggak mau yang pulen seperti favorit kebanyakan orang Jawa. Menurut mama, toko langganannya ini punya beras sesuai keinginan. Di sana juga beli telor, karena alasan: mending beli sudah dekat rumah, gak khawatir pecah saat diangkut dari pasar toh memang akan mampir ke sini juga. Ya ya, alasannya boleh deh ma, boleh!

Trus kalo bahan-bahan kuenya habis (masak kue kan gak sesering masak lauk pauk ya!), masih ditambah dengan perhentian lain: toko bahan kue yang juga di dekat rumah kami. Sebenarnya di Toko Progo sih ada saja, tapi pasti lebih banyak pilihan di tempat ini. Ya ya, alasannya masih boleh deh ma, boleh!

Mamaku ribet yak! 
Itu berapa lama coba belanjanya. Biasanya sih berangkat segera setelah dzuhur, tiba di rumah lagi setelah ashar nyaris berakhir.

Nah tadi pagi, setelah 7 hari tidak keluar rumah akibat chickenpox, aku bahagia diajak belanja bulanan. Lalu mama lihat bintil-bintil di badanku, menghitung masa penularan seperti kata dokter, dan memutuskan: Adek di rumah dulu aja ya, itu belum kering semua. Nanti kalo udah sehat, kita jalan-jalan. Maunya ke mana? Pantai?

Sebab kata mama adalah 'titah', maka inilah aku, sunyi sepi sendiri sejak ditinggal pergi :(

"Makkk, kelen lama kali pun baleknya!" Tertanda, Anakmu.

Itu gambar Mrs Owl kok persis Mamak Awak yak :p

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 12:58:00 AM | No comments

Restu adalah Hak Anak, Ortu Wajib Berikan

Suatu hari pernah ngobrol sama Bunga, tentang film-film Indonesia bertema percintaan beda agama. "Dipikir-pikir emang jarang ya film yang mengisahkan nikah beda agama yang lancar jaya. Wajar orang banyak pikir itu ga mungkin terjadi... Pilihannya: kawin basa-basi trus si cewek mati di "Ayat-ayat Cinta", cowoknya pindah agama di "?", atau putus di "cin(t)a"," kata Bunga.

Bener juga. Meski awal konfliknya menarik, ujungnya menggambarkan situasi dimana keyakinan selalu berada di posisi kalah atau mengalah. Ada saja tokoh yang kemudian menyerah (mengalah?) pada situasi perbedaan yang dialaminya.  


Film "Ayat-ayat Cinta" mungkin yang paling mudah ditebak alurnya dan jadi pengen bilang "yaampun, naif banget pindah agama cuma buat nikah!". Lelaki yang tadinya membenci Islam, akhirnya membaca syahadat di ujung film "?". Film "cin(T)a" yang kutonton saat kuliah itu, ceritakan kekalahan (kemengalahan?) si perempuan yang meninggalkan pacar Katoliknya dan menikah dengan muslim pilihan orangtua. 


Kemudian, aku juga sempat menonton film "Cinta Tapi Beda". Nah, ini salah satu film multikultur yang benar-benar beda. Meski pengen bilang "enggak mungkin banget ada ibu bilang gitu ke anaknya" tentang pesan si ibu perempuan (Kristen) yang batal menikahi pilihan sang ibu; bagiku ada pesan kuat dari ibu si tokoh laki-laki (Islam). Begini kata ibunya (menit ke 01:28:44 sampe ditulis cobak!): "Tugas kita sebagai orangtua adalah menyayangi, mendidik dan mengingatkan segala konsekuensinya. Itu sudah lebih dari cukup. Restu adalah hak anak. Kita, orangtua, wajib hukumnya untuk memberikan."


Oh aku pikir, pesan ini memang ada dalam Islam meski tidak dalam konteks mensahkan nikah berbeda agama. Hum, jika saja pesan ini dipahami dalam konteks lebih luas, semisal pernikahan yang terkendala akibat beda suku, latar belakang keluarga, pendidikan, finansial (yes!), dan segala tetek bengek lainnya, mungkin sunnah berpasang-pasangan itu akan lebih mulus jalannya :) #curcol


Nah malam ini nonton "Arranged" (2007), tentang dua perempuan Amerika beragama minoritas yang kesulitan mencari jodoh. Menurutku film ini menarik. Meski lagi-lagi soal percintaan (baca, di sini: perjodohan), tak melulu yang digambarkan tentang pemberontakan hati akibat larangan cinta pada pasangan dari agama berbeda.


Daftar film-film tema sejenis (lokal dan interlokal eh internasional) akan terus aku perbaharui di sini, beserta tautan yang bisa kalian tonton:

  1. cin(t)a
  2. Ayat-ayat Cinta
  3. ?
  4. Cinta tapi Beda
  5. Mursala (tentang marga Batak yang tidak dapat menikah, kemudian menyerah dan nikah dengan pariban)
  6. Arranged 
  7. Romi dan Juli dari Cikeusik (perempuan Islam 'arus utama' jatuh cinta pada laki-laki muslim Ahmadiyah, cinta terganjal keluarga sampai mati. Ah gak seru klo tokohnya mati hehehe. | Ini adalah satu dari lima film garapan Hanung dan Denny JA (lupakan sebentar kasus Denny vs Saut ya) tentang multikultur yang menarik disimak).
Sayang, sejumlah kelompok memberi cap "liberal" pada film-film jenis ini. Ya gpp juga sih :) Selamat menonton dan belajar menghargai perbedaan!

Mlekom,

AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata