Thursday, April 28, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 1:58:00 PM | No comments

Kota Ramah Lingkungan Dimulai dari Trotoar yang Nyaman


Maju tidaknya sebuah kota dapat dilihat dari kondisi trotoarnya. Sebab trotoarlah panggung keseharian dimana manusia kota dan aktifitasnya saling bersinggungan.

Di kota-kota besar di Indonesia, perputaran ekonomi yang sebenarnya terjadi nyata di trotoar. Pedagang asongan, warung tenda, parkiran kendaraan dan seterusnya, berlangsung di atas trotoar. Bahkan di sebagian sudut kota megapolitan Indonesia, terbangun rumah non permanen yang menjadi tempat tinggal manusia yang dimarjinalkan kota.

Kondisi tersebut memang menciptakan perekonomian, namun hanya bagi sebagian orang seperti pedagang dan juru parkir. Pihak lain--yaitu publik yang lebih luas, justru merasakan dampak sebaliknya. Misalnya, warga penyandang disabilitas tertabrak warung yang beroperasi di atas trotoar, atau kemacetan akibat parkir yang memakan trotoar.

Coba bandingkan kondisi ini dengan trotoar di negara maju. Yang terdekat saja lah, Singapur misalnya, yang sangat memanjakan pejalan kaki. Warga dan pendatang di sana memilih berjalan kaki dengan berbagai alasan. 

Selain trotoar yang nyaman, mahalnya harga yang harus dibayar untuk kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi--pajak dan bahan bakar, membuat warga rela berjalan lebih banyak untuk mencapai stasiun MRT.


Kali ini tak perlu berdebat tentang hak pejalan kaki versus urusan perut orang-orang yang hidup dan menghidupi diri di atas trotoar. Mari berbicara tentang dampak positif dari ramainya orang berjalan kaki akibat kondisi trotoar yang nyaman:
  1. Pengurangan gas buang emisi.
  2. Mengurangi kepadatan kendaraan. Pejalan akan lebih memilih transportasi umum, tentu saja.
  3. Mengurangi sampah visual. Tak perlu lagi banner dan baliho esar yang mengganggu pemandangan, sebab pejalan kaki dapat langsung membaca tulisan promosi yang terletak tak jauh jaraknya dari trotoar tempatnya berjalan. Bukankan baliho dan alat promosi luar ruang lainnya memang diperuntukkan bagi pengguna kendaraan bermotor?
  4. Mendekatkan pedagang kepada konsumen. Bayangkan sensasi melewati deretan etalase toko 'fisik', dan bandingkan dengan klik gambar produk yang dipilih di toko online. Toko yang secara fisik ada, memungkinkan pembeli untuk melihat, memegang dan membaui barang yang diinginkan dan barang itu dapat segera berada di tangan pembeli tanpa menunggu waktu kirim.
  5. Tentu saja membuat warga menjadi sehat.
Mari sepakati bahwa untuk mewujudkan kota ramah lingkungan, salah satunya dapat dimulai dengan penyediaan trotoar yang nyaman. Indonesia memang belum menjadi negara maju, namun mewujudkannya bukan tidak mungkin jika pemerintah dan warga saling mendukung.

Mlekom,
AZ


Wednesday, April 27, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:18:00 PM | No comments

Toples Polkadot


Dua minggu lalu menemukan banyak makanan kadaluarsa di tempat penyimpanan makanan di kosan. Semalam demi tidak kejadian lagi, diniatin bawa makanan ke kantor.

Toh di kantor suka kelaparan, sedangkan di kos cuma numpang tidur. Juga sekalian memberdayakan toples yang sudah dibeli hampir setahun lalu cuma karena desainnya polkadot :p

Mampir-mampirlah ke sini!

Mlekom,
AZ
Aku terlahir dari ayah yang seorang pegawai negeri sipil, yang menuntut ayah untuk berpindah-pindah lokasi tugas untuk promosi pekerjaannya. Ini alasan mengapa aku sudah mengalami hidup berpindah-pindah, sejak usia 3 tahun.

Kota pertama yang kami jadikan tempat menetap sementara terletak di provinsi paling barat. Bukan kota besar, melainkan ibukota kabupaten yang berjarak 12 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Ya, waktu itu cuma dapat ditempuh dengan jalur darat, melalui jalan raya yang membelah pegunungan, dengan kanan-kiri berupa jurang terjal.

Sebagai kabupaten baru, menurut cerita, kota ini dibangun dengan membabat hutan belantara. Pantas saja, sebab ia berada di dekat areal hutan lindung Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL). TNGL merupakan satu dari 50 taman nasional yang ada di Indonesia, termasuk dalam daftar unit Situs Warisan Dunia kategori World Network of Biosphere Reserves. Mungkin ini yang menjadi alasan aktor Hollywod Leonardo Dicaprio mengunjungi kawasan ini awal April lalu.

Hidup di lingkungan yang katanya bekas hutan, dan masih dalam wilayah sekitar Taman Nasional, membuat serangga ordo diptera bernama nyamuk, menjadi 'tamu' yang paling rajin mendatangi rumah kami. Meskipun kami menjalankan perilaku idup bers9h dan sehat (PHBS) yang dianjurkan Kementerian Kesehatan itu.

Selain obat nyamur bakar berbentuk lilitan melingkar, di jaman itu sudah ada anti nyamuk semprot dan elektrik. Lalu disusul dengan beragam produk losyen. Keluarga kami menggunakan jenis semprot dan elektrik, sampai hari ini.

Sampai pensiun, ayahku terus dipindah-tugaskan ke berbagai daerah di Indonesia. Dari yang sebelumnya tidak terlalu sering, hingga menjadi sangat sering selama dua sampai tiga tahun sekali. Pengalaman kami berpindah-pindah membuatku tahu, bahwa nyamuk tak hanya ada di daerah-daerah terpencil, namun juga kota besar seperti Jakarta. "Wah, nyamuk Jakarta sebesar lalat!," kata adikku waktu ayah kami ditugaskan di sana.

Untuk produk semprot dan elektrik, keluargaku selalu memasukkan merk HIT ke dalam kantong belanja bulanan. HIT obat nyamuk menjadi merk langganan sejak Indonesia mengalami masa krisis moneter menjelang akhir '90an. Pemilihan ini tentu dengan pertimbangan bahwa merk ini mampu bekerja efektif dan tidak membuat kantong bolong.

Kami juga tak memakan mentah-mentah isu yang beredar tentang bahaya bahan yang terkandung dalam produk HIT obat nyamuk. Selain bukti lamanya kami mengonsumsi produk ini, juga kami memiliki tips menggunakan HIT obat naymuk.

Untuk HIT obat nyamuk semprot, gunakan di ruangan tertutup seperti kamar tidur. Semprot kamar setelah magrib, ketika nyamuk-nyamuk nakal mulai keluar dari peraduan. Tutup pintu kamar, pastikan tidak ada orang di dalam kamar. Tunggu setengah jam, kamar siap digunakan tanpa khawatir menghirup zat berbahaya.

Untuk HIT obat nyamuk elektrik, kami gunakan di ruang terbuka seperti ruang keluarga. Jangan letakkan alat ini dekat dengan penciuman. Meletakkannya di dekat sumber udara seperti jendela dan pintu akan lebih baik.

Itu cara kami. Mana caramu? :)

Mlekom,
AZ


*cerita ini diikutkan dalam lomba "Say It to HIT"

Monday, April 25, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:58:00 AM | No comments

45 Menit Jelang Jam Istirahat


45 menit jelang jam istirahat. Kantin sebuah kantor pusat pemeritahan di salah satu kementerian, sudah dipenuhi orang berseragam. 

Daripada iseng nanya "Istirahat kantor jam berapa?" ke salah seorang dari mereka, mending saya ngebaso aja. 

Ya gak?

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:52:00 AM | No comments

Dua Pekan Tanpa Hape

 

Nyaris dua pekan nggak punya hape berinternet (ciyusan!), ada perubahan menggembirakan:

  1. Lebih sering membaca buku yang selama ini lebih banyak dibeli dan lebih sedikit dibaca. Satu buku bisa saya habiskan dalam satu waktu sebelum tidur malam + satu waktu ketika bangun pagi sebelum beraktifitas. Paling lama 2 malam lah.
  2. Lebih banyak mencatat & membuat rencana. 
  3. Lebih menghargai kebersamaan dengan laptop, jika biasanya hanya digunakan untuk bekerja :) 
  4. Menjadi pemilik akun medsos yang elegan (uhuk!) sebab jadi tidak banci posting tongue emoticon

Kamu?

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Friday, April 22, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 12:28:00 PM | No comments

10 Anak Muda Bicarakan 10 Cara Melestarikan Pusaka

Selamat pagi!

Hari ini saya semangat sekali, menantikan sesi Pelestarian Pusaka di #JMR2016 Combine RI yang diadakan besok: Sabtu, 23 April 2016 pukul 15.30 di Jogja National Museum, Jl Amri Yahya No 1 Wirobrajan, Yogyakarta.

Saya bersemangat sebab di sesi ini akan ada 10 anak muda dari 5 kota berbeda dengan 10 aktivitas berbeda, yang melakukan pelestarian lewat beragam cara. Mereka adalah:

Abdullah Rofii, Warga Gresik. Sarjana arsitektur ini memilih pulang ke kampung halaman untuk menghidupkan tambak keluarga. Sebagai kota industri, Gresik memiliki persoalan lahan tidur yang oleh warga lebih mudah menjual kepada industri, daripada menggarapnya. Rofii menggarap lahan tidur miliknya hingga mampu menghasilkan berton-ton panenan ikan. Tertarikkah warga melakukan hal sama?

Adriani Zulivan, Indonesian Heritage Inventory - Pantau Pusaka Indonesia (Yogyakarta). Menangkap fenomena selfie dan booming aktivitas berjalan-jalan, bersama Elanto Wijoyono membangun sebuah sistem untuk menginventarisasi data sebaran pusaka yang tersebar di berbagai kawasan di Indonesia. Informasi ini bersifat crowdsourcing, dimana setiap orang dapat mengabarkan situasi terkini suatu bentuk pusaka http://heritageinventory.web.id/

Farid Ardian, Jakarta Good Guide (Jakarta). Jakarta bukan hanya mal, adalah hal yang ingin diceritakan Farid kepada seluruh pengunjung dan penduduk Jakarta. Komunitas ini melakukan tur berjalan kaki ke berbagai landmark ibukota, tanpa memasang tarif. "It's a pay as you wish tour," jelasnya. Bersama Chanda Aditio, Farid memulai kegiatan ini di tahun 2014 https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Hari Kurniawan, Roemah Toea (Yogyakarta). Dimulai dari kecintaan anggotanya kepada kereta api, komunitas ini mendatangi berbagai stasiun kereta api tua dan melacak sejarah yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini berkembang menjadi kegiatan pendokumentasian bangunan tua. Mereka dipercaya Pt Kai Daop 6 Yogyakarta untuk mengelola Stasiun Maguwo lama, menjadikan tempat yang dulunya angker ini menjadi sebuah ruang belajar komunitas https://www.facebook.com/roemah.toea/

Imam Zakaria, Kamisketsa, Yogyakarta. Selain bergabung di Kotagede Heritage Trail (Jelajah Pusaka Kotagede), Imam juga menggambar sketsa beragam makanan tradisional. Awalnya makanan khas Kotagede, kemudian melebar ke berbagai makanan tradisional lainnya. Melihat karyanya membuat lidah berdecap, akan gambar-gambar yang terlihat nyata  https://www.instagram.com/kamisketsa/

Kusumaningdyah Nurul Handayani atau Kusuma Rully,  URDCRG (Solo). Bersama murid dan sejumlah pemerhati, ibu dosen ini membentuk Urban-Rural Design and Conservation Research Group (URDCRG) di Fakultas Teknik Arsitektur UNS. Salah satu kegiatan utama kelompoknya adalah mengadakan jelajah pusaka untuk cultural mapping. Hasilnya digunakan untuk perencanaan kota berbasis pelestarian.

Novia Kristiana, Wayang Benges, Yogyakarta. Komunitas ini mengajak  masyarakat untuk tak sekadar mengenal, namun dapat membuat wayang. Suket (rumput) merupakan bahan utama dari wayang yang mereka buat. Selain mengadakan pelatihan pembuatan wayang suket, komunitas yang digagas Jantan Putra Bangsa ini juga membuat berbagai pertunjukan wayang www.wayangbenges.com

Priyo A. Sancoyo, Warga Pasuruan. Lulusan teknik arsitektur ini mengabdi pada organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah. Kedekatan dengan Muhammadiyah dan kecintaan pada isu pelestarian pusaka yang dipelajarinya di bangku kuliah, membangkitkan keinginannya untuk mengenalkan Kampung Kauman Yogyakarta. Ini adalah kampung tempat organisasi keagamaan besar bernama Muhammadiyah lahir, tempat tinggal KH Ahmad Dahlah yang merupakan salah satu kaum muda penggerak kebangsaan. Bersama pemuda Kampung Kauman, Priyo menyiapkan Jelajah Kauman Yogyakarta.

Anneke Putri Purwidyantari atau Putik Purwidyantari, Java Nira, (Yogyakarta). Bersama Agung Satriya Wibowo membangun social enterprize berbasis pariwisata berkelanjutan.Komunitas yang didirikan pada 2011 ini melibatkan masyarakat suatu daerah, dalam mengembangkan destinasi wisatanya. Mereka menciptakan area wisata baru di desa-desa dan kampung yang tidak pernah didatangi wisatawan http://www.javanira.com/

Purna Cipta, Kolektif Hysteria, Semarang. Menyebut diri sebagai Community Laboratory, kelompok ini mengajak anak muda untuk 'bermain-main' dengan isu seni dan kota. Bergiat sejak 2004, kelompok ini aktif menyelenggarakan kegiatan seni dan melibatkan warga dalam isu perkotaan http://grobakhysteria.or.id/

Mari berkumpul, berbagi dan bergerak di Jagongan Media Rakyat! http://jmr2016.combine.or.id/

Mlekom,
AZ

Monday, April 18, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:40:00 PM | No comments

Tangan Ibu Tak Lagi Menyisir Rambutku


Tengah malam itu, ibu mendatangi paman. Ibu memintanya untuk mengantarkan ke rumah sakit (RS). Ibu menitipkan kami kepada tetangga dekat. Pasangan suami-istri tetangga mengantarkan ibu. Ibu dibawa dengan becak didampingi si ibu tetangga, sedang suaminya mengikuti mereka dengan sepeda.

Samar-samar kegaduhan malam itu turut membangunkanku, namun aku terus melanjutkan tidur. Di usia 13 tahun, aku tak begitu paham apa yang terjadi. Yang kutahu, ibu akan memberikan adik lagi buatku.

Aku adalah anak pertama ibu dan bapak, dengan tiga adik berjarak usia sekitar dua tahun antara satu dengan yang lain. Sebenarnya ini adalah kehamilan keenam ibu, namun adik kelimaku meninggal di usia dua tahun akibat penyakit muntah-mencret.

Keesokan paginya, 9 Oktober 1965, kulihat genangan darah membeku di kamar mandi. Rasa ngeri menjalar di tubuhku, meski tak paham apa yang terjadi. Tak pernah kutahu bahwa kelahiran selalu diiringi darah.

Tak ada yang menunggui ibu di RS. Siang hari pihak rumah sakit mendatangi rumah kami, meminta keluarga untuk ke RS. Tak begitu jelas informasi yang kudapat. Aku dan ibu tetangga bergegas ke RS, mendapati ibu sudah meninggal akibat perdarahan hebat yang dialaminya. Bayi yang dikandung ibu pun tidak selamat, ia meninggal sejak di dalam kangdungan. Perdarahan hebat 

Semalam ibu ke kamar mandi, lalu terpeleset hingga pingsan. Dua jam kemudian ketika siuman, ibu mendatangi paman meminta diantar ke rumah sakit. Malam itu semua orang tertidur, tak ada yang mengetahui peristiwa tersebut sampai ibu menceritakannya kepada paman.

Malam hari bapak tiba di rumah. Ia sedang dalam perjalanan dinas di sebuah kota yang berjarak tiga jam perjalanan dari rumah kami. Bapak memeluk kami, keempat anaknya, di depan jasad ibu yang telah terbujur kaku.

Hari itu 51 tahun lalu, ibu kami Ramijah meninggal di usia cukup muda, 33 tahun. Meninggalkan bapak dan empat anak yang masih membutuhkannya. Aku ingat malam sebelum kejadian di kamar mandi itu, ibu menyisir rambut panjangku dengan tangannya, kegiatan yang sering kami lakukan berdua. 

Sejak itu, tangan lembut ibu tak lagi menyisiri rambut panjangku.

Azwinar (63), Medan, Sumut


Posted by adriani zulivan Posted on 4:06:00 PM | No comments

Andai Kartini Hidup Lebih Lama...



RA Kartini dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya mencerdaskan perempuan Indonesia. Jika saja Kartini tidak meninggal di usia muda,tak terkira banyaknya sumbangsih yang akan ia berikan bagi bangsa ini. 

Empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, 17 September 1904, Kartini meninggal dunia di usia 26 tahun akibat komplikasi persalinan yang tak dapat ditangani. Kartini diduga mengalami preeklampsia, yaitu tekanan darah tinggi akibat kelebihan kadar protein dalam urine, yang diikuti dengan kejang. 

Lebih dari 100 tahun sejak kematian Kartini, preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian ibu. Indonesia bahkan menjadi negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara. 

Akankah kita peduli?

Jika kamu punya kisah orang-orang terdekat yang 'pergi' akibat komplikasi persalinan, mari ceritakan untuk EMAS Indonesia

EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) merupakan sebuah program yang didanai oleh USAID (United Stated Agency for International Development). Sebagai program Penyelamatan Ibu dan Bayi, EMAS membantu Puskesmas dan Rumah Sakit di 6 provinsi dan 32 kabupaten/kota di Indonesia agar mampu menangani kondisi gawatdarurat pada ibu melahirkan dan bayi baru lahir. 


Mlekom,
AZ

Thursday, April 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:07:00 PM | No comments

Selamat Jalan, Pak Duha


Jika bicara perjuangan di masa kemerdekaan, bagiku Pak Melkhior Duha adalah pahlawan. Kegigihan beliau beserta keteguhan keluarga yang selalu mendukung, menyempurnakan perjuangannya.

Ia menjadi pahlawan bagi pusaka Ono Niha, menjadi titik perjuangan pelestarian budaya Nias. Berbicara dengan Pak Duha bukan hanya soal obrolan pertemanan, namun juga perjuangan untuk masa depan masyarakat dan budayanya.

Bangga rasanya pernah mengenal sosok ini. Seorang teman yang berlimpah pengetahuan, ayah yang menomorsatukan pendidikan anak, dan suami yang mencintai rumah.

Aku ingat sekali, ia memiliki cita-cita jangka pendek agar anak ketiga diterima di Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada. Serta cita-cita jangka panjang agar dapat membuat Museum Budaya Nias. Kuamini kedua cita-cita itu dan menuliskan ceritanya di sini 

Pagi tadi kutelepon Ibu Dina Waoma, istri Pak Duha yang sedang menguatkan diri di depan jenazah Pak Duha. Beliau berharap semua teman yang mengenal memaafkan segala kesalahan. Amin.

Indonesia sedang kehilangan salah satu pelestari terbaiknya. Selamat jalan, Pak Duha. Doakan kami memiliki keteguhan yang sama, agar dapat melanjutkan cita-cita perjuanganmu!

"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali..."

[Foto saat aku berkesempatan menginap di rumah keluarga Duha di Gunungsitoli Nias, Februari 2016]

Mlekom,
AZ

Monday, April 11, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Ina, Nia, Ana


Ina, Nia dan Ana. Tiga bayi kembar yang kehilangan ibu, segera setelah kelahiran mereka. Hari ini, empat bulan sudah usia ketiga bayi yang lahir prematur seberat 1,2 kg ini. Keteguhan Taufikkurohman, ayah mereka, merupakan kekuatan terbesar bagi ketiga bayi ini untuk bertahan menjadi bayi-bayi sehat.

Hari ini (11/04) kami senang dapat bertemu kembali dengan Pak Taufik dan ketiga putrinya ini. Doaku, semoga ketiganya selalu sehat dan menjadi perempuan-perempuan kebanggaan ayahnya.

"Undang saya jika mantu ketiga 'cewe' ini ya, Pak!" seruku ketika berpamitan :)

Cerita tentang tiga malaikat cantik ini pernah kutulis untuk EMAS Indonesia dan disalin di sini.

Mlekom,
AZ

Friday, April 8, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:31:00 PM | No comments

Dalam Doaku



Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya
yang setia mengusut rahasia demi rahasia
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu


[Sapardi Djoko Damono, Dari kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” 1989]

*
Sapardi Djoko Damono (SDD) merupakan salah satu penyair kesukaanku selain Gus Mus, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, dan masih banyak lagi di angkatan lama. Atau Afrizal Malna, Rako Prijanto, Rois Rinaldi, Medy Loekito, untuk yang lebih kontemporer.

Selasa (12/04) nanti, aku dan 75 orang lain diundang oleh Gramedia Pustaka Utama untuk membacakan puisi-puisi karangan SDD dalam bukunya "Hujan Bulan Juni". Aku akan membacakan puisi berjudul "Dalam Doaku" ini. 

Jangan lupa untuk datang, ya! :) 

Mlekom,
AZ 

Thursday, April 7, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:22:00 PM | No comments

I Love You... Telor Ceplok!


Pengalaman seharian ini bikin aku mengagumi telor ceplok. Sangat.
Pagi pesan makanan via jasa pengiriman, meski makanan yang dipengenin tetap gak selera. Makan hanya syarat agar bisa minum obat.

Siang dengan rasa pusing di daerah T, aku masak makanan yang aku pengen. Semua bahan ada di kulkas. Jadilah sayur tumis dan ikan goreng. Lagi masak tetiba mual, masakan diselesaikan asisten rumah, sementara aku tiduran selama nyaris sejam. Makannya? Tetap gak selera. Masakanku gak enak apa ya? :)

Malam mau pesen makanan online, sinyal hancur lebur. Mau keluar kepala masih berat. Sudah lebih jam 8. Akhirnya masak nasi sebanyak 2 takaran, ceplok telor. Yaampun nasinya habis 1/4. Alhamdulillah yah.
Dear telor ceplok, I love you!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 2:19:00 PM | No comments

Bonbin Sastra dan Tempe Gembus

Aku bukan anak Sastra, fakultas yang kini bernama Ilmu Budaya (FIB). Namun aku dan pastinya bayak anak Universitas Gadjah Mada (UGM) lain, memiliki kenangan di Bonbin, kantin fakultas ini.

Waktu aku masih kuliah, orang-orang bilang nama "Bonbin" yang merupakan pendekan dari "kebon binatang" itu, diambil sebagai gambaran betapa kumuhnya Fakultas Sastra waktu itu. Sebelum ada gedung baru, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat fakultas di Sastra berjajar dalam satu area di sudut kampus. Banyak mahasiswa yang tinggal di sini sehingga kampusnya jorok. Karena jorok, jadi seperti bonbin. Begitu versi yang aku tahu, beragam versi lain ada di sini.

Meski lebih sering nangkring di Kantin Mbok Galak di belakang Perpustakaan Fisipol--fakultasku, aku juga sering nongkrong di Bonbin. Itu jaman belum tertata rapi seperti sekarang, masih berupa gerobak dan bangku-bangku kayu seadany milik masing-masing pedagang. Harga nasi sayur telor di sana sekitar Rp 5.000,- sepertinya. Itupun sudah dengan es teh.

Bukan kantin favorit memang, apalagi jaman itu di sana belum ada air mengalir untuk mencuci bahan makanan ataupun alat makan. Tapi di sinilah aku pertama kali mengenal tempe gembus. Kalian yang tidak tahu itu apa, mampirlah ke sini. Di sini pula ketemu banyak teman yang sekarang menjadi "seseorang", mulai dari seniman sampai aktivis yang sering muncul di TV itu.

Tadi baca linimasa teman di Facebook, kantin ini akhirnya digusur juga setelah berbulan-bulan digugat oleh pecintanya. Untung saja bulan lalu sempat mampir dua kali ke sini, sekedar ngopi di pagi buta.

Atas perpindahan ini, Yu Par sang legenda Bonbin akan ikut mutasi ke tempat barunya di Lembah UGM, areal di timur kampus. Sedikit banyak aku dapat memahami keberatan teman-teman kelompok anti-relokasi: sebab kenangan adalah segalanya. #uhuk

"Kowe dudu cah UGM nek rung tau nang Bonbin," (kamu bukan anak UGM kalo belum pernah ke Bonbin) kata temenku jaman itu. Benar juga, setidaknya saya jadi tahu enaknya tempe gembus... #ganyambung

Soal penolakan relokasi bisa dicek di sini dan sini. Soal Aksi Penolakan Relokasi Bonbin hari ini (7/04) bisa dicek di sini dan sini. Foto tertanggal 26 Maret 2016 pagi, kali terakhir aku nongkrong di Bonbin.

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata