Showing posts with label rokok. Show all posts
Showing posts with label rokok. Show all posts

Tuesday, May 31, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 7:06:00 PM | No comments

Pak Presiden Joko Widodo, Selamatkan Kami


Jika hari ini aku ada di Yogya, aku pasti akan makan di warungnya Mas Jody. Tentu karena di hari ini, warung itu mengajak pelanggannya untuk sejenak memikirkan dampak dari asap rokok. Aku senang ada pengusaha yang memikirkan hajat hidup orang banyak, hal yang seringkali terlupa oleh pemerintahku.

Sebagai orang Indonesia, aku agak malu ketika mengetahui betapa pemerintahku alpa menjadikan kesehatan publik sebagai salah satu hal yang semestinya diutamakan.

Indonesia --negara yang di dalamnya terdapat satu dari lima pabrik produsen rokok terbesar di dunia, dengan angka perokok yang juga terbesar kelima di dunia-- seringkali lupa, bahwa menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FTTC) sama dengan menyelamatkan jutaan warganya.

Hari ini sekali lagi, aku mengajak pemerintahku untuk tidak lupa. Apa guna Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) diperingati pemerintahku di Kementerian Kesehatan setiap tahun, jika menterinya selalu alpa?

Sudahlah tentang devisa yang tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung negara untuk pengobatan. Sudahlah soal warisan budaya, yang semua orang paham bahwa warisan buruk harus disudahi. Sudahlah!

Pertanyaanya: Antara pemerintah dan pemilik warung, siapa yang lebih peduli pada hajat hidup orang banyak?

Pak Presiden Joko Widodo, selamat kami.

Mlekom,
AZ

Friday, October 2, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 5:39:00 PM | No comments

Pusaka Itu Batik, Bukan Rokok


Tahu mengapa batik adalah pusaka? Sebab di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai proses pembuatan (batik, di tik, titik), hal yang hanya diketahui oleh bangsa kita (awalnya dari Jawa bagian tengah, meski kemudian diadopsi berbagai daerah lain hingga luar negeri). Maka, proses pusaka apa yang dimiliki rokok, sehingga ia dijadikan pusaka?

Batik adalah pusaka tak benda (intangible heritage), sebab berupa pengetahuan tentang proses pembuatan. Sama dengan tarian, nasi kuning, dsb. Hal apa dari rokok yang dapat disebut sebagai intangible heritage?


Oh ya satu hal lagi; hal buruk di masa lalu, tak sebaiknya dilestarikan. Mungkin bisa dimulai dengan memasukkan rokok dan segala sejarahnya dke dalam museum. Agar abadi, tanpa menambah korban yang sudah sangat banyak akibat 'ulahnya'.

Selamat Hari Batik Indonesia!
Gambar atasa adalah saya dalam batik lurik yang diproduksi di sekitar Kasunanan Surakarta. Batik lurik? Kain tenun lurik yang kemudian dibatik.

Mlekom,
AZ

Wednesday, September 2, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 10:49:00 AM | No comments

Ketika Dia yang Bukan Perokok, Terpapar Asap Rokok

"Ibu ini perokok berat?" tanya dokter.
"Enggak. Sama sekali tidak," jawab keluarga.

Si ibu, pasien yang sedang koma itu, mengalami meningitis dan infeksi paru. Paru-parunya kering. "Persis seperti gambar paru-paru di iklan rokok itu," kata kakaknya.

Pasien berusia 34 tahun ini adalah seorang ibu rumah tangga. Hanya sebulan sejak penyakitnya ditemukan, ia meninggal.

Suami pasien adalah seorang perokok berat. Sejak kecil pasien juga jarang keluar rumah, sehingga sering terpapar asap rokok ayahnya. Ayahnya meninggal di usia 60 tahun akibat stroke dan gangguan paru-paru. Ibu mereka meninggal dua tahun lalu. 

Kini si kakak adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga kecil itu. Si kakak terbebas dari penyakit akibat asap rokok, sebab sewaktu kecil ia sering main ke luar rumah. Suaminya juga bukan perokok.

Menurut dokter, paru-paru demikian hanya akan didapat dari perokok yang sudah merokok selama puluhan tahun. Dokter juga mengatakan bahwa perokok pasif memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi dibanding perokok aktif.

Itu meninggal bukan karena polusi udara atau asap knalpot?
Pasien tinggal di dataran tinggi di daerah yang jauh dari kota. Apalagi kesehariannya hanya di rumah.

Bahwa suami dan bapaknya merokok di dalam rumah, adalah nyata.

Kini yang perlu diselamatkan adalah anak-anak pasien, yang saat ini tinggal dengan ayah mereka yang bahkan masih merokok di dalam rumah saat keluarga mengadakan tahlilan kematian instrinya.

*
Pagi tadi seorang teman menceritakan ini padaku, tentang sepupunya yang berpulang pekan lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...

Semoga menjadi pelajaran buat kita semua.

NB: Sebentar lagi para pro industri rokok akan cari tahu siapa pasien ini, lalu meminta dokter dan keluarga pasien untuk tidak bercerita pada media, apalagi kepada orang-orang pro pengendalian tembakau.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Thursday, May 7, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 8:21:00 PM | No comments

Tak Ada Sanksi Jika Merokok di Atas Kereta Api


Semua perjalanan kereta api adalah Tanpa Asap Rokok, tidak diperkenankan merokok di seluruh rangkaian kerta api, kedapatan merokok diatas kereta api akan diturunkan pada kesemoatan pertama.

Begitu bunyi 'pasal' 13 yang tercetak di belakang tiket.

Pasal 13 yang dilingkari Pak Teja, Masinis, u tuk menjawab pertanyaan saya saat dia memeriksa tiket:

Di sini boleh merokok, pak?
Tidak.
Di bordes?
Di seluruh rangkaian kereta tidak diperbolehkan.
Jika ada yang merokok?
Akan diminta untuk mencari angkutan lain, seperti yang tertulis di sini (menunjukkan poin yang dilingkarinya).
Bagaimana Bapak tahu kalau ada yang merokok?
Jika saya melihat...
Jika saya yang melihat?
Mohon diperingati.
Jika bapak yang melihat?
Jika saya yang melihat sendiri, akan berlaku sanksi ini.
Jika saya yang melihat, sanksi tidak berlaku?
.... (diam, mikir)
Gini aja pak, saya butuh jaminan. Jika saya lihat orang merokok, saya hubungi bapak. Saya minta nomor telp bapak. (Siapin hape)
.... (mikir lagi, ragu.)
Ini nomor telp saya (kasih kartunama). Saya minta telp Bapak.
Ibu alergi asap? (Sambil nulis nomor telpnya di belakang tiket saya)
Ya! Tapi alergi ataupun tidak, itu peraturan.
(Orang sebelah saya nimbrung: iya, ini kan ber-AC. Saya: AC atau tidak, aturannya tdk membolehkan.
(Orang udah pada nengok sejak pertanyaan kedua saya. Yang tadi merokok langsung ngelirik2)
(Tiket saya yg sudah ditulisi nomor telpnya dikembalikan) Trims, Pak Teja. Nanti saya hub Bapak jika saya melihat orang merokok! 
Trims Bu, maaf untuk ketidaknyamanan ini.

Pak Teja lanjut meriksa tiket. Ada obrolan dengan penumpang di belakang saya:
"Maaf ini yang tadi merokok ya?" (Entah bgmn dia tahu. Apakah ada CCTV? Apakah ada rokok di mejanya, seperti perokok di depan saya?)
"Iya pak"
"Ini peringatan pertama. Jika nanti merokok lagi, terpaksa diturunkan di stasiun berikutnya."
"Jadi di mana tempat merokok?"
"Di areal merokok di stasiun"

Dan tak terjadi apa-apa.

Oke. Baiklah.
Yang pasti malam ini bisa tidur nyenyak.

Sunday, February 17, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 8:54:00 PM | No comments

A Giant Pack of Lies, Mardiyah Chamim

A Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di IndonesiaA Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia by Mardiyah Chamim
My rating: 5 of 5 stars

Tak perlu pintar untuk mengetahui muslihat para cukong rokok dan kroninya, buku ini paparkan semuanya.

Saya yang selama ini menjadi bagian dari warga masyarakat pengasap, merasa betapa bodoh saya dan jutaan warga lain yang membiarkan diri kami terpapar asap rokok.

Sebagai warga dari sebuah negara yang melegalkan asap rokok di manapun di tiap sudut ruang publik dan privat, saya merasa makin bodoh ketika tak dapat memilih pemerintah yang dapat memperjuangkan hak saya dan jutaan warga lain yang senasib dengan saya.

Bacalah, bacalah, bacalah!

View all my reviews
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata