Showing posts with label siapapun. Show all posts
Showing posts with label siapapun. Show all posts

Thursday, May 28, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:55:00 AM | No comments

Menumpang Pejalan, Menampung Penginap


6 Mei 2015 siang terbang ke Surabaya untuk bekerja di Nganjuk keesokan harinya. Itu Kamis. Kupikir ada asyiknya menghabiskan akhir pekan di Surabaya.

Seperti biasa, andalan jika membutuhkan informasi agenda menarik adalah: klik "event this week" di Facebook. Keluarlah dua agenda di tanggal 9 Mei. Pertama Jelajah Pecinan Surabaya yang diadakan temanku Ci Maya, dan kedua Meet and Greet Anton Krotov yang diadakan Couchsurfing (CS) Surabaya. Sebab aku sudah pernah jelajah pecinan bersama Ci Maya, kuputuskan untuk mengikuti agenda obrolan itu saja.

Anton Krotov bagiku nama yang asing. Ternyata, ia adalah seorang pejalan asal Rusia. Ia sangat populer di kalangan pejalan internasional, seperti CS dan Hitchwiki. Yang menarik adalah, Anton memberi kuliah pada kelas-kelas singkat di banyak kota/negara. Kelas ini biasanya tentang bagaimana cara berjalan-jalan tanpa mengeluarkan banyak uang. Itulah kurikulum utama di Academy of Freedom Travels (AFT), dimana Anton menjadi Presidennya.

Selain--tentu saja hitchicking (menumpang kendaraan), juga menumpang rumah atau tempat berupa apapun yang dapat dipakai untuk tidur. Soal menumpang tidur ini, Anton memiliki misi khusus. Dalam sejumlah perjalanannya, ia menyewa rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap para pejalan bermodal cekak dari seantero dunia. Dinamainya "House for Everyone"--sebut saja HFE, ya!

Kebetulan di tahun ini, ia membuka rumah di kawasan Lempuyangan Yogyakarta. "Wah, dekat rumah!" pikirku. Sejauh yang kubaca, ia juga membuka kelas tips perjalanan di tiap rumahnya, termasuk di Yogya. Maka kuputuskan tidak mendatangi agenda Surabaya ini, aku lebih berminat berkunjung langsung. Lagipula, ketertarikan utamaku bukan pada tips bepergian murah, namun lebih kepada manajemen rumah tinggal tersebut.
Pertigaan ini, belok kanan!
25 Mei 2015 hari keduaku di Yogya. Akhirnya kesampaian mampir ke HFE! Kutelepon nomor Anton dan ia menjemput kami di depan Stasiun Lempuyangan. Kujelaskan bahwa kami tak akan menginap, sebab kami warga lokal. Kami hanya ingin mengobrol dan melihat rumahnya.

Hujan turun tepat ketika Anton tiba di stasiun. Di bawah guyuran air yang cukup deras, kami berjalan--tanpa payung--menyusur gang sempit nan panjang. Gang sempit yang bersih dan nyaman. Semua tertata baik, sebagaimana gang-gang lain di banyak pemukiman di Yogya. Gang ini terletak di Kecamatan Danurejan, persis di seberang stasiun Lempuyangan.
Ya, yang di tengah itu rumahnya.
Dalam lima menit, kami tiba di rumah itu. Tak terlalu banyak yang dapat dilihat, sebab Anton dan lima orang lain yang masih di sana, sedang sibuk menata barang bawaan. Ini hari terakhir HFE ada di Yogya. Selain kami, ada satu kelompok lain yang sudah menghubungi Anton hari itu. Mereka akan menginap, sekaligus menjadi pengunjung terakhir.
Suasana di dalam.
Sambil menunggu Anton dan temanku ke masjid untuk magriban, aku ngobrol dengan... ah aku lupa, sulit sekali namanya, salah satu penghuni asal Rusia. Bersama istrinya yang juga menginap di sana, dia akan ke Danau Toba dengan cara menumpang. "I know it will take a long time, maybe two weeks," katanya. 

Ia merasa, perjalanan dengan cara menumpang selalu menyenangkan. Ia akan melihat hal yang tidak dilihat oleh pejalan 'regular'. Berinteraksi dan melihat keseharian warga lokal adalah hal luar biasa yang akan didapat. Kini aku jadi tahu, bahwa menumpang tak sekadar alasan modal cekak. Ada yang melakukannya karena ingin mendapat pengalaman berbeda.

Percayalah, ini bacaannya: BUKU TAMU! #soktau
Anton datang dan meminta kami mengisi buku tamu. Kami adalah pengunjung ke 141 dan 142. Dari seluruh nama, hanya satu yang kami kenal, Fame. "Pengunjung rumah ini datang dari 17 negara," kata Anton. Mereka datang dan pergi semau mereka, tak ada batasan hari atau malam untuk menginap. Jika mereka menginap, lalu pergi dan ingin kembali lagi, itu diperkenankan.
35. Nama teman kami [semua kontak kusembunyikan]
Rata-rata jumlah penginap 10-20 orang per malam. Paling banyak hingga 30 orang--ini di akhir pekan. Di rumah yang sangat mungil itu, bisa kebayang bagaimana mereka merebahkan diri?

Sebab tak disediakan kasur/dipan, tiap penginap perlu membawa sendiri alas tidur masing-masing. Ada yang membawa tenda, ada pula kantung tidur. Anton mendapatkan rumah ini atas bantuan seorang anggota CS Yogya, lalu menyewanya selama tiga bulan.  

Mengapa Yogya?
Yogya tidak macet seperti Jakarta dan Surabaya. Yogya memiliki transportasi publik yang baik, dan semua orang ingin ke Yogya sebab potensi wisatanya. Apalagi budayanya yang menarik. Ini kata Anton.
Aturan jam malam di lingkungan sekitar.
Aku sangat menyukai peraturan di rumah ini. Ada aturan yang menurutku 'sangat Indonesia'; seperti rokok (meski orang Indonesia akan sangat sulit diminta tidak merokok di rumah, apalagi di pekarangan sekitar), minuman keras, pakaian sopan, harus mandi dan jam malam. Menurut Anton, secara garis besar aturan itu juga digunakan di rumah-rumah lain yang ia buka di berbagai negara. Hanya saja, ada penyesuaian sesuai situasi dan kultur setempat. "Nowadays it becomes common rules, everywhere," katanya.
Kamar mandi dengan wece jongkok di ujung sana.
Rumah ini disewa dengan perabotan dan alat minimalis. Hanya ada satu set kursi yang biasa digunakan di ruang tamu, kompor gas dua tabung dan sejumlah alat masak dasar, serta beberapa botol tempat gula, teh dan kopi. Sebagai tempat-tinggal-bersama yang boleh dimasuki siapapun, menurutku rumah ini cukup (!) bersih. Mungkin sebab aturan menegaskan penginap untuk ikut beberes.
Percayalah, ini bacaanya: GULA! #emangiya
Setelah menutup rumah ini, Anton akan menjelajah Malaysia. Mungkin akan kembali lagi ke Indonesia. Apakah rumah yang sama akan dibuka lagi di tempat lain di Indonesia? "Me? Not!" seru Anton. Namun tak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang melakukan hal sama, meski tidak di bawah manajemen Anton. "You can make it if you want!"

Ini yang sangat menarik bagiku. Jika punya rumah nanti--yang entah kapan--aku sangat ingin membuat rumah singgah seperti ini. Keinginan yang sudah terencana sejak empat tahun lalu...

Di seberang sana adalah stasiun.
Sebagai pejalan dengan jam terbang tinggi, aku salut dengan Anton yang selalu menyempatkan beribadah, bahkan di masjid yang jaraknya tak dekat juga dari rumah ini. Sebagai orang Rusia yang kukenal sangat kaku (jaman kuliah punya beberapa teman Rusia yang kalau duduk aja pakai aturan kaya tentara lagi di barak), aku salut dengan keramahan teman-teman di rumah ini.

Kutawarkan rumah keluargaku untuk menginap, jika mereka ingin kembali ke Yogya. "I don't live here, but friends from some country are just come, meet my family and stay," kataku. "Inshallah," jawabnya--Anton sangat sering menggunakan kata ini.

Trims telah berbagi cerita. Cerita seru tentang mereka yang menumpang pada pejalan lain, tentang dia yang menampung para penginap. Sangat menginspirasi! [ini salah satu contoh rumah sejenis]

Gambar paling atas: Anton di kiri, aku paling kanan (dua lainnya lupa nama...). Rekap kunjungan di House for Everyone Yogyakarta dapat dilihat di Facebook Anton di sini.

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 11, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 1:39:00 AM | No comments

Kekancan


Sabtu lalu ikut hunting foto di Tangerang. Berangkat naik KRL, balik nebeng teman yang tinggalnya dekat tempatku. 

Di jalan ngobrol nggak banyak, kan aku pendiam! *dusta* Aku banyakan ngobrol sama si Mamas di watsap, cerita kalo nebeng teman baru. Banyakan diam, mungkin karena kikuk sebab baru kenal belum ada sejam. Iya sih, sudah hunting bareng sejak siang, tapi baru saja kenalan nama. 

Suasana lumayan seru pasca kita diteriakin motor karena jalan lambat. "Matanya dipake, bang!" Dan itu jadi keseruan sepanjang jalan meski pake muter-muter karena salah jalan menuju tol Jakarta.

Lalu makan. Aku usulkan cari di tempat yang dekat kosanku, agar menambah referensi tempat makan. Sudah bosan sangat dengan warteg sekitar yang rasanya ya begitu deh.

Cuma dua sendok nasi yang bisa kutelan plus dua tusuk sate. Kepala sakit kebangetan, kayanya karena telat makan siang. Kabarin si Mamas kalo kami lagi makan di dekat kos. Lalu rebutan mbayar makan, aku menang.

"Senangnya punya teman makan malam," kataku. Aku diantar pulang sampai di ujung gang, sebab jalannya sempit. Dua lembar duit biru diselipnya ke tasku. "Hey, aku nggak mau," kataku. "Udah, kamu simpan dulu aja."

Kuat-kuatin jalan ke kos, ambil akuwa, tenggak obat. Tidur.

Minggu, besoknya. Telat nonton teater Diponegoro di Galeri Nasional. Huh, gegara nyuci sempak yang bejibun! Lalu putar haluan, mo ke Tenabang aja beli kurma buat Papa. Wiken kan mo pulang Yogya, besok-besok nggak sempat lagi. Sampe luar, balik lagi ambil payung. Masuk watsap teman baru itu. Ngajak ke Pasar Baru cari aksesoris potograpi. Kuiyakan. Kan di sana banyak kurma.

Pagi makan sedikit nasi uduk langganan. Masih nggak selera. Siang makan soto betawi di sana. Aku donk, habis seporsi. "Prestasi nih bisa bikin kamu makan," kata temenku. Biar nggak rebutan mbayar, balik dari toilet aku ke kasir. Lanjut ke Kota Kasablanka, temanku mau beli koper. Ah, pas banget pikirku. Aku mo lihat ransel troli.

Ransel yang kucari nggak ada yang bikin minat. Temanku selera belanjanya ngalahin selera makanku. Mondar mandir nyisir nyaris tiap sudut. Aku cuman cekakah cekekeh baca obrolan di grup watsap. Ada yang lagi jualan hape lah, jual kamera lah, sampe jual diri atas kejombloannya :)

Kuputuskan (nah, aku lagi yang mutusin tempat makan) menu mie, setelah nyisir makanan di sana. Habis lagi! :) Si temanku nyebut lagi tentang prestasinya yang bisa bikin aku makan. Adegan berebut mbayar terjadi lagi. Aku kalah.

Lucunya, ternyata sebelum aku kembali dari toilet waktu makan siang, temanku sudah membayar makanan kami. "Nanya donk, udah dibayar belom." "Kalo pake nanya, pasti aku nggak bakal bisa bayar. Wek!"

Menuju pulang, temanku yang lain watsap, cerita kalau ada mahluk halus menghuni tubuhku. Jelas aku saat itu ketakutan, bacanya sampe bersuara. Teman di sebelahku sampe nanya kenapa. Aku ceritain, trus dia ketawa dan berusaha encourage.

Aku pulang, diantar di tempat yang sama. Bobok dengan susah karena pikiran bercabang empat.

Rabu hari ini, dengan riang aku cerita punya teman baru. Sahabatku ikut senang. "Yo rapopo, kekancan," katanya. Kekancan, pertemanan.

Hae kamu, kekancan :)

Ah Mamas, kamu malah tidur waktu aku mo cerita banyak :(

Gambar yang nggak nyambung dengan cerita itu, diambil dari sini.

Mlekom,
AZ



Friday, August 22, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:12:00 AM | No comments

Bapakku (yang) Bukan Zulivan



Aku terlahir dari seorang bapak bernama Zulivan, yang kupanggil Papa. Meski begitu, ada bapak lain dalam keseharianku. Seorang bapak yang kupanggil Bapak...
Petugas kebingungan dengan permintaan ayahnya. Dissa diharuskan mengikuti seluruh tes untuk mendapatkan SIM. Awalnya petugas hanya mensyaratkan serangkaian tes sebagai sesuatu yang disebut ”formalitas”. Sang ayah bersikeras bahwa mahasiswi semester dua ini harus ikuti seluruh proses, sesuai aturan yang berlaku.

Petugas bingung. Mengingat siapa sang ayah, mestinya Dissa hanya tinggal mendaftar lalu pulang dengan SIM di tangan. Dengan mudah. Tanpa tes ataupun menyuap petugas. Ini yang membuatku tak heran, jika 
seorang Danang Parikesit, ayah Dissa, mendapat penghargaan sebagai "Pelopor Keselamatan Berlalu-lintas" tahun 2013 lalu. 

Biasanya Dissa ke kampus naik sepeda. Belakangan ia membutuhkan kendaraan untuk mengangkut maket arsitektur bangunan yang dibuatnya. Tak seperti kampus-kampus di luar negeri, Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak memiliki studio/bengkel representatif bagi mahasiswanya untuk mengerjakan maket. Akibatnya, mereka harus membuat di rumah lalu membawa hasilnya ke kampus. Jika harus membawa maket, maka Dissa harus meninggalkan sepedanya, dan mengendara city car sederhana pemberian ayahnya itu.


Hope and Dream
Perkenalanku dengan Dissa diawali dengan obrolan tentang sebuah program. Suatu hari Pak Danang, begitu aku memanggil ayahnya, bilang ingin menabung untuk mengisi masa pensiun. Tabungan ini bukan berupa deposito atau sejenisnya, melainkan tabungan akhirat lewat kegiatan sosial.


Idenya berawal dari obrolan bapak-anak ini. Lalu mereka mencari orang yang dapat membantu menerjemahkan ide tersebut. Disanalah aku berperan. Lalu di tahun 2012 muncul Hopes and Dreams Indonesia (HDI), nama yang kami sepakati untuk mewadahi program ini.


Nama yang unik. HDI memokuskan diri pada upaya untuk mencari pribadi atau kelompok yang memiliki mimpi (dreams) dan mempunyai harapan (hopes) kuat untuk mewujudkan mimpinya. Nama ini lalu diterjemahkan dengan menemui pihak-pihak yang kami nilai memiliki kriteria HDI.



Gus Nas (Pesantren Ilmu Giri), Mas Saptu, Pak Danang dan aku.
Kedua foto milik Mas Saptu di sini dan sini.
Diantaranya adalah Saptuari Sugiarto, pengusaha asal Yogyakarta yang mendirikan Sedekah Rombongan untuk membantu warga kurang beruntung yang kesulitan berobat. Dari Mas Saptu--begitu ia biasa dipanggil--kami dikenalkan dengan Mbak Putri Herlina, seorang tuna daksa berprestasi dari Yayasan Sayap Ibu.
Bersama Mbak Putri Herlina.
Bersama ibunda Mas Saptu, di Yayasan Sayap Ibu.


Bersama anak-anak Ledhok.
Selanjutnya mengunjungi komunitas Ledhok Timoho yang menjadi area mukim pemulung, Yayasan FSG Tuna Bangsa yang mengurusi anak-anak penderita kanker di RS Sardjito, menemui anak penderita hydrocephalus yang diajak mengemis oleh ibunya di Magelang, Jawa Tengah, dan berbagai kegiatan lain.


Di bengkel UCP.
HDI kemudian berperan aktif dalam sejumlah kegiatan terkait warga berkebutuhan khusus (difabel); Seperti ikut berperan dalam perjalanan Sri Lestari, seorang paraplegia pengguna sepedamotor modifikasi dalam tur Jawa-Bali; ikut andil dalam peringatan Disability Day 2013, hingga mengawal proses pembuatan SIM khusus bagi pengendara sepedamotor modifikasi di Yogyakarta.

Tampaknya ini akan menjadi agenda masa pensiun yang menyenangkan, sekaligus tabungan akhirat yang lumayan, ya.


Soal Transportasi
Berbicara tentang akhirat, tentu bicara tentang kematian. Tahun 2007 lalu Pak Danang menjadi salah satu target utama kelompok tertentu di Yogyakarta. Ia yang saat itu menjadi Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM, disebut-sebut akan dibunuh kelompok yang tidak menginginkan terwujudnya Malioboro Yogyakarta sebagai kawasan pedestrian. Mengapa? Silahkan baca buku hasil penelitiannya.


Penolakan atas pemikirannya di bidang tata transportasi tak hanya berakhir di situ. Beberapa tahun terakhir, Pak Danang menentang rencana pembangunan 6 ruas tol dalam kota dan proyek deep tunnel di Jakarta. Hingga hari ini, dua proyek tersebut masih menjadi diskusi parapihak.


Perhatian Pak Danang tidak hanya pada persoalan transportasi di kawasan urban. Dalam sebuah konferensi di Jepang, tim JALIN Merapi--komunitasku--bertemu dengan Ibu Dewanti. Ia memaparkan persoalan transportasi di lereng Gunungapi Merapi. Ada nama Danang Parikesit di slide presentasinya. Ternyata, ia adalah mahasiswa doktoral bimbingan Pak Danang. Akhirnya kami bersua di Desa Kemalang yang berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi.

Bu Dewanti menceritakan alasan ketertarikannya meneliti Merapi. Keterbatasan angkutan umum yang sebabkan sepedamotor menjadi moda paling banyak peminat. Bocah-bocah tak cukup umur yang mengemudi sepedamotor. Anak-anak sekolah yang gelayutan di bak-bak truk untuk pulang ke rumah. Hingga persoalan jalan bolong di sepanjang jalur evakuasi.


Pak Danang pernah meneliti hal ini, lalu menyarankan Bu Dewanti untuk mendalaminya. Akhirnya Bu Dewanti jatuh cinta pada Merapi. Ia kerap mengajak putranya ikut serta, untuk melihat kehidupan warga dan keindahan alam setempat.


Bersama Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Pak Danang juga membahas persoalan angkutan antar pulau di kawasan terpencil. Dari tahun ke tahun, urusan mudik Lebaran pun selalu mendapat perhatian khusus organisasi ini.


Mudik Lebaran tahun 2011 bisa jadi merupakan pengalaman berharga buat Pak Danang. Saat itu ia habiskan banyak waktu untuk memantau proses pembangunan jalur Nagreg. Merelakan banyak masa libur yang mestinya menjadi hak keluarga. 



Keluarga
Di samping kesibukan sebagai Ketua MTI dan Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum, ia selalu ciptakan akhir pekan menyenangkan bersama keluarga dan kerabat di Yogya.





Pagi akhir pekan sering dihabiskan dengan bersepeda atau memasak bersama. Keluarga ini kerap pula mengundang mahasiswa ke rumah, untuk main musik bersama. Meski biasa memegang bahan konstruksi bangunan berat, Pak Danang juga mahir memainkan berbagai alat musik tiup. Dengan kemahiran lain para tamunya, jadilah sebuah konser orkestra kecil di rumah.






Aku sendiri merasa beruntung bisa mengenal Bu Dani, istri Pak Danang yang sempat menjadi Wakil Dekan di Fakultas Hukum UGM ini. Banyak pelajaran darinya tentang merawat keluarga, dengan suami yang memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Bersama kedua putri mereka, aku kerap diundang makan bersama sambil membicarakan program kami di HDI. 


Galak
Perkenalanku dengan Pak Danang berlangsung sejak enam tahun lalu. Di samping kuliah, saat itu aku menjadi Staf Honorer di Bidang Kolaborasi Riset Internasional pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM. Saat itu, Pak Danang menjabat sebagai Ketua LPPM. Masa-masa menjadi staf ini bukan pengalaman menyenangkan. Pak Danang adalah seorang perfeksionis, sehingga sangat galak dengan seluruh stafnya. 
Tiap detil pekerjaan selalu ia pantau. Ia akan menunggui koreksi pekerjaan yang belum beres, hingga tengah malam di kantor. Yang tidak kuat dengan cara kerjanya, biasanya akan mengundurkan diri.

Aku pernah bikin heboh 80-an pegawai LPPM, hanya karena menyapa pejabat dengan gelar yang salah, dalam surat elektronik. Pak Danang langsung memerintahkan Kepala Bidang untuk menarik surat tersebut. Menarik surat elektronik? Mana bisa! Bu Kabid lalu meminta maaf kepada pejabat ybs, lalu mengingatkanku. 

Apa tindakan yang dilakukan Pak Danang padaku? Menyindir,  dengan berbagai pertanyaan terkait pengetahuan umum: Siapa nama menteri ini, siapa nama pejabat itu, apa nama ini dan itu, dan sebagainya. Ini berlangsung sekitar 5 menit. Terjadi di pagi hari, begitu aku tiba di kantor, setelah mudik akhir pekan yang nyaman bersama keluarga di Jakarta. Hiks :(


Segalak-galaknya Pak Danang, ia peduli pada stafnya. Tiap ulang tahun, kami mendapat kue tar yang diedarkan ke seluruh ruangan. Bahkan, seluruh staf LPPM—mulai dari Ketua sampai staf honorer, mendapat kesempatan wisata ke Bali pada 2010 lalu. Untuk pertama kalinya, pegawai LPPM diajak 'plesir' jauh. Meski dalam rangka rapat kerja, perjalanan ini menyisakan kenangan khusus bagi stafnya, apalagi para pegawai rendahan seperti Office Boy.


Coba hitung, sudah berapa kali aku menggunakan kata “galak” untuk mendeskripsikan seorang Danang Parikesit? Bagaimanapun, aku merasa mendapat pelajaran berharga tentang tanggungjawab kerja dari sosoknya. Oh ya, meski galak banget (nah lho, dipakai lagi kata ini), ia adalah seorang pemimpin yang fair, bersedia mengakui kesalahan dan mau mendengar saran orang lain, termasuk saran dari bawahan

Dalam banyak obrolan antar staf di LPPM, disimpulkan bahwa Pak Danang merasa nyaman bekerja dengan staf yang berani berargumen, tidak sekedar berprinsip "asal-bapak-senang". Meski karirku di LPPM tak berlangsung lama, aku dan seorang teman lain bekerja sebagai Asisten Pribadi beliau. Kami berdua dikenal sebagai orang keras kepala, cukup sepola dengan cara kerja Pak Danang.


*
Dalam perjalanan sebagai asisten pribadi, aku tetap mengalami tekanan kerja yang sama berat dengan semasa di LPPM. Saat masih mengeringkan rambut di suatu pagi, Pak Danang ’teriak’ di BBM, minta kami segera menemuinya di restoran hotel. Tentu butuh perjuangan untuk mencapai hotelnya dari hotel kami--hotel para asisten tentu tak sama jumlah bintangnya dengan hotel yang ditempati Pak Danang--di tengah suasana pagi kota Surabaya yang teramat macet.


Aku terpaksa menjinjing higheels untuk dapat berlari. Setelah tiba di restoran, kami dipersilahkan duduk, di antara pejabat MTI lainnya. Lalu ditanya apakah sudah sarapan. Kujawab belum lalu disuruh sarapan dan duduk di meja itu kembali. Kuambil makanan seadanya, agar cepat. Sambil makan, aku di-brief agar ikut pertemuan dengan Gubernur, sebagai persiapan kedatangan Presiden di acara kami.


Aku hanya menjawab OK, Pak. Baik, Pak. Ya, Pak. Malah dimarahi: ”Apa kamu ingat jika tidak ditulis?” Arrrgh... ”Apa Bapak mau menyuapi makanan ini, sementara tangan saya menulis?” tanyaku dalam hati. Akhirnya aku berangkat sendiri hanya diantar sopir. Asisten lain disuruh mengerjakan pekerjaan yang tak ada habisnya.


Meski demikian, usai suatu pekerjaan panjang, kami tak luput dari perhatian. Para asisten selalu berhak memilih tempat makan yang kami inginkan. Kami juga diizinkan memperpanjang masa tinggal, jika sedang perjalanan kerja ke luar kota atau luar negeri. Kurang galak apalagi, coba? :)

Tanggung jawab
Masih banyak cerita deg-degan lain, yang membuatku terus belajar arti tanggungjawab. Termasuk tanggungjawab untuk beribadah. Meski kesibukan teramat-sangat, Pak Danang selalu mengerjakan kewajiban lima waktunya. Dalam sebuah perjalanan, aku bingung mengapa ia tiba-tiba diam di bangku pesawat. Ternyata sedang tayamun dan shalat.

Sebagai perempuan, tentu aku mengenakan riasan wajah lengkap di tiap pertemuan penting pekerjaan. Ini biasanya membuatku malas shalat, sebab wudhu akan merusak riasan. Dengan bos yang rajin shalat dalam situasi apapun, aku menjadi malu. 

Beliau juga kerap mengimami shalat di kantor. Dalam suatu sore akhir pekan, kami harus rapat di kantor. Sebab Pak Danang bersepeda mengenakan celana ¾ dan tidak membawa sarung, maka ia mengenakan rok putih bagian bawah mukena yang ada di mushalla. Hahaha...

Dosen
Sebaliknya, sebagai dosen Pak Danang tidak pernah mendapat julukan ’killer’ atau sejenisnya. Banyak mahasiswa dekat dengannya. Bahkan hingga mereka melanjutkan kuliah di negeri orang, banyak yang menyempatkan bertemu ketika sang dosen sedang melawat ke sana. 


Bersama mahasiswanya.
Satu yang mengagumkan pada sosok Pak Danang sebagai akademisi adalah, produktivitasnya dalam menulis dan ikut konferensi. Sila cek jurnalnya di https://danangparikesit.wordpress.com/ dan aktivitasnya sebagai blogger tetap di Tempo.


Atas: Tim basket versi reuni. Bawah: Tim Putri UGM.
Kedekatan pada mahasiswa tak hanya terjadi di kelas perkuliahan. Pak Danang yang semasa mahasiswanya masuk dalam Tim Basket UGM ini, kini menjadi penasehat di klub tersebut. Kegiatan lain bersama anak muda dilakukan lewat Pondok Alam Hifzhul Bi’ah, sebuah pesantren berwawasan lingkungan yang dikembangkan bersama sejumlah pendidik lain.

Menteri
Di paruh kedua pemerintahan SBY, nama Pak Danang disebut-sebut dalam daftar calon menteri. Meski saat itu telah menjabat sebagai Chairman of the Executive Committee dan Board of Directors dari the International Forum for Rural Transport and Development (IFRTD), ia tak terlalu serius menanggapinya. Dalam pertemuan awal Juli lalu di Jakarta, aku sempat bertanya bagaimana jika Bapak masuk ke dalam kabinet Presiden baru? ”Saya selalu bilang, kepada siapapun. Saya akan selalu membantu pemerintah, dimanapun posisi saya.”



Sumber: @Jokowi_Ina di sini.
Sepekan kemudian muncul tiga jajak pendapat dari tiga lembaga bonafid, yaitu ”Polling Menteri Kabinet Alternatif Usulan Rakyat” dari Jokowi Center, Kabinet Rakyat 2014-2019" dari PDI-P dan ”Prediksi Susunan Kabinet Jokowi-JK 2014-2019” dari Indobarometer. Pada ketiganya muncul nama Danang Parikesit. Pekan lalu muncul hasil polling internal tim Jokowi-JK, Presiden dan Wapres terpilih—seperti dapat dilihat pada gambar atas, dimana Pak Danang memperoleh suara terbesar.

Sebagai orang yang sudah dinggapnya sebagai anak dan telah menganggapnya sebagai bapak sendiri, tentu aku ikut bangga. Kebanggaan lainnya tentu saja dari urusan romantisme berupa satu almamater di UGM dan satu kota tempat tinggal di Yogyakarta. Ini merupakan hal remeh-temeh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tak beda dengan kebangganku di hari pertama Pemilihan Presiden Agustus lalu, saat nama Jokowi keluar sebagai pemenang versi hitung cepat. Jika nantinya resmi terpilih, Jokowi akan menjadi alumni UGM pertama yang menjadi RI 1. Hari itu Mars UGM ’menggema’ di media sosial. Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua...


Sosok
Bagi yang belum mengenal sosok Danang Parikesit--selanjutnya kita sebut dengan DPR--mari kuberitahu mengapa ia pantas menjadi seorang Menteri Perhubungan--sebagaimana tersebut dalam ketiga polling, dibanding kandidat lain:

  1. Merupakan ahli di bidang perhubungan, baik dalam kaitannya dengan transportasi serta sarana-prasarana terkait. Membandingkan dengan calon lain, ini analisa permukaanku: DPR memahami isu transportasi, tak hanya soal perkeretaapian, angkutan udara, ataupun keselamatan transportasi. Ia memahami persoalan transportasi dari hulu ke hilir.
  2. Mempunyai perhatian pada isu perkotaan dan perdesaan. Salah satu hasil yang sangat menarik minatku adalah aplikasi tentang kondisi jalur pedestrian bernama Walkability ini.
  3. Ini yang terpenting: DPR seorang yang jujur dan masih idealis. Dalam pertemuan dengan Pak Marco Kusumawijaya akhir pekan lalu, ini pendapatnya tentang DPR sebagai kandidat menteri: Danang baik, nggak ada yang salah dengannya.
Ini tentu saja tafsir personal, hasil pembacaan atas kedekatan hubungan personal. Ingin  menyebut ini sebagai kampanye? Silahkan, siapapun bebas memaknai. Toh cerita seorang Adriani Zulivan tak akan pengaruhi proses Jokowi memilih para menterinya, bukan? :)

Ini hanya ceritaku, tentang bapakku yang bukan bernama Zulivan. Satu yang pasti, aku mengenalnya dengan baik. Dengan tulisan ini, kuharap kalian juga dapat mengenalnya dengan baik.

Bagi Pak Joko dan Pak Jusuf, selamat memilih pembantu untuk lancarkan proses pelaksanaan tugas di lima hingga sepuluh tahun mendatang. Aku padamu! :)


Mlekom,

AZ


Catatan: Kecuali yang menyertakan keterangan sumber, seluruh foto diambil dari akun Facebook dan Twitter Pak Danang, serta koleksiku pribadi.


Sunday, April 27, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:13:00 AM | No comments

Geliat Bakat Setelah 21 Tahun Terpendam



Ada yang bilang, seni itu tergantung bakat, bawaan lahir. Ada pula yang meyakini bahwa seni itu dapat dipelajari. Tak ada yang salah, tiap seniman mengalami proses berbeda. Kedua hal itu dialami Sinta Carolina (41) dalam perjalanan berkeseniannya.

Kemampuan Sinta dalam berkesenian baru menggeliat di usia yang tak lagi muda. Ia kini menjadi salah satu perupa paling produktif di Yogyakarta. Sinta mulai menggambar di usia SD, dengan coretan berbentuk buah-buahan. Gambar lain dibuat sebagai tugas pelajaran seni rupa di SMP hingga SMA, juga untuk majalah dinding sekolah. Lepas itu, ia tak lagi mencorat-coret.

Medio 2005, sarjana Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini justru menekuni dunia fotografi. "Awalnya hanya ikut-ikutan teman, lama-lama serius dan ikut kelas fotografi," katanya. Tahun 2011 ia bergabung dengan Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), sebuah komunitas belajar fotografi rintisan Anton Ismael.

Dalam memotret, ia mengkhususkan diri pada makanan. "Orang bilang, aliran ini tidak mudah. Jadi kalau sudah bisa memotret makanan, memotret yang lain pasti bisa," jelasnya. "Lagi pula saya suka makan," lanjutnya. Sejak itu, Sinta menjadi fotografer lepas khusus kuliner di sela-sela pekerjaan rutinnya. Ia juga terdorong untuk menuliskan hobi icip-icipnya ke dalam blog, hingga muncul http://sintacarolina.blogspot.com/ di tahun 2011.
Diawali dengan ketertarikannya pada sketsa di majalah kuliner, sinta coba mecorat-coret lagi pada April 2013. "Saat selesai gambar pertama, suami saya bilang; lha itu gambarnya bagus kok! Akhirnya jadi pede dan terus menggambar." Istri dari  Pulung Fadjar Febrieka ini mencari referensi gambar di majalah dan internet. 

Dibanding masakan nusantara, Sinta lebih banyak menggambar makanan internasional. Menurutnya, menggambar detil makanan Indonesia sangatlah sulit, sebab biasanya platting tidak diatur dengan rapi--seperti soto dan gado-gado. Beda sekali dengan sushi dan burger, misalnya. Meski demikian, sudah ada sejumlah menu tradisional yang diabadikannya. "Masih belajar menggambar kuliner lokal, ini salah satu cara saya untuk melestarikan warisan pusaka kita."

Seiring waktu, Sinta tak hanya menggambar makanan, namun juga tumbuhan, hewan, dan benda keseharian semacam kamera dan alat dapur. Ia memilih doodle, metode gambar yang belum banyak dilirik perupa tanah air. [Baca "Doodling SiTukangJahit"] Hasil coretannya diunggah ke Facebook dan Instagram. Hal ini mengundang ketertarikan orang yang melihat, banyak yang ingin mengoleksi karyanya. Selanjutnya Sinta mencetak gambarnya dalam pernak-pernik seperti notes, pin, tas, kaos dan bantal. Produk ini dilabeli Bulbul, diambil dari nama burung bersuara merdu dalam kisah dongeng kesukaannya. 

Belum genap setahun sejak ia kembali menggambar, Independent Art-space & Management (I AM), sebuah galeri seni di Yogyakarta, mengajak Sinta untuk memajang karyanya. Jadilah Sinta memulai debut profesionalnya di dunia seni grafis, dalam pameran tunggal bertajuk "Menulis di Titik Nol". Tema ini mungkin dapat diartikan sebagai perjalanan barunya sebagai perupa, setelah 21 tahun vakum menggambar. 

Dalam pameran yang berlangsung 11 April hingga 3 Mei 2014 ini, Sinta menampilkan karyanya dalam beragam media. Jika selama ini ia menggambar pada media kertas HVS dalam buku gambar, kali ini Sinta juga menggores di kanvas bahkan tembok. Mural di tembok-tombok tersebut menjadi sudut yang paling banyak dibidik pengunjung untuk berfoto ria.

Baru kembali menggambar, langsung ditodong untuk berpameran tunggal. Meski awalnya tak yakin apakah ia mampu, Sinta menerima tawaran tersebut sebagai tantangan. Bagi banyak kalangan, perjalananya di dunia baru ini terasa begitu pesat. "Waks, masak sih? Mungkin karena saya coba tampil beda. Memilih yang tidak banyak dipilih orang, jadi terasa spesifik lalu seolah stand out among the crowd," katanya. 

Sinta belum merasa menjadi seniman. "Menurut saya, seniman itu bekerja penuh sebagai pekerja seni, sedangkan saya tidak," kata Staf Administrasi di Center for Heritage Conservation (CHC) Jurusan Arsitektur UGM ini. Ia pun membebaskan publik untuk menyebutnya sebagai apa. "Fotografer OK, tukang gambar OK, food blogger juga boleh; atau ketiganya juga nggak apa-apa."

Yang pasti, seorang seniman baru telah lahir. Perempuan berbakat yang terus belajar. Selamat datang di titik nol perjalanan baru, Sinta Carolina! 

Mlekom,
AZ


Tuesday, March 4, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:16:00 PM | No comments

Telak!



Mahasiswi sebuah kampus di New Zealand ambil studi tentang komunitas @jalinmerapi (JM). Dia orang Indonesia. Sama Bataknya sama awak. Kemarin, dia diundang ke lokakarya. Ada parapihak yang selama ini aktif menghidupi JM, agar bisa ngobrol awal untuk penelitiannya ini.

Di waktu coffe break, obrolan telak dua perempuan. A dan B.

Telak 1:
B: Wajahmu kok kaya sering lihat ya, Mbak...
A: Sering nonton infotemen ya? *dalam hati*
B: Iya lho, familiar banget...
A: Iya, muka Batak kan mirip-mirip... *masih dalam hati*
B: Sospol ya?
A: Heh, S1-nya di UGM? Jurusan apa?
B: Komunikasi
A: Angkatan? 
B: 2001
A: Heh, berarti kita sekelas dan ospek bareng!
Stop pakai "mbak-mbak" dan obrol ngalor-ngidul tentang kawan-kawan seangkatan.

Telak 2:
A: Di NZ ambil apa? 
B: Kampusnya? Canterbury.
A: Eh aku pernah penelitian bareng GNS, salah satu penelitinya Noel Trustum.
B: Wah, aku gak kenal orang-orang tua di sana...
A: Kalau studi masternya?
B: Masternya dulu di UI, Komunikasi juga. Sekarang ambil bencana...
A: Ini lagi DOKTOR???!
Berakhir dengan si B nyemangatin si A untuk sekolah lagi. "NZ itu banyak beasiswa tentang bencana, kan kamu concern ke isu ini..."

Telak 3:
A: Gak sekalian ikutan ke Merapi? (seorang peneliti Jerman ikut rombongan teman-teman Merapi pulang)
B: Jangan sekarang, kasihan anakku.
A: Udah punya anak??? *ini kemudian terasa agak lebay. Usia-usia segini, punya anak ya biasa aja kali yes*

Telak 4:
A: Erupsi Kelud kemaren udah di Yogya? Lebih serem dari Merapi...
B: Enggak. Karena bandara tutup, makanya baru bisa sekarang. Tapi aku di sini waktu erupsi 2006.
A: Oh masih di sini ya...
B: Waktu itu udah di Jakarta, setahun setelah lulus. Erupsi 2006 itu kebetulan lagi liburan di Yogya...
A: Jadi dia lulus EMPAT TAHUN! *dalam hati lagi*

Perempuan A adalah aku. Perempuan B adalah Dwie Irmawati Gultom. Gambar itu kami lagi cekakakan di kantor @BPPTK, bersama si mas-mas peneliti Jerman.

Telak!

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 5, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:03:00 PM | No comments

Semoga Kalian Lekas Pulang...


Dalam perjalanan dari Rumah Seni Cemeti yang terletak di ujung selatan Kota Yogya, aku mampir ke sebuah toko franchise. Tertegun ketika ke luar toko, ada bayi ditidurkan di dekat genset di teras toko. Beralas kardus tipis. AKu clingukan mencari orangtuanya. 

Di ujung halaman toko, di pinggir jalan, tampak seorang perempuan sedang mencuci peralatan makan dan masak. Pasti itu ibunya. Mereka mungkin menjual makanan di sekitar tempat ini.


Malam ini pukul 9. Semoga si bayi tidak kedinginan. Selamat bekerja, ibu! Semoga kalian lekas pulang...

Mlekom,
AZ

20140520


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata