Showing posts with label kerja. Show all posts
Showing posts with label kerja. Show all posts

Tuesday, February 16, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 10:34:00 PM | No comments

Merahisasi Senin

Jaman kuliah aku pernah menjadi relawan, lalu menjadi pegawai honorer, pada bagian International Research Collaborations di lembaga riset milik Universitas Gadjah Mada. Lumayan, berkantor di gedung yang sama dengan para petinggi di kampus tertua milik pemerintah ini.

Meski pekerjaan administratif membosankan, aku senang punya pengalaman bekerja dengan orang-orang hebat. Setidaknya, tiap ganti pemerintahan ada saja dari mereka yang menduduki posisi penting di pusat sana. Salah satu yang dulu sering kurecokin undangan rapat, kini menjadi Rektor cantik pertama di almamater kami. Uhuk.

Di sini pula aku pertama kali bersentuhan secara intens dengan lembaga internasional, berupa kampus ataupun donor (salah satu donor dari proyek yang kukerjakan waktu itu, juga merupakan donor di program kantorku saat ini). Keuntungannya, bisa kenal secara fisik nama-nama penulis paper di berbagai jurnal internasional. Juga jadi sedikit paham soal sistem hibah internasional.

Semua manfaat ini tentu berguna untuk berbagai pekerjaanku di kemudian hari, hingga hari ini.

Manfaat lain adalah dipertemukan dengan kawan-kawan luar biasa dari satu bidang, yang membuat pekerjaan membosankan menjadi menyenangkan. Yang ibuk-ibuk, bawaannya masih tetap seperti anak muda. Yang anak muda ya tetap masih seperti anak muda :)

Saking dekatnya hubungan meski di luar urusan pekerjaan, kami pernah menyepakati satu hal: Memakai pakaian berwarna merah setiap Senin. Ini ideku, semacam teriakan kepada dunia "We love Monday, semangat kami semerah baju ini meski habis liburan akhir pekan!" Hahaha...

Di hari lain kami bersepakat mengenakan pakaian serba putih, aku lupa hari apa dan untuk alasan apa. Yang pasti, urusan "merahisasi hari Senin" ini sempat membuat iri staf dari bidang lain :p
Nah foto-foto ini muncul di "memory Facebook" (iya, aku anggota setia #nyekerdikantor). Trus jadi kangen mereka kan nih...

Mlekom,
AZ

Thursday, April 9, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 3:05:00 PM | No comments

Sik-asik!

Pekan lalu baru mendapat perpanjangan kontrak. Mungkin sudah saatnya untuk cerita tentang segala hal asyik tentang tempat kerjaku sekarang.

Keasikan pertama: Lokasi kantor.
  1. Bukan kawasan semrawut, sebab berada di daerah yang disebut-sebut sebagai Segitiga Emas Jakarta. Akibatnya, kawasan ini meski macet tetap teratur. Dilewati seluruh moda transportasi publik --KRL tentu tidak, namun ke stasiun sangat dekat dan bisa dengan angkum apapun. Ada banyak jalur alternatif; jadi kalau nunggu Trans Jakarta lama (ini tetap menjadi moda andalan, sebab tidak terkena macet) dan naik kendaraan roda empat macet, bisa pakai ojek yang hafal jalan tikus --jalan melalui komplek perumahan elite yang sama sekali tidak semrawut.
  2. Lokasi dekat dengan segala kebutuhan. Pasar tradisional --tempat umum yang paling sering kudatangi-- dekat. Beragam mal, dari yang sekelas ITC sampai yang terbesar di Jakarta, ada di dekat situ. Pasar induk juga nggak jauh --pasar induk favoritku cuma Tenabang :) Terminal gak dekat sih, tapi segala angkutan sepertinya berhenti di terminal terdekat. Ada dua stasiun yang dekat sini.
  3. Sebab lalu lintas di sekitar kantor dan tempat tinggal tidak terlalu semrawut, aku sih sudah beli sepeda. Berharap bisa bersepeda ke kantor. Jika dengan Trans Jakarta tak sampai 10 menit, mungkin mengayuh butuh lebih dari setengah jam :)
  4. Letak kantor tak jauh dari halte Trans Jakarta (ini menghemat energi kaki), dan tak jauh dari halter beragam angkum lain yang membelah kota dari segala penjuru Jakarta dan kota-kota sekitar. Nggak pernah khawatir pulang malam, sebab jalan selalu ramai.
  5. Organisasiku menyewa salah satu lantai di sebuah gedung yang terbilang baru. Gedung baru berarti masih sangat terawat. Jendelaku memamerkan pemandangan dari lantai 21, yang membuat bisa merencanakan pulang naik apa --tergantung dari pandangan mata: jalan macet atau tidak. Bonusnya, kalau malam bisa lihat lampu-lampu Jakarta. #BocahDeso
Keasyikan kedua: Lingkungan dan atmosfer kerja.
  1. Banyak pekerja Jakarta yang menempati gedung di bilangan ternama, namun memiliki hanya sedikit teritori. Teritori bernama kubikel. Aku beruntung, punya ruang 7x5 meter dengan dua meja untuk masing-masing orang dan satu telepon ekstensi yang dapat digunakan untuk telepon ke luar. Salah satu dinding ruangan berupa kaca. Kaca inilah yang menampilkan pemandangan salah satu jalan protokol Jakarta. Di ruang ini awalnya hanya berisi dua orang, aku dan supervisor. Sekarang bertiga. Nggak usah dijelasin asyiknya punya ruangan sendiri, ya!
  2. Pergaulan internasional adalah salah satu keuntungan di tempat kerjaku ini. Selain berkomunikasi dalam bahasa asing, kami juga berteman dengan orang-orang asing. Enaknya? Gak beda sih dengan organisasi lokal, hanya saja bisa memperlancar bahasa Inggris yang suka lupa kalau sering tidak digunakan.
  3. Sekitar 70% penghuni kantor adalah kaum muda usia di bawah 40 tahun. Meski begitu, single tak sebanyak jumlah jari di sebelah tangan :)
  4. Staff Meeting. Ini surga bagi anak kos sepertiku. Diadakan sebulan sekali, para emak-emak di kantor 'nyumbang' beragam makanan yang rasanya cuma enak dan enak banget!
Keasyikan ketiga: Aturan organisasi.
Seperti organisasi masyarakat publik pada umumnya; Membebaskan pegawe untuk bekerja dengan caranya sendiri. Selama pekerjaan beres.
  1. Kami memiliki jam kantor, 8-5 (tidak seperti perusahaan yang sejam lebih irit). Meski begitu, tak ada aturan baku untuk datang dan pulang on-time. Aturan itu hanya untuk memastikan pegawai bekerja selama delapan jam dalam sehari. Jika datang jam 9, ya pulang jam 6. Itu aturannya. Pada prakteknya, datanglah jam berapapun dan pulanglah jam berapapun... selama kamu bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan.
  2. Lagi nggak in the mood untuk duduk di belakang meja kantor? Kerja aja dari rumah. Selama itu Skype dan HP bisa dihubungin, aman dah!
  3. Kerja di hari Sabtu dan Minggu di dalam kota? Jangan harap dapat duit lembur! Peraturan sama berlaku di banyak organisasi internasional. Hanya saja, kamu bisa mengganti hari libur tersebut di hari lain. Namanya compensation leave (CL). CL ini bisa sampai 30 hari dalam setahun, jika ditambah jatah cuti jadi bisa libur berapa  lama tuh?
  4. Pakaian. Bisa pakai apa saja. You name it.
Keasyikan keempat: Fasilitas organisasi.
  1. Pulsa pascabayar unlimited! Tapi hapenya nggak dikasih, sih :p
  2. Selain gaji pokok yang jumlahnya segitu (hehehehe), kita juga dapat per diem yang untuk sekali perjalanan dinas dalam negeri bisa mencapai 1/4 pokok. Kalau pandai megang duit, jumlah ini bisa ditabung untuk masa depan. Cie, masa depan!
  3. Perjalanan dinas bisa terjadi setiap saat di enam provinsi daerah intervensi di Indonesia, di lebih dari 30 kabupaten/kota. Ini menambah daftar "I was here" milikku dengan cepat.
  4. Jika perjalanan di dalam kota, selain bisa menggunakan mobil kantor, juga bisa memakai voucher taksi (dari armada terbaik) dengan saldo unlimited. Voucher berlaku di seluruh Indonesia.
  5. Meski kelas ekonomi, perjalanan dengan pesawat menggunakan maskapai terbaik. Ini meningkatkan poin GFF dengan cepat! Jika kota yang dituju jauh dari lapangan terbang, maka menggunakan kereta api dengan kelas terbaik. Jika tak ada transportasi umum jarak jauh, disewakan mobil.
  6. Di tiap kota, dipesankan hotel terbaik. Meski yang menginap sama-sama perempuan, misalnya, tiap staf mendapat jatah satu kamar sendirian.
  7. Nah, aku belum pernah perjalanan dinas ke LN, belum bisa cerita fasilitas apa saja yang didapat. Tapi, jika agenda global diadakan di kantor Indonesia, kami mendapat fasilitas sama dengan staf dari negara lain, termasuk hitungan per diem dalam kurs USD.
  8. Asuransi ada dua: kesehatan dan jiwa. Ditambah BPJS (sesuai aturan negara yang mewajibkan ini). Tiap staf bisa berobat di RS, klinik, dan berbagai fasilitas kesehatan lain, di dalam dan LN. Asuransi ini, selain menanggung bea rawat jalan dan inap, juga memberi layanan untuk persalinan, general check-up, gigi, kacamata, vitamin dan seterusnya. Ini berlaku untuk  staf, suami/istri dan anak.
Sik-asik!
Banyak yang asyik, ada juga yang tidak asyik donk! Lain kali akan kuceritakan.

Yang pasti, dengan segala keasyikan ini, aku masih menikmati Jakarta--kota yang pernah kutolak sebagai daftar-tempat-tinggal. Setidaknya sampai enam bulan ke depan...

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Friday, September 28, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 5:30:00 PM |

Oktober, Kemana Kita?


Gambar dari sini.

Agendaku, agendamu. Tak sabar aku tak sabar... *dangdutan*

Senin 1 - Jogja
Selasa 2 - Gunung Kidul
Rabu 3 - Gunung Kidul

Kamis 4 - Gunung Kidul
Jumat 5 - Gunung Kidul
Sabtu 6 - Gunung Kidul
Minggu 7 - Semarang?
Senin 8 - Temanggung
Selasa 9 - Temanggung

Rabu 10 - Temanggung
Kamis 11 - Temanggung
Jumat 12 - Surabaya
Sabtu 13 - Surabaya

Minggu 14 - Surabaya
Senin 15 - Surabaya
Selasa 16 - Surabaya
Rabu 17 - Surabaya
Kamis 18 - Surabaya
Jumat 19 - Surabaya
Sabtu 20 - Surabaya
Minggu 21 - Surabaya
Senin 22 - Banyuwangi
Selasa 23 - Banyuwangi
Rabu 24 - Rote, Jogja
Kamis 25 - Rote, Jogja

Jumat 26 - Rote, Jogja
Sabtu 27 - Rote, Jogja
Minggu 28 - Rote, Jogja
Senin 29 - Jogja
Selasa 30 - Jogja
Rabu 31 - Jogja

Apaan sih ini?
Ya, cuma kita dan Tuhan yang tahu :))

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM |

TMT Denpasar - Hari 7

Semalaman tidak bisa tidur. Kuputuskan untuk packing sebab akan nebeng taxy Elan yang akan mengantarnya ke bandara, pukul 05.00. Agendaku sih mau belanja, jadi perlu menitip koperku di bagasi Elan agar santai melenggang.

Habis sahur gak tidur lagi, langsung mandi, pamitan sama seisi Amman Shintya yang bangun, berangkat.
"Bajunya gitu aja?" kata Kak Shindy
"Ho-oh," kataku mantap.
"Hahaha, dasar orang Jogja"

Aku pakai kaos gombor dan trening celana aladdin plus sandal jepit kuning. Baju yang bagusan kusimpan di dalam ransel, niat ganti baju kalau mau berangkat ke Jogja nanti.

Pak Pir yang dipesan sejak semalam sudah menunggu di depan. Kelamaan nunggu, beliau tertidur di dalam taksi. Sebenarnya kami keluar tepat pukul 6, taksi dipesan pukul 6. Ya, taksi yang on-time, ya!

Btw, saat masuk, taksinya bau banget. Aku menutup hidung dan sulit bernapas. Aromanya pengap, seperti masuk ke kos-kosan cowo dengan jendela yang belum dibuka di pagi hari. Weeeek. Mau muntah! Kubuka kaca hingga setengah. Huiii, itu angin menusuk banget, mana aku enggak pake jaket. Pikirku, hari ini aku akan masuk angin, sakit kepala. Semoga kuat jalan... :(

Ngurah Rai
Masih gelap. Karena tidak macet, kami tiba hanya setengah jam.Aku ikut masuk ke ruang check-in, sebab punya tiket. Ternyata, barang Elan kelebihan 20kg. Bea kelebihan berat satu koperku itu sudah dihitung, Rp 150.000. Elan masukin dulu barangnya, lalu coba keluar, cari locker. Kata Mas-mas Garuda-nya, barangnya masih bisa disusulkan kalo masih mau ditambahkan. Alhamdulillah, dapat locker Rp 25.000 per hari.

Elan berangkat jam 6.30. Kami sempat sohalat subuh bareng. Aku terpaksa menunggu sampai pasar buka, jam 9. Akupun tidur nyaman di Mushalla yang sangat sederhana itu (di sini Mushalla tidak diperhatikan, sepertinya). Nyaman dengan karpet sebagai alat tidur dan colokan listrik sebagai sumber kehidupan: HP :))

Ah ah, sepertinya tak cuma Mushalla yang tidak diperhatikan. Semua layanan "rest area" di Terminal Domestik ini sangat jelek. Toiletnya kotor, bau dan rusak. Tisue berserakan, keramik lantai sompel-sompel, ada ember buluk di bawah kran. Huhuhu...

`
8.30 aku keluar. Bosan banget tiduran di sana. Langit sudah terang. Aku jalan ke luar, cari taksi eh malah ditawarin taksi 'bodong' yang minta Rp 150.000 ke Badung. "Yaelah Pak, tadi dari Ketewel aja saya Rp 100.00," kataku. Dia turunin jadi Rp 100.000 aku tetap tak mau. Lalu berjalan lagi masuk ke dalam, mau cari taksi resmi bandara. Tiba-tiba ada yang dekatin, berbisik "Mbak, naik ojek aja?"

"Berapa, pak?"
"50 ribu"
"Ah mahal pak, enggak deh saya naik taksi aja"
"40 ribu, mbak"
"Ya, oke" kataku (hehe... tawar-menawar macam apa, ini!)

Si Bapak ambil motornya. Kami berangkat. Tukang 'taksi bodong' tadi nyeloteh: "Ojek aja 50 ribu kok!"

"Mari, pak!" sapaku ramah ke si taksi bodong sambil ngeloyor. Wek!

Aku dikasih helm ala moge yang dari kulit dan ada kacamatanya itu. Rambutku oh rambutku. Tak ada jepitan, jadi terkibar-kibar di udara lembab pagi itu. Bali memang lagi musim duingin! Setengah jam ke Denpasar. Kami ngobrol banyak. Aku tanya-tanya tentang endek dan dimana membelinya. 

Si Bapak, Komang namanya, menawari jasa sewa motor. Rp 50.000 per hari. Motor matik Vio (ato Vario?). Jika minat, tinggal hubungi beliau di 085338410360.

Keliling!
Pasar masih tutup. Hanya ada aktivitas di bagian sembako dst. Huff.  Aku menunggu di gazebo depan gerbang pasar. Sambil nyisir-nyisir rambut yang acakadul.

Kutelepon Uci, ajak ikutan ke sini. Ternyata Uci tidak ikut audiensi dengan Walikota Denpasar. Ah ya, dua anak bandel. Toss! :)

Pukul 09.00. Dari jauh terlihat satu-dua kios pernak-pernik di Lantai II mulai buka. Aku masuk melalui lantai basement. Pengen lihat aktivitas pasar. Menarik, selalu! Kukeluarkan HP, ambil gambar dari tangga.
.
Aktivitas pedagang daging dan ikan.

Di lantai atas, kios endek belum pada buka. Hufff. Aku berhenti sebentar, motret kondisi sekitar dari atas. Ah, tampak Jalan Sulawesi sudah beraktifitas. Aku turun lewat tangga belakang, menyusuri deretan toko kain.
.
Di seberang sana Jalan Sulawesi
Pertama susuri bagian kiri (ini gak tau arah mata anginnya), dapat dua potong bahan brokat yang lagi obral. Kupilih biru dan cream, untuk pasangan endek.
.

`
Kemudian aku memutar lagi, berlawanan arah, menyusur deretan toko di bagian lainnya. Tak ada yang kubeli. Aku lurus ke arah Jalan Gajadmada. Di depan salah satu toko ada orang kurangajar yang menggoda dengan ucapan.

Aku berbelok ke kanan, meyusuri jalan. Lihat toko Kopi Bali masih tutup. Terus berjalan, sambil terus pasang mata di toko-toko kain. Lalu berbelok kanan lagi, menyusuri Jalan Sumatra. Ada banyak toko oleh-oleh di sini.

Lalu berbelok kanan lagi entah ke jalan apa. Berderet pengepul buah-buahan, terutama jeruk. Banyak orang kurangajar di sana, para buruh pengemas buah. Sial! Sudah seperti masuk terminal Senen.
.
.
Kemudian berbelok kanan lagi. Hohoho ini Jalan Sulawesi lagi! :)) Dan aku berjalan melewati toko kain tempat orang kurangajar pertama. Dia sudah tak ada. Ada tas lucu di tokonya, pengen beli tapi malas ada si kurangajar.

Aku berbelok ke kiri, naik lagi ke Lantai II Pasar Badung. Aku beli endek tipis buat papa, adek dan titipan Elan. Bisa dibikin sarung. Lalu cari tiga endek cantik untuk Mama, kakak dan Mamanya Elan.

Kutelepon lagi Uci. Dia masih sibuk dengan urusannya di Amman Shintya. Kususuri bagian kiri Jalan Gadjahmada, sampai ke ujung. Soalnya tadi dapat informasi tentang Toko Satria yang menjual alat-alat jahit. Tokonya belum buka, meski pegawainya sudah beraktifitas.

Lalu kembali lagi, menuju Pasar Kumbasari. Istirahat nyaris sejam di bangku panjang dekat parkiran depan, sambil nyolok HP. Lalu masuk, mencari barang untuk beberapa orang. Cukup lama, sampai harus membeli tas batik gede agar aku tak menenteng banyak kresek.
.
Dengan tas batik & ransel, tentenganku tiga potong.

Sambil menunggu Uci, kususuri banyak toko. Ada yang jual baju kombinasi tenun endek. Cantik, tapi tak ada ukuranku. Aku masuk ke sebuah kios yang jual mukena khas Bali. Lihat bahannya yang dari santung, jadi malas beli dengan harga yang hampir seratus ribu. "Mending beli kainnya, minta tolong Mama jahitkan," batinku.

Kulihat pakaian di toko itu. Lucu-lucu, seperti yang banyak dijual di obyek wisata. Dapat banyak, tak lebih dari RP 300.000 :)

Kuputuskan menunggu Uci di toko yang sudah kuubek-ubek selama setengah jam ini. Ngobrol banyak tentang mukena Bali yang ternyata sedang in di olshop seluruh Indonesia. Wow!

Kios ini sangat ramai didatangi para reseller datang. Rata-rata mereka berdagang on-line. Ada pula pedagang baju kredit yang pusing karena tidak mendapat dagangan. Baju yang dijual adalah jenis pakaian yang didatangkan dari Jakarta.

"Sudah diborong karena mau lebaran ini, mbak. Saya kemaren-kemaren duitnya belom ada..."

Wow! Bali pun berlebaran, yah!

Uci datang. Dia diturunkan di jalan. Mobil sewaan kami dipakai untuk mengantar-antar ke bandara. Uci naik taksi ke sini, hiks. Lalu ikut belanja baju-baju Bali.

Kuantar Uci melihat handycraft, lalu endek. Pak supir yang dari bandara sudah datang. Kami mampir ke toko oleh-oleh untuk membeli Pai Susu untuk oleh-oleh Uci. Aku tak ikut membeli, orang rumah tak suka.
.
.
Kutanya tempat jual kopi. "Cari aja di warung-warung biasa, pasti ada kopi Bali," kata Mas Gede, penjaga Amman Shintya. Kutanya Pak Pir, dimana swalayan besar. Swalayan lokal. Kalau di Jogja seperti Pamella gitu. Beliau ajak kami ke Tiara Dewata.
.
.
Ini pilihan cerdas. Mau cari oleh-oleh Bali apa aja ada: kacang Rahayu, pie susu, brem, kopi (beragam jenis dan merk), dst. Hehehe, malah gak ribet. Harga pun lebih murah dibanding toko oleh-oleh.
.
Bali's liquor. Complete one!
Aku juga sekalian beli popmi untuk buka. Lalu sekotak Dankin Donok yang kuambil sepotong, lalu kutitipkan pada Uci untuk orang-orang yang masih tinggal di Amman Shintya

Lalu jalan ke bandara. Sempat melihat studio foto yang menyediakan pakaian tradisional Bali. Kami pengen mampir, tapi takut macet jam pulang kantor.

Ngurah Rai
Tadinya Uci mau nemenin, tapi sepertinya lebih tertarik foot spa. Aku masuk. Beberapa langkah susuri jalan, sebelum booth berbagai perusahaan travel itu, kudengar teriakan.

"Mbak Adri, Mbak"
Aku cuek. Itu nama pasaran, yu no!
"Mbak Adri, Mbak Adri."
Masih cuek. Sampai beberapa kali memanggil, aku menoleh. Eeh si Pak Pir, bawa kresek berisi baju gantiku. Tertinggal saat aku merapikan barang di mobil.
"Trims, Pak. Maaf ya Pak, merepotkan."

Aku ambil barang di locker. Tadi Elan sudah kirim kodenya. Eh tidak diminta, hanya ditanya:
"Atas nama siapa, bu?"
"Adriani"
Petugasnya menyusur seluruh koper. Membaca namanya satu-satu.
"Elanto..."
"Nah, yang itu. Saya kira pakai nama saya," kataku. Langsung diberikannya. Duh, bahaya banget. Bagaimana kalau aku orang jahat?
"Kodenya gak perlu, Pak?"
"Ibu ingat kodenya?" Duh, si Bapak ceroboh banget!
"Kan saya catat, Pak!" sahutku.
"Enggak perlu, Bu. Benar yang ini kan, kopernya? Benar itu nama suaminya?"
Terpaksa aku menjawab "Ya!"
"Silahkan."

Ah, dikira pasutri...

Lalu dia mencatat di buku, mungkin meddata barang yang sudah diambil. "Adriani", sebutnya.
"Ya, Pak. Itu saya. 0857xxxxxxxxx," kusebutkan nomor teleponku yang diberi Elan saat menitipkan.
Nah begitu donk Pak, yang waspada! :)

Kuminta izin untuk mengatur barang-barangku di ruangan ini. Ah, kunci koperku salah, tak bisa dibuka. Yawes! Aku masuk, cek-in. Shalat qadha dzuhur-ashar. Lalu keluar lagi, cari warung untuk berbuka. Sepertinya akan repot cari air panas untuk popmi!

KFC. Aku mampir di sana. Makanan yang hanya kukonsumsi di bandara. Meski harganya lebih mahal sekitar Rp 2.000 dari harga di luar bandara, makanan jenis fastfood begini selalu lebih murah dibanding warung lain di bandara. Tul, gak?

Aku tak langsung masuk. Magrib masih setengah jam lagi. Tapi aku tak mau kehabisan tempat, dan pengen makanan sudah terhidang di depanku saat adzan. Aku duduk di lantai samping gerai KFC. Ada banyak orang lain duduk di sana, orang-orang travel agent. Yang di sebelahku sedang menebalkan nama tamu yang dijemputnya. Beberapa kali melihatku, lantas mas-mas ini menyapa.

"Halo Mbak, saya Wisnu. Lagi jemput?"
"Adriani. Mau berangkat"
"Oh, kemana?"
"Jogja."
"Jam?" mulai menyebalkan deh ni orang.
"7.30."
"Garuda?" tanyanya tak percaya. Yeah, kaos belel + celana aladdin + sandal swalo.
"Ya."
Akhirnya ngobrol macem-macem. Dia-nya. Aku sih bikin tembok terus. Rasanya pengen segera masuk ke KFC, tapi kan harus pesan makanan. Bisa dingin nanti makananku.

Dia dia cerita pekerjaannya, lalu tanya pekerjaanku. Dia gak ngerti omonganku, kuberi kartu nama. Beres! Tapi hanya sebentar.... :(

"Liburan kok tidak sama anak-anak?"
"Sialan," batinku. Ni orang usaha bener!
"Saya ke sini kerja. Akhir pekan kemarin suami nyusul. Kami tidak punya anak."

Dia malah bla bla bla sambil nasehatin aku suruh bersabar kalau belum diberi momongan. Bertanya sudah berapa lama menikah, dst dst.

Aku terus ngobrol via chat di HP. Lalu minta Papaku untuk lihat siaran TV, jam berapa adzan di Bali. Takut tak ada informasi di bandara. Dia miskol hapeku dari nomor di kartunama.

"Itu nomer saya," katanya.
"Oke," kataku tanpa melakukan apapun.


Jengah dengan obrolan ini, berharap segera magrib. 15 menit sebelum buka, aku pamit, lalu ke KFC. Dia muslim, tak puasa karena semalam tidak terbangun sahur, katanya.
.
Cuma saos teriyaki ini yg bikin KFC layak cicip :)
Makan cepat, gak kuat asap rokok serombongan tentara yang gabung di mejaku. Langsung ke mushalla. Lewatin lagi box ta'jil gratis yang gak pernah kudapat.

`
Masuk cek-in konter, udah habis :)
Adisucipto
Papa sampe parkiran saat aku landing. Bantu bawa barang bawaanku, sampe mobil ngomel:
"Pakaiannya gitu aja, Dek? Baru ini liat penumpang Garuda pake sandal jepit!"
Yee Pa, apa hubungannya? Hummm, aku lupa. Harusnya di bandara Bali tadi ganti baju :(
.
Di Ngurah Rai

Nyampe rumah langsung tidur. Kangen banget dengan kasurku. Hoahm...

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 7, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:02:00 AM |

TMT Denpasar - Hari 6

Tumben Elan dan Kak Shindi enggak bangun duluan. Mungkin mereka sangat kecapean. Aku yang bangun pertama dan membangunkan Uci. Hanya ada waktu 30 menit untuk masak dan makan. Kupanaskan semua makanan yang kami beli semalam. Kutelepon Elan, lalu membantu.

Uci bangun, lalu memasak orak-arik telur. Kutitip satu telur ceplok untuk Elan. Kutelepon Kak Shindi karena kami tak berani membangunkan, takut Bu Hasti yang tidur dengannya ikut terbangun. Tak juga bangun, Uci datangi kamarnya, malah Bu Hasti yang sudah bangun :)
`
`
Balikuna
Kami diskusi tentang perkembangan hasil temuan di lapangan. Dibagi tugas ke masing-masing orang untuk menulis obyek-obyek menarik yang kami temui. Tugasku menulis tipat tahu, nasi jinggo dan Museum Bali.

Sebab Elan harus meliput Pasar Kumbasari, Pasar Badung, Jalan Sulawesi,  akhirnya kami jalan bersama. Kelompok lain adalah Bu Hasti dan Mbak Diah yang mencari jalan-jalan alternatif di balik gang-gang sempit. Lalu Uci dan Mbak Maya yang akan ke warung kopi, toko kain, dan babi guling.

Memotret yang makan siang :)
Lapangan Puputan
Tepat di depan Museum Bali. Lapangan ini penuh aktivitas warga. Tempatnya teduh, bersih dan rapi. Sangat nyaman untuk bersantai. Lapangan ini ramai di sore hari dan malam minggu. Berbagai aktivitas rekreasi ada di sini.
`
Bermain catur
Nyaman
`
Museum Bali
Tak bisa masuk ke semua ruang pamer, ada bangunan yang sedang direnovasi. Sebab kami terburu-buru, kami pun hanya masuk ke dua ruangan. Tapi struktur bangunan di luar ruangan beserta patung-patung (mungkin arca tua?) di halaman sudah bikin kami terpanan dan enggan beranjak.
`

Demi foto ini nyolong kursi, donk!
Pasar Kumbasari
Ini keduakaliku ke pasar ini. Dulu kesini beli lilin bentuk kamboja buat dibagi-bagi di Jogja. Sekarang berburu owl. Aaaakh, buanyak owl di sini!
`
All about owls!

Nawar hiasan owl, emalah ngobrol

Pasar Badung
Kami turun Pasar Kumbasari lewat samping, lalu menyeberangi sungai untuk ke Pasar Badung.
`
`
Jalan masuk belakang itu pasar sayur-ikan-buah. Meski tak sebersih pasar di Jogja, penataannya menarik. Aku betah ngambil angle dari berbagai sudut pasar ini.
`
`
I am crazy about this market. Mamaku bilang ini tempat belanja yang paling okeh di Denpasar, secara beliau kan pecinta pasar. Kecintaan itu turun padaku. Ya ya...

Sebenarnya, ini inti utama aku pengen ikut Elan liputan ke pasar ini: beli endek! Hehehe. Soalnya, penenun di Puri Pemecutan bilang bahwa hasil mereka dijual ke pasar ini. Waktu gugling juga menemukan bahwa ini merupakan pasar utama penjualan endek Bali.

Endek biru itu untukku.
Kami harus buru-buru (baca: Elan terus mendesakku agar buru-buru, hiks), sebab masih harus meliput sekeliling masjid. Ah, aku tak puas. "Hari terakhir nanti aku akan sempatkan mampir lagi ke sini!" tekadku.

Jalan Kalimantan
Kami susuri jalan ini, sambil tanya-tanya harga mukena Bali. Aku naksir mukena ini sejak hari kedua. Saat itu, otw ke Ubud lewati Pasar Sukowati yang jual mukena ini. Mukena Bali itu... Gugling, deh. Kapan-kapan kuceritakan :)
`
`
Tapi berhubung aku tidak beli karena harganya 100-an (huff, mending beli endek), kami tak dapat info mengenai Perkampungan Arab ini. Lalu kami susuri Jalan Sumatra, untuk berbelok ke Jalan Hasanuddin yang di sepanjang jalannya berbaris Toko Emas.


`
Bukan. Kami tak mampir untuk membeli mahar, tapi ingin meliput tentang ibu-ibu yang menerima jual emas dari masyarakat. Kami menyebutnya Gold Lady.
`
`

Masjid
Letaknya di seberang deretan toko emas ini. Tidak terlalu menarik dalam desain, namun dia menjadi penting sebab menjadi masjid terbesar di Denpasar. Di sampingnya ada masjid, bangunan yang cukup tua. Digunakan untuk kegiatan pendidikan agama bagi anak-anak.
`
Masjid Al-Ukhuwwah
Madrasah Al-Ukhuwwah
Jalan Sulawesi
Ini masih di Kampung Arab. Deretan toko kain mengundang selera. "Aku harus mampir, besok!" pikirku.
`
Hari ini sih, numpang foto dulu...
Pasar Badung
Ketemu Uci di sini. Lalu pamer belanjaan. Uci udah beli Kopi Bali buat oleh-oleh ke Jakarta. Mbak Maya beli Pia Legong.
`
Bersama Uci
Markas Tentara Pelajar? | Lokasi: pertigaan seberang Pasar Badung
Sate Cak Udin
Lokasi di Jalan Veteran. Favoritnya Mbak Diah. Aku pesan sebungkus Sate Kambing, Uci Sate Ayam, dan Elan Soto Ayam. Kangen makan soto, katanya...
`
Lihat mesin blowernya!
`
Cak Udin ramah. Kami ngobrol banyak; tentang warga Jawa dan Madura di Bali, makanan halal di Bali, dan seterusnya.
Di seberang warung ini ada rumah tua yang cukup menarik. Meski desain arsitekturnya tidak spesifik dan usianya tidak terlalu tua (perkiraanku angkatan tahun 60-70an), ia menjadi menarik sebab menjadi satu diantara sedikit bangunan tua bergaya non Bali yang masih bertahan di pulau ini.
`
`
Hal menarik lain, Elan perhatikan cara parkir sopir kami. Tertib sekali!
`
Perhatikan tandanya!
Ini Pak Pir kami yang suka ketawa :)
Kami juga temukan mural dalam deretan frame yang mengkritik dunia wisata Bali. Menarik!
`
Aku lupa lokasinya di jalan apa :|

KFC Sanur
Aku kalah. Dua suara memilih ayam bule untuk menu sahur... :|
`
`
Amman Shintya
Makan malam dengan menu beragam, sesuai pesanan masing-masing: Tipat Tahu, sate dan Babi Guling. AYam bule disimpan (baca: disembunyikan) sampai besok sahur.

Ada cerita menarik ketika Mbak Diah makan Babi Guling. Dia tidak menggunakan piring dan sendok. "Biasanya keluargaku yang muslim tidak mau pakai piring dan sendok yang bekas babi," alasannya. Mba Diah punya saudara muslim di Lombok.
Acara makan malam diselingi dengan pamer foto, cerita dan... belanjaan! Its show time, ladies!

*
Malam kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, menulis hasil jelajah. Pekerjaanku yang sudah selesai sejak pagi (kecuali tentang Museum Bali), masih ketambahan kerjaan translate punya Elan dan bantu menulis empat tulisan lagi. Argh! Kami bergadang sampai jam 1, padahal harus tidak tidur pasca sahur untuk antar Elan ke bandara.

Hoahm...

Mlekom,
AZ





Monday, August 6, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:05:00 AM |

TMT Denpasar - Hari 5

Sahur dengan menu membosankan. Kami hanya memanasi makanan yang ada di kulkas. Sama dengan menu dua kali sahur sebelumnya. Maaf ya ikan, seumur hidupku baru kali ini aku membencimu... :|
`
 `
Balikuna
Akhir pekan ini suami dan anak-anak Bu Ari datang dari Jakarta, untuk menemani keluarga angkat Bu Ari dari Belgia yang sedang berlibur di Bali. Pagi ini mereka rafting di Sungai Uyung, Ubud. Kami diajak serta, namun menolak sebab perlu menyelesaikan banyak pekerjaan lagi.
`
`
Be Paseh
Ini adalah resto di Denpasar. Jual segala macam makanan ikan. Hwaaa, aku bosan! Eh ternyata ada ayam betutu dan udang bakar. Aku pilih udang bakar yang ternyata, rasanya biasa banget. Tapi lumayanlah, kali ini tak harus menyantap ikan.
`
Bu Ari bergabung dengan kami di sini. Oia, aku baru tahu bahwa kacang goreng yang selalu ada di makanan Bali itu untuk meredam rasa pedas. Bu Ari yang bilang. Belum kubuktikan, sih!
 
Veranda Cafe
Kami bertemu dengan Pak Anindya dari Bappeda Bali. Beliau adalah salah seorang "oknum" pemerintahan yang memiliki pemikiran langka :) Beliau mendukung Bali Creative City dan mengajak orang untuk berjalan kaki dengan memperluas pedestrian way di Jalan Gajahmada. Oleh Pemkot setempat, jalan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Heritage.
`
`
Kak Shindi da para ibu-ibu ikut mobil Bu Ari. Kami mampir untuk mencari menu sahur. Agak sulit mencari sebab lagi bosan makan makanan Jawa yang selalu tersedia di kulkas. Padahal, makanan Jawa adalah pilihan mudah untuk mencari makanan halal di Bali.

Sepanjang jalan menyisir makanan, akhirnya mampir di Warung Madura. Kami beli dua sate ayam dan satu gule kambing. Yang makan kambing cuma aku. Hummm. Sambil menunggu pesanan siap, Mbak Maya minum jamu bubuk. Aku dan Uci ke toko sebelah; aku cari baby oil untuk pijat, dan Uci beli tolak angin :)

Amman Shintya
Tidur!

Mlekom,
AZ



Sunday, August 5, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:28:00 PM |

TMT Denpasar - Hari 4

Aloha!
Sahur jam 4. Lalu bangun jam 8 dengan segar. Sudah tak sakit kepala dan sudah tidur cukup.

Balikuna
Agenda hari ini adalah feeding in data dari jelajah kemarin. Banyak cerita seru dari pengalaman masing-masing orang.
`
`
 `
Ada break sekitar 5 jam. Ester ikut kelas yoga. Bu Hasti dan Mba Maya lari sore di Sanur. Bu Ari menemui seorang perancang motif tenun endek Denpasar. Aku memilih ikut lihat tenun, bersama Elan, Uci dan Mbak Diah. Dalam 3 menit, aku tiga kali ganti baju, karena tidak ada gambaran tempat seperti apa yang akan kami temui. Akhirnya pakai baju nyaman kedap udara dingin :)

Tenun Patra
Motif ini dirancang oleh I Gusti Made Arsawan. Takjub mendengar kisahnya membangkitkan industri endek. Ada cinta, ideologi, dan CSR di sana. Mengikuti kisah beliau, aku teringat pada Singgih Kartono, perancang radio kayu Magno di Temanggung, Jateng yang memiliki ide bisnis yang selalu berjalan beriringan dengan CSR.

"Pak Singgih banget, ya!" bisikku pada Elan.

Eh tenyata, keduanya memang berteman baik. Bahkan, Bu Ari adalah adik kelas mereka di ITB meski baru kenal saat ini. Dunia sempit? Mungkin! :)
`
Ingin bawa pulang...
Pak Arsawan dan karyanya.
Tenun ini belum dijual, baru bikin beberapa motif untuk kebutuhan launching. Dengan kemasan eksklusif ini, selembarnya dijual Rp 1.500.000,- "Jika menggunakan pewarnaan alami, saya berani beli Rp 4.500.000,- pak!" kata Bu Ari yang kolektor kain nusantara ini.

Perusahaan ini punya web di www.tenunpatra.com, namun sepertinya belum aktif. Sementara bisa lihat koleksi mereka dan segera inden poduknya via Facebook ini.

Bale Timbang
Oh iya, kami bertemu Pak Arsawan di warungnya. Lokasi yang sangat menarik. Ini adalah warung dengan konsep alam. Sehari-hari ada banyak kegiatan dengan anak-anak dilakukan di sini.

Jelang magrib, Pak Arsawan mengajak makan malam di warungnya ini. Namun kami tolak, sebab tak enak. Namun, berhubung magrib sudah dekat, beliau tawarkan minuman saja. Kami setuju. Datanglah Es Daluman yang sudah lama diidamkan Elan dan dua cemilan, yaitu sirat dan pisgor keju. Sirat ini makanan khas. Rasanya sungguh istimewa.
`
Es daluman
Sirat
Pisgor keju
Satria
Menuju penginapan, kami mampir ke Warung Makan Satria. Ini adalah salah satu warung menu khas Bali yang terkenal enaknya. Salah satu favorit keluarga Bu Ari.

Nasi campur.
Amman Shintya
Tadinya sih mau lanjut membahas trails, namun Ester dan Bu Hasti belum tiba. Mereka makan bareng di Sanur. Terlalu lama menunggu, Bu Ari harus buru-buru pulang untuk menemui saudara Belgia-nya. Aku, Uci dan Elan? Ya bobok!
`
`
Eh, ternyata mulai jam 10.00 semua duduk manis di Balikuna. Bukan meneruskan pembahasan trails, namun ngobrol tentang rencana training di Surabaya, Oktober nanti. Elan dibangunkan, sebab dia koordinator kegiatan Oktober. Aku? Tetap molor dengan Uci. Kami baru tahu tentang pertemuan malam ini dari cerita mereka-yang-kurang-tidur :)

Mlekom,
AZ 

*Tentang TMT, lihat ini.
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata