Showing posts with label heritage. Show all posts
Showing posts with label heritage. Show all posts

Sunday, January 1, 2017

Posted by adrianizulivan Posted on 10:52:00 PM | No comments

Resep Itu Berbahan Kualitas Rasa dan Ketepatan Waktu


Jarum jam melangkah ke angka tiga, ketika sore itu kami tiba di kediaman Pak Bas (72). Basis Hargito, begitu nama panjangnya, tampak sibuk di dapur. Pak Bas mengocok telur, sedang istrinya Bu Gidah (64) memanggang di oven. Formasi kerjasama ini telah mereka lakukan sejak 1983.

Dimulai pukul 07.00, tiap hari pasangan ini sambangi dapur meski di hari libur. "Ga ada libur, kan bukan pegawai," kelakar Pak Bas. Mengaduk telur dan gula dengan sendok kayu, mengocoknya dengan kocokan telur per, mencampur dengan terigu dan susu, menuang di cetakan, memanggang, menjaga api, melepas roti dari cetakan, mengoles kuning telur, membungkus, membagi sesuai jumlah pesanan dan memajang di rak jual.

Seluruh aktivitas itu mereka kerjakan berdua saja, dengan sesekali dibantu anak-anaknya. Urusan dapur akan selesai pukul 17.00, dilanjut melayani pembeli dan mencatat pembukuan. Tanpa disadari, keseharian ini menjadi kontribusi sangat berharga dalam melestarikan pusaka tak benda (intangible heritage) yang dimiliki Indonesia.

Pak Bas yang selalu tersenyum ramah.
Kembang Waru
Pak Bas dan Bu Gidah merupakan satu dari hanya lima pengrajin roti kembang waru yang tertinggal. Kue (oleh warga setempat disebut roti) ini merupakan menu hajatan yang ditinggalkan oleh masa Kerajaan Mataram. Mulai upacara kehamilan, kelahiran, pernikahan hingga kematian, roti kembang waru selalu ada dalam sajian makanan ringan dan hantaran atau bingkisan untuk dibawa pulang oleh tamu.

Menurut Pak Bas, makanan ini dinamai kembang waru, sebab bentuknya mirip dengan bunga kembang waru yang dahulu banyak tumbuh di sekeliling Pasar Gede di kawasan Kotagede. Penciptanya adalah keluarga kerajaan yang menurunkan resepnya turun-temurun hingga sampai ke keluarga Pak Bas. "Saya enggak tahu ini resepnya pertama dapat dari mana, saya dapat dari orangtua," katanya.

Awalnya Pak Bas, sebagaimana kebanyakan profesi di Kampung Basen, bekerja sebagai pengrajin blek. Blek merupakan sebutan untuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari logam seperti ceret air, dandang penanak nasi, oven pemanggang dan sebagainya. Seiring waktu, peminat blek berkurang akibat serbuan produk rumah tangga berbahan plastik. Satu per satu pengrajin gulung tikar, termasuk Pak Bas.

Bersama istri, ia bertekad meneruskan usaha keluarga dengan menjual roti kembang waru. Saat itu mereka tidak sendiri, puluhan pengrajin blek lainnya juga beralih profesi menjadi pembuat roti kembang waru. Hingga penganan ini berhasil dikenalkan sebagai makanan keseharian yang tak hanya bisa dinikmati dalam upacara adat.

Pesanan utama datang dari keluarga yang mengadakan hajatan, lalu masyarakat umum yang sekadar ingin menyicipi. Hingga saat ini roti kembang waru bikinan Pak Bas telah melanglang ke sejumlah pulau di nusantara dan berbagai negara. "Ada saja orang yang memesan dan membawanya kembali ke daerah atau negaranya," terang Pak Bas.

Bu Gidah di depan oven dan tungku tradisional.

Resep
34 tahun kini, meski puluhan pengrajin roti kembang waru telah lama berhenti berproduksi, Pak Bas dan keluarga terus mengepulkan dapur produksinya. Ia menerima mahasiswa, peneliti, pejalan maupun wartawan yang ingin belajar dengan tangan terbuka.

2 kg telor : 1 kg gula : 1 kg tepung. Begitu resep satu adonan roti kembang waru yang dibuat Pak Bas. Dalam 10 jam per hari itu, rata-rata ia mampu hasilkan 500 potong kue. Jumlah jam kerja ini bertambah jika mendapat banyak pesanan. Namun ada ataupun tak ada pesanan, ia akan selalu membuat roti kembang waru untuk masyarakat Yogyakarta.

Bagi Pak Bas, resep roti kembang waru yang dibuatnya tak hanya berbahan telur, gula dan terigu, namun juga kualitas rasa dan ketepatan waktu. "Saya jaga betul kualitas rasa roti buatan saya agar tidak ada yang berbeda sejak dahulu hingga sekarang, juga memastikan seluruh pesanan bisa diselesaikan tepat waktu agar kami terus mendapat kepercayaan pelanggan," jelasnya.

Kualitas bahan ini merupakan hal utama. Pak Bas menggunakan gula asli dan bukan pemanis buatan, tidak mengurangi jumlah telur meski ini merupakan bahan termahal, juga memastikan proses pematangan yang benar-benar sempurna. Ia sebagaimana pendahulunya, hanya mengganti bahan tepun menjadi terigu.

Di masa kerajaan tepung yang digunakan adalah tepung ketan, tentu akibat belum adanya teknologi untuk membuat gandum menjadi tepung. Penggunaan terigu tentu membuat rasa kue ini menjadi lebih enak dan proses pembuatan menjadi lebih murah. Dampaknya, harga jual tak pernah mahal. Di awal Januari 2017 ini masih dihargai sebesar Rp 1.600 per buah.


Generasi Kedua
Kampung Basen Kecamatan Kotagede terletak di kawasan perkotaan Yogyakarta dimana warganya kini memiliki beragam profesi. Kendala terbesar dalam melestarikan camilan ini adalah makin minimnya generasi Kampung Basen yang tertarik untuk meneruskan usaha tersebut, padahal para generasi kedua yang kini memegang kendali sudah tak lagi muda.

Ancaman hilangnya roti kembang waru bukanlah sekadar mengada-ada. Di masa jayanya, sejumlah pengrajin blek membuat cetakan dan oven pemanggang roti kembang waru. Pengrajin blek terakhir bertahan hanya hingga 2014 lalu, hingga pembuat roti kembang waru harus membuat sendiri cetakan dan oven yang mereka butuhkan.

Apakah kita hanya sedang menunggu roti kembang waru berhenti dibuat?

Mlekom,
AZ


Thursday, April 14, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 3:07:00 PM | No comments

Selamat Jalan, Pak Duha


Jika bicara perjuangan di masa kemerdekaan, bagiku Pak Melkhior Duha adalah pahlawan. Kegigihan beliau beserta keteguhan keluarga yang selalu mendukung, menyempurnakan perjuangannya.

Ia menjadi pahlawan bagi pusaka Ono Niha, menjadi titik perjuangan pelestarian budaya Nias. Berbicara dengan Pak Duha bukan hanya soal obrolan pertemanan, namun juga perjuangan untuk masa depan masyarakat dan budayanya.

Bangga rasanya pernah mengenal sosok ini. Seorang teman yang berlimpah pengetahuan, ayah yang menomorsatukan pendidikan anak, dan suami yang mencintai rumah.

Aku ingat sekali, ia memiliki cita-cita jangka pendek agar anak ketiga diterima di Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada. Serta cita-cita jangka panjang agar dapat membuat Museum Budaya Nias. Kuamini kedua cita-cita itu dan menuliskan ceritanya di sini 

Pagi tadi kutelepon Ibu Dina Waoma, istri Pak Duha yang sedang menguatkan diri di depan jenazah Pak Duha. Beliau berharap semua teman yang mengenal memaafkan segala kesalahan. Amin.

Indonesia sedang kehilangan salah satu pelestari terbaiknya. Selamat jalan, Pak Duha. Doakan kami memiliki keteguhan yang sama, agar dapat melanjutkan cita-cita perjuanganmu!

"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali..."

[Foto saat aku berkesempatan menginap di rumah keluarga Duha di Gunungsitoli Nias, Februari 2016]

Mlekom,
AZ

Sunday, March 27, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 10:28:00 PM | No comments

24 Hari Menuju Jagongan Media Rakyat 2016


Halo pelestari pusaka Indonesia, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat ya, agar dapat mengikuti Jagongan media Rakyat (JMR) 2016 pada 21-24 April mendatang di Yogyakarta :)


COMBINE

JMR merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan oleh COMBINE Resources Institution (CRI) atau biasa disebut COMBINE (dari "community-based information network") saja, sebuah lembaga yang berbasis di Sewon, Bantul, Yogyakarta. CRI memokuskan perhatian pada isu media dan komunitas, dengan harapan seluruh warga di seluruh pelosok negeri dapat mengakses informasi. 

Oleh COMBINE isu tersebut digarap dalam dua program yaitu Lumbung Komunitas (LK) dan 
Pengeloaan Informasi yang terdiri atas Manajemen Informasi Kebencanaan (MIK), Suara Warga (SW) dan Pasar Komunitas (PK). LK melahirkan sistem data kependudukan bernama Sistem Informasi Desa (SID), yang memudahkan petugas di Kantor Desa untuk mengetahui profil warganya. 

Selain membangun radio komunitas (rakom) untuk informasi di wilayah bencana, di tahun 2010 MIK membuat @jalinmerapi sebagai media informasi terkait kondisi sosial warga ketika erupsi Gunungapi Merapi. SW menghasilkan Suara Komunitas (SK) yang menjadi media bagi pewarta warga di seluruh nusantara.

JMR
Tahun ini merupakan kali keempat penyelenggaraan JMR. JMR ini merupakan ajang bertemunya seluruh inovator dan pengguna media komunitas. Media komunitas bisa berbentuk konvensional seperti pengajian dan kentongan, bisa berupa elektronik seperti radio dan televisi, dapat pula berbentuk daring seperti sosmed atau blog.

JMR mempertemukan parapihak pengguna media komunitas, baik yang merupakan penerima manfaat dari program-program COMBINE maupun pemanfaat media komunitas lainnya yang menggunakan media komunitas untuk pemberdayaan komunitas/warga.

Ruang kelas untuk menyelenggarakan diskusi, panggung untuk menampilkan pertunjukan, stan untuk memamerkan produk komunitas, ruang audio visual untuk memutar video, hingga tempat nongkrong untuk ngopi-ngopi dan makan dengan menu dari warung-warung milik komunitas yang 'dipindahkan' sementara di arena JMR. 

Tiap harinya ada empat waktu kegiatan yang dilaksanakan pararel di enam ruang berbeda. Bayangkan berapa oraang yang akan hadir. Ini tentu akan menjadi promosi besar (dan gratis!) bagi tiap komunitas yang terlibat.


Untuk itu COMBINE mengundang banyak pihak untuk terlibat dalam penyelenggaraan JMR di tiap tahunnya. Tahun ini mengambil tema "Menganyam Inisiatif Komunitas", tentu dengan penggunaan media sebagai basis informasinya. Tema ini akan membahas tiga hal, yaitu inovasi, literasi dan advokasi. 

A. Inovasi
  1. Perkotaan
  2. Kebencanaan dan Pembangunan Beresiko
  3. Pariwisata Berkelanjutan
  4. Teknologi Informasi
B. Advokasi
  1. Kesejahteraan Desa
  2. Lingkungan
  3. Pelestarian Pusaka
  4. Hukum dan HAM
  5. Penyiaran
  6. Pertanian
  7. Buruh Migran
  8. Disabilitas
  9. Keterbukaan Informasi Publik
C. Literasi
  1. Jurnalisme Kontemporer
  2. Ekonomi Mandiri
  3. Literasi media
  4. Media Baru
  5. Seni dan Aktivisme Sosial
  6. Literasi dan Aktivisme Sosial
  7. Penerbitan Alternatif
Poster IHI (desain oleh Abdulah Rofii)
Lihat isu B.3, yaitu Pelestarian Pusaka. Indonesian Heritage Inventory (IHI) diberi kesempatan untuk menggawangi isu ini. Salah satu yang perlu dilakukan adalah menentukan tema bahasan. Ini dia:
Komunitas pelestari pusaka di Indonesia tak terhitung jumlahnya. Masing-masing melakukan pelestarian lewat caranya masing-masing. Ada beragam cara mudah yang ramai dikerjakan komunitas-komunitas ini. Ada yang mendokumentasikan lewat foto dan tulisan, ada yang merawat bangunan Cagar Budaya dengan membersihkan secara berkala, ada yang rutin melakukan jelajah pusaka untuk mengenalkan kepada publik yang lebih luas. Inilah media pelestarian pusaka.
Mungkin anda melakukannya dengan cara lain yang mudah dan murah? Mudah dalam artian, tak membutuhkan upaya yang besar untuk melaksanakannya (seperti membuat jelajah pusaka). Sedang murah berarti tidak membutuhkan dana besar untuk pelaksanaannya.
Jika anda memiliki komunitas yang bergerak dalam inisiatif pelestarian pusaka dengan kedua cara tersebut, maka IHI mengundang anda menjadi pembicara di isu B.3 JMR 2016 pada Sabtu (23/04) pukul 15.00 di Jogja National Museum.

Isu B.3 akan diselenggarakan sebagai sesi diskusi dengan durasi 2,5 jam. Akan ada 3-4 pembicara yang akan kami hadirkan di sini. Tema besar dari sesi ini adalah "Memperkenalkan Pusaka untuk Pelestarian", dengan sub-tema sesuai hal-hal yang dikerjakan oleh teman-teman bersama komunitas masing-masing.

Sesi ini akan dikelola sedikit meniru metode pecha kucha. Tiap presenter akan diminta berbicara dengan presentasinya selama 10 menit, disusul pembicara lainnya dengan jumlah waktu yang sama, dst. Di akhir sesi akan ada tanya jawab.

Pembicara diharap membuat materi presentasi. Tak harus berbentuk Power Point, video dan foto pasti lebih manarik. Namun PP pun oke!

IHI
Juga disebut sebagai Pantau Pusaka Indonesia, IHI merupakan sebuah langkah awal menuju terbangunnya platform Indonesian Heritage Inventory. Inisiatif ini hasilkan sistem dokumentasi data sebaran pusaka di wilayah Indonesia. Yang dimaksud dengan pusaka di sini adalah heritage dalam Bahasa Inggris.

Data sebaran pusaka terbuka untuk publik dan dapat diperbarui informasinya secara kolaboratif. Publik dapat memperbarui informasi pada setiap data pusaka pada situasi terkini atau jika terjadi perubahan. Misalnya terkait pusaka yang sedang direvitalisasi, yang sedang alami kerusakan, terlanda dampak bencana, atau terancam oleh faktor alam maupun manusia.

Perlu Diketahui
JMR merupakan ajang keroyokan yang dikerjakan secara bersama-sama oleh beragam komunitas. Tak ada bayaran untuk penanggungjawab sesi, pembicara maupun peserta yang hadir. Termasuk di sesi Pelestarian Pusaka ini. 

Panitia menyediakan ruang untuk kita gunakan berdiskusi, notulen untuk mencatat jalannya diskusi, foto/videografer untuk dokumentasi, serta makanan ringan dan minuman untuk seluruh peserta yang hadir di tiap diskusi. Hanya itu. Jadi tak ada uang pengganti ongkos transpor ke dan dari tempat acara.

Undangan tak terbatas bagi komunitas di Yogya saja, namun terbuka bagi komunitas pelestari pusaka di seluruh Indonesia. Hanya saja tiap peserta yang hadir wajib menanggung sendiri biaya transpor, makan dan akomodasi selama mengikuti JMR. Tiap peserta diperkenankan membawa 'supporter' dengan jumlah tak terhingga. Makin rame makin seru!

Jika tertarik menjadi salah satu pembicara dengan ide pelestarian pusaka yang mudah dan murah tadi, monggo daftarkan komunitasmu! Sertakan informasi singkat mengenai program yang kamu lakukan untuk pelestarian pusaka. Sertakan pula alamat website atau media sosial yang dapat menjelaskan kegiatan tersebut.

Kami tunggu hingga Kamis, 31 Maret 2016 di heritageinventoryid@gmail.com Peserta yang memenuhi persyaratan akan diundang sebagai pembicara di Jagongan Media Rakyat 2016.

Cek kemeriahan JMR sebelumnya di sini. Info lengkapnya di sini. Tentang COMBINE di sini. Tentang IHI yang kami kembangkan di sini. :)

Update per 3 hari menuju JMR 2016:
  1. IHI menyediakan penginapan gratis satu kamar yang bisa memuat 6 orang, untuk digunakan pada tanggal 23 April 2016.
  2. Di atas ini adalah contoh rute dan jadwal kereta api yang bisa diambil untuk menghadiri JMR. Mohon maaf, kami tidak menyediakan tiket ya :)

Sugeng rawuh ing Ngayogyakarta!

Mlekom,
AZ



Monday, June 2, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 12:26:00 AM | No comments

Rukun Lima di Pusat Kota

Sebagaimana kota-kota lain di Pulau Jawa, Magelang menandai pusat kotanya lewat keberadaan alun-alun. Uniknya, alun-alun kota ini memiliki tak hanya satu tempat peribadatan--yang biasanya berupa masjid. Secara berdampingan, ada beragam keyakinan yang beribadah di satu kawasan sama. Diurut berdasar tahun berdiri, inilah bukti kerukunan lima umat di pusat Kota Magelang.

1. Masjid Agung. Awalnya hanya berupa langgar kecil (1650), lalu dibangun lebih besar pada 1810. Di masa penjajahan Belanda, bangunan yang terletak di sayap barat alun-alun ini menjadi tempat persinggahan pejuang kemerdekaan.


2. Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GBIP). Merupakan satu dari tujuh wilayah yang dibangun serentak di berbagai kota di Indonesia, pada 1817. Gereja yang dulunya bernama "De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie" ini terletak di sayap utara alun-alun.




3. Klenteng Liong Hok Bio. Perang Jawa (1825) pimpinan Pangeran Diponegoro turut melibatkan warga Tionghoa. Sebagai pejuang perang, mereka hidup berpindah-pindah. Magelang merupakan salah satu tempat persinggahan, sehingga dibangunlah klenteng Budha ajaran Tridharma (Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme). Klenteng yang dibangun tahun 1864 ini terletak di sisi selatan.


4. Gereja Santo Ignatius. Terletak di sebelah barat GPIB, gereja Katolik ini dibangun tahun 1899. Sejak 1933 telah menyelenggarakan kotbah mingguan berbahasa Jawa. Gereja ini turut mengalami keganasan pendudukan Jepang, dengan penangkapan pastur-pastur berkebangsaan Belanda.



5. Uniknya, Liong Hok Bio yang merupakan tempat peribadatan Budha ajaran Tridharma, menjadi titik mula upacara Pindapata. Pindapata merupakan rangkaian prosesi Waisak ajaran Budha Mahayana, sebelum biksu berdoa di Candi Borobudur. Borobudur yang berjarak sekitar 20 kilometer dari alun-alun ini, menjadi pusat perayaan Waisak nusantara sejak 1953.
Belajar kerukunan beragama tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Lihatlah warga Magelang, yang damai menjalaninya sejak ratusan tahun yang lalu. Hingga kini, alun-alun Magelang menjadi arena berbaur antar-umat yang beribadah dengan lima cara berbeda.

Mlekom,
AZ

Wednesday, April 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:31:00 PM | No comments

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 40: Danau


Kemewahan Urang Rantau

Salah satu kemewahan ketika berkunjung ke kampung halaman adalah pemandangan Danau Maninjau. Dataran sawah hijau dan air danau kebiruan menjadi daya magis yang membuat urang rantau (perantau) selalu ingin kembali. Warisan pusaka alam ini terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Gambar diambil pada pertengahan 2009.

Foto ini diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 40.

Mlekom,
AZ

Thursday, April 3, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:20:00 PM | No comments

Akhir Kisah Persahabatan Pesut, Jawi dan Manusia

Mbah Guru bercerita tentang legenda dari buku "Sejarah Kawitane Wong Jowo lan Wong Kanung". Tersebutlah seekor ikan pesut dari Nusa Bruney (Kalimantan) yang bermigrasi ke Jawa. Migrasi dilakukan pasca keributan yang terjadi di Nusa Bruney. Keluwesan pesut membuat ia berteman akrab dengan manusia. Ia juga menjalin persahabatan dengan jawi (banteng betina, kemudian menjadi asal muasal kata "jawa").
Ketiganya bersahabat erat. Kie Sen Dhang, pemimpin manusia, melarang perburuan ikan pesut dan banteng betina. Pesut memberi ganggang sebagai makanan untuk jawi, sehingga susunya berlimpah. Susu ini juga menjadi asupan bagi anak-anak pesut.  
Alkisah, persahabatan ini diabadikan dalam ukiran batu berbentuk rupa ketiganya. Pesut, jawi dan manusia terukir abadi di puncak sebuah bukit di pesisir Jawa.
[Disadur dari Wisata Lasem]
Lansekap di sekitar situs.
Bukit tersebut diyakini sebagai Bukit Selodiri. Menurut Gunadi Kasnowihardjo dari Balai Penelitian Arkeologi Yogyakarta, pada 1978 pemerintah pusat telah melakukan penelitian dengan simpulan bahwa bukit ini merupakan punden berundak. Selain temugelang (batu yang disusun keliling), ditemukan pula kursi dan kubur batu, serta arca kepala hewan. 

Diperkirakan, situs megalitikum ini ada sejak 294 tahun sebelum masehi. Kuat dugaan ada titik-titik megalitikum lain di sekitar lokasi tersebut. Jajang Agus Sonjaya dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, meyakini bahwa bagian barat Bukit Selodiri juga merupakan punden berundak.
Lokasi situs.
Situs yang terletak di 111º 28′ 2” BT, 06⁰ 39′ 5″ LS ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Artinya, segala tindakan terkait situs harus mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2010. Namun sejak akhir 2011 lalu, Terjan menjadi sorotan. Selain berita kehilangan sejumlah batu berukir, terjadi pula berbagai perusakan. Sebagian besar arca batu tidak diambil untuk dijual, namun ditinggal begitu saja di lokasi dalam kondisi rusak parah. Ditengarai, aksi ini akibat maraknya penambangan di sekitar lokasi.

Bukit Selodiri terletak di Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Terjan adalah kawasan perbukitan batu kapur, banyak pengusaha mengeruk bukit untuk material pembuatan semen. Tak pelak, warga pemilik tanah pun melepas lahannya. Lahan penyangga situs seluas 8,5 hektare telah dijual ke sejumlah pengusaha tambang. Hingga kini hanya tersisa 0,25 hektare, dengan titik pusat situs hanya berdiameter 100 meter.
Bukit yang digerus.
Sayangnya, kasus ini tak mendapat perhatian. Di tahun yang sama, pemerintah pusat mulai mengerahkan dukungan penuh terhadap situs megalitik lain, yaitu Gunung Padang di Jawa Barat. Hingga hari ini, penelitian Gunung Padang belum mencapai simpulan. Haruskan Situs Terjan menunggu lebih lama? Atau inikah akhir dari kisah persahabatan pesut, jawi dan manusia?
Aktivitas pembukaan lahan tambang.
Kini, sejumlah warga yang tergabung dalam Gerakan Pelestarian Pusaka Rembang - Lasem, coba mengadvokasi. Tujuan mereka adalah menghentikan perusakan, agar situs tetap lestari. Mereka menjumpai sejumlah pihak yang dianggap bertanggungjawab dalam perusakan ini. Mari beri dukungan via Agik NS (komunitas Wisata Lasem) dan Baskoro (Rembang Heritage Society)! Seluruh gambar milik Agik NS. Bacaan lanjut terkait situs Terjan dapat dilihat di sini:

Mlekom,
AZ


Saturday, July 27, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 8:49:00 AM | No comments

Cara Nesta Memahami Situs Purbakala

“Yang terakhir!” teriak Hanesta Aldera Rizzy (8) ketika ditanya candi kesukaannya. Seharian itu (14/06), Nesta, panggilan bocah ini, ikut rombongan panitia Tahun Pusaka Indonesia 2013 dalam Jelajah Percandian Sekitar Kawasan Prambanan. Ada empat candi yang dikunjungi, yaitu Kedulan di Kabupaten Sleman, DIY; serta Sari, Plaosan dan Sojiwan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Tak mengherankan jika Nesta begitu mengagumi Sojiwan. Candi yang disekeliling bangunannya dipenuhi panel berelief fabel itu, tentu menarik minat anak. Ada kisah angsa dan kura-kura, kera dan buaya, gajah dan kambing, serta sembilan kisah menarik lain. Nesta terus mencari relief kinnara-kinnari, dua burung kembar dalam mitologi, yang telah lama dikenalnya.

Nesta tak sendiri, ada sejumlah anak lain yang berkerumun mendengar kisah panel per panel yang diceritakan Elanto Wijoyono. Anak-anak ini adalah warga yang bermukim di sekitar Candi Sojiwan.

Anak-anak menyimak fabel relief Sojiwan
Sebagai penggagas acara, Elanto merasa penting untuk melibatkan warga sekitar, termasuk anak-anak. “Kunjungan ini memang untuk untuk menangkap persepsi masyarakat lokal terhadap situs purbakala di sekitarnya.” Rombongan tak hanya berbincang dengan anak-anak, namun juga petugas penjaga candi, pengunjung, orangtua yang mengawasi anaknya bermain, hingga petani yang beraktivitas di sekitar kawasan situs purbakala ini.

Rombongan merasa takjub dengan keahlian seorang petugas kemanan di Candi Kedulan. Sebagai lulusan SMK yang tak pernah mendapat pendidikan kepurbakalaan, ia mampu menjelaskan banyak hal terkait candi yang dijaganya itu. Seorang pengunjung dari Yogyakarta yang datang bersepeda santai, menyayangkan minimnya publikasi terhadap situs-situs marjinal. Masyarakat lokal menyatakan penghargaan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang akhir-akhir ini mulai melibatkan warga Sojiwan dalam berbagai kegiatan. Lihat bagaimana sepasang suami-istri petani memanfaatkan lahan di sekitar kompleks Candi Plaosan untuk mengeringkan hasil panen jagungnya.

Menjemur hasil panen di depan kompleks Candi Plaosan
Pengalaman tak menyenangkan juga mewarnai jelajah ini. Rombongan sempat bersitegang dengan dua petugas di pintu masuk Candi Plaosan. Keduanya meminta biaya masuk pengunjung tanpa memberikan karcis, sedangkan rombongan tak ingin memberi uang tanpa bukti pembayaran.

Yang pasti, berbagai persepsi ini penting untuk memetakan pemahaman warga terhadap situs purbakala. Itulah pesan penting dalam agenda jelajah yang diselenggarakan pada Hari Purbakala Indonesia tersebut. “Ini sebagai peringatan sederhana untuk mengenang perjuangan perintis ilmu arkeologi. Melalui jelajah percandian, kami ingin melihat hasil upaya konservasi yang telah dilakukan selama ini,” jelas Prio Atmo Sancoyo, koordinator acara.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda membentuk Oudheidkundige Dienst in Nederlansch-Indie pada 14 Juni 1913, yang kemudian diperingati sebagai Hari Purbakala Indonesia. Lembaga ini dibentuk untuk menangani hal kepurbakalaan ini kemudian menjadi Jawatan Purbakala (1936), hingga menjadi Dinas Purbakala (1951) yang bertanggung jawab kepada pemerintah Republik Indonesia. Tahun 2013 menjadi istimewa, sebab usia kepurbakalaan Indonesia mencapai angka 100.

Pemilihan candi-candi kecil di sekitar kompleks utama percandian Prambanan bukan tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, terjadi kehebohan nasional terkait rencana pembangunan hotel di areal penyangga Candi Prambanan. Padahal, pemerintah telah menetapkan areal tersebut sebagai kawasan strategis nasional (KSN). 

Selain alam, menurut Elanto, faktor manusia berpengaruh besar pada kelestarian situs arkeologi. Desakan pembangunan kawasan yang merambah hingga kawasan pusaka (heritage) harus dicermati, apalagi jika melanggar prinsip pelestarian. Konsistensi pemerintah dalam mengawal komitmen pelestarian harus dipantau bersama oleh masyarakat. Ini penting, agar kelestarian pusaka purbakala dapat terjaga dan termanfaatkan seutuhnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan. “Pekerjaan rumah terbesar selanjutnya adalah bagaimana menjadikan potensi ini sebagai entitas yang dapat bermanfaat secara riil bagi kehidupan sosial budaya masyarakat setempat dan bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Ada ratusan situs marjinal yang terdapat di areal KSN sekitar Prambanan, termasuk keempat candi yang dikunjungi rombongan ini. “Meski tak utuh, situs-situs ini juga menyimpan beribu pengetahuan yang harus terus digali dan dikabarkan pada khalayak,” kata Prio. Menurutnya, agenda menggali pemahaman warga sekitar situs arkeologi akan rutin dilakukan, di berbagai kawasan pusaka lainnya.

Pemetaan pemahaman seperti ini akan membantu pihak-pihak yang bekerja di ranah pelestarian untuk menentukan arah kebijakan konservasi. Pemetaan ini dapat menentukan bentuk pelayanan seperti apa yang dibutuhkan warga sekitar; apakah pendidikan kepurbakalaan, pelibatan dalam konservasi, dan seterusnya. 

Program pelestarian yang tepat sasaran akan berberdampak panjang pada pelestarian situs. Petugas keamanan yang mengerti betapa berharga situs yang dijaganya, warga yang merasa memperoleh manfaat dari keberadaan situs, dan seterusnya. Semua berujung pada rasa memiliki yang berdampak positif pada ketulusan untuk menjaga. 

Sehari usai jelajah, Nesta membuat cerita pendek yang terinspirasi dari fabel Sojiwan. Itulah cara Nesta memahami situs purbakala.

Teks dan Foto: Adriani Zulivan

Wednesday, May 29, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 3:01:00 PM | No comments

Kasus Penghancuran Sinagoge Surabaya


Surat Sjarikat Poesaka Soerabaia 
untuk Kasus Penghancuran Sinagoge Surabaya





Surabaya, 27 Mei 2013

Nomor:  27/V/SPS/2013
Hal :  Permohonan langkah-langkah Pengusutan/Penyidikan Penghancuran Bangunan Sinagoge Jalan Kayun 4-6 Surabaya

Kepada yth.,
Ketua Komisi C
Ketua KOmisi D
DPR-D Surabaya

Dengan hormat,

Medio Mei 2013, menjelang HUT Kota Surabaya ke 720, salah satu anggota Sjarikat Poesaka Soerabaia -SPS, menemukan bahwa Bangunan Sinagoge di Jalan Kayun 4-6 Surabaya telah rata dengan tanah. Sepanjang data yang diketahui SPS, Bangunan Sinagoge telah masuk dalam daftar bangunan yang “Diduga Bangunan Cagar Budaya” sesuai SK Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya No. 646/1654/436.6.14/2009 tertanggal 16 April 2009.

Sabtu 25 Mei 2013 bersama dengan Media, telah dilakukan kunjungan ke Lokasi Jalan Kayun 4-6 Surabaya. Bangunan Sinagoge memang telah rata dengan tanah.
Sjarikat Poesaka Soerabaia - Surabaya Heritage sangat terpukul dengan kejadian hancurnya bangunan yang konon hanya ada 2 di Indonesia.

Bersama ini Sjarikat Poesaka Soerabaia – Surabaya Heritage Society mengharap DPR-D untuk segera melakukan perintah pengusutan dan penyidikan atas kasus ini. Pemanggilan dan minta penjelasan ke Pemerintah Kota Surabaya yang kami anggap lalai dalam tugasnya sebagai pemelihara, pengawas dan sekaligus berfungsi sebagai Pelestari Bangunan Cagar Budaya di Surabaya.
Sjarikat Poesaka Soerabaia tidak bersurat ke Pemerintah Kota Surabaya, karena telah beberapa kali Surat dari Organisasi LSM ini ke Walikota “tidak pernah digubris”. Namun Surat ini dilayangkan ke beberapa media, MADYA INDONESIA Masyarakat Advokasi Warisan Budaya dan BPPI Pusat Badan Pelestari Pusaka Indonesia di Jakarta.

Demikian Surat Kami, Terimakasih atas perhatiannya.       
                     
Salam Lestari,

Freddy H Istanto
Direktur


Tembusan:
  1. BPPI Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Jakarta
  2. MADYA INDONESIA Masyarakat Advokasi Warisan Budaya
  3. Media Massa
  4. Komunitas Penggiat/Pelestari Bangunan Cagar Budaya di Surabaya
*
Surat dari milis Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. Gambar dari Nuradhi Tanudirdjo di grup Sjarikat Poesaka SoerabaiaInfo awal kudapat dari @tangarazInfo lain tentang Sinagoge Surabaya, sila cek di tautan berikut:
Mlekom,

AZ

Thursday, May 16, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 10:29:00 AM | No comments

Dan... Saksi Perjuangan Tentara Pelajar Dilenyapkan!

Tidak mengagetkan. Penghancuran bangunan bersejarah, meski berstatus Bangunan Cagar Budaya (BCB) adalah kejadian jamak di Jogja. Terlebih lagi untuk kasus bangunan SMU 17 ini, yang sejak Maret tahun lalu telah banyak dibicarakan di media sosial. Aku sempat mencatat di sini dan sini.

Bangunan yang sedianya merupakan sekolah ini, akan dibangun sebuah hotel mewah berbintang. Ini akan menjadi satu dari puluhan hotel baru yang akan dibangun di Yogyakata (hingga Februari 2013 ada 64 hotel baru).

Tidak mengagetkan memang, meski sangat menusuk. Ketika upaya warga tidak berhasil menggagalkan penghancurannya, akibat kebijakan tak tertulis pemerintah lokal yang tidak memihak.

Bangunan ini bertempat di Jalan  Tentara Pelajar Nomor 24 Bumijo Yogyakarta, cek peta lokasi di sini. Aku coba co-pas berbagai informasi yang muncul di dunia maya terkait penghancurannya. Lihat komentar warga Jogja terkait isu ini, di masing-masing tautan Facebook di tiap foto.

Semoga Jogja lebih arif. Entah kapan.

Mlekom,
AZ




Foto: 
15 Mei 2013 | Kota untuk Manusia di sini.

Caption: 
Hari ini sma 17 1 yogyakarta yang statusnya berdasarkan SK gubernur adalah bangunan cagar budaya dalam proses penghancuran... sebenernya berguna gak sih undang2 itu ada? jelas sekali ini dilindingi di UU ni 11 tahun 2010 tentang perlindungan cagar Budaya.. pertanyaaanya mengapa hal ini bisa terjadi!?




Foto:
15 Mei 2013 | Pakdjo di sini

Caption:
tinggal ini yang tersisa
hancurnya sebuah bangunan heritage di kota Jogja




Foto:
16 Mei 2013 | Pakdjo di sini

Caption:
ruang kelas dalam kenangan
(bagaimanapun dan apapun hasilnya ruangan ini pernah untuk mendidik generasi yang akan menjadi hebat di masa mendatang)


Friday, April 26, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 9:24:00 AM | 2 comments

Magelang Tak Hanya Borobudur!

Sumber: KTM
Kota Magelang adalah ibukota dari Kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah. Meski Candi Borobudur terletak di kabupaten yang sama, keberadaan Magelang sebagai kota layak kunjung tak sepopuler Borobudur. Bahkan, ironisnya, banyak wisatawan yang mengira Borobudur berada di wilayah administratif Yogyakarta.

Wisatawan hanya melewati kota ini dalam perjalanan menuju Borobudur dari Kota Semarang; atau tak pernah menginjak kota ini, jika berangkat ke Borobudur melalui Yogyakarta. Sangat disayangkan, mereka melewatkan sejarah besar Indonesia yang terselip di kota ini.

Magelang lahir pada 11 April, 907, sebagai desa dengan keberadaan seorang raja. Pada abad ke-18, Magelang menjadi pusat pemerintahan Kolonial Inggris. Tahun 1818, setelah Belanda mengalahkan Inggris, Magelang menjadi ibukota Karesidenan Kedu. Letaknya yang strategis menjadikan kota ini sebagai pusat perekonomian. Selanjutnya, Magelang menjadi benteng militer gerakan pro-kemerdekaan. Kini, kota ini menjadi pusat pendidikan militer Republik Indonesia.


Jejak sejarah tersebut terlihat jelas di sejumlah bangunan kuno di Magelang. Saujana kota yang indah turut pula menggoreskan sejarah, ketika para pejuang menyusun pertahanan di lembah, bukit, hingga kaki-kaki gunung Sumbing dan Sindoro.


Oleh sebagian orang, kekayaan sejarah ini dinilai penting. Untuk itu, warga Magelang berusaha mempertahankan sejarah itu. Magelang Koeta Toea (KTM) adalah salah satu kelompok yang menaruh perhatian besar pada isu ini.


KTM selalu mengajak warga untuk selalu menghargai sejarah kotanya. Salah satunya lewat sebuah agenda tahunan bertajuk Magelang Tempo Doeloe. Kegiatan ini diadakan tiap April, untuk memperingati ulang tahun kotanya. Tahun ini, kegiatan berpusat di area Museum BPK Kompleks Eks Gedung Karesidenan Kedu, Jalan Diponegoro No. 1 Kota Magelang. Kegiatan ini berlangsung pada 27-28 April 2013, dengan beragam agenda.


Ada pertunjukan budaya berupa tari dan musik tradisional, pemutaran film sejarah dan perjuangan, jelajah kota tua, menyaksikan matahari terbit dari puncak bukit Tidar, diskusi sejarah, dan ritual budaya. Ada pula pameran foto tua, angkutan kuno, jajanan rakyat, kerajinan khas, hingga bursa barang kuno.


Bagaimana cara ke sana?


Dari Yogyakarta:

  1. Naik DAMRI (Rp 35.000) dari Bandara, turun di Hotel Wisata. Lanjutkan perjalanan dengan angkot (Rp 2.500) atau taksi (Rp 20.000)
  2. Naik bus apapun dari Terminal Jombor Jogja (Rp 35.000 untuk AC dan Rp 8.000 non AC), turun di Armada. Lanjutkan dengan engkel (bus 3/4, Rp 3.000) ke Karesidenan/perdana.
  3. Atau, anda dapat turun di Terminal Tidar Magelang. Lalu gunakan angkot jalur 8 (Rp 2.000) ke arah Karesidenan.
Dari Semarang:
Naik bus apapun mengarah Jogja (Rp 12.000), turun di Armada. Lanjutkan perjalanan seperti nomor 2 dan 3 di atas.

Informasi

  • Bagus Priyana +6287832626269 | Wahyu Utami +6281392363778
  • Tentang KTM: Facebook, blog.
Sampai bertemu di Magelang!

Mlekom,

AZ



Catatan:


Thursday, April 18, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 10:57:00 AM | No comments

Ketika Komunitas Bicara Pusaka



“Ini gambaran suasana desa kami tahun 2010 lalu,” tunjuk Jainu pada sehalai kain yang dibentangnya. Pada kain ini tergambar suasana hutan dengan tumbuhan meranggas, dengan latar belakang gunungapi yang mengeluarkan abu vulkanik. Inilah erupsi Merapi di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah; tempat tinggal Jainu.

Kisah erupsi tersebut tergores apik di lembar-lembar kain yang dibawa komunitas Batik Merapi Balerante. Batik menjadi media presentasi interaktif, banyak pengunjung terlena dengan kisah di balik pembuatannya.




Balerante merupakan satu dari 10 komunitas yang berbicara di acara “Komunitas Bicara Pusaka”. Acara yang diselenggarakan oleh komunitas Senthir ini bertujuan untuk menjaringkan berbagai komunitas pelestari pusaka. Ada yang berbicara tentang kegiatan jelajah kampung, mainan tradisional edukatif, permainan online, gambar sketsa, komersialisasi bangunan cagar budaya, hingga advokasi warisan budaya.

“Acara ini sangat baik, banyak pelajaran yang didapat oleh sesama pegiat pusaka,” kata Yeny Paulina Leibo yang hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan Rabu (17/04) di Dalem Sopingen Kotagede, Yogyakarta ini.

(Adriani Zulivan)

*
Disalin dari Indonesian Heritage Year di sini.
Foto-foto oleh Dwi Kurniawan, ada di sini.





  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata