Showing posts with label kota. Show all posts
Showing posts with label kota. Show all posts

Wednesday, January 25, 2017

Posted by adrianizulivan Posted on 12:58:00 PM | No comments

Solo, Surabaya, Bandung. Lalu Mana?


Awal tahun lalu banyak teman membagi daftar provinsi yang sudah dikunjunginya. Jadi pengen nanya: Dari banyak kota yang dikunjungi di berbagai provinsi tersebut, apakah kalian perhatikan kondisi trotoar di kota-kota itu?

Dari begitu sedikit provinsi yang sudah saya kunjungi, saya mencatat hanya tiga kota dengan kondisi jalur pedestrian yang baik. Itupun hanya di Jawa. Baik di sini, menurut saya, bisa diakses tanpa hambatan oleh pejalan kaki dan pengguna kursi roda, serta memiliki blok pemandu tunanetra (tactile paving).

Sesuai urutan waktu pembangunannya, ketiga kota tersebut adalah Kota Solo, Kota Surabaya, dan Kota Bandung. Pemilihan ketiga kota ini, menurut saya, selain karena kondisi trotoarnya baik (meski tidak di banyak ruas jalan), juga berdasar komitmen pemerintahnya dalam menciptakan jalur pedestrian yang memadai (masuk dalam perencanaan dan penganggaran).

Jakarta tidak? Bagi saya, tidak. Selain tidak mengandung banyak unsur yang saya sebut di atas, trotoar baik di Jakarta hanya ada di kawasan SCBD bagian dalam. Bagian luarnya penuh PKL dan kendaraan ngetem. Di kawasan utama seperti Sudirman-Thamrin, meski trotoarnya luas lega, tidak ada blok untuk tunanetra (cek gambar).

Kota Jogja juga tidak, sebab urusan ini baru saja dipikirkan. Baru sedikit bagian Malioboro yang disentuh. Denpasar ada yang baik, tapi banyak sekali lokasi di mana ukuran trotoarnya sangat mini. Makassar di sekitar Pantai Losari yang reklamasi itu, tapi ga ada blok tunanetra. Dll dsb.

Selain tiga kota tersebut, adakah kota/kabupaten lain yang memiliki trotoar yang baik? Mohon masukan. Trims.

Gambar dari sini

Mlekom,
AZ



Thursday, April 28, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 1:58:00 PM | No comments

Kota Ramah Lingkungan Dimulai dari Trotoar yang Nyaman


Maju tidaknya sebuah kota dapat dilihat dari kondisi trotoarnya. Sebab trotoarlah panggung keseharian dimana manusia kota dan aktifitasnya saling bersinggungan.

Di kota-kota besar di Indonesia, perputaran ekonomi yang sebenarnya terjadi nyata di trotoar. Pedagang asongan, warung tenda, parkiran kendaraan dan seterusnya, berlangsung di atas trotoar. Bahkan di sebagian sudut kota megapolitan Indonesia, terbangun rumah non permanen yang menjadi tempat tinggal manusia yang dimarjinalkan kota.

Kondisi tersebut memang menciptakan perekonomian, namun hanya bagi sebagian orang seperti pedagang dan juru parkir. Pihak lain--yaitu publik yang lebih luas, justru merasakan dampak sebaliknya. Misalnya, warga penyandang disabilitas tertabrak warung yang beroperasi di atas trotoar, atau kemacetan akibat parkir yang memakan trotoar.

Coba bandingkan kondisi ini dengan trotoar di negara maju. Yang terdekat saja lah, Singapur misalnya, yang sangat memanjakan pejalan kaki. Warga dan pendatang di sana memilih berjalan kaki dengan berbagai alasan. 

Selain trotoar yang nyaman, mahalnya harga yang harus dibayar untuk kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi--pajak dan bahan bakar, membuat warga rela berjalan lebih banyak untuk mencapai stasiun MRT.


Kali ini tak perlu berdebat tentang hak pejalan kaki versus urusan perut orang-orang yang hidup dan menghidupi diri di atas trotoar. Mari berbicara tentang dampak positif dari ramainya orang berjalan kaki akibat kondisi trotoar yang nyaman:
  1. Pengurangan gas buang emisi.
  2. Mengurangi kepadatan kendaraan. Pejalan akan lebih memilih transportasi umum, tentu saja.
  3. Mengurangi sampah visual. Tak perlu lagi banner dan baliho esar yang mengganggu pemandangan, sebab pejalan kaki dapat langsung membaca tulisan promosi yang terletak tak jauh jaraknya dari trotoar tempatnya berjalan. Bukankan baliho dan alat promosi luar ruang lainnya memang diperuntukkan bagi pengguna kendaraan bermotor?
  4. Mendekatkan pedagang kepada konsumen. Bayangkan sensasi melewati deretan etalase toko 'fisik', dan bandingkan dengan klik gambar produk yang dipilih di toko online. Toko yang secara fisik ada, memungkinkan pembeli untuk melihat, memegang dan membaui barang yang diinginkan dan barang itu dapat segera berada di tangan pembeli tanpa menunggu waktu kirim.
  5. Tentu saja membuat warga menjadi sehat.
Mari sepakati bahwa untuk mewujudkan kota ramah lingkungan, salah satunya dapat dimulai dengan penyediaan trotoar yang nyaman. Indonesia memang belum menjadi negara maju, namun mewujudkannya bukan tidak mungkin jika pemerintah dan warga saling mendukung.

Mlekom,
AZ


Tuesday, March 4, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 6:37:00 PM | No comments

Goyang Tije


Sebagai pengguna Trans Jogja (Tije) yang cukup setia, aku sering mengeluh. Terutama tentang supir yang ugal-ugalan (pernah kutulis di sini) dan kondisi kendaraan yang tidak layak. Yang terakhir ini cukup menyiksa, terutama di saat-saat seperti ini:

  1. merem, baik mendadak ataupun tidak. Kondisi bus yang tidak baik (Mamuku menyebut kendaraan jenis in idengan "kaleng-kaleng")
  2. berlubang atau bergerunjal, dll sejenisnya. Terutama di jalan konblok seperti di bandara. Yang namanya bokong dan daerah yang sejalur dengan tulang ekor bisa mendadak kaget dan tersiksa. Belum lagi joknya gak empuk :(
  3. dll. Sila menambahkan.
Pagi tadi aku menempuh jarak sekitar setengah jam dari rumah ke arah Prambanan. Sebab ini jalur menuju bandara, bus nyaris selalu penuh. Setelah halte tempat aku naik --dan mendapat bangku, cukup banyak penumpang baru yang berdiri.

Yang kebagian duduk, hebatnya, bisa tertidur pulas. Sampai mangap. Sampai gelendotan. Sampai pulas. Pasangan di kiri gambar turun di bandara, kelihatannya sedang nuris di Yogya. Bapak sebelahnya kupikir warga lokal.

Selamat tidur, aku ingin menanyakan resep pulas ketika dibuai goyang Tije. Hehehe... :p

Mlekom,
AZ


20140428

Saturday, November 23, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 11:00:00 PM | No comments

Bersua Walikota




Sejak dimulai pada Oktober lalu, Festival Seni Mencari Haryadi (FSMH) belum pernah sekalipun bertemu dengan Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta yang selama ini 'dicari'. Hingga pihak Gubernuran bantu memfasilitasi, lewat pertemuan pada Selasa, 26 November 2013 pukul 19.00 di Pendopo Kepatihan, Jalan Malioboro


Sarasehan bertajuk "Jogja untuk Semesta" ini akan diawali dengan paparan dari narasumber, yaitu:

  1. Agung Kurniawan - seniman; mewakili gerakan Warga Berdaya dan FSMH
  2. Sumbo Tinarbuko (Dosen DKV ISI dan Pegiat Komunitas Reresik Sampah Visual)
  3. Bakti Setiawan (Dosen Arsitektur UGM, pemerhati tata kota)
  4. Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta
Usai paparan, akan ada sesi tanya-jawab yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk berdialog langsung tentang kota. Sarasehan ini mengundang seluruh masyarakat Kota Yogyakarta. Akan ada minuman hangat dan makanan ringan untuk kita.

Monggo manfaatkan dengan baik forum yang langka ini. Mencari Haryadi itu susah lho :)

Humas FSMH

Friday, June 7, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 8:40:00 AM | No comments

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 22: Matahari

RT ‏@andrianiken @adrianizulivan @travelingprecil @windyariestanty @jeJAKAki ayo ikutan #TurnamenFotoPerjalanan ronde22 tema MATAHARI! http://www.n-journal.com/2013/05/turnamen-foto-perjalanan-ronde-22_31.html
Ini twit dini hari tadi. Hayuk, siapa takut!

Ini untuk kedua kalinya aku ikut Turnamen Foto Perjalanan. Yang pertama bertema "jalanan", di sini. Tema kali ini adalah "matahari"!
Pagi dan Ruang Publik yang Hidup

Tak banyak ruang publik yang hidup di Kota Yogyakarta. Pos Kamling yang terletak di Jalan Veteran, Umbulharjo ini sungguh istimewa. Meski berada di perkampungan urban, keberadaannya mampu ciptakan interaksi bersama. Sinar mentari berpendar dari celah-celah ranting pohon peneduh. Menemani warga yang datang untuk sekadar membaca koran di papan tempel, menikmati gudeg dan sarapan khas lainnya, atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul usai berolahraga.

Mlekom,
AZ 

Tuesday, March 19, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 8:50:00 PM | No comments

Pejalan Kaki dalam Romantisme Yogyakarta


*Malioboro: Pejalan kaki yang berebut tempat dengan parkir sepeda motor.

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
[Yogyakarta, Kla Project]

Lirik berjudul "Yogyakarta" milik Kla Project ini diliris tahun 1991. Bayangkan, betapa lama sudah Yogyakarta "menyemai" benih PKL dan pengamen di ruang publiknya. 

Mungkin, kala itu warung lesehan dan pengamen justru menambah kesyahduan kota. Romantisme ala Yogyakarta yang menghanyutkan siapapun yang merasakan. Mungkin, kala itu pedagang makanan dan musisi ini dibutuhkan, tak ada rasa terganggu di hati para penikmat suasana. 

Berbeda dengan hari ini.

Tikar-tikar warung lesehan digelar hingga ujung trotoar, tak peduli resiko makanan tercemar kotoran dari jalan. Air buangan cuci piring menggenangi trotoar, minyak jelantah menempel permanen. Jalur pejalan menjadi licin dengan warna hitam menjijikkan.

Hari ini.

Pemusik jalanan ngamen secara berombongan, dalam jumlah banyak. Mereka kerap tak merasa sungkan ketika merebut hak pejalan kaki dengan menutup areal pedestrian. Bukan satu-dua jam, namun sepanjang hari-malam. 

Dulu, bait di atas membuat kita terlena. Bait yang seolah membiarkan ketidakberesan tata ruang kota kita, lewat alunan musik indah nan syahdu. Bait yang 20 tahun kemudian digugat, oleh para penikmatnya sendiri.

Siapa yang pantas disalahkan? Ah, ini urusan panjang yang tak akan ada habisnya. Lihat Malioboro. Dulu pedagang "dibersihkan" demi dalih kenyamanan pejalan kaki. Yang terjadi kini, pejalan kaki dikalahkan pakir sepeda motor dan PKL.

Tahun 2008 terjadi penolakan sengit atas rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman DIY membersihkan PKL di sejumlah ruas jalan. Demi 'mengusir' para PKL agar tak menghuni trotoar lagi, Pemda membangun pot-pot besar di Jalan Colombo Samirono dan memagari trotoar di sepanjang jalan depan RS Sardjito. 

Sayangnya, langkah ini justru tak berpihak pada pejalan kaki, sebab menutup trotoar. Tak perlu menunggu lama, para PKL kembali lagi menghuni kawasan tersebut. Dalam hitungan bulan, satu-dua-tiga PKL kembali (atau, mereka pedagang baru yang tidak termasuk PKL yang direlokasi?). Ketika jumlah mereka masih sedikit, Pemda tak kuasa menghalau. Tak heran jika jumlah ini lekas beranak-pinak dan makin menjamur. Parahnya lagi, jika dahulu mereka menghuni trotoar, kini menempati bahu jalan.

Tentu saja di bahu jalan, sebab trotoar ditutup. Akibat lain, pejalan kaki makin sengsara akibat ruas jalan yang makin sempit. Bayangkan sebuah jalan dua lajur yang digunakan untuk berbagi antara kendaraan (dari sepeda hingga bus kota), tenda PKL, parkir mobil dan sepeda motor, serta pejalan kaki yang tak lagi punya trotoar.

Itu lima tahun lalu. Pemerintah seakan tak punya daya untuk menegakkan peraturan. Papan-papan bertuliskan perda tentang kawasan larangan berjualan hanya menjadi pajangan tak bermakna, dikalahkan entah kekuatan mana. Mungkin preman yang menguasai kawasan tersebut. Mungkin pula kong-kalikong oknum pemerintah. Kita tak pernah tahu. Yang kita tahu, oknum-oknum ini tak berpihak pada tata kota yang baik, yang ramah pada pejalan kaki.

Kita butuh pedagang, juga musisi jalanan. Mereka memudahkan dan mewarnai hidup. Namun, ada harga yang dibayar untuk kenyamanan ruang publik kota kita, ketika tak ada pengaturan atas keberadaan mereka.

Inilah romantisme ala Yogyakarta...


Mlekom,
AZ

*Gambar dari Tribun Jogja.

Posted by adrianizulivan Posted on 2:50:00 PM | No comments

Jogja Ramah Pejalan Kaki

Foto: Mira Afianti.
Judul di atas adalah pertanyaan: Benarkah? Meski tak banyak, ada sejumlah kawasan di Kota Jogja* yang cukup ramah pada pejalan kaki. Mana saja?
  1. Kawasan Kompleks UGM. Namun, hanya bagian kampus timur (Bulaksumur). Jalur sepeda pun sangat baik di sini. 
  2. Kawasan Balai Kota, Timoho. Namun, hanya jalan di depan dan samping, yaitu bagian trotoar  yang 'menempel' pada tembok dan/atau pagar Balkot dan rumah dinas Walikota.
  3. Kawasan Kotabaru. Hanya bagian dalam. Kawasan ini sangat nyaman untuk berjalan kaki. Kawasan hunian tua ini cenderung sepi, jauh dari hingar bingar kesibukan bisnis. Akibatnya, trotoar tak dirampas pedagang kaki lima (PKL). Pohon-pohon tua nan rindang turut menambah kenyamanan.
  4. Kawasan Bintaran. Mirip Kotabaru: pemukiman zaman Belanda yang bukan pusat kegiatan ekonomi, maka cenderung teratur. Meski demikian, kini areal yang hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari Malioboro ini, secara ekonomi terus menggeliat. Trotoar mulai dihuni PKL. Bahu jalan mulai dikuasai preman parkir.
  5. Malioboro? Mangkubumi? Ah, meski ada trotoar yg baik, hak pejalan kaki dirampas PKL, parkir, pemusik jalanan yang ngamen rombongan (berjumlah banyak, menutup areal pedestrian hingga sehari-semalaman), dst.
Ada tambahan? Itu yang pernah kulihat. Jumlah ini sangat minim. Apalagi jika kompleks UGM dikurangi, sebab berada di wilayah administratif Kabupaten Sleman, bukan Kota Jogja.

Sekali lagi, benarkah Jogja ramah pejalan kaki?


Mlekom,
AZ


* Provinsi DIY terdiri atas lima kabupaten/kota. Kota Jogja adalah salah satunya. Jadi, penyebutan "Kota Jogja" bukan berarti Yogyakarta secara keseluruhan. Penyebutan ini kerap membingungkan non penduduk Jogja :)


Friday, June 29, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:01:00 PM |

Nyawaku di Tangan Bapak Becak

Kakiku dan Plengkung Gading
Pulang kantor mbecak. EW dan keluargaku tak bisa jemput karena lagi ke luar kota. Pasca bete dengan taksi di depan kantor yang tidak berhenti saat kustop, aku berjalan 200 meter ke perempatan, berharap di sana ada lebih banyak taksi.

Aku mampir ke toko snacks langganan. Beli beberapa bungkus untuk weekend ini. Sambil clingak-clinguk nunggu taksi, kuhiraukan pangilan sejumlah bapak becak. Hingga salah seorang dari mereka menghampiri.

Okelah, kata hatiku. Teringat obrolan dengan EW tentang taksi versus becak.

Aku: Aku lebih milih naik taksi, karena selain lebih murah, lebih cepat sampai.
EW: Tapi tahukah kamu berapa jumlah karbon yang kamu keluarkan untuk sekadar tiba dalam jarak yang tidak terlalu jauh? Lagipula, kamu akan membantu masyarakat kecil.

Sebenarnya, becak, di bawah udara dan kondisi lalin bersahabat, adalah kendaraan favoritku.

Naik becak di Jogja adalah naik jembatan shiratal mustaqim. Ah, lebay banget! Yang benar: Naik becak di Jogja adalah mempersiapkan diri ke alam selanjutnya. Ah, ini juga lebay... Hummm, memang begitu kenyataannya!

Becak adalah moda transportasi yang kebal hukum. Hukum lalulintas, terutama terkait rambu-rambu, seringkali dilanggar. Mana pernah becak berhenti saat lampu merah. Jikapun berhenti, itu hanya sepersekian detik, untuk pelan-pelan meringsek ke barisan terdepan (di zebra cross atau jalur berhenti sepeda), lalu wuzzzzzzzzzzzz ketika lampu NYARIS berubah hijau.

Kami berbincang banyak. Aku jadi tahu tentang ketiga anaknya yang nikah muda karena tidak kuliah. Salah satunya bahkan menikah sangat muda karena pacarnya hamil.

"Jauh juga ya, Mba!" kata Si Bapak sembari mengelap peluh, setelah kubayarkan uang sejumlah kesepakatan kami di awal.

Dari kantorku di Jalan Suyodiningratan ke rumah yang berjarak sekitar 4 kilometer, aku membayar Rp 25.000 + sebungkus snack yang kubeli tadi.

Selamat malam, Bapak Becak... Ah, aku lupa menanyakan namamu, Pak!

Mlekom,
AZ 


Thursday, April 26, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:06:00 AM |

Green Graffiti



Baru saja nonton liputan di TV tentang Green Graffiti. Papaku bilang: bagus banget!" Aku mengangguk setuju. Kata perusahaan yang diwawancara: "Ini ramah lingkungan, cocok diterapkan di negara berkembang. Aku bilang: "Tidak! Indonesia memiliki corak media berbeda."

Alasan:
  1. Jalur pejalan kaki di Indonesia terbatas. Jikapun ada, diserobot parkir dan pedagang kaki lima.
  2. Jumlah pejalan kaki di Indonesia tak banyak. Mereka (termasuk aku), lebih suka naik kendaraan.
Ketika jalur pejalan kaki terbatas, maka media untuk membuat graffiti itu akan ikut terbatas. Masa' iya mau bikin graffiti iklan di trotoar yang saban malam diinjak gerobak angkringan?

Baliho, spanduk, umbul-umbul dan sejenisnya, apalagi yang berukuran raksasa, memang merusak wajah kota dan sangat tidak ramah lingkungan. Setelah usai masa tayangnya, media ini hanya akan menjadi sampah, sampah yang sulit diurai alam.

Namun hingga kini, media luar ruang jenis ini masih dianggap yang paling efektif di Indonesia. Sebab, mayoritas masyarakat kita adalah pengguna kendaraan, sehingga media harus dipasang dengan posisi yang sesuai dengan jarak pandang/baca mereka; dari dalam mobil/bus, dari atas sepeda motor, dan seterusnya.

Contoh-contoh baik dari negara maju memang tak selalu pas bila diterapkan di Indonesia. Selain karena masyarakat yang tak taat hukum, pemerintah pun melempem dalam terapkan kebijakan.

Ini negaraku. Mana negaramu? :)

Mlekom,
AZ


`
*
Tentang Green Graffiti, lihat di sini. Website-nya oke!

Wednesday, March 17, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 3:55:00 PM | No comments

Nikmati Bersama Suasana Pagi




Pagi itu begitu cerah. Aku berniat melakukan rutinitas pagi hariku: membeli sarapan!


Bukan hal sulit mencari penjual sarapan. Mereka bertebar hampir di setiap sudut jalan. Soto, bubur, nasi kuning, mie goreng, dan berbagai menu lainnya bisa didapat dengan mudah. Tinggal jalan beberapa meter ke luar rumah.
Pagi ini aku memutuskan untuk menyantap gudeg favoritku. Jaraknya tak terlalu jauh memang, tapi cukup jauh untuk berjalan kaki. Lalu kuhidupkan mesin kendaraanku. Wuzzz, tak ada lima menit aku sudah berada di depan panci-panci berisi lauk panas.
“Biasa ya, Bu.” kataku pada ibu penjual yang disambutnya dengan anggukan ramah.
Seperti biasa, tempat itu cukup ramai. Aku harus sabar menanti hingga pesanan gudegku diracik. Si ibu berjualan seorang diri. Meracik makanan dan menyiapkan minuman. Tak ada tempat khusus. Ia duduk di atas sebuah bangku dengan meja berisi bahan dagangan di depannya. Di meja itu terdapat dua dandang besar berisi gudeg dan kuah sambal krecek ditambah sejumlah mangkok dan piring tempat pelengkap menu gudeg lainnya.
Sambil menunggu pesanan, aku melihat-lihat papan panjang di sana. Papan yang berwujud persis papan pengumuman di kampus atau di Balai Desa itu ditempeli berbagai judul surat kabar lokal. Inilah kerumunan yang paling ramai. Masyarakat datang ke sini tak hanya mencari makan, namun juga untuk memperoleh informasi dari surat kabar yang mereka baca.
Papan ini awalnya merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebuah Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang bekerjasama dengan perusahaan media yang tertempel di sana. Terletak di pinggir sebuah jalan utama di bilangan Jogja Kota. Lokasinya yang di dekat lampu lalu lintas di dekat perempatan jalan besar Veteran membuat ia mudah ditemui.
Papan yang merupakan program Koran Masuk Desa (KMD) ini selalu ramai di tiap pagi. Tak hanya akibat gudeg yang nikmat, kerindangan tempat tersebut juga menjadi pilihan. Ia berlokasi di sebuah tanah kosong di pinggir jalan yang dinaungi sebuah pohon rindang. Pohon besar yang tak kutahu namanya itu benar-benarmemberi kenyamanan.
Pohon ini tak hanya menaungi KMD, namun juga sebuah pondok kayu berupa bale-bale berkontruksi panggung yang menjadi Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling). Di depannya terdapat deretan bangku panjang yang sangat nyaman untuk leyeh-leyeh. Menambah kenikmatan pelanggan gudeg.
KMD
Tak ada catatan tertulis kapan KMD pertama kali hadir di Indonesia. Yang jelas, papan-papan bertempel koran seperti ini tersebar di banyak daerah di nusantara. Tak hanya di perkotaan, namun juga di areal pedesaan. Ia menjadi salah satu instrumen penting dalam penyampaian informasi kepada khalayak. Inilah ide utama ketika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di masa Orde Baru (Orba) membangun KMD di berbagai daerah.
Bagi masyarakat desa, ia sangat membantu menyampaikan informasi mengenai kebijakan pemerintah, terutama yang menyangkut pembangunan dan perekonomian. KMD mampu mengobati dahaga masyarakat desa terhadap informasi ketika mereka tak dapat mengakses seluruh bentuk alat komunikasi-informasi. Bagaimana dengan masyarakat kota?
Masyarakat di perkotaan Indonesia masuk dalam kategori masyarakat yang mampu mengakses arus informasi secara utuh. Utuh, sebab memiliki instrumen komunikasi yang lengkap, mulai dari media cetak hingga elektronik. Meski begitu, bukan berarti bahwa papan-papan koran seperti itu tidak akan dilirik keberadaannya.
Terbukti padaku yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk membaca koran-koran di papan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hariku, aku sangat mungkin mengakses informasi lewat internet selama 24 jam sehari lewat jaringan yang terpasang di rumah, hotspot di kantor, hingga telepon selular di manapun aku berada. Aku juga berlangganan koran. Namun membaca papan-papan bertempel koran itu menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Bertemu dengan banyak orang, sarapan bersama, lalu memperbincangkan hal-hal umum yang kami baca di papan koran tersebut.
Arena Diskusi
Namanya, KMD, mungkin tak selalu relevan lagi sebab ia tak hanya berada di desa, namun juga di berbagai sudut wilayah perkotaan. Masyarakat kota mencarinya, seringkali untuk melihat iklan rumah atau tanah dan iklan lowongan pekerjaan yang tidak mudah menemukan informasinya di internet.
Terlepas dari alasan membaca koran diding tersebut, papan-papan koran ini mampu menjadi arena publik baru yang berprinsip sebagai centre of excellent, di mana semua orang, siapapun, dapat memperoleh dan berbagi informasi.
Siapa sangka bahwa dari sebuah papan koran ini tercipta sebuah diskusi berharga mengenai berbagai persoalan bangsa. Para pembacanya kerap berlama-lama di lokasi tersebut, selain untuk menikmati gudeg juga tertarik melibatkan diri dalam obrolan panjang mengenai hal-hal yang menjadi berita koran hari itu.
“Ini makanannya, Mbak” panggil si ibu penjual gudeg padaku.
Aah, makananku telah siap. Kuambil dan membawanya ke bangku depan Poskamling, menyusul beberapa orang yang sudah terlebih dulu di sana. Kami membicarakan kasus “Century” yang menjadi headline koran pagi itu. Beginilah caraku menikmati suasana pagi.
ADRIANI ZULIVAN
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata