Wednesday, February 15, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:45:00 PM | No comments

Cinta yang Besar





Kemarin aku begitu bahagia, bisa main lagi ke CC, lihat anak-anak, mama dan cucu-cucu :)
Dari CC, aku dan Ndil ke RK. Sebelumnya kita sempatkan belanja buah-buahan dan biskuit untuk bahan puding. Hummm, aku juga ditraktir eskrim sama Ndil :) Ya, sore ini kami bikin agar-agar!
Tadinya aku sempat membeli bubuk agar-agar bening. Akan kujadikan seperti sebuah etalase toko yang bening, tampak barang pajangan toko. Barang pajangan toko di agar-agar ini berupa buah-buahan dan bahan makanan lain yang akan kususun di dalamnya. 
Ini yang berhasil kami dapatkan dari Super Indo sore itu:
  • buah naga
  • melon
  • jeruk
  • rumput laut hijau
  • biskuit coklat selai
Tiba di RK pukul 4 sore, langsung bersiap untuk misi ager-ager. Ndil bersihkan rumah, aku bersihkan barang-barang dapur dan alat masak lain yang sudah lama tidak digunakan. Proses memasak sendiri butuh dua jam. Namun hasilnya tidak mengecewakan, meski ini adalah baru kali keduaku membuat puding, meski aku tak sempat membaca buku resep puding yang sudah kubuka sejak pagi.

Jika orang lain punya coklat dan bunga di Hari Kasih Sayang, kita punya cinta yang besar. Saking besarnya, susah dipotong... Begitu kata Twitter dan Facebook Ndil :)

Ah Ndil, kita tak pernah minat merayakan tanggal 14 Februari. Ini hanya kado untuk kamu yang sudah menemani aku sepanjang hari kemarin dengaan... membolos. Ya, kamu bolos! :)


Malam ini di Twitter dan Facebook Ndil:

Semalam (14/02), mendapat cinta yang besar dari Adriani Zulivan. Saking besarnya, susah dipotong :)) 


Trims, sayang! 
*orang bolos kok didukung :)
Posted by adriani zulivan Posted on 12:01:00 PM |

Gummy Candle Shop

I don't know how is Bahasa Indonesia translate the words "gummy candle". In Indonesia, it is popular with "Yuppie", but it is not its name, but the name of the product given by the factory, like "Pilot" for pen.I've been googling and find it out as "Juppy", here.

Ya, whatever you called it. I don't like this kind of gum since I was a little kid. It is like... hummm, hard to explain, I just don't like it even they are always there in my home. My parent buy them since my siblings love it.

In Singapore, I saw so many shop sells it. At the market, station, restaurant, shopping mall, anywhere. I like to see the design. It is not just ball, tetragon, or triangle like you can find in Indonesia, but any shape. Youy name it. They are displayed in attractive containers, also.Who's not interested in buying, then?

At MRT station
At 7-11 shop

Mlekom,
AZ

Thursday, February 9, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 2:27:00 PM |

Spice Brasserie, the Spice of Singapore




My friend and I are lucky when we got Parkroyal on Kitchner Rd as our place to stay for this weekend in Singapore. One of the lucky thing is that we can get great food here for our breakfast, in one of the restaurant of this hotel called "Spice Brasserie".

You can find many flavour of different tribe in Asia, like the taste of food from Malay, India, China. You can also find western taste. Call it Singapore, the place where you can find every ethnics!

Me and Echa

It's hard to find Indian food which has good taste in Jogja. Great that I find it here. Too bad that Echa --my friend, a Javanese-- does not like it. She eats western food everyday. "This taste is more familiar to me than Indian," she said when she tried curry.

Me? I like it so much. There are many Indian in Medan, so some of the local food gets influence of Indian spice. Oftentimes, my mom cook lamb curry with special 'netty bread' from wheat like the pic below.

Pic from here.

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 12:18:00 PM |

Ice Cream Corn with Whitebread

Corn flavour with bread. Yummm...
Man! I am happy to live in a city where you can do walking without barrier. I mean, hard to do it in big cities in Indonesia, since the street-vendor make the sidewalk paving as place to display their goods.

Ow man, do you know what will a city like without street-vendor?
For me, it rather means that you have to taking care of your stomach before you go. Since street-vendor is banned in Singapore, you can't feed your stomach anywhere.

But man, you can find ice cream seller in many corner, just like you can find Abang Bakso in Indonesia (yeah, not that many, indeed). But they are not selling on the sidewalk, but on area of something, like shopping mall, market, park.

It is Wall's bicycle cart. They sell many ice cream flavour, like chocolate, vanilla, corn and durian, serve on horn or whitebread. It remainds me about ice cream in Medan, my Mom's favourite: The corn icecream. You can't vine corn ice cream easily in Jogja. It is also not common in Jogja to eat icecream with slice of whitebread, even there are many ice cream cart provide chopped whitebread with pearlsago.

Tulilut, tulilut... Remember the Wall's jingle?

Back to the ice cream here. For SGD 1.20 you can get a portion of ice cream as big as a half slice of whitebread. The taste is good, very different with the Wall's in Indonesia. I like it.

Man, it's like going back to Medan, my hometown...

Mlekom,
AZ

Monday, January 30, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:49:00 AM | No comments

adrianizulivan

benci rokok dan Jakarta. cinta satwa dan kamu!


adriani, nama depanku
zulivan, nama depan papaku
  • sedang menikmati peran sebagai tenaga lepas. saat ini menghamba pada sebuah perusahaan marcomm dan menjadi personal assistant untuk seorang guru besar. 
  • pernah mengenyam pendidikan di @komunitasb21. pernah pula ditempa di Sanggar Teater Gardanalla. 
  • saat ini sedang tergila-gila pada candi. 
  • suka nulis, sedikit motret, dan banyak jalan-jalan. 
  • mengatakan tidak pada andong dan topeng monyet. insaf dari keinginan membuat homezoo.
  • menghindari pantai dan bawang. 
  • tak memilih celana jins dan dress berbahan strict
  • senang sandal jepit, kaos oblong dan rambut diuntel.
  • pernah bercita-cita menjadi sosok dewasa, cerdas, dan jago masak. jika dewasa itu pilihan, cerdas itu anugrah, dan jago masak adalah kebutuhan; maka aku tak masuk golongan itu. 
  • terlahir sebagai half-blood princess dari dua kerajaan di barat nusantara, dengan garis keturunan yang entah keberapa ribu.
  • mencintai Ndil.

suka nimbrung di komunitas ini:
@awasirokok


ada aku di:
@adrianizulivan


Mlekom,
AZ

Monday, January 23, 2012

Posted by adrianizulivan Posted on 9:11:00 PM | No comments

Perempuan Merah


Lokasi: Pom Bensin di Magelang.

Komentar teman: Lho, pake rok doang?? Topless dong.

Mlekom,
AZ

20140514

Tuesday, January 10, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:47:00 PM |

Vote Indonesian Heritage Inventory di Kompetisi Lenovo Do Network!

Teman pelestari pusaka,

Beberapa bulan lalu kami mulai merancang sebuah program pendokumentasian pusaka di seluruh Indonesia. Kebetulan di akhir tahun lalu ada sebuah kompetisi ICT bernama Lenovo Do Network. Kami pun mendaftarkan rancangan tersebut.

Progam ini kami beri nama Heritage Inventory - Basis Data Pusaka Nusantara. Tujuan utama dari program ini adalah membuat suatu basis data terintegrasi (web-based) mengenai pusaka-pusaka yang ada di nusantara. Web ini nantinya akan berupa open source, siapapun bisa menjadi kontributor bagi informasi pusaka (heritage). Siapapun bisa mengakses informasi di dalamnya secara gratis.

Harapan kami, program ini nantinya mampu menumbuhkan kesadaran publik untuk mendokumentasikan cagar budaya di sekitarnya, demi kelestarian pusaka. Cita-cita ini membutuhkan dukungan, baik secara materi maupun non material.

Harapan kami, kompetisi ini dapat membantu kebutuhan materi, jika program ini terpilih. Kami juga membuka kesempatan bagi berbagai pihak yang memiliki keahlian seperti yang kami butuhkan (sila lihat keahlian yang dibutuhkan di tautan di bawah) untuk BERGABUNG MENJADI ANGGOTA dari tim Heritage Inventory.

Saat ini sedang dalam tahap penjurian. Jika mendapat 250 voters, maka program ini secara otomatis akan masuk pertimbangan juri. Untuk itu, kami mohon dukungannya dengan memberikan vote di aplikasi tsb, SATU SUARA PER HARI. Bisa log-in lewat Facebook untuk memudahkan. Klik tautan berikut utk memberi suara:

Trims, Salam Lestari!

Adriani,
Pimpro
Posted by adriani zulivan Posted on 12:05:00 AM | No comments

Indonesian Heritage Inventory - Basis Data Pusaka Nusantara

Mengapa Indonesian Heritage Inventory (IHI)? 

Pusaka adalah masa depan kita. Peradaban belajar dan berkembang dari pengalaman masa lalu dan masa kini. Nusantara Indonesia adalah perpustakaan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa kaya. Khasanah itu terwujud dalam bentukan alam dan budaya, baik yang teraga sebagai benda (tangible) maupun yang tak benda (intangible). 

Kekayaan itu terserak, belum terhimpun sebagai pengetahuan bersama (collective knowledge) yang bisa digunakan sebagai bekal kemajuan tanpa meninggalkan kearifan tempatan. Ragam pusaka yang terserak itu tak lepas dari ancaman kehilangan, kerusakan, kemusnahan, dan juga perusakan, pengabaian, hingga penghancuran. Upaya menghimpun data ragam pusaka nusantara adalah keniscayaan demi kelestarian peradaban yang erat dengan akar budaya dan alamnya. 

Sistem pendataan pusaka yang dikelola oleh pemerintah masih jauh dari sempurna. Perbedaan kewenangan antar bidang yang mengurusi ranah lingkungan alam dan lingkungan budaya menjadikan data pusaka semakin terserak. Basis data pusaka yang berada dalam satu sektor pun berbeda wujud metadata dan manajemennya pada wilayah kerja yang berbeda; tak hanya antar daerah, tetapi juga antar instansi. Pada situasi ini, pusaka nusantara terus mendapatkan tekanan kemajuan peradaban dan ancaman ketidaklestarian. Respon cepat dan tepat tak bisa diharapkan dari manajemen data pusaka yang tak dinamis nan birokratis. Harus ada upaya yang lebih dinamis, partisipatif, dan kreatif.

Energi dinamis komunitas muda Indonesia adalah modal perubahan sistem yang harus dimanfaatkan. Minat menjelajah anak negeri dan ketertarikan mereka pada kegiatan pendokumentasian objek/tempat/situs yang dikunjungi sangat tinggi. Media jejaring sosial, blog, dan layanan selular menjadi media menampilkan diri, sebagai bukti pernah berkunjung. Minat itu dapat dimanfaatkan dengan membuka layanan penghimpun data situs/objek pusaka (alam dan budaya) yang dikunjungi oleh banyak kelompok/individu petualang Nusantara. 

Sistem online penghimpun data pusaka Nusantara ini dilandasi dengan sistem pencatat/register data pusaka. Register ini terpilah sesuai kategori wilayah dan jenis pusaka. Kode/kategori/tag register pusaka tersebut akan menjadi penanda untuk update kondisi pusaka tersebut dari waktu ke waktu. Data yang terhimpun akan dinamis karena merupakan agregat dari banyak input yang terus dihimpun dalam basis data dan terpetakan. Beragam perangkat dalam satu kerangka konvergensi dapat digunakan, mulai dari komputer yang terhubung ke internet, GPS, kamera foto, kamera video, telepon selular pintar, hingga SMS.

Elanto Wijoyono

Monday, January 9, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:18:00 AM |

Gagasan Besar Indonesian Heritage Inventory

Mengapa heritage?

Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Idiom yang dikenal denga JAS MERAH ini merupakan seruan Soekarno, Presiden Pertama republik Indonesia. Bapak Proklamator ini sangat memahami pentingnya sejarah. Lewat sejarah, generasi sekarang mampu memahami kejadian bangsanya di masa terdahulu, untuk kemudian disampaikan pada anak-cucunya.

Terputusnya rantai sejarah sebuah peradaban yang tak lagi bisa dilacak, merupakan bentuk kemiskinan sosial. Kemiskinan ini berupa hilangnya kebudayaan di masa lampau, meski hanya berupa kisah. Kehilangan ini dapat merugikan umat manusia yang hidup di di suatu kawasan di mana sejarah masa lalu itu hilang.

Kehilangan ini akan membuat generasi sekarang bertanya-tanya mengenai apa, siapa dan bagaimana kehidupan nenek moyangnya. Mencari tahu kehidupan masa lalu bukanlah sekadar pencarian jati diri dan nostalgia, apalagi jika dimaksudkan untuk sekadar menemukan obyek komersil demi kepentingan industri wisata, atau perdagangan benda bersejarah untuk kepentingan ekonomi. Lebih dari itu, informasi mengenai kehidupan di masa lalu mampu menjadi sumber pengetahuan yang penting bagi manusia untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Lewat kisah sejarah bencana di masa lalu, misalnya, sejumlah warga di lereng gunungapi Merapi mampu mempersiapkan dirinya untuk melakukan mitigasi sebagai antisipasi erupsi Merapi 2010 lalu. Hal ini berdampak pada berkurangnya jumlah korban saat erupsi.

Contoh lain adalah untuk meredakan ketegangan antara dua kelompok budaya yang berbeda. Ini terjadi saat muncul kehebohan antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara jiran ini bersitegang pada 2009, akibat Malaysia dituduh mengklaim sejumlah artefak kebudayaan Indonesia, seperti Tari Reog Ponorogo, batik dan wayang. Setelah dirunut, ternyata di masa lalu ada sekelompok masyarakat Jawa hijrah ke Malaysia. Di lokasi barunya ini, mereka tetap memainkan reog, membuat batik, dan menikmati wayang; sebagaimana yang mereka lakukan dalam keseharian semasa masih berada di nusantara. Seiring bertambahnya populasi di negara baru, maka semakin banyak warga Malaysia yang menyukai, bahkan memproduksi budaya asli Indonesia ini. Lambat laun, kebudayaan ini pun ditetapkan sebagai budaya Malaysia. Nah, informasi sejarah ini akhirnya sedikit-banak mampu meredakan ketegangan antara kedua negara.

Heritage, Makhluk Apakah Itu?

Heritage (pusaka) adalah 1 harta benda peninggalan orang yg telah meninggal; warisan; 2 barang yg diturunkan dr nenek moyang (KBBI daring).
Pusaka masuk dalam cagar budaya. Cagar budaya adalah antar daerah yg kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dr bahaya kepunahan (KBBI daring, idem). Dalam konsideran Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) disebutkan bahwa Pusaka Indonesia terdiri atas:
  1. Pusaka Alam 
  2. Pusaka Budaya Teraga/Ragawi, dan
  3. Pusaka Budaya Tak Teraga/Tak Ragawi
Penggunaan istilah “pusaka” mengacu pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang disahkan dalam rangka Tahun Pusaka Indonesia 2003 yang dikelola oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) dan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Indonesia, didukung oleh Kemenbudpar RI. (Wijoyono, 2010 )

Mengapa Inventory?

Heritage adalah bagian dari sejarah masa lalu. Di dalamnya terpendam pengetahuan mengenai kehidupan di masa lampau yang perlu dipelajari. Sebagai bangsa yang besar, kita tentu saja tak ingin kehilangan pegetahuan-pengetahuan ini. Agar tak punah, heritage perlu dilestarikan.

Kuliah satu semester tak cukup untuk menjelaskan mengapa pusaka perlu dilestarikan. Tak mudah pula membangun kesadaran di masarakat akan pentingnya menjaga kelestarian pusaka. Masyarakat umumnya hanya menjadi penikmat atas sebuah penemuan cagar budaya. Tak ada gerakan sebagai peneliti ketika sebuah sejarah dipertanyakan, pengkritisi ketika sebuah pusaka dirusak, tak pula menjadi dokumetato atas peninggalan sejarah yang disaksikannya. Sayang memang, ketika sejarah bangsa ini disia-siakan.

Tak ada yang salah jika masyarakat bertindak hanya sebagai penikmat. Toh negeri ini menghidupi dirinya dengan cagar budaya, yaitu lewat industri yang menjual kenikmatan: pariwisata. Meski bermotif membangkitkan perekonomian warga sekitar, sebuah pusaka yang sekadar menjadi obyek wisata, selain kehilangan makna terdahulunya, juga tak akan bermanfaat banyak bagi kehidupan umat manusia di kemudian hari.

Jika perawatan cagar budaya membutuhkan keahlian khusus, biarkan kewajiban ini ditunaikan oleh pemerintah. Berbagai ahli arkeologi, sejarah, geologi, sosial, dan seterusnya, ada di pihak mereka. Biarlah kita, masyarakat awam, melakukan konservasi situs bersejarah menggunakan kemampuan kita sendiri.

Salah satu cara melestarikan benda peninggalan budaya ini adalah lewat inventarisasi (inventory). Inventarisasi bermakna 1 pencatatan atau pendaftaran barang-barang milik kantor, (sekolah, rumah tangga, dsb) yg dipakai dl melaksanakan tugas; 2 pencatat- an atau pengumpulan data (tt kegiatan, hasil yg dicapai, pendapat umum, persuratkabaran, kebudayaan, dsb) (KBBI daring, idem)

Dalam proyek ini, ada sejumlah cara menginventarisir yang akan digunakan, dengan hasil akhir berupa sistem pendataan terintegrasi berbasis internet. Prinsip yang diterapkan dalam proyek ini adalah teknologi yang mengikuti kemampuan manusia. Sistem ini dapat difungsikan sesuai dengan perangkat komunikasi yang dimiliki seseorang. Mulai dari pesan pendek, mobile website, hingga standard website yang dapat diakses pemilik PC.

Di website ini nantinya, semua orang, siapapun, dapat menjadi informan budaya. Ini adalah konsep jurnalisme warga yang terbuka, dengan prinsip dari, oleh dan unttuk siapapun.


Adapun cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. SMS gateway 
  2. Mapping pin
  3. Blog
  4. Social media
  5. Foto
  6. Video
  7. URL
Publik Indonesia menggunakan internet untuk beragam kepentingan. Tak sedikit hal positif yang dihasilkan dari aktivitas di dunia maya ini. Ketujuh bentuk media informasi dan komunikasi (ICT) tersebut merupakan media yang paling sering diakses oleh pengguna internet akibat kemudahannya. Bagaimana ketujuh media tersebut dapat membantu proses pengarsipan pusaka, berikut penjelasannya:

1. SMS Gateway

SMS (short message service) gateway merupakan sebuah layanan pesan pendek yang melalui kode-kode tertentu dapat diteruskan ke website. Pesan yang masuk ke website ini kemudian menjadi bagian dari konten informasi di website tersebut. Memang tidak semudah mengirim SMS ke sesama nomor telepon selular. Untuk membuat pesan yang dikirim muncul di laman website yang dituju, dibutuhkan kode-kode pengiriman khusus.

Dibanding enam media lainnya, dapat dipastikan bahwa layanan yang juga disebut SMS broadcast ini memiliki jumlah pengakses yang paling tinggi di Indonesia. Jumlah ini tinggi, sebab bisa diakses dengan perangkat ponsel (telepon seluler) yang beredar masif di masyarakat. Ponsel yang paling sederhana sekalipun memiliki fitur SMS.

2. Mapping Pin

Siapa yang tak kenal Foursquare? Situs yang bekerja dengan menandai posisi penggunanya di suatu tempat i belahan manapun di bumi ini, merupakan satu dari sekian banyak situs jejaring sosial populer di Indonesia.

Ada sejumlah motif yang membuat tingginya pengguna FSQ di Indonesia. Yang paling populer adalah sebagai ajang menunjukkan eksistensi penggunanya. Ya, seseorang biasa nge-pin (sebutan populer untuk menancapkan titik keberadaannya dalam peta global) di tempat-tempat bergengsi. Selain untuk menunjukkan kepada publik betapa ia menjadi satu diantara orang-orang yang memiliki kemampuan untuk nongkrong di tempat berkelas, ini juga menjadi penanda betapa ia memiliki mobilitas yang tinggi.

Fungsi nge-pin dalam kebiasaaan masyarakat Indonesia ini tentu saja dapat dibantah, ini hanya kesimpulan dari studi kecil kelompok kami. Nah, kegemaran nge-pin ini dapat dijadikan hal bermakna, jika dialihkan pada upaya untuk mendukung proses inventarisasi terhadap situs bersejarah.

Prosesnya akan semudah check-in Foursquare. Ketika seseorang mendatangi atau melihat sebuah situs bersejarah, tinggal tancapkan pin di koordinat situs tersebut!


3. Blog

Orang menuliskan apa saja yang dijumpai atau dirasakannya. Salah satu tema populer yang sering diangkat menjadi sebuah kisah dalam tulisan blog adalah cerita perjalanan wisata. Banyak blogger mampu menuliskan dengan baik apa yang dilihat dan dirasakannya mengenai suatu tempat yang dikunjunginya. Tulisan ini biasanya dilengkapi dengan opini membangun untuk meningkatkan kualitas apapun dari obyek wisata yang didatanginya.

Jika diarahkan pada sisi konservasi, opini-opini ini akan bermanfaat bagi upaya pelestarian pusaka.

4. Social Media

Social media (socmed) atau populer dengan sebutan media jejaring sosial, merupakan sebuah fenomena besar di Indonesia. Lewat Twitter dan Facebook, dua website paling populer di Indonesia, socmed mampu menggerakkan perubahan sosial.

Berbagai gerakan sosial baru muncul di Indonesia dengan mengusung socmed sebagai media perjuangannya. Twitter terbukti mampu membantu proses manajemen bencana lewat akun @jalinmerapi, misalnya. Gerakan Kadal vs Buaya di Facebook pun mampu melawan hegomoni lembaga yudikatif yang kala itu bertindak sewenang-wenang terhadap keadilan.

Masyarakat Indonesia bersikap kritis untuk persoalan-persoalan yang muncul, meskipun lebih banyak yang bergerak hanya di tataran wacana, seperti membesar-besarkan suatu isu lewat socmed. Namun demikian, hal ini tak ada salahnya jika obrolan-obrolan yang ramai di socmed tersebut membuat gerah para pengambil keputusan, lalu melakukan aksi.

Dalam tataran pusaka, kicauan Tweeps (pengguna Twitter) pernah menggagalkan pembangunan sebuah mall di Solo. Mall ini rencananya akan dibangun dengan menghancurkan Pabrik Es Saripetojo, Bangunan Cagar Budaya. Ini menjadi bukti bahwa kekuatan socmed mampu menjaga kelestarian pusaka.

5. Foto

Jika di awal kemunculannya foto berfungsi sebagai dokumentasi, kini foto menjadi salah satu media ajang pamer (narcistic). Kemudahan membuat foto adalah penyebabnya. Kini, kamera foto bahkan tersedia di telepon genggam. Kemudahan menyebar informasi melalui foto ini makin dimudahkan oleh teknologi socmed. Bagaimana efektifitasnya?

Masih menempel di ingatan mengenai pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh mobil dinas salah seorang menteri. Mobil itu masuk ke jalur bus Transjakarta yang terlarang bagi kendaraan lain. Posisi mobil ini difoto oleh seorang pengguna jalan lain, lalu menyebarkannya lewat fitur foto di Twitter. Foto menyebar, sang Menteri dihujat sebab tidak memperingatkan sopirnya. Menteri langsung berbelok ke kepolisian, minta surat tilang.

Nah, jika hal serupa dilakukan masyarakat ketika melihat BCB yang dirusak, misalnya, maka akan lebih banyak orang yang tahu dan lebih cepat ada tindakan dari para pengambil keputusan.

6. Video

s.d.a

7. URL

Ini merupakan fitur berbagi informasi dari sumber informasi lainnya. Bisa dimaksudkan sebagai lansiran berita (seperti Google Alert). Penggunaannya akan semudah berbagi tautan berita di Facebook. Akan ada kolom komen di bawanya untuk memancing diskusi.

Integrasi

Informasi mendalam mengenai suatu situs didapat dari berbagai sumber. Tak mungkin jika informasi ini disediakan secara massif. Apalagi, tujuan dari website terbuka ini adalah agar publik memiliki kesempatan untuk mengisi kontennya.

Salah satu cara yang akan ditempuh adalah mengambil berbagai dokumentasi di ruang publik, lalu mengintegrasinya dengan tiap pin. Maka, ketika sebuah pin di-klik, akan keluar informasi mengenai situs pusaka tersebut, baik berupa tulisan, foto, atau video. Pencari informasi akan langsung diarahkan pada situs asal tempat dokumentasi tersebut dipublikasikan.

Ada pula usulan untuk bekerjasama dengan Wikipedia agar memperoleh data yang lebih komprehensif. Meski begitu, di awal tim Heritage Inventory aan melakukan sendiri seua bentuk publikasi tersebut dengan sumber yang terdekat dengan masing-masing anggota tim. Kami akan meliput sejumlah pusaka di Jogja, Bandung dan Jakarta dengan mendokumentasikannya dala tulisan, foto dan video. Ini agar menjadi contoh bagi pengguna website selanjutnya.

Teknis

  • Belum ada ide nama domain untuk poyek Heritage Inventory ini. Namun itu belum menjadi hal krusial untuk saat ini. Yang pasti, proyek ini akan mendukung penggunaan open source. 
  • Website akan menggunakan Ushaidi.
Adriani Zulivan

Thursday, December 29, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:33:00 PM |

Sesorean Tur Candi

Hari ini aku dan Ndil janjian dengan orang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng. Janjian pukul 14.00, kami tiba sejam sebelumnya di kantor BP3 yang terletak di utara Kompleks Candi Prambanan.

1. Soto Mbah Semar
Untuk habiskan waktu, kami makan di Warung Soto Mbah Semar yang terletak tak jauh dari BP3. Suasananya asyik, pecel dan dawetnya enak. Meski warung soto, ada menu lain di sana.


2. BP3 Jateng
Lalu ke BP3, melihat banyak arca yang dipajang di kantor itu. Sayang, kami tak sempat memotret, sebab waktunya sangat terbatas.

3. Candi Plaosan
Setelahnya ke candi yang indah banget: Plaosan! Candi ini cantik sekali. Membuatku ingin menikah di sini... Meski seing melihat candi ini dari kejauhan, dalam perjalanan ke-dari lereng Merapi, baru kali ini berkesempatan mampir, melihat. Aku tak memotret. "Aku akan kembali lagi ke sini," kataku pada Ndil. 

Ketika akan masuk, kami--ehm: Ndil, maksudku--sempat berdebat dengan petugas yang meminta "seiklasnya" untuk bea masuk, setelah kami mengisi buku tamu. Dia minta seiklasnya, sebab tak ada tiket. Setelah berdebat panjang sebab Ndil tak mau membayar tanpa tiket, kami dipersilahkan para Satpam penjaga untuk masuk, dengan menggerutu.

4. Candi Sari


Dari si cantik Plaosan, kami ke Candi Sari. Aku tak pernah tahu keberadaan candi ini. Candinya hanya satu bangunan tunggal, memiliki dua lantai seperti Candi Plaosan. Di candi yang berada di wilayah Kabupaten Sleman, DIY ini, ada penjaga dengan karcis.


5. Candi Kalasan


Dari Sari, kami ke Candi Kalasan. Candi ini sangat-sangat sangat sering kulihat, sebab ia berada di lintasan jalur Jogja-Solo. Kupikir ini hanya candi sederhana. Ternyata, tembok-tembok candi ini memiliki ukiran yang cantik. Menurut Ndil, ini adalah salah satu candi dengan ukiran indah.

Di kawasan DIY ini ada karcis. Ndil bersedia membayar, setelah mencatat di Buku Tamu.

6. Candi Kedulan


Sedih melihat candi ini. Sudah bertahun-tahun ekskavasinya terbengkalai akibat persoalan pembebasan lahan. Sudah lama Ndil cerita tentang keberadaan candi ini, setiap kami pulang dari lereng Merapi. Namun karena dia masih di dalam tanah, maka tak pernah terlihat dari kejauhan.

Oh iya, kami tak membayar untuk melihat candi yang berada di Kabupaten Sleman, DIY ini. Tak ada tiket, hanya mengisi buku tamu. Sang petugas tidak memaksa menarik uang masuk. DIY memang berbeda dari manajemen di Jateng, ya!


Dari sini, kami pulang. Di otakku masuk berbagai imaji. Ini kali pertamaku mengunjungi keempat candi tadi. Bener kata BOL BRUTU: Nyandi itu nyandu!

Lain waktu akan kutulis satu per satu tentang candi itu. Kali ini edisi narsis dahulu, ya! :))

Oh iya, saat melihat Candi Sari, ada dua orang kulit hitam yang kuyakin dari India. Salah seorang dari mereka membawa kamera dengan lensa cukupan. Memotret sana-sini tanpa banyak bicara antar mereka. Lalu menanyakan letak Candi Kalasan. Di Kalasan kami bertemu mereka lagi. Sepertinya, keduanya sedang menelusuri jejak nenek moyang mereka, hehehe.


Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata