Tuesday, August 11, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 5:23:00 PM | No comments

Menyiram Benih Korup di Bandara

Dengan dua tentengan berat di bahu dan tangan, aku berlari kecil ke area imigrasi Bandara Kualanamu, Sumatra Utara. Ah, sore itu (09/08) antrian berkelok akibat garis yang disusun mengular. Kudengar keluhan di sana sini akibat pengaturan itu. Buat apa dibuat berkelok, jika hanya ada sedikit penumpang yang mengantri?

Kelar urusan imigrasi, aku bergegas ke pintu luar. Ternyata dicegat petugas berseragam biru gelap, imigrasi. Seluruh penumpang diminta mengisi formulir [gambar atas] yang menjadi pernyataan kita terkait barang-barang yang dibawa. Seorang berseragam salah satu maskapai, mari sebut maskapai ini dengan RS, menyodorkan formulir, lalu mengarahkan saya ke meja untuk menulis.

"Bisa ngisinya?" Tanya pegawai maskapai RS ini. Sebutlah namanya Mas A.
Aku cuma ngangguk sambil ngomel dalam hati "Masak ngisi begini saja nggak bisa!"setelah kubaca seluruh tulisan di formulir.
Formulir yang harus diisi.
Selagi berkonsentrasi dengan isian formulir, kudengar obrolan mbak-mbak di sampingku. Intinya, mas-mas berseragam maskapai RS yang menemaninya, mari memanggilnya Mas B, meminta uang kepada si mbak-mbak ini.

"Memangnya bayar, kak?" Tanyaku ke si embak-embak.

"Nggak tau nih, katanya begitu," jawabnya sambil memencongkan mulut dan mata sebalnya ke arah Mas B di sampingnya.
"Jangan kasih kak, nggak ada aturannya."
"Nggak papa lah," merogoh tas.
"Minta nota, kak. Bang, ada notanya?" Tanyaku pada Mas B. Dia cuma menggeleng.
"Saya sudah bantu kakak ini mengisi formulir, saya cuma minta seiklasnya."
"Nggak ada itu kalau nggak ada nota, jangan kasih, kak!" Seruku.

Mas B perlihatkan muka tak senang. Kuambil kamera, lalu datangi dia.

"Oke, sini siapa namanya?" Tanyaku sambil coba meraih kartu pegawai yang menjuntai di dadanya. Dengan sigap ditutupnya kartu itu dengan tangan. Ketika ia menghindar, sempat kupotret wajahnya.

"Akan saya laporkan," kataku. Dia pergi. Si embak-embak ucapkan trims padaku.

Mas A datang lagi menghampiri, kubentak: mau minta uang lagi?!!! 

"Nggak kok, enggak."

Selesai dengan formulir, aku menuju pintu keluar, pada orang-orang sekitar kuingatkan untuk tidak memberi uang jika diminta. Pada petugas yang memungut formulir, kutanyakan apakah di sini dipungut bayaran?


"Tidak," jawabnya.

"Mengapa tadi ada yang meminta bayaran?"
"Siapa? Bayaran apa?"
"Itu yang seragam maskapai RS. Katanya uang karena sudah bantu mengisi formulir"
"Mana orangnya?" Kutunjuk seseorang berseragam RS. Petugas imigrasi memanggilnya.

"Katanya kamu tadi minta uang ya?"

"Bukan saya, beda." Aku ambil kamera, cocokkan wajahnya.
"Iya bukan mas ini. Maaf ya mas," kataku. Petugas imigrasi tanya apakah ia tahu siapa ini, dia jawab tak tahu.

Petugas ini memintaku menyampaikan foto ini ke pihak imigrasi. Aku diminta ke kantor mereka yang letaknya di ujung ruangan. Foto tadi diperlihatkan ke salah seorang di sana. Mereka pastikan bahwa itu adalah bukan petugas imigrasi, melainkan maskapai.


"Itu bukan petugas kami. Imigrasi tidak menerima uang. Masukannya akan jadi pelajaran buat kami." Begitu saja.

Di luar ruangan, seluruh petugas membicarakan hal ini. Aku lagi-lagi diminta memperlihatkan foto petugas RS tadi.

Salah satu petugas imigrasi yang sepertinya adalah bos di sana, menanyaiku tentang kejadian itu. Kujelaskan lagi. 

"Ah kasihlah sedikit saja..." katanya.
"Oh, jadi nggak apa-apa kasih-kasih begitu?"
"Seiklasnya saja..."
"Oh saya nggak mau pak. Dalam sehari saja, yang 'sedikit-sedikit sajalah' itu jadi berapa? Berapa orang yang dia bantu dalam sehari? Itu tidak korup, pak?"
"Lagi pula ini bukan soal jumlah, pak. Sedikit pun, apa dibenarkan?" lanjutku.

Beliau akhirnya mengiyakan perkataanku, lalu memotret layar kameraku dengan ponselnya. Ia pun memanggil salah seorang berseragam yang sama dengan Mas B. Petugas SR ini bilang, bahwa ia tahu itu siapa: Mas B adalah orang katering maskapai RS. 


Bagaimana ceritanya orang katering bisa sampai ke atas, ke wilayah imigrasi? Mungkin hanya Tuhan yang tahu jawabannya...


Tak lama, datang seorang dari manajemen maskapai RS yang mengaku sebagai penanggungjawab RS di bandara Kualanamu. Untuk kesekian kali, aku diminta menceritakan kronologi kejadian. Lalu ia meminta boarding pass. Kuberikan. Ya tentu saja ia membutuhkannya. Jiika ternyata aku bukan penumpang maskapai perusahaannya, maka ia tak akan peduli, bukan? Sama seperti bagian imigrasi tadi: Ini bukan anggota kami, ini akan menjadi masukan. Begitu saja.


Petugas bandara--yang bertugas memantau scan barang-barang bawaan penumpang--yang ikut serta dalam obrolan itu, memintaku meninggalkan file foto Mas B. Kutanya bagaimana cara memindahkannya. Lalu bla bla bla dan kubilang "Maaf pak, bu, saya ada penerbangan lagi jam 8.30 dan saya harus check in". Lalu kutinggalkan kartu nama.


Penanggungjawab RS tadi menanyakan maskapaiku selanjutnya, lalu mempersilahkanku ke lantai atas tempat check in. Sewaktu mengantri di konter, si penanggungjawab datang dengan Mas B. 


"Sudah check in, bu?" Tanya penanggungjawab.

"Belum," tunjukku pada antrian.
"Silahkan check in dulu saja." 
"Ah pak, urusan begini ya sudah urusan bapak lah, saya nggak perlu ikut,"jelasku sebab aku tak ada hubungan kerja dengan Mas B.
"Baiknya diselesaikan selagi ada ibu," jawabnya.

3 menit selesai urusan, aku mendatangi mereka. Ditambah satu orang imigrasi yang memberitahuku cerita versi Mas B. Menurut orang imigrasi ini, tidak ada yang salah dari perbuatan si Mas B sebab ia meminta seiklasnya. Nah loh!


"Jadi meminta tidak salah, pak? Berapa pendapatan mas ini selama sehari dari hasilnya meminta-minta dengan iklas itu?" Dst seperti kusampaikan pada orang imigrasi sebelumnya. Si bapak tiba-tiba berubah pikiran dan menasehati si Mas B dengan perumpamaan yang nyaris sama dengan penjelasanku.


Penanggungjawab RS menyatakan penyesalan atas kejadian ini. Imigrasi bilang menyerahkan padaku (sebagai pihak yang merasa dirugikan), apakah akan meneruskan kasus ini (lalu membuat laporan tertulis dst), atau bagaimana.


Aku tak igin meneruskan ini. Sudah sampai di sini saja. Imigrasi bilang, "Kalau dari kami, kami tidak ingin orang seperti ini masuk lagi ke bandara. Kami akan pecat. Tapi semua dari ibu. Jika ibu tidak meneruskan, kami serahkan ke maskapai."


"Sudahlah pak, tidak usah diperpanjang. Dan saya tidak menginginkan ada pemecatan. Saya yakin, mas ini tidak akan mengulangi lagi..." Lagian ini soal perut orang lain, kan?


"Kami minta maaf. Tentu kami akan memberi tindakan, mungkin SP 1 atau 2. Meski saya bukan atasan langsungnya, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Dan berharap persoalan ini tidak di blow up," katanya.


Aku menyatakan kesepakatan. Tentu saja orang maskapai RS akan tak ingin persoalan ini menjatuhkan nama perusahaannya yang kerap menjadi sorotan. Aku mengiyakan untuk tidak membesarkan kelakuan staf dari maskapai RS. Namun aku merasa perlu untuk menyampaikan tentang kelakuan petugas di kedatangan internasional bandara. Ini bukan yang pertama bagi dunia penerbangan kita, bukan?

Coretan yang dibuat setelah temanku memberi uang.
Maret lalu kantorku mengadakan sebuah agenda internasional yang mendatangkan peserta dari berbagai negara. Salah satu peserta menyatakan bahwa petugas bandara Soekarno Hatta meminta uang yang katanya sebagai uang departure tax. Ini sebelum pintu keberangkatan.

Temanku yakin bahwa mereka (tak hanya satu orang) adalah petugas maskapai Garuda Indonesia (GIA)--maskapai yang ia tumpangi--sebab mengenakan seragam hijau. Kujelaskan bahwa Garuda saat itu sudah tidak memberlakukan airport tax dan petugas bandara Soetta mengenakan seragam sama dengan petugas GIA. Ia dipalak sebesar Rp 50.000 IDR, setelah sebelumnya mereka minta Rp 150.000 dan temanku bilang tak ada sebanyak itu.minta nota, namun mereka hanya menuliskan sesuatu di belakang kertas boarding pass [gambar atas]. 


Contoh lain tentu yang terjadi di bandara Ngurah Rai yang melibatkan petugas imigrasi dengan pekerja media Belanda. Mungkin kalian punya pengalaman lain? 

Sebenarnya, persoalan-persoalan seperti ini bisa dilaporkan ke mana ya? Jika kalian bilang wajar saja jika orang kasih uang sekadarnya, berarti kalian sedang menanam korupsi. Jika kalian bilang, ngapain aku heboh sedangkan orang yang diminta merasa biasa saja, berarti kalian menyiram benih korup.


Setelah agenda 'perdamaian' tersebut, aku keluarkan kamera dan minta penanggungjawab RS untuk memotretku bersama Mas B. Oh ya, sejak datang bersama penanggungjawab RS, Mas B tersenyum manis tidak seperti waktu di ruang imigrasi.

Jakarta, 11 Agustus 2015

Adriani Zulivan

Tuesday, July 21, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 5:13:00 PM | No comments

Lebaran Tanpa Opor, Tanpa Sungkem, Tanpa Kastengel


Kami sekeluarga nggak ada yang asli Yogya. Kami memilih hidup di Yogya, dengan segala kenyamanan dan ketidaknyamanannya (kini). Selain memiliki KTP Yogya, kami juga mudik dan berlebaran di Yogya.

Meski berlebaran di Yogya, kami tidak membuat Kupat Opor. Kami buat Lontong Medan, menu utama yang harkatnya sepantaran dengan Ketupat Opor, meski varian pendampingnya lebih beragam. Kami juga nggak punya kastengel, sus kering dan astor (choco sticks) dalam toples kue lebaran, sebagaimana warga Yogya kebanyakan. Kami bikin kue-kue yang sama dengan warga Yogya lainnya, hanya tanpa tiga varian tadi. Oh ya, kami menyebutnya kue, kue kering, bukan roti atau roti kering sebagaimana sebutan orang Yogya.

Kami tidak punya agenda sungkem, hanya cium tangan dan pika/piki ke orang yang lebih tua sambil meminta maaf. Kami tidak punya tradisi seragam lebaran lalu kemudian foto bersama, hanya pakai baju terbaik yang model dan warnanya bisa tabrak lari satu sama lain. Laki-laki pakai teluk belanga (koko) dengan sarung, perempuan pakai baju terusan atau kurung dengan kain tenun untuk bawahan plus kerudung.

Di Sumatra, kami berlebaran bisa tiga hari tiga malam--bahkan lebih lama, sibuk berkunjung ke sanak famili dan handai taulan. Di Yogya, kami hanya bertemu dengan penduduk sekitar di masjid usai shalat ied. Masjid di lingkungan kami bikin agenda halal bil halal dua jam setelah shalat ied, pesertanya seluruh warga setempat. Sebab sudah saling bermaafan, sesudahnya tak ada kunjungan ke rumah-rumah tetangga.

Bedanya lebaran di sana dengan di sini: nggak banyak cuci piring, sebab nggak banyak tamu. Tamu bisa dihitung dengan jari-jari di kedua tangan: teman kantor papa dua keluarga, teman kantor mama satu keluarga, teman perkumpulan satu sampai dua keluarga, anak teman papa yang kebetulan beristri orang Yogya satu keluarga, tetangga yang tiap natal kami datangi rumahnya satu keluarga.

Bertamu ke rumah orang? Hanya Papa dan Mama ke rumah bekas atasan Papa. Anak-anak pada ngapain? Puas-puasin makan Lontong Medan (yang sangat jarang keluar dari dapur Mama dalam versi lengkap) dan... tidur!

Maka nikmat Yogya mana lagi yang kau dustakan?

Mlekom,
AZ
Posted by adrianizulivan Posted on 12:03:00 AM | No comments

Menjembatani Pusaka Pengetahuan

Tersebutlah Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu Purba. Demi meminang Putri Tiongkok, ia membuat sebuah kapal untuk berlayar ke negeri sang pujaan hati. Setelah berhasil meminang sang istri, Sawerigading kembali ke tanah airnya. Ketika akan memasuki perairan Luwu, kapal diterjang ombak dan terdampar di Desa Ara, Desa Tanah Lemo dan Desa Bira. Warga ketiga desa tersebut kemudian merakit perahu yang terbelah tiga tersebut, lalu menamainya Pinisi.  Orang Ara adalah pembuat badan kapal, di Tana Lemo kapal tersebut dirakit dan orang Bira memasang tujuh layar.

Kawasan Luwu Purba kini, diyakini sebagai Sulawesi Selatan. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, kapal Pinisi pertama dibuat pada abad ke 14. Pinisi adalah kapal layar tradisional asal suku Bugis dan Makassar yang terbuat dari kayu. Mayoritas pembuatnya kini berasal dari Desa Bira Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. 
Pinisi merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau[1]. Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan dua kalimat syahadat dan tujuah buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar[2] dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia. [Wikipedia]

Desa Bira berjarak lima jam perjalanan dari ibukota Sulsel, Makassar. Ini adalah wilayah dengan pemandangan laut berair biru dan pantai berpasir putih. Di salah satu pinggir pantai inilah para ahli pembuat Pinisi tinggal. Jauhnya jarak dari ibukota provinsi ke sentra pembuatan Pinisi tersebut, menjadikan minimnya kesempatan bagi masyarakat untuk belajar tentang Pinisi. Untuk itu, sejumlah masyarakat Makassar mencoba 'memindahkan' rangkaian proses pembuatan sebuah Pinisi ke pusat kota.
Pinisi dibuat di ujung sana.
Proses pembuatan kapal yang dinamai "Pinisi Pusaka Nusantara" ini ditempatkan di garis pantai yang terletak di Tanjung Pandang, Anjungan Pantai Losari. Lokasinya yang tepat berada di seberang Benteng Fort Rotterdam ini, jelas memudahkan masyarakat untuk berkunjung dan melihat proses pembuatannyaYayasan Makassar Skalia adalah inisiator dari program tersebut, yang proses pembuatannya kemudian dilanjutkan oleh perusahaan KitaJi Pusaka Mandiri.

"Nenek Moyangku Seorang Pelaut" mungkin lagu populer sejak kita masih kanak-kanak. Namun apakah kita benar-benar memahami begitu besarnya pengaruh dunia maritim nusantara terhadap sejarah dunia di masa lalu? Phinisi sebagai salah satu alat yang mendukung kejayaan itu, perlu juga untuk dipahami. 
Mulyawan Galib
"Jangankan dari luar Sulsel, orang Makassar saja belum tentu pernah melihat pembuatan Pinisi di Bira," kata Mulyawan Galib dari Documentation and Publishing proyek ini. "Logo pemerintahan Kota Makassar bergambar Phinisi, namun banyak orang Makassar yang tidak pernah melihat Pinisi, maka inilah kami hadirkan kapal ini," lanjutnya. Bahkan logo Kota Makassar ini memiliki semboyan yang snagat berbau maritim, yaitu "Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai".


Kekaguman pertamaku pada kekuatan maritim nusantara muncul ketika mengunjungi Museum Samudra Raksa di kawasan Candi Borobudur Magelang, awal 2013 lalu. Museum ini menyimpan replika kapal yang dibuat berdasar gambar relief candi yang terdapat di sejumlah panel. Di nusantara, kapal layar berbahan kayu yang kemudian disebut dengan Kapal Borobudur itu, dibuat di abad ke-7. Dinasti Sailendra dan Kemaharajaan bahari Sriwijaya yang menguasai perairan Nusantara di abad ke-7 hingga ke-13, juga menggunakannya.
Pekerja siapkan kantung pasir untuk mudahkan peluncuran kapal ke laut.
Proyek Pinisi Pusaka Nusantara berjalan sejak awal Maret 2015 dan direncakan akan turun ke laut pada pertengahan Agustus 2015. Kapal diturunkan ke laut untuk pemasangan layar. Layar tak dapat dipasang di pantai/darat, sebab perlu mengetahui kekuatan angin. Proses penarikan kapal ke laut ini menjadi salah satu rangkaian acara dari "Pesta Budaya Sulawesi Selatan - Sulawesi Barat" yang akan dilaksanakan pada 14-15 Agustus 2015 mendatang.
Mengintip laut.
Nantinya, Pinisi ini akan menjadi kapal komersil yang mengangkut wisatawan. Jika ingin bermalam di pulau seberang, masyarakat juga akan bisa menyewanya. Salah satu atraksi menarik di atas kapal adalah menikmati makan romantis di anjungan kapal. Manajemen sudah mendapat tawaran dari salah satu restoran terkenal di Makassar, untuk menyajikan makanan dalam perjalanan wisata.

Sebagai dukungan terhadap pendidikan, kapal ini akan mengangkut anak sekolah menyeberang pulau-pulau terluar Makassar secara gratis, lalu kembali lagi ke Losari. "Agar anak-anak tahu rasanya naik Pinisi dan memahami sejarhnya," jelas Mulyawan. Selain itu, kapal yang memiliki perpustakaan ini akan membawa buku untuk dibaca oleh anak-anak di pulau seberang.
Pinisi yang dibangun ini hanya merupakan miniatur. Pinisi asli jauh lebih besar, membuatnya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kapal replika ini saja diprediksi akan menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 miliar. Dana sebanyak itu diperoleh dari sumbangan masyarakat Makassar. "Sejumlah tokoh penting Makassar menyumbang kapal ini, seperti pengusaha, pejabat, dan masyarakat umum," terang Mulyawan.
Ruang kendali.
Dapur.
Pinisi replika ini memiliki sejumlah ruang di bagian gladag, yaitu ruang kemudi, dapur dan kamar-kamar. Kapal ini digarap oleh belasan pekerja yang semuanya berasal dari Bira. Yang menarik dari pembuatan ini adalah usia pekerja yang masih muda, rata-rata 20-30an tahun. Pekerja temuda berusia belasan, sedangkan tertua 40an tahun.
Para pekerja ini adalah ahli pembuatan Pinisi yang memperoleh pengetahuannya secara turun-temurun. Membuat Pinisi merupakan profesi keseharian mereka. Jika tidak membuat kapal di Bira, mereka mungkin sedang dikontrak untuk membuat kapal di daerah lain, dari Maluku hingga Sumatra. Mereka hidup berbulan-bulan di daerah lain untuk membangun kapal.
Di masa lalu, Pinisi dibuat di gunung, mendekat ke sumber bahan baku, yaitu kayu bitti yang banyak terdapat di Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjay, Sulsel. Tak adanya angkutan (di masa kini seperti truk) yang dapat membawa bahan baku ke pinggir pantai, menjadi alasan. "Waktu kecil saya tanya ke mana kakek. Nenek bilang lagi membuat perahu. Saya cari ke pantai tak ada, ternyata memang membuatnya di gunung," cerita Mulyawan.

Begitu siap melaut, kapal akan diturunkan ke pantai, yang konon dengan menggunakan gelondongan kayu yang disusun sebagai roda. Cerita lain mengisahkan bahwa kapal yang dibuat di gunung berbentuk knock down, sehingga bisa lebih mudah diangkut. 
Lambung kapal.
Meski demikian, mengangkut kayu di masa itu bukan perkara mudah. Kayu-kayu pembentuk kapal merupakan kayu kualitas tinggi, yang bahannya tentu sangat keras dan berat. Kayu ulin adalah salah satu bahan utama yang sangat kuat dan tebal. Kokohnya kayu ini membuatnya sering disebut sebagai kayu besi. Ulin didatangkan dari Kabupaten Buton, Kendari, Sulawesi Tenggara.


Irma,aku dan Icha, ngobrol dengan Pak Mulyawan.
Mengingat minimnya catatan tentang Pinisi, manajemen akan membukukan proses pembuatan kapal ini. Harapannya, buku tersebut akan menjadi catatan pembelajaran bagi generasi mendatang. Sepertinya ini pasti akan menjadi salah satu buku paling penting dalam sejarah nusantara. Kita tunggu saja!

Hingga Agustus nanti, masyarakat dapat menyaksikan proses pembuatan yang mengikuti kaidah tradisi ini. Sebagai penanda dimulainya pembuatan kapal, pemerintah setempat telah melaksanakan annarak kale biseang, upacara pemotongan lunas perahu. Kain putih, ayam jantan, pisang panjang, dan dupa ikut menjadi pelengkap upacara.

Sejak kecil, Papaku bilang bahwa aku punya darah Bugis dari nenek Mama. Meski aku hydrophobia dengan air yang banyak (sungai, laut, dll), mari nyanyikan lagi lagu itu...


nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b'rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

Pembuatan Kapal Pusaka Pinisi Nusantara ini, mestinya menjadi goresan penting dalam sejarah pusaka maritim Indonesia. Gerakan ini akan mampu menjembatani pusaka tak raga berupa pengetahuan, tentang pembuatan kapal Pinisi. Menjembatani antara pengetahuan manusia di masa sekarang dengan masa dimana Pinisi pernah mengantarkan kejayaan nusantara. Ah, aku suka penggunaan kata "pusaka" dalam penamaan proyek ini!
Salah satu karya seni.
Replika Pinisi.
Selain melihat proses pembuat kapal, pengunjung dapat menyaksikan sejumlah karya seni tentang kapal Pinisi di sekretariat panitia yang terletak di samping kapal. Mari menjadi saksi sejarah kejayaan maritim Indonesia! 

Foto: Adriani Zulivan dan Icha Marissa.

Mlekom,
AZ

Saturday, July 18, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 1:18:00 AM | No comments

Traveling, Launching dan -ing -ing Lainnya...

Aku yang bahasa Inggrisnya sangat terbatas ini, lebih suka nyebut mashed daripada penyet ketika menjelaskan kentang kukus yang kemudian dihancurin. Atau CC (credit card) bukan KK (kartu kredit). Juga native speaker, concern, co-pas dan masih banyak lagi. Apalagi istilah-istilah dari media sosial: 
  • Aku malas nge-add kamu di Facebook.
  • Nggak sengaja ke-delete.
  • Akun aku di-folback yaaa...
  • Sudah sent?
  • Approve-in request pertemananku, donk!
  • Info harganya aku inbox ya!
Jadi ya enggak usah heran jika banyak travel blogger yang bahasa Inggrisnya memang canggih-canggih itu, pada menggunakan kata traveling untuk bepergian. Bahkan ada istilah bahasa gado-gado seperti ngetrip yang diambil dari kata Indonesia tak baku nge- ditambah kata bahasa Inggris trip.

Papaku suka ngulang-ulang kata yang dikeluarkan Presiden SBY yang sangat suka menggunakan dwibahasa dalam satu kalimat. Ngulang-ngulangnya ngejek gitu. Dulu jaman kuis "Family 100" jadi hiburan menarik keluarga, Papa suka ngulang-ulang bahasa sok nginggris para seleb yang jadi peserta kuis. Ngulang-ngulangnya ngejek juga sih. Sebabnya begini:

Sony Tulung (presenter): Apa kegiatan Anda saat ini?
Artis (lupa siapa): Ngurus baby, masih nyanyi juga...
Papa: Memangnya nggak bisa bilang bayi aja ya?

Kantorku yang berpusat di negara berbahasa Inggris itu, selalu menggunakan kata launching untuk kegiatannya; selain mentoring, skill update, workshop, talkshow dan masih banyak lagi. Jika hanya digunakan untuk kegiatan internal, kupikir sih masih nggak masalah, seperti compensation leave, staff meeting, dll. Itu menjadi masalah (setidaknya di mataku ketika membaca spanduk, poster, dst) ketika digunakan untuk berurusan dengan masyarakat.

Iya sih aku yakin bahwa seluruh warga Indonesia yang melek internet tahu arti traveling ataupun launching, meski mereka tak pintar berbahasa Inggris. Hanya saja, jika kedua kata tersebut dimasukkan dalam tulisan berbahasa Indonesia tanpa format italic, kenikmatan membacaku seakan terusik. Memang ketika dilafalkan (oral), efeknya tak semengganggu (ini bahasa apa?) tertulis sih.

Tapi ya gegara saking semua orang tahu arti launching, banyak sekali orang yang menulisnya dengan kata misspell menjadi lounching. Sumpah, aku nggak mengada-ada.

Di sisi lain, beberapa teman secara serius menjadi polisi grammar bahasa Indonesia. Mereka 'mengutuk' orang Indonesia yang menggunakan rumus 5W+1H yang semestinya ASDIKAMBA (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana; atau ada pula yang menyebutnya ADIKSIMBA)--istilah yang nggak pernah kudengar selama empat tahun belajar jurnalistik. [Trims Mbak Wiji sudah menjelaskan di tengah malam ini]

Demikian. 

Mengapa kalian menulis kata pejalan dengan traveler, berjalan-jalan dengan traveling, dan peluncuran dengan launching? Serta kata berakhiran -ing -ing lainnya yang tak diserap, padahal ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Mo nanya gitu aja sih :)

Disclaimer:
Saat menulis ini, di otakku tertulis begini:
  • Istilah travel blogger apakah boleh diganti dengan penulis blog perjalanan? Ya, sepertinya kata blog dan blogger belum ada terjemahannya.
  • Istilah italic bisa diganti dengan garis miring, kan? 
  • Misspell bisa menjadi kata yang tidak tepat
  • Grammar menjadi tata bahasa (sumpah barusan klik translator untuk tahu terjemahan ini). 
  • Translator menjadi penerjemah
  • Disclaimer apa terjemahannya?
Gambar yang nggak jelas maksudnya itu, didapat di sini. Oh ya, ini ada kumpulan tulisan Lambertus Hurek tentang bahasa yang sangat menarik dan penting, setidaknya buatku yang tak cerdas berbahasa ini.

Mlekom,
AZ

Thursday, July 16, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 8:47:00 PM | No comments

Selamat Idul Fitri 1436 H

Adek, bikinin kartu lebaran ya! kata Papa. Tujuh menit kemudian jadilah gambar ini... meski desainnya estede banget yak!

Tadinya aku kasih ucapan ini: Bagimu selamat lebaran, dari kami keluarga Zulivan. Sama Papa diganti jadi ucapan estede dengan tahun hijriah dan maaf-maafan itu. Sekaku judul tulisan ini. Yaudahlahya...

Ini foto Idul Adha tujuh tahun lalu (jadi, kami punya ritual foto keluarga kalau Idul Adha). Setelah disebar, banyak yang nanya ini foto tahun berapa, pasti bingung kok 'bentuknya' beda. Iya iya, ini jaman aku masih tirus :p

Oh ya, asyik lho bikin desain ucapan begini. Balas ucapan (apalagi di grup WA), jadi simpel banget!

Selamat takbiran! Aku tadi bingung mau nulis cerita apa untuk Lebaran ini :)

Mlekom,
AZ

Saturday, July 11, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 9:36:00 AM | No comments

Mengajarkan Hal Salah


Seorang anak usia TK selesai makan semacam cilok, lalu tanya ibunya buang di mana sampah plastiknya. Si ibu bilang "buang aja di sini" nunjuk tanah di bawah kaki mereka.

Anaknya diam karena aku pelototin. Sambil megang ibunya, dalam diam dia bertanya buang di mana. Si ibu yang tidak melihatku, ambil plastik di tangan anaknya lalu lempar ke tanah di depan mereka. Bersama sejumlah tisu bekas dari tangannya.

Aku kutip semua sampah mereka sambil bilang ke si anak, "lain kali buang sampah di sini ya dek, kasihan kalau candinya kotor", sambil gelontorin sampah2 merek ke dalam tempat sampah yang jaraknya cuma selangkah dari tempat mereka duduk.

Wajah si ibu antara marah dan malu, lalu masuk ke mobil. Ini di parkiran Borobudur.

Sedih lihat orangtua yang mengajarkan hal salah kepada anaknya...

Gambar diambil dari sini.

Mlekom,
AZ

Friday, June 19, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 9:22:00 AM | No comments

Tari Colorblock



Balet adalah salah satu gerakan yang diusung kelompok tari Introdans dalam penampilan mereka di Indonesia Senin (08/06) lalu. Sebab merupakan tarian fushion, mereka tidak menggunakan kostum khusus balet. Kostum hijau merah bertema colorblock ini menjadi satu dari rangkaian kostum yang membuat tarian mereka makin memukau.

Gambar diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 62: Hijau.

Mlekom,
AZ

Thursday, June 18, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Lima Malam di Surabaya

13-17 lalu di Surabaya untuk pekerjaan. Tiap malam dolan, daripada nggak sempat ngapa-ngapin! Aku nginap di hotel yang terletak di ujung berung-nya Surabaya. Hotel ini dipilih, agar dekat dengan jalur ke Sidorajo, tempat agenda kantorku. Nggak ada cara lain untuk menikmati kota, selain ngabur di malam hari.

Malam pertama
Dijemput Imam di hotel. Ngangkring di Angkringan Mak Joss di Jalan Bendul Merisi. Tempatnya asyik banget, mirip Raminten Kotabaru Yogya. Memang ini warung makanan Yogya. Ah, sate telor puyuh dan ususnya menggoda hati, tapi sayang sudah tiga bulan ini nggak konsumsi makanan berkolesterol tinggi. Jadi pesan bakmi goreng aja. Lumayan ngobati kangen Yogya, meski nggak seenak bakmi langganan di Concat.
Malam kedua
Masih ditemani Imam, dari hotel di Surabaya Selatan, kami bergerak ke Surabaya Utara untuk agenda Pasar Kampung Ampel (yang kudapat dari search event di Facebook). Kami datang kemalaman, makanan tinggal sedikit dan pertunjukan tinggal lagu arab di panggung.
Foto punya Imam.
Lumayan masih nemu pedagang kebab yang masaknya lama pisan tapi rasanya ajib. Juga sempat lihat poto-poto Ampel lama yang dipajang untuk pengunjung. Di sana ketemu Frenavit, teman Twitter jaman JALIN Merapi yang belum pernah ketemu offline. Fre datang bersama rombongan teman dari Kopdar Surabaya.
Foto dari tweet Fre.
Akhirnya kami nongkrong di nasi kebuli langganan mereka, tepat di sebrang gerbang Ampel. Enak, meski nggak sedahsyat nasi kebuli yang pernah kumakan di Solo (lupa nama dan tempatnya). Mereka ajak aku ikutan agenda Senin Bebek", agenda icip-icip keliling Surabaya. Mirip agenda 'Rabo Soto" milik anak-anak onliner Yogya. Untuk Senin, temanya bebek. Okesip! (yak kolesterol yak... itu bebek... itu kebuli kambing...)
Malam ketiga
Nggak sengaja siang tadi ketemu Awang, teman lama yang bergiat di pusaka Surabaya. Aku tanya tentang Peneleh, malah ditawarin nganterin. Alhamdulillah.
Soto Dhok.
Dari tempat acara di Sidoarjo (di mana kami sama-sama pameran di sana), mampir dulu makan soto asli Jombang, soto dhok (saat meramu ke dalam mangkok saji, ditambah kecap, botol kecapnya digebrak ke gerobak, bunyi dhok! Ngagetin, hahaha) dan magriban. Lalu kami berangkat ke Rumah Peneleh. Kebetulan Awang kenal dekat dengan penjaganya.
Andai bangunan cantik ini rumahku...
Di Peneleh hanya sejam, sebab nggak banyak yang bisa digali. Bapak 'juru kunci' rumah HOS Tjokroaminoto itu lagi keluar. Kami sempat melihat-lihat seluruh bagian rumah dan ngobrol dengan anaknya. Aku juga menolak ajakan Awang untuk menjelajah Kampung Peneleh ini, sebab sudah malam. Selain aku takut dengan makam yang bertebar di mana-mana (ya, bertebar. Ada makam yang berada di tengah jalan kampung), juga nggak enak ganggu warga yang sudah siap beristirahat.

Lalu ke Perpustakaan Kota di kompleks gedung Pemuda. Awang mau mengembalikan buku pinjamannya. Kami sempatkan mampir ke TIC yang terletak di samping perpus. TIC ini dikelola oleh Cak Ning Surabaya, Awang adalah mantan Cak. Di sana aku ambil banyak brosur wisata. Sayang di Rabu besok, hari terakhirku di Surabaya, bus jelajah kuliner Peneleh yang dikelola teman-teman Cak Ning ini sedang tidak ada jadwalnya.

Kami kemudian bergerak ke Kayoon, untuk agenda Senin Bebek. Eh, nggak nemu teman-teman. Belakangan aku tahu agendanya dipindah :) Akhirnya langsung ke hotel, sebab Awang akan berangkat ke Yogya. 

Malam keempat
Usai agenda kantor, aku dan teman niat mampir ke Museum Mpu Tantular. Kami jalan kaki dari GOR, tempat acara. Eh ternyata jauh (plang yang kami lihat tiap hari kalau mau ke GOR, ternyata menunjukkan arah belokan yang masih setengah jam lagi ke museum). 
Ki-ka: es selasih, baso.
Akhirnya sambil nunggu mobil jemputan, kami mampir ke warung Bakso Kuto Cak To yang unik banget. Setelahnya langsung ke hotel dan nggak keluar lagi. Cape banget. Lagian besok seharian bisa puas jalan.

Malam kelima
Kampung Ampel, Pasar Bunga Bratang, Museum WR Soepratman, Klenteng Hong Tiek Tian, Masjid Cheng Ho, Pura Agung Jagad Krana, Museum Loka Jala Crana, Gereja Kepanjen,  Monkasel, Masjid Peneleh. Ini adalah daftar yang kutulis untuk agenda hari ini. 

Pengen habiskan pagi di pasar bunga, sebelom dolan dengan temanku siang nanti. Tapi apa daya, malas tak terhingga. Habis subuhan tidur lagi, bangun jam 9, mandi, sarapan sampe resto hotel mau tutup. Sebelum sarapan telp operator minta kamar dibersihkan, selesai sarapan kamar sudah kinclong. Tidur lagi sambil nonton. Jam 11.00 packing. Setengah jam kemudian Cakpii sudah di lobi. Kami akan jelajah Kampung Ampel. Yay!
Gerbang masjid.
Tadi sempat telepon SHT, tapi jadwal hari ini penuh. Jadinya langsung ke Ampel, numpang solat dzuhur di sana. Ih, geli banget sama lantai tempat wudhunya yang berlendir, nempel di kaki (akhirnya gak cekeran, pakai sandal jepit di sana). Aku nggak ke makam Sunan Ampel, nggak hobi ke makam.
Tempat wudhunya. Duh!
Menarik melewati pedagang yang berjajar di tiap gang menuju masjid. Berasa di mana ya? Apakah di Arab? Entahlah, aku belom pernah ke Arab. Yang pasti, para pedagang memajang ragam kurma, pakaian muslim, ikram, kitab, minyak wangi, tasbih, kerudung, apapun. Aku sempat beli kerudung sebelum masuk masjid, sebab diharuskan menutup kepala.



Di ujung gang dekat parkiran, kami lihat satu warkop tua, lalu mampir. Agenda selanjutnya ke Gereja Kepanjen. Wuih, bangunannya megah banget! Kami cuma menikmati dari luar, sambil nongkrong lama menikmati ragam minuman di deretan warung depan gereja.




Selanjutnya, Masjid Cheng Ho! Meski ini merupakan bangunan baru, namun tetap menarik melihat-lihat keunikannya.


Cakpii hubungi temannya yang punya warkop. Kami mampir ke sana, sambil nunggu malam (aku berangkat ke Jakarta pukul 20.30). Warkop Troya namanya. Di sini baru dapat kopi yang bener :) 

Ternyata warkopnya dekat banget dari hotelku, tahu gitu tiap malam nongkrong di sini sama teman-teman kantor yang sakau butuh kopi. Oh ya, di halaman warkop ini ada soto Lamongan enak, kami makan malam di sana.

Warkop ini milik Cak Waw, salah satu seleb video animasi. Warungnya nggak sekadar tempat ngopi, tapi juga tempat ngumpulnya komunitas animasi. Kapan-kapan semoga bisa cerita lebih banyak.
Cakpii, aku, Cak Waw.
Sampai di sini kisah lima malam di Surabaya. Semoga ada malam-malam lain yang menyenangkan. Malam-malam ini nggak akan terlaksana tanpa dukungan semua pihak (belagak credit title film) yang dapat kusebutkan satu per satu:
  1. Imam Muttaqin untuk PP dua malam plus nyamperin lagi di hari terakhir plus ngasih cagak X-banner miliknya.
  2. Dito (Kopdar Surabaya) yang sudah datang ke Sidoarjo bawa charger kamera meskipun tetap nggak cucok.
  3. Awang Firmansyah yang sempatkan ajak dolan sebelum berangkat dan pinjamkan charger sekaligus kameranya.
  4. Cakpii yang sudah datang jauh-jauh dari Gresik, antar jelajah kota sejak siang panas hingga malam dingin.
  5. Cak Waw yang sudah mengenalkan lotion anti nyamuk dan untuk traktiran kopi di warungnya.
  6. Juga teman-teman baru di sana: Fre, Shellya, Aziz, dll yang aku gatau dan lupa namanya. 
Makasih, ya! Aku tunggu di Yogya!

Mlekom,
AZ


Posted by adrianizulivan Posted on 7:25:00 PM | No comments

Perjuangan di Kota Perjuangan


Jumat 12 Juni.

08.00 | Bangun kesiangan usai lembur semalam. Malas-malasan tarik koper 24' untuk isi beragam barang yang mau dibawa ke Yogya sore ini. Buku, baju, kurma (iya tiap pulang bawa ini, selalu ada di meja makan). 

09.00 | Tiba di kantor dengan ojek (biasanya pakai Tije, tapi malas seret-seret koper ke jembatan penyebrangan - halte). Kemarin sudah bilang ke supervaysor, mau masuk setengah hari saja sebab mau nengok adek sepupu operasi.

12.00 | Pekerjaan belum selesai juga. Operasi jam 14, yaudahlah gak usah nunggu operasi, yang penting datang. Sambil kerja, sambi pindahin barang-barang dari koper 24' ke koper 26' yang dipinjamkan bu supervaysor untuk membawa materi pameran dan tripod.

13.00 | Masih belum bisa pergi, mau ambil cetakan yang akan dibawa ke Sidoarjo.

14.00 | Ke percetakan di dekat Pasar Santa, lalu ke RSIA Cempaka Putih. Sampai di RS jam 15.00. Seluruh keluarga sedang nunggu di luar ruang operasi. Titip barang bawaan di Satpam, shalat, ke luar cari makan. 

16.00 | Lagi nunggu makanan, ditelp kalau operasinya sudah selesai, pasien dipindah ke ruang rawat.

16.30 | Si adek siuman, lalu ngobrol sebentar.

16.45 | Pamit ke bandara. Sudah check in online, tapi tetap deg-degan jelang berangkat pukul 19.35. Takut drop bagasi sudah tutup, padahal bawa koper segede itu.

18.00 | Tepat sejam sebelum take off. Untung tadi sudah makan.

21.00 | Clingak-clinguk cari taksi, disamperin tukang ojek. Akhirnya memilihnya, setelah si bapak memastikan kalau ia bisa membawa koper segede itu. Lalu ketemu nCen.

22.00 | Sampai rumah.  Mama Papa kaget. Sambil makan cerita kenapa cuma mampir, kenapa bentar banget di rumah, dst. Lalu tidur.


Sabtu, 13 Juni.

02.00 | Alarm bunyi, juga dibangunin Papa. Mandi. Langsung ke stasiun Tugu. Duh, salah lihat jadwal, kirain berangkat 03.30, ternyata sejam kemudian. Mama turun nunggu sampai berangkat, si Utha nunggu di mobil sambil tuntaskan kantuk.

04.30 | Berangkat. Coba tidur susah sekali, entah karena dingin entah karena apa. Yang pasti makin terganggu dengan (ahem) bau mulut pagi hari bapak-bapak yang duduk di sebelah :(

08.30 | Tiba di Surabaya, hubungi hotel untuk early check in. Kepengen mandi lagi sambil sedikit istirahat. Dijadwalkan rapat dengan orang dinas pukul 10.00. Ini yang bikin aku bela-belain naik kereta tengah malam, sebab pesawat termurah akan membuatku telat dua jam dari jadwal rapat.

09.30 | Turun ke resto hotel, sarapan. Langsung gabung dengan teman-teman yang sudah di Surabaya sejak kemarin.

10.00 | Tim Dinas yang ditunggu belum tiba. Ternyata mereka ambil pesawat pukul 09.00. Gondok banget aku!

11.00 | Tim Dinas hubungi kami, mereka baru sampai hotel dan ingin istirahat dahulu. "Sebab kami tadi berangkat dari rumah jam 02.00, jadi kami akan gabung setelah dzuhur." OKESIP! Kami putuskan untuk langsung ke TKP di Sidoarjo.

Oh ya, ceritanya kami datang untuk mendampingi tim Dinas tsb untuk membuka pameran di sebuah ajang nasional. Dinas ini terpilih menjadi finalis dalam sebuah kompetisi inovasi yang diselenggarakan Kementerian. Kami membantu dari urusan duit (bayar tiket, hotel, hingga bahan dan alat pameran), hingga urusan tenaga (jaga booth, dokumentasi, hingga... pemasangan materi pameran!). 

Kami beri dukungan ini, sebab Dinkes mendapat kesempatan meraih penghargaan tersebut atas inovasi yang dilakukan dengan menggunakan sebuah sistem yang kami bangun.

11.30 | Kami tiba di Sidoarjo, mampir ke kantor cabangn di kota ini untuk meminjam LED. Lalu ke lokasi acara. Seluruh booth (ada puluhan), sibuk didandani dengan beragam perangkat profesional. Booth Dinas kosong melompong, belom tahu mau diisi apa. Ya, untuk itulah kami datang hari ini. 13.00 Dinkes hubungi bahwa mereka sedang makan di hotel. HUFFF!

14.30 | Akhirnya yang dinanti-nanti tiba! BAYANGKAN JIKA AKU BISA TIDUR NYENYAK DI RUMAH YOGYA SAMPAI SESORE INI. HUFFF! "Kami serahkan saja kepada Mbak," kata orang Dinkes saat ditanya rencana menghias booth. YA KALAU GITU NGAPAIN MEREKA KE SINI, KALAU KAMI JUGA YANG MENGERJAKAN?

16.00 | Kami putuskan untuk mencetak sejumlah poster raksasa untuk menutupi ketiga sisi dinding. Lalu membuat sedikit gambar rencana penempatan barang-barang.

16.30 tiba di Snappy, percetakan di Surabaya. Snappy bilang bisa selesaikan cetakan besok pagi. Kami tawar jadi jam 00.00 dini hari, mereka tawar pukul 01.00 dan cetakan diantar ke hotel.

17.30 | Macet, orang pada ke arah Tunjungan untuk malming. Kami sempat mampir ke Gramedia beli ATK. Sejam baru sampai hotel yang terletak di pinggiran Surabaya ini. Memang diambil yang dekat ke arah Sidoarjo. Beli siomay nggak enak di seberang hotel. Tiduran sambil nonton TV.

19.00 | Temanku orang Surabaya datang, tadinya sempat mau batalin janjian karena capek. Akhirnya nongkrong, makan lagi.

23.00 | Sampe hotel lagi. Nggak bisa tidur sebab harus ke Sidoarjo jam 01.00

01.30 | Ditelp, suruh siap-siap. Di jalan rebahan, berusaha tidur.

02.00 | Tiba di Sidoarjo, langsung beberes booth. Yang laki-laki pakai manjat-manjat pasang poster, yang perempuan urusan lihat tu poster miring atau nggak. Selain tim kami, Tim Dinas juga kerahkan dua anak mudanya--yang keduanya cewe, sehingga cuma masang foto-foto kegiatan mereka. Oh ya, foto-foto ini dan sebuah poster ukuran spanduk adalah dua-duanya materi pameran yang mereka bawa. HUFFF.

03.00 | Kembali ke hotel. Aku nggak bisa tidur sampai adzan. TEman-teman akan kembali ke Sidoarjo pukul 06.00.

05.00 | Aku watsap teman, bilang nggak sanggup mo berangkat dan mau tidur sampai jam 09.00. Daripada sekarang tepar dan tiga hari ke depan nggak sanggup ngapa-ngapain.

09.00 | Sudah duduk cantik di restoran. Ketemu dua teman yang semalam pasang poster. Mereka jam 11 mau ke bandara, jadi nggak ikut ke Sidoarjo.

10.00 | Tiba di TKP. Semua sudah beres. Aku ambil bangku, nyalain laptop di meja. Tengah hari nggak kuat, langsung rebahan di lantai (yang berkarpet itu), masuk ke bawah kolong meja (yang ada taplak panjangnya itu), tidur.

13.00 | Bangun, makan makanan yang sudah dibelikan Tim Dinas. Shalat.

17.00 | Sampai di hotel.

19.30 | Dolan bareng teman Surabaya sampai jam 22.00

22.30 | Akhirnya bisa tidur dengan benar.

Gambar diambil temanku saat tidur ronde kedua di booth, kali ini nggak masuk ke bawah meja :p Ini akan menjadi kenang-kenangan tak kan terlupa tentang cerita tidur di Surabaya si Kota Perjuangan. Ah, memang ke Surabaya kali ini penuh perjuangan... *lebay* 

Mlekom,
AZ


Wednesday, June 10, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:13:00 PM | No comments

Kanker Castro


Pemuda kelahiran 7 November 1989 ini menderita kanker di bagian mata kirinya. Castro Suharno, namanya, tinggal di Dusun Wino RT 01/RW 07, Sumub Lor, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Ia merupakan putra dari bapak Sopari (52) dan ibu Rutini (49). Ayahnya bekerja sebagai buruh batu bata, sedangkan sang ibu adalah buruh tani.

Saat ini keluarga ingin mengobati kanker Castro, namun mempunyai kendala biaya. Tidak diketahui apakah keluarga ini sudah terdaftar di BPJS atau belum. 
Adalah Putri, tetangga keluarga Castro, yang memberikan informasi ini kepada saya. Jika ingin membantu, silahkan menghubungi Mbak Putri di nomor 082136030836 dan WA 085729431147.

Update per 12 Juni 2015, dapat masukan informasi:
Jika ada yang ingin menyumbang, ada baiknya sebagian dana tersebut digunakan untuk mendaftar BPJS Mandiri (jika Castro belum terdaftar). Bayar iuran selama setahun: 12 bulan x Rp 25.500* per bulan = Rp 306.000. Dengan jumlah ini, Castro dapat berobat selama setahun.

Meski sudah didaftarkan ke BPJS Mandiri, baiknya tetap didaftarkan ke BPJS reguler. Jika menunggu pendaftaran reguler, maka akan memakan waktu lama, sehingga sulit untuk membawa Castro berobat sesegera mungkin akibat panjangnya alur administrasi pendaftaran. Tentu saja, harga pelayanan kesehatan dengan BPJS lebih murah dibanding membayar langsung tanpa asuransi.

*Rp 25.500 adalah iuran minimal. Tak ada perbedaan layanan medis, hanya perbedaan ruang rawat inap.

Semoga kanker Castro segera tertangani...

Mlekom,
AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata