Sunday, August 2, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 9:04:00 AM | No comments

Panen Buku Hari Ini


Panen apa hari ini? Buku!


Ya, @pasukanbulubulu dapat sumbangan berupa buku, dari bibi dosen @urdclabo. Beliau yang hobi membaca itu, hibahkan sekardus buku beragam tema dari koleksi pribadinya.



Buku-buku donasi ini akan dijual di Tokopedia, untuk menambah produk yang di toko bernama BEBONGKARAN itu. Yang sudah terpajang saat ini adalah sebagian hasil membongkar rak buku #MamakPapakKuceng di rumah.


Seluruh hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi biaya klinik hewan. Ada belasan nota hutang yang belum terbayar lunas, dari pengobatan kucing jalanan di tiga klinik rekanan @pasukanbulubulu.

Buku-buku yang dijual sangat beragam, dengan harga terjangkau: mulai dari Rp 2.000 saja! Bersyukur sekali ketika dik Aning @panenapahariini menjadi donatur pertama untuk buku-buku sumbangan bibi dosen ini 💚



#KucingKoko ucapkan trims untuk kebaikan semua teman, yang terus bersedia membantu hewan jalanan di masa sulit ini!


Oh ya, sila berkenalan dengan bibi @urdclabo untuk belajar tentang arsitektur, dan paman @panenapahariini untuk berlangganan hasil panen dari petani di Kulonprogo Jogja.


Trims, orang baik 💚

#PasukanBulubulu



Tuesday, May 12, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 12:54:00 PM | No comments

Cicip Makanan Ini, Bantu Hewan Terlantar🐾


Dua pekan terakhir, kami berkolaborasi dengan @dapurhaidanur untuk siapkan rangkaian menu ini: oseng cumi pete, rendang jengkol, sambal teri kacang, ikan asin sambal ijo, pampis tuna, sate kerang medan, dan sambal goreng hati kentang.




Ide utamanya adalah, membantu kawanan hewan domestik (terutama kucing dan anjing) jalanan agar bisa terus makan dan berobat di masa sulit ini. Selain manusia, hewan jalanan juga alami dampak serius di masa pandemi COVID-19.



Warung makan banyak yang tutup, padahal ini adalah salah satu harapan bagi hewan jalanan untuk mengais makanan. Pasar pun tidak terlalu berdenyut, sehingga kesempatan kucing dan anjing mendapat makanan sisa perdagangan menjadi sangat kecil.


Jika biasanya ada banyak orang yang rutin memberi makan pada kucing dan anjing jalanan, kini jumlahnya sangat berkurang. Selain akibat harus #dirumahsaja, banyak orang2 baik itu yang kini tak mampu membeli pakan hewan ketika bahkan mereka pun kesulitan membeli beras untuk keluarganya.




Selama pandemi korona, banyak kucing jalanan yang pada situasi normal alami kesulitan untuk bertahan hidup di jalanan, saat ini semakin sulit. Laporan sahabat @pasukanbulubulu di sekitar Jabodetabek, dalam sebulan terakhir banyak sekali hewan jalanan yang alami berbagai masalah kesehatan. Malnutrisi adalah yang paling banyak.



Kami ingin bantu sediakan pakan dan dana untuk berobat bagi pasukan bulu jalanan ini. Memberi pakan bagi teman-teman yang memelihara banyak hewan terlantar dan yang rutin memberi makan pasukan jalanan, adalah salah satu target. Juga membawa berobat kucing dan anjing yang sakit. Termasuk terus lanjutkan program kebiri kucing jalanan yang selama ini rutin dilakukan @pasukanbulubulu.




Bantu kami, dengan mencicipi makanan-makanan ini. Harga berkisar Rp 30.000 - 45.000, pemesanan melalui WhatsApp di nomor 081288051914. Pengiriman hanya untuk wilayah Yogyakarta, dengan ojek daring (online). Makanan dibuat ketika ada pesanan, jadi minimal pemesanan pada H-1.



Tetap sehat dan makan enak dari rumah, sekaligus menderma untuk hewan jalanan. Cek Instagram @dapurhaidanur dan @pasukanbulubulu, untuk informasi lengkap.






Trims,

AZ



Saturday, April 25, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 9:33:00 AM | No comments

Matur nuwun sampun ngelarisi...

 


Pesan itu saya terima dari MbokMin, setelah berbelanja di @pasardesa_id. Wah saya bahagia banget, bisa nemu inisiatif super keren yang digagas perangkat Desa Panggungharjo, Bantul, DIY ini.


Dengan dukungan para ahli di bidang IT dan pemasaran--termasuk sahabat saya Mas @56hudin sang ahli strategi & Kang @edysrid si jagoan branding--gagasan ini menjadi inisiatif lokal yang begitu membanggakan.


Gimana ga bangga, ketika kamu bisa makan enak selagi masa #DiRumahAja? Gak harus ke pasar, belanjaan diantar. Artinya, kamu jadi pahlawan yang turut bantu dunia untuk lawan penyebaran #Covid19.


Kamu juga bakal bangga banget, bisa terlibat dalam upaya membangkitkan ekonomi warga Padukuhan Panggungharjo, yang cukup berdampak di tengah pandemi virus saat ini.


Kebanggaan lain, ketika kamu mampu menjadi bagian dari meningkatnya pengetahuan kaum muda, akan penggunaan TIK di desa.


Tentunya, bangga sebagai pengguna plodukploduk endonesya! 🇮🇩



Sayuran di sini segar bugar, saya lupa beli buah. Tahu dan tempe enak, ga kecut dan kedelai murni. Sayangnya kerang pesanan kosong, jadi ga bisa komentar soal produk hewani. Untuk kurma, mohon maaf tidak segar.


Di samping kualitas produk, adalah soal layanan. Ada hal teknis yang saya catat dari pengalaman sebagai pelanggan, sejak mengakses situs hingga pengiriman belanjaan. Terutama soal alur komunikasi (misal soal penggunaan plastik yang saya minta diminimalisir pada pesanan saya, eh tiap produk dibungkus dengan plastik berbeda hehehe). Namun mengingat ini masih anyar dan merupakan pengalaman baru bagi para pegiatnya, catatan2 tsb menjadi bisa dimaklumi.


Yang pasti, saya bangga dan akan memesan lagi. Mumpung masih gratis ongkir loh! Oh ya, pasardesa.id hanya melayani pengiriman di dalam wilayah Padukuhan Panggungharjo dulu ya. Semoga desa2 lain lakukan inisiatif sama, sehingga lebih banyak warga dan #KaumRebahan yang rasakan manfaat serupa 🙏



~ catatan malam minggu seorang #buwistri... yang bahagia bisa masak enak tanpa ke pasar, yang terpaksa nampang di slide akhir demi permintaan pasar 😉

.

#pasardesaid



Monday, March 2, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 9:40:00 AM | No comments

Ada pembunuh di antara kita...😷

 


Ada pembunuh di antara kita...

Pembunuh kuman...


Usaha sih usaha, tapi ya udahlah ga usah keras2 amat usahanya. Kalo udah saatnya, mati sih kapan dan karena apa saja bisa! Dalam hidup ini, kita bukan cuma siaga virus, siaga itu buat segala hal. #SokBijakTapiYaBijakSok


Cairan pembersih tangan itu bukan hal(a)u virus, tapi kuman. Masker itu bukan halau virus, tapi kuman. Kaya jodoh, virus satu ini belum bisa dihalau. Setidaknya hari ini, korona duh korona...


Semoga kita selalu berjodoh. Amin! 

~ ttd, pasukan halu yang (pernah) beranjak ke (peng)hulu

Wednesday, February 26, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 9:58:00 AM | No comments

Bottle to go

 

Cerita botol...


Dulu rajin banget ngisi botol-botol dengan pakan kering pabrikan. Taro di meja dekat pintu keluar, taro di kendaraan, dan tas orang-orang rumah. Jadi siapapun yang bepergian, akan punya sesuatu untuk kucing yang ditemui di jalan.


Karena ini, #MamakKuceng jadi pengumpul botol bekas. Tapi cuma mau bekas sendiri, atau bekas keluarga. Kalau mungut di jalanan ogah, karna takut tertular penyakit hehehe 🙊


Favorit yang bahannya kuat (biasanya bukan kemasan air mineral), dan tutupnya lebar agar mudah masukin pakan. Kalo di rumah ada botol plastik bekas yang sesuai, pasti saya cuci dan jadikan wadah begini. Pilihnya hanya plastik, kalo bahan kaca berat ditenteng dan resiko pecah.


Nah sore tadi lagi kesambet aura rajin. Jadilah itu botol2 diisi penuh, taro di rak dekat pintu keluar. Biar besok, siapapun yang keluar rumah punya oleh2 buat #PasukanBulubulu jalanan.


Saya juga suka kasih botol berisi pakan ke orang-orang yang ditemu di jalan. Ada mas ojek yang suka kasih makan siangnya ke kucing. Ada anak sekolah. Ada teman kantor. Ada pedagang kios pinggir jalan yang pelihara kucing. Ada-ada ajalah pokoknya.


Itu pakan merk apa? Ada Bolt, Origin, Cat Choize, Me-O dan Le Chef. Tapi taro di botolnya, gak dicampur loh ya... Satu merk ya satu botol, kecuali ada sisa 😁


Jika bukan untuk donasi (misal ada kiriman melalui Pasbul untuk bantu orang lain), saya gak pernah beli pakan pabrikan sampe berkarung-karung. Biasanya beli 5 kg, dengan merk berbeda tiap kilogramnya.


Banyak kucing jalanan tidak akrab dengan pakan kering pabrikan (DF), jadi selalu beli merk berbeda. Yang pasti, bawanya dua macam: satu yang ukuran potongan (kibble) besar, satunya kecil agar anak kucing bisa ikut makan.


Kalau lagi malas, kemasan beli langsung masukin dalam tas. Udah, gitu aja 😅


Apa wadah favorit kalian saat gerilya #KasihMakanKucingLiarJalanan?




Monday, February 24, 2020

Posted by adrianizulivan Posted on 10:02:00 AM | No comments

Piknik Tipistipis


 

Ini kumpulan para penyelamat hewan terlantar di Jakarta. Kami undang ke rumah, untuk piknik tipistipis di halaman komplek. Selain temu muka sebab banyak yang belum pernah bersua, yang selama ini hanya ngobrol via WhatsApp Group.









Saya masak untuk potluck. Cuma bihun goreng dan ikan asin + terong disambal cabe ijo. Juga bikin es buah, meski isinya cuma buah naga, kiwi dan nata de coco. Kecuali buah dan bihun singkong (mie lethek yang beli di sini), semua beli di pasar belakang komplek.




Banyak kudapan sore ini. Kawan ada yang bawa kopi saset beserta termos air panasnya (hahaha, piknik betulll ya!), ada yang traktir kopi dari mesin kopi di depan komplek, ada yang bawa nasi kuning bikinan sendiri lengkap dengan lauk paku, dan saya geret cemilan toples dari rumah.




Trims sudah mampir 🤗


(Eh eh, wadah & sendok plastik sekali pakai itu, bukan bawaan saya loh!)

.

#AZngedapur

Monday, June 10, 2019

Posted by adrianizulivan Posted on 11:47:00 AM | No comments

Ayah Meninggal, Putus Sekolah, Jual Siomay Keliling

 


Erwin, asal Probolinggo, baru dua hari ini dagang di Yogyakarta. Ayahnya meninggal sebelum Ramadan lalu, tinggalkan ibu dan dua adiknya. Erwin terpaksa putus Sekolah Menengah Pertama (SMP), merantau dan menjadi pedagang keliling.


Ketika berdagang keliling, Erwin ditemani anak juragan siomay yang sedang libur sekolah ini. Erwin menumpang di rumah juragannya.


Sedih sekali melihat ini. Apa yang bisa saya lakukan? 

Mohon saran 🙏😥



Sunday, November 11, 2018

Posted by adrianizulivan Posted on 10:25:00 PM | No comments

#SebelasSebelas


Sedikit gambaran keseruan di hari ini, setahun lalu, yang kami namakan 11.11 atau #SebelasSebelas. Sebuah momen dimana haru dan bahagia menjadi satu, dalam sebuah hari bernama pernikahan.

Jutaan terima kasih kami ucapkan kepada teman dan kerabat yang telah hadir, baik bertemu langsung maupun dalam bentuk doa dan bingkisan. Kami sangat menghargai dukungan teramat besar yang telah diberikan, yang membuat hari bahagia ini menjadi nyata.

Kami yakin, ucapan "terima kasih" tak pernah cukup untuk membalas perhatian semua pihak. Namun sekali lagi, ingin kami sampaikan: TERIMA KASIH!

sebelassebelas.org

This is a snapshot of our special day, this day a year ago, the 11.11 or #SebelasSebelas. When the touched and happiness are melted into one, in an event called marriage.

A million thanks to those who have come, both physically or in prayer and gifts. We really appreciate your very kind attentions to our happy day.

Sure we believe that "thank you" is never enough, but we'd love to say it again: THANK YOU!

Salam,
AZ & EW

💙
Terima kasih tak terhingga untuk duo Kotagede, Natsir & Nasir, orangtua baru kami yang menjadi saksi pengikat janji: Pak M Natsir dan Pak Nasir Tamara. Juga kepada keluarga Natan yang telah membuat mimpi lama saya menjadi nyata: mengukir kisah di nDalem Natan.

ndalemnatan.com

💙
This beautiful piece is a gift from Pigeoo Photography for the #SebelasSebelas. Thank you so much, guys!

pigeoophoto.com

Backsound: Your Love Is Mine (instrumental track)


Mlekom,
AZ

Thursday, July 5, 2018

Posted by adrianizulivan Posted on 9:08:00 PM | No comments

BUKA DONASI | Pengobatan Kucing Enjo


Halo, saya Adriani, mungkin kalian belum kenal. Saya dari Yogya dan saat ini tinggal di Jakarta.

Di rumah keluarga di Yogya, kami memelihara kucing liar. Ada sekitar delapan kucing yang sering datang ke rumah kami, sekadar makan atau bermain. Mungkin tepatnya tidak memelihara, namun merawat. Sebab hanya dua diantaranya yang benar-benar menjadi bagian dari "anggota" keluarga kami.

Itu di rumah saya. Di rumah suami saya pun begitu, merawat sekitar lima kucing (mohon maaf saya gak tahu pasti jumlahnya), yang nyaris semuanya diberikan tempat sebagai bagian dari keluarga.

Hal yang menyedihkan dari tempat tinggal saya di Jakarta--yang saya sebut sebagai "rumah petakan", adalah aturan untuk tidak membawa hewan peliharaan. Maka saya hanya bisa membawa pakan kering di dalam botol, untuk saya bagikan ke kucing yang saya temui di jalan. Saya juga rutin melakukan street feeding dengan meyiapkan makanan basah untuk dibagikan ke kucing di sekitar tempat tinggal saya.

Nah, pagi tadi saya sarapan di Pasar Enjo di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Setelah makan, saya lihat seekor kucing tiduran. Saya coba panggil diam aja, coba elus juga ga ada gerakan berarti. Saya angkat, sangat lemah. Saya pastikan ada yang salah di bagian pinggang ke bawah, sebab dia kesulitan menggerakkan setengah bagian tubuh tersebut.

Saya tanya ke bapak pemilik toko, tempat dimana si kucing tergeletak di bagian depannya, tepat di pinggir jalan. Beliau bilang: ga tau, mbak! Ketika saya tanyakan apakah kucing ini sakit.

Saya pinggirkan kucing ke bawah meja salah satu display barang dagangan toko tsb, agar tidak terinjak orang. Sebab orang lalu-lalang keluar masuk toko, dengan melangkahi tubuh kecilnya. 

Saya cari pedagang plastik, mau beli keranjang untuk mengangkut si kucing. Sebelumnya sudah minta izin suami untuk membawa kucing ke dokter. Saat itu yang ada di pikiran saya drh Nyoman di Duren Sawit, sekitar 9 kilometer dari lokasi. Saya memilih dr Nyoman sebab mengetahui sepak terjang beliau dalam merawat hewan, terutama hewan terlantar.

Sila cek akun Doknyom, begitu beliau biasa disebut, di sini.



Akhirnya dengan bantuan orang-orang pasar yang melihat saya menggendong kucing malang ini, saya berhasil membawanya bertemu Doknyom. Dokter bilang, ini baru saja kelindes (ditabrak) dan si kucing masih syok (ini yang menyebabkan nafasnya kencang).

Doknyom menyarankan saya untuk merawat sendiri kucing ini di rumah. Sebab dia masih mampu mengangkat pinggulnya, dokter yakin bahwa dia ga perlu dioperasi, cukup dikasih obat selama seminggu.



Yang menjadi persoalan adalah, saya benar-benar ga bisa merawatnya di rumah petakan, sebab memang tidak diperbolehkan. Maka saya minta opsi rawat inap. Klinik membolehkan, dengan dikenakan bea inap dan maksimal hanya sepekan. Setelah itu bagaimana? Mau tak mau, saya harus carikan rumah sementara untuk tempat tinggal kucing ini, sampai dia sembuh dan bisa dibebas-liarkan kembali. Menyedihkan, ya!

Jika ada teman yang berminat memberi tumpangan hingga sembuh, apalagi bisa mengadopsi selamanya, saya akan sangat berterima kasih.

Selain soal rawat-merawat, saya juga membutuhkan bantuan terkait biaya medis. Tadi saya putuskan agar si kucing diberi tindakan medis sesuai kebutuhan hingga benar-benar pulih. Apalagi menurut Doknyom, jika dia tidak dioperasi, ada kemungkinan dia mengalami susah buang air sehingga akan menyebabkan kematian. Salah satu pasien yang sedang dirawat di sana sedang mengalami kasus ini.



Saya minta dibuatkan rincian biaya. Ini detailnya untuk rawat inap selama sepekan:
  • x-ray (foto tulang) Rp 150.000 --> klinik bersedia memberi subsidi dengan  besaran yang belum tahu berapa
  • konsultasi Rp 90.000
  • injeksi antibiotik, dexa (antiradang lokal) dan furosemide, plus infus SC Rp 65.000
  • Obat racikan Rp 3.000 per butir = Rp 42.000
  • Suplemen Rp ... (belum ditentukan)
  • Biaya inap Rp 50.000 x 7 hari = Rp 350.000 (sudah termasuk makan)
  • Akupuntur Rp .... (belum dihitung)
Jadi kurang-lebih sekitar Rp 700.000. Tadi saya sudah titipkan setengahnya sebagai deposit. Jika harus menjalani operasi, biaya diperkirakan antara Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000 di klinik lain yang dirujuk Doknyom. Namun jika Doknyom dapat melakukan sendiri operasinya, beliau bilang biayanya akan lebih murah.

Untuk itu, dengan berat hati saya membuka donasi untuk membantu biaya perawatan kucing tersebut. Kucing berwarna putih dan abu-abu ini saya bei nama Enjo, sebab ditemukan di Pasar Enjo.

Untuk donasi bea pengobatan, bisa melalui rekening saya:
BCA Yogyakarta 0373066394 Adriani Dwi Kartika. Mohon kirimkan bukti transfer, untuk saya rekap sebagai laporan publik.

Sejak saya publikasikan pagi tadi, hingga saat ini sudah ada sejumlah donasi yang masuk ke rekening saya. Saya berkomitmen untuk melakukan transparansi terkait dana publik tersebut. Ini yang menjadi alasan mengapa saya menulis di sini, untuk dapat mempublikasikan tiap bukti donasi yang masuk. Berikut bukti transfer yang telah masuk:

Donatur 1: NN 1 dan NN 2

Donatur 2: Hamba Allah

Selain di tulisan ini, untuk perkembangan cepat bisa melongok akun Instagram saya @adrianizulivan, atau tagar #KucingEnjo.

Trims buat perhatian besar teman-teman semua. Selain bantuan dalam bentuk uang, ada juga yang bantu menghubungkan dengan kelompok pecinta hewan dan membantu meneruskan informasi ini. Apapun bentuknya, selruh bantuan itu sangat berarti untuk kesembuhan Kucing Enjo.

Trims, hanya Allah yang mampu membalas.

Mlekom,
AZ

Wednesday, May 2, 2018

Posted by adrianizulivan Posted on 11:42:00 PM | No comments

Weekend Husband


Semalam aku ajak Pawami ke perpisahan seorang teman, yang akan kembali ke negaranya. Banyak orang baru kami jumpa di sana, termasuk mas-mas bule yang gabung di meja kami.


Dalam rangka basa-basi, tentu saja ngobrolin hal-hal estede. Dari soal kerjaan, lalu ngalor ke isu yang kami masing-masing geluti (dia bekerja pada salah satu lembaga pemerintah Inggris), pengalaman antar negara dalam menyikapi isu tersebut, dst. Hingga hal personal, lalu ngidul ke pertanyaan: 

Kenapa kalian tidak tinggal bareng?
Kaget? Enggak! Bukan kali pertama menerima pertanyaan serupa. Bukan hanya dari orang yang baru mengenal kami, namun juga keluarga. Nah jadi kepikiran untuk menulis "default answer", jadi kalau ada yang nanya tinggal kasih tautan tulisan ini. Mayan, nambah-nambah pengunjung blog. Ye kan? 👀

Pertanyaan-pertanyaan berikut bukan dari si mas-mas bule. Paham kan kalo orang bule sangat menghargai privasi? Obrolan dengannya malah bikin ngakak terus! Kata-kata di bawah ini aku kumpulkan dari beragam tanya yang kami dapat dari kenalan, sejawat pekerjaan, hingga keluarga. 


Oya, kata "pertanyaan" bisa kalian baca sebagai:
  • keisengan sebab mau-tau-aje urusan orang,
  • kenyinyiran sebab punya banyak waktu untuk mengurus bukan kehidupannya, ataupun
  • rasa cinta sebab begitu besar perhatiannya terhadap kehidupan orang lain.
Nah, mulai dengan pertanyaan paling mudah dijawab ya, masih terkait pertanyaan si mas-mas bule:
Apakah kalian berencana untuk tinggal bersama di satu kota? 
Ya, tentu saja kami merencanakan itu namun tidak sekarang.
Lalu kapan?
Setelah aku merasa "cukup". Ini bukan soal materi ya. Suwer!

Aku pernah bekerja di sebuah tempat (ga perlu disebut), yang gajinya tidak sampai setengah dari penghasilanku di tempat kerja sebelumnya (juga sebaiknya tidak disebut). Meski uangnya dikit, aku bisa meraup begitu banyak pendapatan dalam wujud ilmu, kesempatan, hingga ketenangan batin (berupa kebanggan, pencapaian, persahabatan dan masih banyak lagi yang sulit diterakan karena lebih mudah dirasakan. Ya!).


Itu sebab mengapa aku selalu benciiiii ketika ada bocah baru lulus sekolah langsung nanya "gajinya berapa?" ketika ditawari pekerjaan, bukannya pamer keahlian terlebih dahulu. Juga benci dengan bagian kepegawaian yang nanya "minta gaji berapa" di awal proses perekrutan pekerja, sebelum nge-tes kemampuan. Huf!


Lagi pula sekarang, dengan status sebagai perempuan menikah, aku berhak atas sesuatu yang membahagiakan bernama: jatah istri (yippie yay yay!). Dengan kebahagiaan baru ini (huahahaha), Insya Allah segala kebutuhanku sudah dipenuhi dengan sangat baik oleh Pawami, lahir dan... (ehm) batin. Jadi ketika ada yang bilang:

Yogya itu kota yang sangat menyenangkan. Ketika seluruh keluarga dan kehidupan sosial/komunitasmu di sana, maka cuma ada satu alasan yang membuatmu memilih hidup di kota se-semrawut Jakarta: Uang.
Ya sila menilai sendiri, dengan terjemahan sebebas-bebasnya. "Cukup" yang kusebut di atas lebih pada suatu capaian. Capaian tentu memiliki nilai/besaran. Nilai tersebut, sayangnya, seringkali hanya mudah dipahami oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku.

Jika beberapa tahun lalu aku sangat ingin lanjut kuliah di negara-negara barat, belakangan prioritasku bergeser. Kuliah bukan lagi cita-cita pertama, meski masih menjadi keinginan besar. Secara berurutan, ini capaian yang kini sangat ingin kujadikan nyata:

  1. Bergabung dengan badan milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam isu apapun, namun aku sangat ingin belajar tentang lingkungan.
  2. Menjadi bagian dari sebuah media besar berbasis internet, Google dan Facebook adalah dua daftar teratas impianku. Masih sangat ingin belajar lebih banyak tentang dunia media.
  3. Lanjut sekolah magister di bidang Manajemen Pemasaran (Universitas Indonesia) atau Studi Pembangunan (Institut Teknologi Bandung), sambil tetap bekerja. Kenapa ga di Eropa? Karna umur udah kelewatan buat cari beasiswa buk, mana tabungan cuma cukup untuk sekolah di "deket-deket sini ajah". Yang paling mungkin ya di UI, sebab aku bekerja di Jakarta. Tapi paling pengen di ITB, karna bisa mencicipi pengalaman tinggal di kota berbeda.
  4. Punya anak. Cita-cita ini ada di antara ketiga poin di atas, ga tau mana yang terwujud lebih dahulu, Insya Allah.
Pasti sulit ya memahami pilihan ini, bagi mereka yang memilih hidup di jalur "orang kebanyakan". Dibilang macem-macem sih sering:
Islam mengajarkan istri untuk ikut suami. 
Tantangannya adalah: hal-hal yang menjadi cita-citaku tidak ada di Yogya, kota tempat suamiku tinggal.
Tidak baik mementingkan karir dibanding keluarga. 
Aku ketawa aja lah. Karir itu mahluk apa sih?
Ya suamimu aja yang disuruh kerja di Jakarta, jadi bisa tinggal sama-sama. 
Suamiku juga punya cita-cita loh yaaa. Cita-citanya ada di Yogya, bukan Jakarta.

👐👐👐

Dan percayalah, persoalan yang dihadapi keluarga kami yang masih terdiri atas dua nyawa ini, tidak sesimpel pikiran orang lain. Orang bisa berpikir begitu mudah, tentang cara yang harus ditempuh agar kami dapat hidup bersama: salah satu mengalah, lalu mengikuti yang lain. 

Itu ga mudah sih buat kami. Selain pertimbangan terkait kami berdua, ada pula pertimbangan lain yang berhubungan dengan keluarga (orangtua, adik kakak) kami masing-masing. Ini pertimbangan yang ga perlu kalian ketahui, sebab akan makin sulit untuk dipahami oleh kalian (iya, kamu kamu itu!).

Setidaknya, selama kami belum punya tanggungan (anak, orangtua yang butuh perhatian khusus, atau situasi lain), kami merasa nyaman menjalani kehidupan yang merupakan hasil dari keputusan kami bersama ini. Buat kalian yang hobi bertanya hingga memberi usulan, aku jadi pengen ikutan nanya: Lah suamiku aja menghargai keputusan bersama kami tersebut, kok situ mo ikut-ikutan mutusin... EMANG SITU SIAPA? 💬

Dalam sebuah sesi wawancara dengan bagian personalia beberapa waktu lalu, aku diminta menggambarkan secara lisan, bagaimana aku melihat diriku di lima tahun ke depan. Dengan lantang (bah!), aku bilang:

Seorang perempuan yang menyandang gelar ibu dan master.
Kembali ke obrolan semalam. Ada satu pertanyaan lain, yang ditanyakan dengan nakal:
How do you manage it, being a weekend husband?
Dengan bercanda, si mas-mas bule berbisik ke arahku: Kamu punya kesempatan untuk mendapat weekdays husband! Dan kami bertiga tergelak!

Boljug usulnya ya! 👌

Halo Pawami, 
Trims ya sudah menjadi bagian hidupku. Trims telah menerimaku apa adanya, meski ga ada apanya (helah). Trims sudah mendukungku menjadi apa yang kumau. Trims sudah bersedia menjadi weekend husband yang selalu pulang membawa cinta. Trims!

Setelah akhir pekan panjang di Jakarta, semalam. Saat akan pamit kembali ke Yogya. Kami berpelukan lama, seperti biasa. (Dipeluk lama adalah hal yang paling kusuka, ketika bersama orang-orang tersayangku--ini informasi sangat penting 👅)
Besok berapa umurmu? 
Yah, dia curi start! Hahahaha, ya begini ini kehidupan seru para pasangan pulang jumat kembali ahad (PJKA) alias weekend husband and wife. Yang memilih untuk memberi ucapan selamat ulang tahun lebih cepat, asalkan yang diberi ucapan ada di depan dadanya.

Eh mas, semalam itu ucapan ultah kan ya? Tumben!


[Gambar: Sebuah akhir pekan ketika Pawami sedang menjalani tugas mulia sebagai weekend husband.]


Mlekom,

AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata