Wednesday, August 25, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 11:55:00 PM | No comments

Call ST Roll

Cindil sakit, uuum… dia tidak suka disebut dengan kata itu. OK, mari menyebutnya “kurang sehat”!

Ya, Cindil saat ini sedang kurang sehat (lho, malah aneh!). Hasil pemeriksaan lab terakhir menunjukkan kadar kolesterolnya yang tinggi, juga kadar asam urat yang sangat tinggi. Kedua kadar tersebut sudahmelewati batas aman.

Nah, apa yang bisa dimakan oleh orang-orang dengan dua penyakit ini?

Kolesterol tidak boleh makan:

  • gorengan
  • lemak
  • daging
  • cumi, kepiting
  • santan
Asam urat harus menghindari makanan berpurin tinggi, seperti:
  • kacang2an
  • brokoli
  • daun singkong
Bagaimana cara Cindil makan, yah?
Jika makanan beli, kita siasati dengan bebakaran dan pepes. Dia boleh makan ayam bakar, asal tidak makan kulit ayam yang mengandung banyak lemak.

Sayur? Harus yang sop-sopan, tanpa daging.

Nah, siapa yang bisa menjamin bahwa itu semua bebas minyak, misalnya?

Ya, tidak ada. Dan tak bisa dijamin. Hampir seluruh masakan menggunakan minyak goreng. Bahkan bakar, bacem dan tumis.

Nah, saat googling, kutemukan sejumlah artikel yang sangat melegakan. Yang intinya bahwa orang-orang berkolesterol tinggi boleh makan minyak. Ya, pasti kalian menyebut minyak goreng dari jagung dan kedelai. Tunggu dulu, bacalah artikel ini dan ini.

Intinya, bahkan minyak sawit yang jamak digunakan dalam keseharian masyarakat kita tidak mengandung kolesterol. Namun, minyak goreng akan mengikat kolesterol jika digunakan berulang kali.

Nah, solusi terbaik adalah dengan masak sendiri, karena dengan begitu, kita bisa memilih minyak goreng dengan kadar kolesterol jahat (LDL) yang rendah dan menggunakannya hanya untuk satu kali penggorengan.

Susah, yes?
Iyes, memang. Tapi itu jauh lebih baik, dibanding harus mengalami ini, lagi:

Cindil waktu terbaring lemas di RS Panti Rapih...

Kudu sabar ya, Ndil…

Mlekom,
AZ

Friday, July 30, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:35:00 PM | 1 comment

Why Never to Ask Favours From the Designers

Story goes:
Shannon (the secretary)  has lost her cat and has asked David (the graphic designer) to help with  a lost poster. This is their email correspondence...
Read from top to  bottom….


From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June 2010  9.15am
To: David Thorne
Subject: Poster

Hi
I opened the screen door  yesterday and my cat got out and has been missing since then so I was  wondering if you are not to busy you could make a poster for me. It has  to be A4 and I will photocopy it and put it around my suburb this  afternoon.


This is the only photo  of her I have she answers to the name Missy and is black and white and  about 8 months old. missing on Harper street and my phone number.
Thanks Shan.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 9.26am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Poster

Dear Shannon,
That is shocking news. 
Although I have two  clients expecting completed work this afternoon, I will, of course, drop  everything and do whatever it takes to facilitate the speedy return of  Missy.
Regards, David.


From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 9.37am
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Poster

yeah ok thanks. I  know you dont like cats but I am really worried about mine. I have to  leave at 1pm today.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 10.17am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Poster

Dear Shannon,
I never said I don't like  cats. Attached poster as requested.
Regards, David.



From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 10.24am
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re:  Poster

yeah thats  not what I was looking for at all. it looks like a movie and how come  the photo of Missy is so small?


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 10.28am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re:  Poster

Dear  Shannon,
It's a  design thing. The cat is lost in the negative space.
Regards, David.


From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 10.33am
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Poster

Thats  just stupid. Can you do it properly please? I am extremely emotional  over this and was up all night in tears. you seem to think it is funny.  Can you make the photo bigger please and fix the text and do it in  colour please. Thanks.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 10.46am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re:  Re: Re: Poster

Dear Shannon,
Having worked with  designers for a few years now, I would have assumed you understood,  despite our vague suggestions otherwise, we do not welcome constructive  criticism. I don't come downstairs and tell you how to send text  messages, log onto Facebook and look out of the window. I have amended  and attached the poster as per your instructions.
Regards, David.

 


From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 10.59am
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Poster

This is worse than the  other one. can you make it so it shows the whole photo of Missy and delete the stupid text that says missing missy off it? I just want it to say Lost.

From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 11.14am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Poster




From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 11.21am
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Poster

yeah can you do the  poster or not? I just want a photo and the word lost and the telephone  number and when and where she was lost and her name. Not like a movie  poster or anything stupid. I have to leave early today. If it was your cat I would help you. Thanks.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 11.32am
To: Shannon  Walkley
Subject: Awww

Dear Shannon,
I don't have a cat. I once  agreed to look after a friend's cat for a week but after he dropped it  off at my apartment and explained the concept of kitty litter. I have  attached the amended version of your poster as per your detailed  instructions.
Regards, David.



From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 11.47am
To: David Thorne
Subject: Re: Awww

Thats not my cat. where did you get that picture from? That cat is orange. I gave you a photo of  my cat.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 11.58am
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re:  Awww

I know, but  that one is cute. As Missy has quite possibly met any one of several  violent ends, it is possible you might get a better cat out of this. If  anybody calls and says "I haven't seen your orange cat but I did find a  black and white one with its hind legs run over by a car, do you want  it?" you can politely decline and save yourself a costly veterinarian  bill.
Regards, David.


From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 12.07pm
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re:  Awww

Please just  use the photo I gave you.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 12.22pm
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re:  Awww



From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 12.34pm
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re:  Re: Awww

I didnt  say there was a reward. I dont have $2000 dollars. What did you even put  that there for? Apart from that it is perfect can you please remove the  reward bit. Thanks Shan.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 12.42pm
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re:  Re: Re: Awww



From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 12.51pm
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Awww

Can you just please  take the reward bit off altogether? I have to leave in ten minutes and I  still have to make photocopies of it.


From: David Thorne
Date: Monday 21 June  2010 12.56pm
To: Shannon  Walkley
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Awww



From: Shannon Walkley
Date: Monday 21 June  2010 1.03pm
To: David Thorne
Subject: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Awww

Fine. That will have  to do.


Monday, July 12, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 2:11:00 PM | No comments

Meniduri Pertunjukan



Juni lalu ada “Ghost Track”, sebuah pertunjukan kolaborasi tari dari seniman Belanda dan Indonesia (Yogyakarta). Saat itu, Cindil mengajakku menonton. Karena seharian kita melakukan banyak aktivitas, jadilah aku tertidur hampir di sepanjang pertunjukan.

Kalo sudah begitu, namanya bukan MENONTON PERTUNJUKAN, ya? Tapi MENIDURI PERTUNJUKAN ;)


Sunday, July 11, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:25:00 PM | No comments

Ngabur ke Solo


Kemarin, Sabtu (10/07) ada dua  undangan pernikan dua teman dekat kita: Mas Ichwan dan Mbak Hani. Mas Ichwan menikah di Klaten, sekitar setengah jam perjalanan dari Jogja. Mbak Hani di kota Jogja. Kita tak ingin melewatkan keduanya, untuk itu kita coba mengatur waktu agar keduanya bisa kita hadiri. Kawinan Klaten pukul 09.00, sedangkan di Jogja pukul 11.00.

Dengan tanpa kesasar–yeah thx God, since Cindil hobi baca peta–kita buru-buru pamit ke manten Klaten untuk ke Jogja. Sesampainya di Jogja, acara sudah bubar. Ya, manten sedang foto-foto. Tapi untunglah kami masih sempat bertemu keduanya.

Keluar dari areal pesta di seputaran Babarsari Jogja, di jalan aku membaca baliho tentang  Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) Festival dan nyeletuk “Waa, pasti seru deh!” yang ditanggap serius oleh Cindil dengan ajakan “Ayo kesana kalo mau.”

Setelah mengantarkan Mbak Uma dan Cleo (anaknya), ke rumah mereka di pusat kota, kita pun bergegas ke Solo. Haha, sehari itu kita empat kali melewati jalan yang sama antara Jogja-Klaten.

Sampai di Solo, pertunjukan belum dimulai. Bahkan tak terlihat keramaian di Stadion Sriwedari, lokasi pertunjukan. Kiya memutuskan untuk mencari makan, sebab pertunjukan akan berlangsung hingg amenjelang tengah malam. Kita mampir ke loket, mengambil tiket dahulu. Ternyata, tiket masih banyak. Dan HTM itu berharga Rp 0,-.

Ah, sudah sesore ini, pertunjukan sebesar ini (ini merupakan event musik tahunan bertaraf internasional), dan HTM se-gratis ini, kok terlihat adem-ayem, yah? Apakah masyarakat Solo tidak tertarik dengan pertunjukan-pertunjukan seperti ini? Waah, kalau saja digelar di Jogja, jauh-jauh hari pasti tiket-tiket tersebut sudah habis, atau bisa didapatkan lewat calo yang berbayar.

Kita pun keliling kota, mencari makanan. Pilihan jatuh pada Nasi Liwet di kawasan Keprabon, makanan khas Solo yang dapat diterima lidah Sumateraku. Secara acak, Cindil memilih salah satu di antara sekian warung yang berjajar di sepanjang Jalan Tengku Umar. Di warung tersebut begitu banyak foto selebritas Indonesia yang mampir kesana. Terkenal, ternyata.

Selesai makan, kita kembali ke Sriwedari. Aah, perkiraan awal mengenai minim antusiasme masyarakat Solo untuk menonton langsung terpatahkan. Yaa, Sriwedari mendadak riuh. Kita sempat bingung dimana harus meninggalkan mobil. Akhirnya ada juru parkir yang mengarahkan untuk parkir di luar stadion, persis di Jalan Slamet Riyadi.



Pertunjukan berlangsung menyenangkan–ya, harus dengan kata apalagi? Menurut Cindil, sekelompok  anak muda Singapura yang membawakan musik etnik bernuansa techno sangat biasa saja. “Aah, pada belom lulus di Malang, nih. Kalo di Malang pasti dilemparin penonton,” komentarnya.

*menurut Cindil, band-band rock yang kalo manggung di Malang tidak dilempari penonton, pasti sudah lolos uji kualitas. Ah ah, gatau deh kebenarannya*

Yang pasti, pertunjukan malam itu banyak yang bagus. Apalagi yang punya lokal alias dari negeri sendiri. Alat musik tradisionalny aitu lhooo, seru betul!

Oh ya, pertunjukan sebesar itu, yang pastinya dirancang dengan berbagai rencana matang (terlihat dari tata panggung, tiket masuk, bentuk promosi, dst) itu, oleh publik Solo direspon tidak terlalu antusia. Ya, para penampil, yang kebanyakan sangat interaktif ke penonton tidak dibalas secara responsif. Ini pertunjukan jadi kurang ramai.


Tak ada sahut-menyahut meriah antara artis yang mengajukan pertanyaan atau menguraikan ajakan kepada  penonton. Tak terdengar pula interaksi menyegarkan antara pembawa acara dan penonton. Adem ayem, deh. Solo banget kali, yah? Hal sebaliknya pasti terjadi jika pertunjukan sejenis diselenggarakan di Jogja ;)


Bahkan, silih berganti penonton pulang ketika pertunjukan masih berlangsung. Termasuk kita ;)  Kita pulang di tengah-tengah pertunjukan terakhir (Pipa Woman dari Taiwan) yang memainkan gitar tradisional China. Itu sudah pukul 10.30. Sebab, kita harus menempuh jalan kembali ke Jogja yang memakan waktu hampir dua jam. Ada untungnya pulang duluan, parkiran belum riuh!

“Kamu ngantuk?” tanyaku pada Cindil. Aku khawatir dia mengantuk ketika meneyetir.
“Enggak!” jawabnya.

Mobil diparkir tepat pukul 12.03 di depan garasi rumahku.

“Kamu ngantuk?” tanyaku lagi padanya yang masih akan menempuh perjalanan pulang dengan sepeda hingga setengah jam.
“Ya, tadi di jalan. Tapi setiap lampu merah, aku sempatkan tidur,” jawabnya.
“Huuh, kamu ya, itu bahaya banget, tau!”
“Tapi kita gpp, kan? Aku cuman mau tepatin janji untuk mulangin kamu sebelum tengah malam.”
“Siapa yang janji?”
“Aku sendiri.”

Aah Cindilku, bagaimana mungkin aku enggak sayang kamu???

Monday, March 29, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 1:19:00 PM | No comments

Investasi Riil: Bikin Sapi Naik Kelas



Transaksi bisnis di bursa efek tak pernah sepi peminat. Banyak kalangan “menitipkan” uangnya dalam bentuk lembaran saham agar memperoleh imbal hasil berupa laba perusahaan (capital gain). Lalu, mengapa pemain bursa saham di negeri ini terdiri atas hanya segelintir orang?

Bursa saham merupakan investasi beresiko tinggi, mereka yang bermain di sana adalah orang-orang sukses di kota besar yang memiliki modal kuat selain kemampuan analisis investasi perbankan yang memadai.

Sistem investasi saham seperti ini tentu saja jauh dari aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Jumlah rupiah di bursa efek tak bisa dikatakan sedikit, namun ia berputar hanya di kalangan atas, kalangan yang berkapital besar.

Belakangan muncul pemikiran dari sejumlah kalangan untuk memberdayakan masyarakat kalangan bawah lewat investasi. Persoalannya adalah, investasi seperti apa yang bisa dipilih demi terciptanya cita-cita mulia tersebut?

Pasar Komunitas
Adalah Pasar Komunitas, sebuah portal jaringan informasi yang ditujukan untuk meningkatkan potensi ekonomi yang ada di sekitar masyarakat dengan membangun bisnis transparan dan berkeadilan. Pasar Komunitas lahir dari inisiatif dan perkembangan jaringan radio-radio komunitas di seluruh Indonesia, khususnya yang tergabung dalam Suara Komunitas.

Secara sederhana, radio komunitas itu sendiri adalah media yang didirikan oleh, untuk, dari, dan tentang masyarakat. Dalam perkembangannya, tak hanya radio komunitas saja yang bergabung, namun melebar ke berbagai bentuk kelompok masyarakat yang memiliki visi yang sama untuk mendukung perkembangan ekonomi masyarakat kecil.

Dalam Pasar Komunitas ini radio komunitas berperan sebagai aktor yang melakukan manajemen pemasaran terhadap potensi ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya. Manajemen pemasaran dilakukan melalui Pasar Komunitas sehingga lebih kuat dan terkontrol demi memaksimalkan tiap transaksi.

Informasi yang ada di Pasar Komunitas berfokus pada isu ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Setiap orang bebas menggunakan portal ini untuk kepentingan bisnisnya sepanjang masih satu visi, yaitu pengembangan ekonomi rakyat yang berkeadilan.

Lewat Pasar Komunitas, sejumlah pegiat UMKM mengubah format usaha mereka menjadi sistem investasi saham. Seperti halnya saham di bursa efek, mereka memberi penawaran bagi investor yang berminat untuk turut serta menanamkan modalnya dalam usaha yang mereka jalankan. Modal tersebut akan diputar untuk menambah modal sang pemilik usaha.

Tentu saja bentuk saham yang ditawarkan berupa usaha dalam sektor riil, seperti bidang peternakan, perikanan, industri kreatif, dan sebagainya. Sistem yang digunakan adalah sistem bagi hasil. Investor tinggal menitipkan dana yang dia miliki untuk dimainkan dalam sektor usaha yang diinginkannya.

Salah satu kelebihan investasi riil dibanding investasi bursa saham adalah, investor tak perlu memiliki kemampuan memadai mengenai seluk-beluk usaha di mana ia menanamkan modalnya.

Misalnya saja, seseorang ingin berinvestasi di bidang pengembangbiakan sapi potong. Ia tak perlu memiliki kemampuan cara merawat sapi, apalagi berpikir harus menyediakan lahan yang besar untuk membuat peternakan. Semua pekerjaan teknis pengembang-biakan dan fasilitas pengelolaan menjadi tanggung jawab pemilik usaha. Pemodal tinggal memantau perkembangan investasi mereka lewat bursa investasi yang terdapat di situs Pasar Komunitas.

Keuntungan lainnya adalah, investasi di sektor ini bisa dikatakan bersifat tetap. Jika seorang pemodal mengawali investasinya dengan sepasang sapi, dapat dipastikan ia akan memperoleh keuntungan dari kelahiran anak dari kedua sapi tersebut. Selain itu, resiko bermain saham di sektor riil tak setinggi saham di bursa efek yang perubahannya terjadi setiap detik.

Musim panen” sektor riil bisa diprediksi dengan mudah tanpa harus merusmuskan hitungan angka-angka. Musim panen tersebut, untuk sapi, adalah musim di mana harga sapi potong meningkat, misalnya di masa Hari Raya keagamaan.

Keuntungan lainnya adalah bahwa harga sapi tidak akan jatuh ketika krisis moneter, misalnya, sebab itu merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Secara pendanaan, seseorang tak harus kaya dahulu untuk menjadi investor di sektor riil. Dengan dana Rp 10 juta, siapapun bisa memiliki seekor sapi yang siap digemukkan dan dijual ketika tiba saatnya untuk dipotong.

Beri Kemudahan
Berinvestasi di sektor riil memberi banyak manfaat. Ia bisa berfungsi sebagai deposito dan asuransi. Ia menjadi depostito sebagaimana seseorang menitipkan uangnya ke bank dan akan mendapat keuntungan dari laba penyimpanan. Ia menjadi asuransi ketika ia bisa diambil sewaktu-waktu untuk dana pendidikan atau kesehatan.

Andaikan saja setiap anak yang lahir diberikan “asuransi” berupa sapi, maka orangtuanya tidak akan pusing lagi memikirkan dana kuliahnya ketika ia besar nanti.

Intinya, Pasar Komunitas menawarkan kemudahan. Lewat keterbukaan sistem investasi sektor riil ini, orang-orang kota kini bisa beternak sapi tanpa harus menjadi peternak. Tugas Pasar Komunitas kini adalah bagaimana mengembangkan sistem tersebut agar mampu mengubah “pamor” investasi binatang ndeso sekelas sapi menjadi naik kelas di bursa investasi.
AZ untuk KOMBINASI #31
Posted by adriani zulivan Posted on 12:51:00 PM | No comments

Jejaring Sosial untuk Jejaring Berita Bencana




Secara geografis, wilayah Indonesia rawan bencana. Banjir, angin ribut, gunung meletus, gempa bumi, hingga tsunami menjadi langganan. Di era penggunaan internet kini, apa yang dilakukan seseorang ketika berada di tengah situasi bencana?




Kejadian gempa bumi Ujung Kulon (16/10/2009) turut mengguncang Jakarta. Ada fenomena menarik sesaat setalah terjadinya gempa. Selain memanfaatkan ponsel untuk berkabar dengan kerabat, tak sedikit yang mengganti status di situs jejaring sosial (social networking/social media) tentang kejadian gempa yang mereka alami. Sampai-sampai muncul status kocak seperti "Orang Jakarta begitu gempa langsung ambil HP, update status".


Berbagi Berita
Jumlah pengguna social media terus meningkat. Tahun 2009 Facebook (FB) menjadi situs yang paling banyak diakses dan hingga September 2009 ada 1,2 juta pengguna Twitter di Indonesia (data Google Adplaner).


Fitur utama situs ini adalah pembaruan (update) status yang digunakan sebagai ajang berbagi informasi, mulai dari kejadian remeh temeh hingga informasi tentang bencana. "Keluarga, kerabat dan teman tahu posisiku dari FB. Mereka langsung tanggap dan mengontakku," cerita Kristupa Saragih, fotografer yang berada di Padang saat gempa 30 September 2009 lalu.

Mereka yang terus-menerus memperbarui status mengenai kondisi bencana menjadi semacam informan strategis, sebab posisi mereka berada langsung di tempat kejadian sehingga mampu melaporkan berdasar apa yang dilihat, dengar dan rasakan.


Beberapa saat setelah terjadi, gempa Sumbar menjadi trending topic1 (1,2%) Twitter (detikINET). "Itu menjadi laporan tercepat jika ada korban, atau seberapa besar gempa terjadi secara visual dan motorik bukan dari data ilmiah seismik," kata Kristupa yang aktif di berbagai situs jejaring sosial.

Pengguna Twitter/FB kerap memperoleh informasi lebih cepat dibanding pengumuman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ataupun Badan Survey Geologi Amerika Serikat (United State Geological Survey/USGS). Masih menurut Kristupa, misalkan seseorang memperbarui status dengan "Atap rumah runtuh, pohon bergoyang, Bantul gempa!" dari situ diperoleh data daerah yang merasakan goncangan dan perkiraan nisbi kekuatan gempa.


Logikanya, semakin jauh pusat gempa maka semakin lemah kekuatan gempa yang dirasakan. Orang-orang yang berada jauh dari episentrum mampu menghasilkan peta gempa sederhana dan cepat jika mau berpartisipasi aktif.

USGS perlu 15 menit untuk mempublikasi data yang belum diverifikasi ahli gempa bumi (seismologi), 30 menit kemudian baru mendapat verifikasi dan masih membutuhkan 10 menit untuk meng-update ke website. Bagaimana dengan BMKG? "Entahlah, tak dijamin konsistensinya. Bahkan tak ada grade laporan apakah data yang dipublikasikan sudah diverifikasi seismologi atau belum," pendapat Kristupa yang pernah berkarir sebagai ahli geologi ini.


Kecepatan pengumpulan data lewat Twitter menjadi alasan USGS membuat Twitter Earthquake Detector (TED) sebagai wadah berbagi dan memperoleh informasi gempa secara real time di seluruh belahan bumi.

Dendi Pratama membentuk grup FB yang dinamainya "Update Gempa Sumbar September 2009". Grup ini terus diperbarui dengan informasi yang didapat dari status masyarakat terkait gempa dan laporan langsung dari seorang reporter radio lokal.


Kala itu, traffic grup ini cukup padat. Apalagi pada H+4, ketika jaringan seluler pulih, mulai ramai masyarakat Sumbar yang memperbarui status FB. "Sejumlah relawan menghubungi kami, menanyakan kondisi medan yang akan mereka datangi untuk distribusi bantuan," cerita Dendi. Grup ini juga mengumpulkan video amatir yang direkam warga.

Banyak orang Minang yang merantau. Saat gempa lalu, mereka membutuhkan info spesifik, tak seperti liputan media mainstream. "Ada orang dari Jakarta yang bertanya tentang kediamannya di Padang: Mohon info tentang rumah coklat yang ada di perempatan jalan ini", kata Dendi yang seminggu setelah gempa berangkat ke Padang sebagai Ketua Relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk Gempa Sumbar.

Mengakrabi Bencana
Sebagai gambaran, FB menerima lebih dari 1.500 status per menit di seluruh dunia yang mengandung kata “Haiti” pasca gempa Selasa (12/01) lalu. Hal itu direspon dengan pembuatan sebuah halaman (page) bertitel "Disaster Relief". Ini menunjukkan pentingnya social media dalam kondisi bencana. "Sayangnya, badan resmi kebencanaan milik pemerintah kita tak menggunakan media seperti ini untuk penyebaran informasinya," kata Dendi yang juga pernah menjadi relawan gempa Yogyakarta.

Sebagai negeri yang akrab dengan bencana, ada baiknya Indonesia melirik cara penyebar-luasan info bencana lewat social media. Memang benar bahwa hanya sebesar 13% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang melek internet. Namun jumlah itu tak dapat dianggap remeh sebab dari sejumlah kasus besar, mereka terbukti mampu melakukan perubahan sosial.

Secara sederhana, itulah fungsi situs jejaring sosial dalam membantu berjalannya arus informasi di tengah kondisi bencana. Anda turut merasakannya?

Adriani Zulivan untuk KOMBINASI #31

1 Trending topic adalah topik yang paling banyak dibicarkan, dapat dicek dengan hashtags atau tanda "#" | lihat ini.

Sunday, March 28, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 5:15:00 PM | No comments

Parents Don’t Buried Their Child

  -->Click here to see his pics...


A 'mom' like me should not bury my own child. It should him that burry my body when I die.
But I did it last night. Buried his deadbody on my backyard, right beside his own house. Mas Yossy helped me to do that.

This morning I am so sad.
I am no longer see his noddy head when I open the curtains.
I am no longer see his blue icy eyes looking at me when I open the windows.
I am no longer hear his crunchy voice when I call him.
I am no longer come into his house when he fly to reach me.

Ya,
This morning I am no longer call him for that crunchy voice.
This morning I am no longer open his door to catch him fly.
I hear no voice.
I see no fly.
He no longer there.

Maybe, I will tear some flower to his “new house” there on the ground, today.
Flower, as much as the tear which comes out from my eyes, now.

Selamat jalan, sayang...
Selamat bertemu kembali dengan dia, kekasihmu...



Thursday, March 25, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 4:14:00 PM | 2 comments

Boetet

Boetet. Cara bacanya: Butet. Itu nickname seorang teman yang kukenal tahun 2008 lalu.

(ki-ka: Boetet, Don Bosco, AZ, Ikatrina Rosyida

Meski baru sekali bertemu langsung dan hanya sekitar 5 jam, Boetet bagiku adalah seorang cewe periang. Si periang ini, dua malam lalu, sudah berpulang ke tempatnya.

Selamat jalan, sayang. DIA memberikan jalan terbaiknya buatmu.


Boetet, Ika, AZ, Alex Satrio________________________


 

Wednesday, March 17, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 4:28:00 PM | No comments

Mengintegrasi Desa, Membuka Peluang

-->
Garis-garis berwarna hitam-putih tersebut dipindai. Keluarlah pesan ini: “Kolesterol tinggi. Dua kali menginap di RS jantung. Tiga kali menikah. Alergi cabai.” Garis hitam-putih tersebut merupakan barcode yang tercetak di tangan seseorang lewat gambar tato. Ia berisi ratusan gigabytes informasi pribadi mengenai orang yang mengenakannya. Ia dapat dibaca dengan menggunakan teknologi scanning (pemindai) sebagaimana scanning harga yang dilakukan petugas di toko-toko modern.
Ketika seluruh masyarakat dunia memiliki tato barcode, keribetan administrasi akan mampu teratasi. Tentu saja, sebab segala informasi bisa diperoleh lewat pemindai tersebut. Dengan tato itu, seseorang tak perlu membawa identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) ataupun paspor ketika bepergian. Rumah sakit pun tak harus menyimpan berkas rekam medis yang menyimpan catatan riwayat penyakit pasiennya. Tinggal scan, maka semua terpapar dalam teknologi internet.

Semua itu hanya terjadi nyata dalam sejumlah film science fiction populer, seperti Star Trek, Matrix, dan Johnny Mnemonic. Jika melihat kehidupan nyata di luar frame film, mungkin hal tersebut terdengar seperti mimpi. Ibarat jauh panggang dari api. Bukan hal mudah mengintergrasikan informasi personal ke dalam satu kesatuan sistem informasi yang dapat diakses oleh publik secara mudah.

Eits, tunggu dulu. Saat ini ada sejumlah desa yang sudah memulai sistem tersebut. Ya, mungkin bentuknya belum sekompleks yang tergambar dalam film-film tersebut. Namun ide utamanya, yaitu mengintegrasikan informasi personal, sudah dianut dalam sistem ini.

Sistem ini bernama Sistem Informasi Desa (SID), yaitu sebuah aplikasi berbasis internet (website) untuk mengelola data kependudukan di tingkat desa. Ia akan dimanfaatkan untuk mendukung kerja dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat perdesaan. SID dibangun sebagai sebuah paket sistem yang meliputi sistem database kependudukan, keuangan, dan sumber daya desa. Itulah yang kini sedang dibangun, tidak menutup kemungkinan bertambahnya database tersebut.

Assesment sosial untuk pengembangan SID bertujuan untuk mendapat data profil sosial desa seperti yang biasa tercantum dalam dokumen monografi desa dan/atau dokumen profil desa; mendapat peta mengenai pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan terhadap kegiatan pengelolaaan data dan informasi di wilayah pedesaan; mendapat profil rencana pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang desa serta kawasan setempat; dan mendapat peta harapan pihak-pihak tersebut mengenai tata kelola pemerintahan yang baik di wilayah perdesaan.

Ide utama dari pembangunan sistem ini adalah terbentuknya sebuah data terintegrasi mengenai informasi desa yang dapat diakses masyarakat dari belahan dunia manapun melalui jaringan internet. Dengan demikian, mimpi mengenai ketersediaan/keterbukaan informasi masyarakat dunia bisa jadi tak lagi sekadar mimpi. Ini hanya mengenai waktu!

AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 3:55:00 PM | No comments

Nikmati Bersama Suasana Pagi




Pagi itu begitu cerah. Aku berniat melakukan rutinitas pagi hariku: membeli sarapan!


Bukan hal sulit mencari penjual sarapan. Mereka bertebar hampir di setiap sudut jalan. Soto, bubur, nasi kuning, mie goreng, dan berbagai menu lainnya bisa didapat dengan mudah. Tinggal jalan beberapa meter ke luar rumah.
Pagi ini aku memutuskan untuk menyantap gudeg favoritku. Jaraknya tak terlalu jauh memang, tapi cukup jauh untuk berjalan kaki. Lalu kuhidupkan mesin kendaraanku. Wuzzz, tak ada lima menit aku sudah berada di depan panci-panci berisi lauk panas.
“Biasa ya, Bu.” kataku pada ibu penjual yang disambutnya dengan anggukan ramah.
Seperti biasa, tempat itu cukup ramai. Aku harus sabar menanti hingga pesanan gudegku diracik. Si ibu berjualan seorang diri. Meracik makanan dan menyiapkan minuman. Tak ada tempat khusus. Ia duduk di atas sebuah bangku dengan meja berisi bahan dagangan di depannya. Di meja itu terdapat dua dandang besar berisi gudeg dan kuah sambal krecek ditambah sejumlah mangkok dan piring tempat pelengkap menu gudeg lainnya.
Sambil menunggu pesanan, aku melihat-lihat papan panjang di sana. Papan yang berwujud persis papan pengumuman di kampus atau di Balai Desa itu ditempeli berbagai judul surat kabar lokal. Inilah kerumunan yang paling ramai. Masyarakat datang ke sini tak hanya mencari makan, namun juga untuk memperoleh informasi dari surat kabar yang mereka baca.
Papan ini awalnya merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebuah Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang bekerjasama dengan perusahaan media yang tertempel di sana. Terletak di pinggir sebuah jalan utama di bilangan Jogja Kota. Lokasinya yang di dekat lampu lalu lintas di dekat perempatan jalan besar Veteran membuat ia mudah ditemui.
Papan yang merupakan program Koran Masuk Desa (KMD) ini selalu ramai di tiap pagi. Tak hanya akibat gudeg yang nikmat, kerindangan tempat tersebut juga menjadi pilihan. Ia berlokasi di sebuah tanah kosong di pinggir jalan yang dinaungi sebuah pohon rindang. Pohon besar yang tak kutahu namanya itu benar-benarmemberi kenyamanan.
Pohon ini tak hanya menaungi KMD, namun juga sebuah pondok kayu berupa bale-bale berkontruksi panggung yang menjadi Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling). Di depannya terdapat deretan bangku panjang yang sangat nyaman untuk leyeh-leyeh. Menambah kenikmatan pelanggan gudeg.
KMD
Tak ada catatan tertulis kapan KMD pertama kali hadir di Indonesia. Yang jelas, papan-papan bertempel koran seperti ini tersebar di banyak daerah di nusantara. Tak hanya di perkotaan, namun juga di areal pedesaan. Ia menjadi salah satu instrumen penting dalam penyampaian informasi kepada khalayak. Inilah ide utama ketika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di masa Orde Baru (Orba) membangun KMD di berbagai daerah.
Bagi masyarakat desa, ia sangat membantu menyampaikan informasi mengenai kebijakan pemerintah, terutama yang menyangkut pembangunan dan perekonomian. KMD mampu mengobati dahaga masyarakat desa terhadap informasi ketika mereka tak dapat mengakses seluruh bentuk alat komunikasi-informasi. Bagaimana dengan masyarakat kota?
Masyarakat di perkotaan Indonesia masuk dalam kategori masyarakat yang mampu mengakses arus informasi secara utuh. Utuh, sebab memiliki instrumen komunikasi yang lengkap, mulai dari media cetak hingga elektronik. Meski begitu, bukan berarti bahwa papan-papan koran seperti itu tidak akan dilirik keberadaannya.
Terbukti padaku yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk membaca koran-koran di papan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hariku, aku sangat mungkin mengakses informasi lewat internet selama 24 jam sehari lewat jaringan yang terpasang di rumah, hotspot di kantor, hingga telepon selular di manapun aku berada. Aku juga berlangganan koran. Namun membaca papan-papan bertempel koran itu menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Bertemu dengan banyak orang, sarapan bersama, lalu memperbincangkan hal-hal umum yang kami baca di papan koran tersebut.
Arena Diskusi
Namanya, KMD, mungkin tak selalu relevan lagi sebab ia tak hanya berada di desa, namun juga di berbagai sudut wilayah perkotaan. Masyarakat kota mencarinya, seringkali untuk melihat iklan rumah atau tanah dan iklan lowongan pekerjaan yang tidak mudah menemukan informasinya di internet.
Terlepas dari alasan membaca koran diding tersebut, papan-papan koran ini mampu menjadi arena publik baru yang berprinsip sebagai centre of excellent, di mana semua orang, siapapun, dapat memperoleh dan berbagi informasi.
Siapa sangka bahwa dari sebuah papan koran ini tercipta sebuah diskusi berharga mengenai berbagai persoalan bangsa. Para pembacanya kerap berlama-lama di lokasi tersebut, selain untuk menikmati gudeg juga tertarik melibatkan diri dalam obrolan panjang mengenai hal-hal yang menjadi berita koran hari itu.
“Ini makanannya, Mbak” panggil si ibu penjual gudeg padaku.
Aah, makananku telah siap. Kuambil dan membawanya ke bangku depan Poskamling, menyusul beberapa orang yang sudah terlebih dulu di sana. Kami membicarakan kasus “Century” yang menjadi headline koran pagi itu. Beginilah caraku menikmati suasana pagi.
ADRIANI ZULIVAN
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata