Monday, November 26, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 8:20:00 AM |

Batik Merapi Balerante




Siang tadi saya mengunjungi pengrajin batik di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jateng. Selain Desa Kepuharjo di Sleman, Balerante adalah satu-satunya desa yang menerima dampak langsung dari erupsi Gunungapi Merapi 2010 lalu. Sebagian desa ini rata dengan tanah. Saat ini warga telah bangkit dengan berbagai upaya. Salah satunya lewat pelatihan membatik yang diberikan oleh relawan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), akhir 2010 lalu semasa mereka di pengungsian.

Kini mulai banyak warga membuat batik. Mereka berharap, industri batik akan berdampak positif terhadap perekonomian mereka, mengingat pertanian bukan pilihan baik di dataran tinggi yang sulit air itu.

Persoalan mereka ada pada pendanaan, publikasi dan pemasaran, serta pelatihan lebih lanjut mengenai teknik membatik.
  1. Dana. Pemerintah, termasuk BNPB, Cuma bilang begini: Kamu pindah ke bawah (zona aman), agar kami beri dana pemberdayaan. Balerante termasuk desa larang huni.
  2. Publikasi dan pemasaran. Wara telah membuat batik, tapi tak ada pembeli karena: a. Desa mereka jauh di lereng gunung yang akses jalur aspalnya rusak berat, b. Tak ada media pemasaran online. Mengakses sinyal internet sama sulitnya dengan menemukan warga yang dapat mengoperasikan komputer.
  3. Pelatihan. Contoh batik produk Balerante telah saya bawa ke Kampung Batik Giriloyo, Bantul (asuhan Bu Sita – Center for Heritage Conservation (CHC) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM). Ada berbagai masukan terkait peningkatan mutu produk dan cara “mengundang” wisatawan untuk datang. 



Yang dapat kita lakukan:
  1. Mengakses dana-dana pemberdayaan masyarakat? Saya tidak ada ide bagaimana caranya, jika ini kemudian dianggap melawan UU tentang manajemen bencana (atau sejenisnya).
  2. Website. Perkenalkan ke asosiasi batik nasional agar diikutkan ke berbagai event. Dst, dst.
  3. Saya berencana mengajak pengrajin Balerante untuk workshop di Giriloyo. Balerante siap dan Giriloyo telah menyatakan kesanggupannya. Tak ada dana untuk ini, sebab semua bersedia dibayar Rp 0,-. Hanya saja, mengangkut puluhan orang dari lereng Merapi ke ujung Bantul juga tak mudah, mengingat keterbatasan kendaraan mereka. Naik sepeda motor masing-masing, bisa saja memungkinkan namun tetap perlu ada dana untuk bensin. Sebab tidak membayar bea tempat pelatihan dan trainer, saya pikir ada baiknya agar kita tidak membebani Giriloyo. Kita musti sediakan konsumsi (makanan utama dan snack) serta bahan ajar (kain, lilin malam & pewarna) untuk digunakan selama proses pelatihan. Mungkin pelatihan ini perlu menginap agar menghemat waktu. Warga Giriloyo siap memberi tumpangan rumahnya.
Lihat info lainnya di sini.


Mlekom,
AZ 



Sila hubungi CP ini.

Wednesday, November 14, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:12:00 PM |

Reka Utama Anindha untuk Mas Kiman

Foto: Sukiman di sini.

Setelah melalui proses seleksi yang panjang, dengan dewan juri yang kompeten di tiap bidangnya. Akhirnya Rabu (14-11-2012) diumumkan nama pemenang lomba kreativitas bidang kebencanaan dan tokoh inspiratif dalam penanggulangan bencana 2012 di Hotel Millenium, Jakarta. Juara masing-masing kategori adalah:

Foto Jurnalistik diberikan penghargaan "Citra Adiluhung":

  1. Afriadi Hikmal (Jakarta Globe), judul: Berangkat 
  2. Agus Susanto (Kompas), judul: Menyeberang Sungai Yetni
  3. Eko Purwanto (Sindo), judul: Selamatkan diri
Film Dokumenter diberikan penghargaan "Citra Leka Birawa":
  1. Hendrik Sumarfi (DAAI TV), judul: Suara kecil dari Kaki Merapi 
  2. Aqida Swamurti (Kompas TV), judul: Warisan smong untuk dunia.
  3. Elverina Hidayati (Metro TV), judul: Hidup nyaman bersama Merapi
Karya Tulis Jurnalistik diberikan penghargaan "Citra Carita Parama":
  1. Zaky Yamani (National Geographic), judul: Petaka mengintai di Utara Bandung 
  2. Ahmad Arif (Kompas), judul: Hidup bertaut maut di jalur gempa
  3. Mohammad Hilmi Faiq (Kompas), judul: Warga Simeulue berdamai dengan tsunami
Tokoh Inspiratif diberikan "Reka Utama Anindha":
  1. Sukiman Mochtar Pratomo (Solo) 
  2. I ketut Sugata (Gianyar)
  3. Bejo (Kebumen)
  4. Eliza Kissya (Haruku, Ambon)
Juara lomba tersebut diberikan setelah mengalahkan peserta lainnya. Total peserta 755, dimana karya tulis jurnalistik 187 peserta, fotografi 519 peserta, film dokumenter 62 peserta, dan tokoh inspiratif 87 peserta.

BNPB juga memberikan penghargaan khusus “Citra Dharma Bhakti” untuk media massa yang memiliki program kebencanaan terbaik. Selama tahun 2012 tim ahli dan independen telah melakukan penilaian terhadap program tayangan TV yang terkait dengan kebencanaan. Tim telah menilai media yang layak menerina penghargaan terbaik adalah:

  1. Metro TV (program Eagle Award - Indonesia Tangguh). 
  2. Kompas TV (program dokumenter Ekspedisi Cincin Api).
  3. Koran Kompas (program khusus Ekspedisi Cincin Api).
  4. Radio Elshinta (stasiun radio pemberitaan bencana yang cepat dan informatif)
Pada kesempatan yang sama Drs Subandriyo, M.Si (Kepala BPPTK) diberikan penghargaan "Adarma Widya Argya"; atas dedikasi dan jasa-jasanya menerapkan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan. Subandriyo dinilai telah memberikan pengabdian yang luar biasa untuk kemanusian terkait dengan penanganan bencana Gunung Merapi.

Diharapkan dengan acara tersebut terjalin hubungan kemitraan dan sinerji antara pemerintah, pemda, masyarakat dan dunia usaha, khususnya media massa, sehingga memiliki visi yang sama dalam membangun masyarakat dan bangsa yang tangguh menghadapi bencana. Selain itu juga menggugah minat menulis, fotografi, film dokumenter mengenai kebencanaan. Dan tokoh inspiratif bisa menjadi teladan bagi masyarakat lain.

Acara ini adalah yang pertama diselenggarakan BNPB, dan akan menjadi agenda tahunan BNPB. BNPB mengucapkan terima kasih atas partisipasinya dan kepada pemenang diucapkan selamat.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB


*
Co-pas dari Bayu Nugraha.

Selamat kepada Mas Kiman dari Radio Komunitas Lintas Merapi Klaten, Jawa Tengah (jadi, bukan Solo, seperti tertulis di atas). Semoga terus bermanfaat bagi komunitas warga di lereng Gunungapi Merapi.

Mlekom,
AZ 

Tuesday, November 13, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:15:00 PM |

PAUD Gajahwong

Pagi tadi saya bersepeda ke bantaran Kali Gadjah Wong di Ledhok, Timoho (sekitar 400 meter ke utara di perempatan dekat SMK 8 Yogyakarta, belakang perumahan APMD). Pagi ini saya diundang oleh seorang teman yang aktif menjadi relawan di Komunitas Ledhok, kampung pemulung di pusat kota.

Komunitas ini dibangun oleh Bembeng, seorang relawan yang menginginkan warga bantaran kali ini mendapat hak yang sama dengan warga Jogja lainnya, terutama dalam akses pendidikan dan kesehatan. Mengingat, mereka disebut “penghuni ilegal” karena menempati tanah yang –selain tak bersertifikat—juga tak boleh huni akibat ancaman banjir.

Di bawah payung Tabaah (Tim Advokasi Arus Bawah) –organisasi terdaftar yang diketuai Bembeng, Komunitas Ledhok memiliki sejumlah kegiatan yang ditujukan untuk memberdayakan warga, seperti PAUD, pertanian organik yang memanfaatkan sedikit lahan tersisa (berbagai sayuran dan daun mint), peternakan ayam, serta pengelolaan sampah.

PAUD adalah kegiatan utama. Beberapa tahun lalu, hampir seluruh anak usia sekolah di kampung ini diajak mengemis oleh orang ibunya. Anak remaja mengamen di jalan-jalan kota, sedangkan ayahnya memulung. Seluruh keluarga menjadi orang jalanan. Dengan kreativitas Bembeng beserta para pengajar lain, banyak anak tertarik ikut bersekolah di PAUD Gajah Wong. Yang tertarik tak hanya anak, namun juga orangtuanya. Seiring bangkitnya kesadaran bahwa anak tak seharusnya diajak bekerja menafkahi keluarga, para ortu kiini lebih merasa aman ketika anak-anaknya bermain di PAUD dibanding di jalan. Hingga kini, tinggal seorang anak lagi yang ‘bekerja’ di jalan.

Pagi itu, PAUD GW mendapat kunjungan dari SD Tumbuh. Anak-anak (yang kebanyakan dari keluarga sangat mampu ini, dan sebagian anak ekspatriat) Tumbuh diajak bermain dengan PAUD: keliling kampung untuk mengenal lingkungan, menanam tomat, dst. Sayang terjadi sedikit gap antara anak-anak Tumbuh dan PAUD ini. Saya sedih melihat tatapan seorang anak berbaju lusuh dari PAUD ke anak-anak Tumbuh. Tapi ini pelajaran baik, ya. Entah baik buat siapa, bingung saya menjelaskannya…

Hal yang dapat kita bantu:
  1. PAUD GW membutuhkan relawan tetap. Tetap di sini berarti bahwa relawan yang bekerja memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan pekerjaannya, minimal dalam 1 semester ajar. Perubahan “kakak guru” yang datang membuat anak-anak sulit menyesuaikan diri. Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini di UNY mungkin bisa kita tembusi?
  2. Saat ini PAUD memiliki hanya satu kelas, akibat keterbatasan tenaga pengajar & ruang ajar. Mulai tahun depan mereka berencana membagi kelas berdasar usia, menjadi dua kelas. Sebab kebutuhan anak 0-3 dan 4-6 tahun akan berbeda.
  3. Mereka juga mempunyai program untuk usia remaja, yaitu kelas untuk membantu mengerjakan PR sekolah. Anak-anak yang sudah masuk usia SD-SMU akan bersekolah di sekolah-sekolah negeri di sekitaran Timoho. Sayangnya, minat belajar pemuda usia SMP-SMA ini sangat rendah, akibat mereka lebih senang mengamen di jalan…
  4. DANA! Meski bukan persoalan utama, ini menjadi sebuah kendala besar bagi Bembeng untuk mengembangkan komunitas ini. Mereka ingin ada semacam poses orangtua asuh bagi tiap anak di sini.
  5. Teman-teman TABAAH mempunyai website. Mereka menginginkan perubahan pada website untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka ada. http://www.taabah.com/
Dalam rangka ulang tahun dan wisuda angkatan pertama PAUD Gajah Wong, Komunitas Ledhok akan mengadakan Festival Sekolah Gajah Wong. Ada banyak hal yang bisa kita bantu di sini terkait kebutuhan penyelenggaraan. Cek infonya di sini. Lihat foto lain di sini.

Trims pada @kireynazkiya untuk ajakannya.

Mlekom,
AZ 

Thursday, November 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:08:00 PM |

IHI Poster for NODEM-DIHA


Just send it to the commitee of NODEM-DIHA. Thank you Abdullah Rofii for the hard-work under the tight deadline. *kisskiss*

Mlekom,
AZ

Sunday, November 4, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:23:00 PM |

FSG Tunas Bangsa

Minggu (4/11) pagi saya mengikuti aksi relawan  FSG Tunas Bangsa di Bangsal Kanker Anak RSU Sardjito. Bersama pasien, kami membuat gelang dari tali. Kegiatan sederhana ini membuat para pasien anak ceria. Usai kegiatan yang hanya dua jam ini (09.00-11.00), kami mengedarkan puluhan botol sabun cair pemberian donatur ke seluruh kamar di bangsal.

Foto: Tante Kristi di alamat ini.


Pasca kegiatan, saya diperkenalkan kepada seluruh relawan. Saya jelaskan tentang H&D dan menanyakan kemungkinan mendapat kasus spesifik mengenai “mimpi dan harapan” salah satu pasien yang mungkin bisa kita wujudkan. Serempak, mereka menolak: “Kami selalu bersama-sama, jika satu anak mendapat keistimewaan, itu akan berakibat buruk pada kejiwaan mereka”. Sebaiknya membantu untuk pogram yang sudah berjalan saja, agar segala kegiatan bisa dinikmati seluruh anak.
Satu catatan, pasien anak ini memiliki banyak pantangan, terutama debu. Itu alasan mengapa mereka tak boleh berkegiatan di luar ruangan. Bahkan untuk pemberian mainan pun harus sangat diseleksi, misal tak boleh boneka berbulu.
Ada sekitar 20 relawan yang datang silih berganti di tiap pekan. Pagi ini ada 8 relawan yang hadir, mayoritas mahasiswa. Selain minggu pagi (ini hari terbanyak relawan datang), tiap hari ada pula satu-dua relawan yang datang ke bangsal ini. Mereka membantu keluarga pasien untuk bermain dan belajar dengan pasien. Ada pula keluarga pasien yang mendatangkan guru les untuk anaknya.

Kebutuhan relawan ini mendesak, sebab relawan yang datang tak bisa bekerja tetap akibat kesibukan mereka masing-masing. Yang dapat kita lakukan adalah:
  1. Mengajak lebih banyak relawan untuk bekerja di sini, hingga tak ada waktu kosong untuk menemani pasien dan menggantikan peran keluarga yang pastinya sangat cape secara fisik dan emosi.
  2. Relawan juga dibutuhkan untuk konseling emosi keluarga pasien (terutama orangtua). Jika para pasien sangat ceria tiap ada permainan, para ortu yang menunggui anak-anaknya ini bermuka suram. Mungkin yang ada di otak mereka hanya satu: Anakku akan pergi, segera.
  3. Ada pula kasus spesifik dimana anak yang sudah datang ke Sardjito dan divonis kanker --lalu pulang ke desanya untuk persiapan rawat inap (pemberitahuan keluarga, ambil pakaian, dst), tak bisa kembali ke Jogja akibat tak memiliki dana. Meski bea medis ditanggung Jamkesmas, bea transportasi tak ada yang menanggung.
  4. Bisa pula kita datangkan murid-murid sekolah bergantian, yang akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Bagi anak-anak yang sehat, mereka akan mendapat pelajaran penting tentang pentingnya sehat, di sisi lain pasien akan berinteraksi dengan orang baru yang mungkin akan menambah percaya diri mereka, atau menjawab kerinduan pada teman-teman sebayanya. Saya bilang mungkin, sebab bisa jadi sebaliknya: mereka makin kehilangan percaya diri di antara anak-anak sehat itu. Kita perlu konsultasi dengan dokter di bangsal ini, mungkin. 
Trims pada Tante Kristi untuk kesempatan ini. Membuat saya sangat ingin bergabung dengan teman-teman relawan lain di sini.

Mlekom,
AZ

Tuesday, October 23, 2012

Posted by adrianizulivan Posted on 8:17:00 PM | No comments

Apalagi Kamar!


Sekeren ini. Baru toiletnya, kamar apalagi. — at Hotel Majapahit (d/h Mandarin Oriental d/h Hotel Yamato).

Mlekom,
AZ

20140518

Saturday, October 20, 2012

Posted by adrianizulivan Posted on 8:22:00 PM | No comments

Tak Pernah Kering



Sumur tua yang tak pernah kering. Seberang Kantor Pos Gresik, Jawa Timur.

Mlekom,
AZ

20140518

Wednesday, October 10, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:10:00 AM |

Temu Pusaka Indonesia 2012


Pusaka Rakyat; Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya

Latar Belakang
Ragam pusaka (heritage) Indonesia lahir dan hidup di segala ruang dan waktu. Baik dalam wujudnya sebagai pusaka alam (natural heritage) maupun pusaka budaya (cultural heritage), pusaka Indonesia tidak pernah lepas dari konteks sistem yang melingkupinya; kapan pun dan di manapun. Pusaka Indonesia yang tersebar di seluruh Nusantara selalu dipengaruhi oleh dinamika alam dan budaya sepanjang sejarah keberadaannya. Kedekatan antara budaya manusia Indonesia dengan lingkungan alam yang melingkupinya memunculkan saujana-saujana pusaka yang unik dan dinamis. Saujana bermuatan pusaka itu terbentuk di manapun ada kehidupan, baik di kawasan perdesaan maupun perkotaan. Budaya manusia Indonesia mencerminkan kedekatan itu, sehingga muncul budaya masyarakat agraris, masyarakat ladang, masyarakat pesisir, dan sebagainya.

Apapun bentuk masyarakat dan budaya yang hidup di satu ruang dan waktu, mereka kemudian melahirkan suatu konsep pembangunan peradaban. Dalam masyarakat agraris/petani muncul konsep “pembagian/kesatuan lima”, yang di Jawa disebuat mancapat (persekutuan antara sebuah desa dengan empat desa-desa tetangganya yang terdekat dan letaknya kira-kira sesuai dengan keempat arah mata angin). Sementara, dalam masyarakat ladang muncul konsep “pembagian/kesatuan tiga”. Konsep terakhir itu di masyarakat Sunda dikenal dengan “tritangu”, di Minang sebagai “tigo sejarangan”, dan di Batak sebagai “dalian na tolu”. Konsep tersebut bukanlah bagian dari sebuah sistem administrasi, tetapi lebih merupakan cermin sosial kehidupan kolektif masyarakat tersebut. Namun, prinsip tradisional ini semakin luntur dan hilang sejak awal abad XX ketika pemerintah Hindia Belanda memberlakukan sistem administrasi kelurahan dan kecamatan.

Dalam proses selanjutnya, sebagian kelompok berserak ke tempat-tempat yang kemudian bernama kota. Ciri utama masyarakat perkotaan adalah basis kehidupannya yang tak lagi mendasarkan diri pada sektor agraris, melainkan perdagangan dan jasa. Mekanisme pembagian peran juga muncul di perkotaan sebagai bentuk manajemen sumber daya, yakni berbasis pada spesialisasi. Kelompok-kelompok itu biasanya kemudian berhimpun dalam suatu kesatuan yang disebut dengan kampung. Dinamika interaksi masyarakat kota yang tinggi menjadikan ragam kampung yang muncul di sebuah kota pun sangat banyak. Kelompok masyarakat yang berhimpun dalam kampung-kampung kota pun tak hanya berasal dari masyarakat desa-desa di sekitar kota itu, tetapi juga dari pulau lain, atau bahkan dari mancanegara. Kota pun menjadi hidup dengan heterogenitasnya yang dinamis. Interaksi antar kelompok dari asal dan spesialisasi kerja yang berbeda menjadi kota tak hanya menjadi sebuah ruang, tetapi juga entitas hidup yang selalu bergerak. Kekhasan itu kemudian membangun ciri kota yang pada akhirnya kadang bisa berbeda antara satu kota dengan kota yang lain.

Dalam perkembangannya seiring perubahan Nusantara menuju Indonesia, tentu saja ada kampung yang bertahan, ada yang hilang. Banyak persepsi maupun asumsi atas nama modernitas, melihat kampung sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, perlu ditata sedemikian rupa. Muncul juga ungkapan "kampungan" yang berkonotasi negatif, seolah menguatkan bahwa entitas ini layak untuk “dilenyapkan”. Padahal, kampung memiliki karakteristiknya sendiri, memiliki sejarahnya sendiri, dan memiliki kehidupannya sendiri. Bahkan kampung adalah pusaka bagi rakyat Indonesia. Di kampunglah, jejak-jejak peradaban masyarakat urban Indonesia bermula. Dalam kampung juga tersimpan banyak pengetahuan dan pengalaman komunitas perkotaan membangun kehidupannya dari generasi ke generasi. Maka kehilangan kampung bagi kota, ibarat pohon kehilangan akarnya. Disinilah letak penting pelestarian keberadaan kampung, baik lingkungan maupun budayanya.

Kota Surabaya telah tercatat pernah memiliki sebuah program monumental yakni Kampung Improvement Program pada medio tahun 80-an. Dengan semangat dan pendekatan yang baru, Surabaya sebagai tuan rumah Temu Pusaka Indonesia 2012 dengan bangga mengusung tema “Pusaka Rakyat: Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya” sebagai momentum bagi kajian maupun pelestarian kampung di Indonesia maupun di dunia pada umumnya.

Tujuan
Membangun pemahaman kepada publik pelestarian pusaka Indonesia tentang potensi pusaka yang terkandung di dalam kampung-kampung kota dan komunitas yang hidup di dalamnya.
Membangun jejaring pengetahuan antar kampung di Indonesia yang melibatkan para pihak, mulai dari tingkat lokal hingga nasional untuk memperkuat gagasan pelestarian pusaka kampung.
Menyusun peta jalan menuju rencana strategis pelestarian kampung sebagai pusaka rakyat yang akan dilaksanakan sebagai bagian dari agenda tindak lanjut Dasa Warsa Pelestarian Pusaka Indonesia 2003 - 2013.
Memberikan rumusan masukan strategis kepada pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota dan tingkat nasional tentang sisi penting pelestarian kampung dan pusaka rakyat yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari agenda rencana pembangunan wilayah jangka menengah dan jangka panjang.
Mendorong inisiatif pelestarian pusaka rakyat di tingkat regional ASEAN melalui aksi pelestarian dalam jaringan kampung kota yang berdampak pada perbaikan kualitas hidup masyarakat perkotaan serta berkurangnya masalah lingkungan dan sosial perkotaan.

Susunan Acara
Kamis, 18/10/2012
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur: Jelajah Pusaka

07.00 – 09.00
Perjalanan Surabaya – Trowulan

09.00 – 12.00
  • Pengantar tentang Trowulan  Prof. Mundardjito
  • Kunjungan ke Pusat Informasi Majapahit
12.00 – 15.00
Jelajah Pusaka: Candi Tikus, Bajang Ratu, Proyek Arkeologi Terpadu (PATI), Sentonorejo

15.00 – 17.00
  • Perjalanan Trowulan – Surabaya
  • Balai Kota Surabaya: Pembukaan TPI 2012 “Malam Sahabat Pusaka”
19.00 – 21.00
  • Sambutan selamat datang, pembukaan, dan pidato kunci: Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), I Gede Ardika (Ketua BPPI)
  • Makan malam dan ramah tamah
  • Kesenian
Jumat, 19/10/2012
Bank Indonesia Surabaya: Temu Wicara

09.00 – 12.00
Dialog dan Berbagi Pengalaman “Pelestarian Kampung di Berbagai Daerah”:
  • Sejarah dan Perkembangan Kampung di Indonesia
  • Permasalahan Pelestarian Budaya dan Lingkungan Kampung
  • Kemitraan dan Strategi Pelestarian Kampung
Moderator: I Gede Ardika, Catrini P. Kubontubuh
Pembicara: Timoticin Kwanda, Laretna T. Adishakti, Myra P. Gunawan
Peserta: Organisasi pelestarian se-Indonesia, observer, media, akademisi, umum

13.00 – 15.00
Lanjutan Dialog
Pembicara: Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik (MATASEGER), Warga Manukan (GAMAN), dan lain-lain
Peserta: Organisasi pelestarian se-Indonesia, observer, media, akademisi, umum

15.00 – 18.00
Temu Mitra Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia
Peserta: Anggota BPPI, Mitra BPPI

18.30 – 21.30
Rapat Dewan Pimpinan BPPI untuk anggota Dewan Pimpinan BPPI (Internal)

18.30 – 22.00
Jelajah Pusaka Surabaya: Mlaku-Mlaku nang Suroboyo untuk peserta

Sabtu, 20/10/2012
Kampung Kemasan, Gresik: Anjangsana Pusaka

07.30 – 09.30
Perjalanan Surabaya – Kampung Kemasan, Gresik

09.30 – 10.30
Sambutan Bupati Gresik di Pendapa Mijil, Alun-Alun Gresik

10.30 – 14.00
Jelajah Pusaka Kampung Kemasan

14.00 – 15.00
  • Perjalanan ke Kampung Manukan
  • Kampung Manukan, Surabaya: Anjangsana Pusaka, Pameran, dan Diskusi
15.00 – 16.00
  • Anjangsana Pusaka dan pembukaan pameran “Kampung Hijau dan Lestari”, serta bazaar
  • Pembukaan pameran: Pia Alisjahbana (BPPI) dan Lurah setempat
16.00 – 17.30
Diskusi: Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya
Moderator: Eka Budianta
Pembicara: Wakil kampung di Surabaya, Wakil kampung luar Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya

18.00 – 18.30
Rembug "Ikrar Surabaya 2012"

19.00 – 21.00
  • Bazar Kampung “Kuliner Suroboyo” (makan malam peserta dibeli di bazaar)
  • Pertunjukan Pusaka Rakyat: Musik Patrol, Remo, Ludruk Tjap Tunjungan
Minggu, 21/10/2012 
Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya
Seminar “Senarai Temu Pusaka Indonesia 2012”

09.00 – 10.30
Pidato kunci (@ 30 menit)
Pembicara kunci:
  • Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)
  • Joko Widodo (Jaringan Kota Pusaka Indonesia)
  • Dorodjatun Kuntjorojakti (BPPI)
10.30 – 11.30
  • Paparan hasil TPI 2012 – Surabaya: Aditya Nugraha, Catrini P. Kubontubuh
  • Ikrar Surabaya 2012 oleh seluruh peserta
11.30 – 12.00
Penutupan Temu Pusaka Indonesia 2012

12.00 – 13.00
  • Surabaya dan sekitarnya: Jelajah pusaka tambahan/opsional, biaya ditanggung peserta. Harap hubungi contact person masing-masing paket jelajah yang diinginkan, berikut:
Jelajah Pulau Bawean
Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik (MATASEGER).
CP: Bapak Noed (0859 3114 9472 | info.grissee[at]gmail.com)

Melantjong Petjinan Soerabaia
Komunitas Jejak Pecinan.
CP: Paulina Mayasari (0812 3047 311 | pitics[at]gmail.com)

Manic Street Walker 
Perpustakaan C2O.
CP: Anitha Silvia (0856 4543 8964 | anithasilvia[at]gmail.com)

Pendaftaran Peserta
Biaya Pendaftaran:
  • Rp 750.000,00 (umum/instansi)
  • Rp 300.000,00 (Anggota/Mitra BPPI; komunitas pelestari pusaka di/dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto)
  • Rp 150.000,00 (pelajar/mahasiswa)
Biaya pendaftaran meliputi:
  • Biaya pendaftaran, seminar-kit, transportasi lokal saat jelajah pusaka, konsumsi selama acara (kecuali saat Bazaar Kampung Manukan).
  • Biaya pendaftaran tidak meliputi biaya akomodasi/penginapan (ditanggung setiap peserta).
Pembayaran melalui:
  • Tunai, diserahkan paling lambat pada saat registrasi 18 Oktober 2012 kepada panitia
  • Transfer, via rekening bank: BCA No. Rek.: 1010791339 a.n. Elendra Tri Citra Buono. Scan bukti transfer mohon di-email ke firstarizkihuda[at]gmail.com
Unduh formulir pendaftaran sebagai peserta Temu Pusaka Indonesia 2012 - Surabaya:
  • Formulir pendaftaran dalam bahasa Indonesia (667.5 Kb)
  • Registration form in English (680 Kb)
  • Setelah form ini diisi mohon dikirim melalui email ke: Chandra Pratama Setiawan (083830313322/085731281988, chandra.pratama[at]petra.ac.id), Sultan Firstarizki H. (0857 3306 7701, firstarizkihuda[at]gmail.com)
Partisipasi Lainnya
Mengisi pameran di Bank Indonesia & Kampung Manukan, berupa:
  • Poster kegiatan organisasi dengan tema “Pusaka Rakyat: Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya” dengan format  kertas A2 (dilaminating press mika)
  • X-Banner atau Roll Banner organisasi/program
  • Brosur organisasi/program
  • Cinderamata kerajinan dari daerah masing-masing
  • Merchandising
  • Menuliskan pengalaman individu/instansi/organisasi pelestarian di daerah masing-masing terkait tema “Pusaka Rakyat: Pelestarian Kampung beserta Lingkungan dan Budayanya”. Tulisan agar dikirimkan melalui email  ke anugraha[at]petra.ac.id sebelum 11 Oktober 2012 (kurang lebih 750 kata, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris). Kumpulan tulisan akan diterbitkan dalam bentuk buku.
  • Menuliskan profil organisasi/institusi dan informasi aktivitas pelestarian dilengkapi foto-foto pendukung agar dikirimkan melalui email  ke anugraha[at]petra.ac.id sebelum 11 Oktober 2012 (kurang lebih 750 kata, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris). Kumpulan tulisan akan diterbitkan dalam bentuk buku.
Catatan Teknis untuk Peserta
  • Peserta dari luar Surabaya diharapkan sudah check-in pada tanggal 17 Oktober 2012.
  • Meeting Point bagi keberangkatan bus ke lokasi acara adalah di Balai Kota Surabaya.
  • Peserta Jelajah Pusaka Trowulan (Kamis, 18 Oktober 2012) membawa pakaian khas daerah masing-masing untuk dikenakan saat Malam Sahabat Pusaka (Pembukaan Temu Pusaka Indonesia 2012). Mengingat waktu yang terbatas maka bus yang membawa seluruh peserta Jelajah Pusaka Trowulan akan langsung menuju ke lokasi acara Malam Sahabat Pusaka di Balai Kota Surabaya. Pada acara ini peserta diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri dan organisasinya, termasuk menampilkan kesenian khas daerah masing-masing.
  • Bila membutuhkan bantuan dalam mengurus akomodasi penginapan selama di Surabaya harap menghubungi Agoes Tinus Lis Indrianto (HP: 0816 535 347)
Informasi Lebih Lanjut
  • Panitia merekomendasikan beberapa pilihan hotel di Surabaya dengan diskon khusus untuk peserta Temu Pusaka Indonesia. Informasi lanjut cek di sini atau hubungi Agoes Tinus Lis Indrianto (0816 535 347).
  • Unduh Proposal Kegiatan Temu Pusaka Indonesia 2012 - Surabaya (BahasaIndonesia - 3.8 Mb)
  • Download TOR Indonesian Heritage Gathering 2012 - Surabaya (English - 6.4 Mb)

#
*Co-pas dari web BPPI.

Mlekom,
AZ 

Saturday, October 6, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:28:00 AM |

Mie Aceh Rasa Jawa



Hahaha, judul ini begitu jujur. Apa adanya!


Ya begitulah. Ceritanya, bangun tidur tadi aku
googling "resep mi aceh". Dengan co-pas dari berbagai sumber, maka kuputuskan untuk mencoba resep ini:

Bahan utama:

400 gr mi kuning basah

250 gr daging kambing potong kotak 
3 bawang merah, blender
2 bawang putih, blender
30 gr taoge
30 gr kol
1 sdt cuka
850 cc air
3 daun salam
2 sdm kecap manis
1 bh tomat potong-potong
1 btg daun bawang, iris 

1 1/2 sdt garam
3 sdm minyak goreng

Bumbu halus:
4 cabai merah
5 bawang merah
3 bawang putih
2 cm kunyit
1 bh kapulaga
¼ sdt jintan
½ sdt merica


Caranya: 

  1. Rebus kambing dengan daun salam. Kumasukkan satu batang (entah berapa lembar, banyak) daun salam. Tak hanya daun, juga batangnya.
  2. Blender semua bumbu. Tumis. Masukkan kuah kaldu kambing dan dagingnya.
  3. Masukkan semua sayuran plus daun bawang dan tomat.
  4. Tambahkan mie. Aduk rata. Tambah kecap + cuka.

Malas goreng emping dan bikin acar timun-wortel-cabe-bawang, mi ini hanya kuhidangkan dengan krupuk putih yang memang ada di toples dan potongan timun.

Rasanya? Jauh dari Mie Aceh yang biasa kubeli. Malah mirip Mie Jawa, hanya beda di daging dan penggunaan bumbu kapulaga dan jintan. Entah apa bumbu rahasia di Mie Aceh yang tak hadir di masakan ini. Aku dan Oetha menduga bumbu kari. Hummm, entahlah. Eh, jangan-jangan isu "semua makanan Aceh pakai pucuk daun ganja" itu nyata, ya? Hihihi...


Satu perbedaan yang sangat terasa: Mie-nya! Mie Aceh yang gendut-gendut itu tak dijual di pasar Jogja. Maka aku menggunakan mie basah seadanya. Ya paling tidak, mie ini tetap enak dimakan. Artinya, usahaku pagi ini dengan adegan sejam ke pasar tidak sia-sia :)

Oh iya, gara-gara resep ini, aku jadi tahu:

  • cara menghilangkan bau anyir di kambing. Namun saranku, masukkan daun salamnya jangan kebanyakan, sebab ini mempengaruhi aroma hingga rasa dagingnya. 
  • merebus daging kambing tak membutuhkan presto. Di panci biasa bisa empuk dengan merebusnya kurang dari sejam. Apakah daun salam membantu proses peng-empuk-an ini? Entahlah.
Yang orang Aceh, bagi rahasianya, donk... :)

Mlekom,

AZ


Friday, October 5, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:03:00 PM |

Shocking Blue


Cantik banget, ya? Tapi secantik-cantiknya gaun ini, kalau aku yang pakai gak akan terlihat secantik ini. Hehehe :)

Satin dipadu lace. L
ipit plisket itu samasekali tidak terlihat kuno. Yang gak nyangka, warna biru muda bisa secantik ini. What a shocking blue!



Kalau aku jadi Mbak Kate, aku gak akan pakai rancangan ini di depan umum, biar gak ditiru orang, biar aku aja yang bisa menikmati kecantikan si biru ini.

Ah itu tak mungkin. Mana pulak Putra Mahkota Kerajaan Inggris nikahin anak Batak?


Mlekom,
AZ


*Foto-foto: Google Image
 
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata