Friday, June 19, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 9:22:00 AM | No comments

Tari Colorblock



Balet adalah salah satu gerakan yang diusung kelompok tari Introdans dalam penampilan mereka di Indonesia Senin (08/06) lalu. Sebab merupakan tarian fushion, mereka tidak menggunakan kostum khusus balet. Kostum hijau merah bertema colorblock ini menjadi satu dari rangkaian kostum yang membuat tarian mereka makin memukau.

Gambar diikutkan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 62: Hijau.

Mlekom,
AZ

Thursday, June 18, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Lima Malam di Surabaya

13-17 lalu di Surabaya untuk pekerjaan. Tiap malam dolan, daripada nggak sempat ngapa-ngapin! Aku nginap di hotel yang terletak di ujung berung-nya Surabaya. Hotel ini dipilih, agar dekat dengan jalur ke Sidorajo, tempat agenda kantorku. Nggak ada cara lain untuk menikmati kota, selain ngabur di malam hari.

Malam pertama
Dijemput Imam di hotel. Ngangkring di Angkringan Mak Joss di Jalan Bendul Merisi. Tempatnya asyik banget, mirip Raminten Kotabaru Yogya. Memang ini warung makanan Yogya. Ah, sate telor puyuh dan ususnya menggoda hati, tapi sayang sudah tiga bulan ini nggak konsumsi makanan berkolesterol tinggi. Jadi pesan bakmi goreng aja. Lumayan ngobati kangen Yogya, meski nggak seenak bakmi langganan di Concat.
Malam kedua
Masih ditemani Imam, dari hotel di Surabaya Selatan, kami bergerak ke Surabaya Utara untuk agenda Pasar Kampung Ampel (yang kudapat dari search event di Facebook). Kami datang kemalaman, makanan tinggal sedikit dan pertunjukan tinggal lagu arab di panggung.
Foto punya Imam.
Lumayan masih nemu pedagang kebab yang masaknya lama pisan tapi rasanya ajib. Juga sempat lihat poto-poto Ampel lama yang dipajang untuk pengunjung. Di sana ketemu Frenavit, teman Twitter jaman JALIN Merapi yang belum pernah ketemu offline. Fre datang bersama rombongan teman dari Kopdar Surabaya.
Foto dari tweet Fre.
Akhirnya kami nongkrong di nasi kebuli langganan mereka, tepat di sebrang gerbang Ampel. Enak, meski nggak sedahsyat nasi kebuli yang pernah kumakan di Solo (lupa nama dan tempatnya). Mereka ajak aku ikutan agenda Senin Bebek", agenda icip-icip keliling Surabaya. Mirip agenda 'Rabo Soto" milik anak-anak onliner Yogya. Untuk Senin, temanya bebek. Okesip! (yak kolesterol yak... itu bebek... itu kebuli kambing...)
Malam ketiga
Nggak sengaja siang tadi ketemu Awang, teman lama yang bergiat di pusaka Surabaya. Aku tanya tentang Peneleh, malah ditawarin nganterin. Alhamdulillah.
Soto Dhok.
Dari tempat acara di Sidoarjo (di mana kami sama-sama pameran di sana), mampir dulu makan soto asli Jombang, soto dhok (saat meramu ke dalam mangkok saji, ditambah kecap, botol kecapnya digebrak ke gerobak, bunyi dhok! Ngagetin, hahaha) dan magriban. Lalu kami berangkat ke Rumah Peneleh. Kebetulan Awang kenal dekat dengan penjaganya.
Andai bangunan cantik ini rumahku...
Di Peneleh hanya sejam, sebab nggak banyak yang bisa digali. Bapak 'juru kunci' rumah HOS Tjokroaminoto itu lagi keluar. Kami sempat melihat-lihat seluruh bagian rumah dan ngobrol dengan anaknya. Aku juga menolak ajakan Awang untuk menjelajah Kampung Peneleh ini, sebab sudah malam. Selain aku takut dengan makam yang bertebar di mana-mana (ya, bertebar. Ada makam yang berada di tengah jalan kampung), juga nggak enak ganggu warga yang sudah siap beristirahat.

Lalu ke Perpustakaan Kota di kompleks gedung Pemuda. Awang mau mengembalikan buku pinjamannya. Kami sempatkan mampir ke TIC yang terletak di samping perpus. TIC ini dikelola oleh Cak Ning Surabaya, Awang adalah mantan Cak. Di sana aku ambil banyak brosur wisata. Sayang di Rabu besok, hari terakhirku di Surabaya, bus jelajah kuliner Peneleh yang dikelola teman-teman Cak Ning ini sedang tidak ada jadwalnya.

Kami kemudian bergerak ke Kayoon, untuk agenda Senin Bebek. Eh, nggak nemu teman-teman. Belakangan aku tahu agendanya dipindah :) Akhirnya langsung ke hotel, sebab Awang akan berangkat ke Yogya. 

Malam keempat
Usai agenda kantor, aku dan teman niat mampir ke Museum Mpu Tantular. Kami jalan kaki dari GOR, tempat acara. Eh ternyata jauh (plang yang kami lihat tiap hari kalau mau ke GOR, ternyata menunjukkan arah belokan yang masih setengah jam lagi ke museum). 
Ki-ka: es selasih, baso.
Akhirnya sambil nunggu mobil jemputan, kami mampir ke warung Bakso Kuto Cak To yang unik banget. Setelahnya langsung ke hotel dan nggak keluar lagi. Cape banget. Lagian besok seharian bisa puas jalan.

Malam kelima
Kampung Ampel, Pasar Bunga Bratang, Museum WR Soepratman, Klenteng Hong Tiek Tian, Masjid Cheng Ho, Pura Agung Jagad Krana, Museum Loka Jala Crana, Gereja Kepanjen,  Monkasel, Masjid Peneleh. Ini adalah daftar yang kutulis untuk agenda hari ini. 

Pengen habiskan pagi di pasar bunga, sebelom dolan dengan temanku siang nanti. Tapi apa daya, malas tak terhingga. Habis subuhan tidur lagi, bangun jam 9, mandi, sarapan sampe resto hotel mau tutup. Sebelum sarapan telp operator minta kamar dibersihkan, selesai sarapan kamar sudah kinclong. Tidur lagi sambil nonton. Jam 11.00 packing. Setengah jam kemudian Cakpii sudah di lobi. Kami akan jelajah Kampung Ampel. Yay!
Gerbang masjid.
Tadi sempat telepon SHT, tapi jadwal hari ini penuh. Jadinya langsung ke Ampel, numpang solat dzuhur di sana. Ih, geli banget sama lantai tempat wudhunya yang berlendir, nempel di kaki (akhirnya gak cekeran, pakai sandal jepit di sana). Aku nggak ke makam Sunan Ampel, nggak hobi ke makam.
Tempat wudhunya. Duh!
Menarik melewati pedagang yang berjajar di tiap gang menuju masjid. Berasa di mana ya? Apakah di Arab? Entahlah, aku belom pernah ke Arab. Yang pasti, para pedagang memajang ragam kurma, pakaian muslim, ikram, kitab, minyak wangi, tasbih, kerudung, apapun. Aku sempat beli kerudung sebelum masuk masjid, sebab diharuskan menutup kepala.



Di ujung gang dekat parkiran, kami lihat satu warkop tua, lalu mampir. Agenda selanjutnya ke Gereja Kepanjen. Wuih, bangunannya megah banget! Kami cuma menikmati dari luar, sambil nongkrong lama menikmati ragam minuman di deretan warung depan gereja.




Selanjutnya, Masjid Cheng Ho! Meski ini merupakan bangunan baru, namun tetap menarik melihat-lihat keunikannya.


Cakpii hubungi temannya yang punya warkop. Kami mampir ke sana, sambil nunggu malam (aku berangkat ke Jakarta pukul 20.30). Warkop Troya namanya. Di sini baru dapat kopi yang bener :) 

Ternyata warkopnya dekat banget dari hotelku, tahu gitu tiap malam nongkrong di sini sama teman-teman kantor yang sakau butuh kopi. Oh ya, di halaman warkop ini ada soto Lamongan enak, kami makan malam di sana.

Warkop ini milik Cak Waw, salah satu seleb video animasi. Warungnya nggak sekadar tempat ngopi, tapi juga tempat ngumpulnya komunitas animasi. Kapan-kapan semoga bisa cerita lebih banyak.
Cakpii, aku, Cak Waw.
Sampai di sini kisah lima malam di Surabaya. Semoga ada malam-malam lain yang menyenangkan. Malam-malam ini nggak akan terlaksana tanpa dukungan semua pihak (belagak credit title film) yang dapat kusebutkan satu per satu:
  1. Imam Muttaqin untuk PP dua malam plus nyamperin lagi di hari terakhir plus ngasih cagak X-banner miliknya.
  2. Dito (Kopdar Surabaya) yang sudah datang ke Sidoarjo bawa charger kamera meskipun tetap nggak cucok.
  3. Awang Firmansyah yang sempatkan ajak dolan sebelum berangkat dan pinjamkan charger sekaligus kameranya.
  4. Cakpii yang sudah datang jauh-jauh dari Gresik, antar jelajah kota sejak siang panas hingga malam dingin.
  5. Cak Waw yang sudah mengenalkan lotion anti nyamuk dan untuk traktiran kopi di warungnya.
  6. Juga teman-teman baru di sana: Fre, Shellya, Aziz, dll yang aku gatau dan lupa namanya. 
Makasih, ya! Aku tunggu di Yogya!

Mlekom,
AZ


Posted by adrianizulivan Posted on 7:25:00 PM | No comments

Perjuangan di Kota Perjuangan


Jumat 12 Juni.

08.00 | Bangun kesiangan usai lembur semalam. Malas-malasan tarik koper 24' untuk isi beragam barang yang mau dibawa ke Yogya sore ini. Buku, baju, kurma (iya tiap pulang bawa ini, selalu ada di meja makan). 

09.00 | Tiba di kantor dengan ojek (biasanya pakai Tije, tapi malas seret-seret koper ke jembatan penyebrangan - halte). Kemarin sudah bilang ke supervaysor, mau masuk setengah hari saja sebab mau nengok adek sepupu operasi.

12.00 | Pekerjaan belum selesai juga. Operasi jam 14, yaudahlah gak usah nunggu operasi, yang penting datang. Sambil kerja, sambi pindahin barang-barang dari koper 24' ke koper 26' yang dipinjamkan bu supervaysor untuk membawa materi pameran dan tripod.

13.00 | Masih belum bisa pergi, mau ambil cetakan yang akan dibawa ke Sidoarjo.

14.00 | Ke percetakan di dekat Pasar Santa, lalu ke RSIA Cempaka Putih. Sampai di RS jam 15.00. Seluruh keluarga sedang nunggu di luar ruang operasi. Titip barang bawaan di Satpam, shalat, ke luar cari makan. 

16.00 | Lagi nunggu makanan, ditelp kalau operasinya sudah selesai, pasien dipindah ke ruang rawat.

16.30 | Si adek siuman, lalu ngobrol sebentar.

16.45 | Pamit ke bandara. Sudah check in online, tapi tetap deg-degan jelang berangkat pukul 19.35. Takut drop bagasi sudah tutup, padahal bawa koper segede itu.

18.00 | Tepat sejam sebelum take off. Untung tadi sudah makan.

21.00 | Clingak-clinguk cari taksi, disamperin tukang ojek. Akhirnya memilihnya, setelah si bapak memastikan kalau ia bisa membawa koper segede itu. Lalu ketemu nCen.

22.00 | Sampai rumah.  Mama Papa kaget. Sambil makan cerita kenapa cuma mampir, kenapa bentar banget di rumah, dst. Lalu tidur.


Sabtu, 13 Juni.

02.00 | Alarm bunyi, juga dibangunin Papa. Mandi. Langsung ke stasiun Tugu. Duh, salah lihat jadwal, kirain berangkat 03.30, ternyata sejam kemudian. Mama turun nunggu sampai berangkat, si Utha nunggu di mobil sambil tuntaskan kantuk.

04.30 | Berangkat. Coba tidur susah sekali, entah karena dingin entah karena apa. Yang pasti makin terganggu dengan (ahem) bau mulut pagi hari bapak-bapak yang duduk di sebelah :(

08.30 | Tiba di Surabaya, hubungi hotel untuk early check in. Kepengen mandi lagi sambil sedikit istirahat. Dijadwalkan rapat dengan orang dinas pukul 10.00. Ini yang bikin aku bela-belain naik kereta tengah malam, sebab pesawat termurah akan membuatku telat dua jam dari jadwal rapat.

09.30 | Turun ke resto hotel, sarapan. Langsung gabung dengan teman-teman yang sudah di Surabaya sejak kemarin.

10.00 | Tim Dinas yang ditunggu belum tiba. Ternyata mereka ambil pesawat pukul 09.00. Gondok banget aku!

11.00 | Tim Dinas hubungi kami, mereka baru sampai hotel dan ingin istirahat dahulu. "Sebab kami tadi berangkat dari rumah jam 02.00, jadi kami akan gabung setelah dzuhur." OKESIP! Kami putuskan untuk langsung ke TKP di Sidoarjo.

Oh ya, ceritanya kami datang untuk mendampingi tim Dinas tsb untuk membuka pameran di sebuah ajang nasional. Dinas ini terpilih menjadi finalis dalam sebuah kompetisi inovasi yang diselenggarakan Kementerian. Kami membantu dari urusan duit (bayar tiket, hotel, hingga bahan dan alat pameran), hingga urusan tenaga (jaga booth, dokumentasi, hingga... pemasangan materi pameran!). 

Kami beri dukungan ini, sebab Dinkes mendapat kesempatan meraih penghargaan tersebut atas inovasi yang dilakukan dengan menggunakan sebuah sistem yang kami bangun.

11.30 | Kami tiba di Sidoarjo, mampir ke kantor cabangn di kota ini untuk meminjam LED. Lalu ke lokasi acara. Seluruh booth (ada puluhan), sibuk didandani dengan beragam perangkat profesional. Booth Dinas kosong melompong, belom tahu mau diisi apa. Ya, untuk itulah kami datang hari ini. 13.00 Dinkes hubungi bahwa mereka sedang makan di hotel. HUFFF!

14.30 | Akhirnya yang dinanti-nanti tiba! BAYANGKAN JIKA AKU BISA TIDUR NYENYAK DI RUMAH YOGYA SAMPAI SESORE INI. HUFFF! "Kami serahkan saja kepada Mbak," kata orang Dinkes saat ditanya rencana menghias booth. YA KALAU GITU NGAPAIN MEREKA KE SINI, KALAU KAMI JUGA YANG MENGERJAKAN?

16.00 | Kami putuskan untuk mencetak sejumlah poster raksasa untuk menutupi ketiga sisi dinding. Lalu membuat sedikit gambar rencana penempatan barang-barang.

16.30 tiba di Snappy, percetakan di Surabaya. Snappy bilang bisa selesaikan cetakan besok pagi. Kami tawar jadi jam 00.00 dini hari, mereka tawar pukul 01.00 dan cetakan diantar ke hotel.

17.30 | Macet, orang pada ke arah Tunjungan untuk malming. Kami sempat mampir ke Gramedia beli ATK. Sejam baru sampai hotel yang terletak di pinggiran Surabaya ini. Memang diambil yang dekat ke arah Sidoarjo. Beli siomay nggak enak di seberang hotel. Tiduran sambil nonton TV.

19.00 | Temanku orang Surabaya datang, tadinya sempat mau batalin janjian karena capek. Akhirnya nongkrong, makan lagi.

23.00 | Sampe hotel lagi. Nggak bisa tidur sebab harus ke Sidoarjo jam 01.00

01.30 | Ditelp, suruh siap-siap. Di jalan rebahan, berusaha tidur.

02.00 | Tiba di Sidoarjo, langsung beberes booth. Yang laki-laki pakai manjat-manjat pasang poster, yang perempuan urusan lihat tu poster miring atau nggak. Selain tim kami, Tim Dinas juga kerahkan dua anak mudanya--yang keduanya cewe, sehingga cuma masang foto-foto kegiatan mereka. Oh ya, foto-foto ini dan sebuah poster ukuran spanduk adalah dua-duanya materi pameran yang mereka bawa. HUFFF.

03.00 | Kembali ke hotel. Aku nggak bisa tidur sampai adzan. TEman-teman akan kembali ke Sidoarjo pukul 06.00.

05.00 | Aku watsap teman, bilang nggak sanggup mo berangkat dan mau tidur sampai jam 09.00. Daripada sekarang tepar dan tiga hari ke depan nggak sanggup ngapa-ngapain.

09.00 | Sudah duduk cantik di restoran. Ketemu dua teman yang semalam pasang poster. Mereka jam 11 mau ke bandara, jadi nggak ikut ke Sidoarjo.

10.00 | Tiba di TKP. Semua sudah beres. Aku ambil bangku, nyalain laptop di meja. Tengah hari nggak kuat, langsung rebahan di lantai (yang berkarpet itu), masuk ke bawah kolong meja (yang ada taplak panjangnya itu), tidur.

13.00 | Bangun, makan makanan yang sudah dibelikan Tim Dinas. Shalat.

17.00 | Sampai di hotel.

19.30 | Dolan bareng teman Surabaya sampai jam 22.00

22.30 | Akhirnya bisa tidur dengan benar.

Gambar diambil temanku saat tidur ronde kedua di booth, kali ini nggak masuk ke bawah meja :p Ini akan menjadi kenang-kenangan tak kan terlupa tentang cerita tidur di Surabaya si Kota Perjuangan. Ah, memang ke Surabaya kali ini penuh perjuangan... *lebay* 

Mlekom,
AZ


Wednesday, June 10, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:13:00 PM | No comments

Kanker Castro


Pemuda kelahiran 7 November 1989 ini menderita kanker di bagian mata kirinya. Castro Suharno, namanya, tinggal di Dusun Wino RT 01/RW 07, Sumub Lor, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Ia merupakan putra dari bapak Sopari (52) dan ibu Rutini (49). Ayahnya bekerja sebagai buruh batu bata, sedangkan sang ibu adalah buruh tani.

Saat ini keluarga ingin mengobati kanker Castro, namun mempunyai kendala biaya. Tidak diketahui apakah keluarga ini sudah terdaftar di BPJS atau belum. 
Adalah Putri, tetangga keluarga Castro, yang memberikan informasi ini kepada saya. Jika ingin membantu, silahkan menghubungi Mbak Putri di nomor 082136030836 dan WA 085729431147.

Update per 12 Juni 2015, dapat masukan informasi:
Jika ada yang ingin menyumbang, ada baiknya sebagian dana tersebut digunakan untuk mendaftar BPJS Mandiri (jika Castro belum terdaftar). Bayar iuran selama setahun: 12 bulan x Rp 25.500* per bulan = Rp 306.000. Dengan jumlah ini, Castro dapat berobat selama setahun.

Meski sudah didaftarkan ke BPJS Mandiri, baiknya tetap didaftarkan ke BPJS reguler. Jika menunggu pendaftaran reguler, maka akan memakan waktu lama, sehingga sulit untuk membawa Castro berobat sesegera mungkin akibat panjangnya alur administrasi pendaftaran. Tentu saja, harga pelayanan kesehatan dengan BPJS lebih murah dibanding membayar langsung tanpa asuransi.

*Rp 25.500 adalah iuran minimal. Tak ada perbedaan layanan medis, hanya perbedaan ruang rawat inap.

Semoga kanker Castro segera tertangani...

Mlekom,
AZ


Monday, June 8, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:46:00 PM | No comments

Dua Kabupaten EMAS Peroleh Penghargaan


Gelar Pameran dan Simposium Inovasi Pelayanan Publik Nasional 2015

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) berikan penghargaan bagi Top 25 Inovasi Pelayanan Publik di Jakarta (29/04) lalu. Ini adalah pengharagaan bagi inovasi pelayanan publik yang muncul dari berbagai instansi pemerintah pusat maupun daerah di seluruh tanah air.

Agar masyarakat dapat mengetahui apa saja inovasi tersebut, Kementerian PANRB mengadakan “Gelar Pameran dan Simposium Inovasi Pelayanan Publik Nasional 2015” yang dilaksanakan di Sidoarjo, Jawa Timur pada 14-16 Juni 2015 lalu. Agenda ini tak hanya mengundang Top 25, namun juga menghadirkan Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2015.

Dua kabupaten yang menggunakan Sistem informasi jejaring rujukan (SIJARIEMAS) yang dikembangkan oleh Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS), sebuah program yang didanai USAID, berkesempatan menjadi Top 99. Kedua kabupaten tersebut adalah Pinrang (Sulawesi Selatan) dan Karawang (Jawa Barat).
2.
3.
4.
RSUD Lasinrang Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan bahkan menjadi finalis di ajang United Public Service Awards (UNPSA) 2015 yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Inovasi dari RSUD Lasinrang ini bernama “Pengembangan Unit Perinatologi Menurunkan Kematian Bayi”. Inovasi ini berhasil menurukan angka kematian bayi dari 11,5% menjadi 4,15%. 


5.
6.
7.
8.
“Call Center SIJARIEMAS” merupakan inovasi yang menempatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang di jajaran Top 99. Inovasi ini merupakan sebuah program terintegrasi yang menempatkan sejumlah bidan untuk berjaga selama 24 jam di Call Center. Call Center ini, selain memantau sistem rujukan kegawatdaruratan maternal, juga melayanin tanya jawab seputar informasi kesehatan kehemilan.
9.
10.
Simposium ini diisi dengan seminar, workshop dan pameran.  Ketika membuka agenda tersebut, Menteri PANRB Yuddy Chirsnandi mengharapkan agar kegiatan ini mampu menjadi salah satu cara untuk meningkatkan inovasi pelayanan publik di seluruh instansi pemerintah.

Keterangan Foto:
  1. Tim Call Center SIJARIEMAS Karawang (ki-ka): Ema Maria, Nisa Novianti Agustini, Dr Yayuk Sri Rahayu MKM (Kasie Kesga dan Gizi Dinkes) dan Dr Yuska Yasin (Kadinkes)
  2. Drg Siti Hasnah Syam, MARS, Direktur RSUD Lasinrang, merasakan perubahan pesat yang terjadi di unit kerjanya, sejak mengadopsi SIJARIEMAS.
  3. Informasi SIJARIEMAS yang dipamerkan RSUD Lasinrang.
  4. Menteri PANRB Yuddy Chirsnandi beserta Gubernur Jatim Soekarwo kunjungi stand RSUD Lasinrang
  5. Nisa Novianti Agustini (Bidan Call Center Dinkes Karawang) jelaskan tentang aplikasi SMS SIJARIEMAS.
  6. Ema Maria (Bidan Call Center Dinkes Karawang), tunjukkan cara kerja SIJARIEMAS kepada pengunjung.
  7. Seorang pengunjung melihat poster berisi cara kerja SIJARIEMAS.
  8. Suasana stand SIJARIEMAS Karawang.
  9. Suasana pembukaan Gelar Pameran dan Simposium Inovasi Pelayanan Publik Nasional 2015.
  10. Suasana seminar, berisi pemaparan Top 25.

AZ

Friday, May 29, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:07:00 PM | No comments

It's Tommy Page. Do You Know His Song?


"What was the name, again?" I asked Suci on the phone this afternoon.
"It's Tommy Page. Do you know his song?"
"Nope, I guess..."
Than we laughed.

Suci is asking if I would go to this concert. Her friend canceled to go and the ticket can't be refunded. I just said yes, since the venue is just 5 minutes' walk from my home. Furthermore, when else could I watch an international concert for free?

Even though I have money to buy the ticket, I'm not a person who wants to spend lot of amount 'just' to watch a music show. Never! So this was my very first time watching an international music artist performance.

Two hours before the time, I was having dinner while plugged the camera battery charging and listen to Tommy's video tracks on YouTube. There's only one that I know: Shoulder to Cry On!
Watching him through the 'hole's space' between audiences's hands.
I arrived at the venue 30 minutes before the gate's open. Suci and the other friend is still having their dinner somewhere around. 10 minutes after that, I saw some white and local people walking to the gate and just passed by. 

Suddenly some people in front of me asking each other: Is that Tommy Page? Was that him? And the bla bla bla... And camera persons that had waiting for him for so long, just getting their cam on while the Tommy and his team is already disappear.

It's like... nobody realized that it was him! Yes he wore a white 'plain' t-shirt with jeans, just like other people--or the others are more stylish. Or... people no longer recognize his face?
Suci, her friend and I.
When Suci came, we took some pics on the photo booth till we missed Angel Pieters's performance--the opening artist. "This is it, that 880 rupiahs?" we we so surprised, like the amount of money doesn't 'accord' to the seat we got.
Here this far we go :)
Our tickets is silver, the cheapest one. We were like three rows from the back or about 10 rows (if I'm not mistaken) from the stage! The worst thing is, the seat was not arranged as stadium/theater seating. So you can only watch the head of the people in front of you, and the people in front of the people in front of you, and the head of the people in front of the people in front of the people who sat in front of you, and so on! You must know what I mean :)
Wristband for silver ticket.
Tommy Page was astonishing! We didn't know all of his song, but we do enjoy the show! The music is easy listening; And for me, I feel differences on the music itself--between his video clips and this live performance. Seems like the live music is more 'contemporary' than it was! I don't know, I am not sure...maybe.

"I guess these songs are the songs when you were in Junior High, or it's the song of your mom and that, or... you were not even born!" said Tommy.  Well I was 6 when he launched the "Shoulder to Cry On", and I just know this song so very long years after that!

Audiences keep yelling every time he started to sing a song. Most of them know what song he will sing, when they hear the intro music. It was amazing to see them sing with him; getting mellow when he sung heartsick song and danced when Tommy asked them to, in merry songs.


Watch the show from people's cam!
I saw a couple about 50 y.o, sing along from the beginning until the end of the show! Two young ladies around 40s keep screaming, make some conversation about some song that maybe popular on their high school memories. A girl in front of me kept her video cam on, even the committee forbids it. A group in the mid rows brought heart-shaped flags, with patches of Tommy's face there. I'm sure they are his biggest fans!

Tommy gave one word or two to introduce his every song. There was a fan in Indonesia who asked him to sing a song (I don't remember the title) for her late Mom. This day is her mom's birthday. Tommy said this before he sang the song. [Later I found her, the fan. He met Tommy (and he follows her Twitter acc!) the day before... and I can imagine how happy she was! Look at her tweets here]
Opening song.
The Sound of Music.
City of NYC. My fave!
A mellow song.
Latest v-clip.
The stage was fantastic. They played many different backgrounds with visual-story-pics or video, related to the story in each song. The picture of his boarding house when he studied in NYC is my fave one. He also sang his son's fave song from the soundtrack of The Sound of Music movie. And his newly launched video clip was also appearing when he sung this remake song.

Different with the first time I saw him in front of the gate, his style on the stage wasn't that 'plain'. He looks gorgeous on that white formal blazer set, and even more, when he take the blazer off and let us see his black shirt (my fave color for man's formal shirt!). Hey you know what: This youthful-face-guy is a father of three!


Besides singing (and write his own song), he is also a piano player! He played it on some song, I was like... WOW! For me, a man who plays piano is as sexy as basketball player. Hohoho!


With Angel.
Once I know who is Angel Pieters (from Suci), then I realized that she was the one from an idol contest for kiddos. She has stunning voice, but she had a worst dress (ever, as I watched the TV show when she was the participant of the idol's competition). Why now she looks like over-age, her outlook is just like "tante-tante" (ladies around 30-40 y.o). "It's MNC, her management, who 'build' her like that. They want her to run-out of her childhood and get ready for mature image," said Suci. Well, I still can't believe it's her! :) #gossiptainment #stopit
Suci, sing along with lyric.
Finally, the only song we know--the Shoulder to Cry On--was sung as the ultimate. Suci and I get our phone and search for the lyric. So we can sing along. Yay!


And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there,
I'll be your shoulder to cry on,
I'll be there,
I'll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there.


The show ended cheerfully. I saw everyone keep seated till the end of this two hours show. There's a baby boy slept comfortably on his dad's lap. Some people, including us, go back to the photo booth to take more and more pics.



We didn't know the song, but we came around just to know how it feels to watch an international expensive concert show. "It's okay if we didn't know the song, the important thing is... it is expensive!" said Suci. "Let it expensive, but the most important is... you don't have to pay!" said our friend.
Blowing a good night kisses to Tommy :)
At home, I looked at various hashtag about this show on socmed. Found some audience like us: didn't know the song, but so lucky to have the opportunity to watch this spectacular show with no money.

Thank you Suci, for gave me the ticket. Thank you Tommy for the really nice performance. You guys made my day! :)



Update (31/05): Agung Firdaus, a friend on Facebook, show me his ticket of Tommy's concert in Indonesia in 1990. Fantastic! 

Mlekom,
AZ

Thursday, May 28, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:51:00 PM | No comments

Akhir Pekan Ini & Awal Pekan Besok


Kapan ke Yogya lagi? (tulisan ala Dagadu Yogya di banyak sudut kota)
Akhir pekan ini! (jawaban untukku)
Yay!

Mudik kali ini sudah direncanakan. Tiket sudah dibeli lama (meski semalam ada kehebohan saat mengganti jadwal tiket keberangkatan). Kepulangan ke Yogya pekan lalu sangat menyenangkan, banyak hal yang dilakukan hanya buat aku, sama kamu. Pengennya akhir pekan ini juga begitu.

Teman jalanku suka marah kalau aku bikin agenda dadakan. Jadi, sekarang aku rencanain aja. Begini...

Sabtu, 30 Mei
Tiba di Yogya jam 8 malam, langsung ke Foodfest Jakal yang akan tutup. Mungkin akan ajak teman-teman ngumpul di sini sekalian. Setelahnya, pulang. Bobok.

Minggu, 31 Mei
Yang pasti nengokin Cencen. Selanjutnya belum tahu mau ke mana. Oh, ada temen yang lagi ke Yogya, ngajak ketemuan *sejujurnya nggak tahu itu siapa (mau nanya, sungkan) tapi kalau dia tahu nomor pribadiku yang nggak banyak diketahui orang lain, pastinya dia teman yang nomornya belum kusimpan sejak ganti hape :p

Senin, 1 Juni
Jam 5 pagi berangkat ke Magelang, untuk melihat prosesi Pindapata (selama ini gagal terus karena bangun kesiangan). Jam 9 pagi pulang ke Yogya. Selanjutnya tidur.

Selasa, 2 Juni
Ke Prambanan jam 7 pagi, untuk lihat perayaan Waisak di Candi Sewu--sebab Waisak di Borobudur adalah mainstream! (halah, padahal sudah 3 kali mBudur saban Waisak, sejak jaman bau kencur pegang kamera). Lalu ke Saoto Bathok di utara Candi Sambisari (kepengen gegara temen). 

Rabu, 3 Juni
Balik Jakarta. Hiks.

Semuanya di akhir pekan ini dan awal pekan besok. Ada yang mau turut?

Gambar grafiti burhan di salah satu ruang publik Yogya.

Mlekom,
AZ


Posted by adrianizulivan Posted on 11:55:00 AM | No comments

Menumpang Pejalan, Menampung Penginap


6 Mei 2015 siang terbang ke Surabaya untuk bekerja di Nganjuk keesokan harinya. Itu Kamis. Kupikir ada asyiknya menghabiskan akhir pekan di Surabaya.

Seperti biasa, andalan jika membutuhkan informasi agenda menarik adalah: klik "event this week" di Facebook. Keluarlah dua agenda di tanggal 9 Mei. Pertama Jelajah Pecinan Surabaya yang diadakan temanku Ci Maya, dan kedua Meet and Greet Anton Krotov yang diadakan Couchsurfing (CS) Surabaya. Sebab aku sudah pernah jelajah pecinan bersama Ci Maya, kuputuskan untuk mengikuti agenda obrolan itu saja.

Anton Krotov bagiku nama yang asing. Ternyata, ia adalah seorang pejalan asal Rusia. Ia sangat populer di kalangan pejalan internasional, seperti CS dan Hitchwiki. Yang menarik adalah, Anton memberi kuliah pada kelas-kelas singkat di banyak kota/negara. Kelas ini biasanya tentang bagaimana cara berjalan-jalan tanpa mengeluarkan banyak uang. Itulah kurikulum utama di Academy of Freedom Travels (AFT), dimana Anton menjadi Presidennya.

Selain--tentu saja hitchicking (menumpang kendaraan), juga menumpang rumah atau tempat berupa apapun yang dapat dipakai untuk tidur. Soal menumpang tidur ini, Anton memiliki misi khusus. Dalam sejumlah perjalanannya, ia menyewa rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap para pejalan bermodal cekak dari seantero dunia. Dinamainya "House for Everyone"--sebut saja HFE, ya!

Kebetulan di tahun ini, ia membuka rumah di kawasan Lempuyangan Yogyakarta. "Wah, dekat rumah!" pikirku. Sejauh yang kubaca, ia juga membuka kelas tips perjalanan di tiap rumahnya, termasuk di Yogya. Maka kuputuskan tidak mendatangi agenda Surabaya ini, aku lebih berminat berkunjung langsung. Lagipula, ketertarikan utamaku bukan pada tips bepergian murah, namun lebih kepada manajemen rumah tinggal tersebut.
Pertigaan ini, belok kanan!
25 Mei 2015 hari keduaku di Yogya. Akhirnya kesampaian mampir ke HFE! Kutelepon nomor Anton dan ia menjemput kami di depan Stasiun Lempuyangan. Kujelaskan bahwa kami tak akan menginap, sebab kami warga lokal. Kami hanya ingin mengobrol dan melihat rumahnya.

Hujan turun tepat ketika Anton tiba di stasiun. Di bawah guyuran air yang cukup deras, kami berjalan--tanpa payung--menyusur gang sempit nan panjang. Gang sempit yang bersih dan nyaman. Semua tertata baik, sebagaimana gang-gang lain di banyak pemukiman di Yogya. Gang ini terletak di Kecamatan Danurejan, persis di seberang stasiun Lempuyangan.
Ya, yang di tengah itu rumahnya.
Dalam lima menit, kami tiba di rumah itu. Tak terlalu banyak yang dapat dilihat, sebab Anton dan lima orang lain yang masih di sana, sedang sibuk menata barang bawaan. Ini hari terakhir HFE ada di Yogya. Selain kami, ada satu kelompok lain yang sudah menghubungi Anton hari itu. Mereka akan menginap, sekaligus menjadi pengunjung terakhir.
Suasana di dalam.
Sambil menunggu Anton dan temanku ke masjid untuk magriban, aku ngobrol dengan... ah aku lupa, sulit sekali namanya, salah satu penghuni asal Rusia. Bersama istrinya yang juga menginap di sana, dia akan ke Danau Toba dengan cara menumpang. "I know it will take a long time, maybe two weeks," katanya. 

Ia merasa, perjalanan dengan cara menumpang selalu menyenangkan. Ia akan melihat hal yang tidak dilihat oleh pejalan 'regular'. Berinteraksi dan melihat keseharian warga lokal adalah hal luar biasa yang akan didapat. Kini aku jadi tahu, bahwa menumpang tak sekadar alasan modal cekak. Ada yang melakukannya karena ingin mendapat pengalaman berbeda.

Percayalah, ini bacaannya: BUKU TAMU! #soktau
Anton datang dan meminta kami mengisi buku tamu. Kami adalah pengunjung ke 141 dan 142. Dari seluruh nama, hanya satu yang kami kenal, Fame. "Pengunjung rumah ini datang dari 17 negara," kata Anton. Mereka datang dan pergi semau mereka, tak ada batasan hari atau malam untuk menginap. Jika mereka menginap, lalu pergi dan ingin kembali lagi, itu diperkenankan.
35. Nama teman kami [semua kontak kusembunyikan]
Rata-rata jumlah penginap 10-20 orang per malam. Paling banyak hingga 30 orang--ini di akhir pekan. Di rumah yang sangat mungil itu, bisa kebayang bagaimana mereka merebahkan diri?

Sebab tak disediakan kasur/dipan, tiap penginap perlu membawa sendiri alas tidur masing-masing. Ada yang membawa tenda, ada pula kantung tidur. Anton mendapatkan rumah ini atas bantuan seorang anggota CS Yogya, lalu menyewanya selama tiga bulan.  

Mengapa Yogya?
Yogya tidak macet seperti Jakarta dan Surabaya. Yogya memiliki transportasi publik yang baik, dan semua orang ingin ke Yogya sebab potensi wisatanya. Apalagi budayanya yang menarik. Ini kata Anton.
Aturan jam malam di lingkungan sekitar.
Aku sangat menyukai peraturan di rumah ini. Ada aturan yang menurutku 'sangat Indonesia'; seperti rokok (meski orang Indonesia akan sangat sulit diminta tidak merokok di rumah, apalagi di pekarangan sekitar), minuman keras, pakaian sopan, harus mandi dan jam malam. Menurut Anton, secara garis besar aturan itu juga digunakan di rumah-rumah lain yang ia buka di berbagai negara. Hanya saja, ada penyesuaian sesuai situasi dan kultur setempat. "Nowadays it becomes common rules, everywhere," katanya.
Kamar mandi dengan wece jongkok di ujung sana.
Rumah ini disewa dengan perabotan dan alat minimalis. Hanya ada satu set kursi yang biasa digunakan di ruang tamu, kompor gas dua tabung dan sejumlah alat masak dasar, serta beberapa botol tempat gula, teh dan kopi. Sebagai tempat-tinggal-bersama yang boleh dimasuki siapapun, menurutku rumah ini cukup (!) bersih. Mungkin sebab aturan menegaskan penginap untuk ikut beberes.
Percayalah, ini bacaanya: GULA! #emangiya
Setelah menutup rumah ini, Anton akan menjelajah Malaysia. Mungkin akan kembali lagi ke Indonesia. Apakah rumah yang sama akan dibuka lagi di tempat lain di Indonesia? "Me? Not!" seru Anton. Namun tak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang melakukan hal sama, meski tidak di bawah manajemen Anton. "You can make it if you want!"

Ini yang sangat menarik bagiku. Jika punya rumah nanti--yang entah kapan--aku sangat ingin membuat rumah singgah seperti ini. Keinginan yang sudah terencana sejak empat tahun lalu...

Di seberang sana adalah stasiun.
Sebagai pejalan dengan jam terbang tinggi, aku salut dengan Anton yang selalu menyempatkan beribadah, bahkan di masjid yang jaraknya tak dekat juga dari rumah ini. Sebagai orang Rusia yang kukenal sangat kaku (jaman kuliah punya beberapa teman Rusia yang kalau duduk aja pakai aturan kaya tentara lagi di barak), aku salut dengan keramahan teman-teman di rumah ini.

Kutawarkan rumah keluargaku untuk menginap, jika mereka ingin kembali ke Yogya. "I don't live here, but friends from some country are just come, meet my family and stay," kataku. "Inshallah," jawabnya--Anton sangat sering menggunakan kata ini.

Trims telah berbagi cerita. Cerita seru tentang mereka yang menumpang pada pejalan lain, tentang dia yang menampung para penginap. Sangat menginspirasi! [ini salah satu contoh rumah sejenis]

Gambar paling atas: Anton di kiri, aku paling kanan (dua lainnya lupa nama...). Rekap kunjungan di House for Everyone Yogyakarta dapat dilihat di Facebook Anton di sini.

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata