Monday, January 31, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 8:35:00 PM | No comments

Bersedia Digaji Rendah itu Utama. Kualifikasi itu Setelahnya!

Terhitung 1 Januari, aku resmi masuk dalam golongan orang-orang yang menganggur. Jika bulan ini masih ada kesibukan sebagai relawan JALIN Merapi, bagaimana seterusnya? Waaa, musti cari kerjaan baru nih!

Kerjaan yang kuinginkan adalah kerja tidak di belakang meja di Jogja dengan gaji tinggi. Hehehe, mana ada??? Di Jogja itu gaji S1 ya 1 jutaan saja, sebab UMR hanya Rp 850 ribu! Apalagi, Jogja tidak menawarkan pekerjaan sesuai spesifikasi keahlianku.

Atas izin Cindil dan seluruh keluarga, dengan berat hati kubuat lamaran di sebuah media. Mereka tertarik dengan resumeku dan menanyakan expected salary untuk di Jakarta. Jawabku:


Hummm, barusan saya coba berhitung kebutuhan bulanan jika di Jakarta:

Kost (*): IDR 1.000.000
Makan (IDR 30.000 x 3/hari = IDR 90.000 x 30 hari): IDR 2.700.000
Transport: IDR 750.000
Lain-lain: IDR 500.000
Total: IDR 4.950.000
(*) harga bawah dari harga-harga disini http://www.kostjakarta.com/search/kost%2Bdi%2Bkelapa%2Bgading/

Sementara, itu kebutuhan dasar saya. Saya ingin pula menanyakan apakah saya memperoleh hal-hal lain seperti asuransi, dan apakah tugas mencicipi makanan akan ada alokasi dana tersendiri?


Balasannya:

Adriani,

I like your answer. :) Unfortunately, I can’t satisfy everyone based on that. Let’s put it this way .... We’re offering 2.5-3 Juta for entry level social media manager posisiton. Honestly, this is the standard in Jakarta for such position. It is also comparable to other reputable companies in the field.

So, let’s work out your numbers. If you think you can survive with such salary. We can continue with an online test.

Thank you,


Jawabanku:

Dear HRD,

I don't like it, since your answer doesnt match to my numbers, hehehehe ;)

Im just trying to recalculate it:
By the same price of Kost-kostan and Lain-lain (dont wanna take risk of these two needs), I will survive with IDR 3.350.000. If company pays the transport and bill while I am on my "icip-icip" duty, I can't wait for the online test.



Tidak berbalas. Wassalam!
Heran dengan perusahaan yang mencari pegawai dengan metode ini: Tanya dulu gaji yang diinginkan. Jika tidak sesuai dengan tawaran, lupakan dia!

Hey hey, perusahaan macam apa itu? Ah, tapi ini sungguh terjadi. Perusahaan media ini cukup besar. Tagline "Indonesia Online showcase about food and anything else related" menjadikan mereka cukup leading dalam dunia permakanan.

Ya sudahlah. Belom rejeki, nak! :)

Sunday, January 23, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:06:00 AM | No comments

Kebutuhan Lampu Penerangan untuk Pemantau Sungai

Banjir lahar dingin merupakan bencana sekunder dari erupsi Gunungapi Merapi 2010. Sungai-sungai di sekitar Merapi saat ini menjadi ancaman terbesar bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Hingga kini, tercatat ada hampir 5.000 jiwa pengungsi akibat banjir lahar dingin.

Bersama relawan dan masyarakat terdampak, JALIN Merapi bekerjasama memantau debit air sungai di kali-kali tersebut, terutama di wilayah Magelang (Jateng) dan Sleman (DIY). Dana khusus untuk pembelian lampu belum ada sama sekali, untuk itu dibutuhkan uluran tangan dari dermawan sekalian. Berikut info kebutuhan tersebut:

Wilayah yang saat ini sangat membutuhkan:
  • Wilayah Kecamatan Dukun terdapat 14 titik. Peta lokaso di sini.
  • Kec Sawangan & Srumbung ada sekitar 30 titik, peta sedang dibuat.
Jenis lampu yang dibutuhkan:
  • Bentuk lampu seperti ini.
  • Kapasitas lampu antara 500-1.500 watt dengan jarak efektif minimal 100 meter dan bisa menembus kabut.
  • Perlu tambahan NCB dan kabel rata-rata 50 meter/titik
  • Lampu bisa dibeli di Yogyakarta. Biaya yang diperlukan Rp 800.000 per titik dengan rincian sebagai berikut:
  1. Lampu Philips 1.500 watt Rp.375.000
  2. Kabel merk NYA 1 rol (50 meter) Rp.300.000
  3. MCB (Magnetic Circuit Breaker) Rp 25.000
  4. Biaya pemasangan oleh warga setempat (konsumsi, BBM, baut, isolasi, dsb) Rp.100.000
  5. Karena yang sangat membutuhkan ada 14 titik, maka jumlahnya 14 x Rp 800.000 = Rp 11.200.000
Mekanisme pemasangan:
  • Pemasangan dilakukan kerjasama Tim JALIN Merapi, Kompag Merapi dan warga di sepanjang sungai.
  • Info selengkapnya bisa menghubungi;
  1. Posko Jalin Merapi Dukun: 087834019273 a/n Bayu
  2. Posko Jalin Merapi Jumoyo:  085878280851 a/n Anang
NB:
Dibutuhkan pula radio komunikasi (handy talkie/HT) dan rig untuk koordinasi di lapangan antar pemantau banjir.

Cek URL berikut untuk donasi.

Adriani Zulivan,
berdasar keterangan Akhmad Nasir (Koordinator Newsroom JALIN Merapi) dan Bayu Sapta Nugroho (Koordinator Posko JALIN Merapi Dukun, Magelang)

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi dengan tautan berikut.

Monday, January 17, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:22:00 PM | 1 comment

Hotpants


Secara populer, kata itu diartikan dengan celana pendek super minim kekurangan bahan.

Aku mengklasifikasikannya dengan celana sangat pendek yang hanya menutupi areal panggul, yaitu tepat di bawah bagian dua "buah pantat" yang berbatasan dengan pangkal paha di bagian belakang; dan mencetak V
di bagian depan.
*
Malam ini aku menemani Cindil untuk presentasi di depan puluhan anak SMK dari Semarang mengenai pekerjaannya. Undangan jam 7-9 malam. Jika biasanya panas terik di siang hari dan panas gerah saat malam, Jogja hari ini dingin banget. Seharian hujan.

Cindil mendapat jatah presentasi sehabis jam makan malam, yaitu saat acara santai. Maka murid-murid SMA ini mengenakan pakaian bebas, jika di sesi sebelumnya mereka memakai seragam putih abu-abu.

Mengagetkan. Kami yang datang dengan berbalut jaket, mayoritas siswi ini mengenakan hotpants!

"Korban mode," kataku pada Cindil.

Salah seorang Ibu Guru, duduk dan berbincang di dekatku. Beberapa kali beliau mengeluarkan desahan yang menjelaskan bahwa beliau kedinginan. Pasmina yang dibawanya terus dibenahi letak posisinya di badannya.

"Iya nih Bu, Jogja lagi dingin banget," komentarku. "Anak-anak sampai tidak ada persiapan ya, Bu," lanjutku.

"Enggak. Kita (guru-guru) sudah mengingatkan bahwa tempat ini rindang, banyak pohon, sehingga udaranya dingin. Tapi ya mereka tetap pakai itu," kata Si Ibu sembari mengarah ke hotpants para siswi.

"Oooh, hahaha, saya kira karena taunya Jogja itu panas banget," sambungku.

"Enggak, Mbak," jawabnya berbisik. Itu lho, hotpants lagi ngetrend," lanjutnya.
*
Haha, benar kataku tadi: Korban mode! Kasian yah, terjadi penyeragaman gaya anak-anak muda, terutama remaja perempuan kita saat ini: kaos ketat, celana super pendek, rambut berponi, rambut panjang di-untel-untel ke belakang lalu diikat dengan karet rambut, dan seterusnya.

Ini gaya anak Jakarta, yang selain Bandung menjadi "ikon" mode untuk anak muda di seluruh wilayah Indonesia yang tentu saja satu sama lain berkultur berbeda, beriklim tak sama, dan beradat-istiadat beragam.

Kultur Jakarta yang senantiasa mengedepankan mode terkini yang mengacu ke dunia (yang dianggap) populer, yaitu Barat, tidak keberatan dan mayoritas masyarakatnya menganggap hotpants (dan tanktop) sebagai budaya baru yang dapat diterima.

Budaya dapat menerima ini, kemudian dilihat oleh remaja di daerah-daerah melalui tayangan televisi, internet dan majalah. Ikon mode contekan ini kemudian menjadi sebuah ikon baru yang dirujuk sebagai "tren mode bersama" untuk remaja putri Indonesia, tak peduli apa dan bagaimana budaya dan iklim yang dianut keluarga dan mayoritas masyarakat di daerahnya tersebut.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


[20130521: rgds, pic, fonts]

Tuesday, December 21, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:27:00 PM | No comments

Metro TV dan Pemberitaan Salah tentang Merapi

Berita Metro TV berjudul "Satu Per Satu Bocah Pengungsi Bertumbangan" kemarin--baca tautan berikut adalah bukan hanya berita ngawur, namun juga ngasal!

Aku pertamakali menemukan berita itu pada hari yang sama ketika beritatersebut dilansir. Aku mendapatkannya dari lansiran Gmail yang aku daftarkan dengan alamat email pribadiku untuk kata kunci "jalinmerapi" dan "merapi".

Kaget. Itu reaksiku pertamakali ketika membaca berita tersebut. Sebab aku sangat mengerti bagaimana kondisi warga Balerante di lokasi pengungsian Posdiklatpur Klaten. Sebagai barak yang setiap harinya (di luar kondisi bencana) melayani anggota TNI, tempat ini memiliki seluruh kebutuhan harian yang lengkap untuk disebut sebagai tempat tinggal yang layak. Ini alasan pertama.

Kedua, Posdiklatpur merupakan salah satu lokasi pengungsian yang mendapat sorotan banyak pihak, termasuk pemerintah. Ingat, tak sedikit lokasi pengungsian yang diperhatikan pemerintah. Pengelola tak akan sekenanya menangani pengungsian di sana.

Ketiga, berbagai LSM hidup bersama dengan para anggota TNI dan pengungsi di sana. Mereka datang dengan concern berbeda, mulai dari penanganan trauma, pendidikan anak, pemenuhan logistik, pemeriksaan kesehatan, hingga membantu pendataan aset warga desa seperti yang dilakukan COMBINE, lembaga tempatku bekerja. 

Selain itu, kami menempatkan setidaknya empat relawan JALIN Merapi yang menginap di sana hingga hingga seluruh pengungsi pulang, ditambah sejumlah relawan yang tidak tinggal di TPS (tempat pengungsian sementara), yang membantu kerja-kerja kerelawanan di siang hari.

Pasca membaca berita tersebut, aku langsung menghubungi Pak Jainu yang bertanggungjawab terhadap seluruh warga Balerante. Pak Jainu ikut kaget. Pasca wawancara via telepon tersebut, langsung kubuat tulisan klarifikasi. Lalu kutelepon lagi beliau untuk membacakan tulisanku dan mengeaskan poin per poin.

"Tidak benar bahwa anak-anak... ya, pak?" aku.
"Betul, Mbak. Anak-anak di sini ditangani oleh..." Pak Jainu.
"Jadi yang benar begini ya pak, bahwa..." aku.
..dst...

Dan, ajaib! Seperti berita-berita salah lainnya yang pernah dilacak oleh JALIN Merapi, Metro TV langsung menurunkan berita tersebut, tanpa klarifikasi apapun. Sayang, Metro TV yang cukup dipercaya ini terlalu sembarangan! Sayang, padahal TV One yang sejak bulan lalu dimusuhi" masyarakat Jogja akibat pemberitaan spektakular namun salah tentang Merapi, Metro TV menjadi salah satu sumber berita yang dipercaya. 

Tentu banyak pihak yang dirugikan terhadap pemberitaan ini, terutama Pusdiklatpur dan para relawan yang membaktikan dirinya selama berbulan-bulan untuk pengungsi di sana.

Aku menduga bahwa wartawan Metro TV yang mengambil video tersebut hanya merekam gambar tanpa wawancara. Adalah wajar ketika gambar yang terlihat di pengungsian korban bencana alam di H+40 dalam kondisi yang tidak ceria. Namun bukan berarti mereka terlantar!

Semoga ini kali terakhir munculnya pemberitaan tak benar yang tak punya dasar informasi dalam proses peliputannya.

Dengan sangat kesal,
AZ

Monday, December 20, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:18:00 PM | No comments

Klarifikasi Pemerintah Desa Balerante terkait Pemberitaan Metro TV


Berikut adalah berita yang dilansir oleh Metro TV News:


Satu Per Satu Bocah Pengungsi Bertumbangan
Sabtu, 18 Desember 2010 10:40 WIB

Metrotvnews.com, Klaten: Kondisi bocah pengungsi asal Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, memprihatinkan. Kondisi kesehatan mereka drop setelah sebulan lebih berada di barak pengungsian Markas TNI Dodiklatpur Klaten.

Hampir dua hingga tiga hari sekali ada saja ada bocah yang sakit. Mereka umumnya flu, demam, bahkan ada yang sampai diare.

Celakanya mereka seperti tak terurus. Sebab sudah tak ada relawan ataupun donatur yang membantu pemenuhan gizi mereka. Orangtua para bocah berharap, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memperhatikan nasib mereka.(ICH)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/mobile-site/video-detail.php?read=119017&tgl=2010-12-18

*
Sabtu (18/12) malam, JALIN Merapi telah melakukan konfirmasi terkait kebenaran berita tersebut kepada Kepala Urusan Pemerintahan Desa Balerante, Bapak Jainu, di barak pengungsian Markas TNI Dodiklatpur Klaten. Berikut keterangan beliau:
  1. Tidak benar bahwa kondisi anak-anak pengungsi Balerante di Posko Dodiklatpur menurun (drop). Di posko ini tiap hari beroperasi Pos Kesehatan dari Dinas Kesehatan (buka pukul 07.00-13.00) dan Posko Kesehatan milik TNI (beroperasi 24 jam). Memang ada anak yang sakit, namun itu hal wajar sebab penyakit yang diderita merupakan penyakit ringan dan tak pernah lepas dari pengawasan tim kesehatan.
  2. Tidak benar bahwa kebutuhan gizi anak-anak pengungsi tidak diperhatikan. Tim dari World Vision telah melakukan pelatihan bagi ibu-ibu yang mempunyai balita untuk membuat makanan tambahan. Kini ibu-ibu membuat sendiri makanan sehat untuk balitanya.
  3. Tidak benar jika anak-anak pengungsi tidak terurus akibat tidak ada relawan dan donatur. Hingga saat ini setiap hari anak-anak mendapat kegiatan eduktif dari relawan trauma healing yang turut membuka posko di sana. Selain itu, berbagai makanan untuk anak terus berdatangan dari sumbangan masyarakat.
  4. Saat ini, anak-anak SMP dan SMU Balerante belajar di sekolah-sekolah terdekat dari pengungsian, sedangkan murid SD oleh pihak TNI dibuatkan sekolah darurat. Sekolah darurat ini memakai sebuah ruangan yang terdapat di kompleks TNI dengan mendatangkan pengajar yang merupakan guru dari sekolah mereka yang rusak di Balerante. Mayoritas guru mereka adalah warga luar Balerante yang saat ini tidak mengungsi.
Dengan demikian, Metro TV News perlu melakukan perbaikan atas ketidakakuratan berita yang dilansir tersebut.

Yogyakarta, 20 Desember 2010

Humas JALIN Merapi
Adriani Zulivan
0274-411.123

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi dengan tautan berikut.

Monday, November 15, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:32:00 AM | No comments

Penjelasan mengenai Meninggalnya Relawan JALIN MERAPI di Boyolali

Keberatan JALIN MERAPI atas Pencantuman Foto dalam Berita yang Diterbitkan oleh Media Massa mengenai Kasus Meninggalnya Relawan JALIN MERAPI


Yogyakarta, 15 November 2010


Kami, atas nama seluruh simpul yang tergabung dalam Jaringan Informasi Lintas Merapi (JALIN MERAPI) menyampaikan keberatan atas pencantuman foto-foto yang tidak sesuai dengan isi tulisan untuk berita mengenai meninggalnya Heru Adiyanto, relawan asal Malang, Jawa Timur, yang bergabung dengan JALIN MERAPI.


Berikut kronologi peristiwa berdasar laporan Sinam M Sutarno, Koordinator Posko JALIN MERAPI IV Boyolali:




Almarhum, bersama empat orang rekannya, merupakan anggota Karang Taruna dari Bandulan, Kecamatan Sukun, Kabupaten Malang. Mereka bergabung dengan JALIN MERAPI pada 10 November 2010 dan langsung berkordinasi dengan Posko JALIN MERAPI IV yang berlokasi di Kantor KPUD Boyolali dan ditugaskan untuk sebagai relawan di dapur umum.
Minggu (14/11), almarhum terlihat sakit dan lemah, sebab secara tiba-tiba tidak mampu berdiri. Teman-teman di JALIN MERAPI IV lantas berinisiatif memeriksakan ke RS PKU Aisyiyah Boyolali. Almarhum menjalani rawat inap, terhitung sejak pukul 08.00 WIB. 
Akibat kondisi almarhum yang tidak membaik, pihak RS merujuk pasien ke Yogyakarta. Pihak JALIN MERAPI IV, setelah berkoordinasi dengan Posko Induk JALIN MERAPI di Yogyakarta, bermaksud untuk membawa pasien ke RS Panti Rapih Yogyakarta. Tim JALIN MERAPI telah bersiap untuk membawa pasien pada Senin (15/11) pagi ini.
Namun pada pukul 20.35 WIB pasien menghembuskan nafas terakhir. Tim medis yang saat itu berada di tempat kejadian menyatakan bahwa pasien mengalami sesak nafas akut. Menurut kolega almarhum dari Malang, berdasar cerita almarhum saat di RS, penyakit ini sudah sering terjadi sejak almarhum kecil, namun tidak separah kali ini. 
Keluarga turut pula menyatakan bahwa almarhum sering mengalami sesak nafas. Pesan pendek yang dikirimkan ke JALIN MERAPI oleh dr. Darmawan, dokter yang menangani pasien, turut memperkuat pernyataan tersebut: “Sampai di RS kondisinya sesak nafas berat dengan kelumpuhan anggota gerak.”
Pukul 21.00 WIB jenazah dipindahkan ke RSUD Pandan Arang, Boyolali, sebab RS PKU Aisyiyah tidak memiliki kamar jenazah. Pukul 23.00 WIB pihak keluarga berangkat dari Malang, setelah dihubungi oleh teman-teman almarhum, dan tiba di Boyolali Senin (15/11) pukul 06.00 WIB. Atas persetujuan keluarga, malam itu jenazah dimandikan dan dishalatkan oleh teman-teman Posko JALIN MERAPI IV bersama warga setempat.

Pagi ini, melalui Karsino (Asisten Sekretaris Daerah), Pemkab Boyolali mewakili masyarakat Boyolali yang merasa terbantu atas keberadaan almarhum sebagai relawan tanggap darurat erupsi Gunungapi Merapi di Boyolali, menyerahkan jenazah kepada keluarga.
Pukul 07.30 pagi tadi jenazah diberangkatkan ke kampung halamannya. Turut mengantarkan 4 (empat) kolega almarhum dari Karang Taruna beserta 5 (lima) perwakilan JALIN MERAPI IV. Jenazah akan dimakamkan hari ini juga, setelah tiba di kediaman. 
Pihak keluarga, diwakili oleh Novich Fiker SE, kakak almarhum, sebelumnya telah menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pada jenazah adiknya tersebut tidak terdapat tanda-tanda penganiayaan dan bahwa almarhum meninggal akibat sakit. Dinyatakan pula bahwa pihak keluarga menerima kejadian tersebut dan tidak akan menuntut pihak manapun, baik secara perdata maupun pidana.
Selain pihak keluarga, surat pernyataan tersebut turut ditandatangani oleh Sinam M Sutarno dan Choirul Anwar sebagai perwakilan JALIN MERAPI pada Senin (15/11) pukul 07.30 WIB di Kamar Jenazah RSUD Pandan Arang Boyolali. Direktur RSUD Boyolali, Asisten Sekda Boyolali, Kepala Kesbanglinmas Boyolali, dan sejumlah relawan JALIN MERAPI di Boyolali turut menyaksikan penandatanganan ini.

Bagian pemberitaan media massa yang perlu dikoreksi:

Sejumlah media massa nasional menurunkan berita terkait yang dilansir dari kantor berita Antara. Tidak ada keberatan dari kami atas isi dari tulisan yang diangkat, namun kami menyesalkan pemuatan foto yang sama sekali tidak berhubungan dan tidak sesuai dengan kasus yang diberitakan.
Berita online yang dimuat oleh TV One dan Surya, masing-masing menampilkan gambar evakuasi korban erupsi di lapangan dan  korban di ruang jenazah rumah sakit. Gambar ini tentu saja tidak dapat mewakili kejadian yang sesungguhnya. Gambar kantung-kantung jenazah yang menggambarkan korban akibat erupsi Merapi ini justru akan menyesatkan.
JALIN MERAPI merasa dirugikan dengan pencantuman gambar-gambar tersebut, sebab kami mengkhawatirkan terbentuknya asumsi negatif mengenai sistem koordinasi yang dijalankan oleh JALIN MERAPI. 
Tidak benar bahwa JALIN MERAPI tidak memperhatikan keselamatan relawan sehingga terjadi ada relawan yang meninggal akibat berada di lokasi berbahaya sehingga perlu dievakuasi oleh tim SAR dan/atau kemudian ditempatkan di kamar jenazah RS Dr Sardjito bersama sejumlah korban lain yang meninggal akibat erupsi Merapi.
Dengan ini, kami mengharap perbaikan dan pernyataan resmi dari kedua media atas kekeliruan tersebut.
Atas nama seluruh simpul JALIN MERAPI,
Adriani Zulivan,
Humas JALIN MERAPI


Wednesday, November 10, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 9:15:00 PM | No comments

JALIN Merapi di ANTV

Akhirnya, muncul video dari liputan "memaksa" yang dilakukan reporter dan kameramen ANTV ini. Nama relawan tertukar-tukar! :|


Untuk tautan asli di website resmi ANTV (Viva News) bisa dicek di sini.

Sunday, October 24, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:12:00 AM | No comments

Bagimu yang Ingin Menantang Batavia






Masih seru-seruan dengan RUU versi tim Yogya. Yang nggak dibayar malah lebih serius daripada gerombolan dari Batavia itu. Kok pada bisa jadi pejabat tho mereka..   [07102010 0815pm]


Biasa. Labelku cagar budaya. [07102010 0913pm]


Aku punya ide proyek bangun sistem info heritage dengan opengrinmep ku. Aku mau menantang Batavia dengan konsep sistem mereka yang mentah itu. [24102010 0116pm]

Itu SMS Cindil beberapa minggu ini. Mengenai kepedulian pada hal-hal berbau cagar budaya.

Aku dukung, sayang. I do. I will.

Semoga kamu juga peduli denganku, dengan kehidupan kita nanti.  Mungkin kamu bisa mulai dengan menulis Si S itu…

AZ

Sunday, October 17, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:05:00 AM | No comments

Tuu Kan: Kita Sehati!


Aku bilang: Kita itu sehati.

Tapi kamu selalu bilang: Engga donk, kita punya dua hati.

Kubilang lagi: OK, dua hati, kini menjadi satu.

Kamu pun bilang lagi: Enggak, aku gak mau. Pasti sakit. Hiii, medeni.

Lalu kubilang: OK, aku jatuh hati. Padamu.

*
Rabu, 13 Oktober lalu, aku dan kamu ikut sebuah FGD mengenai aktivitas media sosial. FGD dibagi dalam dua sesi. Kita berada di sesi berbeda, sebab kita mewakili lembaga yang berbeda. Kamu yang pertama, aku yang kedua.

Kamu di TKP sejak pagi, sedang aku datang siang setelah sesi kamu selesai. Eh eh, tanpa kita sadari *tanpa AKU sadari*, ternyata aku duduk di tempat yang sama dengan tempat yang kamu dudukin di sesi pagi. Aku menyadari ini saat melihat foto-foto yang di-tag di FB oleh lembaga yang mengundang kita.

FGD pagi. Lihat Cindil di kiri tengah


FGD siang. Lihat posisiku

AZ

Saturday, October 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:48:00 AM | No comments

Hanya Cindil dan Tuhan yang Tahu


“Ini henpon baru yang murah waktu itu,” alasannya ketika ditanya seorang teman kantor mengapa memilih henpon Nongkiya yang dipakainya. Henpon itu menggantikan henpon lamanya yang rusak pasca kena hujan. Ceritanya, Cindil bersama rombongannya naik truk bak terbuka di Sumatera Barat.

Itu cerita tahun lalu. Henpon yang masih digunakan sampai sekarang itu (“Gak ada alasan buat ganti, henpon ini masih bagus,” komentar Cindil) sudah tidak kelihatan lagi huruf dan nomor di tiap tombol keypad-nya. Hanya Tuhan dan Cindil lah yang tahu dimana letak huruf A, Z, E, W atau angka 0, 8, 1, 5, dst.

 
Hanya Tuhan yang tahu...

Yes, tidak ada yang masalah dengan henpon itu, memang. Tapi makin kesini, aku makin merasa mengapa Cindil SANGAT membutuhkan henpon baru, sebab:

  1. Phonebook henpon ini sangat terbatas. Cindil punya relasi luas. Tidak mungkin dia bisa memasukkan semua nomor henpon mereka.
  2. SMS storage-nya juga terbatas. Cindil membutuhkan lebih banyak space untuk kelancaran komunikasinya, termasuk dengan aku. Dia, meski dengan keterbatasan storage itu, sangat hobi menyimpan SMS.
  3. Henpon ini tidak memiliki fitur internet. Cindil yang sibuk dan aktif seringkali kesulitan mengakses email yang dia butuhkan ketika sedang mobile. Ini menyulitkan, tak hanya bagi kolega kerjanya, namun juga aku yang sering pengen ngobrol lewat YM.
  4. Cindil yang pesepeda ini selalu mendengar musik jika sedang bersepeda. Henpon miliknya tidak memiliki fasilitas musik. Hal ini membuat dia terpaksa membawa alat musik lagi.
  5. Cindil punya sense yang baik terhadap kejadian di sekelilingnya. Keman-mana bawa kamera saku digital. Andai dia bawa henpon kamera, pasti akan lebih banyak foto feature yang bisa dia hasilkan.

Nah, inti dari semua itu adalah: Aku yakin Cindil akan makin produktif jika dia menggunakan smartphone.

AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata