Friday, December 2, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 1:01:00 PM |

+31651666486

Gambar dari sini
+31 Alhamdulillah Ndil…

Itu twitku pasca dapet SMS.

Cindil: Test pake nomor londo k ayang. Pasti mahal. Aku sdg naik kereta k rmh mbak hasti
Aku: Alhamdulillah ayang… Aku bisa tidur nih klo gini *peluk ayang*

Mlekom,
AZ

Friday, October 28, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:57:00 PM | No comments

JALIN Merapi di Teng2Crit


Kita dapat undangan dari @argamoja, pengelola @teng2crit. Teng-teng crit adalah singkatan dari tenguk-tenguk crito. Bahasa Jawa yang aku tak tahu artinya. Namun, @teng2crit merupakan talkshow mengenai berbagai hal terkait dunia maya. Acara obrolan kaum onlen Jogja, di @AngkringanGK, sebuah angkringan tempat ngumpul para Mimin Jogja.

Aku dan Ndil datang mewakili JALIN Merapi.

*

*
Foto:
@argamoja di http://tengtengcrit.tumblr.com/post/12106546787/foto2-ttc8-satu-tahun-erupsi-merapi-2010

Video:
@fotodeka di http://www.youtube.com/watch?v=7-b1XMeKbF0&feature=mfu_in_order&list=UL

Tentang obrolan ini:
http://choro.wordpress.com/category/yang-anyar-anyar/
http://tengtengcrit.tumblr.com/post/12106419873/review-ttc8-satu-tahun-erupsi-merapi


Monday, October 3, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:11:00 PM | No comments

Kaos Baru Alhamdulillah…



[Sing it like the song "Baju Baru Lebaran"]
Kaos baru, alhamdulillah.
Dipakenya di Borobudur.
Yang dikasih si Cindil sayang.
Oleh-olehnya dari Bandung.

Sunday, October 2, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:30:00 AM | No comments

Samsidar Yusni

Ki-ka: Kakakku, ..., Yusni, ..., aku, Fauzan Anhar

Dapat berita mengejutkan mengenai kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpangnya. Salah satunya adalah Yusni, teman masa kecilku di Kutacane, Aceh Tenggara. Foto-foto ini bidikan papaku, tahun 1993.

Lihat berita menyedihkan itu di sini.


Mlekom,
AZ

Friday, September 23, 2011

Posted by adrianizulivan Posted on 12:44:00 PM | No comments

Saling Memotret





Aku ikut Ndil yang jadi narasumber sebuah talkshow di radio. Aku menunggu di depan studio. Saat break iklan, Ndil mengintip dari jendela. AKu motret. Eh terus si Ndil ikutan motret. Jadi motret-motretan (bahasa apa ini?!).

:)

Mlekom,
AZ


[20130511]

Saturday, September 17, 2011

Posted by adrianizulivan Posted on 9:55:00 PM | No comments

Kanal Porong, Situs Sejarah yang Menunggu Punah


Linimasa @paringwaluyo Tanggal 11 Agustus 2011

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa terdapat sebuah situs bersejarah di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Situs ini kini terancam punah, akibat bencana semburan lumpur Lapindo. Apa dan bagaimana? Simak tweet series dari linimassa Mas @paringwaluyo ini:
  • Th 1000 M, Raja Airlangga membuat kanal Porong utk antisipasi banjir di wilayahnya #lapindo
  • Kanal Porong itu dikerjakan dalam waktu 99 hari. Proyek besar pd jaman Airlangga #lapindo
  • Hasil penggalian kanal Porong, tanahnya dibikin tanggul kanan-kiri sungai dg alat yg sederhana #lapindo
  • Masa Hayam Wuruk, kanal ini jd jalur memasuki kerajaan majapahit, selain sungai mas di surabaya #lapindo
  • Irigasi kanal porong, n sungai2 kecil sekitarnya jd irigasi persawahan luas di jenggolo, wil majapahit #lapindo
  • Utk menandai kemakmuran porong n sekitarnya, Hayam Wuruk bangun candi pari, di desa candipari, porong #lapindo
  • Bahkan, pedagang2 Islam, jg gunakan jalur kanal porong utk masuk kawasan majapahit #lapindo
  • Di muara kanal porong, menuju ke surabaya, terdpt makam islam yg sangat tua #lapindo
  • Setiap jelang ramadhan, makam itu ramai dikunjungi orang. Makam terletak di daerah ketingan. Sbb byk ikan keting #lapindo
  • Konon makam itu ibu/kerabat walisongo, meninggal saat rombongan akan memasuki jalur kanal porong menuju majapahit #lapindo
  • Masa pendudukan belanda, kanal porong yg agak berkelok di desa kedungcangkring, oleh belanda jalurnya diluruskan ke timur #lapindo
  • Bekas kanal porong lama, yg dilurukan oleh belanda, disebut kali mati sampai skrng #lapindo
  • Pembangunan kembali kanal porong oleh belanda inilah yg jd sungai porong sampai saat ini #lapindo
  • Namun sjk kasus lapindo muncul, eksotika kanal porong bagi petani n petambak, rusak akibat pembuangan lumpur lapaindo smp skrng #lapindo
  • Lapindo, korporasi milik grup bakrie jd pencetus sjrah hitam bagi hancurnya peradaban di kanal porong n sekitarnya #lapindo
  • sudah berjalan 5 th lebih pembuangan lumpur ke kanal porong yg menyejarah, tak tau akan sampai kapan ini terus berlangsung #lapindo
  • UNEP pernah ajukan assasment agar buat kanal sendiri utk buang lumpur ke laut #lapindo
  • Namun gagasan itu tak pernah dihiraukan oleh pemerintah, apalagi oleh lapindo #lapindo
  • Salah satu dasar penolakannya, krn butuh biaya yg sangat mahal yg bakal dikeluarkan oleh #lapindo
  • Kini, dimuara sungai porong ditempatkan penyedot lumpur yg mengalir melalui kanal porong #lapindo
  • Lumpur yg mengalir ke muara kanal porong disedot lalu ditimbun ke pulau sarina. Pulau kecil awalnya, tp kini penuh lumpur #lapindo
  • dana trilyunan rupiah dianggarkan oleh pemerintah tangani proyek mulai dari nanggul sampai tumpuk lumpur ke pulau sarina #lapindo
  • Budget BPLS utk tangani semua ini terus meningkat: 2007=800M, 2008=900M, 2009=1T, 2010=1,1T, 2011=1,2T #lapindo
  • Publik hrs protes duit rakyat dipakai utk tangani bencana dg dikelola tetap status quo agar proyek terus jd unfinishing #lapindo
Ilustrasi dari sini.

Mlekom,
AZ


20140405

Sunday, September 4, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:01:00 PM | No comments

Diskusi Merapi hingga Kopi Jo

Bersama Mas Yanuar Nugroho, Mbak Maria Santi, Mbak Ambarsarisewi, dan Cindil.

Pagi dari Jogja ke kampungnya Mbak Santi di Muntilan, lereng Merapi. Nemenin Mas Yan diskusi dampak bencana gunungapi Merapi bersama penduduk setempat. Banyak hal menarik selain obrolan tsb:
  • suguhan makanan yang luar biasa enak.
  • suguhan pemandangan indah, terutama perkebunan warga. Yang paling bikin takjub adalah tanaman kebutuhan sehari-hari (cabe, tomat, terong, sawi, daun bawang, seledri, dst) di pekarangan rumah. Kegiatan ini menjadi semacam “keharusan” bagi tiap warga setempat yang didorong oleh perangkat desanya. Menarik banget!
 Foto: Mbak Santi

Setelahnya mampir ke Taman Budaya Jogja yang saat itu sedang menyelenggarakan Pasar Kangen Jogja. Salah satu hal menarik disana adalah Kopi Jo. Kopi spesial yang diracik dengan campuran kopi dan susu. Hanya ada di event-event di Jogja, tidak buka lapak. Sayang aku tidak mencicipi, karena insom yang kerap mendera.

 Foto: Mas Yan, oleh Cindil

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 24, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:42:00 PM | 1 comment

Tentang Pendidikan Anakku

Barusan baca linimasa akun Twitter seorang teman:
@budinddharmawan: +1 RT @senirupa: Apa pentingnya sih tinggal di Jakarta? Punya ketergantungan pada macet ya???

Entah kenapa, dua hari lalu aku teringat dengan Balige, sebuah kota kecil di pinggiran Danau Toba. Balige menawarkan pesona kota yang luar biasa indah. Perbukitan, pertanian, perkebunan, dan tentu saja bentang danau yang begitu meggoda mata.

Salah satu hal yang membangkitkan ingatanku pada kota ini adalah perbincangan kami mengenai di mana kami akan menyekolahkan anak-anak kami nanti? Serta-merta, aku menyebutkan Balige, setelah semalaman mempertimbangkannya.

Seorang teman, Dr Yanuar Nugroho, yang tinggal di Manchester Inggris, saat ini sedang merencanakan kepulangannya ke Indonesia. Meski sudah menjadi dosen tetap di Manchester University, beliau benar-benar ingin pulang ke Indonesia.

Ia tidak memilih Jakarta, sebagaimana impian begitu banyak warga Indonesia. Ia menginginkan kota yang tenang. Meski berasal dari Solo, Mas Yan --begitu ia biasa kupanggil-- memilih Jogja sebagai tempat tinggalnya bersama anak-istri yang rencananya akan kembali ke tanah air lima tahun mendatang. Dan ternyata, istri Mas Yan juga asli Jogja :)

Mengapa Jogja? Sebab hanya di Jogja mereka menemukan sekolah yang tidak harus masuk enam hari seminggu. Selama ini di Inggris mereka mendidik kedua putri mereka dengan metode home schooling.
Banyak pertimbangan mengenai hal ini; beban studi siswa yang berat (banyaknya PR dan tugas-tugas sekolah lainnya), keharusan tinggal di sekolah selama 6-8 jam, hingga mininya kesempatan orangtua untuk mendidik sendiri anak-anaknya.

OK, itu alasan Mas Yan dan istri. Alasanku mungkin lebih rumit: Aku menginginkan anak-anak bisa belajar bahasa Inggris tanpa terpaksa --seperti yang terjadi padaku dan ayah mereka--. Aku menginginkan mereka mendapat dasar yang baik dalam urusan agama. Aku juga menginkan agar mereka memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ke-Indonesia-an.

Itu artinya, aku ingin tinggal di daerah yang berbahasa Inggris, sebab bahasa ini sangat bermanfaat. Aku mengalami sendiri bagaimana sulitnya belajar bahasa ketika bahasa itu jarang digunakan dalam keseharian.
Sebagai contoh, aku sedikit-banyak mengerti 6-7 bahasa daerah dari keseharianku ketika masih ikut ayah yang kerja nomaden ke berbagai daerah di Indonesia. Aku tak pernah kursus untuk memahami berbagai bahasa tersebut. Interaksi dengan penduduk setempat --selama minimal dua tahun-- memudahkan upaya tersebut.

Aku ingin anakku mendapat fondasi agama yang baik. Aku sepertinya tidak akan sanggung menanamkan fondasi ini dengan keterbatasan pendidikan agamaku, yang hanya kudapat dalam keseharian keluarga --yang juga tidak agamis (berdasar ukuran pribadiku)-- serta TPA (Taman Pendidikan Quran) semasa kecil.
Aku ingin mereka menjadi pribadi yang tahan godaan dunia, karena sudah dilandasi pendidikan agama tersebut. Menjadikan anak tangguh dengan fondasi agama memang debatable, namun aku merasa itu penting.

Yang terakhir, kuinginkan anak-anakku nanti tahu asal-usul mereka, terkait kebudayaan, suku, daerah, kampung halaman, dan seterusnya. Aku yang hingga saat ini masih bingung jika menyebutkan di mana kampung halamanku ini, tak ingin menggariskan hal sama pada anak-anakku.

Mereka harus sering kuajak ke tempat nenek-moyang kami --meski agak jauh dari mungkin, jika memilih kampung halamanku (juga ayah mereka) sebagai tempat tinggal. Mereka harus bisa berbahasa daerah, jangan sepertiku yang terbata-bata berbahasa ibu dari kebudayaan ayah dan ibuku.
Aku juga inginn mereka mahir memainkan/mempertunjukkan paling tidak satu jenis kesenian tradisional daerah. Entah itu menari, bermain alat musik, dan sebagainya. Memasukkan mereka dalam les-les kesenian tradisional bukan juga pilihan baik ketika mereka samasekali tidak mengenal budaya apa yang akan mereka pelajari nantinya.

Nah, demi mendapatkan semua itu, kira-kira ketiga keinginan itu berbunyi:
  1. Kami akan tinggal di salah satu negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya.
  2. Aku akan memasukkan anak-anakku ke dalam pesantren selama mereka Sekolah Dasar.
  3. Kami akan tinggal di sebuah daerah yang memiliki budaya yang kental.
Sulitnya mengkombinasikan ketiga keinginan itu!
  1. Mungkin mereka lahir ketika ayahnya masih melanjutkan studi di luar negeri, namun setelah itu bukankah ayahnya harus kembali ke tanah air untuk melanjutkan pekerjaannya?
  2. Melepaskan tanggungjawab orangtua ke guru di usia yang terlalu dini bukankah akan menciptakan banyak hal negatif? Seperti anak yang akan 'jauh' dari orangtua, orangtua yang kehilangan kesempatan untuk mendidik anak, atau bahkan kebencian di anak karena mereka sejak kecil sudah dipaksa mandiri dengan kehidupan ala pesantren?
  3. Daerah berbudaya kental --seperti masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar-- hanya ada di kota-kota kecil. Celakanya, mayoritas kota kecil di Indonesia tak memiliki infrastruktur yang baik penunjang pendidikan. Belum lagi sulitnya akses transportasi --jika harus menyekolahkan anak di tempat-tempat ini, berarti ayahnya harus sering bolak-balik dengan tidak mudah akibat tak ada lapangan terbang.
Sulit, yah?

Entah mengapa, Balige masuk dalam benakku. Kota kecil itu, meski tak ada pesawat, banyak menerbangkan anak-anak daerahnya untuk bersekolah di ITB, atau paling tidak UGM dan UI. Kusebut "paling tidak", sebab kedua universitas itu biasanya menjadi pilihan terakhir mereka untuk sekolah di Tanah Jawa setelah ITB. Terdengar sombong, yah? Tapi memang begitu adanya!

Orang Batak dikenal sebagai orang-orang yang cerdas. Selain gigih, mereka juga pekerja keras. Di Tanah Batak ini ada dua Sekolah Unggulan, ini sejenis Taruna Nusantara (Magelang, Jawa Tengah) yang terkenal menjadi pondokan dari siswa cerdas se-Indonesia. Kedua Sekolah Plus itu adalah Soposurung (Balige) dan Matauli (Sibolga, Tapanuli Selatan). Di tingkat SD-SMP ada pula seleksi siswa berprestasi dari seluruh sekolah di penjuru kota yang akan digabung ke dalam sebuah kelas yang disebut "SD Plus" atau "SMP Plus", dan seterusnya.

Mereka yang masuk ke sekolah plus-plus ini akan terjamin masuk ke perguruan tinggi bergengsi. Bergengsi, dalam pengertian di negara tercinta ini, adalah perguruan tinggi milik pemerintah yang untuk memperebutkan sebuah bangkunya harus berjuang melawan hingga belasan ribu anak bangsa.

Warga Balige yang menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa pengantarnya ini akan menyulitkan usahaku untuk mengenalkan Bahasa Inggris pada anak-anak. Namun, percaya atau tidak, banyak teman sekolahku di Balige dulu yang jago bahasa Inggris!
Bukan karena les, sebab mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar kelas tambahan, namun karena mereka pintar-pintar itu tadi! Ya, pelajaran apapun yang dimasukkan ke dalam otak mereka, sepertinya masuk dan tercerna dengan baik, termasuk pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.

Masyarakat Balige, sebagaimana suku Batak lainnya, mayoritas beragama Kristen (Katolik dan Protestan). Namun umat Islam disana mendapat tempat yang baik. Ini akan tetap menjamin kemerdekaan kami untuk beribadah.

Nah, Balige masih sangat erat budayanya. Meski aku dan suami tidak berasal dari Batak Toba, kehebatan anak-anak Batak dalam mencapai cita-citanya dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar diantara kesempitan mereka dalam hal perekonomian cukup menjadi alasan untuk menghapus luar negeri dan pesantren dalam daftar pendidikan anakku kelak!

Jika benar-benar ada kesempatan itu, aku akan mencoba membuat semacam sekolah terbuka bagi anak-anak kurang mampu di Balige. Sekolah gratis itu akan terdiri atas dua kelas: 
  • kelas agama (bagi yang beragama Islam) dengan mengajak ustadz/ah muda yang bersedia digaji kecil
  • kelas Bahasa Inggris, dengan mengajak para Sarjana Sastra Inggris yang juga bersedia mengabdi
Dana didapat darimana? Itu yang harus kupikirkan dari sekarang: Merancang sistem pendanaan yang disumberkan dari sumbangan donatur.

Jika begini, urusan anak selesai! Ayahnya gimana, yah?

Mlekom,
AZ


[20130530.rgd]


Sunday, June 12, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 6:16:00 PM |

Hari Berbagi Pengalaman

Apa kabar,
Mohon maaf baru bisa kirim informasi beasiswa USAID. Berikut detil link beasiswa PRESTASI.
  1. Home PRESTASI di IIEF (pelaksana USAID)
  2. Release di USAID
  3. PRESTASI Graduate Scholarship on facebook 
Terakhir aku cek belum ada berkas formulir yang bisa diunduh. Pengumuman ini memang belum “resmi”. Artinya, setelah semuanya siap, biasanya mereka akan mengumumkannya di media nasional maupun lokal. Dan tentu saja, setelah beriklan di media, website-nya sudah lengkap dengan informasi jurusan/spesialisasi di tiap bidang.
Ada lima kluster studi master yang ditawarkan, antara lain:
  1. pertumbuhan ekonomi: studi perencanaan pembangunan, pengembangan ekonomi, penanggulangan kemiskinan dll.
  2. kesehatan: berbagai spesialisasi di bidang kesehatan
  3. pendidikan: kurikulum, perencanaan, manajemen pendidikan, dll
  4. demokrasi dan tata kelola pemerintahan: administrasi negara, kebijakan public, manajemen proyek, manajemen keuangan public, analis kebijakan, dll
  5. lingkungan: kebijakan dan manajemen lingkungan, biodiversity, sustainable development, dll.
Ke orang lain aku nggak akan bilang sejauh ini. Tapi buat sesama BUL sih...ciee... He3... Ini sharing pengalamanku. Modal utamanya ada niat sama minat untuk sekolah lagi. Artinya, kita yang mesti menyesuaikan dengan program donor.

Adri skrng banyak tangani isu NGO kan? Seputar pengelolaan program, kaitannya sama jaringan, media, mitra, mungkin kalau lebih lama lagi nantinya, ikut bikin proposal, ikut di manajemen projek, dst. So, soal bidang atau spesialisasinya, ikutin kluster yg ada ditawarin USAID. Misal, untuk sosiatri, bisa ambil master social polisy. atau, kalau kaitan sama kerjaan, ya non profit manajemen masternya.

Ini sekadar contoh saja. Bahwa tidak selalu yang kubilang "menyesuaikan" dengan program donor, itu nggaak relevan dengan kebutuhan kita. Misal di lembaga kamu kerja skrng ini punya konsen jg soal pendidikan. Nah, kalau bidikannya mau jd expert, ya ambil master pendidikan. Kan spesialisasinya banyak tuh. Misalnya, kamu ambil master bidang politik dan advokasi pendidikan. Jadi memang, misal itu judul paper di Indonesia, yg seolah sgt mikro, di sini bs jd nama program/spesialisasi sekolah.

Jadi prinsipnya itu, ada niat dan minat dulu. Soal lain2, bisa diusahakan. Dan pasti terasa ringan kalau niat dan minat sekolah kita tinggi. Syarat2, standar (nanti bisa diupdate, menyesuaikan dengan pengumuman IIE-USAID). Pengalamanku:
  1. Legalisir ijazah dan transkrip S1/S2 (dalam negeri) dalam bahasa Indonesia dan Inggris (diterjemahkan di lembaga bahasa resmi baik swasta maupun di pusat bahasa universitas; nanti minta mereka stempel hasil terjemahannya).
  2. Surat nominasi. Kalau bisa dari direktur lembagamu bekerja. Atau kalau nggak ada ya manajermu. Atau mantan dosen pembimbing. Tp yg utama bos di kantor. Isinya antara lain: bahwa lembagamu sedang berbenah, membutuhkan penguatan SDM dan institusi, dan kandidat diproyeksikan untuk berperan penting. Untuk itu, studi master di US akan memberikan perspektif baru, pengetahuan baru, pengalaman praktis baru (ada skema magang baik di pemerintahan maupun lembaga non-profit di US) sehingga sepulang nanti akan menginspirasi dan menjadi motor pengembangan lembaga.
  3. Surat rekomendasi 3 buah. Surat ini pada dasarnya berisi testimony dari orang yang dikenal pelamar beasiswa (kepala dinasnya/atasannya, mitra kerja, mantan dosen pembimbing saat di universitas, dll) bahwa si pelamar adalah mumpuni secara kapasitas akademik, punya track record pekerjaan yang baik, berdedikasi, punya semangat belajar baik, kemampuan adaptasi baik, dst. Intinya, karena USAID tidak kenal dengan si pelamar beasiswa, mereka ingin ada “garansi” dari orang yang kredibel yang kenal dengan pelamara beasiswa.
  4. Esai. Nah, ini gampang-gampang susah. Tapi butuh banyak pemikiran. Panjangnya cuma 500 kata. Isinya mesti meyakinkan. Biasanya diminta jawab tiga hal: alasan kenapa mendaftar beasiswa, apa manfaat yang diharapkan, lalu apa yang akan dilakukan setelah pulang. Akan sangat bagus jika tulisannya direfleksikan dengan pekerjaan/peran keseharian/tugas di kantor.
  5. Bahasa, mereka minta sertifikat TOEFL intitusional dengan skor 450. dikit kan syaratnya? hehehe
Prosedur tesnya, pengalamanku, adalah screening berkas/administrative. Kalau lolos, akan dipanggil wawancara. Untuk di luar Jakarta, wawancaranya lewat telepon. Yang wawancara biasanya 5 orang: 2 expert di bidang terkait (kesehatan/pendidikan/dll), 1 perwakilan IIEF, perwakilan USAID. Kalau lolos, berarti diterima.

Untuk TOEFL kurang dari 500, akan dikursuskan di IALF (Jakarta/Surabaya/Bali). Semua biaya ditanggung USAID.

Demikian dulu ya. Semoga bisa membantu. Semoga banyak teman-teman yang berminat.

Salam dari Newark,
Hari


Gambar dari sini.

Sambil lalu, kutodong Hari untuk membagi tips memenangkan beasiswa ke US. Seminggu kemudian, di tengah kesibukannya, Hari menjawab dengan sangat lengkap, di pesan Facebook. Menurutnya, dia memang tak pernah mempublikasikan ini. Menurutku, ini penting disebar agar lebih banyak orang mengerti.

Terimakasih, ya. Semoga aku bisa menyusul...

Mlekom,
AZ

Friday, June 3, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:17:00 PM | No comments

Telapak Tangan: Ketika Ulekan dan iMac Jadi Tersangka

Telapak tanganku cidera. Telapak tangan kananku sangat sering sakit dua tahun terakhir, terutama pada setahun terakhir. Ini diawali dari dua cerita saling terkait.

Cerita I: Penghujung Ramadhan 2009
Aku dan Oetha, adik semata wayangku, akan berlebaran ke Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ayah kami saat itu bertugas di kota kecil yang indah itu. Akibat ini perjalanan darat pertama kami ke Sumatra (adikku nyetir sendiri PP, lho!), seorang kakak sepupu di Jakarta membuatkan kami bekal makanan.

Ada berbagai makanan tahan lama, seperti rendang dan teri dan makanan tidak tahan lama seperti daging dan ayam balado yang dimasak tidak kering. Makanan basah ini untuk makanan buka puasa dan sahur keesokan harinya.

Masakan Mama

Daging dan ayam balado itu biasanya cabenya diulek kasar, jadi pakai penggiling manual, bukan blender. Namun sore itu, kakak sepupuku mau mengulek cabenya dengan blender, sebab dia kecapean. Maka kutawarkan diri untuk menggiling dengan ulekan tangan.

Sumber: http://bit.ly/inhvC4

Jadilah aku mengulek setengah kilo cabe merah mentah dengan ulekan tangan. Usaha itu membutuhkan sekitar 1.5 jam yang akhirnya selesai pasca diambil alih oleh seorang sepupu lain. *ini sepupu cowo, kuat tangannya*. Lama sekali saya mengerjakannya. Selain akibat cabenya belum mateng--jadi masih keras, juga karena itu ulekan kecil sekali. Diameternya cuma 15 cm.

Akhirnya jadi juga itu sambel, meski berbeda dengan potongan cabe umumnya, rasa masakannya tetap sama, penampilan nomer sekian dulu.

Nyaris seminggu kemudian, kita akan kembali ke Jawa. Ibuku memanggil tukang pijat untuk memijat seluruh badanku dan adik agar hilang semua cape selama perjalanan ke Sungai Penuh kemarin. Ibu-ibu yang mijat kaget dengan telapak tangan kananku yang sangat bengkak. Lebih kaget ketika kuceritakan itu akibat mengulek sambel. Beliau pun menyarankan untuk menggunakan batu giling (ulekan dalam bahasa Sumatra) lebar dengan cobek bulat bunder sebesa genggaman tangan.

"Hehe, sudah kapok ngulek saya bu," jawabku.

*
Cerita II: Pertengahan 2010
Sebuah web tempat menyimpan foto baru dibuat di kantorku. Aku bertugas memindahkan seluruh dokumentasi foto yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Aku melakukannya selama sekitar dua bulan (yeah! sigh) menggunakan iMac.

Sumbe: http://bit.ly/iKeC86

Fasilitas iMac memang sangat membantu kerja-kerja membosankan seperti itu, namun fisiologi mouse-nya sangat tidak bersahabat dengan fisiologi tanganku.

Sumber: http://bit.ly/mlJ6MZ

Sempat berhenti menggunakan iMac pasca upload dokumen foto, aku "terpaksa" menggunakannya lagi saat mengadmini sebuah akun Twitter untuk bencana erupsi Merapi yang arus informasinya membuat kami, para admin, bisa melek 24 jam selama sekitar tiga bulan sejak akhir 2010 lalu.

Aku sempat mengganti mouse bawaan tersebut dengan mouse biasa berbentuk bulat yang tidak pipih. Namun tidak banyak membantu, sebab sepertinya telapak tanganku sudah sangat butuh terapi-entah-apa untuk meregangkan syaraf dan/atau otot pergelangan tangannya.

*
Pasca ngulek sambel sebelum mudik 2009 lalu, setelah dipijat di Sungai Penuh, telapaka tanganku bisa normal kembali. Namun pasca menggunakan mouse Mac tersebut hingga saat ini belum pernah telapak tangan kananku normal seperti sebelumnya.

Coba tidak pakai mouse? Ini makin sakit saat memainkan jari-jari di keypad laptop. Mouse Logitech cukup membantu, meski sakit di telapak tangan ini belum pernah pulih.

Sumber: http://bit.ly/jQpUK5


Ada cerita dari teman kantor yang mengalami cidera sama. TErnyata sakit ini jamak didera pengguna komputer. Barusan kucoba googling di sini dan ini.
*
Sejak bareng Cindil, aku sering memasak untuknya. Aku tahu bahwa bumbu-bumbu masakan yang berbentuk bubuk tidak baik, namun ini cara untuk tetap bisa membuatkan makanan kesukaan Cindil. Maka di dapur kami ada berbagai bumbu dapur bubuk, seperti bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, ketumbar, lada hitam, lada putih, dan cabe merah. Jika saja ada bubuk bawang merah, aku pasti membelinya.

Sekitar sebulan lalu, Cindil ngomong iseng di YM:
"Enak banget kali ya, makan tempe goreng plus sambel dengan nasi panas"
Ketika kami ketemu, aku buatkan menu itu. Aku ngulek sendiri sambal yang kukarang-karang resepnya: cabe meah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, jeruk nipis.

Pegel banget. Sudah dibawa ke tukang pijat dua minggu lalu, sampe sekarang bengkak. Baru dua jam lalu dipijat ibuku. Juga belum sembuh.



Gimana yah? Aku benci iMac dan ulekan. Kalo iMac bisa ganti mouse. Tapi ulekan? Susah buat sambal doyanan Cindil tanpa alat itu...

Kapan ada blender yg bisa nge-blend cabe tidak halus? Mau donk!
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata