Sunday, February 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:30:00 PM | No comments

Mbakmil


"Mbak, cape nggak?" tanya seorang gadis yang sedang menimbang serius kondisiku.
"Enggak!" jawabku.
"Kalau cape, duduk aja Mbak," katanya khawatir sambil clingak-clinguk cari tempat duduk.
"Heh, santai aja"
"Mba hamil kan? Kalau gak kuat nanti tunggu di sini aja..."
"Gak, aku datang untuk ikut jelajah kok..."

Tukan tukan, dituduh hamil. Lagi. Ini yang ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir, atau yang kedua kalinya dalam tahun ini. Artinya, rata-rata ada satu tuduhan di tiap tahun dan ada satu tuduhan di tiap bulan.

Tuduhan pertama di 2011 dari Bu Tamara, seorang pemijat. Tuduhan kedua dari Bu Anjas, itu tuh komennya di foto yang kusebar di Facebook bulan lalu. Ketiga ya kejadian di atas, hari ini di acara heritage walk pecinan Magelang.

Gadis yang mengkhawatirkan kondisiku itu mungkin melihat perutku yang tidak rata (a way of avoiding the word "besar"), saat kami bertemu di kota yang sama Januari lalu. Waktu itu, aku pakai rok cukup gombrong yang pinggangnya diletakkan di bawah dada. Ya seperti Bumil, ibu hamil. Ya kalau begini caranya, aku jadi Mbakmil lah, embak-embak hamil.

Salam peyut endut! :)

Mlekom,
AZ
Posted by adrianizulivan Posted on 8:21:00 PM | No comments

Cara Hilangkan Ask.com sebagai Mesin Pencari Utama


Aku bukan penggemar Mozilla Firefox, namun sangat sering membuka ini untuk bantu memilah aktivitas di dunia maya. Belakangan berasa terganggu dengan mesin pencari (search engine) yang bukan Google. Lalu? Googling donk ah! Kata kuncinya berganti-ganti, dari "change ask.com to google on mozilla" hingga "cara hapus ask.com di mozilla".

Sejam baca sana-sini, coba saran ini-itu, akhirnya ketemu yang jitu di sini (terjemahan Indonesia-nya kacau, coba masukin ke Google Translate saja jika kamu lebih nyaman membaca dalam bahasa Inggris). Ini adalah website salah satu software pengusir virus, tapi gak cuma nyuruh kita untuk unduh produknya, mereka kasih tips jitu untuk persoalanku. Lakukan langkah ini:
  1. Cek di Control Panel (klik Start di kiri bawah layar > klik Control Panel) apakah ada program bertulisan "ask". Jika ada, langsung remove/uninstall program. Namun, saya tidak menemukannya. Ternyata, file instalasi Ask.com ini kerap 'bersembunyi' dengan nama lain.
  2. Buka browser Mozilla. Klik Help di bagian atas jendela > klik Troubleshooting Information. Akan muncul jendela baru, klik Reset Firefox. Setelah ini prosesnya cukup lama, browser Mozilla akan ditutup. Ini proses mengubah/mengganti/menghilangkan semua cache yang ada di browser. Sabar aja. Akan muncul informasi kalau proses pembersihan sudah selesai, klik Finish.
  3. Browser Mozilla akan muncul kembali, namun dengan halaman kosong (tanpa informasi sejenis most visited site). Sila cek, Mozilla kembali bersanding dengan Google!
Cobain deh!

Oh iya, Ask.com itu bukan virus yang merusak file, namun semacam aplikasi yang akan membuka berbagai iklan dan membawa aplikasi pihak ketiga ke perangkat kita. Efeknya? Makan space dan memperlamban kinerja komputer.

Segitu dulu. Aku memaksa diri untuk mendokumentasikan proses pencarian persoalan masalah perkomputeran seperti ini, agar besok-besok kalau butuh lagi gak repot.

Gambar dari sini, bukan logo Ask.com.


Mlekom,
AZ


Saturday, February 8, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:28:00 PM | No comments

Cerita Mandi


#1
Seorang teman berjasa memopulerkan tagar #AntiMandiGarisKeras di jagad Tweetland, akibat dia jarang mandi (bukan tidak pernah, catat :)). Entah apa alasannya, entahlah kapan atau berapa kali dalam berapa waktu pula dia mandi. Entahlah.

Akhir 2010, di masa tanggap darurat Gunungapi Merapi, kami bekerjasama di komunitas @jalinmerapi. Suatu ketika dia mandi di posko. Saat itu terjadi gempa. Kamar mandi terletak di lantai dua, sehingga guncangan terasa sangat keras. Bersama semua orang yang ada di dalam bangunan, ia buru-buru turun ke halaman, dalam keadaan masih bersabun dan bersampo. Untung sempat pakai handuk.

Teman-teman lalu nyeletuk: Kamu sih mandi, jadi gempa deh...

#2
Sepupu liburan di Yogya. Kami janjian berburu pernak-pernik. Pesannya pagi itu: Kak, bangunin kalau udah mau berangkat ya. Kalau gak mau pergi-pergi, malas mandi nih... 

#3
Hari ini aku malas ngapa-ngapain. Di rumah saja. Biasanya, jika ada kesempatan di rumah, selain beberes, aku menikmati hidup dengan membaca buku, merapel koran seminggu, memasak atau menjahit. Hari ini tidak. Malas. Tidur-tiduran saja sambil utak-atik hape. Bahkan, malas mandi (!). Akhirnya mandi siang waktu dzuhur, biar afdol wudhu-nya...

#4
Shalat-lah kau sebelum di-shalat-kan. Sampai aku segede ini, kalimat itu sukses bikin ingat Tuhan. Jadi kepikiran, mengapa tidak mengingatkan si pemalas mandi dengan: Mandilah, sebelum kau dimandikan (lalu dikafani)...

#5
Kata @karmarria, temanku: dimandikan & dimandiin kenapa konotasinya seakan beda, ya. "aku dimandiin dong sayang..." misalnya.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Wednesday, February 5, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:46:00 PM | No comments

1 x 25 Jam x 1 Bulan

Temanku, Anang Saptoto, menjadi satu dari 12 seniman yang terlibat dalam "1 x 25 Jam". Ini adalah sebuah proyek pameran kerja kekuratoran, tentang sepak terjang Rumah Seni Cemeti. Sebagai salah satu peletak sejarah seni di Yogyakarta, Cemeti menjadi rujukan bagi para pelaku seni hingga level dunia.

Meski bukan seniman, aku senang pernah turut andil dalam salah satu proyek karya seni di sana. Kapan-kapan kuceritakan tentang ini. Yang pasti, undangan Anang kali ini tak kami lewatkan. Pameran ini menceritakan perjalan Cemeti selama seperempat abad. 

Anang mengambil bagian "Babak II: Kepingan Sejarah Lisan". Kepingan ini berupa foto-foto jaman awal obrolan tentang membangun Cemeti. Ia mereka-ulang adegan dalam foto tersebut ke dalam bentuk gambar cat di tembok. Ia memainkan cahaya lampu untuk mendapat tone warna dan jatuh bayangan yang tepat. 

1 x 25 jam berarti bahwa kedua-belas seniman akan tinggal di ruang pameran Cemeti selama dua hari satu malam. Dalam waktu itu, mereka menyelesaikan karyanya. Selama bulan ini, Cemeti akan buka 24 jam. Pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pengerjaan karya. Yang paling seru, pengunjung yang menyaksikan karya akan mendapat penjelasan langsung dari si pembuat karya.

Aku tadi datang bersama Mas Antok, kami gak sabar nunggu pameran bersama di ujung 1 x 25 jam x 1 bulan nanti. Aku jatuh cinta pada mesin jahit mini dalam karya milik Ika Vantiani, kutulis di siniTentang pameran, cek di sini.

Mlekom,
AZ

Posted by adrianizulivan Posted on 9:03:00 PM | No comments

Semoga Kalian Lekas Pulang...


Dalam perjalanan dari Rumah Seni Cemeti yang terletak di ujung selatan Kota Yogya, aku mampir ke sebuah toko franchise. Tertegun ketika ke luar toko, ada bayi ditidurkan di dekat genset di teras toko. Beralas kardus tipis. AKu clingukan mencari orangtuanya. 

Di ujung halaman toko, di pinggir jalan, tampak seorang perempuan sedang mencuci peralatan makan dan masak. Pasti itu ibunya. Mereka mungkin menjual makanan di sekitar tempat ini.


Malam ini pukul 9. Semoga si bayi tidak kedinginan. Selamat bekerja, ibu! Semoga kalian lekas pulang...

Mlekom,
AZ

20140520


Friday, January 31, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:12:00 AM | No comments

Doodling SiTukangJahit




Belum genap setahun Sinta Carolina (kupanggil Bulbul) kembali menggambar. Meski awalnya tak pede, kini sketsanya hadir di mana-mana dalam bentuk beragam merchandise, seperti pin, blocknote, kaos, dan sarung bantal. Ternyata, sketsa bergenre doodle menjadi favorit para penikmat karyanya. Termasuk saya.

Aktivis food blogger yang menulis cerita tentang makanan ini, mengawali kembalinya di dunia gambar-menggambar lewat sketsa makanan. Lalu bunga/tumbuhan, binatang, alat-alat keseharian seperti kamera, dan sebagainya. Bahkan, kita bisa memesan gambar/tema yang diinginkan.

Tema jahit ini adalah blocknote kedua yang kuminta. Sebelumnya adalah tema disabilitas yang aku pesan untuk agenda Disability Day. Adikku yang hobi menyelam, memesan tema spearfishing dan vintage fashion untuk pacarnya yang membuka butik busana perempuan. Seorang teman pesepeda, memesan tema sepeda--tentu saja.

Nah, aku ingin menularkan keseruan memiliki barang-barang sesuai hobi ini. Kalau selama ini kita mengenal istilah "fashion statement", mungkin merchandise ini bisa menjadi semacam ideology/hobby statement. Inilah aku si tukang jahit. Kamu siapa? :)

Bersama sejumlah teman, kami bergabung dalam proyek #365karya. Dalam proyek ini, Bulbul menggambar berbagai sketsa. Sila cek di sini. Saat ini Bulbul dalam masa kontemplasi, sedang mencari nama yang tepat untuk karya yang makin banyak peminatnya ini. Mari tunggu gebrakan selanjutnya sambil cek produknya dan pesan di:
Doodling doodle? Let's do it, dude!

Mlekom,
AZ
Foto: Sinta Carolina
Artikel ini diterbitkan di SiTukangJahit

Saturday, January 25, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:39:00 PM | No comments

Kwetiau Goreng


Sengaja bangun pagi, biar gak keduluanan Mama siapkan sarapan. Soalnya, Mama masih gak enak badan. 

Di boks penyimpanan bahan makanan Mama ada beberapa jenis mie kering. Aku sangat suka mihun/bihun, tapi belum berani masak, takut gak enak. Maka pilihan jatuh pada kwetiau. Bingung juga bagaimana ccara melembutkan mie-nya, apakah direbus, atau disiram air panas. Ealah, ternyata cara mengolahnya ada di belakang bungkus.

Jadi, kwetiau yang kugunakan ini jenis yang kering, dijual dalam kemasan plastik seperti ini. Keluarga kami sangat suka kwetiau. Dulu selalu bawa kwetiau basah dari Jakarta, sebab di Yogya gak ada jual. Lama-lama terbiasa juga dengan kwetiau kering.

Nah, ini resep yang kucari via Google, lalu dimodif:
  • 1 genggam ayam suwir/potong dadu
  • 1 telur
  • 1 wortel, parut kasar
  • 1/2 genggam tauge
  • 2 lembar kol, iris tipis
  • 3 lembar sawi hijau, iris kasar
  • 1 batang daun bawang
  • 4 bawang merah
  • 2 bawang putih
  • 2 cabe rawit
  • 2 sdm kecap manis
  • 1 sdm ebi
  • 1 sdm kecap asin
  • garam + lada
Cara masaknya:
  • Haluskan bawang dan cabe.
  • Rebus air sampai mendidih. Masukkan kwetiau, angkat setelah lunak. Rendam dengan air dingin yang ditetesi 1 sdm minyak goreng, agar tidak lengket. Tiriskan.
  • Panaskan wajan, masukkan sedikit minyak goreng. Masukkan telur, orak-arik hingga matang. Angkat, sisihkan.
  • Masukkan 2 sdm minyak ke wajan. Tumis bumbu halus + daun bawang + ebi ayam + kecap + garam + lada.
  • Masukkan sayuran, aduk sampai matang.
  • Masukkan kwetiau, aduk rata hingga kering.
  • Sajikan.
Lumayan lah untuk percobaan pertama.

Mlekom,
AZ

Thursday, January 23, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:41:00 PM | No comments

Kentjana


 Cap: Kentjana

Ditemukan di sebuah warung soto di Desa Tembi, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Mlekom,
AZ


20140514

Saturday, January 11, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:34:00 PM | No comments

Reuni Kebondalem

Diantara kami ada yang sudah lama kenal, adapula yang baru. Yang pasti, kami semua saling mengenal sejak kepanitiaan sebuah acara tahun lalu. Persahabatan ini berlanjut hingga kini.

Kami berpisah di bandara Lombok, September lalu. Baru hari ini dapat berkumpul dalam formasi cukup lengkap. Paling tidak, anggota Yogya terbilang lengkap. Sayang, Ko Maul dari Ternate dan Antik dari Jakarta yang sudah pada tiba di Yogya batal hadir. Meski begitu, ada Mas Pop yang datang jauh-jauh dari Lasem (yaya, meskipun dia ke Yogya untuk urusan lain, hahaha).

Beberapa hari yang lalu, kami kontak-kontakan: siapa memasak apa. Tante Rully mau masak kari dengan bumbu yang dia bawa dari Jepang. Dik Prij bikin ikan bakar. Aku masak pecel, ikan asin balado dan tempe goreng.Yang lain-lain? Suruh bantu masak aja. Kalau kebanyakan lauk, takut pengalaman dua tahun lalu terulang: mubazir.

Sejak pagi aku belanja sayur-sayuran di Pasar Gedongkuning. Kenikir dan bayam satu ikat raksasa, masing-masing hanya Rp 2.500. Kol Rp 3.000 satu kuntup sedang. Sebungkus tahu isi 6 seharga Rp 3.500. Dua lembar ikan asin Rp 6.000. Cabe ijo Rp 1.000. Cabe rawit Rp 2.000. Tomat Rp 2.000. Aku minta dibuatkan bumbu pecel ke Mama, biar nanti tinggal rebus-rebus.

Sampai di halaman pasar, ada penjual dawet. Kubeli 4 bungkus seharga Rp 10.000. Di parkiran ada penjual kerupuk gendar (nasi), sebungkus Rp 2.500. Aku sudah memesan tempe ke Pak Made, 3 paket (untuk dimasak, untuk Bulik Sinta dan Tante Rully) masing-masing Rp 5.000. Semua murah meriah. 

Tempenya dijemput Mas Pop yang nginap di dekat Kantor Pak Made. Dari ambil tempe, Mas Pop bersikeras mau njemput aku (plus nangkring lama di pinggir jalan nunggu aku mandi dan dia gak tau rumahku!). Yawes, batal nebeng Mama yang mo ke arisan. Perjalanan menegangkan dengan motor dan bawaan seabrek. 20 menit kemudian, kami pun tiba di Kebondalem, rumah Bulik Sinta.

Baru ada Tante Rully dan Pontom. Duduk sebentar cipika cipiki, mereka lalu ke swalayan seberang Kebondalem, beli bahan kari. Aku masuk ke dapur. Ternyata Dik Prij sudah nyiapin ikan yang mau dipanggang.
(Foto: Bulik, kecuali kanan atas milikku) Keriuhan di dapur

Sejam kemudian, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Para co-chef sangat ligat. Pontom bantu petik dan rebus sayuran, kupas kentang, nggoreng tahu-tempe, sampe bantu aku ngulek lado untuk ikan asin. Mas Pop bantu nyalakan api untuk bakar ikan (meski akhirnya gagal dan pakai panggangan listrik), cuci piring, dan jadi tukang icip-icip.

Satu per satu mulai kelaparan. Mas Pop yang belum sarapan dipersilahkan mendahului. Aku pun ngemil tahu goreng + sambal lado. Bulik keluarkan berbagai snack-nya. Empat jam kemudian baru semua siap terhidang di atas gazebo. Penampakannya seperti di atas :)
Cape makan, ngobrol berlanjut. Ngobrolin apa sih? Suka duka kebersamaan tahun lalu lah... *hedeh*. Lagi asik ngobrol, tetiba bunyi gedebum keras. Sekali. Dua kali. Horeee, ada durian jatoh! Ya, di Kebondalem ada pohon durian. Asikkk akhirnya kesampean nyicip durian sini!

(Foto atas: Dikprij) Durian, fresh from the gedebum
Sebelum pada pulang, agenda utama: Foto-foto! Foto edisi tangga ini, konon memiliki filosofi persaingan. Sedangkan dua foto selanjutnya menunjukkan dua sisi manusia *apa sih*.
(Foto: Palik) Mas Joi, Mas PoppyPontom, Bulik Sinta, Mbak Adri, Dikprij, Tante Rully


(Foto: Dikprij) Gaya kalem politisi...
(Foto: Dikprij) Gaya mata cipit ala politisi :p

Oleh Pontom, agenda ini dimasukin dalam #365karya di sini. Kalau ingin resep Ikan Asin Balado Cabe Ijo, kucatat di sini. Pengen punya karya gambar Bulik? Cek caranya di sini.
(Foto: Dikprij) Menikmati karya Bulik

Reuni selanjutnya nunggu kedatangan Cak Pii dan Bu Tin ke Yogya. Juga Ucik, Mba YennyPak Pun, Mbak Uut, dan teman-teman lain.



Hari menyenangkan, bersama kawan lama di tahun baru. Sekali lagi, selamat 2014!

Mlekom,
AZ


20140311

Thursday, January 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:01:00 PM | No comments

Pampis Jantung Pisang


Suatu pagi, aku terbangun dan nengok luar jendela. Ada jantung pisang di halaman tetangga. Lalu minta Mama buatkan Gulai Padang yang bahan utamanya jantung pisang. Tadi pagi waktu belanja, aku menemukan jantung pisang di tukang sayur.

Mama hari ini cek up ke rumah sakit. Akhirnya aku googling resep, tertarik pada Tumis Jantung Pisang. Setelah selesai persiapan, sebelum dimasak, aku berubah pikiran. Kayanya enak nih jantung dimasak pampis ala Ternate. Bumbunya sama dengan Pampis Tongkol yang ini, namun cara kerja di bagian mengolah bahan utamanya berbeda, seperti ini:

Kupas jantung pisang sampai tersisa hanya kulit yang berwarna putih. Cuci. Iris-iris. Tambahkan garam, remas-remas sampai getahnya hilang (ini juga untuk menghilangkan pahit). Tak seperti Pampis Tongkol, jantung pisang tidak perlu dikukus. Tinggal masukkan ke dalam tumisan bumbu. Langsung hidangkan. Oh ya, aku juga tambahkan irisan kincung (kecombrang) ini.

Malam ini ada pertemuan dengan teman-teman heritage, aku bawakan masakan ini untuk dicicipi teman-teman. Mereka suka. Mamaku juga suka, sempat dikira Pampis Tongkol dan rendang :) Alhamdulillah.

Aku sih lebih suka pampis ikan. Namun, menu ini bisa dicoba. Oh iya, kata Mama jantung pisang juga enak direndang (aku belum pernah sih)!

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata