Tuesday, October 28, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 4:39:00 PM | No comments

Karena Kalian adalah Cinta...

Personil Tukang Makan: Jakarta, Yogya, Solo, Rembang, Gresik.
Tukang Makan adalah hubungan pertemanan yang sudah masuk fase kekeluargaan. Hubungan yang berjalan mudah. Dimulai dari sebuah kelompok kerja, menjadi kedekatan personal. Meski mudah, sulit bagiku untuk menjawab "Hubungan kalian seperti apa, sih?" Jadi tak perlu bertanya, okay!

Jagongan Media Rakyat (JMR) 2014 bisa jadi adalah berkah bagi kami. Selain kami hidup di enam (plus Ternate!) kota berbeda, yang hidup di kota yang sama pun jarang bersua. Sekali lagi, mungkin JMR adalah berkah. Tanpa saling janjian, JMR mampu menyatukan kami... *eaaa*
Hari pertama.
September tahun lalu kami sempat berencana untuk buat reuni setahun persahabatan kami, di sebuah pulau yang dihuni banyak rusa, di Gresik, Jawa Timur. Apa daya, rencana tinggal rencana akibat ke(sok)sibukan masing-masing personil.
Hari ketiga.
Hari pertama di Yogya, aku hanya ketemu Pancen, sebab dia panitia JMR (acara ini adalah alasanku datang ke Yogya) dan Mas Pop. Hari kedua bertemu Cakpii, Bulek, Palek, Dekprij. Hari ketiga ketemu keenamnya, kecuali Dekprij. Hari keempat dan hari kelima kedatangan Tante dari Solo. Kumplit!
Hari kelima.
Senang sekali bisa bertemu kalian. Kenapa? Ya karena kalian adalah cinta... <3

Kecuali Hari kedua (milikku), seluruh foto milik Tante Rully.

Mlekom,
AZ


Thursday, October 2, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 12:27:00 PM | No comments

Pak Agus, Sang Pemenang


Pak Agus, Sang Pemenang
Staff Appreciation Week

"You're awesome, excellent work, keep up the good work" adalah sebagian dari 30 komentar positif yang ditujukan untuk Agus Nadi, Office Helper/Messenger EMAS Jakarta.

Banyaknya jumlah komentar tersebut membuat Pak Agus terpilih sebagai pemenang "Staff Appreciation Week" yang dilaksanakan 11-15 Agustus lalu.

Selamat, Pak Agus! Semoga semakin semangat berprestasi.

[AZ]




Posted by adrianizulivan Posted on 12:17:00 PM | No comments

Satu untuk Semua, Semua untuk Satu


Satu untuk Semua, Semua untuk Satu
Kunjungan Manjusshree Badlani ke Indonesia

Itu adalah semangat Jhpiego, seperti diungkapkan Manjushree Badlani, Chief HR & Administrative Officer dari kantor pusat Jhpiego Baltimore, Amerika Serikat. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Manju—panggilan akrab perempuan yang hobi mengenakan syal ini—lakukan serangkaian aktivitas terkait pengembangan SDM. Salah satunya dengan mengadakan Compliance Training bagi seluruh staf.

Compliance Training yang berupa pelatihan kekaryawanan ini diselenggarakan di kantor Bandung dan Jakarta pada 10 dan 12 September 2014 lalu. Materi yang diberikan berupa etika dasar yang perlu diperhatikan  oleh setiap staf; seperti perilaku di tempat kerja, kerahasiaan informasi lembaga, konflik kepentingan, serta kecurangan yang mungkin terjadi dalam hubungan kerja.

Kunjungan sepekan ini dihabiskan dengan mendiskusikan segala hal terkait sumber daya manusia, seperti standard operating procedures (SOP), manajemen karyawan, dan seterusnya. Manju juga membuat Compliance Training, semacam pelatihan kekaryawanan bagi staf di kantor Bandung dan Jakarta. Ditemani Lenny Trisnandari (L), HR Manager Jhpiego Indonesia; Cindy Rahmaputri dan Adriani Zulivan (T) mendapat kesempatan berbincang dengan Manju (M) pada Kamis (11/09) lalu.

T: Apa tujuan dari kunjungan Anda ke Indonesia?
M: HRD memiliki SOP yang harus dilaksanakan oleh kantor Jhpiego di seluruh negara. Tiap dua tahun, tim HR Jhpiego Global berkunjung ke tiap negara. Kunjungan ini untuk mereview setiap prosedur dan proses. Di Indonesia, saya memberi dukungan yang dibutuhkan tim SDM di sini. Kami juga baru menyelesaikan pembuatan materi untuk Compliance Training bagi seluruh staf di seluruh negara. Jadi, ketika saya tiba untuk pertama kali di suatu negara, maka saya akan melakukan pelatihan tersebut.

T: Apa tujuan dari pelatihan itu?
M: Pada dasarnya untuk mengingatkan semua staf, tentang apa yang diharapkan dari mereka sebagai staf Jhpiego. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, baik ketika mereka bersama-sama teman dalam lingkungan kerja, maupun perilaku saat bekerja di luar dalam posisinya sebagai staf Jhpiego. Artinya, seseorang harus paham bagaimana harus bersikap sebagai staf Jhpiego, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Saya selalu menghimbau semua staf, bahwa Anda ada di sini untuk bekerja keras and bersenang-senang. Silahkan menghabiskan waktu di luar jam kerja, dengan menghibur diri di luar kantor. Namun, dengan tetap mengingat bahwa Anda mewakili Jhpiego.

T: Apa tugas utama Anda sebagai kepala HR?
M: Memastikan semua hal tentang staf berjalan dengan baik. Memastikan bahwa semua orang senang dan puas dengan pekerjaannya. Inilah kesempatan bagi saya untuk berbincang dengan banyak staf.

T: Apa yang Anda dapatkan selama pelatihan di Bandung?
M: Pertama kali saya datang ke Indonesia adalah saat program EMAS baru diluncurkan. Saat itu belum ada kantor daerah, semua staf berkantor di Jakarta. Sekarang, saya dapat berbincang dengan staf di daerah. Biasanya kami hanya melakukan review di kantor pusat, lalu langsung kembali ke Baltimore. Jadi, sangat menyenangkan melihat dan bertemu staf di daerah. Kemarin, saya juga bertemu Dr Joko Sutikno—Provincial Team Leader Jawa Barat—yang telah saya kenal lama. Sangat menyenangkan dapat bertemu lagi dengannya. 

T: Apa saja agenda Anda di Indonesia?
M: Selain Complience Training di Bandung dan Jakarta, saya juga membuat janji dengan sejumlah staf yang ingin ngobrol langsung, secara personal ataupun grup grup. Namun, ketika saya pergi, bukan berarti Anda tak dapat ngobrol dengan saya. Ada Skype dan email yang dapat kita manfaatkan.

T: Apa pendapat Anda tentang HRD di Indonesia?
M: Indonesia telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Dengan keterbatasan jumlah staf HRD, Indonesia mampu berdiri sejajar dengan HRD negara lain yang memiliki staf yang tangguh.

T: Apakah Indonesia adalah negara yang memiliki staf terbesar?
M: Tidak, ada negara yang memiliki lebih dari 200 staf, yaitu Kenya, India dan Mozambik.

T: Dengan adanya jarak antar kantor di tiap provinsi, apakah tantangan untuk kerja-kerja HRD Indonesia menjadi lebih sulit?
M: Dengan kantor perwakilan di sembilan provinsi, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kantor terbanyak. Ini adalah tantangan pertama. Tantangan kedua adalah ada  staf yang sudah sangat lama bekerja di Jhpiego, ada pula yang  baru. Ketika kita ingin melakukan sesuatu dengan cara ini, sementara lainnya ingin melakukan dengan caranya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, kita dapat belajar satu sama lain.

T: Bu Lenny, apa pendapat Anda dengan keunjungan Manju di Indonesia?
L: Ini merupakan waktu yang baik. Beliau dapat membantu meningkatkan kemampuan saya dan tim SDM, terutama dalam hal prosedur di Jhpiego. Sebab saat ini kita berada dalam Tahapan Ketiga dan akan segera melangkah ke fase lanjutan, ada banyak hal yang perlu ditingkatkan. Tantangan terbesar adalah hubungan  antar staf, yaitu bagaimana membangun kinerja tim. Kita ingin semua berjalan baik sampai program EMAS berakhir. Kami mendiskusikan banyak hal, terutama terkait manajemen staf.

T: Bu Manju, apa harapan Anda terhadap kami di Indonesia?
M: Anda harus menjadi bagian dari staf Jhpiego di seluruh Indonesia. Ini adalah organisasi dunia. Jangan berpikir bahwa Anda adalah seorang Jhpiego Indonesia saja, sebab kita semua adalah bagian dari organisasi global. Ada kesempatan bagi semua orang di seluruh negara. Satu hal yang perlu diingat, kita adalah keluarga. Keluarga adalah saling mengurusi diri sendiri dan kepentingan orang lain. Kita dapat membantu orang lain, tanpa harus berpikir bahwa itu bukan pekerjaan kita. Semangat Jhpiego adalah; satu untuk semua, semua untuk satu. Itulah budaya kerja kita, tanpa terlibat terlalu dalam secara personal.

[AZ]

Tuesday, September 30, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 3:12:00 PM | No comments

Mamak-mamak Batak


Cem mamak-mamak Batak, kutengok. Bulat kali pun! *ya memang setengah darahku Batak kan ya*

Foto diambil siang ini oleh @cindynara :)

Mlekom,
AZ
Posted by adrianizulivan Posted on 1:38:00 PM | No comments

#JogjaAsat


Halo kelas menengah Jogja. Ada situasi darurat. Jangan cuma diam dan melihat, sebelum terlambat. Dua hal yg harus kita perhatikan. Pertama, air adalah sumber daya dan kebutuhan dasar kita sebagai sesama spesies di sebuah ekosistem. Kedua, ‪#‎JogjaAsat‬ bisa terjadi karena kegagalan tata kelola pemerintahan yang harus segera kita bongkar kebusukannya! Hal yang dulu kita cuma lihat di TV nun jauh di sana, kini terjadi di pekarangan dan rumah kita sendiri. Tunggu apa lagi?

Asat (:Jawa) berarti kering. Seluruh konten diambil dari sini.

Friday, September 12, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 12:31:00 PM | No comments

Joged Kejutan untuk Wilson



“Hei apa-apaan ini, kalian bukan orang Korea!” canda Dr Wilson Wang saat melihat serombongan orang berjoget ala Gangnam Style dalam ruangannya (29/09). Ini adalah persembahan  ‘pasukan’ EMAS yang selama ini kerja bersama Wilson di kantor EMAS Jakarta.

Sehari sebelum perpisahan ini, Wilson mengirimkan pesan perpisahan kepada seluruh staf. “Tak mudah bagi saya untuk untuk meninggalkan program EMAS. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk berada dalam lingkungan ini, sebagai keluarga dan teman; menjadi berguna bagi pasien dan komunitas yang kita layani; sambil belajar banyak hal tentang apa yang harus kita percayai agar dapat terus membantu orang lain”.

19 bulan kebersamaan munculkan beragam cerita menyenangkan. Wilson yang merupakan Senior Technical Advisor program EMAS dari Save the Children ini, mengaku sangat mencintai Indonesia. Salah satu bukti kecintaan, ia tunjukkan dengan memelajari Bahasa Indonesia. Hingga suatu hari, Wilson menyapa seorang staf.

“Hai, kamu binatang sekali!” dan staf pun bingung, sebab merasa tidak melakukan kesalahan padanya. “I mean, you are the star! (Maksud saya, kamu adalah bintang—Red)” ralatnya. Kisah ini disampaikan oleh Mia Pesik, Senior Program Manager, yang banyak membantu Wilson dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Seluruh staf hadir di ruangan tersebut. Satu per satu menyampaikan pesan dan kesan. Acara diakhiri dengan pemberian cinderamata khas Indonesia dan pemotongan kue tart.

Selamat jalan, Pak Wilson. Kamu adalah bintang (ingat, hanya ada satu huruf A di sana) di ingatan kami!

Sila cek video joged kejutan ini di sini.

[AZ]

Posted by adrianizulivan Posted on 12:10:00 PM | No comments

Membuka Data, Membuka Peluang


Membuka Data, Membuka Peluang
Mengintip Situs Data.id

Bukan rahasia lagi, jika Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki sistem penyimpanan data yang paling buruk. Ini baru tentang proses pendokumentasian, belum lagi soal sistem distribusi.

Sebagian dari kita, pasti pernah mengalami  masa-masa penelitian di bangku sekolah. Itu adalah saat pertama kita menghadapi ‘dunia nyata’ birokrasi di Indonesia. Awal September lalu, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) meluncurkan data.id. Mengutip informasi di portal, ini merupakan wadah berisi data yang terkait dengan Indonesia. Tak hanya dari Kementrian, namun juga lembaga pemerintahan, pemerintahan daerah, dan semua instansi lain.

Sebagai bagian dari kampanye Gerakan Data Terbuka, portal ini mampu menjawab tuntutan Undang-undang No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Yang menarik, portal ini juga menyimpan data terkait isu kesehatan, Ini tentu dapat membantu kerja-kerja program EMAS. 

Data apa saja yang berguna bagi EMAS? Berikut daftarnya, sebagaimana ditelusuri oleh Ibu Sushanty, Senior Program Manager EMAS:

  • jumlah kematian neo-natal (baru lahir) dan balita yang terjadi per provinsi
  • tenaga kesehatan per provinsi
  • jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih per kabupaten/kota
  • persentase pengguna alat KB per provinsi
  • jumlah dan rasio dokter dan perawat terhadap puskesmas per provinsi
  • data APBN untuk kesehatan

Kemunculan portal ini menjadi harapan besar untuk memotong birokrasi pencarian data. Dengan membuka data, maka akan otomatis membuka lebih besar peluang bagi siapapun.

[AZ]
Posted by adrianizulivan Posted on 12:07:00 PM | No comments

Ibu Neng Menyapa Dunia




Mungkin itu yang dapat menggambarkan munculnya kisah sukses program EMAS di Ciparay, Bandung, Jawa Barat. Artikel berjudul “Delivering Confidence and Quality: An Indonesian Health Center Makes Amazing Gains in Just One Year” ini difiturkan di sejumlah media online beraudiens global. Ini adalah tautan di portal Jhpiego dan EMAS Indonesia

Tentu kita bangga, kisah dari pedalaman negeri ini, muncul di belahan bumi lain. Selain itu, pada 21 Agustus lalu  kisah ini ikut muncul dalam cuitan Twitter USAID Global Health dengan akun @USAIDGH. Dengan demikian, kisah Bu Neng Supartini ini pun mendapat perhatian lebih luas dari publik dunia.
Ibu Neng menyapa dunia, dan semoga akan banyak Ibu Neng – Ibu Neng lain yang muncul.

[AZ]

Wednesday, September 3, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:41:00 PM | No comments

ju li pan


Siang ini bersama Koordinator TI, set-up email kantor.
"Ad ri a ni ju li pan" 
"Zulivan, Mas. Pake zet" 
"Zu li pan" 
"Van, vi" 
"Enakan julipan" 
"..." 
"Ini komputernya mau dinamain apa?" 
"adriani julipan?" 
Sambil ngetik, nyebut "ad ri a ni zu li van" 
"Nah itu bener ngomongnya" 
"Oh, Adriani Julipan bener ya?"
"..."

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adrianizulivan Posted on 9:40:00 PM | No comments

Orkes Si Pojan


"Kak, tanggal 6 nonton si Pojan main orkes, yuk."

Berawal dari ajakan itu semalam, akhirnya wiken ini aku punya kegiatan. Yay! Yang ngajak itu Mira, sepupuku. Yang main orkes si Pojan, adiknya Mira (ya berarti sepupuku juga ya, hahahaha).

Pojan baru pulang dari Hongaria-Bulgaria, ikut kejuaraan Folkfolore World Championship bersama tim Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) Mahawaditra. Juara berapa, coba? Satu! Iih, jadi ikutan bangga kan aku.

Si Pojan ini nama benarnya Fauzan. Sejak kecil sudah suka nabuh drum ato gonjrang-gonjreng gitar di rumah. Bapaknya punya studio dan grup keyboard. Kakaknya Mira pernah bisa main piano, tapi nggak diseriusi dan berkarir di bidang IT. Abangnya Mira, Ari, kuliah di institut seni dan jago main berbagai alat musik, termasuk saxophone.

Nah, sekeluarga jago musik. Pojan waktu SMA punya grup band di sekolah. Papaku suka godain, "Grup orkes Pojan berapa orang?" "Bukan orkes, band!" Orkes kan gak gaul ya buat anak muda, kesannya ABG banget, Angkatan babeh gue.

Dulu sempat suruh Pojan masuk ISI Yogyakarta atau IKJ Jakarta, tapi dia lebih milih Teknik Sipil. Yang penting tetap berorkes ria lah ya. Yang kali ini orkes beneran orkes, bukan band.

Selamat, Pojan. Besok minta tandatangan, ya!

Yang mau ikut nonton, sila cek ini, tempat poster ini aku ambil.

Mlekom,
AZ





  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata