Saturday, March 15, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 7:23:00 PM | No comments

Luar Kepala


Beberapa pekan lalu, seorang pegiat komunitas Earth Hour Yogya mengirim pesan pendek. Minta nomorku dijadikan contact person untuk komunitas @wargaberdaya. Mereka sedang membuat daftar komunitas warga di Yogyakarta.

Sore ini, dia SMS lagi. Nanya CP komunitas Peta Hijau. Ah... ini sih jawabannya ada di luar kepala. Gak butuh buka phonebook lalu co-pas ke teks SMS :)

Mlekom,
AZ

Saturday, March 8, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:03:00 PM | No comments

Cara Hapus Aplikasi "Delta Search" di Mesin Pencari


Delta Search. Itu ganggu gak? Entahlah (malas gugling), yang pasti aku kurang nyaman dengan tampilan browser yang tidak seperti biasa. Jadi, hapus saja. Gugling, langsung nemu di artikel halaman pertama. Ternyata, perlu cara berbeda untuk aplikasi mesin pencari (browser) berbeda. Ini yang berhasil kucoba:

Chrome:

  • Klik Costumize and control Google Chrome yang berada di sudut kanan atas browser.
  • Pilih menu Settings, lalu Extentions.
  • Hapus Delta Search dengan klik gambar tong sampah (Remove from Chrome)
SR Ware Iron:
Meski mirip banget dengan Chrome, pada browser ini tak terdapat menu Extentions. Maka, ada cara lain yang kutemukan di sini.

  • Unduh aplikasi AdwCleaner di sini. Jika menggunakan antivirus, AdwCleaner mungkin dideteksi sebagai virus berbahaya, seperti Baidu Antivirus yang kugunakan. Namun abaikan saja dengan klik Allow (jangan khawatir, ini tidak menginveksi perangkat kalian!).
  • Setelah berhasil mengunduh, klik Scan. Aplikasi akan mencari file yang terinfeksi oleh Delta Search ini. Centang file yang tidak ingin dihapus (kusarankan, centang saja semua).
  • Klik Clean. Aplikasi akan me-restart perangkat kamu.
  • Selesai :)
Aku kok jadi sering kena aplikasi menyebalkan seperti ini ya? Baiklah, mesti hati-hati lagi meng-klik aplikasi yang sering muncul (popping up) di beberapa web.


Mlekom,
AZ

Wednesday, March 5, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:45:00 PM | No comments

Kaos Donasi untuk Sekolah Gajahwong



Gak pernah bosan cerita tentang aktivitas Sekolah Gajahwong. Ini merupakan sekolah yang diinisiasi oleh Komunitas Ledhok Timoho, sebuah kampung warga yang menghuni bantaran Kali Gajah Wong. Tentang Komunitas Ledhok Timoho pernah kucatat di sini.

Saat ini, mereka membuat kaos untuk dijual kepada publik. Hasil penjualannya menjadi donasi penyelenggaraan sekolah. Dengan mengeluarkan Rp 90.000,- per kaos, Anda akan membantu pendidikan anak-anak kampung ini. 


Kode: SGW T-SHIRT M 01
Kode: SGW T-SHIRT 02



Kode: SGW T-SHIRT 03

Keterangan:
  • Gambar atas. Kode: SGW T-SHIRT 04
  • Ukuran yang tersedia S,M,L,XL. Ukuran lain bisa dipesan.
  • Info pemesanan: SMS 085643418333 atau via akun FB ini. Bisa juga dengan datang langsung ke kios fundrising Sekolah Gajahwong yang terletak di kawasan Timoho, Yogyakarta.
Yuk donasi!

Mlekom,
AZ


Posted by adrianizulivan Posted on 8:08:00 PM | No comments

Asem-asem Daging


Ini adalah salah satu hasil pikir "duh enak banget, coba bikin ah!" setelah mencicipi menu Asem-asem Daging di dapur Es Teler Sukonandi. Lalu, seperti biasa, tanya Padhe Google. 

Di warung Sukonandi, menu ini hanya berbahan daging sandung lamur, buncis, tomat hijau, dan cabe hijau besar. Aku tambahkan tahu, brokoli, terong hijau dan jagung manis. Juga tomat merah dan cabe merah sebagai penyegar warna. Dagingnya kupilih tetelan (seperti yang digunakan untuk rawon), bukan sandung lamur (yang hanya berupa lemak bening). Dan tentu saja, rasanya lebih pedas dengan tambahan cabe rawit.

Bahan:
  • 250 gr tetelan, potong seibu jari
  • 100 gr buncis
  • 1 batang brokoli, potong kecil
  • 200 gr tahu, potong dadu
  • 1 bongkol jagung, pipil
  • 1 terong hijau kecil, potong kecil-tebal
  • 4 tomat hijau, belah empat.
  • 1 tomat merah, belah empat
  • 6 belimbing wuluh, potong bulat
  • 4 cabe hijau besar, potong
  • 1 cabe merah besar
Bumbu halus:
  • 5 bawang merah
  • 3 bawang putih
  • 2 cabe rawit
Bumbu utuh:
  • 2 biji asam jawa (optional)
  • 2 batang sere, geprek
  • 2 cm lengkuas, iris lebar-tipis
  • 4 lembar daun salam
  • 1/4 sdt merica bubuk (optional)
  • 3 sdm kecap manis
  • 2 sdm gula pasir
Cara:
  • Cuci daging. Tekan-tekan lembut (jangan sampai pecah), aliri dengan air. Rendam sebentar, sampai air berwarna merah. Ulangi terus sampai bening. Ini untuk hilangkan darah.
  • Masukkan 750 ml air ke panci. Tambah garam. Aku gunakan panci tekanan tinggi (presto) agar daging lekas lunak. Didihkan air. Masukkan daging dan beberapa lembar lengkuas yang sudah diiris + 2 lembar daun salam + 1 batang sere. Matikan api setelah 15 menit. Ini menjadi kaldu.
  • Dalam penggorengan, panaskan minyak. Tumis bumbu halus + sisa sere, lengkuas dan salam; hingga matang.
  • Pindahkan tumisan ke dalam kaldu. Aduk rata. 
  • Nyalakan api kecil. Masukkan seluruh bahan (dahulukan brokoli dan buncis yang lebih lama matang) + kecap, merica dan gula. 
Meski tak sama persis dengan yang kucicipi di warung Sukonandi, rasanya enak (pake banget). Asem, pedes. Segar! "Ini sayur asem versi daging," kata Mamaku.

Mlekom,
AZ

Tuesday, March 4, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:16:00 PM | No comments

Telak!



Mahasiswi sebuah kampus di New Zealand ambil studi tentang komunitas @jalinmerapi (JM). Dia orang Indonesia. Sama Bataknya sama awak. Kemarin, dia diundang ke lokakarya. Ada parapihak yang selama ini aktif menghidupi JM, agar bisa ngobrol awal untuk penelitiannya ini.

Di waktu coffe break, obrolan telak dua perempuan. A dan B.

Telak 1:
B: Wajahmu kok kaya sering lihat ya, Mbak...
A: Sering nonton infotemen ya? *dalam hati*
B: Iya lho, familiar banget...
A: Iya, muka Batak kan mirip-mirip... *masih dalam hati*
B: Sospol ya?
A: Heh, S1-nya di UGM? Jurusan apa?
B: Komunikasi
A: Angkatan? 
B: 2001
A: Heh, berarti kita sekelas dan ospek bareng!
Stop pakai "mbak-mbak" dan obrol ngalor-ngidul tentang kawan-kawan seangkatan.

Telak 2:
A: Di NZ ambil apa? 
B: Kampusnya? Canterbury.
A: Eh aku pernah penelitian bareng GNS, salah satu penelitinya Noel Trustum.
B: Wah, aku gak kenal orang-orang tua di sana...
A: Kalau studi masternya?
B: Masternya dulu di UI, Komunikasi juga. Sekarang ambil bencana...
A: Ini lagi DOKTOR???!
Berakhir dengan si B nyemangatin si A untuk sekolah lagi. "NZ itu banyak beasiswa tentang bencana, kan kamu concern ke isu ini..."

Telak 3:
A: Gak sekalian ikutan ke Merapi? (seorang peneliti Jerman ikut rombongan teman-teman Merapi pulang)
B: Jangan sekarang, kasihan anakku.
A: Udah punya anak??? *ini kemudian terasa agak lebay. Usia-usia segini, punya anak ya biasa aja kali yes*

Telak 4:
A: Erupsi Kelud kemaren udah di Yogya? Lebih serem dari Merapi...
B: Enggak. Karena bandara tutup, makanya baru bisa sekarang. Tapi aku di sini waktu erupsi 2006.
A: Oh masih di sini ya...
B: Waktu itu udah di Jakarta, setahun setelah lulus. Erupsi 2006 itu kebetulan lagi liburan di Yogya...
A: Jadi dia lulus EMPAT TAHUN! *dalam hati lagi*

Perempuan A adalah aku. Perempuan B adalah Dwie Irmawati Gultom. Gambar itu kami lagi cekakakan di kantor @BPPTK, bersama si mas-mas peneliti Jerman.

Telak!

Mlekom,
AZ

Posted by adrianizulivan Posted on 6:37:00 PM | No comments

Goyang Tije


Sebagai pengguna Trans Jogja (Tije) yang cukup setia, aku sering mengeluh. Terutama tentang supir yang ugal-ugalan (pernah kutulis di sini) dan kondisi kendaraan yang tidak layak. Yang terakhir ini cukup menyiksa, terutama di saat-saat seperti ini:

  1. merem, baik mendadak ataupun tidak. Kondisi bus yang tidak baik (Mamuku menyebut kendaraan jenis in idengan "kaleng-kaleng")
  2. berlubang atau bergerunjal, dll sejenisnya. Terutama di jalan konblok seperti di bandara. Yang namanya bokong dan daerah yang sejalur dengan tulang ekor bisa mendadak kaget dan tersiksa. Belum lagi joknya gak empuk :(
  3. dll. Sila menambahkan.
Pagi tadi aku menempuh jarak sekitar setengah jam dari rumah ke arah Prambanan. Sebab ini jalur menuju bandara, bus nyaris selalu penuh. Setelah halte tempat aku naik --dan mendapat bangku, cukup banyak penumpang baru yang berdiri.

Yang kebagian duduk, hebatnya, bisa tertidur pulas. Sampai mangap. Sampai gelendotan. Sampai pulas. Pasangan di kiri gambar turun di bandara, kelihatannya sedang nuris di Yogya. Bapak sebelahnya kupikir warga lokal.

Selamat tidur, aku ingin menanyakan resep pulas ketika dibuai goyang Tije. Hehehe... :p

Mlekom,
AZ


20140428

Sunday, February 23, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:01:00 PM | No comments

Kamu Lebih Cantik, Kok!


Itu diucapkan seorang sahabat, pasca aku putus. Ternyata, dia barusan googling tentang perempuan yang menjadi pemicu perpisahanku dengan pasangan.

Cewe itu pendek. 
Selera bajunya buruk. 
Orangnya hitam. 
Rambutnya tipis. 
Hidungnya gak ada. 
Giginya hitam.
Pahanya gede. 
Betisnya kekar. 
Drama queen, apa-apa di-tweet!

.. dan masih banyak hal lain yang mereka bilang. Bikin muak! 

Ada apa sih dengan penampilan orang? Dia jelek? Mereka harusnya protes pada Tuhan sebagai pencipta cewe itu. Biarlah dia mau berpakaian apapun, selama gak menyakiti hati mereka. Dan tentu saja, mereka gak punya hak untuk mengatur aktivitasnya di dunia maya. Memangnya mereka ini siapa? Selain mereka bukan siapa-siapa, itu samasekali tak mengobati rasa sakitku.

Itu kejadian lama. Pekan lalu aku nonton YouTube Maia Estianti dan putranya. Ada teman membagi video ini di Facebook, berhasil membuatku nge-klik tautan tersebut. Maia semacam dikhianati mantan suami, sebab menikah lagi tanpa izin. Itu inti video ini. Karena gak update infotainment, aku jadi kepo sangat, lalu search video lain tentang kasus ini.

Ada beragam komentar yang menghina-dina sang istri baru. Kebanyakan soal fisik dan caci maki yang mempertanyakan harga dirinya. Aku serasa diingatkan dengan kejadian lama itu. Jika ada yang bilang "Kamu lebih cantik, kok!", apakah Maia lantas merasa baik-baik saja? Juga simbak Septy Sanustika, Zaskia Gotik, Ayu Tingting, Airin Rachmi Diany, dan masih banyak lagi...

Jika mereka merasa baik setelah disiram kata-kata memuakkan itu, aku yakin mereka sakit!

Foto di atas tentu bukan aku atau perempuan itu :)

Mlekom,
AZ

Saturday, February 22, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 1:32:00 PM | No comments

Tungku pembakaran gamping yang mirip benteng


Gambar di atas bentuknya sepintas mirip benteng atau kastil. Bangunan tersebut adalah tobong, atau tempat pembakaran batu gamping agar lunak dan bisa digunakan sebagai campuran bahan bangunan.

Adriani Zulivan, seorang blogger yang tinggal di Jogja, mengambil gambar bangunan mirip kastil tersebut di jalan arah dari Imogiri ke Panggang, Yogyakarta.

Menurut tulisan di blog komunal yang bertanggal 19 Februari 2014 tersebut, ia mendapat cerita dari penduduk setempat bahwa bangunan tobong dengan latar belakang bukit dan memiliki pemandangan menarik tersebut belum sempat digunakan karena pemiliknya meninggal dan tanahnya dijual ke orang lain.

Yeni Setiawan

Sumber: Beritagar

Thursday, February 13, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:15:00 AM | No comments

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 36: Taman

Taman Sampah

Sebagai warisan budaya tak ternilai, mestinya kawasan Candi Borobudur ditetapkan sebagai Taman Arkeologi, bukan Taman Wisata sebagaimana yang berlaku kini. Sebagai Taman Arkeologi, ia akan menjadi rujukan proses pembelajaran yang sarat pendidikan. Sebaliknya, Taman Wisata yang dikelola perusahaan ini, menjual nyaris tiap jengkal tanahnya untuk kepentingan komersil. Ketika menjadi pembelajar, pengunjung akan malu membuang sampah sembarangan. Menjadi wisatawan? Entahlah...

Gambar diambil pada 16 Februari 2012.

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 12, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 3:14:00 AM | No comments

Keripik Biji Durian


Beli durian 6 buah, gak sebiji pun bisa dimakan. Kubilang, aku ditipu pedagangnya. Temenku bilang, jangan berburuk sangka. 

Akhirnya, durian hanya dikupas lalu dimasukkan kontainer makanan. Disimpan di kulkas. Sama Mama suruh dibuang saja. Sama aku suruh disimpan saja, nanti dibuat kolak, kuah serabi atau apapun. Kata Mama, itu gak ada aromanya, buat apa dimasak. Kataku, biar uangnya gak kebuang, dimasak saja :p

Aku pun googling "resep durian". Yang paling banyak tentu pancake, nggak menarik. Akhirnya mencatat jus, kolak, mochi, es krim, serabi (bukan kuahnya), sop (semacam es campur), durian goreng, keripik biji durian dan ketan durian. Belum tau mau buat apa, yang pasti tidak akan membuang daging dan bijinya.

Akhirnya, baru sempat ngedapur 11 hari kemudian. Niatnya mau bikin durian jadi semacam selai untuk olesan dorayaki itu. Tentu duriannya hanya sebagai tekstur tambahan (sebab aroma tak dapat dipertanggungjawabkan) saja, dengan bahan utama kacang merah. Bijinya, tentu digoreng.

Warna dagingnya sudah bening sebab kelamaan di kulkas. Aromanya sudah nyaris busuk. Akhirnya semua kucuci, sisakan biji saja. Jadi jelas akan memasak apa :)

Begini resepnya...


Biji yang sudah dikupas

Bahan 
1.5 kg biji durian
1500ml air
2 ruas kunyit, haluskan
1 sdt kapur sirih
6 bawang putih, haluskan
4 kemiri, haluskan
2 sdm garam
minyak goreng
kiri: hasil potongan. kanan: slicer dan potongan yang dimasukkan ke larutan kunyit dan kapur sirih
Cara
  • Siapkan baskom berisi air. Masukkan kunyit dan kapur sirih.
  • Bersihkan biji durian, kupas kulit kerasnya. Remas-remas dengan sedikit garam. Cuci. Potong tipis (aku gunakan slicer, sebab ukuran biji yang kecil dan tekstur yang licin akan sulit dipotong dengan pisau biasa). Masukkan dalam baskom berisi air.
  • Dengan saringan, angkat biji dari baskom. Akan banyak getah (bening, seperti lem) yang keluar. Terus guyur dengan air kran, sangga bawah baskom agar getah turun.
  • Lumuri irisan biji yang sudah bersih dengan bawang + kemiri + garam. Diamkan 10 menit agar meresap.
  • Goreng dalam minyak sedang. Harus sabar menunggu garing, sebab gorengan setipis ini akan cepat sekali gosong jika digoreng dengan api besar.
  • Tiriskan. Simpan dalam toples.
Bagaimana rasanya? Enak, sangat wangi. Tapi justru wanginya yang bikin aku tidak terlalu menikmati. Enakan biji nangka sih (tapi belum pernah nyoba digoreng, dulu di Aceh sering makan rebusan biji nangka).

Ini nyaris subuh. Demi menuhi janji ke beberapa teman yang meminta resepnya :) 
Silahkan mencoba. Enak, kok!

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata